Beranda blog Halaman 106

iPhone 17 Pro Alami Diskoloring, Warna Berubah Jadi Pink & Rose Gold

0

Telset.id – Masalah pada iPhone 17 Pro ternyata tidak berhenti pada goresan permukaan. Kini, pengguna mulai melaporkan fenomena aneh: perubahan warna pada bodi perangkat. Bayangkan, iPhone 17 Pro Max warna Cosmic Orange yang Anda beli dengan harga puluhan juta rupiah tiba-tiba berubah menjadi pink atau rose gold. Seperti kutukan fashion yang tidak diinginkan siapa pun.

Laporan pertama muncul dari komunitas Reddit, di mana beberapa pengguna membagikan foto iPhone 17 Pro Max mereka yang mengalami diskolorasi signifikan. Yang menarik, perubahan warna ini hanya memengaruhi casing aluminium, sementara kaca matte di bagian tengah tetap mempertahankan warna aslinya. Seolah-awan perangkat mengalami krisis identitas warna di separuh tubuhnya.

iPhone 17 Pro Max Cosmic Orange yang berubah warna menjadi pink pada bagian aluminium

Masalahnya tidak hanya terbatas pada model orange. Seorang pengguna di MacRumors Forums juga melaporkan iPhone 17 Pro warna Deep Blue miliknya mengalami perubahan warna pada camera bar. Ini mengindikasikan bahwa masalah mungkin lebih sistemik daripada yang diperkirakan sebelumnya. Apakah ini menjadi titik lemah dari iPhone 17 Pro Max yang baru saja dirilis dengan klaim peningkatan kamera dan baterai?

Laporan-laporan serupa mulai bermunculan di berbagai platform media sosial, termasuk Facebook dan TikTok. Meskipun belum jelas seberapa luas masalah ini, fakta bahwa laporan datang dari berbagai sumber menunjukkan bahwa ini bukan kasus terisolasi. Bisa jadi ratusan atau bahkan ribuan pengguna yang terdampak, meskipun Apple sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi.

Teori dan Spekulasi Penyebab Diskolorasi

Salah satu teori yang beredar di kalangan pengguna Reddit menyebutkan bahwa paparan sinar UV bisa menjadi biang kerok perubahan warna ini. Namun, teori ini cukup sulit diterima akal sehat. Apple tentu menyadari bahwa ponsel mereka akan digunakan di luar ruangan dan seharusnya telah melakukan pengujian ketat terhadap ketahanan warna terhadap berbagai kondisi lingkungan.

Pertanyaannya: mengapa masalah serupa tidak terjadi pada generasi sebelumnya? Mungkinkah perubahan material menjadi penyebabnya? Ingat, iPhone 17 Pro tahun ini menghadirkan perubahan desain yang cukup berani, termasuk kembalinya penggunaan aluminium setelah dua generasi menggunakan titanium pada iPhone 15 Pro dan 16 Pro.

Perubahan material dari titanium ke aluminium mungkin membawa konsekuensi yang tidak terduga dalam hal ketahanan warna. Aluminium, meskipun lebih ringan dan lebih mudah diproduksi, mungkin memerlukan proses finishing yang berbeda yang ternyata rentan terhadap perubahan warna under certain conditions.

Perbandingan iPhone 17 Pro Deep Blue normal dengan yang mengalami diskolorasi pada camera bar

Dampak pada Pengguna dan Solusi Sementara

Bagi Anda yang sudah melakukan pre-order iPhone 17 di Indonesia dan mengalami masalah serupa, langkah terbaik adalah segera menghubungi Apple Support. Kabar baiknya, semua perangkat masih dalam masa garansi, sehingga Apple kemungkinan besar akan memperbaiki atau mengganti unit yang bermasalah.

Namun, pertanyaannya adalah: seberapa lama prosesnya? Dan apakah penggantian unit menjamin masalah yang sama tidak akan terulang? Ini menjadi kekhawatiran legitimate mengingat harga iPhone 17 Pro series yang tidak main-main, berkisar antara Rp 25-35 juta tergantung model dan spesifikasi.

Fenomena ini mengingatkan kita pada masalah serupa yang pernah dialami produk teknologi lainnya, seperti masalah garis warna aneh pada Pixel 10 yang juga membuat frustasi pengguna. Tampaknya, industri smartphone masih harus berbenah dalam hal konsistensi kualitas produksi.

Desain dua bagian pada iPhone 17 Pro—dengan camera plateau yang menonjol dan kombinasi aluminium dengan kaca matte—mungkin menjadi trade-off antara estetika dan durability. Tahun ini juga menjadi pertama kalinya model Pro tidak menawarkan warna netral gelap atau hitam, yang mungkin lebih toleran terhadap perubahan warna minor.

Implikasi Jangka Panjang dan Pelajaran untuk Konsumen

Masalah diskolorasi ini menyoroti pentingnya menunggu review dan pengalaman pengguna sebelum membeli produk generasi pertama dengan desain material baru. Seperti yang kita lihat dengan inovasi aksesori iPhone dari Ken Pillonel, terkadang solusi pihak ketiga justru lebih tahan lama daripada produk original.

Bagi Apple, ini adalah ujian kredibilitas. Perusahaan yang dikenal dengan kontrol kualitas ketatnya sekarang menghadapi masalah yang cukup fundamental pada produk flagship-nya. Respons mereka terhadap masalah ini akan menentukan kepercayaan konsumen terhadap generasi iPhone berikutnya.

Sementara menunggu penjelasan resmi dari Apple, pengguna yang terdampak disarankan untuk mendokumentasikan perubahan warna dengan foto yang jelas, menyimpan bukti pembelian, dan bersabar menunggu solusi dari Apple Support. Masalah ini mungkin tidak memengaruhi performa perangkat, tetapi bagi banyak orang, estetika adalah bagian penting dari pengalaman menggunakan produk premium.

Kita semua berharap Apple segera mengidentifikasi penyebab masalah dan memberikan solusi permanen, bukan sekadar mengganti unit yang bermasalah dengan unit yang berpotensi mengalami masalah serupa. Bagaimanapun, konsumen berhak mendapatkan produk yang sesuai dengan apa yang mereka bayar—tanpa kejutan perubahan warna yang tidak diinginkan.

Apple Perluas Produksi ke Vietnam untuk Hadapi Persaingan Smart Home

0

Telset.id – Pabrikan teknologi raksasa Apple Inc. sedang melakukan langkah strategis besar-besaran dengan memperluas basis manufaktur di Vietnam. Ini bukan sekadar ekspansi biasa, melainkan bagian dari transformasi mendalam untuk memperkuat bisnis smart home sekaligus mengurangi ketergantungan pada rantai pasok China yang semakin berisiko di tengah ketegangan geopolitik global.

Bocoran terbaru mengindikasikan bahwa Vietnam akan menjadi tulang punggung produksi untuk lini produk baru Apple. Meski perusahaan asal Cupertino itu sudah memproduksi beberapa perangkat di Vietnam, ini adalah pertama kalinya negara tersebut ditunjuk sebagai basis produksi utama untuk lini produk yang sepenuhnya baru. Sebuah langkah berani yang menunjukkan betapa seriusnya Apple dalam mendiversifikasi rantai pasoknya.

Anda mungkin bertanya-tanya, mengapa Vietnam? Jawabannya kompleks namun menarik. Di satu sisi, ketegangan geopolitik dan risiko tarif yang meningkat memaksa Apple untuk mencari alternatif yang lebih fleksibel. Di sisi lain, Vietnam menawarkan infrastruktur yang semakin matang dan lokasi strategis di kawasan Asia Tenggara. Seperti yang pernah kami laporkan dalam artikel tentang produksi Apple Watch dan MacBook di Vietnam, perusahaan ini memang telah mempersiapkan langkah ini sejak lama.

Kolaborasi Strategis dengan BYD

Untuk mewujudkan ambisi besarnya, Apple menggandeng BYD Company sebagai mitra produksi utama. BYD akan menangani perakitan, pengujian, dan pengemasan produk-produk baru Apple di Vietnam. Kerjasama ini tidak hanya terbatas pada produk smart home, tetapi juga mencakup ekspansi produksi iPad di negara tersebut, semakin memperdalam kehadiran regional Apple.

Kolaborasi dengan BYD ini menunjukkan betapa Apple belajar dari pengalaman menghadapi tantangan tarif sebelumnya. Seperti yang diungkap dalam laporan tentang strategi Tim Cook menghadapi tarif Trump, perusahaan ini memang sedang membangun strategi baru yang lebih tangguh menghadapi gejolak perdagangan global.

Revolusi Smart Home Apple Dimulai

Produk pertama yang akan diluncurkan dari pabrik Vietnam ini adalah smart home display berukuran 7 inci yang berfungsi sebagai hub pusat untuk peralatan rumah tangga, musik, dan komunikasi. Perangkat yang semula dijadwalkan rilis pada 2025 ini kini diperkirakan akan meluncur pada Spring 2026. Fitur utamanya termasuk FaceTime, software adaptif, dan AI yang ditingkatkan melalui Siri yang diperbarui.

