Beranda blog Halaman 107

Google Bakal Ganti ChromeOS dengan Aluminium OS Berbasis Android

0

Telset.id – Google dikabarkan akan menghentikan ChromeOS dan menggantinya dengan sistem operasi desktop baru bernama Aluminium OS yang berbasis Android. Rencana ini terungkap melalui lowongan pekerjaan untuk posisi senior product manager yang kini telah dihapus, mengindikasikan proyek tersebut sedang dalam tahap pengembangan lanjutan.

Lowongan pekerjaan yang dilaporkan Android Authority tersebut mengungkap bahwa Aluminium OS adalah sistem operasi baru yang dibangun dengan Artificial Intelligence (AI) sebagai intinya. Meski lowongan sudah tidak tersedia, informasi yang berhasil diungkap menunjukkan Google serius dengan rencana transisi dari ChromeOS ke platform baru ini.

Google may kill ChromeOS and replace it with an Android-based desktop OS

Nama Aluminium OS menggunakan ejaan British, yang kemungkinan merupakan penghormatan kepada Chromium – basis open source untuk Chrome dan ChromeOS. Perusahaan juga menggunakan singkatan ALOS yang berarti ALuminium Operating System, melanjutkan tradisi penamaan yang konsisten dengan produk-produk sebelumnya.

Menurut deskripsi pekerjaan, tanggung jawab senior product manager yang dicari termasuk menciptakan strategi untuk transisi “Google dari ChromeOS ke Aluminium”. Ini mengonfirmasi bahwa ChromeOS akhirnya akan dihentikan dan bergabung dengan daftar panjang produk dan layanan yang telah dihentikan di Google Graveyard.

Rencana Transisi Bertahap

Google berencana mengembangkan portofolio perangkat yang menjalankan ChromeOS dan Aluminium OS secara bersamaan untuk sementara waktu. Perangkat-perangkat ini akan mencakup laptop, detachables, tablet, dan boxes yang tersebar di berbagai segmen harga. Strategi ini memungkinkan pengguna untuk beradaptasi secara bertahap dengan sistem operasi baru sebelum ChromeOS sepenuhnya dihapus.

Rencana penggabungan Android dan ChromeOS sebenarnya sudah dikonfirmasi sebelumnya oleh Sameer Samat, kepala Android Ecosystem di Google. Dalam pernyataannya awal tahun ini, Samat mengonfirmasi bahwa kombinasi Android dan ChromeOS akan diluncurkan tahun depan, meski perusahaan belum mengumumkan perangkat spesifik mana yang akan menggunakannya.

Kompetisi di Pasar Desktop

Perangkat yang menjalankan Aluminium OS diperkirakan akan bersaing langsung dengan Apple MacBook Air dan iPad, serta berbagai laptop berbasis Windows. Peluncuran sistem operasi desktop baru ini datang di momen yang menarik, terutama dengan adanya kritik terhadap Windows Copilot yang bisa membuka peluang bagi Google untuk merebut pangsa pasar PC.

Integrasi Gemini dalam Aluminium OS menjadi faktor kunci yang bisa membuat Google menjadi ancaman terbesar bagi bisnis konsumen Microsoft dalam beberapa tahun terakhir. Seperti yang telah terjadi di ChromeOS, dimana Gemini menggantikan Google Assistant, AI akan memainkan peran sentral dalam pengalaman pengguna Aluminium OS.

Pengembangan Aluminium OS juga sejalan dengan tren terbaru dalam ekosistem Android. Android 16 yang baru saja dirilis membawa berbagai peningkatan fitur yang kemungkinan akan terintegrasi dalam sistem operasi desktop baru ini. Harmonisasi antara platform mobile dan desktop menjadi strategi jangka panjang Google untuk menciptakan ekosistem yang lebih terpadu.

Survei yang dilakukan menunjukkan respon beragam dari pengguna terhadap rencana transisi ini. Sebanyak 53,85% responden menyatakan akan beralih ke Aluminium OS hanya jika sistem operasi baru ini sebaik Windows dan macOS. Sementara 15,38% menyambut positif inovasi baru, dan 23,08% bersedia beralih asalkan mendukung aplikasi yang mereka gunakan saat ini.

Transisi ke sistem operasi baru ini tidak hanya berdampak pada perangkat laptop, tetapi juga perangkat input seperti keyboard. Inovasi periferal dari Logitech dengan keyboard bertenaga surya menunjukkan bagaimana perkembangan hardware turut mendukung evolusi sistem operasi desktop.

Meskipun Google belum memberikan timeline spesifik untuk penghentian ChromeOS, lowongan pekerjaan yang terungkap menunjukkan perusahaan sedang mempersiapkan transisi besar-besaran. Pengalaman Google dalam mengembangkan sistem operasi, ditambah dengan fokus pada AI, membuat Aluminium OS layak ditunggu sebagai penantang baru di pasar desktop yang didominasi Windows dan macOS.

Malware Android Sturnus Intip WhatsApp dan Bobol Rekening

0

Telset.id – Peneliti keamanan siber menemukan trojan perbankan Android baru bernama Sturnus yang mampu mengintip pesan WhatsApp, Telegram, dan Signal, serta membobol rekening bank pengguna. Malware berbahaya ini juga dapat mengambil alih kendali ponsel secara penuh dari jarak jauh melalui eksploitasi layanan Aksesibilitas Android.

Laporan dari ThreatFabric mengungkapkan bahwa Sturnus mencuri pesan dari aplikasi perpesanan yang aman setelah fase dekripsi dengan menangkap konten yang ditampilkan di layar ponsel. Dengan memanfaatkan layanan Aksesibilitas, malware ini mampu membawa teks yang ada di layar, menangkap input korban, mendeteksi aplikasi yang dibuka, menekan tombol, scroll, melakukan injeksi teks, dan navigasi ponsel.

“Karena mengandalkan pencatatan Accessibility Service daripada mencegat jaringan, malware ini bisa membaca semua yang muncul di layar – termasuk kontak, alur percakapan penuh, serta konten pesan yang masuk dan keluar – secara real-time,” tulis ThreatFabric dalam laporannya seperti dikutip dari BleepingComputer.

Ketika pengguna membuka aplikasi WhatsApp, Telegram, atau Signal, malware ini akan menggunakan izin aksesnya untuk mendeteksi konten pesan, teks yang diketik, nama kontak, dan konten percakapan. Kemampuan ini membuat Sturnus sangat berbahaya karena dapat sepenuhnya menghindari enkripsi end-to-end dengan mengakses pesan setelah didekripsi oleh aplikasi resmi.

