Beranda blog Halaman 105

Lenovo Legion Go 2 Resmi di Indonesia, Harga Mulai Rp 17,9 Juta

0

Telset.id – Bayangkan sebuah perangkat genggam yang mampu menghadirkan pengalaman gaming AAA setara konsol, namun bisa Anda bawa ke mana saja. Itulah janji yang dibawa Lenovo Legion Go 2, handheld gaming generasi kedua yang resmi meluncur di Indonesia hari ini. Dengan prosesor AMD Ryzen™ Z2 Extreme dan desain yang lebih ergonomis, perangkat ini siap mengubah cara kita bermain game.

Setelah berbagai bocoran dan spekulasi yang beredar selama beberapa bulan terakhir, akhirnya Lenovo secara resmi mengumumkan kehadiran Legion Go 2 di pasar Indonesia. Peluncuran ini bukan sekadar pembaruan biasa, melainkan lompatan signifikan dalam ekosistem handheld gaming Lenovo. Bagaimana tidak? Perangkat ini datang dengan peningkatan performa hingga 50% di berbagai aspek dibanding pendahulunya.

Santi Nainggolan, Consumer Lead Lenovo Indonesia, dalam pernyataannya menegaskan komitmen perusahaan terhadap pasar gaming Indonesia. “Legion Go 2 merupakan inovasi terbaru yang dihadirkan Lenovo untuk menjawab kebutuhan gamer modern di Indonesia,” ujarnya. Pernyataan ini sekaligus menegaskan posisi Lenovo sebagai pemain serius di arena handheld gaming yang semakin kompetitif.

Ditenagai AMD Ryzen Z2 Extreme, Performa Tak Tertandingi

Di jantung Legion Go 2 bertenaga prosesor AMD Ryzen™ Z2 Extreme dengan arsitektur Zen 5 terbaru. Konfigurasi 8 core dan 16 thread ini mampu menangani game AAA terberat sekalipun dengan frame rate yang mulus dan multitasking tanpa lag. Kombinasi memori 32GB LPDDR5X dan penyimpanan PCIe SSD hingga 2TB memastikan Anda bisa menyimpan puluhan game sekaligus tanpa mengorbankan performa.

Yang menarik, benchmark terbaru menunjukkan Legion Go 2 berhasil mengungguli kompetitor terdekatnya seperti MSI Claw A8. Keunggulan ini tidak lepas dari optimasi sistem pendingin Legion Coldfront yang telah ditingkatkan. Dengan area radiator dan kipas lebih besar, aliran udara meningkat hingga 45% tanpa menambah kebisingan. Dual heat pipe baru dan saluran udara internal memastikan distribusi panas lebih efisien.

Kontroler Legion TrueStrike: Revolusi dalam Genggaman

Salah satu inovasi paling menarik dari Legion Go 2 terletak pada kontroler Legion TrueStrike yang dapat dilepas. Kontroler ini mengalami peningkatan signifikan dengan desain ulang untuk kenyamanan maksimal. Berkat masukan langsung dari para gamer, kontroler kini menampilkan lekukan yang lebih ergonomis dan genggaman yang lebih nyaman.

Content image for article: Lenovo Legion Go 2 Resmi di Indonesia, Harga Mulai Rp 17,9 Juta

Fitur andalannya, mode FPS yang ikonik, kembali hadir dengan penyempurnaan. Mode ini memungkinkan kontroler kanan berfungsi sebagai mouse vertikal untuk kontrol bidikan yang lebih alami dan presisi dalam game tembak-menembak. Hall effect joysticks memberikan kontrol yang akurat dan bebas drift, sementara pivot D-pad yang besar membuat kombo terasa mulus dan alami.

Yang tak kalah penting, kontroler Legion TrueStrike yang baru ini sepenuhnya kompatibel dengan Legion Go generasi pertama. Ini berarti pemilik generasi pertama bisa melakukan upgrade tanpa harus membeli perangkat lengkap. Fleksibilitas semacam ini masih jarang ditemui di pasar handheld gaming.

Layar OLED 8,8 Inci dan Audio Premium

Pengalaman visual dijamin memukau dengan layar PureSight OLED 8,8 inci yang mendukung refresh rate 144Hz. Dengan rasio 16:10, cakupan warna DCI-P3 97%, dan kecerahan 500 nits (1100 nits peak), setiap adegan game terasa hidup dan detail. Baik untuk game kompetitif yang membutuhkan respons cepat maupun game cinematic yang mengandalkan visual memukau, layar ini tidak mengecewakan.

Dual speaker 2W dengan teknologi Nahimic Audio dan Spatial Audio menghadirkan suara detail dengan arah yang jelas. Sementara dual near-field microphone array memastikan komunikasi dalam game tetap jernih tanpa gangguan. Untuk konektivitas, Lenovo melengkapi perangkat dengan Wi-Fi 6E dan Bluetooth 5.3 yang mendukung koneksi cepat dan stabil.

Dua port USB4 Type-C yang terletak di bagian atas dan bawah memberikan kemudahan akses, baik saat digunakan di dock, di atas meja, maupun dalam genggaman. Fleksibilitas ini membuat Legion Go 2 tidak sekadar handheld gaming, tetapi juga perangkat hiburan yang lengkap.

Baterai Besar dan Fitur Pendukung Lengkap

Dengan baterai 74Whr yang 50,4% lebih besar dari generasi sebelumnya, Legion Go 2 menjanjikan sesi bermain lebih lama tanpa sering mengisi ulang. Fitur Super Rapid Charge memastikan daya cepat tersedia kapan pun dibutuhkan. Desain ergonomis dengan premium coating tahan sidik jari, kickstand besar, dan touchpad 24mm x 24mm menambah kenyamanan penggunaan.

Melalui Legion Space, pengguna dapat menyesuaikan mode thermal sesuai kebutuhan, memprioritaskan performa maksimal atau efisiensi baterai sekaligus memantau suhu perangkat secara real time. Semua launcher favorit seperti Xbox PC Game Pass, Steam, Epic Games, hingga Gamesplanet dapat diakses dari satu platform.

Lenovo juga melengkapi Legion Go 2 dengan layanan purna jual Accidental Damage Protection yang memberikan perlindungan terhadap kerusakan tidak disengaja seperti ketumpahan cairan, jatuh, layar rusak karena benturan, hingga lonjakan listrik. Layanan ini memberikan ketenangan bagi para handheld gamer yang aktif bermain di berbagai lokasi dan kondisi.

Sebagai bagian dari portofolio produk Lenovo yang terus berkembang, Legion Go 2 menegaskan posisi perusahaan dalam menghadirkan solusi teknologi yang memberdayakan pengguna. Dengan harga Rp 17.999.000 dan tersedia eksklusif di Blibli dari 20 hingga 26 Oktober 2025, perangkat ini menawarkan nilai yang sulit ditolak bagi para gamer serius.

Selama periode peluncuran, konsumen dapat menikmati berbagai promo menarik termasuk Steam Wallet senilai Rp 1.000.000 dari Lenovo, diskon hingga 12% untuk pengguna Blibli Paylater, dan potongan langsung Rp 1.000.000 untuk transaksi menggunakan Kartu Kredit BCA. Dengan semua keunggulan dan penawaran spesial ini, Lenovo Legion Go 2 siap menjadi pilihan utama para gamer Indonesia yang menginginkan kebebasan bermain di mana saja tanpa kompromi pada kualitas.

Apple Jual Kontroler PS VR2 Sense Terpisah untuk Vision Pro

0

Telset.id – Bayangkan Anda baru saja mengeluarkan Rp 55 juta untuk headset realitas campuran tercanggih, lalu harus merogoh kocek tambahan Rp 4 juta hanya untuk kontroler game. Itulah yang terjadi ketika Apple mengumumkan penjualan terpisah kontroler PlayStation VR2 Sense untuk Vision Pro generasi kedua. Sebuah langkah berani yang membuat banyak penggemar teknologi mengernyitkan dahi.

Pengumuman ini datang bersamaan dengan peluncuran Vision Pro generasi kedua yang ditenagai chip M5 terbaru. Yang menarik, kontroler PS VR2 Sense—yang sebelumnya hanya bisa dibeli dalam bundle headset PS VR2 seharga $400—kini akan dijual terpisah di Apple Store dengan harga $250 mulai 11 November. Bagi mereka yang sudah memiliki Vision Pro seharga $3.499, mungkin tambahan $250 untuk kontroler premium ini terasa wajar. Tapi bagi masyarakat umum? Ini seperti membeli mobil mewah lalu harus membayar ekstra untuk setirnya.

Kontroler PS VR2 Sense yang akan dijual terpisah oleh Apple

Apple dengan percaya diri menyatakan bahwa kontroler Sony ini akan membuka pintu menuju pengalaman gameplay yang lebih imersif di Vision Pro. Dan memang, spesifikasinya cukup mengesankan: pelacakan gerak enam derajat kebebasan (6DoF) yang memungkinkan pergerakan ke segala arah, deteksi sentuhan jari, dan dukungan getaran haptic. Fitur-fitur ini sebelumnya hanya bisa dinikmati pemain PlayStation, namun kini akan tersedia di ekosistem Apple.

Lalu, apa yang membuat kolaborasi Apple-Sony ini begitu menarik? Pertama, ini menandai pertama kalinya kontroler gaming PlayStation resmi tersedia untuk platform non-PlayStation. Kedua, ini menunjukkan betapa seriusnya Apple dalam membangun ekosistem gaming untuk Vision Pro—sebuah area yang sebelumnya bukan fokus utama perusahaan asal Cupertino tersebut.