Perangkat ini jelas akan bersaing langsung dengan Amazon Echo Show dan Google Nest Hub. Tapi Apple punya keunggulan tersendiri – ekosistem yang terintegrasi sempurna. Bayangkan sebuah perangkat yang tidak hanya mengontrol smart home Anda, tetapi juga menjadi pusat komunikasi keluarga dengan kualitas FaceTime yang kita kenal selama ini.

Namun tantangan terbesarnya justru datang dari kebijakan perdagangan. Seperti yang dialami oleh pesaingnya Samsung yang juga mempertimbangkan relokasi produksi seperti dalam laporan tentang rencana Samsung pindah ke India, Apple masih harus menghadapi tarif 20 persen untuk barang yang diimpor dari Vietnam.

Ekosistem yang Semakin Lengkap

Apple tidak berhenti di smart display saja. Menjelang akhir 2026, perusahaan akan meluncurkan kamera keamanan dalam ruangan yang terintegrasi dengan ekosistem smart home yang sedang berkembang. Kemudian pada 2027, akan hadir robot meja dengan display 9 inci yang dipasang pada lengan bermotor.

Robot tabletop ini akan menggunakan AI canggih untuk mengikuti pergerakan pengguna dan menawarkan pengalaman yang lebih interaktif. Desainnya yang kompleks memang berpotensi membuat harganya cukup mahal, tapi ini menunjukkan komitmen Apple untuk tidak sekadar mengejar pasar massal, melainkan juga menciptakan produk inovatif yang membedakannya dari kompetitor.

Strategi diversifikasi rantai pasok Apple ini sejalan dengan tren industri teknologi global. Seperti yang terlihat dalam peningkatan produksi iPhone yang menguntungkan Samsung, semua pemain besar sedang menata ulang strategi manufaktur mereka di tengah ketidakpastian global.

Siri yang Lebih Cerdas pada Maret 2026

Semua perangkat smart home baru ini akan didukung oleh versi Siri yang sama sekali baru, yang dijadwalkan rilis pada Maret 2026. Asisten virtual ini akan menawarkan respons web yang lebih cerdas, kontrol aplikasi yang lebih baik, dan antarmuka adaptif yang mempersonalisasi pengalaman pengguna.

Ini adalah kabar gembira bagi pengguna setia Apple yang selama ini mungkin merasa Siri ketinggalan dari kompetitornya. Dengan upgrade besar-besaran ini, Siri tidak lagi sekadar asisten virtual biasa, melainkan menjadi intelligence core yang menghubungkan seluruh ekosistem smart home Apple.

Ekspansi manufacturing Apple di Vietnam ini bukan hanya tentang memindahkan pabrik dari satu negara ke negara lain. Ini adalah bagian dari strategi besar untuk menciptakan rantai pasok yang lebih tangguh, sekaligus memperkuat posisinya dalam persaingan smart home yang semakin ketat. Dengan Home Hub Display, kamera keamanan, dan robot tabletop, Apple sedang mempersiapkan serangan besar-besaran ke pasar yang selama ini didominasi oleh Amazon dan Google.

Pertanyaannya sekarang: siapkah konsumen menerima revolusi smart home ala Apple? Dan yang lebih penting, mampukah perusahaan ini mengatasi hambatan tarif yang masih membayangi strategi manufacturing barunya? Jawabannya akan kita lihat dalam beberapa tahun ke depan, tapi satu hal yang pasti – pertarungan di pasar smart home akan semakin panas dan menarik untuk diikuti.

iPhone Air Gagal Tembus Pasar, Produksi Dipangkas 1 Juta Unit

0

Telset.id – Desain ultra-tipis dan spesifikasi flagship ternyata belum cukup untuk memenangkan hati konsumen. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa iPhone Air, yang sempat digadang-gadang sebagai revolusi desain Apple, justru mengalami penjualan di bawah ekspektasi. Akibatnya, raksasa teknologi asal Cupertino itu terpaksa memangkas produksi hingga satu juta unit tahun ini.

Fenomena ini mengingatkan kita pada nasib Galaxy S25 Edge dari Samsung beberapa bulan lalu. Model dengan bodi super ramping dan baterai lebih kecil itu juga gagal memenuhi target penjualan, hingga akhirnya Samsung memutuskan mengganti seri Edge dengan Plus di lineup Galaxy S26 mendatang. Kini, Apple tampaknya menghadapi tantangan serupa dengan produk andalan terbarunya.

Menurut laporan eksklusif dari The Elec yang mengutip analis Mizuho Securities Jepang, permintaan terhadap iPhone Air ternyata jauh lebih rendah dari proyeksi awal. Padahal, secara keseluruhan, Apple justru meningkatkan produksi untuk iPhone 17, iPhone 17 Pro, dan iPhone 17 Pro Max sebanyak dua juta unit. Revisi forecast produksi lineup iPhone 17 dari 88 juta menjadi 94 juta unit untuk awal 2026 menunjukkan kepercayaan diri Apple terhadap performa seri utama mereka.

Analisis Penyebab Lesunya Permintaan iPhone Air

Lantas, apa yang membuat iPhone Air kesulitan bersaing dengan saudara-sedarahnya? Analis pasar menilai kombinasi harga dan spesifikasi menjadi faktor penentu. Konsumen tampaknya lebih memilih iPhone 17 biasa untuk nilai ekonomisnya, atau beralih ke iPhone 17 Pro dan Pro Max untuk sistem kamera yang lebih canggih dan fitur premium lainnya.

Padahal, di China, iPhone Air sempat sold out dalam fase peluncurannya. Namun antusiasme di pasar Barat justru lebih redup. Ini menunjukkan perbedaan preferensi konsumen di berbagai wilayah yang harus diperhatikan oleh Apple dalam strategi pemasarannya ke depan.

Fenomena iPhone Air ini sebenarnya bukan hal baru di industri smartphone. Desain ultra-tipis seringkali menghadapi respons beragam dari konsumen, terutama karena kompromi yang harus dilakukan pada kapasitas baterai dan opsi kamera. Seperti yang pernah kami ulas dalam review Moto Z, trade-off antara ketipisan dan performa menjadi tantangan tersendiri bagi produsen.

Strategi Apple Menghadapi Realita Pasar

Pemangkasan produksi iPhone Air ini sebenarnya bukan tanda kegagalan, melainkan bentuk respons strategis Apple terhadap dinamika pasar. Perusahaan terus menyempurnakan pendekatan mereka untuk menyeimbangkan inovasi dengan ekspektasi konsumen. Sejarah membuktikan Apple cukup lihai dalam menyesuaikan strategi produk mereka, seperti yang terjadi pada iPhone SE 5G 2022 yang produksinya juga sempat dikurangi 20%.

Meski menghadapi tantangan dengan iPhone Air, Apple tetap optimis dengan performa keseluruhan lineup iPhone 17. Seri ini disebut-sebut sebagai salah yang terkuat dalam beberapa tahun terakhir, dengan permintaan global yang tetap tinggi. Ini menunjukkan bahwa konsumen masih percaya dengan brand Apple, meski harus lebih selektif dalam memilih model yang sesuai kebutuhan.

Pelajaran penting yang bisa diambil dari kasus iPhone Air adalah bahwa inovasi desain saja tidak cukup. Konsumen modern lebih cerdas dan mempertimbangkan berbagai aspek sebelum membeli smartphone. Seperti yang terlihat dalam deep review Hisense Pureshot+, keseimbangan antara desain, fitur, dan harga menjadi kunci sukses sebuah produk di pasar yang semakin kompetitif.

Bagi Anda yang sedang mempertimbangkan pembelian smartphone baru, penting untuk melihat tidak hanya dari ketipisan atau desainnya saja. Pertimbangkan juga kebutuhan sehari-hari, durasi penggunaan baterai, dan sistem kamera yang sesuai dengan aktivitas Anda. Seperti dalam review HONOR 400, smartphone dengan AI capabilities yang baik bisa menjadi alternatif menarik di kelas menengah.

Meskipun iPhone Air menghadapi tantangan penjualan, ini justru membuka peluang bagi Apple untuk belajar dan berinovasi lebih baik lagi di masa depan. Bagaimana pendapat Anda tentang tren smartphone ultra-tipis? Apakah Anda lebih memilih desain ramping atau performa maksimal?

NVIDIA Tersingkir dari Pasar Chip China, Dominasi 95% Lenyap

0

Telset.id – Bayangkan sebuah perusahaan yang menguasai 95 persen pasar tiba-tiba kehilangan segalanya. Itulah yang dialami NVIDIA di China, raksasa chip yang kini harus angkat kaki dari pasar yang dulu menjadi andalannya. CEO NVIDIA Jensen Huang dengan gamblang mengonfirmasi, “Saat ini, kami 100 persen keluar dari China.” Pernyataan mengejutkan ini menjadi penanda berakhirnya era dominasi teknologi AS di Negeri Tirai Bambu.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Runtuhnya benteng NVIDIA di China bukanlah peristiwa mendadak, melainkan konsekuensi dari perang teknologi AS-China yang semakin memanas. Larangan ekspor chip canggih yang diterapkan pemerintah AS sejak 2022 menjadi pukulan telak bagi NVIDIA. Chip andalan seperti A100, H100, dan H200 tak lagi boleh dijual ke perusahaan China. Meski sempat mengembangkan versi downgrade H20, upaya ini sia-sia setelah regulator siber China meluncurkan penyelidikan keamanan yang membuat perusahaan lokal enggan membelinya.