Modus Operandi dan Kemampuan Berbahaya

Selain mengintip percakapan pribadi, malware Sturnus juga mampu menampilkan halaman login palsu untuk aplikasi perbankan guna mencuri kredensial korban. Setelah mendapatkan kredensial yang diperlukan, hacker dapat beraksi secara diam-diam untuk mengirim uang, mengubah pengaturan, atau menginstal aplikasi baru tanpa sepengetahuan pemilik ponsel.

Untuk mengontrol ponsel secara penuh, malware ini merebut hak Android Device Administrator yang memungkinkannya memonitor perubahan password, percobaan membuka kunci, dan mengunci ponsel dari jarak jauh. Yang lebih mengkhawatirkan, Sturnus dapat mencegah pengguna menghapus hak istimewa atau menghapusnya dari perangkat.

Kasus malware Android yang menargetkan layanan perbankan bukanlah hal baru. Sebelumnya, NGate Malware Android Curi Info Kartu Debit dan PIN juga menunjukkan kemampuan serupa dalam mencuri informasi finansial pengguna.

Metode Penyebaran dan Pencegahan

ThreatFabric mengungkapkan bahwa infeksi malware Sturnus berawal dari instalasi file APK Android berbahaya yang menyamar sebagai Google Chrome atau Preemix Box. Meskipun peneliti belum mengetahui secara pasti bagaimana malware ini menyebar, mereka meyakini metode yang digunakan adalah malvertising atau pesan langsung.

Pengguna Android dapat melindungi diri dari ancaman malware mengerikan ini dengan tidak mengunduh file APK dari luar Play Store, selalu mengaktifkan Play Protect, dan tidak memberikan izin Aksesibilitas ke sembarang aplikasi. Kewaspadaan terhadap aplikasi yang meminta akses berlebihan sangat penting untuk mencegah infeksi.

Ancaman malware Android terus berkembang dengan berbagai varian baru. Gawat! Malware Android Ini ‘Kebal’, Tak Bisa Dimusnahkan menunjukkan bagaimana beberapa malware memiliki kemampuan bertahan yang luar biasa di perangkat korban.

Selain Sturnus, terdapat pula Malware Android Baru Ini Bisa “Bersihkan” Isi Ponsel yang mengancam keamanan data pengguna dengan kemampuan menghapus konten perangkat.

Penemuan malware Sturnus ini mengingatkan pentingnya kehati-hatian pengguna Android dalam mengunduh dan menginstal aplikasi, serta memberikan izin akses kepada aplikasi yang tidak dikenal. Perlindungan berlapang melalui aplikasi keamanan dan pembaruan sistem secara teratur menjadi langkah preventif yang disarankan para ahli keamanan siber.

Nvidia Klaim Teknologinya Lebih Unggul dari Google dalam Perang Chip AI

0

Telset.id – Nvidia secara terbuka menyatakan bahwa teknologi chip AI-nya tetap satu generasi lebih maju dibandingkan pesaing, termasuk Google. Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap kekhawatiran Wall Street bahwa dominasi perusahaan dalam infrastruktur artificial intelligence dapat terancam oleh perkembangan Tensor Processing Units (TPU) milik Google.

Dalam unggahan resmi di platform X, Nvidia mengakui kemajuan yang dicapai Google di bidang AI namun tetap menegaskan superioritas teknologinya. “Kami turut senang atas kesuksesan Google, mereka telah membuat kemajuan besar dalam bidang AI dan kami terus menyuplai Google,” tulis pernyataan Nvidia. “NVIDIA satu generasi lebih maju dibanding industri, ini adalah satu-satunya platform yang dapat menjalankan setiap model AI dan melakukannya di mana pun proses komputasi berlangsung.”

Ketegangan antara kedua raksasa teknologi ini memanas setelah saham Nvidia mengalami penurunan 3% menyusul laporan bahwa Meta, salah satu pelanggan utama Nvidia, berpotensi menjalin kesepakatan dengan Google untuk menggunakan TPU di pusat data mereka. Situasi ini mencerminkan persaingan sengit dalam perang chipset yang semakin mengglobal.

Perbandingan Teknologi Chip AI

Nvidia secara spesifik membandingkan chip buatannya dengan chip ASIC (Application-Specific Integrated Circuit) seperti TPU Google yang dirancang khusus untuk satu perusahaan atau fungsi tertentu. Menurut Nvidia, chip mereka menawarkan performa, keserbagunaan, dan fungibilitas yang lebih tinggi dibandingkan ASIC.

Generasi terbaru chip Nvidia, Blackwell, diklaim sebagai platform paling fleksibel dan bertenaga di pasar saat ini. Fleksibilitas ini menjadi nilai jual utama Nvidia, mengingat perusahaan seperti Samsung yang memilih chip Qualcomm untuk perangkat rumah tangganya menunjukkan pentingnya adaptabilitas teknologi.

Strategi Pasar yang Berbeda

Perbedaan mendasar antara Nvidia dan Google terletak pada strategi pemasaran chip AI mereka. Nvidia menguasai lebih dari 90% pasar chip AI dengan menjual prosesor grafisnya secara langsung ke berbagai perusahaan. Sementara Google memilih pendekatan berbeda dengan tidak menjual chip TPU-nya ke perusahaan lain, melainkan menggunakannya untuk tugas-tugas internal dan memungkinkan perusahaan lain menyewanya melalui Google Cloud.

Keberhasilan Google dengan TPU semakin terlihat ketika perusahaan merilis Gemini 3, model AI mutakhir yang mendapat ulasan positif. Yang menarik, model ini dilatih menggunakan TPU milik Google sendiri, bukan GPU Nvidia. Prestasi ini mengingatkan pada inovasi pemasok chip Apple yang menghadapi tantangan keamanan berbeda.

Juru bicara Google menanggapi perkembangan ini dengan menyatakan, “Kami mengalami lonjakan permintaan, baik untuk TPU khusus kami maupun GPU Nvidia. Kami berkomitmen untuk mendukung keduanya, seperti yang telah kami lakukan selama bertahun-tahun.” Pernyataan ini menunjukkan hubungan bisnis yang kompleks antara kedua perusahaan, di mana Google tetap menjadi pelanggan Nvidia meskipun mengembangkan teknologi saingan.

CEO Nvidia Jensen Huang menanggapi persaingan yang kian ketat dalam panggilan laporan pendapatan awal bulan ini. Ia mencatat bahwa Google tetap menjadi pelanggan untuk chip GPU perusahaannya dan menekankan bahwa model Gemini dapat berjalan di atas teknologi Nvidia. Pendekatan hybrid semacam ini semakin umum dalam industri teknologi, mirip dengan perkembangan chipset AR/VR dengan AI yang mengintegrasikan berbagai teknologi.

Persaingan antara Nvidia dan Google dalam pasar chip AI mencerminkan transformasi besar dalam industri teknologi. Dominasi Nvidia yang selama ini tak terbantahkan mulai mendapat tantangan serius dari teknologi custom chip seperti TPU Google. Namun, dengan portofolio teknologi yang komprehensif dan jaringan pelanggan yang luas, Nvidia tampaknya siap mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar chip AI global.