Vision Pro generasi kedua sendiri datang dengan peningkatan signifikan. Chip M5 yang lebih powerful tidak hanya meningkatkan performa grafis, tetapi juga efisiensi daya—faktor krusial untuk perangkat yang dikenakan di kepala. Apple juga menyertakan Dual Knit Band baru, yang menambahkan strap atas untuk kenyamanan dan stabilitas lebih baik selama penggunaan extended.

Seseorang menggunakan headset Vision Pro Apple melihat panorama virtual kota di awan

Strategi pricing Apple-Sony dalam kasus ini patut diacungi jempol dari sisi bisnis, namun menuai kritik dari konsumen. Dengan menjual kontroler terpisah, kedua raksasa teknologi ini membidik segmen pasar yang berbeda: gamers hardcore yang menginginkan pengalaman terbaik tanpa peduli harga, dan early adopter yang sudah berinvestasi besar di Vision Pro.

Namun, pertanyaannya: apakah pasar siap menerima harga premium seperti ini? Mengingat PS5 Pro yang baru diumumkan pun datang dengan harga yang lebih terjangkau, keputusan membeli kontroler seharga $250 untuk Vision Pro menjadi pertimbangan yang tidak sederhana.

Kolaborasi Apple dan Sony ini juga mengindikasikan perubahan lanskap gaming di masa depan. Daripada bersaing, kedua perusahaan memilih berkolaborasi—sebuah strategi yang mungkin akan kita lihat lebih sering di industri teknologi. Sony dengan expertise di gaming, Apple dengan ecosystem premiumnya, menciptakan sinergi yang menarik meski kontroversial dari segi harga.

Bagi developer game, dukungan native untuk kontroler PS VR2 Sense di visionOS 2.6 membuka peluang baru. Mereka kini bisa mengembangkan game dengan kontrol yang lebih presisi dan imersif untuk platform Apple, tanpa harus membuat kontroler custom. Ini bisa menjadi game-changer bagi ecosystem gaming AR/VR yang masih dalam tahap perkembangan.

Lalu bagaimana dengan masa depan kontroler gaming itu sendiri? Seperti yang terlihat dalam peluncuran game Astro Bot, Sony terus berinovasi dalam hal controller technology. Kolaborasi dengan Apple mungkin hanya awal dari revolusi kontroler gaming cross-platform.

Jadi, apakah $250 untuk kontroler PS VR2 Sense layak? Bagi mereka yang sudah berinvestasi di Vision Pro dan menginginkan pengalaman gaming terbaik, mungkin iya. Tapi bagi rata-rata konsumen, harga ini tetap terasa steep. Yang jelas, langkah Apple dan Sony ini menunjukkan bahwa masa depan gaming tidak lagi tentang konsol versus PC, tetapi tentang ecosystem yang saling terhubung—meski dengan harga premium.

Dengan berbagai inovasi yang terus diluncurkan Sony dan komitmen Apple terhadap AR/VR, kita mungkin sedang menyaksikan babak baru dalam evolusi gaming. Sebuah babak dimana batas antara platform semakin blur, dan pengalaman pengguna menjadi yang utama—dengan harga yang sesuai tentunya.

Meta Beri Kuasa Penuh ke Orangtua Blokir Chatbot AI untuk Remaja

0

Telset.id – Bayangkan jika chatbot AI di media sosial bisa berbicara hal-hal “sensual” dengan anak Anda yang masih berusia delapan tahun. Itulah kenyataan mengerikan yang memaksa Meta mengambil langkah drastis dengan mengembangkan kontrol pengawasan baru bagi orangtua. Bocoran terbaru mengindikasikan perusahaan Mark Zuckerberg ini sedang membangun sistem yang memungkinkan orangtua memotong akses remaja mereka ke chatbot AI di platform Meta sepenuhnya.

Langkah ini bukan datang tiba-tiba. Meta telah berada di bawah tekanan berat sejak dokumen internal perusahaan bocor beberapa bulan lalu, mengungkapkan bahwa chatbot mereka diizinkan melakukan percakapan “sensual” dengan anak-anak. Dalam satu contoh yang cukup mengganggu, chatbot Meta bahkan memberi tahu anak delapan tahun yang tidak memakai baju bahwa “setiap inci dari dirimu adalah mahakarya – harta yang kuhargai dalam-dalam.” Kasus ini memicu reaksi keras dari Jaksa Agung di 44 yurisdiksi AS yang mendesak perusahaan melindungi anak-anak “dari eksploitasi oleh produk kecerdasan buatan predator.”

Kini, Meta berusaha menebus kesalahan dengan menghadirkan kontrol yang lebih ketat. Orangtua akan memiliki opsi untuk benar-benar memblokir akses remaja mereka ke chatbot AI, meskipun mereka masih bisa mengakses chatbot Meta AI umum. Bagi yang tidak ingin melakukan pemblokiran total, tersedia pula pilihan untuk memblokir karakter AI tertentu yang dianggap bermasalah. Yang lebih menarik, orangtua juga akan mendapatkan wawasan tentang topik-topik yang dibicarakan anak mereka dengan bot AI Meta.

Ilustrasi kontrol orangtua untuk chatbot AI di platform media sosial

Fitur-fitur keamanan semacam ini sebenarnya bukan hal baru di dunia platform sosial. Beberapa perusahaan teknologi lain telah lebih dulu menerapkan sistem serupa, seperti Fitur Family Center Snapchat yang memungkinkan orangtua ‘intip’ akun anak. Demikian pula, TikTok telah meluncurkan berbagai mekanisme perlindungan, termasuk fitur keamanan TikTok yang baru lindungi pengguna di bawah umur dan bantuan kontrol waktu nonton video untuk cegah kecanduan.

Rencana peluncuran kontrol baru Meta ini cukup spesifik. Perusahaan mengatakan akan mulai merilis fitur tersebut di Instagram awal tahun depan, tersedia dalam bahasa Inggris untuk pengguna di AS, Inggris, Kanada, dan Australia. Namun perlu diingat bahwa antarmuka alat ini masih bisa berubah, menunjukkan bahwa pengembangan masih dalam tahap finalisasi.

Respons Meta terhadap skandal chatbot ini sebenarnya sudah dimulai sebelum pengumuman kontrol orangtua. Tak lama setelah dokumen internal bocor, perusahaan langsung melakukan pelatihan ulang AI mereka dan menambahkan perlindungan baru untuk mencegah pengguna muda mengakses karakter AI buatan pengguna yang mungkin terlibat dalam percakapan tidak pantas. Mereka juga memperkenalkan perlindungan sesuai usia sehingga AI mereka akan memberikan respons kepada remaja yang dipandu oleh rating film PG-13.

Langkah-langkah tambahan termasuk membatasi interaksi remaja hanya dengan kelompok karakter AI terbatas yang fokus pada topik-topik sesuai usia. Pendekatan bertingkat ini menunjukkan keseriusan Meta dalam menangani masalah keamanan anak, meski beberapa pengamat mungkin bertanya-tanya: mengapa butuh skandal besar dulu untuk mengambil tindakan protektif seperti ini?

Pertanyaan lain yang muncul adalah seberapa efektif kontrol ini dalam praktiknya. Dengan pembatasan konten sensitif Instagram untuk pengguna di bawah 16 tahun yang sudah ada, ditambah kontrol orangtua baru ini, apakah cukup untuk melindungi remaja dari potensi bahaya AI? Atau ini hanya sekadar tempelan untuk menenangkan regulator dan publik?

Yang jelas, tekanan terhadap Meta tidak hanya datang dari Jaksa Agung. Komite Senat Subkomite Kejahatan dan Kontraterorisme yang diketuai Senator Josh Hawley (R-MO) juga akan menyelidiki perusahaan tersebut. Investigasi ini bisa berdampak signifikan pada bagaimana platform media sosial menangani konten AI dan perlindungan anak di masa depan.

Bagi orangtua, perkembangan ini tentu menggembirakan. Memberikan kendali lebih besar kepada orangtua atas apa yang diakses anak mereka di dunia digital adalah langkah tepat, terutama di era di mana AI menjadi semakin canggih dan sulit dibedakan dari interaksi manusia nyata. Namun, yang tidak kalah penting adalah edukasi kepada orangtua tentang cara menggunakan alat-alat ini secara efektif.

Meta menghadapi tantangan besar dalam menyeimbangkan inovasi AI dengan tanggung jawab sosial. Di satu sisi, mereka ingin memanfaatkan potensi besar teknologi AI untuk meningkatkan pengalaman pengguna. Di sisi lain, mereka harus memastikan teknologi ini tidak disalahgunakan atau membahayakan pengguna rentan, terutama anak-anak dan remaja.

Kontrol orangtua yang diumumkan Meta ini bisa menjadi preseden penting bagi industri teknologi secara keseluruhan. Jika berhasil, sistem serupa mungkin akan diadopsi oleh platform-platform lain. Jika gagal, regulator mungkin akan mengambil langkah lebih keras dengan peraturan yang lebih ketat.

Bagaimana pendapat Anda tentang langkah Meta ini? Apakah Anda sebagai orangtua merasa lebih tenang dengan adanya kontrol seperti ini, atau justru khawatir bahwa perusahaan teknologi baru bertindak setelah terjadi skandal? Bagaimanapun, satu hal yang pasti: perlindungan anak di dunia digital harus menjadi prioritas semua pihak, bukan hanya ketika sudah terjadi masalah.

Realme GT 8 Bocor: Desain, Warna, dan Spesifikasi Gahar Terungkap

0

Telset.id – Pasar smartphone premium kembali akan diguncang. Besok, 21 Oktober, Realme secara resmi akan meluncurkan seri Realme GT 8 di China. Jika Anda mengira varian Pro saja yang menjadi pusat perhatian, tunggu dulu. Bocoran terbaru justru mengungkap bahwa sang adik, Realme GT 8 standar, datang dengan senjata yang hampir setara.

