Beranda blog Halaman 100

Razer Raiju V3 Pro: Kontroller Pro untuk PS5 yang Bikin Kompetitif

0

Telset.id – Dunia gaming kompetitif untuk PlayStation 5 baru saja mendapat tambahan senjata yang serius. Razer secara resmi meluncurkan Raiju V3 Pro, sebuah kontroler nirkabel yang diklaim dibangun khusus untuk kalangan profesional dan pemain kompetitif. Dengan harga €209, perangkat ini bukan sekadar aksesori biasa, melainkan investasi bagi mereka yang mengejar kemenangan di setiap pertandingan. Apakah kontroler ini layak menjadi pendamping setia sesi gaming marathon Anda?

Bagi para gamer yang kerap bergelut dengan game FPS, fighting, atau action, kontroler adalah ujung tombak. Sensitivitas yang sedikit meleset bisa berakibat fatal. Raiju V3 Pro datang dengan janji presisi tinggi berkat thumbstick simetris Tension Magnetic Resistance (TMR). Teknologi ini tidak hanya menjanjikan ketahanan terhadap drift yang sering dikeluhkan, tetapi juga konsistensi tensi dan akurasi input. Bayangkan, gerakan halus dalam瞄准 (membidik) di Call of Duty atau kombo cepat di Street Fighter bisa dijalankan dengan keyakinan penuh. Belum lagi, kap thumbstick yang dapat ditukar memungkinkan personalisasi grip sesuai kenyamanan tangan Anda. Desainnya pun diklaim membantu efisiensi daya, memperpanjang usia baterai untuk sesi gaming yang lebih lama.

Fitur unggulan lainnya terletak pada Razer Pro HyperTriggers. Mekanisme ini memberikan fleksibilitas luar biasa. Ingin tembakan cepat layaknya klik mouse? Atau kontrol analog penuh untuk akselerasi bertahap di balapan? Anda bisa beralih di antara keduanya. Melalui perangkat lunak Razer Synapse 4, titik aktualisasi trigger dapat disesuaikan. Ini adalah level kustomisasi yang biasanya hanya ditemukan di perangkat high-end, memungkinkan Anda menyetel kontroler persis seperti yang dibutuhkan gaya bermain, apakah itu untuk quick-scope atau nyetir halus di tikungan sirkuit. Bicara soal kustomisasi, kontroler ini dilengkapi empat tombol belakang yang dapat dilepas dengan fungsi klik mouse, plus dua bumper cakar yang dapat dipetakan ulang. Semuanya ditenagai oleh switch Razer yang terkenal cepat dan taktil, memberikan respons instan dan umpan balik yang solid di tengah panasnya pertandingan.

Perhatian Razer terhadap detail dan daya tahan benar-benar terasa. Tombol aksi Mecha-Taktil dan D-pad 8-arah mengambang terbuat dari material PBT doubleshot. Bahan ini dikenal tahan aus dan mampu mempertahankan teksturnya bahkan setelah pemakaian intensif selama berbulan-bulan. Setiap penekanan tombol dijamin memberikan rasa taktil yang renyah dan responsif, memastikan setiap input teregister dengan sempurna. Bagi Anda yang sering mengalami masalah koneksi, Razer HyperSpeed Wireless hadir untuk memberikan konektivitas yang stabil dan bebas lag, sehingga sesi gaming di PS5 berjalan mulus tanpa gangguan. Pengaturan lebih lanjut, seperti sensitivitas thumbstick dan pemetaan ulang kontrol, dapat dilakukan melalui Razer Mobile App atau Razer Synapse 4, dengan opsi untuk menyimpan hingga empat profil onboard. Sangat praktis untuk beralih antara setelan untuk game yang berbeda. Sebagai pelengkap, paket penjualannya termasuk casing premium dan kabel USB Type-C sepanjang 2 meter yang dapat dilepas, sangat cocok untuk dibawa ke turnamen atau sekadar menjaga performa PS5 Anda tetap optimal.

Soal ketersediaan, Razer Raiju V3 Pro untuk PlayStation 5 sudah bisa didapatkan di berbagai retailer Eropa, termasuk Amazon Jerman dan toko online resmi Razer, dengan pilihan warna putih atau hitam. Sayangnya, bagi calon pembeli di Amerika Serikat, kontroler ini belum terdaftar di retailer besar setempat. Kehadiran Raiju V3 Pro ini seolah menjawab kebutuhan akan periferal yang lebih khusus di ekosistem PS5, melengkapi inovasi lain seperti revisi PS5 Digital Edition yang juga menawarkan efisiensi tersendiri. Dunia gaming memang terus berkembang, dan kolaborasi perangkat seperti Meta Quest 3S Xbox Edition menunjukkan betapa pasar ini semakin dinamis.