Peringatan Keras dari Jensen Huang

Dalam acara Citadel Securities di New York pada 6 Oktober, Huang tidak tinggal diam. Dengan nada prihatin, ia mengkritik keras kebijakan pembatasan ekspor AS, menyebutnya sebagai “kesalahan” yang berpotensi merugikan kedua belah pihak. “Apa yang merugikan China seringkali juga merugikan Amerika, bahkan lebih buruk,” tegasnya. Peringatan ini bukan tanpa alasan. Huang melihat bagaimana kebijakan ini justru mendorong China untuk mempercepat pengembangan chip domestik, dengan Huawei Technologies sebagai pesaing utama yang siap mengambil alih pasar.

Yang menarik, Huang mengungkapkan fakta mengejutkan tentang kemampuan China. Menurutnya, China hanya “nanodetik tertinggal” dalam pembuatan chip. Pernyataan ini didukung oleh basis talenta AI yang hampir mencapai 50 persen dari total peneliti AI global. Ditambah dengan budaya kerja yang kuat dan kompetisi antar provinsi, China memiliki semua bahan untuk mengejar ketertinggalan teknologi dengan cepat. Apakah AS justru menciptakan monster teknologi baru dengan kebijakan ini?

China Berakselerasi Menuju Swasembada Chip

Sementara NVIDIA tersingkir, China justru berlari kencang menuju kemandirian teknologi. Huawei sudah memperkenalkan peta jalan chip AI canggih dan metode clustering baru untuk menggantikan produk NVIDIA. Raksasa teknologi lain seperti Alibaba Group Holding, Tencent Holdings, ByteDance, dan Baidu tak ketinggalan mengucurkan dana besar untuk penelitian dan pengembangan semikonduktor. Situasi ini mengingatkan kita pada persaingan sengit antara Huawei dan Alibaba dalam pengembangan AI, yang kini semakin memanas.

Fenomena ini menunjukkan betapa strategisnya posisi China dalam peta teknologi global. Dengan populasi hampir 1,4 miliar jiwa dan ekosistem digital yang massive, China tidak main-main dalam upaya mengurangi ketergantungan pada teknologi asing. Mereka belajar dari pengalaman, bahwa ketergantungan pada teknologi luar bisa menjadi senjata makan tuan di tengah ketegangan geopolitik.

Dampak Strategis bagi AS dan Masa Depan AI Global

Analis memperingatkan bahwa pembatasan ekspor ini mungkin lebih merugikan perusahaan AS daripada yang diperkirakan. Dengan mendorong NVIDIA keluar dari pasar China, AS secara tidak langsung membantu perusahaan China memperkuat rantai pasokan mereka dan menjadi lebih mandiri. Ini bisa mengurangi daya saing global perusahaan Amerika dan membatasi akses mereka ke salah satu pasar chip terbesar di dunia.

Yang lebih mengkhawatirkan, eksklusivitas teknologi AS justru bisa memperlambat kemajuan AI global. Bagaimana mungkin? Dengan hampir separuh peneliti AI dunia berada di China, memutus akses mereka terhadap teknologi mutakhir berarti memotong kontribusi mereka dalam pengembangan AI global. Ini seperti memotong satu sayap burung yang sedang terbang – mungkin masih bisa melayang, tapi tidak akan mencapai potensi maksimalnya.

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa perusahaan AS lain juga mulai merasakan dampaknya. Seperti yang kita lihat dalam kolaborasi OpenAI dengan AMD, upaya mencari alternatif dan diversifikasi mitra teknologi menjadi semakin penting di tengah ketegangan geopolitik ini.

Lalu, bagaimana dengan masa depan NVIDIA? Meski kehilangan pasar China, perusahaan ini tetap menunjukkan kinerja kuat, terbukti dari kenaikan gaji fantastis CEO Jensen Huang. Namun pertanyaannya, apakah kesuksesan di pasar lain cukup untuk mengompensasi kehilangan pasar sebesar China?

Kisah NVIDIA di China menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana politik dan teknologi semakin tak terpisahkan. Di satu sisi, AS berusaha melindungi keamanan nasionalnya. Di sisi lain, China melihat ini sebagai momentum untuk mempercepat kemandirian teknologi. Dua raksasa ini seperti dua petinju di ring, masing-masing mengembangkan strategi untuk mengalahkan lawannya.

Yang pasti, dunia menyaksikan dengan penuh antisipasi. Akankah kebijakan berubah dan ketegangan mereda? Atau justru perpecahan teknologi antara dua ekonomi terbesar dunia ini semakin dalam? Satu hal yang pasti: dalam perlombaan chip ini, tidak ada pemenang sejati jika kolaborasi global terganggu. Masa depan teknologi mungkin tergantung pada jawaban atas pertanyaan ini.

NVIDIA Kehilangan Pasar Chip China, Huang: “Kami 100% Keluar”

0

Telset.id – Pernahkah Anda membayangkan sebuah raksasa teknologi yang menguasai 95% pasar tiba-tiba tersingkir sepenuhnya? Itulah yang sedang dialami NVIDIA di China. Dalam sebuah pernyataan mengejutkan, CEO Jensen Huang mengonfirmasi, “Pada saat ini, kami 100 persen keluar dari China.” Pengakuan ini menandai babak baru dalam perang teknologi AS-China yang dampaknya akan dirasakan seluruh dunia.

Langkah AS memberlakukan embargo chip canggih sejak 2022 ternyata berdampak lebih dalam dari perkiraan banyak analis. NVIDIA, yang sebelumnya hampir tak tertandingi di pasar chip AI China, kini harus merelakan seluruh pangsa pasarnya. Padahal, perusahaan sempat berusaha bertahan dengan meluncurkan chip versi downgrade, NVIDIA H20. Namun investigasi keamanan oleh regulator siber China membuat perusahaan lokal enggan membelinya. Akhirnya, pintu China tertutup sepenuhnya bagi NVIDIA.

Keruntuhan Pasar yang Drastis

Larangan ekspor pemerintah AS terhadap chip AI high-end NVIDIA—termasuk seri A100, H100, dan H200—telah memicu perubahan lanskap industri semikonduktor global. Padahal, seperti pernah kami laporkan dalam Nvidia Umumkan Dua Chip AI untuk China di Tengah Embargo AS, perusahaan ini sempat berusaha beradaptasi dengan mengembangkan produk khusus untuk pasar China. Sayangnya, upaya tersebut terbukti tidak cukup.

Anda mungkin bertanya: seberapa besar dampaknya? Bayangkan sebuah perusahaan yang sebelumnya menguasai 95% pasar tiba-tiba kehilangan semuanya. Ini bukan sekentar penurunan penjualan biasa, melainkan kolaps total. NVIDIA, yang chip-cipnya menjadi tulang punggung perkembangan AI di China, kini harus menonton dari pinggir lapangan.

Peringatan Keras dari Jensen Huang

Dalam acara Citadel Securities di New York pada 6 Oktober, Huang tidak ragu menyebut embargo tersebut sebagai “kesalahan”. Dia berbicara blak-blakan dengan Konstantine Buhler dari Sequoia Capital, dan rekaman wawancaranya kemudian menjadi viral. “Apa yang merugikan China seringkali juga merugikan Amerika, bahkan lebih buruk,” tegasnya.

Peringatan Huang bukan tanpa dasar. Dia melihat bagaimana kebijakan ini justru mendorong China mempercepat kemandirian teknologinya. Huawei Technologies, yang selama ini menjadi pesaing utama, kini mendapat angin segar untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan NVIDIA. Padahal, seperti terlihat dalam perkembangan teknologi chiplet 3D di chip Exynos Samsung, persaingan di industri semikonduktor sudah cukup ketat.

China Berakselerasi Menuju Kemandirian

Respons China terhadap embargo ini layak mendapat apresiasi. Alih-alih menyerah, negara tersebut justru melipatgandakan investasi dalam pengembangan chip AI dan teknologi manufaktur domestik. Huawei tidak hanya mengumumkan roadmap chip AI yang canggih, tetapi juga metode clustering baru untuk menggantikan produk NVIDIA.

Raksasa teknologi China lainnya—Alibaba Group Holding, Tencent Holdings, ByteDance, dan Baidu—juga tidak tinggal diam. Mereka menanamkan sumber daya besar-besaran untuk penelitian dan pengembangan semikonduktor. Ini seperti perlombaan dimana semua pelari tiba-tiba meningkatkan kecepatan mereka secara bersamaan.

Basis talenta AI China yang mencakup hampir 50% peneliti AI dunia menjadi senjata ampuh. Huang sendiri mengakui bahwa China hanya “nanoseconds behind” dalam pembuatan chip. Dengan budaya kerja yang kuat, kompetisi antar provinsi, dan kolam talenta yang dalam, China memiliki semua bahan untuk mengejar ketertinggalan dengan cepat.