Setelah berfokus mengonfirmasi detail kunci Realme GT 8 Pro, Realme kini membuka tirai untuk pertama kalinya mengenai desain varian standarnya. Tiga gambar resmi yang dirilis hari ini bukan sekadar teaser biasa—mereka adalah pernyataan. Realme GT 8 hadir dengan tiga pilihan warna yang masing-masing punya karakter kuat: Navi, White, dan Green. Ini bukan hanya soal estetika, melainkan pernyataan material dan filosofi desain yang matang.

Realme GT 8 - White

Varian Navi menawarkan nuansa biru laut yang refined dengan lapisan kaca frosted yang memberikan sentuhan premium dan halus seperti sutra. Sementara itu, edisi White menggunakan AG frosted glass yang tidak hanya tahan sidik jari tetapi juga memberikan feel yang smooth dan bertekstur. Yang paling menarik mungkin adalah pilihan Green, yang menggunakan recycled leather ramah lingkungan dengan tekstur seperti kertas—lembut, tahan lama, dan benar-benar berbeda.

Di balik kemewahan material tersebut, Realme juga mengonfirmasi bahwa Realme GT 8 akan dibekali dengan sistem imaging Ricoh GR-grade yang sama dengan versi Pro. Ini adalah langkah berani yang menunjukkan komitmen Realme di bidang fotografi. Seperti yang telah dikonfirmasi sebelumnya, perangkat ini akan dilengkapi dengan kamera telephoto periskop 50 megapixel. Bahkan, kabarnya juga akan mendukung modul kamera yang bisa ditukar, sebuah inovasi yang sebelumnya lebih banyak kita dengar pada varian Pro.

Realme GT 8 - White

Spesifikasi yang Hampir Setara Pro

Yang membuat Realme GT 8 semakin menarik adalah spesifikasinya yang hampir menyamai saudara tuanya. Di bagian depan, perangkat ini memiliki panel OLED 2K 144Hz yang sama persis dengan edisi Pro. Bagi Anda penggemar gaming atau konten visual, kombinasi resolusi tinggi dan refresh rate ekstrem ini menjanjikan pengalaman yang immersive.

Di bawah kap mesin, Realme GT 8 ditenagai oleh chipset Snapdragon 8 Elite—prosesor flagship yang mampu menangani tugas paling berat sekalipun. Yang lebih menarik, perangkat ini akan datang dengan Realme UI 7 berbasis Android 16 preloaded, memberikan pengalaman software terbaru right out of the box.

Dari segi daya, laporan mengungkap bahwa Realme GT 8 akan memiliki baterai raksasa berkapasitas 7,000mAh dengan dukungan charging 100W. Kombinasi ini cukup impresif—daya tahan baterai yang panjang dengan pengisian ultra-cepat. Untuk fotografi, setup kamera belakangnya termasuk lensa utama 50 megapixel dan lensa ultra-wide 8 megapixel. Konfigurasi memory-nya juga tak kalah mentereng, dengan opsi hingga 16GB RAM dan 1TB storage.

Kemitraan strategis antara Realme dan Ricoh untuk seri GT 8 ini jelas membawa angin segar dalam dunia smartphone photography. Pendekatan Ricoh GR-grade yang terkenal dengan karakter natural dan street photography-nya kini dihadirkan dalam bentuk yang lebih accessible.

Analisis: Strategi Realme di Pasar Premium

Kehadiran Realme GT 8 dengan spesifikasi yang hampir menyamai varian Pro menunjukkan strategi yang cerdas dari Realme. Alih-alih membuat gap yang terlalu lebar antara varian standar dan Pro, mereka justru memberikan hampir semua fitur flagship dalam paket yang lebih accessible. Pendekatan ini mirip dengan yang kita lihat pada bocoran Realme GT 8 Pro sebelumnya, di mana keduanya berbagi DNA performa dan fotografi yang sama kuat.

Pilihan material yang beragam pada Realme GT 8 juga patut diapresiasi. Dengan menawarkan tiga opsi finishing yang berbeda—frosted glass pada Navi dan White, serta recycled leather pada Green—Realme memahami bahwa preferensi konsumen terhadap material sangat personal. Recycled leather pada varian Green khususnya menunjukkan awareness terhadap sustainability tanpa mengorbankan premium feel.

Dukungan untuk modul kamera yang dapat ditukar, meski masih spekulatif, bisa menjadi game changer. Bayangkan jika pengguna bisa meng-upgrade kemampuan kamera mereka tanpa harus mengganti seluruh perangkat. Ini adalah konsep modularity yang selama ini lebih banyak diwacanakan daripada diwujudkan secara praktis.

Dengan kombinasi chipset Snapdragon 8 Elite, layar 2K 144Hz, baterai 7,000mAh, dan sistem kamera Ricoh GR-grade, Realme GT 8 bukan sekadar varian “lite” dari seri flagship. Ini adalah perangkat flagship dalam haknya sendiri, yang siap bersaing dengan pemain premium lainnya di pasar.

Besok, ketika Realme resmi mengumumkan seri GT 8, kita akan melihat apakah realitas sesuai dengan ekspektasi yang telah dibangun melalui berbagai bocoran ini. Satu hal yang pasti: Realme sedang bermain serius di liga premium, dan konsumen yang akan menikmati hasilnya.

Vivo X300 Pro vs Samsung Galaxy S25 Ultra: Duel Flagship 2025

0

Telset.id – Pilihan smartphone flagship tahun 2025 semakin menarik dengan kehadiran Vivo X300 Pro dan Samsung Galaxy S25 Ultra. Dua raksasa ini tidak lagi sekadar berlomba soal performa mentah, tetapi menawarkan pengalaman yang sangat berbeda. Mana yang lebih cocok untuk kebutuhan Anda?

Perdebatan antara value for money versus pengalaman premium menjadi inti perbandingan kali ini. Vivo datang dengan spesifikasi menggiurkan dan harga lebih terjangkau, sementara Samsung mempertahankan posisinya sebagai pilihan ultra-premium dengan segala keunggulan ekosistem dan dukungan jangka panjang. Keputusan akhir tidak lagi hitam putih, melainkan tentang prioritas personal Anda sebagai pengguna.

Sebelum masuk ke analisis mendalam, mari kita lihat bagaimana kedua flagship ini bersaing di berbagai aspek kritikal. Dari desain yang bertolak belakang hingga filosofi kamera yang berbeda, setiap detail memberikan cerita unik tentang apa yang dianggap penting oleh masing-masing produsen.

Desain dan Ketahanan: Elegansi Titanium vs Daya Tahan Ekstrem

Vivo X300 Pro menghadirkan pesona dengan rangka aluminium alloy dan bodi kaca yang memberikan kesan premium saat digenggam. Yang membuatnya istimewa adalah sertifikasi IP68/IP69 yang membuatnya tahan terhadap tekanan air tinggi—fitur yang sangat berguna untuk pengguna aktif atau mereka yang sering bekerja di lingkungan challenging. Desain sedikit melengkung dan finishing kaca memberikan kenyamanan ekstra, meski mungkin kurang cocok untuk yang mengutamakan grip maksimal.

Di sisi lain, Samsung Galaxy S25 Ultra datang dengan statement yang jelas: titanium. Material ini tidak sekadar prestise, tetapi memberikan rigiditas superior dan ketahanan terhadap goresan. Dilengkapi dengan Corning Gorilla Armor 2 dan stylus terintegrasi, S25 Ultra jelas ditujukan untuk profesional yang menginginkan alat produktivitas lengkap. Kehadiran S-Pen memberikan dimensi penggunaan yang tidak dimiliki kebanyakan flagship lain di pasaran.

Pertanyaannya: apakah Anda lebih membutuhkan ketahanan terhadap elemen atau ketahanan terhadap penggunaan intensif sehari-hari? Vivo dengan proteksi airnya mungkin lebih cocok untuk adventurer, sementara Samsung dengan titanium dan stylus-nya menjadi pilihan ideal untuk creative professional.

Layar: Kecerahan Maksimal vs Kecanggihan Teknologi

Vivo X300 Pro tidak main-main dengan panel LTPO AMOLED 6.78 inci yang mampu mencapai kecerahan puncak 4500 nits—angka yang hampir tidak masuk akal untuk smartphone. Dengan dukungan Dolby Vision, HDR Vivid, dan refresh rate 120Hz, pengalaman menonton konten HDR menjadi sangat immersive. PWM dimming tinggi juga mengurangi kelelahan mata untuk penggunaan jangka panjang.

Samsung merespons dengan Dynamic LTPO AMOLED 2X yang sedikit lebih besar, resolusi QHD+, dan lapisan DX anti-reflective pada Gorilla Armor. Meski kecerahan puncaknya lebih rendah secara spesifikasi, teknologi panel dan coating canggih membuatnya unggul dalam hal pembacaan di bawah sinar matahari langsung. Inilah keahlian Samsung yang sulit ditandingi: kemampuan menghadirkan keseimbangan sempurna antara kontras, akurasi warna, dan pengurangan refleksi.

Untuk content creator atau mereka yang menghabiskan banyak waktu di luar ruangan, kecerahan Vivo mungkin menjadi faktor penentu. Namun bagi yang mengutamakan akurasi warna dan pengalaman produktivitas dengan stylus, Samsung tetap tidak tertandingi.

Performa dan Baterai: Daya Tahan vs Optimisasi

Di jantung Vivo X300 Pro berdetak MediaTek Dimensity 9500 dengan GPU Arm G1-Ultra—kombinasi yang sangat capable untuk gaming berat dan multitasking intensif. Chipset ini dioptimalkan untuk performa AI dan efisiensi berkelanjutan, menjadikannya pilihan tepat untuk pengguna yang mengutamakan kecepatan tanpa overheating.