Huawei Mate X7 Resmi Rilis dengan Kirin 9030 Pro dan IP59

0

Telset.id – Huawei secara resmi meluncurkan smartphone lipat terbarunya, Mate X7, pada 25 November 2025. Perangkat ini menghadirkan sejumlah peningkatan signifikan dibandingkan pendahulunya, termasuk sertifikasi ketahanan air dan debu IP58/IP59 yang ditingkatkan, chipset Kirin 9030 Pro terbaru, kamera telefoto baru, serta baterai yang lebih besar.

Meski Mate X6 sebelumnya sudah dikenal sebagai perangkat yang ramping dan ringan, Huawei berhasil membuat Mate X7 lebih kompak. Dalam keadaan terlipat, ketebalannya hanya 9.5mm, sementara saat dibuka menipis menjadi 4.5mm. Dengan bobot 235 gram, Mate X7 lebih ringan 4 gram dari model sebelumnya, namun tetap mempertahankan rangka aluminium yang kokoh.

Mate X7 brings IP59 rating, larger battery and Kirin 9030 Pro chipset

Sertifikasi IP58 dan IP59 pada Mate X7 menjamin perlindungan maksimal terhadap debu dan air. Perangkat ini tidak hanya tahan terhadap cipratan air, tetapi juga mampu bertahan dari semprotan air bertekanan tinggi dari jarak dekat, menjadikannya salah satu smartphone lipat paling tangguh di pasaran.

Spesifikasi Layar dan Performa

Mate X7 menawarkan layar yang sedikit lebih besar dari generasi sebelumnya. Layar penutup berukuran 6.49 inci dengan rasio aspek 20.4:9, sementara layar utama membentang 8 inci dengan rasio 8:7.3. Kedua panel menggunakan teknologi LTPO OLED dengan refresh rate variabel 1-120Hz dan PWM dimming frekuensi tinggi 1.440Hz untuk kenyamanan mata yang lebih baik.

Mate X7 brings IP59 rating, larger battery and Kirin 9030 Pro chipset

Di sektor performa, Mate X7 mengadopsi chipset Kirin 9030 Pro yang sama dengan yang digunakan pada seri Mate 80 Pro dan Mate 80 Pro Max yang baru saja diumumkan. Seperti yang telah diungkap dalam bocoran sebelumnya, SoC ini mengusung arsitektur ARMv9 sembilan inti dengan satu inti utama berkecepatan 2.75GHz, empat inti performa @2.27GHz, dan empat inti efisiensi @1.72GHz.

Konfigurasi memori yang tersedia mencakup RAM 12GB/16GB dengan opsi penyimpanan hingga 1TB. Peluncuran Mate X7 ini sejalan dengan jadwal rilis produk Huawei lainnya yang juga diumumkan pada tanggal yang sama.

Sistem Kamera dan Baterai

Sistem kamera Mate X7 mempertahankan sensor utama 50MP dari generasi sebelumnya dengan sensor RYYB, aperture variabel fisik 10-stop (f/1.4-4.0), dan stabilisasi optis (OIS). Yang baru adalah sensor telefoto yang ditingkatkan menjadi 50MP dengan aperture lebih lebar f/2.2 dan zoom optik 3.5x.

Mate X7 brings IP59 rating, larger battery and Kirin 9030 Pro chipset

Kamera ketiga di bagian belakang adalah ultrawide 40MP, sementara untuk keperluan selfie tersedia dua kamera 8MP – satu di layar penutup dan satu di layar utama. Konfigurasi ini menjadikan Mate X7 sebagai perangkat yang siap menghadapi berbagai scenario pemotretan.

Di bagian daya, Mate X7 mengusung baterai dual-cell Si-C dengan kapasitas gabungan 5.600mAh, lebih besar dari pendahulunya. Perangkat ini mendukung pengisian daya kabel 66W dan nirkabel 50W, memastikan pengguna tidak perlu menunggu lama untuk mengisi ulang baterai.

Mate X7 akan langsung menjalankan HarmonyOS 6 saat pertama kali dinyalakan di pasar China dan dilengkapi dengan konektivitas satelit. Kehadiran perangkat ini melengkapi jajaran produk premium Huawei yang semakin lengkap di akhir tahun 2025.

Untuk variasi warna, Huawei menyediakan pilihan Black, White, Purple, dan Red. Harga mulai CNY 12.999 (sekitar $1.830) untuk varian 12/256GB, sementara versi 12/512GB dijual seharga CNY 13.999 (sekitar $1.970). Varian Collector’s Edition 16/512GB dibanderol CNY 14.999 (sekitar $2.111), dan model top-of-the-line 20GB/1TB dihargai CNY 17.999 (sekitar $2.534). Penjualan terbuka di China dijadwalkan mulai 5 Desember 2025.

Kehadiran Huawei Mate X7 dengan spesifikasi unggulan dan harga kompetitif ini diperkirakan akan semakin memanaskan persaingan di pasar smartphone lipat premium global, khususnya di wilayah Asia dimana Huawei memiliki basis pengguna yang kuat.

Film Live-Action The Legend of Zelda Mulai Syuting, Link dan Zelda Terungkap

0

Telset.id – Nintendo secara resmi mengumumkan bahwa proses syuting film live-action adaptasi game The Legend of Zelda telah dimulai. Pengumuman ini disertai dengan foto pertama kedua pemeran utama, Bo Bragason sebagai Putri Zelda dan Benjamin Evan Ainsworth sebagai Link, yang diunggah melalui akun X (Twitter) resmi perusahaan.

Shigeru Miyamoto, sang pencipta waralaba The Legend of Zelda, secara langsung mengonfirmasi perkembangan produksi melalui unggahan di platform yang sama. Dalam pernyataannya, Miyamoto menyebutkan bahwa pengambilan gambar dilakukan di lokasi alam terbuka dengan lanskap hijau dan luas, yang selaras dengan nuansa dunia Hyrule yang dikenal melalui seri gamenya.

Foto perdana yang beredar menunjukkan kedua pemeran sedang beradu akting dalam set syuting. Gambar ini langsung memicu perbincangan hangat di kalangan komunitas gamer dan pecinta film fantasi, menandai momen penting dalam perjalanan adaptasi film yang sangat dinantikan ini.

Tim Kreatif dan Kolaborasi Berpengalaman

Film live-action The Legend of Zelda ini disutradarai oleh Wes Ball, yang sebelumnya dikenal melalui karya-karya film aksi fantasi seperti The Maze Runner dan Kingdom of the Planet of the Apes. Naskah film ditangani oleh T.S. Nowlin, yang juga terlibat dalam penulisan skenario The Maze Runner, menciptakan kolaborasi yang solid dalam tim kreatif.