Perkembangan ini juga berdampak pada lanskap teknologi mobile, dimana fitur gaming seperti yang akan dihadirkan Samsung Galaxy S24 dengan AMD FSR Boost menunjukkan betapa terintegrasinya teknologi chip dalam kehidupan sehari-hari.

Dampak Strategis bagi AS

Analisis mendalam menunjukkan bahwa embargo ini mungkin menjadi bumerang bagi kepentingan AS. Dengan mendorong NVIDIA keluar dari China, Amerika justru memberikan kesempatan emas bagi perusahaan China untuk memperkuat rantai pasokan mereka dan menjadi lebih mandiri. Dalam jangka panjang, ini bisa mengurangi daya saing global perusahaan Amerika dan membatasi akses mereka ke salah satu pasar chip terbesar di dunia.

Pertanyaannya sekarang: apakah kebijakan proteksionis akan melindungi keamanan nasional AS, atau justru mempercepat kemandirian teknologi China? Huang dan banyak pelaku industri tampaknya cenderung pada pilihan kedua. Mereka melihat bagaimana China tidak hanya bertahan, tetapi justru tumbuh lebih kuat di bawah tekanan.

Perang chip antara AS dan China kini memasuki babak baru. NVIDIA, yang menjadi korban pertama dalam konflik ini, harus mencari strategi baru untuk tetap relevan di panggung global. Sementara China, dengan determinasi dan sumber daya yang dimiliki, terus melesat menuju kemandirian teknologi yang mungkin akan mengubah peta kekuatan global dalam beberapa tahun mendatang.

Sebagai penutup, mari kita renungkan: terkadang, upaya untuk melemahkan pesaing justru memberikannya kekuatan untuk menjadi lebih kuat. Itulah paradigma yang sedang kita saksikan dalam drama teknologi terbesar abad ini.

Realme GT 8 Pro Bocor: Spesifikasi Kamera dan Desain Modular Gahar

0

Telset.id – Bayangkan sebuah smartphone yang tidak hanya mengejar angka di lembar spesifikasi, tetapi berani menghadirkan inovasi desain yang benar-benar personal. Realme GT 8 Pro, yang rencananya diluncurkan pada 21 Oktober mendatang, sedang mempersiapkan kejutan besar. Bocoran terbaru mengonfirmasi hampir seluruh spesifikasi kameranya, dan yang lebih menarik, sebuah pendekatan modular yang langka di industri ponsel pintar.

Jika selama ini upgrade kamera smartphone terasa stagnan dengan peningkatan megapiksel belaka, Realme GT 8 Pro datang dengan filosofi berbeda. Kolaborasi strategis dengan Ricoh GR bukan sekadar tempelan nama. Seperti yang pernah diungkap dalam artikel sebelumnya tentang kemitraan Realme dan Ricoh, pendekatan ini membawa DNA kamera profesional ke genggaman tangan Anda. Lantas, apa saja yang membuat kamera flagship ini layak ditunggu?

Triple Camera System: Bukan Main-Main

Sistem triple camera pada Realme GT 8 Pro dipimpin oleh sensor utama 50MP yang telah mendapatkan sertifikasi Ricoh GR. Ini bukan sekadar kerja sama branding biasa. Lensanya menggunakan elemen 7P aspherical high-transmission, lima lapis coating ultra-low reflection, dan dual-layer AR coating. Hasilnya? Pengurangan flare dan ghosting yang signifikan, serta ketajaman gambar yang konsisten hingga ke pinggir frame.

Sensor kustom berukuran 1/1.56-inch dengan aperture f/1.8 dan Optical Image Stabilization (OIS) menjanjikan performa low-light yang mumpuni. Tapi kejutan sebenarnya datang dari lensa sekunder: sebuah periskop telephoto 200MP dengan sensor yang sama besarnya (1/1.56-inch) dan dilengkapi OIS. Bayangkan, biasanya sensor sebesar itu reserved untuk kamera utama. Dengan dukungan zoom optik 3x, zoom lossless 6x-12x, dan jarak fokus minimum 25cm untuk close-up shots, bagian ini jelas menjadi senjata rahasia.

Lensa ketiga adalah ultra-wide 50MP dengan field of view 116° dan aperture f/2.0. Kombinasi ini menciptakan ekosistem kamera yang komprehensif, dari wide hingga tele yang ekstrem, tanpa kompromi pada kualitas sensor.

Video Cinematic dan Kustomisasi Desain yang Unik

Realme mengklaim GT 8 Pro mampu merekam video cinematic-level. Dukungannya cukup lengkap: 4K pada 120fps dengan Dolby Vision, 8K pada 30fps, dan yang paling menarik bagi creator profesional, rekaman 10-bit Log 4K 120fps. Format log memberikan fleksibilitas warna yang lebih besar dalam pasca-produksi, sesuatu yang biasanya hanya ditemukan di kamera profesional.

Tapi mungkin inovasi paling segar datang dari sisi desain. Realme mengadopsi desain modular yang memungkinkan pengguna melepas dan menukar modul dekorasi kamera. Tersedia pilihan gaya kustomisasi termasuk layout persegi, bulat, dan robot. Seperti yang telah kami bahas dalam artikel tentang desain modular GT 8 Pro, pendekatan ini memberi kebebasan personalisasi yang belum pernah seen before di segmen flagship.

Spesifikasi Lengkap yang Menjawab Segala Kebutuhan

Berdasarkan bocoran dan teaser sebelumnya, Realme GT 8 Pro akan menampilkan layar 2K 144Hz dengan peak brightness mencapai 7000 nits – angka yang benar-benar gila untuk penggunaan di bawah terik matahari. Fitur DC dimming dan advanced eye protection turut melengkapi, menjawab kekhawatiran kesehatan mata pengguna heavy.

Ditenagai chipset Snapdragon 8 Elite Gen 5 yang dipasangkan dengan prosesor display R1 dan RAM hingga 16GB, performa dijamin mulus untuk gaming dan multitasking berat. Seperti yang kami prediksi dalam analisis tentang Snapdragon 8 Elite Gen 5 di GT 8 Pro, kombinasi ini menempatkannya di puncak food chain smartphone Android.

Perangkat ini akan menjalankan Realme UI 7.0 berbasis Android 16 dengan baterai raksasa 7000mAh yang mendukung pengisian wired 120W dan wireless 50W. Sensor sidik jari ultrasonik 3D dan desain back eco-leather melengkapi paket premium yang ditawarkan.

Dengan semua spesifikasi dan inovasi yang diungkap, Realme GT 8 Pro bukan sekadar upgrade iteratif. Ini adalah pernyataan: bahwa flagship masa depan harus menawarkan lebih dari sekadar peningkatan performa, tetapi juga ekspresi personal dan pengalaman kreatif yang lebih kaya. Tanggal 21 Oktober nanti akan membuktikan apakah realita sepadan dengan ekspektasi.

Bocoran Resmi! Redmi K90 Pro Max Hadir dengan Sistem Speaker 2.1 Unik

0

Telset.id – Apa jadinya jika smartphone gaming terbaru tidak hanya mengandalkan chipset terkuat, tetapi juga menghadirkan pengalaman audio yang benar-benar imersif? Bocoran terbaru dari Redmi justru mengonfirmasi hal mengejutkan: Redmi K90 Pro Max akan dilengkapi dengan sistem speaker 2.1 yang belum pernah ada sebelumnya.

Dalam sebuah pengungkapan yang cukup menggemparkan, Sun Cun, Product Manager Redmi, secara resmi membagikan detail tentang konfigurasi speaker unik pada flagship mendatang ini. Melalui postingan Weibo-nya, eksekutif Redmi ini menjelaskan bahwa modul bundar di samping lensa kamera bukanlah elemen dekoratif belaka, melainkan sebuah speaker sungguhan yang menjadi bagian dari sistem audio revolusioner.

Yang lebih menarik, kehadiran speaker tambahan ini tidak mengorbankan ketahanan perangkat. Sun Cun menegaskan bahwa Redmi K90 Pro Max tetap mempertahankan rating IP68 untuk proteksi terhadap air dan debu. Desainnya telah direkayasa sedemikian rupa untuk memastikan perlindungan penuh tetap terjaga, membuktikan bahwa inovasi audio dan daya tahan bisa berjalan beriringan.

Lantas, bagaimana dengan performa audio secara keseluruhan? Menurut informasi dari tipster ternama Digital Chat Station, seri Redmi K90 akan menampilkan sistem speaker 2.1-channel yang mengombinasikan speaker atas, bawah, dan belakang. Konfigurasi ini dirancang khusus untuk meningkatkan immersion dalam berbagai skenario penggunaan, mulai dari gaming intensif hingga pemutaran video dan musik.

Inovasi Audio yang Lebih dari Sekadar Speaker Biasa

Redmi tidak hanya menambahkan speaker ekstra sebagai gimmick semata. Perusahaan mengimplementasikan fitur audio-vibration dust removal melalui software yang secara aktif membantu membersihkan bukaan speaker untuk memastikan kualitas suara tetap optimal. Teknologi cerdas ini menunjukkan pendekatan holistik Redmi dalam menangani tantangan praktis yang sering dihadapi pengguna smartphone.