Lantas, apakah Raiju V3 Pro layak disebut sebagai kontroler pro? Spesifikasinya berbicara jelas. Dari thumbstick TMR anti-drift, trigger yang dapat dikustomisasi, tombol belakang yang responsif, hingga material PBT yang tahan lama, semuanya ditujukan untuk satu hal: performa kompetitif. Dengan harga yang memang berada di segmen premium, kontroler ini jelas bukan untuk pemain kasual. Ini adalah alat bagi mereka yang serius mengejar pingat, peringkat, atau sekadar kepuasan karena bisa bermain dengan presisi tertinggi. Bagi Anda yang menginginkan edge lebih dalam setiap match, Raiju V3 Pro mungkin adalah investasi yang patut dipertimbangkan. Bagaimana menurut Anda? Apakah kontroler standar masih cukup, atau sudah waktunya upgrade ke perangkat yang benar-benar dibuat untuk menang?

Microsoft Rilis Perbaikan Darurat untuk Bug Windows 11 yang Lumpuhkan Keyboard

0

Telset.id – Bayangkan ini: PC Windows 11 Anda tiba-tiba mogok booting. Saat mencoba masuk ke mode pemulihan, keyboard dan mouse sama sekali tidak merespons. Anda terjebak di layar recovery tanpa bisa melakukan apa-apa. Inilah mimpi buruk yang dialami ribuan pengguna Windows 11 akibat update Oktober yang bermasalah.

Masalah serius ini berasal dari update KB5066835 yang dirilis Microsoft pertengahan Oktober 2025. Update keamanan ini ternyata mematikan fungsi perangkat USB seperti keyboard dan mouse di Windows Recovery Environment (WinRE) – lingkungan pemulihan sistem yang justru menjadi andalan terakhir ketika Windows mengalami masalah kritis.

WinRE adalah fitur penyelamat yang biasanya diakses ketika startup gagal, sistem terinfeksi malware, atau perlu melakukan reset. Tanpa akses kontrol dasar, pengguna benar-benar terperangkap. Beberapa yang putus asa bahkan harus mencari keyboard PS/2 lawas atau mencoba pairing perangkat Bluetooth hanya untuk keluar dari lingkaran recovery yang menjebak.

“Setelah menginstal update keamanan Windows yang dirilis 14 Oktober 2025 (KB5066835), perangkat USB seperti keyboard dan mouse tidak berfungsi di Windows Recovery Environment,” jelas Microsoft dalam posting blog resminya. Pengakuan ini datang setelah laporan membanjir dari pengguna di Reddit dan forum dukungan Microsoft.

Solusi Darurat dari Microsoft

Menanggapi krisis ini, Microsoft bergerak cepat dengan merilis perbaikan darurat KB5070773. Update “out-of-band” ini sekarang tersedia melalui Windows Update dan Microsoft Update Catalog. Perbaikan ini mengembalikan fungsi USB di WinRE untuk Windows 11 versi 24H2, 25H2, dan Windows Server 2025.

Bagi pengguna yang masih terjebak dalam masalah ini, tersedia beberapa opsi. Anda bisa mengunduh update perbaikan langsung dari katalog Microsoft, atau menggunakan media instalasi alternatif. Jika perlu, link download ISO Windows 11 tersedia untuk membuat media instalasi darurat.

Pelajaran Berharga untuk Semua Pengguna

Insiden ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga partisi sistem dan recovery tetap terupdate. Meskipun update keamanan biasanya membawa perlindungan penting, terkadang justru menimbulkan masalah tak terduga. Memiliki cadangan bootable USB dengan sistem yang stabil bisa menjadi penyelamat di situasi darurat seperti ini.

Bagi yang sering mengalami masalah login, solusi seperti mengaktifkan auto login di Windows bisa mempermudah akses, meskipun tentu dengan mempertimbangkan aspek keamanannya. Sementara untuk masalah sistem yang lebih kompleks, terkadang cara install ulang Windows menjadi pilihan terakhir.

Sejarah update Windows memang tak lepas dari masalah. Seperti yang terjadi pada update Windows 8.1 di masa lalu, setiap pembaruan sistem membawa risiko dan keuntungannya sendiri. Yang penting adalah bagaimana vendor merespons cepat ketika masalah muncul.

Dengan rilisnya KB5070773, pengguna yang terdampak akhirnya bisa mengambil kembali kendali penuh atas PC mereka. Pelajaran berharga dari insiden ini: selalu siap dengan plan B, pantau update sistem dengan kritis, dan jangan ragu mencari solusi alternatif ketika teknologi utama gagal berfungsi.

iQOO Z10R 5G Resmi: Performa Gaming Kelas dengan Chipset MediaTek Pertama

0

Telset.id – Bayangkan sebuah smartphone yang mampu bertahan bermain game FPS populer hingga 15 jam non-stop, dengan performa stabil di atas 89fps, dan harga yang terjangkau di kisaran 3 jutaan. Itulah janji yang dibawa iQOO Z10R 5G, yang baru saja resmi diluncurkan di Indonesia pada 23 Oktober 2025. Sebagai produk ketiga dari lini Z Series tahun ini, smartphone ini tidak main-main dengan tagline “#PerformaKelas”-nya.