Samsung memercayakan Snapdragon 8 Elite dengan core Oryon dan Adreno 830 untuk menggerakkan S25 Ultra. Kombinasi ini memberikan performa next-level untuk aplikasi grafis intensif, editing video 4K, dan multitasking ekstrem. Keunggulan besar Samsung terletak pada komitmen tujuh major Android update—sesuatu yang sangat berharga untuk investasi jangka panjang.

Di sektor baterai, Vivo jelas unggul dengan kapasitas 6510 mAh yang didukung charging 90W wired dan 40W wireless. Untuk heavy users yang sering gaming atau streaming seharian, ini adalah dream come true. Samsung bertahan dengan 5000 mAh dan charging 45W wired plus 15W wireless, namun diimbangi dengan optimisasi power management yang sangat efisien.

Jika Anda termasuk tipe pengguna yang selalu khawatir dengan daya baterai, Vivo memberikan ketenangan pikiran yang lebih besar. Tapi untuk yang menginginkan perangkat yang tetap relevan hingga lima tahun ke depan, dukungan software Samsung sulit diabaikan.

Sistem Kamera: Kreativitas Artistik vs Konsistensi Profesional

Vivo X300 Pro membawa setup kamera impresif dengan lensa utama 50 MP, periscope telephoto 200 MP yang juga memiliki kemampuan macro, dan ultrawide 50 MP. Kolaborasi dengan Zeiss memberikan karakteristik cinematic yang khas, sementara fitur video seperti Dolby Vision HDR dan rekaman 8K menjadikannya alat kreatif yang sangat powerful.

Samsung merespons dengan sensor utama 200 MP, multiple lensa telephoto (termasuk periscope 50 MP dengan zoom optical 5x), dan ultrawide 50 MP. Di mana Samsung benar-benar unggul adalah dalam konsistensi pemrosesan—setiap foto yang dihasilkan memiliki keseimbangan warna yang natural dan performa low-light yang dapat diandalkan. Color science dan stabilisasi mereka masih menjadi benchmark industri.

Untuk kamera selfie, Vivo menawarkan 50 MP dengan rekaman 4K 60fps dan autofocus yang tajam, cocok untuk vlogger. Samsung memilih pendekatan berbeda dengan sensor 12 MP yang mungkin lebih rendah resolusi namun menghasilkan skin tones yang natural dan HDR handling yang superior.

Pilihan di sini tergantung filosofi fotografi Anda: apakah mengutamakan eksperimen kreatif dan output artistic (Vivo) atau konsistensi dan keandalan dalam berbagai kondisi (Samsung)?

Pertimbangan Harga: Value vs Prestige

Inilah bagian yang paling menarik bagi banyak calon pembeli. Vivo X300 Pro diposisikan sekitar $800 atau setara Rp 12,5 juta (asumsi kurs $1 = Rp 15.600). Dengan spesifikasi yang ditawarkan—baterai besar, kamera canggih, layar ultra-terang—ini merupakan value proposition yang sangat kuat.

Samsung Galaxy S25 Ultra hadir dengan banderol sekitar $1300 atau setara Rp 20,3 juta. Premium price ini dibenarkan oleh material titanium, integrasi stylus, dukungan software jangka panjang, dan ekosistem yang lebih matang dengan fitur seperti Ultra Wideband dan DeX support.

Pertanyaannya: apakah Anda bersedia membayar hampir dua kali lipat untuk pengalaman yang lebih terpolish dan future-proof? Atau lebih memilih mendapatkan spesifikasi top-tier dengan harga yang lebih masuk akal?

Kedua pilihan sama-sama valid, tergantung pada prioritas dan anggaran Anda. Vivo memberikan hampir semua yang diinginkan power user dengan harga terjangkau, sementara Samsung menawarkan ekosistem lengkap yang dirancang untuk bertahan dalam jangka panjang.

Sebagai penutup, keputusan antara Vivo X300 Pro dan Samsung Galaxy S25 Ultra mencerminkan pergeseran paradigma dalam industri smartphone. Bukan lagi tentang mana yang lebih “hebat,” tetapi mana yang lebih cocok dengan gaya hidup dan kebutuhan spesifik Anda. Vivo untuk yang mengutamakan value dan endurance, Samsung untuk yang mencari refinement dan longevity. Pilihan ada di tangan Anda.

Goldman Sachs: Gelembung AI Tak Nyata, Investasi Masih Awal

0

Telset.id – Apakah Anda khawatir bahwa lonjakan investasi di bidang kecerdasan buatan (AI) saat ini hanyalah gelembung spekulatif yang akan segera meletus? Tenang, menurut analis Goldman Sachs, ketakutan itu berlebihan. Laporan terbaru dari raksasa investasi tersebut justru menyatakan bahwa boom AI masih berada di tahap awal, dengan potensi ekonomi yang jauh lebih besar daripada yang telah terealisasi sejauh ini.

Dalam laporan yang dirilis pada Rabu (15/10/2025), para analis Goldman Sachs dengan tegas membantah narasi tentang gelembung AI. Mereka berargumen bahwa pengeluaran untuk teknologi ini masih terhitung sangat modest, bahkan boleh dibilang “kecil”, jika dibandingkan dengan potensi ekonomi jangka panjang yang diusungnya. Lantas, seberapa kecil? Menurut perhitungan mereka, investasi terkait AI di Amerika Serikat saat ini menyumbang kurang dari 1% dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut. Angka ini menjadi sangat menarik ketika kita bandingkan dengan era boom teknologi sebelumnya.

Bayangkan, pada masa kejayaan rel kereta api, elektrifikasi, dan bahkan internet, investasi di sektor-sektor tersebut pernah mencapai puncaknya di kisaran 2% hingga 5% dari PDB. Artinya, ruang untuk pertumbuhan investasi AI masih sangat, sangat luas. Goldman Sachs memproyeksikan bahwa investasi AI global akan melonjak hingga mencapai $300 miliar, atau setara dengan sekitar Rp 4.740 triliun (asumsi kurs Rp 15.800 per dolar AS), pada tahun 2025. Sebuah angka yang fantastis, bukan?

Dua Pilar Optimisme Goldman Sachs

Lalu, apa yang menjadi dasar keyakinan kuat Goldman Sachs terhadap masa depan AI? Analisis mereka bertumpu pada dua pilar utama yang saling berkaitan. Pertama, dan yang paling konkret, adalah bahwa implementasi AI di berbagai sektor yang sudah ada saat ini telah menghasilkan peningkatan produktivitas yang terukur dan signifikan. AI bukan lagi sekadar konsep futuristik; ia sudah bekerja, mengoptimalkan proses, dan menciptakan nilai ekonomi riil hari ini.

Pilar kedua, yang sekaligus menjadi pembenaran untuk gelombang investasi besar-besaran di infrastruktur, adalah bahwa semua keuntungan produktivitas ini bergantung pada infrastruktur komputasi skala besar. Inilah yang mendorong dan membenarkan investasi masif yang kita lihat saat ini di bidang chip, server, dan pusat data. Tanpa fondasi komputasi yang kokoh, mustahil bagi AI untuk menyampaikan janji-janjinya. Hal ini juga selaras dengan tren investasi teknologi yang kita amati, seperti yang terjadi pada investasi Rp37 Triliun dari Dubai untuk pusat data yang disambut baik oleh pemerintah Indonesia.

Potensi Ekonomi yang Menggiurkan dan Sisi Gelap yang Perlu Diwaspadai

Proyeksi Goldman Sachs tentang dampak ekonomi AI sungguh mencengangkan. Mereka memperkirakan bahwa AI generatif, jenis AI yang mampu menciptakan konten baru, pada akhirnya dapat menambahkan nilai hingga $20 triliun (sekitar Rp 3.160 kuadriliun) ke dalam perekonomian AS. Dari jumlah yang hampir tak terbayangkan ini, sekitar $8 triliun (sekitar Rp 126,4 kuadriliun) diproyeksikan akan mengalir ke bisnis sebagai pendapatan modal. Bayangkan dampak riilnya terhadap valuasi perusahaan dan pasar modal global.

Lebih lanjut, bank investasi ini memproyeksikan bahwa produktivitas tenaga kerja bisa meningkat hingga 15% dalam dekade mendatang, asalkan alat-alat AI telah diadopsi secara luas. Ini adalah lompatan efisiensi yang dapat merevolusi cara kita bekerja dan berproduksi. Namun, di balik optimisme yang berlimpah, laporan Goldman Sachs juga tidak menutup mata terhadap sebuah risiko historis yang patut diwaspadai.

Risiko tersebut adalah ketidakpastian: apakah perusahaan-perusahaan yang saat ini paling getol berinvestasi dalam AI akan menjadi pihak yang paling diuntungkan dalam jangka panjang? Sejarah siklus infrastruktur teknologi mengajarkan kita pelajaran yang berharga. Seringkali, para pelopor awal justru yang membangun sistem dengan biaya sangat mahal, yang kemudian diakuisisi dengan harga miring oleh pendatang baru yang lebih sukses di kemudian hari. Pola ini terlihat jelas dalam pengembangan jaringan rel kereta api dan fiber optik.

Dalam konteks AI, dua faktor utama yang dapat memicu ulangan sejarah ini adalah depresiasi perangkat keras AI yang sangat cepat dan laju perkembangan model perangkat lunak AI yang begitu dinamis. Perangkat keras yang mahal hari ini bisa menjadi usang dalam hitungan tahun, bahkan bulan. Situasi ini mengingatkan kita pada dinamika persaingan sengit di tingkat pengembang model AI, seperti yang terjadi pada keputusan OpenAI untuk memutus kerja sama dengan Scale AI pasca investasi dari Meta, yang menunjukkan betapa fluktuatifnya aliansi strategis di industri ini.