Pendekatan semacam ini mengingatkan kita pada perangkat seperti HP Victus 16 yang juga mengutamakan pengalaman multimedia menyeluruh. Namun, Redmi K90 Pro Max mengambil langkah lebih jauh dengan mengintegrasikan solusi hardware dan software secara simultan.

Bagi Anda yang kerap bermain game mobile, sistem speaker 2.1 ini bisa menjadi pembeda signifikan. Bayangkan bisa mendengar footsteps lawan dengan lebih jelas, atau merasakan dentuman bass yang lebih dalam saat menonton film. Inilah yang dijanjikan oleh konfigurasi audio Redmi K90 Pro Max – pengalaman yang biasanya hanya bisa didapatkan dari perangkat dedicated gaming.

Material Tech Denim dan Performa Tanpa Kompromi

Selain inovasi audio, Sun Cun juga mengungkapkan detail menarik tentang varian warna denim pada K90 Pro Max. Varian ini menggunakan material tech denim yang secara akurat mereproduksi tekstur dan feel denim asli, namun dengan keunggulan tambahan: ketahanan terhadap kotoran, keausan, dan goresan yang lebih baik.

Yang patut diacungi jempol, penggunaan material khusus ini tidak mengorbankan performa thermal. Sun Cun menjamin bahwa kemampuan pendinginan varian denim setara dengan model hitam dan putih. Pernyataan ini penting mengingat banyak vendor yang sering mengorbankan aspek performa demi estetika semata.

Pendekatan Redmi dalam hal material ini sejalan dengan filosofi perangkat seperti Acer Swift X 14 yang berhasil menggabungkan desain premium dengan performa tangguh. Kombinasi antara inovasi material dan maintain performa menjadi nilai jual yang sulit ditolak.

Spesifikasi Lengkap yang Menjanjikan

Melengkapi sistem audio revolusionernya, Redmi K90 Pro Max akan ditenagai oleh Snapdragon 8 Gen 5 Elite processor – chipset flagship terbaru Qualcomm yang dijamin memberikan performa gaming kelas atas. Layarnya berukuran 6.59-inch dengan resolusi 2K dan panel flat, dilengkapi dengan ultrasonic fingerprint recognition untuk keamanan yang lebih baik.

Di sektor fotografi, smartphone ini mengusung kamera utama 50-megapixel dengan sensor 1/1.3-inch dan dukungan OIS, dipasangkan dengan periscope telephoto lens. Konfigurasi ini menjanjikan kemampuan fotografi yang solid dalam berbagai kondisi pencahayaan.

Dengan spesifikasi semacam ini, Redmi K90 Pro Max tidak hanya bersaing dengan smartphone gaming lain, tetapi juga menantang perangkat seperti Acer Aspire Vero AV14-51 dalam hal kemampuan multitasking dan produktivitas. Kombinasi antara performa processor terbaru, layar berkualitas tinggi, dan sistem audio revolusioner menciptakan paket komplit yang sulit ditandingi.

Peluncuran resmi Redmi K90 Pro Max dijadwalkan pada 23 Oktober mendatang di China. Dengan semua inovasi yang diungkapkan Sun Cun, apakah smartphone ini akan menjadi game-changer di pasar flagship? Jawabannya akan segera kita ketahui. Satu hal yang pasti: Redmi sedang berusaha keras untuk mendefinisikan ulang standar smartphone gaming premium.

Realme UI 7.0 Resmi: Revolusi Desain dan Performa di GT 8 Pro

0

Telset.id – Inilah momen yang ditunggu para penggemar Realme. Realme secara resmi mengonfirmasi bahwa Realme GT 8 Pro akan menjadi smartphone pertama yang meluncur dengan Realme UI 7.0. Pengumuman ini, yang dibagikan oleh eksekutif Realme, Derek, melalui Weibo, bukan sekadar pembaruan biasa. Ini adalah lompatan signifikan dalam hal desain, animasi, dan produktivitas. Apakah ini jawaban atas kebutuhan pengguna akan antarmuka yang lebih halus dan intuitif? Mari kita selami fitur-fitur utamanya.

Realme UI 7.0 hadir dengan janji pengalaman pengguna yang lebih baik. Dari desain visual yang menyegarkan hingga teknologi animasi yang lebih cerdas, pembaruan ini dirancang untuk membuat interaksi Anda dengan perangkat menjadi lebih menyenangkan dan efisien. Dengan GT 8 Pro sebagai pembawa bendera pertama, Realme menegaskan komitmennya untuk memberikan yang terbaik kepada pengguna setianya. Pembaruan untuk model lama di China sendiri dijadwalkan mulai November mendatang, memberikan secercah harapan bagi pemilik perangkat Realme generasi sebelumnya.

Lantas, apa saja yang membuat Realme UI 7.0 begitu istimewa? Mari kita kupas satu per satu inovasi yang dihadirkannya, dari estetika yang memukau hingga fitur multitasking yang akan mengubah cara Anda menggunakan smartphone.

Realme UI 7.0-

Revolusi Visual: Desain Cahaya dan Bayangan yang Memukau

Realme UI 7.0 memperkenalkan desain kaca cahaya dan bayangan baru yang menawarkan estetika transparan dengan blur lembut, menyerupai kaca yang dipoles. Antarmuka ini tidak hanya terlihat elegan, tetapi juga memberikan kedalaman visual yang belum pernah ada sebelumnya. Wallpaper dinamis yang diperbarui kini dapat menyesuaikan diri dengan warna perangkat seri GT 8, menciptakan identitas visual yang kohesif dan personal. Bayangkan, ponsel Anda secara otomatis menyelaraskan tampilannya dengan warna bodi—sebuah sentuhan personalisasi yang cerdas.

Ikon-ikon juga didesain ulang dengan efek cahaya es mengambang, memberikan kesan modern dan futuristik. Pusat kendali tidak ketinggalan, dihadirkan ulang dengan penampilan kaca buram yang menawarkan pengalaman visual yang segar dan berlapis. Dan yang tak kalah menarik, breathing status bar menambahkan gerakan halus untuk meningkatkan kedalaman dan kelancaran di seluruh antarmuka. Ini bukan sekadar perubahan kosmetik; ini adalah evolusi desain yang membuat setiap interaksi terasa hidup.

Flow Light Engine: Animasi yang Tak Terputus dan Responsif

Di balik layar yang indah, Realme UI 7.0 ditenagai oleh Flow Light Engine, kerangka animasi baru yang dibangun di atas arsitektur mulus perusahaan. Mesin ini menjamin animasi yang konsisten halus dan dapat diinterupsi di seluruh interaksi sistem, meningkatkan fluiditas dibandingkan versi 6.0. Apakah Anda sering merasa jengkal dengan animasi yang patah-patah saat beralih antar-aplikasi? Flow Light Engine hadir sebagai solusinya.

Sistem pelacakan bingkai dinamis memastikan kinerja stabil bahkan di bawah beban kerja berat dan sesi gaming yang intens. Ditambah dengan Flow Accelerator yang meningkatkan responsivitas di enam skenario penggunaan utama, pengalaman Anda akan terasa lebih cepat dan andal. Bagi gamer, ini berarti gameplay yang lebih mulus tanpa lag mengganggu. Bagi multitasker, ini berarti perpindahan aplikasi yang lebih gesit. Realme UI 7.0 tidak hanya tentang terlihat bagus, tetapi juga tentang performa yang tak tergoyahkan.

Inspiration Desktop dan Smart Window: Produktivitas Tanpa Batas

Salah satu fitur andalan Realme UI 7.0 adalah Inspiration Desktop yang didesain ulang, memungkinkan pengguna secara bebas mengubah ukuran ikon aplikasi dalam tata letak 1×2, 2×1, atau 2×2. Ini memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam menyesuaikan tampilan layar utama sesuai kebutuhan dan preferensi Anda. Tidak lagi terikat pada grid standar, Anda bisa berkreasi sesuka hati.

Namun, yang benar-benar mencuri perhatian adalah fitur Smart Window. Fitur ini memungkinkan hingga dua belas jendela aplikasi mengambang berjalan secara bersamaan di latar belakang. Bayangkan, Anda bisa bermain game sambil mempratinjau notifikasi, membalas pesan, atau menonton video tanpa gangguan. Ini adalah terobosan dalam multitasking yang memastikan produktivitas dan kenyamanan maksimal. Apakah Anda siap untuk mengelola banyak tugas sekaligus dengan mudah?

Realme GT 8 Pro, yang akan menjadi perangkat pertama dengan Realme UI 7.0, didasarkan pada Android 16. Kombinasi antara hardware yang tangguh dan software yang mutakhir ini menjanjikan pengalaman pengguna yang luar biasa. Seperti yang telah kami laporkan sebelumnya, Realme GT 8 Pro siap menjadi smartphone Snapdragon 8 Elite Gen 5 pertama di India, menambah daftar keunggulan perangkat ini. Dengan dukungan filosofi kamera RICOH GR yang dibawa ke dunia smartphone, serta kemitraan strategis antara Realme dan Ricoh, GT 8 Pro bukan hanya tentang software, tetapi ekosistem yang lengkap.