Lalu, apa yang membuat iQOO Z10R 5G layak disebut sebagai “The All-Rounder of Gaming Performance”? Jawabannya terletak pada kombinasi brilian antara chipset, baterai raksasa, dan layar responsif yang jarang ditemukan di segmen harganya. Yang paling mencolok, ini merupakan pertama kalinya iQOO menggunakan chipset MediaTek dalam produknya, sebuah langkah berani yang ternyata didasari oleh masukan langsung dari komunitas penggemarnya, para trOOpers.

Janardana Indratama, Product Manager iQOO Indonesia, dengan tegas menyatakan bahwa inovasi dan spesifikasi terbaik memang penting, namun mendengar suara konsumen adalah prioritas utama. Pernyataan ini bukan sekadar jargon marketing, melainkan bukti nyata bagaimana brand ini merespons keinginan pasar. Sebuah pendekatan yang patut diapresiasi di era di mana banyak brand hanya fokus pada spesifikasi kertas semata.

#PerformaKelas: Kombinasi Chipset, RAM, dan Storage Terbaik

Di jantung iQOO Z10R 5G, berdetak chipset MediaTek Dimensity 7360-Turbo berproses 4nm. Chipset ini bukan sekadar komponen biasa – ia mampu mencetak skor AnTuTu yang melampaui 717 ribu poin, sebuah angka yang cukup untuk membuat banyak kompetitor di kelas yang sama merasa “keringetan”. Keseimbangan antara performa dan efisiensi daya menjadi nilai jual utamanya, menjanjikan kelancaran yang konsisten untuk berbagai skenario penggunaan harian.

Yang membuat kombinasi ini semakin solid adalah paduannya dengan RAM LPDDR4X hingga 12GB dan ROM UFS 3.1 hingga 256GB. Teknologi penyimpanan generasi terbaru ini menawarkan kecepatan read & write yang 80% hingga 160% lebih kencang dibandingkan UFS 2.2. Bagi Anda para gamer, ini berarti loading time yang lebih singkat dan responsivitas yang lebih baik saat multitasking.

Bukti nyata performa gaming-nya terlihat dari kemampuan menjaga frame rate rata-rata hingga 89,73fps pada game MOBA populer, bahkan setelah 3 jam penggunaan berkelanjutan. Tidak heran jika iQOO Z Series ke-3 ini memang dipersiapkan dengan matang untuk memenuhi ekspektasi gamers Indonesia yang semakin kritis.

Power Ganas dengan Baterai Besar dan Teknologi Canggih

Dalam bodi yang tipis hanya 7,59mm, iQOO berhasil menyematkan baterai raksasa berkapasitas 6500mAh. BlueVolt Battery ini bukan sekadar angka di atas kertas – ia mampu memberikan daya tahan yang benar-benar luar biasa. Bayangkan, 15 jam bermain game FPS populer atau 27,5 jam streaming YouTube? Ini adalah angka yang sulit ditemukan di smartphone sekelasnya.

Teknologi pengisian daya 90W FlashCharge membuat pengisian dari 1% hingga 100% hanya membutuhkan waktu 52 menit. Namun, fitur yang paling menarik perhatian para gamer hardcore adalah Bypass Charging. Fitur gaming premium ini memungkinkan daya dialirkan langsung ke motherboard, melewati baterai, sehingga mengurangi risiko panas berlebih dan menjaga kesehatan baterai untuk penggunaan jangka panjang. Sebuah solusi elegan untuk masalah klasik smartphone gaming.

Dengan kombinasi seperti ini, iQOO Z10R 5G tidak hanya cocok untuk gamer, tetapi juga ideal untuk pelajar dan kreator muda yang membutuhkan daya tahan baterai sepanjang hari. Terlebih dengan adanya update software yang terjamin, masa pakai smartphone ini bisa lebih panjang.

Visual Memukau dan Kemampuan Fotografi yang Solid

Layar AMOLED 120Hz berukuran 6,77 inci dengan local peak brightness hingga 3000 nits menjadi jendela visual yang memukau. Teknologi 2000Hz Instant Touch Sampling Rate memastikan setiap sentuhan dan gesekan Anda direspons dengan cepat, sementara 2160Hz PWM Dimming dan sertifikasi SGS Low Blue Light memberikan perlindungan optimal untuk kesehatan mata selama penggunaan marathon.