Lanskap Kompetisi yang Semakin Panas

Sementara Goldman Sachs memberikan analisis makro, di lapangan, persaingan untuk mendominasi masa depan AI semakin memanas. Berita terkini mengonfirmasi hal ini. Google, misalnya, baru saja memperkenalkan model Gemini 2.5 Computer Use, yang diklaim memiliki kemampuan menjelajah web layaknya manusia dan interaksi real-time. Ini adalah lompatan signifikan dalam membuat AI lebih kontekstual dan terintegrasi dengan ekosistem digital kita.

Di sisi lain, tidak mau ketinggalan, Alibaba dari China juga telah meluncurkan model AI raksasa dengan parameter mencapai 1 triliun. Model ini jelas dirancang untuk menyaingi skala dan performa ChatGPT dari OpenAI dan Gemini dari Google. Perlombaan senjata AI ini menunjukkan bahwa keyakinan terhadap potensi jangka panjang teknologi ini tidak hanya dimiliki oleh analis keuangan, tetapi juga oleh para pemain teknologi terbesar di dunia. Gelombang investasi ini bahkan menarik perhatian pemimpin dunia, seperti pertanyaan yang diajukan oleh Xi Jinping mengenai gelombang investasi AI dan EV di China, yang mencerminkan kompleksitasnya dari sudut pandang geopolitik dan regulasi.

Jadi, apa kesimpulannya? Meskipun ada bayang-bayang risiko historis tentang siklus infrastruktur, Goldman Sachs tetap percaya bahwa lingkungan saat ini masih mendukung untuk investasi AI lebih lanjut. Mereka memperkirakan pengeluaran akan stabil seiring waktu, terutama ketika industri mulai bergerak melampaui fase pembangunan infrastruktur besar-besaran dan harga perangkat keras mengalami penurunan. Intinya, kita mungkin belum sampai di puncak gunung, tetapi pendakian yang menjanjikan ini baru saja dimulai. Dan seperti halnya dalam setiap revolusi teknologi, akan selalu ada perusahaan yang meraih emas, dan ada pula yang hanya membawa pulang batu. Tantangannya adalah memastikan bahwa strategi investasi dan inovasi kita berada di sisi yang tepat dari sejarah.

Nintendo Switch 2 Targetkan Produksi 25 Juta Unit, Lampaui Rekor Pendahulu

0

Telset.id – Bayangkan sebuah konsol game yang baru empat setengah bulan diluncurkan, namun sudah membuat Nintendo begitu yakin hingga memesan produksi 25 juta unit untuk memenuhi permintaan hingga Maret 2026. Ini bukan sekadar angan-angan, melainkan realitas yang sedang dihadapi Nintendo Switch 2.

Bocoran terbaru dari Bloomberg mengungkapkan bahwa Nintendo telah meminta para pemasoknya untuk memproduksi 25 juta unit Nintendo Switch 2 menjelang akhir Maret 2026. Permintaan produksi masif ini datang langsung dari orang-orang dalam yang familiar dengan rencana perusahaan. Mengapa Nintendo begitu agresif? Mereka percaya bahwa konsol terbarunya ini akan mempertahankan laju penjualan yang sangat kuat selama musim liburan mendatang.

Jika Anda bertanya-tanya seberapa besar keyakinan Nintendo terhadap Switch 2, angka-angka ini mungkin bisa memberikan gambaran. Perusahaan asal Jepang itu sendiri sebelumnya telah memprediksi akan menjual 15 juta unit Switch 2 dalam tahun fiskal pertamanya yang berakhir pada 30 Maret 2026. Namun berdasarkan laporan terbaru, Nintendo dengan mudah bisa melampaui prediksi tersebut dan bahkan mengalahkan penjualan tahun pertama Switch original – konsol dengan penjualan tercepat sepanjang masa.

Ilustrasi Nintendo Switch 2 dengan box dan aksesori

Yang lebih mengejutkan lagi, Nintendo diperkirakan bisa menjual sekitar 20 juta unit Switch 2 pada tahun fiskal ini saja. Target produksi 25 juta unit bukan hanya untuk memenuhi permintaan penjualan, tetapi juga memastikan tersedianya stok yang cukup untuk memulai tahun fiskal berikutnya dengan lancar. Sebagai perbandingan, Switch original terjual 17,79 juta unit dalam 13 bulan pertamanya. Switch 2 berpotensi melampaui angka tersebut dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Mari kita ingat kembali timeline-nya: pre-order Nintendo Switch 2 dimulai pada April 2025, sementara peluncuran global terjadi pada 5 Juni 2025. Artinya, konsol ini baru empat setengah bulan beredar di pasar. Dalam waktu yang relatif singkat ini, Switch 2 sudah menunjukkan performa yang mengesankan.

Di tengah kekhawatiran mengenai tarif yang mungkin mempengaruhi penjualan, data dari Circana justru menunjukkan fakta sebaliknya. Penjualan Switch 2 di Amerika Serikat jauh melampaui performa Switch original dalam periode waktu yang sama. Ini menjadi indikator kuat bahwa konsol baru Nintendo memang diterima dengan sangat baik oleh pasar.

Laporan keuangan terakhir Nintendo juga mengungkap angka yang tak kalah menarik. Perusahaan mengumumkan telah menjual 8,67 juta game Switch 2, bersamaan dengan 24,4 juta game yang didesain untuk Switch original. Keberhasilan penjualan game untuk konsol lama ini sebagian besar berkat fitur backward compatibility yang dimiliki Switch 2 – sebuah keputusan cerdas yang mempertahankan ekosistem game Nintendo.

Gelombang penjualan game diprediksi akan semakin kuat dengan hadirnya Pokémon Legends: Z-A yang akan rilis akhir bulan ini. Game baru ini diharapkan bisa memberikan dorongan tambahan bagi penjualan baik konsol maupun game-game lainnya. Bahkan ada spekulasi bahwa franchise populer lainnya seperti Red Dead Redemption 2 mungkin akan menyusul hadir di platform ini.

Pertanyaannya sekarang: apa yang membuat Switch 2 begitu spesial? Selain faktor nostalgia dan loyalitas penggemar Nintendo, konsol ini datang dengan peningkatan signifikan dalam hal performa dan fitur. Seperti yang pernah kami bahas sebelumnya, penggunaan chip Samsung memberikan kemampuan processing yang jauh lebih powerful dibanding pendahulunya.

Strategi Nintendo dengan Switch 2 menunjukkan pelajaran berharga dari kesuksesan Switch original. Mereka tidak hanya mengandalkan hardware yang lebih baik, tetapi juga memastikan kontinuitas ekosistem melalui backward compatibility. Pengguna Switch original bisa dengan mudah beralih ke Switch 2 tanpa kehilangan koleksi game mereka. Ini adalah strategi bisnis yang brilian dalam mempertahankan basis pengguna sekaligus menarik pembeli baru.

Dengan harga $449 di Amazon, Switch 2 memang berada di segmen premium. Namun harga tersebut ternyata tidak menghentikan antusiasme konsumen. Daya tarik franchise ikonik seperti Mario, Zelda, dan Pokémon tetap menjadi magnet kuat bagi para gamer. Apalagi dengan janji game-game eksklusif baru seperti Mario Kart World yang akan datang.

Yang menarik, kesuksesan Switch 2 ini terjadi di tengah persaingan ketat dengan berbagai perangkat gaming handheld lainnya. Seperti yang pernah kami bandingkan dalam artikel perbandingan Nintendo Switch 2 dengan Android gaming handheld, ternyata kombinasi exclusive title, ekosistem yang matang, dan pengalaman gaming yang konsisten masih menjadi keunggulan Nintendo.

Lalu bagaimana dengan masa depan? Dengan target produksi 25 juta unit dan potensi penjualan 20 juta unit pada tahun fiskal pertama, Nintendo Switch 2 tidak hanya berpotensi memecahkan rekor pendahulunya, tetapi juga mengukuhkan dominasi Nintendo di pasar konsol hybrid. Apalagi dengan rencana rilis game-game besar seperti Pokemon Pokopia yang dijadwalkan rilis di Nintendo Switch 2 tahun 2026, momentum positif ini kemungkinan akan terus berlanjut.

Yang pasti, langkah agresif Nintendo dengan memesan produksi masif Switch 2 menunjukkan keyakinan yang sangat besar terhadap produk terbarunya. Dalam industri yang penuh ketidakpastian, keputusan ini baik berisiko tinggi maupun berpotensi reward yang sama besarnya. Tapi melihat track record Nintendo dan respons pasar sejauh ini, sepertinya mereka sedang berada di jalur yang tepat.

Atari Rilis Konsol Retro Intellivision Spirit, Nostalgia 1980 dengan Teknologi Modern

0

Telset.id – Bayangkan aroma karpet berdebu era 80-an, suara gemerisik kaset game, dan sensasi tombol yang keras. Itulah nostalgia yang coba dihidupkan kembali oleh Atari melalui peluncuran terbaru mereka: Intellivision Spirit. Konsol retro ini bukan sekadar tiruan, melainkan evolusi cerdas dari legenda gaming tahun 1980 yang kini dilengkapi teknologi mutakhir. Bagaimana rasanya bermain game klasik dengan kontroler nirkabel dan koneksi HDMI? Simak analisis mendalam dari Telset.id.

Perjalanan Intellivision Spirit ini ibarat cerita panjang rivalitas yang akhirnya berdamai. Dulu, Intellivision adalah pesaing terberat Atari—semacam versi purba dari persaingan Nintendo dan Sega yang kita kenal sekarang. Namun tahun lalu, Atari resmi mengakuisisi Intellivision, mengakhiri perseteruan puluhan tahun dalam industri gaming. Kini, mereka justru menghidupkan kembali warisan rival tersebut dengan sentuhan modern yang mengejutkan.