Di sisi produksi, film ini diperkuat oleh Avi Arad, produser berpengalaman yang terlibat dalam sejumlah film Marvel, bersama dengan Shigeru Miyamoto yang bertindak sebagai produser. Keterlibatan langsung Miyamoto dalam produksi diyakini akan menjaga karakter, mitologi, serta identitas emosional waralaba Zelda tetap kuat dalam adaptasi filmnya.

Kolaborasi antara nama-nama besar dari industri film Hollywood dengan kreator asli game ini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan adaptasi yang ambisius. Pendekatan ini diharapkan dapat menghadirkan pengalaman visual yang dekat dengan estetika dan cerita yang telah dikembangkan dalam serial video game legendaris tersebut.

Strategi Nintendo dalam Tren Adaptasi Game

Keputusan Nintendo untuk menghadirkan adaptasi live-action The Legend of Zelda dinilai sebagai langkah strategis yang mengikuti tren kesuksesan berbagai film berbasis game dalam beberapa tahun terakhir. Industri hiburan global menunjukkan peningkatan signifikan dalam penerimaan audiens terhadap adaptasi video game ke layar lebar.

Fenomena kesuksesan film adaptasi game semakin menguat dengan pencapaian box office yang diraih oleh berbagai judul terkini. Seperti yang terjadi pada Minecraft Movie yang memecahkan rekor box office, bahkan melampaui pencapaian Super Mario Bros, menunjukkan potensi pasar yang besar untuk genre ini.

Nintendo tampaknya belajar dari kesuksesan tersebut dan menerapkan strategi yang matang dalam menghadapi dinamika industri hiburan modern. Adaptasi The Legend of Zelda menjadi bagian dari ekspansi konten yang lebih luas, memperkuat posisi merek di luar ranah gaming tradisional.

Meskipun belum ada pengumuman resmi mengenai alur cerita film, informasi awal dan foto yang beredar mengindikasikan bahwa adaptasi ini akan menonjolkan elemen dunia Hyrule yang luas. Karakteristik visual yang serupa dengan game menjadi fokus utama, dengan lokasi syuting alam yang diharapkan dapat menghidupkan elemen ikonik khas dunia The Legend of Zelda.

Para penggemar masih menunggu pengumuman lebih lanjut mengenai jadwal rilis resmi film live-action The Legend of Zelda. Namun, berdasarkan skala produksi dan tim kreatif yang terlibat, film ini diprediksi akan menjadi salah satu film adaptasi game terbesar dalam beberapa tahun mendatang, melanjutkan kesuksesan adaptasi video game di layar lebar.

Huawei Luncurkan MatePad Edge dan MateBook Fold Edisi Master

0

Telset.id – Huawei secara resmi meluncurkan seri Mate 80 dan Mate X7 foldable dalam sebuah acara di China pada 25 November 2025. Namun, yang menarik perhatian adalah kehadiran MatePad Edge, tablet 2-in-1 yang menjalankan HarmonyOS 5 dengan dukungan penuh aplikasi desktop, serta MateBook Fold Extraordinary Master Edition. Peluncuran ini menandai langkah strategis Huawei dalam memperkuat portofolio perangkat premiumnya.

MatePad Edge hadir sebagai jawaban Huawei terhadap Microsoft Surface. Perangkat ini dibangun dengan bodi aluminum unibody yang ramping, dengan ketebalan hanya 6,85 mm dan bobot 789 gram. Layar OLED 14,2 inci dengan resolusi 3.120 × 2.080 piksel dan refresh rate 120Hz menjadi pusat dari pengalaman pengguna, didukung hinge built-in yang dapat diatur hingga 175 derajat.

Huawei MatePad Edge debuts, MateBook Fold gets Extraordinary Master Edition

Dari sisi performa, MatePad Edge mengandalkan chipset Kirin X90 atau Kirin X90A dengan konfigurasi RAM 16-32GB dan penyimpanan 256GB-2TB. Huawei mengklaim chipset terbarunya mampu menyamai performa Apple M5 dengan peningkatan 3,8x dibandingkan generasi sebelumnya, Kirin T92 SoC. Untuk mengatasi panas, perangkat ini dilengkapi dengan optional liquid cooling dan dual vapor chambers.

Tablet ini juga mendukung stylus Huawei M-Pencil Pro, dilengkapi enam speaker dan empat mikrofon. Aksesori keyboard opsional menawarkan key travel 1,8mm dan touchpad pressure-sensitive. Di sektor kamera, terdapat kamera utama 50MP dengan aperture f/1.8, lensa ultrawide 8MP, serta kamera selfie 32MP.

Huawei MatePad Edge debuts, MateBook Fold gets Extraordinary Master Edition

Spesifikasi dan Harga MatePad Edge

MatePad Edge ditenagai baterai 12.900 mAh dengan dukungan pengisian cepat 140W. Untuk konektivitas, perangkat ini hanya menyediakan satu port USB 3.1 Gen 1. Tersedia dalam dua pilihan warna: Space Gray dan Bright Moon Silver.

Harga mulai CNY 5.999 (sekitar $844) untuk varian dasar dengan RAM 16GB dan penyimpanan 256GB. Varian tertinggi dengan RAM 32GB dan SSD 2TB dibanderol CNY 12.999 (sekitar $1.830). Peluncuran MatePad Edge ini mengikuti pengumuman sebelumnya mengenai varian dengan RAM 24GB yang telah dinantikan penggemar.

MateBook Fold Extraordinary Master Edition

Selain MatePad Edge, Huawei juga memperkenalkan MateBook Fold Extraordinary Master Edition. Varian khusus ini hadir dengan warna hitam dan merah, dilengkapi RAM 32GB dan SSD 2TB. Meski mempertahankan spesifikasi kunci dari model standar, edisi ini menawarkan pengalaman premium dengan harga retail CNY 26.999 (sekitar $3.800).

Huawei MatePad Edge debuts, MateBook Fold gets Extraordinary Master Edition

Kehadiran MateBook Fold Extraordinary Master Edition melengkapi lini produk laptop foldable Huawei yang sebelumnya telah mendapatkan apresiasi dalam review performa dan daya tahan baterai. Inovasi ini menunjukkan komitmen Huawei dalam menghadirkan perangkat yang menggabungkan portabilitas dan produktivitas.

Peluncuran serentak perangkat-perangkat premium ini terjadi bersamaan dengan kehadiran HUAWEI Pura 80 di Indonesia yang membawa inovasi fotografi Ultra Chroma. Langkah strategis ini memperkuat posisi Huawei di pasar perangkat premium global, meski tantangan dalam supply chain chipset masih menjadi perhatian industri.