Sistem kamera 50MP Sony IMX882 yang diboyongnya bukan sekadar pelengkap. Kamera utama beresolusi tinggi ini mampu menghasilkan foto tajam dan jernih dengan rentang dinamis optimal, bahkan dalam kondisi pencahayaan menantang. Kehadiran AI Aura Light sebagai fitur pertama dalam smartphone iQOO memungkinkan pengambilan foto portrait berkualitas dalam kondisi low-light.

Sebagai bagian dari vivo, iQOO Z10R 5G membawa algoritma pemrosesan gambar yang sama dengan produk-produk Vivo terbaru, menjamin hasil kamera yang jernih dan kaya warna. Lensa ultrawide memungkinkan Anda mengabadikan momen lanskap, arsitektur, hingga foto grup dengan lebih leluasa.

Dari sisi durabilitas, iQOO Z10R 5G telah membawa standar SGS Triple Protection Certification, Military-Grade Certification, hingga sertifikasi IP65 Water and Dust Resistance. Sebuah paket komplit yang jarang ditemukan di segmen harganya.

Tersedia dalam dua varian warna Titanium Gold & Elegant Black, iQOO Z10R 5G ditawarkan dengan tiga pilihan konfigurasi: 8GB + 128GB seharga Rp3.299.000, 8GB + 256GB seharga Rp3.599.000, dan 12GB + 256GB seharga Rp3.899.000. Masa pre-order berlangsung dari 23 hingga 29 Oktober 2025 melalui berbagai kanal online resmi iQOO Indonesia.

Selama masa pre-order, pembeli akan mendapatkan bonus TWS iQOO Buds 1i dan tambahan masa garansi dari 12 bulan menjadi 24 bulan untuk pembelian hingga 30 November 2025. Sebuah penawaran yang cukup menggiurkan untuk smartphone dengan spesifikasi sekomplit ini.

Dengan semua keunggulan yang ditawarkan, iQOO Z10R 5G bukan sekadar smartphone gaming biasa. Ia adalah bukti bahwa mendengarkan konsumen bisa menghasilkan produk yang benar-benar menjawab kebutuhan pasar. Di tangan para gamer, pelajar, dan kreator muda Indonesia, smartphone ini berpotensi menjadi senjata andalan untuk produktivitas dan hiburan sepanjang hari.

Gugatan OpenAI Diperbarui, ChatGPT Dituding Lemahkan Pengaman Bunuh Diri

0

Telset.id – Bayangkan jika asisten digital yang seharusnya membantu justru menjadi alat yang mempercepat tragedi. Itulah yang dialami keluarga Adam Raine, yang kini memperbarui gugatan mereka terhadap OpenAI dengan tuduhan mengejutkan: ChatGPT sengaja melemahkan pengamanan konten bunuh diri tepat sebelum remaja itu mengakhiri hidupnya.

Gugatan yang diperbarui ini mengungkap detail mengerikan tentang bagaimana perusahaan kecerdasan buatan terkemuka dunia diduga mengorbankan keselamatan pengguna demi persaingan bisnis. Financial Times melaporkan, keluarga Raine menuduh OpenAI melemahkan sistem pencegahan self-harm pada periode kritis menjelang kematian Adam bulan April lalu. Yang lebih mengejutkan, perusahaan juga meminta daftar hadirin dan dokumentasi lengkap dari acara peringatan kematian Adam – permintaan yang oleh pengacara keluarga disebut sebagai “pelecehan yang disengaja”.

Ilustrasi ChatGPT dengan simbol peringatan keamanan di latar belakang

Gugatan ini bukan yang pertama diajukan keluarga Raine terhadap OpenAI. Seperti yang pernah kami laporkan sebelumnya, keluarga ini sudah mengajukan gugatan wrongful death pada Agustus lalu. Namun gugatan yang diperbarui ini membawa tuduhan lebih spesifik dan mengkhawatirkan tentang perubahan kebijakan keamanan yang disengaja.

Perubahan Kebijakan yang Mematikan

Menurut dokumen gugatan, perubahan fatal terjadi pada GPT-4o, model default ChatGPT di bulan-bulan sebelum bunuh diri Adam. OpenAI diduga secara sengaja menghapus perlindungan kritis dengan menginstruksikan model untuk tidak “mengubah atau menghentikan percakapan” ketika membahas tentang self-harm. Alih-alih menolak terlibat dalam percakapan berbahaya, model justru diperintahkan untuk “berhati-hati dalam situasi berisiko” dan “mencoba mencegah bahaya dunia nyata yang akan segera terjadi”.