Konsol Intellivision Spirit dengan desain retro dan kontroler nirkabel

Desain eksterior konsol ini tetap setia pada DNA aslinya. Siluet kotak cokelat dengan tombol-tombol ikoniknya langsung membawa kita kembali ke era dimana gaming masih menjadi fenomena ruang keluarga. Namun jangan terkecoh oleh tampilan vintage-nya, karena di balik kulit lama ini tersembunyi jantung teknologi terkini. Kontroler yang dulu harus terikat kabel kini telah dibebaskan dengan teknologi nirkabel—sesuatu yang mustahil di era 1980-an. Koneksi ke televisi pun telah beralih ke HDMI, memastikan kualitas visual yang lebih tajam meski mempertahankan charm pixelated khas game retro.

Yang membuat konsol ini istimewa adalah koleksi 45 game built-in yang menyertai pembelian. Ini mengingatkan kita pada tren konsol mini klasik seperti NES Classic dan Atari 2600+. Perpustakaan game-nya didominasi oleh genre sports dan strategy—dua bidang yang menjadi kekuatan utama Intellivision di masa jayanya. Selain itu, terdapat juga game puzzle legendaris Boulder Dash dan Space Armada yang merupakan varian dari Space Invaders.

Fitur unik yang mungkin akan membuat kolektor tergoda adalah sistem overlay pada gamepad. Setiap judul game dilengkapi dengan overlay unik yang ditempatkan di atas kontroler, menunjukkan konfigurasi kontrol spesifik untuk game tersebut. Ini adalah detail autentik yang jarang ditemui di konsol modern, sekaligus bukti bahwa Atari serius menghadirkan pengalaman nostalgia yang otentik.

Dengan harga $150 atau setara Rp 2,3 jutaan, Intellivision Spirit berada di segmen menengah pasar konsol retro. Pre-order sudah dibuka dan pengiriman dijadwalkan mulai 5 Desember mendatang. Kabar baiknya, produk ini bukan vaporware seperti proyek Amico console Intellivision yang sempat menggantung selama bertahun-tahun. Kepastian tanggal peluncuran ini memberikan keyakinan bahwa konsol ini benar-benar akan sampai di tangan konsumen.

Lalu, bagaimana posisi Intellivision Spirit di tengah maraknya konsol retro seperti Ayaneo Pocket Air Mini dan Ayn Thor? Keunikan utamanya terletak pada warisan brand yang kuat dan pendekatan autentik terhadap pengalaman gaming era 80-an. Sementara konsol handheld modern fokus pada portabilitas dan emulasi multi-platform, Intellivision Spirit memilih spesialisasi pada ekosistem game asli Intellivision dengan sentuhan modern yang tepat.

Bagi generasi yang tumbuh di era 80-an, kehadiran konsol ini seperti menemukan kapsul waktu yang terawat baik. Bagi generasi muda, ini adalah kesempatan untuk memahami akar sejarah gaming modern. Dan bagi Atari sendiri, ini adalah langkah strategis dalam merangkul warisan gaming yang lebih luas, membuktikan bahwa dalam industri yang terus berinovasi, nostalgia tetap memiliki nilai jual yang kuat.

Dengan integrasi platform sosial seperti yang terlihat dalam update Google Play Games terbaru, mungkin ke depannya kita akan melihat konsol retro seperti ini juga mengadopsi fitur sosial untuk berbagi pencapaian high score. Siapa sangka bahwa persaingan sengit masa lalu justru melahirkan kolaborasi yang manis di masa kini?

Pajak 8% untuk Game Kekerasan di Meksiko, Langkah Kontroversial?

0

Telset.id – Bayangkan Anda sedang asyik bermain game favorit dengan rating dewasa, tiba-tiba harus membayar pajak tambahan 8% karena konten kekerasannya. Inilah realitas yang mungkin segera dihadapi gamer di Meksiko. Pemerintah negara tersebut baru saja menyetujui pengenaan pajak khusus untuk video game dengan konten matang, sebuah langkah yang memicu perdebatan sengit antara perlindungan anak dan kebebasan berekspresi.

Bagaimana tidak kontroversial? Di satu sisi, pemerintah Meksiko mengklaim kebijakan ini didasari penelitian tentang dampak negatif game kekerasan pada remaja. Di sisi lain, industri game dan para gamer dewasa mempertanyakan efektivitas langkah ini. Apakah benar dengan mengenakan pajak, masalah agresi dan isolasi sosial pada remaja akan teratasi? Atau justru ini bentuk sensor terselubung yang bisa berdampak lebih luas?

Kebijakan yang telah disetujui Chamber of Deputies (Dewan Perwakilan) Meksiko ini menargetkan game dengan rating C dan D dalam sistem klasifikasi usia negara tersebut. Rating C diperuntukkan bagi pemain berusia minimal 18 tahun yang memungkinkan konten kekerasan ekstrem, pertumpahan darah, dan konten seksual grafis moderat. Sementara rating D khusus untuk dewasa dengan adegan-adegan prolong yang lebih intens.

Ilustrasi game dengan rating dewasa dan simbol peso Meksiko

Yang menarik, Departemen Keuangan Meksiko dalam pengajuan proposal September lalu mengutip studi tahun 2012 yang menemukan hubungan antara penggunaan game kekerasan dengan peningkatan agresi pada remaja. Namun, dalam catatan kakinya, studi yang sama juga mengakui adanya asosiasi positif dari bermain game, termasuk pembelajaran motorik dan pembangunan ketahanan mental. Seolah ada cherry-picking data yang dilakukan untuk mendukung agenda tertentu.

Penerapan pajak ini cukup komprehensif – mencakup salinan digital dan fisik game yang terkena dampak, plus semua pembelian dalam game atau microtransactions. Bayangkan, setiap kali Anda membeli skin karakter atau item khusus dalam game berrating dewasa, ada tambahan biaya 8% yang harus dibayar. Bagi gamer yang sudah mengeluarkan ratusan dollar untuk game dan konten tambahannya, ini bukan angka yang kecil.

Lalu, bagaimana dengan nasib developer game lokal Meksiko? Industri game negara tersebut sedang tumbuh pesat, dengan banyak studio indie yang mengembangkan game dengan tema-tema budaya lokal. Jika konten mereka termasuk dalam kategori C atau D, apakah mereka harus menanggung beban pajak tambahan ini? Atau justru kebijakan ini akan mendorong self-censorship di kalangan developer?

Perlu diingat, proposal ini belum final. Masih harus melalui proses debat di Senat Meksiko sebelum batas waktu 15 November untuk pengajuan proposal anggaran. Artinya, masih ada ruang untuk negosiasi dan penyesuaian. Namun, jika disetujui, Meksiko akan menjadi salah satu negara pertama yang secara spesifik mengenakan pajak berdasarkan konten game, bukan hanya sebagai barang mewah atau produk digital biasa.

Fenomena ini mengingatkan kita pada upaya serupa di berbagai negara untuk mengatur konten game. Seperti yang pernah kita bahas dalam kasus dua remaja di Bekasi yang menjalani terapi kecanduan game, masalah regulasi konten game memang kompleks dan multidimensi.

Pertanyaan besarnya: apakah pajak benar-benar solusi? Daripada sekadar mengenakan pajak, mungkin lebih efektif jika pemerintah Meksiko mengalokasikan dana untuk edukasi literasi digital bagi orang tua, atau program screening usia yang lebih ketat di titik penjualan. Atau seperti yang dilakukan beberapa negara dengan memberlakukan jam malam bagi pemain game sebagai bentuk pembatasan waktu bermain.

Bagi industri game global, keputusan Meksiko ini bisa menjadi preseden berbahaya. Bagaimana jika negara-negara lain mengikuti jejak serupa? Apakah kita akan melihat masa depan dimana setiap negara punya standar pajak berbeda berdasarkan konten game? Bayangkan kekacauan yang bisa timbul dari sistem seperti itu.

Yang tak kalah penting, dalam era dimana game metaverse semakin populer dan batas antara dunia virtual dan realitas semakin blur, regulasi semacam ini justru bisa menghambat inovasi. Developer mungkin akan berpikir dua kali sebelum membuat konten yang berani atau eksperimental karena takut dikenakan pajak tambahan.

Lalu bagaimana dengan konsumen? Gamer dewasa yang seharusnya punya hak untuk memilih konten sesuai preferensi mereka harus menanggung beban finansial tambahan. Padahal, seperti halnya film atau buku, game dengan rating dewasa ditujukan untuk audiens yang sudah cukup umur dan dianggap mampu membedakan fiksi dengan realita.

Sebagai penutup, kita perlu bertanya: apakah kebijakan ini benar-benar untuk melindungi anak-anak, atau sekadar cara mudah untuk menambah pendapatan negara? Dengan tenggat waktu November mendatang, semua mata tertuju pada Senat Meksiko. Keputusan mereka tidak hanya akan mempengaruhi landscape gaming di Meksiko, tetapi potentially menginspirasi (atau menakut-nakuti) negara-negara lain yang sedang mempertimbangkan regulasi serupa.

Bagaimana pendapat Anda tentang kebijakan ini? Apakah pajak game kekerasan adalah solusi yang tepat, atau justru langkah kontraproduktif? Mari kita tunggu perkembangan selanjutnya sambil terus mengikuti diskusi yang lebih luas tentang masa depan industri game dan perlindungan konsumen.

Vivo X300 Pro vs iPhone 17 Pro Max: Duel Flagship 2025 yang Sengit

0

Telset.id – Di tahun 2025, memilih smartphone flagship bukan lagi sekadar membandingkan spesifikasi teknis. Ini adalah keputusan filosofis antara nilai terbaik versus ekosistem mapan, antara kekuatan mentah versus polesan sempurna. Dua raksasa ini, Vivo X300 Pro dan iPhone 17 Pro Max, hadir dengan janji berbeda yang sama-sama menggiurkan. Yang satu menawarkan segalanya dengan harga terjangkau, sementara yang lain mempertahankan mahkotanya dengan integrasi tanpa cela.