Dengan Realme UI 7.0, Realme tidak hanya meningkatkan tampilan dan kinerja, tetapi juga mendefinisikan ulang bagaimana sebuah antarmuka seharusnya berfungsi. Apakah Anda termasuk yang menantikan pembaruan ini? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar.

Asus ROG Xbox Ally X Hadir dengan Windows FSE Eksklusif

0

Telset.id – Bayangkan Anda sedang asyik bermain game di handheld PC, lalu tiba-tiba harus berurusan dengan antarmuka Windows desktop yang ribet. FOMO (fear of missing out) pun menghantui ketika mengetahui ada perangkat yang menawarkan pengalaman lebih sederhana. Inilah yang coba diatasi oleh Asus ROG Xbox Ally X dengan Windows Full Screen Experience (FSE) eksklusifnya.

Handheld premium senilai $1.000 ini resmi meluncur pada 16 Oktober dengan senjata utama: versi Windows yang dikustomisasi khusus untuk perangkat genggam. Bukan sekadar upgrade biasa, FSE menghadirkan revolusi dalam navigasi game di platform Windows. Yang menarik, Microsoft dan Asus masih bersikap ambigu mengenai ketersediaan fitur ini untuk handheld kompetitor.

FSE pada dasarnya adalah antarmuka layar penuh yang memposisikan semua window sebagai aplikasi terpisah yang bisa Anda jelajahi dengan menekan lama tombol Xbox khusus pada Ally X. Ini berarti akhir dari era menyentuh layar di mode desktop hanya untuk mengakses berbagai launcher game. Fitur yang bekerja cukup baik di tahap awal ini membuat banyak reviewer berharap bisa tersedia untuk semua PC Windows, mirip dengan Steam’s Big Picture Mode.

Namun untuk sementara, FSE tetap menjadi hak eksklusif Xbox Ally. Dalam beberapa bulan terakhir, kita mendengar pernyataan berbeda dari Asus dan Microsoft mengenai kemungkinan handheld lain menerima update ini. Lenovo bahkan mengklaim kepada The Verge bahwa perangkat mereka akan mendapatkan update tersebut pada musim semi tahun depan.

Tapi Microsoft punya cerita lain. Dalam pernyataan email resmi, Xbox menyampaikan kepada Gizmodo: “Kami fokus pada peluncuran full-screen experience di handheld ROG Xbox Ally untuk 16 Oktober. Kami tidak ada informasi lebih lanjut saat ini.”

Lenovo Legion Go 2 Review 19

Xbox app pada Windows FSE baru ini berfungsi sebagai hub tempat Anda mengakses game yang terinstal dan sebagian besar (tidak semua) launcher favorit. Meski demikian, FSE masih dalam tahap awal pengembangan. Lebih baik menganggapnya sebagai beta, meskipun Asus dan Microsoft bersemangat meluncurkannya secara eksklusif dengan Xbox Ally pada Kamis.

Sebagai salah satu dari beberapa reviewer yang mengalami langsung, saya menemui beberapa glitch dimana membangunkan handheld dari sleep mode menghasilkan layar hitam. Software ini juga cukup boros baterai, bahkan ketika perangkat dalam kondisi sleep. Asus telah mengonfirmasi bahwa ini adalah masalah yang diketahui, meyakinkan bahwa perbaikan glitch “pasti menjadi prioritas tinggi.”

Namun bahkan sebelum semua masalahnya teratasi, FSE tetap akan membuat perangkat seperti Legion Go 2 jauh lebih mudah diakses. Ini mendorong saya untuk mencoba memaksa update pada unit Legion Go 2. Para gamer PC sudah terbiasa menggali Windows untuk fitur tersembunyi atau beta. Anda bisa menemukan beberapa panduan online yang merinci proses instalasi update Windows 11 25H2, meski harus mendaftar program beta Windows Insider.

Sudah ada panduan detail di Reddit untuk yang berani mencoba. Namun, Anda mungkin harus menggunakan program pihak ketiga bernama ViVeTool untuk memaksa update secara manual ke handheld, yang cukup menjadi penghalang bagi gamer PC yang kurang dedikasi. Mengubah pengaturan bahkan bisa merusak navigasi menu berbasis controller, seperti yang dijelaskan IGN dalam laporan bulan lalu.

Alih-alih memaksa versi non-standar FSE ke Lenovo Legion Go 2, saya mencoba memuat update 24H2 (KB50657089). Hasilnya? Tidak berhasil—bahkan dengan update terinstal, handheld tetap menampilkan desktop Windows reguler tanpa opsi untuk menggesek aplikasi layar penuh.

Yang menarik, saya masih melihat peningkatan performa. Dalam benchmark Cyberpunk 2077, saya mengalami rata-rata 5 frame per second lebih banyak setelah update dibandingkan ketika pertama kali mereview Legion bulan lalu di channel Windows stabil. Performa Shadow of the Tomb Raider juga meningkat rata-rata 3 fps.

Ketika saya bertanya kepada Microsoft apakah peningkatan performa yang dijanjikan berasal dari FSE atau update umum, perusahaan tersebut menjawab: “Meskipun Windows Update mungkin termasuk perbaikan Windows umum, Xbox full-screen experience menawarkan peningkatan memori dan performa, termasuk meminimalkan tugas latar belakang untuk memberikan lebih banyak daya ke game Anda.”

Windows desktop tetap menjadi cara terburuk untuk menavigasi handheld, bahkan pada layar besar seperti Legion Go 2. Dalam tes benchmark 3DMark pada Legion Go 2, saya bisa mencetak 100 hingga 200 poin lebih baik dalam tes Time Spy dan Steel Nomad Light. Mungkin tidak terlihat banyak, tapi 3 atau 5 fps tambahan bisa cukup untuk meningkatkan pengaturan grafis atau membuat game yang sebelumnya tidak bisa dimainkan menjadi playable.

Saya kemudian mencoba memindahkan update yang sama ke ROG Ally X original dari 2024. Hasilnya? Saya juga terjebak dengan desktop tradisional di perangkat tersebut. Berbeda dengan Legion, saya bisa mengakses Game Bar baru dengan tombol menu kiri. Tapi peningkatan performa pada model ini mengecewakan: Meskipun perangkat sekarang berjalan sedikit lebih baik daripada saat peluncuran tahun lalu, tidak menunjukkan peningkatan performa yang sama dengan Legion Go 2 pasca-update.

Singkat cerita, tampaknya tidak ada cara bersih bagi mereka yang tidak memiliki Xbox Ally secara khusus untuk mengalami manfaat penuh FSE. Ini belum menjadi masalah terbesar—untuk saat ini. ROG Xbox Ally X yang dilengkapi FSE masih tidak bisa menjalankan semua game AAA terbaru di 60 fps dengan pengaturan tertinggi. Anda bisa mendapatkan 30 fps di sebagian besar game intensif ketika menurunkan grafis dan mengorbankan harapan ray tracing.

Peningkatan frame rate di sini mirip dengan delta yang saya lihat antara Legion Go S bertenaga Windows dan Legion Go S dengan SteamOS berbasis Linux dari Valve. Artinya, jika Microsoft berkenan memberikan update ini ke lebih banyak orang, mungkin beberapa gamer tidak akan merasa terlalu ingin beralih ke Linux dan menghindari penurunan perlahan Windows 11 sebagai platform gaming. Tapi Microsoft masih harus memperbaiki beberapa bug terlebih dahulu.

Dalam ekosistem gaming yang semakin terintegrasi, kehadiran fitur eksklusif seperti FSE pada Asus ROG Xbox Ally X mengingatkan kita pada pentingnya kolaborasi strategis antara hardware maker dan platform developer. Seperti yang kita lihat dalam peluncuran Microsoft Gaming Copilot baru-baru ini, atau inovasi dari pesaing seperti Ayaneo dengan smartphone gaming kontrol sliding-nya, masa depan gaming handheld terletak pada pengalaman yang mulus dan terintegrasi.

Sementara Xbox Cloud Gaming terus menyempurnakan fitur-fitur aksesibilitasnya, pertanyaan besarnya adalah: akankah Microsoft akhirnya membuka FSE untuk semua handheld Windows, atau mempertahankannya sebagai senjata eksklusif untuk partner tertentu? Jawabannya mungkin akan menentukan masa pasar handheld PC dalam beberapa tahun mendatang.

Wikipedia Kehilangan Pengunjung Manusia karena Dominasi AI

0

Telset.id – Pernahkah Anda bertanya-tanya, kapan terakhir kali benar-benar mengklik dan membaca artikel Wikipedia? Jika jawabannya sudah lama, Anda tidak sendirian. Wikimedia Foundation, organisasi nirlaba pengelola Wikipedia, baru saja mengungkap fakta mengejutkan: kunjungan manusia ke ensiklopedia terbesar dunia itu merosot sekitar 8% dalam beberapa bulan terakhir dibandingkan periode sama tahun 2024. Penurunan ini terungkap setelah yayasan merevisi cara membedakan antara lalu lintas manusia dan bot.