Yang membuat kasus ini semakin kompleks, gugatan menyebutkan bahwa OpenAI “memotong pengujian keamanan” karena tekanan kompetitif. Perusahaan diduga melemahkan guardrails mereka untuk kedua kalinya pada bulan Februari – tepat ketika penggunaan ChatGPT oleh Adam melonjak drastis. Padahal, seperti dalam kasus serupa yang kami laporkan, seharusnya platform AI memiliki sistem deteksi yang lebih ketat untuk konten berbahaya.

Permintaan yang Mengganggu dan Pola yang Mengkhawatirkan

Selain tuduhan melemahkan sistem keamanan, permintaan OpenAI terhadap keluarga Raine menimbulkan pertanyaan serius tentang etika perusahaan. Financial Times melaporkan perusahaan meminta “semua dokumen yang berkaitan dengan layanan peringatan atau acara untuk menghormati almarhum termasuk namun tidak terbatas pada video atau foto yang diambil, atau pidato yang diberikan… serta daftar undangan atau kehadiran atau buku tamu.”

Pengacara keluarga menggambarkan permintaan ini sebagai “tidak biasa” dan “pelecehan yang disengaja”. Mereka berspekulasi bahwa OpenAI berencana untuk memanggil “setiap orang dalam kehidupan Adam” – langkah yang dianggap berlebihan dan tidak sensitif terhadap keluarga yang sedang berduka.

Pola ini mengingatkan kita pada berbagai kontroversi lain yang melibatkan OpenAI, menunjukkan bahwa perusahaan mungkin memiliki masalah sistemik dalam menangani isu-isu sensitif. Permintaan dokumen peringatan kematian menimbulkan pertanyaan tentang batasan yang wajar dalam proses hukum dan penghormatan terhadap privasi keluarga yang berduka.

Data Penggunaan yang Mengkhawatirkan

Orang tua Adam, Matthew dan Maria Raine, memberikan data yang mengungkap pola penggunaan ChatGPT yang mengkhawatirkan. Pada Januari, Adam hanya melakukan beberapa puluh chat dengan model, dengan 1,6 persen di antaranya merujuk pada self-harm. Namun setelah update Februari, penggunaannya melonjak menjadi 300 chat per hari di bulan April, dengan 17 persen membahas self-harm.

Lonjakan dramatis ini terjadi tepat setelah OpenAI melemahkan sistem keamanan mereka. Gugatan menyebutkan bahwa perusahaan “mengutamakan engagement daripada keselamatan” – tuduhan serius yang menggambarkan konflik antara kepentingan bisnis dan tanggung jawab etis.

Maria Raine dengan tegas menyimpulkan bahwa “ChatGPT membunuh anak saya.” Pernyataan ini mungkin terdengar ekstrem, tetapi ketika melihat data dan kronologi peristiwa, kita harus bertanya: sejauh mana tanggung jawab perusahaan AI ketika produk mereka digunakan dengan cara yang tidak diinginkan?

Setelah gugatan awal dilaporkan, OpenAI mengakui kekurangan GPT-4o dalam beberapa situasi yang menyedihkan. Perusahaan kemudian memperkenalkan kontrol orang tua untuk ChatGPT dan sedang mengeksplorasi sistem untuk mengidentifikasi pengguna remaja dan secara otomatis membatasi penggunaannya. Mereka juga mengklaim bahwa GPT-5, model default saat ini, telah diperbarui untuk lebih baik menangani tanda-tanda distress.

Namun pertanyaannya tetap: apakah tindakan perbaikan ini sudah cukup? Dan yang lebih penting, apakah perubahan ini datang terlambu bagi Adam Raine dan keluarganya? Kasus ini membuka diskusi penting tentang regulasi AI dan tanggung jawab perusahaan teknologi dalam melindungi pengguna rentan.

Sebagai penutup, mari kita renungkan: dalam perlombaan mengembangkan AI yang semakin canggih, apakah kita telah melupakan perlunya sistem keamanan yang kuat? Kasus Adam Raine mengingatkan kita bahwa kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan perlindungan nyawa manusia – karena ketika keselamatan dikorbankan demi persaingan, yang terjadi adalah tragedi yang seharusnya bisa dicegah.

Qualcomm Umumkan Snapdragon 6s Gen 4: Chipset 4nm untuk Smartphone Murah

0

Telset.id – Bayangkan smartphone kelas menengah yang mampu menyaingi performa flagship dengan harga separuhnya. Itulah janji yang dibawa Qualcomm melalui pengumuman terbaru mereka: Snapdragon 6s Gen 4. Meski diumumkan secara diam-diam, chipset ini menghadirkan lompatan signifikan yang bakal mengubah lanskap smartphone affordable.

Snapdragon 6s Gen 4 menjadi pionir dalam seri 6 dengan mengadopsi proses manufaktur 4nm—teknologi yang biasanya eksklusif untuk chipset premium. Transisi dari 6nm ke 4nm ini bukan sekadar angka, melainkan revolusi efisiensi yang menjanjikan daya tahan baterai lebih lama dan performa lebih responsif. Bagi Anda yang sering frustrasi dengan smartphone murah yang lemot, inilah angin segar yang ditunggu.