Huawei MatePad Edge debuts, MateBook Fold gets Extraordinary Master Edition

Dengan dukungan penuh aplikasi desktop pada HarmonyOS 5, MatePad Edge berpotensi mengubah landscape tablet produktivitas. Kemampuan ini, ditambah dengan performa yang diklaim setara Apple M5, membuat perangkat ini menjadi pesaing serius di segmen tablet high-end. Namun, uji performa independen masih diperlukan untuk memverifikasi klaim tersebut.

Keberhasilan perangkat-perangkat terbaru Huawei ini akan sangat bergantung pada adopsi ekosistem HarmonyOS dan ketersediaan aplikasi desktop yang kompatibel. Industri teknologi akan memantau perkembangan ini, mengingat persaingan di segmen perangkat produktivitas semakin ketat dengan kehadiran inovasi dari berbagai merek, termasuk perangkat dengan body tipis dan kinerja optimal untuk penggunaan sehari-hari.

Poco F8 Ultra dan Pro Bocor Sehari Sebelum Rilis Resmi

0

Telset.id – Poco F8 series, yang terdiri dari model Ultra dan Pro, secara resmi akan diumumkan besok. Namun, desain dan beberapa spesifikasi inti kedua ponsel ini berhasil dibocorkan sehari lebih awal, menampilkan desain unik dan chipset Snapdragon terbaru.

Poco F8 Ultra hadir dalam warna Denim Blue dengan bagian belakang bertekstur. Polanya meniru kain jeans denim, namun memberikan sensasi seperti karet saat disentuh. Fitur mencolok lainnya adalah keberadaan speaker fisik bermerek Bose di bagian belakang perangkat.

Sebaliknya, Poco F8 Pro menawarkan desain yang lebih sederhana. Meski demikian, ponsel ini juga telah ditingkatkan oleh Bose, sehingga diharapkan memiliki konfigurasi speaker yang mengesankan. Seperti yang pernah kami laporkan sebelumnya, kolaborasi dengan Bose memang menjadi salah satu fokus utama seri F8.

Poco F8 Pro in for review

Spesifikasi Teknis yang Diumumkan

Meski detail lengkap spesifikasi masih ditahan, beberapa informasi kunci telah terungkap. Poco F8 Pro akan menggunakan chipset Snapdragon 8 Elite SoC, sementara varian Ultra melangkah lebih jauh dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5 terbaru.

Poco F8 Ultra juga dilengkapi dengan chipset VisionBoost D8 khusus yang diklaim menawarkan detail yang lebih baik dan fitur AI Super Resolution. Dari sisi daya, Pro mendapatkan baterai 6.210mAh, sedangkan Ultra memiliki kapasitas lebih besar yaitu 6.500mAh. Informasi tentang chipset ini sejalan dengan bocoran sebelumnya yang menyebutkan penggunaan Snapdragon 8 Gen 5.

Poco F8 Pro memberikan kesan sebagai perangkat teknologi yang berkualitas dan kokoh saat dipegang. Ponsel ini tidak terlalu tipis dan ringan, menunjukkan adanya baterai besar di dalamnya. Layarnya berada di wilayah yang tepat, di bawah 6,8 inci dan di atas 6,5 inci.

Poco F8 Pro in for review

Konfirmasi Rilis dan Kompetisi

Pengumuman resmi Poco F8 series tinggal sehari lagi, dengan konfirmasi bahwa ponsel ini akan segera diluncurkan di Indonesia. Rilis ini akan menambah persaingan di pasar smartphone Indonesia, terutama mengingat realme juga akan meluncurkan C85 Series pada tanggal yang sama.

Dengan spesifikasi yang diungkapkan dan desain yang menarik, Poco F8 series diprediksi akan menjadi pesaing kuat di segmen smartphone menengah ke atas. Kombinasi chipset Snapdragon terbaru, baterai besar, dan kolaborasi dengan Bose menjadi nilai jual utama yang diusung kedua varian ini.

Informasi lebih lengkap mengenai harga, ketersediaan, dan spesifikasi detail Poco F8 series diharapkan dapat diumumkan secara resmi besok. Penggemar smartphone dapat menantikan pengumuman lengkap yang akan memberikan gambaran komprehensif tentang kemampuan kedua perangkat ini.

Cloudflare dan Komdigi Gelar Audiensi Bahas PSE dan Moderasi Konten

0

Telset.id – Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi) melalui Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital menggelar audiensi virtual dengan perusahaan infrastruktur web asal Amerika Serikat, Cloudflare, pada Selasa (25/11/2025). Pertemuan ini membahas pemenuhan regulasi Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Privat Asing dan penguatan kerja sama moderasi konten di Indonesia.

Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital, Alexander Sabar, menyatakan bahwa audiensi ini menjadi langkah awal dialog konstruktif antara pemerintah dan Cloudflare. “Pertemuan ini menunjukkan bahwa dialog tetap kami kedepankan untuk memastikan kepatuhan berjalan baik,” ujar Alexander dalam keterangan resmi yang diterima KompasTekno, Rabu (26/11/2025).

Cloudflare diwakili oleh Carly Ramsey, Head of Public Policy APAC, dan Smrithi Ramesh, Lead for Government Outreach APAC dalam pertemuan tersebut. Perusahaan menyatakan komitmennya untuk mempelajari lebih lanjut regulasi pendaftaran PSE dan bersedia menyediakan kanal pelaporan khusus bagi Komdigi guna mendukung proses moderasi konten.

Keterbatasan Peran Cloudflare sebagai Penyedia Infrastruktur

Dalam audiensi tersebut, Cloudflare menjelaskan keterbatasan perannya sebagai penyedia infrastruktur yang tidak melakukan kurasi konten secara langsung. Penjelasan ini muncul menyusul temuan Komdigi sebelumnya yang mengungkapkan bahwa 76 persen dari 10.000 sampel situs judi online periode 1-2 November 2025 menggunakan layanan Cloudflare.

Data tersebut juga mengungkap praktik penyamaran alamat IP untuk mempercepat perpindahan domain guna menghindari pemblokiran. Sebelumnya, Alexander menegaskan bahwa Cloudflare seharusnya bisa lebih selektif dalam memoderasi konten, namun melalui audiensi ini, Komdigi akhirnya memahami keterbatasan teknis yang dihadapi perusahaan.

Solusi Kanal Pelaporan dan Komitmen Kepatuhan

Sebagai bentuk dukungan konkrit, Cloudflare menawarkan penyediaan kanal pelaporan khusus untuk Komdigi. Solusi ini diharapkan dapat memperkuat kerja sama moderasi konten antara kedua belah pihak, meskipun perusahaan tetap pada posisinya sebagai penyedia infrastruktur.