Bayangkan Anda berdiri di persimpangan jalan teknologi. Di satu sisi, Vivo X300 Pro datang bak badai dengan spesifikasi yang membuat kompetitor gelisah. Di sisi lain, iPhone 17 Pro Max berdiri tegak dengan warisan Apple yang tak terbantahkan. Perbandingan ini bukan tentang mana yang lebih baik, melainkan mana yang lebih cocok dengan gaya hidup dan prioritas Anda sebagai pengguna.

Kedua ponsel ini mewakili dua pendekatan berbeda dalam menaklukkan pasar premium. Vivo menggebrak dengan pendekatan “more for less”, sementara Apple tetap setia pada filosofi “less but better”. Mari kita selami lebih dalam apa yang membuat kedua flagship 2025 ini begitu spesial, dan mana yang sebenarnya layak mendampingi keseharian Anda.

Desain dan Tampilan Visual: Gaya versus Ketangguhan

Memegang Vivo X300 Pro terasa seperti memegang masterpiece desain industri modern. Bobotnya yang ringan dan konstruksi aluminum-glass membuatnya nyaman digenggam berjam-jam, sementara rating IP69 menjamin ketahanan terhadap debu dan tekanan air yang mengesankan. Ini adalah ponsel yang memahami bahwa kenyamanan pengguna adalah segalanya.

Sebaliknya, iPhone 17 Pro Max hadir dengan aura berbeda. Ceramic Shield 2 dan proteksi IP68 yang lebih dalam memberikan rasa aman ekstra. Apple jelas fokus pada ketangguhan dan sensasi premium di genggaman. Seperti membandingkan sports car yang ringan dengan luxury sedan yang kokoh – keduanya istimewa, tapi dengan karakter berbeda.

Layar kedua ponsel ini pun bercerita tentang filosofi yang bertolak belakang. Vivo memilih LTPO AMOLED dengan kecerahan mencapai 4500 nits – benar-benar menyilaukan untuk konten HDR dan gaming outdoor. Sementara Apple tetap setia pada pendekatan konservatif dengan Super Retina XDR OLED yang dikalibrasi sempurna untuk akurasi warna. Pilihan ada di tangan Anda: impact visual maksimal atau ketepian warna yang tak tertandingi.

Kinerja dan Daya Tahan Baterai: Kekuatan versus Efisiensi

Di bawah kap mesin, Mediatek Dimensity 9500 pada Vivo X300 Pro adalah monster performa. Chipset ini menghadirkan raw power yang siap menangani tugas paling berat sekalipun. Multitasking intensif dan gaming marathon? Bukan masalah bagi sang juara dari kampung Vivo.

Tapi jangan remehkan Apple A19 Pro di iPhone 17 Pro Max. Di sinilah keajaiban optimasi software-hardware Apple benar-benar bersinar. Meski secara angka mungkin tak seimpresif rivalnya, chipset ini menjamin kelancaran yang konsisten dari hari pertama hingga tahun kelima penggunaan. Ini adalah perlombaan antara sprinter versus marathon runner – masing-masing unggul di bidangnya.

Pertarungan semakin sengit di departemen baterai. Vivo membekali X300 Pro dengan kapasitas 6510 mAh yang didukung pengisian 90W – kombinasi yang hampir tak terbantahkan untuk pengguna berat. Bayangkan, dalam 20 menit saja Anda sudah mendapatkan 50% daya. Sementara Apple memilih pendekatan berbeda: baterai yang lebih kecil (hingga 5088 mAh) dengan efisiensi maksimal dan kemudahan MagSafe.

Pilihan menjadi jelas: Vivo untuk mereka yang tak ingin kompromi dengan waktu charging, Apple untuk pengguna yang mengutamakan keseimbangan dan kemudahan wireless charging. Seperti memilih antara stasiun pengisian super cepat versus pom bensin premium yang ada di mana-mana.

Sistem Kamera: Versatilitas versus Konsistensi

Departemen fotografi menjadi medan pertempuran paling menarik. Vivo X300 Pro datang dengan senjata berat: lensa telephoto 200MP bermitra dengan Zeiss, didukung kemampuan rekaman 8K. Ini adalah toolkit lengkap untuk kreator konten yang menginginkan fleksibilitas maksimal. Setiap shot terasa seperti memiliki studio profesional di saku.

Apple mengambil jalur berbeda dengan sistem triple 48MP yang diperkuat LiDAR dan Dolby Vision. Hasilnya? Konsistensi yang hampir tak tertandingi dalam berbagai kondisi pencahayaan. iPhone 17 Pro Max mungkin tak memiliki angka megapixel tertinggi, tapi setiap jepretan terasa natural dan dipoles sempurna – seperti fotografer profesional yang selalu tahu angle terbaik.

Untuk selfie, Vivo menawarkan 50MP dengan rekaman 4K – jelas pilihan utama bagi content creator dan vlogger. Sementara Apple mempertahankan 18MP dengan fitur Dolby Vision dan sensor 3D untuk pengalaman yang lebih imersif. Ini seperti memilih antara kamera broadcast versus studio produksi – keduanya menghasilkan konten berkualitas, tapi dengan pendekatan berbeda.

Ekosistem dan Fitur Unggulan: Independence versus Integration

Di sinilah perbedaan filosofi kedua brand benar-benar terasa. Vivo X300 Pro menawarkan pengalaman standalone yang powerful – sebuah ponsel yang bisa berdiri sendiri tanpa perlu dukungan perangkat lain. Fitur seperti dukungan satelit (di pasar terpilih) dan pengisian ultra-cepat menunjukkan komitmen Vivo pada kemandirian teknologi.

Apple, seperti biasa, mengandalkan kekuatan ekosistem. iPhone 17 Pro Max bukan sekadar ponsel, melainkan pusat dari universe Apple. UWB Gen 2, spatial video/audio, dan integrasi Apple Pay menciptakan pengalaman yang tak bisa ditiru competitor. Ini seperti memilih antara apartemen mewah lengkap dengan fasilitas versus rumah dalam kompleks premium dengan akses ke segala kebutuhan.

Software pun mencerminkan perbedaan ini. Android 16 dengan OriginOS di Vivo menawarkan kebebasan kustomisasi, sementara iOS 26 di Apple menjamin stabilitas dan update berkala yang terprediksi. Pilihan kembali ke preferensi pribadi: apakah Anda pengguna yang suka mengeksplorasi atau yang mengutamakan kemudahan dan konsistensi?

Pertimbangan Harga: Value for Money versus Premium Experience

Ini mungkin faktor penentu bagi banyak calon pembeli. Vivo X300 Pro hadir dengan banderol sekitar $800 atau setara Rp 12,8 juta (asumsi kurs $1 = Rp 16.000). Sebuah harga yang sangat kompetitif untuk spesifikasi flagship 2025. Anda mendapatkan hampir segalanya dengan harga 33% lebih murah dari rival Apple-nya.

iPhone 17 Pro Max mempertahankan positioning premium dengan harga $1200 atau sekitar Rp 19,2 juta. Mahal? Tentu. Tapi Anda membayar untuk jaminan kualitas, dukungan software jangka panjang, dan ekosistem yang tak tertandingi. Ini investasi untuk pengalaman digital yang terintegrasi sempurna.

Seperti memilih antara mobil sport dengan fitur lengkap versus luxury sedan bermerek ternama. Keduanya bisa membawa Anda ke tujuan, tapi dengan pengalaman perjalanan yang sangat berbeda.

Jadi, mana yang harus Anda pilih? Jika Anda mencari value for money terbaik dengan spesifikasi top-tier, Vivo X300 Pro adalah jawabannya. Tapi jika Anda menginginkan pengalaman terpolished dengan ekosistem yang matang, iPhone 17 Pro Max tetap tak tertandingi. Keduanya adalah pemenang di kategori masing-masing – tinggal sesuaikan dengan kebutuhan dan budget Anda.

Perbandingan smartphone flagship 2025 ini mengajarkan satu hal: dalam dunia teknologi yang semakin matang, pilihan terbaik selalu tentang kecocokan dengan gaya hidup, bukan sekadar angka di spec sheet. Baik Vivo X300 Pro maupun iPhone 17 Pro Max telah membuktikan bahwa mereka memahami betul filosofi ini.

Vivo dan iQOO Garap 4 Update Android, Ini Daftar Lengkapnya

0

Telset.id – Dalam industri smartphone yang bergerak cepat, komitmen update software seringkali menjadi penentu loyalitas pengguna. Vivo, melalui brand iQOO, secara resmi meningkatkan standar dukungan software dengan menjanjikan empat update major Android untuk serangkaian perangkat flagship-nya. Keputusan ini bukan sekadar janji kosong, melainkan bukti nyata bagaimana Vivo memposisikan diri di peta persaingan global.

Perubahan kebijakan ini dimulai sejak 2023 dengan peluncuran iQOO 12 series, menandai era baru dimana pengguna bisa menikmati evolusi software yang lebih panjang. Bagi Anda yang tengah mempertimbangkan investasi jangka panjang pada smartphone, informasi ini tentu menjadi angin segar. Lalu, perangkat mana saja yang berhak mendapatkan fasilitas premium ini?