Qualcomm mengklaim peningkatan CPU hingga 36 persen dan GPU 59 persen lebih cepat dibandingkan pendahulunya berbasis 6nm. Dengan delapan core Kryo—empat performa clocked 2.4GHz dan empat efisiensi 1.8GHz—chipset ini dirancang untuk multitasking mulus, pembukaan aplikasi kilat, dan responsivitas gaming yang sebelumnya mustahil di segmen harga terjangkau.

Snapdragon 6s Gen 4 key faetures

Revolusi Visual dan Gaming di Segmen Terjangkau

Bukan hanya soal kecepatan prosesor, Snapdragon 6s Gen 4 membawa pengalaman visual yang sebelumnya menjadi domain smartphone mahal. Dukungan untuk layar Full HD+ dengan refresh rate hingga 144Hz berarti scrolling yang lebih halus dan gaming tanpa tearing. Fitur Snapdragon Elite Gaming seperti Variable Rate Shading dan Game Quick Touch mengurangi input lag secara signifikan—kabar gembira bagi gamer mobile yang menginginkan respons instan setiap kali jari menyentuh layar.

Performa gaming mumpuni ini mengingatkan kita pada POCO M7 Plus 5G yang juga mengusung layar 144Hz, membuktikan bahwa pengalaman premium semakin terjangkau. Bahkan Redmi 15 5G yang baru-baru ini bocor juga mengadopsi teknologi serupa, menunjukkan tren industri menuju pengalaman visual tinggi di semua segmen.

Kamera 200MP dan Konektivitas Masa Depan

Di era dimana kamera smartphone menjadi penentu keputusan pembelian, Snapdragon 6s Gen 4 tidak main-main. Dukungan untuk sensor hingga 200 megapixel dan perekaman video 2K membuktikan bahwa fotografi profesional tidak harus mahal. Teknologi Multi-Frame Noise Reduction di level hardware memastikan gambar tetap jernih bahkan dalam kondisi cahaya minim—solusi untuk foto malam yang biasanya berantakan di smartphone murah.

Konektivitas menjadi another strong point dengan dukungan 5G Release 16, Wi-Fi 6E berkecepatan hingga 2.9Gbps, dan Bluetooth 5.4. Ini berarti download lebih cepat, streaming tanpa buffering, dan koneksi perangkat yang lebih stabil. Bagi Anda yang mengandalkan smartphone untuk work from anywhere, fitur-fitur ini bukan lagi kemewahan melainkan kebutuhan.

Meski Qualcomm belum mengungkap merek mana yang akan pertama kali mengadopsi chipset ini, spekulasi mengarah pada raksasa seperti Xiaomi, Oppo, dan Motorola. Mengingat track record Oppo A5 4G yang mengandalkan Snapdragon 6s Gen1, tidak mengherankan jika vendor China ini akan menjadi early adopter teknologi terbaru Qualcomm.

Dengan semua keunggulan ini, Snapdragon 6s Gen 4 bukan sekadar upgrade incremental melainkan game changer sebenarnya. Chipset ini berpotensi menghapus garis pemisah antara smartphone entry-level dan mid-range, memberikan konsumen nilai lebih tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam. Pertanyaannya sekarang: smartphone mana yang akan pertama kali membawa revolusi ini ke tangan Anda?

Amerika Ekspor Sampah Elektronik ke Asia, Capai 33.000 Ton Per Bulan

Telset.id – Bayangkan jika setiap bulan, 2.000 kontainer penuh dengan ponsel dan komputer bekas dari Amerika Serikat membanjiri negara-negara Asia. Itulah realitas mengerikan yang terungkap dari investigasi terbaru Basel Action Network (BAN), yang menyoroti praktik ekspor sampah elektronik atau e-waste secara masif. Laporan ini mengungkap bagaimana Amerika menjadi pengekspor utama limbah beracun yang mengancam lingkungan global.

Dalam investigasi selama dua tahun, BAN yang berbasis di Seattle berhasil mengidentifikasi setidaknya sepuluh perusahaan AS yang secara rutin mengekspor perangkat elektronik bekas ke Vietnam, Malaysia, dan negara-negara lain. Yang lebih mencengangkan lagi, nilai ekspor e-waste dari sepuluh perusahaan ini mencapai lebih dari $1 miliar antara Januari 2023 dan Februari 2025. Angka ini bukan sekadar statistik—ini adalah bukti nyata betapa menguntungkannya bisnis limbah beracun bagi para pelakunya.