Alexander Sabar menegaskan bahwa audiensi ini tidak menggugurkan kewajiban Cloudflare untuk mematuhi regulasi PSE Lingkup Privat. “Kepatuhan terhadap kewajiban pendaftaran merupakan bagian penting dari upaya menjaga kedaulatan digital dan memastikan seluruh layanan yang beroperasi di Indonesia tunduk pada aturan yang sama,” tegasnya.

Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah menertibkan layanan digital asing yang beroperasi di Indonesia. Regulasi PSE Lingkup Privat Asing sendiri telah menjadi perhatian serius pemerintah dalam beberapa tahun terakhir, dengan berbagai perusahaan teknologi global telah memenuhi kewajiban pendaftaran.

Cloudflare sebagai penyedia layanan infrastruktur web global memiliki peran krusial dalam ekosistem digital Indonesia. Layanan keamanan dan percepatan yang ditawarkan perusahaan banyak dimanfaatkan oleh berbagai situs web, termasuk beberapa yang mengalami gangguan besar seperti yang dialami platform media sosial tertentu.

Isu moderasi konten juga menjadi perhatian utama di era digital saat ini, seiring dengan maraknya penyalahgunaan teknologi untuk konten ilegal. Beberapa waktu lalu, muncul laporan tentang situs AI yang memanfaatkan teknologi untuk konten pelecehan, menunjukkan urgensi kolaborasi antara pemerintah dan penyedia layanan digital.

Penguatan ekosistem digital Indonesia terus dilakukan melalui berbagai pendekatan, termasuk pemanfaatan teknologi terkini. Seperti perkembangan terbaru di industri elektronik konsumen dimana perangkat televisi mulai mengintegrasikan kemampuan AI untuk meningkatkan pengalaman pengguna.

Audiensi antara Komdigi dan Cloudflare diharapkan dapat membuka jalan bagi penyelesaian isu kepatuhan regulasi secara berkelanjutan, sekaligus menjaga stabilitas dan keamanan ruang digital Indonesia.

Xiaomi Ubah Strategi, Rilis Lebih Sedikit Smartphone Mulai 2025

0

Telset.id – Xiaomi secara resmi mengubah strategi bisnis smartphone dengan memangkas jumlah model baru yang dirilis setiap tahun. Perubahan fundamental ini menandai titik balik dari pendekatan lama perusahaan yang dikenal agresif meluncurkan puluhan varian ponsel melalui berbagai lini seperti Xiaomi, Redmi, Poco, dan Civi.

Keputusan strategis ini diambil berdasarkan laporan keuangan kuartal II-2025 yang menunjukkan smartphone bukan lagi mesin utama pertumbuhan Xiaomi. Meski pasar ponsel global menunjukkan tanda-tanda pemulihan dengan pertumbuhan pengiriman 4 persen menurut Counterpoint, pendapatan segmen smartphone Xiaomi justru turun 2 persen secara tahunan.

Pendiri dan CEO Xiaomi Lei Jun menjelaskan bahwa strategi baru perusahaan bertumpu pada konsep Human-Car-Home, di mana smartphone berfungsi sebagai pusat penghubung antara mobil listrik, perangkat rumah pintar, dan layanan berbasis AI. “Dengan ekosistem yang makin terintegrasi, nilai produk tidak lagi hanya dinilai dari spesifikasi atau harga, melainkan dari pengalaman software dan konsistensi ekosistem,” jelas Lei Jun seperti dikutip GizmoChina.

Fokus pada Empat Pilar Utama

Xiaomi kini mengarahkan bisnisnya pada empat pilar utama: siklus pembaruan software yang lebih panjang, platform software global yang seragam, perangkat keras yang lebih tahan lama, serta integrasi ekosistem yang lebih dalam. Sebagai implementasinya, seri Xiaomi 15 dan Redmi Note 14 dijanjikan menerima empat tahun pembaruan sistem operasi dan enam tahun patch keamanan, menyamai kebijakan pembaruan Samsung dan Apple.

Transisi dari MIUI ke HyperOS menjadi pendorong utama pengurangan fragmentasi produk. HyperOS diposisikan sebagai fondasi global agar pembaruan lebih cepat, konsisten, dan mudah dipelihara. Pendekatan ini secara otomatis mengurangi jumlah ponsel baru yang dirilis setiap tahun sekaligus meningkatkan kualitas, konsistensi, dan pengalaman pengguna.

Pertumbuhan dari Segmen Lain

Data keuangan kuartal II-2025 mengungkapkan pertumbuhan pesat dari lini bisnis non-smartphone Xiaomi. Segmen AIoT melonjak 44,7 persen hingga menghasilkan pendapatan 38,7 miliar yuan (sekitar Rp 86,6 triliun), sementara bisnis kendaraan listrik (EV) mencapai revenue lebih dari 20 miliar yuan (sekitar Rp 44,7 triliun).

Tingginya permintaan terhadap model SU7 dan YU7 menjadi pendorong utama pertumbuhan bisnis EV Xiaomi. Ekspansi ke segmen kendaraan listrik menunjukkan komitmen perusahaan dalam membangun ekosistem terintegrasi yang melampaui perangkat mobile.

Di tengah perubahan strategi global ini, Xiaomi justru berhasil menguasai pasar smartphone Indonesia di kuartal I 2025. Pencapaian ini kontras dengan performa perusahaan di India, dimana pengiriman ponsel Xiaomi anjlok 42 persen pada awal 2025, membuatnya turun dari posisi pertama ke posisi keenam.

Kompleksitas menjaga dukungan jangka panjang untuk puluhan model dengan varian berbeda di berbagai negara menjadi salah satu pertimbangan utama pengurangan jumlah model. Dengan strategi baru, Xiaomi berharap bisa lebih kompetitif di segmen premium sekaligus memperkuat ekosistem yang menjadi fokus bisnisnya dalam satu dekade ke depan.

Perubahan strategi Xiaomi ini sejalan dengan tren industri teknologi yang mulai bergeser dari ketergantungan pada hardware semata. Seperti yang terjadi pada Sony yang memisahkan bisnis semikonduktor, perusahaan teknologi global semakin fokus pada spesialisasi dan integrasi ekosistem untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan.

Instagram Reels Kini Bisa 20 Menit, Sudah Tersedia di Indonesia

0

Telset.id – Instagram secara resmi meningkatkan durasi maksimal video pendek Reels menjadi 20 menit untuk pengguna di Indonesia. Perpanjangan signifikan ini sebelumnya hanya membatasi konten Reels hingga 3 menit, memberikan fleksibilitas lebih bagi kreator dalam menghasilkan konten video yang lebih panjang dan mendalam.