Marshall Miller, Direktur Senior Produk Wikimedia Foundation, dalam posting blog resmi mengungkapkan bahwa penurunan ini mencerminkan dampak nyata kecerdasan buatan generatif dan media sosial terhadap cara orang mencari informasi. Ironisnya, mesin pencari kini justru memberikan jawaban langsung kepada pengguna—seringkali berdasarkan konten Wikipedia—tanpa perlu mengarahkan mereka ke situs aslinya. Sementara itu, generasi muda beralih ke platform seperti YouTube dan TikTok untuk memperoleh informasi. Pergeseran perilaku ini menciptakan efek domino yang mengkhawatirkan bagi masa depan pengetahuan bebas.

Revisi metodologi penghitungan pengunjung Wikipedia bukan tanpa alasan. Wikimedia menyadari adanya lonjakan lalu lintas yang tampak seperti kunjungan manusia dari Brasil, yang setelah ditelusuri ternyata sebagian besar berasal dari bot. “Kami percaya penurunan ini mencerminkan dampak AI generatif dan media sosial terhadap cara orang mencari informasi,” tulis Miller. Ia menambahkan bahwa penurunan ini sebenarnya bukan kejutan, melainkan konsekuensi logis dari evolusi teknologi.

Ancaman Nyata bagi Ekosistem Pengetahuan Bebas

Dampak penurunan pengunjung ini jauh lebih dalam dari sekadar angka statistik. Miller memperingatkan bahwa dengan semakin sedikit kunjungan, basis relawan Wikipedia—komunitas yang menulis dan menyunting konten—berpotensi menyusut. Bagaimana mungkin? Relawan biasanya terinspirasi untuk berkontribusi ketika melihat karya mereka dibaca dan diapresiasi banyak orang. Jika trafik manusia terus menurun, motivasi ini bisa terkikis.

Lebih mengkhawatirkan lagi, penurunan trafik juga berpotensi mengurangi donasi individu yang menjadi tulang punggung operasional Wikipedia sebagai organisasi nirlaba. Padahal, seperti yang diungkapkan dalam Wikipedia Laporkan Turki ke Pengadilan HAM, Kenapa?, yayasan ini harus berjuang melawan berbagai tantangan global untuk mempertahankan netralitas dan aksesibilitasnya.

Paradoks Besar: AI Menggerogoti Sumber Pelatihannya Sendiri

Di balik semua ini tersimpan ironi yang dalam. Miller mencatat bahwa hampir semua model bahasa besar (LLM) mengandalkan dataset Wikipedia untuk pelatihan. Namun dengan mengambil konten secara masif, sistem AI ini justru mungkin melukai salah satu sumber informasi tepercaya mereka sendiri. Bayangkan: Anda meminjam buku perpustakaan untuk belajar, lalu membuat ringkasan yang Anda jual, hingga orang malas datang ke perpustakaan—akhirnya perpustakaan itu tutup karena sepi pengunjung.

Fenomena ini mengingatkan kita pada Ancaman Kiamat Internet Saat Detik Kabisat?, di mana ketergantungan pada sistem terpusat menciptakan kerapuhan ekosistem digital. Wikipedia, yang selama ini menjadi penjaga gerbang pengetahuan manusia, kini menghadapi tantangan eksistensial dari teknologi yang seharusnya bisa menjadi mitra.

Wikimedia sendiri sebenarnya tidak anti-AI. Buktinya, awal bulan ini yayasan meluncurkan Wikidata Embedding Project, sumber daya baru yang mengubah sekitar 120 juta titik data terbuka di Wikidata menjadi format yang lebih mudah digunakan model bahasa besar. Tujuannya mulia: memberikan sistem AI akses ke data berkualitas tinggi dan gratis, sekaligus meningkatkan akurasi jawaban mereka. Namun upaya baik ini seperti pisau bermata dua.

Strategi Bertahan di Era Disrupsi Digital

Menghadapi kenyataan pahit ini, Wikimedia tidak tinggal diam. Yayasan mendesak pengembang LLM, chatbot AI, mesin pencari, dan platform sosial yang menggunakan konten Wikipedia untuk membantu mengarahkan lebih banyak lalu lintas kembali ke situs mereka. Ini bukan sekadar permintaan, melainkan kebutuhan untuk menjaga keberlanjutan ekosistem pengetahuan.

Untuk memerangi masalah ini, organisasi nirlaba tersebut bekerja untuk memastikan pihak ketiga dapat mengakses dan menggunakan kembali konten Wikipedia secara bertanggung jawab dan dalam skala besar dengan menegakkan kebijakannya dan mengembangkan standar atribusi yang lebih jelas. Seperti yang pernah menjadi perdebatan dalam Batasi Pengeditan, Elon Musk Tuding Wikipedia Tidak Objektif Lagi, platform pengetahuan kolaboratif memang membutuhkan keseimbangan antara keterbukaan dan tanggung jawab.

Di sisi lain, Wikimedia bereksperimen dengan cara-cara baru untuk menjangkau audiens muda di platform seperti YouTube, TikTok, Roblox, dan Instagram melalui video, game, dan chatbot. Mereka menyadari bahwa pertempuran untuk perhatian generasi digital native tidak bisa dimenangkan dengan strategi lama. Wikipedia harus bertransformasi, atau menghadapi risiko menjadi relik digital.

Lalu, apa arti semua ini bagi masa depan pengetahuan manusia? Ketika mesin pencari dan AI semakin pintar memberikan jawaban instan, apakah kita akan kehilangan nuansa, konteks, dan proses belajar yang terjadi ketika menjelajahi artikel Wikipedia? Ketika generasi muda lebih memilih video TikTok berdurasi 60 detik, apakah kita siap kehilangan kedalaman pemahaman?

Wikipedia mungkin tidak sempurna—tapi ia mewakili cita-cita tertinggi internet: pengetahuan yang bebas, dapat diakses, dan dikurasi secara kolektif. Nasibnya di era AI ini bukan hanya concern bagi penggemar teknologi, melainkan bagi siapa saja yang peduli dengan masa depan pengetahuan manusia. Bagaimana menurut Anda—apakah kita akan menemukan keseimbangan baru, atau menyaksikan mata air pengetahuan mengering perlahan?

Samsung Akhiri Update untuk 4 Galaxy, Saatnya Upgrade?

0

Telset.id – Kabar buruk bagi pemilik empat ponsel Samsung Galaxy tertentu. Perusahaan Korea Selatan itu secara resmi menghentikan dukungan pembaruan perangkat lunak untuk Galaxy A52s, Galaxy A03s, Galaxy M32 5G, dan Galaxy F42 5G. Ini bukan sekadar berita biasa, melainkan pengingat keras tentang siklus hidup teknologi di genggaman Anda.

Bayangkan ponsel Anda seperti mobil yang butuh servis rutin. Tanpa update keamanan, perangkat itu ibarat kendaraan yang melaju di jalan raya tanpa rem diperiksa. Risikonya? Data pribadi Anda bisa menjadi santapan empuk para peretas. Samsung, yang selama ini dikenal sebagai juara update software—bahkan untuk ponsel budget—kini menutup keran dukungan untuk keempat model tersebut. Mereka resmi masuk daftar end-of-life (EOL).

Keempat ponsel ini diluncurkan pada paruh kedua 2021 dengan janji manis: empat tahun update keamanan. Janji itu kini telah ditepati. Menurut laporan Sammobile, mereka tak akan lagi menerima pembaruan besar One UI, apalagi tambalan keamanan. Faktanya, update sistem operasi untuk mereka sudah berhenti sejak lama. Kini, giliran patch keamanan yang ikut mangkrak.

Apa Artinya Bagi Anda?

Jika Anda masih setia menggunakan salah satu dari keempat ponsel tersebut, pertimbangkan ini sebagai alarm. Perangkat Anda masih bisa berfungsi normal—menelepon, berkirim pesan, berselancar di media sosial. Tapi di balik normalitas itu, ancaman mengintai. Tanpa patch keamanan terbaru, kerentanan software yang suatu hari ditemukan akan menjadi celah permanen bagi malware dan spyware.

Ini bukan kali pertama Samsung menghentikan dukungan untuk produk lamanya. Sebelumnya, Samsung juga mengakhiri dukungan update untuk Galaxy S20 dan A52 5G, menandai pergeseran kebijakan support jangka panjang. Pola ini sebenarnya bisa diprediksi. Setiap produk teknologi memiliki masa berlaku, seperti makanan kaleng di rak supermarket.

Mengapa Upgrade Menjadi Penting?

Bukan soal gengsi atau keinginan memiliki gadget terbaru. Ini masalah keamanan digital—aset yang semakin berharga di era serba terhubung. Ponsel Anda menyimpan segalanya: dari percakapan pribadi, foto keluarga, hingga data perbankan. Membiarkannya tanpa perlindungan update sama saja dengan meninggalkan rumah dengan pintu terkunci, tapi jendela dibiarkan terbuka lebar.