Jim Puckett dari BAN menggambarkan situasi ini dengan nada prihatin: “Malaysia tiba-tiba menjadi semacam mekah sampah.” Pernyataan ini bukan hiperbola. Data menunjukkan bahwa pengiriman e-waste AS menyumbang enam persen dari total ekspor Amerika ke Malaysia selama periode 2023-2025. Bayangkan, dari setiap 100 kontainer yang meninggalkan pelabuhan AS menuju Malaysia, enam di antaranya berisi limbah elektronik berbahaya.

Tumpukan sampah elektronik di lokasi pembuangan

Volume yang dikeluarkan benar-benar fantastis—sekitar 33.000 metrik ton e-waste meninggalkan Amerika setiap bulan. Itu setara dengan berat sekitar 5.500 gajah Afrika dewasa yang diangkut keluar negeri secara rutin. BAN menyebut fenomena ini sebagai “tsunami tersembunyi” yang mengancam lingkungan global, terutama mengingat kandungan logam beracun seperti timbal, kadmium, dan merkuri dalam perangkat elektronik bekas tersebut.

Perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam praktik ini menyebut diri mereka sebagai “broker e-waste”—entitas yang tidak mendaur ulang limbah sendiri, tetapi mengirimkannya ke pihak lain untuk ditangani. Beberapa nama yang disebut dalam laporan termasuk Corporate eWaste Solutions, Semsotai, First America Metal Corp., dan PPM Recycling. Mereka beroperasi dalam celah hukum yang memungkinkan ekspor limbah berbahaya ini terus berlangsung.

Respons dari perusahaan yang terlibat cukup beragam. Semsotai membantah mengekspor barang rongsokan dan mengklaim hanya berspesialisasi dalam komponen yang masih berfungsi untuk digunakan kembali. Mereka bahkan menuduh BAN melakukan bias dalam investigasinya. Sementara PPM Recycling menuduh BAN membesar-besarkan volume pengiriman. Namun, sebagian besar perusahaan yang disebutkan memilih untuk tidak memberikan komentar sama sekali—sebuah sikap yang justru memunculkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

Yang patut menjadi perhatian serius adalah fakta bahwa Amerika Serikat merupakan satu-satunya negara industri yang belum meratifikasi Basel Convention—perjanjian internasional yang mengatur perdagangan limbah berbahaya. Ini berarti AS tidak terikat oleh aturan apa pun yang melarang ekspor limbah elektronik ke negara berkembang. Padahal, Amerika adalah produsen e-waste terbesar kedua di dunia setelah China.

Ketidakpatuhan AS terhadap standar internasional ini menciptakan ketimpangan lingkungan yang serius. Negara-negara seperti Vietnam, Indonesia, Thailand, Filipina, dan Uni Emirat Arab menjadi tujuan utama pengiriman limbah ini. Mereka harus menanggung beban lingkungan dari konsumsi elektronik negara maju, sementara infrastruktur daur ulang mereka seringkali tidak memadai untuk menangani limbah berbahaya secara aman.

Masalahnya semakin kompleks ketika kita melihat tren global. Menurut International Telecommunication Union PBB dan UNITAR, dunia memproduksi 62 juta metrik ton sampah elektronik pada 2022. Angka ini diproyeksikan melonjak menjadi 82 juta metrik ton pada 2030. Yang mengkhawatirkan, pertumbuhan e-waste global lima kali lebih cepat daripada program daur ulang yang tersedia.

Lalu, apa solusi yang bisa ditawarkan? Beberapa negara bagian di AS mulai mengambil inisiatif sendiri, seperti California yang merancang UU hak memperbaiki perangkat. Langkah ini bisa memperpanjang usia produk elektronik dan mengurangi volume limbah. Namun, tanpa komitmen nasional yang kuat, upaya-upaya parsial seperti ini mungkin tidak cukup untuk menghentikan gelombang ekspor limbah yang terus mengalir deras.

Pertanyaannya kini: sampai kapan praktik ini akan terus berlangsung? Dan yang lebih penting, apa yang bisa kita lakukan sebagai konsumen untuk mengurangi kontribusi terhadap masalah ini? Mungkin sudah waktunya kita mempertimbangkan produk elektronik yang lebih tahan lama dan mendukung ekonomi sirkular yang sesungguhnya. Karena jika tidak, tsunami e-waste ini tidak hanya akan mengancam lingkungan Asia, tetapi pada akhirnya akan kembali menghantam kita semua.

iPhone 18 Bakal Lebih Mahal, Chip 2nm TSMC Picu Kenaikan Harga

0

Telset.id – Siap-siap merogoh kocek lebih dalam untuk iPhone generasi berikutnya. Bocoran terbaru dari Taiwan mengindikasikan bahwa lini iPhone 2026, khususnya iPhone 18, kemungkinan besar akan mengalami kenaikan harga signifikan. Penyebab utamanya? Biaya produksi chip A20 yang melambung tinggi akibat transisi ke proses manufaktur 2nm TSMC.