Platform media sosial milik Meta tersebut mengumumkan pembaruan ini melalui akun resmi @design Instagram. Dalam pernyataannya, Instagram menyebutkan bahwa peningkatan durasi Reels merupakan respons langsung terhadap masukan dari pengguna. “Tim Design Instagram bekerja sama dengan tim produk dan riset, bekerja keras menanggapi masukan Anda dan mengidentifikasi area penting yang perlu ditingkatkan. Dari peningkatan yang perlu disesuaikan, hingga Reels yang lebih panjang,” jelas Instagram melalui akun @design.

Berdasarkan pantauan Telset, fitur Reels 20 menit sudah dapat diakses oleh pengguna Instagram di Indonesia. Pembaruan ini memungkinkan pengguna merekam video langsung melalui kamera aplikasi Instagram dengan durasi hingga 20 menit, sekaligus mengunggah video dari galeri perangkat dengan batas durasi yang sama.

Cara Mengunggah Reels 20 Menit

Untuk memanfaatkan fitur Reels berdurasi panjang ini, pengguna dapat mengikuti langkah-langkah sederhana. Pertama, buka aplikasi Instagram dan akses fitur Reels. Kemudian, pilih opsi durasi 20 menit yang tersedia di antara pilihan waktu perekaman. Kamera aplikasi Instagram akan secara otomatis mulai merekam dan berhenti setelah mencapai batas 20 menit.

Setelah proses perekaman selesai, pengguna memiliki kesempatan untuk mengedit video langsung dalam aplikasi sebelum mengunggahnya ke platform. Kemudahan ini tidak hanya terbatas pada rekaman in-stream, tetapi juga berlaku untuk video yang diunggah dari galeri perangkat pengguna.

Evolusi Durasi Reels Instagram

Ini bukan kali pertama Instagram melakukan penyesuaian durasi untuk fitur Reels. Sejak diluncurkan pada tahun 2020, platform tersebut secara bertahap meningkatkan batas waktu konten video pendeknya. Evolusi dimulai dari durasi awal 15 detik, kemudian berkembang menjadi 30 detik, 60 detik, 90 detik, dan 180 detik sebelum akhirnya mencapai 20 menit seperti sekarang.

Meskipun tersedia opsi durasi panjang, Instagram tetap merekomendasikan konten video pendek di bawah tiga menit. Platform tersebut berulang kali menegaskan bahwa Reels pendek tetap menjadi prioritas utama karena terbukti lebih efektif dalam meningkatkan interaksi dan engagement pengguna.

Pembaruan ini juga disertai dengan penyempurnaan fitur editing dalam aplikasi. Instagram menghadirkan opsi “Undo” yang lebih praktis untuk merampingkan proses penghapusan klip terakhir dari proyek video. Tombol slider baru juga ditambahkan untuk mengontrol intensitas elemen “Touch-up”, memudahkan pengguna dalam mengelola hasil suntingan video.

Fitur populer seperti green screen dan hitung mundur (countdown) turut mendapatkan pembaruan untuk meningkatkan kenyamanan penggunaan. Penyempurnaan berbagai fitur pendukung ini menunjukkan komitmen Instagram dalam menciptakan pengalaman berkreasi yang lebih komprehensif bagi para penggunanya.

Perlu dicatat bahwa ekstensi durasi hingga 20 menit tidak berarti pengguna harus membuat video sepanjang itu. Dukungan video panjang memberikan fleksibilitas, namun pengguna tetap dapat mengunggah konten video dengan durasi lebih pendek sesuai kebutuhan kreatif mereka.

Strategi Instagram dalam menghadirkan Reels berdurasi panjang ini turut memperkuat persaingannya dengan platform video lainnya, termasuk YouTube Shorts yang juga terus berinovasi dengan fitur-fitur terbarunya. Meski mendukung video panjang, Instagram memastikan bahwa distribusi Reels berdurasi panjang tidak akan semasif konten video pendek, mengingat algoritma platform tetap mengutamakan konten yang mampu mempertahankan engagement pengguna dalam waktu singkat.

Pengembangan fitur Reels yang berkelanjutan ini sejalan dengan berbagai inovasi lain yang sedang digarap Instagram, termasuk pengaturan daftar teman untuk Stories yang memungkinkan pengguna lebih mengontrol siapa yang dapat melihat konten mereka.

Facebook Grup Kini Bisa Pakai Nama Samaran, Begini Caranya

0

Telset.id – Selama bertahun-tahun, Facebook memaksa kita untuk tampil dengan identitas asli. Tapi era itu perlahan berubah. Bayangkan: Anda bisa berdiskusi di grup parenting tentang tantangan remaja tanpa merasa “terekspos”, atau bertanya hal sensitif di komunitas kesehatan tanpa malu. Inilah yang kini ditawarkan Meta lewat fitur nickname untuk Facebook Groups.

Perubahan kebijakan nama samaran di Facebook Groups bukan sekadar tambahan fitur biasa. Ini adalah langkah strategis Meta merespons tren platform sosial yang semakin personal namun tetap mempertahankan jejaring berbasis komunitas. Seperti yang pernah kami bahas dalam pengembangan fitur pencari mentor Facebook, platform ini terus berinovasi menciptakan pengalaman yang lebih terarah.

Lalu, bagaimana sebenarnya mekanisme fitur baru ini bekerja? Dan apa dampaknya bagi ekosistem grup Facebook yang sudah berjalan puluhan tahun?

Dari Anonim Menuju Identitas Alternatif

Fitur posting anonim sebenarnya sudah lama hadir di Facebook Groups. Tapi Meta menyadari bahwa anonimitas total seringkali kontraproduktif. Diskusi menjadi kurang bermakna ketika setiap peserta hanya muncul sebagai “Anggota Anonim”.

Dengan nickname, anggota grup kini punya opsi tengah: tidak harus menggunakan nama asli, tapi juga tidak sepenuhnya tanpa identitas. Anda bisa memilih nama panggung yang merepresentasikan minat atau kepribadian dalam komunitas tersebut. Misalnya, “Si Kutu Buku” di grup literasi atau “Pecinta Kopi Pagi” di komunitas barista.

Proses setting-nya pun sederhana. Meta menjelaskan bahwa toggle yang sama untuk membuat posting anonim sekarang diperluas fungsinya untuk mengatur nickname custom. Cukup beberapa ketukan, Anda sudah bisa memiliki identitas alternatif dalam grup tertentu.

Antarmuka pengaturan nickname Facebook Groups dengan pilihan avatar hewan berkacamata

Yang menarik, fitur ini tidak serta merta aktif di semua grup. Administrator grup memegang kendali penuh. Mereka yang menentukan apakah anggota boleh menggunakan nickname atau tidak. Bahkan dalam beberapa kasus, setiap nickname perlu mendapatkan persetujuan individual dari admin.