Daftar Lengkap Smartphone Vivo dan iQOO dengan 4 Update Android

Berdasarkan komitmen resmi Vivo, berikut adalah daftar perangkat yang dijamin menerima empat update major Android OS:

  • Vivo X Fold 5 (update terakhir: Android 19)
  • Vivo X300 (update terakhir: Android 20)
  • Vivo X300 Pro (update terakhir: Android 20)
  • Vivo X200 (update terakhir: Android 19)
  • Vivo X200s (update terakhir: Android 19)
  • Vivo X200 Pro (update terakhir: Android 19)
  • Vivo X200 Pro mini (update terakhir: Android 19)
  • Vivo X200 Ultra (update terakhir: Android 19)
  • Vivo X200 FE (update terakhir: Android 19)
  • Vivo V60 (update terakhir: Android 19)
  • Vivo T4 Pro (update terakhir: Android 19)
  • iQOO 13 (update terakhir: Android 19)
  • iQOO 12 (update terakhir: Android 18)
  • iQOO 12 Pro (update terakhir: Android 18)

Yang menarik, Vivo V60 hadir sebagai pengecualian menarik dalam segmen mid-range. Biasanya seri V hanya mendapatkan tiga update, namun V60 justru mendapatkan jatah yang sama dengan flagship. Ini sinyal kuat bahwa Vivo mungkin akan menyamaratakan kebijakan update untuk seluruh lini produknya di masa depan.

Bonus Tambahan: Semua Dapat OriginOS 6 Berbasis Android 16

Selain empat update Android, semua perangkat dalam daftar tersebut juga akan menerima update ke OriginOS 6 yang berbasis Android 16. Yang membedakan kali ini adalah versi globalnya tidak lagi eksklusif untuk pasar China. Upgrade ini membawa banyak fitur baru, peningkatan visual, dan berbagai enhancement yang signifikan.

Bagi pengguna setia Vivo, ini adalah kabar gembira karena mereka bisa menikmati pengalaman software terbaru tanpa harus membeli perangkat baru. Komitmen ini menunjukkan keseriusan Vivo dalam membangun ekosistem yang sustainable.

Mengapa Vivo X100 Tidak Masuk Daftar?

Pertanyaan kritis yang mungkin muncul di benak Anda: mengapa seri X100 yang notabene flagship tidak termasuk dalam daftar? Jawabannya sederhana namun strategis – Vivo secara resmi belum mengumumkan jumlah update Android untuk seri X100. Meskipun demikian, analisis industri memperkirakan bahwa setidaknya X100 Ultra akan mendapatkan empat update major.

Fenomena ini mengingatkan kita pada era dimana Vivo memberikan update ke Android Pie untuk beberapa perangkatnya. Tampaknya Vivo sedang berhati-hati dalam membuat komitmen jangka panjang, memastikan setiap janji bisa ditepati.

Peta Persaingan Software Support: Vivo vs Kompetitor

Dengan kebijakan baru ini, Vivo berada di posisi yang cukup menarik dalam peta persaingan. Untuk smartphone high-end, Vivo sekarang menawarkan empat update Android, sangkan perangkat mid-range biasanya mendapatkan tiga update major. Seri V mendapatkan perlakuan khusus dengan Vivo V60 yang menjanjikan empat update, sementara seri T biasanya hanya dua update – meski T4 Ultra mendapatkan tambahan satu update.

Di segmen budget, seri Y umumnya hanya mendapatkan satu update major. Untuk iQOO, flagship mendapatkan empat update, Neo series sampai tiga update, dan seri Z mendapatkan dua update.

Dengan policy ini, Vivo jelas unggul dibandingkan merek seperti Infinix, Tecno, dan Motorola. Bahkan, Motorola yang baru meluncurkan Android 16 di India untuk Edge 60 series masih ketinggalan dalam hal komitmen update jangka panjang.

Vivo juga bersaing ketat dengan sesama brand China seperti Xiaomi, OnePlus, dan Oppo. Namun, ketika berhadapan dengan Samsung dan Google, ceritanya berbeda. Dua raksasa ini memimpin dengan menawarkan hingga tujuh update Android untuk perangkat high-end mereka. Bahkan banyak smartphone mid-range dan budget Samsung menjanjikan enam update OS.

Persaingan semakin panas dengan hadirnya Vivo X300 Pro yang harus berhadapan dengan Oppo Find X9 Pro dalam duel flagship 2025. Komitmen software yang lebih panjang menjadi senjata ampuh Vivo dalam pertarungan ini.

Lalu, apa artinya semua ini bagi Anda sebagai konsumen? Simple. Ketika mempertimbangkan pembelian smartphone baru, faktor dukungan software jangka panjang sekarang menjadi sama pentingnya dengan spesifikasi hardware. Dengan empat update Android, investasi Anda pada smartphone Vivo atau iQOO akan lebih “awet” dan tetap relevan dalam beberapa tahun ke depan.

Vivo melalui kebijakan barunya ini tidak hanya menjual produk, tetapi juga membangun kepercayaan. Di era dimana sustainability dan longevity menjadi concern utama konsumen, komitmen software support yang solid adalah bahasa universal yang dipahami semua pengguna smartphone.

Redmi K90 Pro Max Bocor: Kamera Utama Raksasa dan Baterai 7.500 mAh

0

Telset.id – Bayangkan sebuah smartphone yang tidak hanya mengungguli konsol gaming portabel terbaru, tetapi juga mampu menghasilkan foto dengan kualitas profesional. Inilah yang diusung Redmi K90 Pro Max, flagship terdepan yang akan meluncur pada 23 Oktober mendatang. Bocoran terbaru yang berhasil kami himpun di Telset.id mengungkap spesifikasi yang benar-benar mengguncang pasar.

Setelah sebelumnya mengonfirmasi kemampuan audio melalui sistem speaker 2.1 channel yang didukung Bose, Redmi kini membuka tirai mengenai kamera utama perangkat ini. Yang menarik, sensor utama yang dibawa bukan sekadar peningkatan inkremental, melainkan lompatan signifikan yang bisa mengubah standar fotografi mobile di kelasnya.

Menurut pengumuman resmi Redmi, K90 Pro Max akan dilengkapi dengan konfigurasi kamera paling bertenaga yang pernah mereka pasang pada perangkat mobile. Sensor utamanya berukuran sangat besar – 1/1.31 inci – memberikan ruang lebih luas untuk menangkap cahaya. Sensor ini sama dengan Light Fusion 950 high-dynamic sensor yang digunakan pada Xiaomi 17, menawarkan rentang dinamis mengesankan sebesar 13.5EV dengan dukungan teknologi DXG high dynamic.

Desain lensanya pun tak kalah menarik. Redmi mengadopsi struktur hybrid glass-plastic 1G+6P dengan pelapisan multi-layer yang secara signifikan mengurangi silau dan meningkatkan kejernihan gambar secara keseluruhan. Pendekatan ini menunjukkan komitmen serius Redmi dalam menangani tantangan fotografi low-light dan high-contrast.

Bocoran sebelumnya mengindikasikan bahwa selain sensor utama, K90 Pro Max juga akan membawa lensa ultra-wide 50 megapixel dan kamera telephoto periskop 50 megapixel Samsung JN5. Kombinasi ini menjadikannya trio kamera yang sangat solid, meski informasi mengenai kamera depan masih menjadi misteri yang belum terungkap.

Daya Tahan yang Tak Tertandingi

Di balik layar, K90 Pro Max ditenagai oleh Snapdragon 8 Elite Gen 5 chipset – prosesor paling mutakhir dari Qualcomm yang menjamin performa maksimal untuk gaming dan multitasking berat. Namun yang benar-benar mengejutkan adalah kapasitas baterainya yang mencapai 7.500+ mAh, salah satu yang terbesar di kelas flagship.

Dengan dukungan pengisian cepat 100W wired charging dan 50W wireless charging, pengguna tidak perlu lagi khawatir kehabisan daya di tengah aktivitas padat. Kombinasi ini seperti memiliki power bank internal yang siap mendukung penggunaan intensif sepanjang hari.

Layarnya sendiri disebutkan akan menggunakan panel OLED 6.59-inch dengan resolusi 2K, menjanjikan visual yang tajam dan warna yang akurat. Sistem operasinya akan langsung membawa Android 16 dengan lapisan HyperOS 3 di atasnya, memberikan pengalaman pengguna yang lebih terintegrasi dan responsif.

Dari Audio Hingga Ketahanan Fisik

Seperti yang telah diungkap dalam bocoran sebelumnya mengenai sistem audio, K90 Pro Max menghadirkan pengalaman audio premium melalui setup 2.1 channel dengan speaker belakang bertenaga Bose. Ini bukan sekadar peningkatan volume, melainkan revolusi dalam kualitas suara mobile.

Dari segi konstruksi, perangkat ini menggunakan frame logam dan bodi dengan rating IP68/69 – kombinasi yang jarang ditemukan bahkan di smartphone flagship sekalipun. Rating ini menjamin ketahanan terhadap air, debu, dan bahkan tekanan air yang kuat, membuatnya cocok untuk berbagai kondisi penggunaan.

Yang menarik, lini Redmi K90 series dikabarkan akan tetap eksklusif untuk pasar China. Namun jangan khawatir, secara global K90 dan K90 Pro kemungkinan akan di-rebrand sebagai Poco F8 Pro dan F8 Ultra. Strategi ini mirip dengan pendekatan yang pernah dilakukan pada Redmi 9C yang menawarkan nilai lebih di segmen entry-level.

Dengan semua spesifikasi yang terungkap ini, Redmi K90 Pro Max tidak hanya sekadar smartphone biasa. Ia adalah pernyataan ambisi Redmi dalam merebut tahta flagship killer sejati. Bagaimana pendapat Anda? Apakah kombinasi kamera raksasa, baterai besar, dan performa top ini akan mengubah lanskap smartphone gaming dan fotografi?

Sementara menunggu kehadiran K90 Pro Max, Anda bisa menyimak perkembangan teknologi terbaru lainnya seperti Redmi Turbo 5 dengan baterai 9.000mAh atau kompetitor seperti OPPO Reno 15 Pro yang juga mengusung kamera periskop. Persaingan di dunia smartphone semakin panas, dan konsumenlah yang akan menikmati hasilnya.