Samsung sendiri telah berkomitmen pada kebijakan update yang lebih ambisius untuk produk-produk terbarunya. Beberapa model flagship bahkan dijanjikan enam major Android upgrade dan tujuh tahun patch keamanan. Bandingkan dengan empat tahun yang didapat keempat ponsel yang kini di-EOL-kan. Perbedaan ini seperti membandingkan garansi mobil baru dengan bekas.

Proses upgrade pun kini semakin mudah. Samsung membuat perpindahan dari iPhone ke Galaxy semakin mudah, apalagi antar perangkat Samsung. Data, pengaturan, bahkan tata letak aplikasi bisa dipindahkan dengan beberapa ketukan jari. Hambatan psikologis untuk upgrade seharusnya semakin kecil.

Masa Depan setelah EOL

Lantas, apa yang terjadi pada ponsel-ponsel ini setelah ditinggal Samsung? Mereka akan tetap berfungsi, namun semakin rentan seiring waktu. Analoginya seperti Windows XP yang masih bisa dipakai, tapi tidak ada yang menjamin keamanannya. Komunitas developer mungkin akan merilis custom ROM, tapi solusi itu tidak untuk pengguna biasa.

Pasar smartphone sendiri terus bergerak cepat. Persaingan semakin ketat, seperti terlihat dalam duel flagship Xiaomi 17 vs Samsung Galaxy S25 yang menjanjikan lompatan performa signifikan. Pilihan upgrade pun semakin beragam, dari segmen menengah hingga high-end.

Keputusan akhir ada di tangan Anda. Tetap menggunakan ponsel lama yang familiar, atau beralih ke perangkat baru yang lebih aman? Pertimbangkan nilai data yang Anda simpan. Kadang, kesetiaan pada gadget lama perlu diukur dengan risiko yang mungkin ditanggung.

Bagi Samsung, ini adalah bagian dari siklus bisnis yang sehat. Menghentikan dukungan untuk produk lama berarti mendorong pengguna untuk upgrade—sesuatu yang menguntungkan bagi perusahaan. Tapi bagi konsumen, ini adalah pengingat bahwa dalam dunia teknologi, tidak ada yang abadi. Semua ada masa berlakunya, termasuk dukungan software untuk ponsel kesayangan Anda.

Vivo X300 Pro vs Oppo Find X9 Pro: Duel Flagship 2025 yang Seru

0

Telset.id – Dua flagship dengan harga sama, spesifikasi mentereng, dan janji performa maksimal. Vivo X300 Pro dan Oppo Find X9 Pro hadir di 2025 dengan ambisi menguasai pasar smartphone premium. Tapi mana yang sebenarnya memberikan nilai lebih untuk uang Rp 12 jutaan Anda?

Perbandingan kedua ponsel ini seperti menyaksikan pertarungan dua petinju kelas berat dengan gaya bertarung berbeda. Keduanya mengusung chipset Dimensity 9500 yang sama, layar LTPO AMOLED 120Hz, dan sistem kamera pro-level. Namun, filosofi desain dan fokus fitur mereka menunjukkan jalan yang berbeda.

Bagi konsumen yang mencari smartphone flagship terbaik di kelas Rp 12 juta, keputusan antara Vivo dan Oppo ini tidak sesederhana memilih berdasarkan brand. Ada pertimbangan mendalam tentang prioritas penggunaan, kebutuhan fotografi, dan seberapa lama Anda berencana menggunakan perangkat tersebut.

Desain dan Layar: Klasik vs Ergonomis

Dari segi konstruksi, kedua ponsel menggunakan material premium dengan kombinasi kaca dan aluminium, dilengkapi sertifikasi tahan air IP68/IP69. Namun, filosofi desain mereka berbeda seperti siang dan malam.

Vivo X300 Pro memilih pendekatan minimalis dengan desain flat yang terkesan profesional dan klasik. Sementara Oppo Find X9 Pro menghadirkan panel belakang melengkung yang memberikan grip lebih baik. Dalam penggunaan jangka panjang, desain Oppo terasa lebih nyaman digenggam, terutama bagi Anda yang sering menghabiskan waktu berjam-jam dengan smartphone.

Di bagian layar, pertarungan semakin sengit. Kedua perangkat mengusung panel LTPO AMOLED dengan refresh rate adaptif 120Hz dan dukungan HDR lengkap. Tapi Vivo membawa keunggulan signifikan dengan brightness puncak 4500 nits – rekor baru di industri. Ini membuat X300 Pro unggul mutlak untuk penggunaan outdoor dan konsumsi konten HDR.

Oppo dengan brightness 3600 nits tetap impresif, tapi tidak bisa menandingi kekuatan cahaya Vivo. Bagi pengguna yang sering beraktivitas di luar ruangan atau pecinta konten visual, keunggulan Vivo di bagian ini cukup menentukan.

Performa dan Daya Tahan: Masa Depan vs Kekinian

Di bagian performa, kedua ponsel benar-benar seimbang. Chipset Dimensity 9500 (3nm) dipadukan dengan storage UFS 4.1 dan RAM hingga 16GB memberikan pengalaman yang hampir identik dalam multitasking dan gaming berat. Tapi di sinilah cerita mulai menarik.

Oppo memberikan kejutan dengan komitmen update software yang lebih panjang – 5 major Android update dibanding Vivo yang hanya 4 update. Bagi Anda yang berencana menggunakan smartphone selama 3-4 tahun ke depan, ini adalah pertimbangan penting. Seperti yang kita lihat dalam perbandingan flagship lainnya, dukungan software jangka panjang menjadi faktor penentu kepuasan pengguna.

Di sektor baterai, Oppo unggul dengan kapasitas 7500 mAh dibanding Vivo yang 6510 mAh. Perbedaan 990 mAh ini terasa dalam penggunaan intensif seperti streaming video atau navigasi seharian. Untuk charging, Vivo menang di wired charging 90W vs 80W Oppo, tapi Oppo balas menang di wireless charging 50W vs 40W Vivo.

Pertanyaan besarnya: apakah Anda lebih sering charge kabel atau nirkabel? Jawabannya bisa menentukan pilihan antara kedua flagship ini.

Sistem Kamera: Seni vs Teknologi

Ini adalah babak paling menarik dalam duel Vivo X300 Pro vs Oppo Find X9 Pro. Keduanya membawa hardware kamera yang spektakuler: lensa utama 50MP, ultrawide 50MP, dan telephoto 200MP. Tapi pendekatan mereka berbeda bagai minyak dan air.

Vivo bermitra dengan Zeiss untuk menghasilkan gambar yang tajam dan kaya detail, sementara Oppo berkolaborasi dengan Hasselblad untuk warna yang natural dan hangat. Vivo unggul dalam zoom dengan periscope telephoto 3.7x vs 3x Oppo, membuatnya lebih baik untuk fotografi jarak jauh.

Di sisi lain, Oppo memiliki aperture lebih lebar pada lensa telephoto, memberikan keunggulan dalam kondisi low-light. Untuk videografi, Vivo mendukung rekaman 8K sementara Oppo fokus pada 4K Dolby Vision.

Kamera selfie 50MP di kedua ponsel sama-sama mengesankan, tapi Vivo memiliki autofocus dan tuning HDR yang menghasilkan selfie lebih tajam. Oppo lebih mengutamakan akurasi warna dan dynamic range. Seperti dalam perbandingan flagship lainnya, pilihan kamera seringkali bergantung pada gaya fotografi personal.

Harga dan Nilai Investasi

Kedua ponsel dipatok sekitar $800 atau setara Rp 12,4 juta (asumsi kurs $1 = Rp 15.500). Di rentang harga ini, konsumen berhak mengharapkan yang terbaik dari segi performa, kamera, dan daya tahan.

Pertimbangan harga menjadi menarik ketika melihat value jangka panjang. Oppo menawarkan baterai lebih besar dan dukungan software lebih lama, sementara Vivo memberikan layar lebih terang dan kemampuan zoom superior. Keputusan akhir kembali kepada prioritas Anda sebagai pengguna.

Perlu diingat, harga dapat bervariasi tergantung negara, region, dan pajak yang berlaku. Selalu periksa harga resmi sebelum melakukan pembelian.

Kesimpulan: Pilihan di Tangan Anda

Setelah menelusuri setiap aspek, jelas bahwa baik Vivo X300 Pro maupun Oppo Find X9 Pro adalah flagship yang exceptional. Tapi mereka melayani kebutuhan yang berbeda.

Oppo Find X9 Pro adalah pilihan bijak untuk pengguna yang mengutamakan daya tahan baterai, kenyamanan genggaman, dan investasi jangka panjang berkat dukungan software yang lebih lama. Ini adalah smartphone untuk Anda yang ingin perangkat andalan selama bertahun-tahun.

Vivo X300 Pro, di sisi lain, adalah senjata bagi content creator dan pecinta visual. Layar super terang, sistem kamera Zeiss yang tajam, dan kemampuan zoom superior membuatnya unggul untuk produktivitas kreatif.

Seperti halnya dalam pilihan smartphone lainnya, tidak ada yang benar atau salah di sini. Yang ada hanyalah mana yang lebih tepat untuk gaya hidup dan kebutuhan Anda. Keduanya membuktikan bahwa tahun 2025 adalah era keemasan smartphone flagship dengan harga terjangkau.