Kebijakan ini menunjukkan bahwa Meta belajar dari pengalaman platform lain. Dengan memberikan kontrol kepada admin grup, mereka mengurangi risiko penyalahgunaan sambil tetap memberikan fleksibilitas kepada komunitas untuk menentukan standar mereka sendiri.

Avatar Hewan Lucu dan Psikologi Engagement

Selain nickname, Meta juga menyediakan katalog avatar custom. Dan pilihannya? Sebagian besar adalah gambar-gambar hewan menggemaskan yang mengenakan kacamata hitam. Pilihan ini mungkin terlihat sederhana, tapi punya dasar psikologis yang mendalam.

Avatar hewan lucu menciptakan kedekatan emosional tanpa terlalu personal. Mereka berfungsi sebagai ice breaker visual yang membuat interaksi di grup terasa lebih ringan dan menyenangkan. Bandingkan dengan platform seperti Workplace Facebook untuk perusahaan yang justru mendorong profesionalisme penuh.

Fleksibilitas menjadi kunci lain dari fitur ini. Anggota bisa bebas beralih antara nama asli dan nickname sesuai konteks pembicaraan. Untuk diskusi formal tentang pengalaman pribadi, mungkin nama asli lebih tepat. Tapi untuk obrolan santai atau berbagi opini kontroversial, nickname memberikan rasa aman yang diperlukan.

Batasan utama? Nickname tetap harus mematuhi Community Standards dan Terms of Service Meta. Artinya, meski menggunakan identitas alternatif, anggota tidak bisa bebas melakukan ujaran kebencian, bullying, atau pelanggaran lainnya. Sistem moderasi konten tetap berjalan seperti biasa.

Strategi Besar di Balik Fitur Kecil

Mengapa Meta repot-repot mengembangkan fitur seperti ini? Jawabannya terletak pada upaya mereka merebut kembali perhatian pengguna, khususnya generasi muda.

Facebook Groups adalah salah satu aset paling berharga yang masih dimiliki platform ini. Berbeda dengan feed utama yang sudah jenuh dengan konten komersial dan politik, grup masih mempertahankan esensi komunitas digital yang autentik.

Dalam beberapa tahun terakhir, Meta terus melakukan eksperimen dengan Facebook Groups. Awal 2024, mereka memperkenalkan tab khusus yang menyoroti acara lokal yang dibagikan di grup. Kemudian, mereka menambahkan tools bagi admin untuk mengubah grup privat menjadi publik dalam upaya menarik anggota baru.

Inovasi-inovasi ini menunjukkan pola yang konsisten: Meta berusaha membuat Facebook Groups lebih dinamis dan relevan dengan kebutuhan kontemporer. Seperti ketika mereka bergandengan dengan Spotify untuk layanan musik, kolaborasi dan inovasi menjadi senjata utama menghadapi persaingan.

Tantangan terbesar Facebook memang bukan teknologi, tapi persepsi. Bagi banyak pengguna muda, Facebook sudah identik dengan platform “generasi tua”. Mereka lebih nyaman berekspresi di TikTok atau Discord yang memberikan kebebasan identitas lebih besar.

Dengan mengadopsi konsep username yang sudah lazim di platform lain, Meta berharap bisa mengurangi barrier psikologis ini. Mereka tidak berharap Facebook kembali menjadi pusat kehidupan anak muda seperti era 2000-an, tapi setidaknya bisa menjadi pilihan yang layak untuk komunitas online.

Fitur nickname mungkin terlihat seperti perubahan kecil. Tapi dalam konteks yang lebih luas, ini adalah pengakuan Meta bahwa identitas online tidak lagi hitam-putih. Terkadang kita butuh ruang untuk menjadi versi lain dari diri kita sendiri – dan Facebook Groups sekarang memberikan ruang itu.

Pertanyaannya sekarang: apakah perubahan ini cukup untuk membawa angin segar bagi Facebook? Atau sudah terlambat bagi raksasa media sosial ini untuk mengejar ketertinggalan dari platform yang lebih muda dan lincah? Waktu yang akan menjawab, tapi setidaknya Meta menunjukkan mereka masih mau beradaptasi.

Jmail: Simulasi Email Jeffrey Epstein yang Bikin Merinding

0

Telset.id – Bayangkan Anda membuka Gmail, tapi yang muncul adalah inbox milik Jeffrey Epstein. Bukan fiksi, ini nyata. Sebuah proyek bernama Jmail baru saja meluncurkan simulasi akun email Epstein yang memuat lebih dari 20.000 dokumen asli yang dirilis Kongres AS. Siap-siap merinding—dan mungkin merasa jijik.

Proyek kontroversial ini dikembangkan oleh Luke Igel, CEO Kino, bersama software engineer Riley Walz. Dalam situs Jmail, pengunjung disambut dengan kalimat mengerikan: “You’re logged in as Jeffrey Epstein.” Rasanya seperti menyelami pikiran seorang predator seksual yang telah menghancurkan hidup puluhan korban.

Screenshot proyek Jmail yang menampilkan simulasi inbox Gmail Jeffrey Epstein menggunakan email asli dari Kongres

Yang membuat Jmail semakin mengkhawatirkan adalah kesetiaannya mereplikasi antarmuka Gmail. Email-email tersusun rapi dari yang terbaru hingga menjelang penangkapan Epstein tahun 2019 karena perdagangan seks anak di bawah umur. Bahkan fitur pencariannya berfungsi penuh, memungkinkan siapa saja menelusuri komunikasi gelap ini dengan mudah.

Riley Walz, salah satu pengembang Jmail, sebelumnya dikenal sebagai kreator Panama Playlists—proyek yang mengubah kelonggaran privasi Spotify menjadi website yang memamerkan selera musik “bocoran” para publik figur. Kini, dengan Jmail, Walz dan Igel mengambil langkah lebih jauh dengan mengekspos dunia gelap elite global.

Trump, Pangeran Andrew, dan Larry Summers dalam Pusaran Skandal

Komite Pengawasan DPR AS merilis email-email Epstein pada 12 November, dan dampaknya langsung terasa. Nama Donald Trump muncul berulang kali dalam dokumen-dokumen tersebut, mengembalikan hubungan presiden dengan pedagang seks ini ke sorotan publik.

Dalam satu email yang mengejutkan, Epstein yang telah meninggal mengklaim Trump “tahu tentang para gadis tersebut.” Komunikasi tahun 2011 kepada Ghislaine Maxwell mengungkapkan bahwa Trump “menghabiskan berjam-jam di rumah saya” dengan seseorang yang namanya dirahasiakan—yang menurut komite merupakan salah satu korban.

Tahun 2017, dalam thread email lain, Epstein menggambarkan Trump sebagai “lebih buruk dalam kehidupan nyata dan dari dekat.” Bahkan di tahun 2018, finansier yang tercemar ini membual bahwa dialah “satu-satunya yang bisa menjatuhkan