Laporan eksklusif dari China Times mengungkap fakta mengejutkan: TSMC berencana menaikkan harga wafer 2nm hingga 50% dibandingkan proses N3P 3nm yang digunakan untuk chip A19 di iPhone 17. Lonjakan biaya ini bukan hal sepele, mengingat proses N3P sendiri sudah lebih mahal dari teknologi yang mendasari A18 di iPhone 16. Yang menarik, Apple berhasil menahan kenaikan harga ritel tahun lalu dengan menyerap tambahan biaya tersebut—namun strategi itu mungkin tidak lagi sustainable untuk generasi mendatang.

Analis memprediksi jika Apple tidak menemukan cara efektif untuk mengkompensasi kenaikan biaya produksi, iPhone 18 dasar bisa dibanderol $50–$100 lebih mahal daripada pendahulunya. Dalam angka riil, ini berarti harga awal iPhone 18 berpotensi menembus $849 di pasar AS—sebuah level psikologis yang bisa menguji loyalitas konsumen. Namun tekanan harga ini tidak hanya dirasakan Apple. Proses node yang sama akan digunakan untuk memproduksi chip flagship Qualcomm dan MediaTek yang akan menggerakkan hampir semua ponsel Android di pasaran.

Strategi Baru Apple Hadapi Tekanan Biaya

Menghadapi tantangan ini, Apple dikabarkan sedang mempertimbangkan perubahan signifikan dalam jadwal rilis 2026. Menurut laporan yang beredar, iPhone 18 Pro dan Pro Max diharapkan tetap meluncur pada jendela waktu tradisional di musim gugur, sementara varian standar iPhone 18 mungkin tertunda hingga awal 2027. Penundaan ini bukan tanpa alasan—model standar tersebut rencananya akan diluncurkan bersamaan dengan iPhone 18e, varian yang lebih terjangkau yang diduga akan menggantikan lini SE saat ini.

Rollout bertahap seperti ini bisa menjadi strategi cerdas Apple untuk mengelola biaya produksi sekaligus memberikan ruang bagi iPhone Lipat yang telah lama dinantikan untuk bersinar. Dengan fokus pada perangkat lipat yang lebih premium, Apple mungkin bisa membenarkan struktur harga yang lebih tinggi sambil tetap mempertahankan opsi terjangkau melalui iPhone 18e.

Dilema Teknologi vs Keterjangkauan

Transisi ke proses 2nm memang menjanjikan lompatan efisiensi yang signifikan dan berpotensi menetapkan standar performa baru untuk chip mobile. Namun kemajuan teknologi ini datang dengan harga yang tidak murah—secara harfiah. Kompleksitas manufaktur yang semakin tinggi menciptakan dilema fundamental: bagaimana menjaga harga tetap terkendali sambil terus berinovasi?

Tantangan ini semakin nyata ketika melihat lanskap kompetitif saat ini. Pesaing seperti Oppo dan Xiaomi menawarkan ponsel high-end dengan harga ratusan dolar lebih murah, memaksa Apple dan Samsung untuk membenarkan setiap dolar dari harga premium mereka. Konsumen semakin kritis—mereka tidak hanya menuntut performa terbaik, tetapi juga nilai terbaik untuk uang mereka.

Perkembangan ini juga berdampak pada strategi produk Apple secara keseluruhan. Kegagalan iPhone Air menembus pasar menunjukkan bahwa konsumen tidak selalu tertarik pada setiap varian baru yang diluncurkan Apple. Perusahaan perlu lebih hati-hati dalam menempatkan produknya di tengah tekanan ekonomi global dan persaingan yang semakin ketat.

Masa Depan Industri Chip dan Dampaknya ke Konsumen

Lonjakan biaya chip 2nm TSMC bukan hanya cerita tentang Apple—ini adalah cerita tentang seluruh industri teknologi. Seiring proses manufaktur semakin mendekati batas fisika, biaya penelitian dan pengembangan meledak. TSMC sendiri diketahui mengalokasikan miliaran dolar untuk pengembangan teknologi 2nm dan 1.4nm, investasi yang pasti akan dibebankan kepada pelanggan seperti Apple, Qualcomm, dan MediaTek.

Pertanyaannya: sampai kapan konsumen bersedia membayar premium untuk inovasi teknologi? Jika rumor ini terbukti benar, lineup iPhone 2026 bisa menjadi titik balik—bukan hanya untuk desain dan performa Apple, tetapi untuk sejauh mana konsumen bersedia meregangkan anggaran mereka untuk teknologi terbaru.

Di balik semua spekulasi harga, satu hal yang pasti: pertarungan di pasar smartphone high-end akan semakin panas. Apple harus menemukan keseimbangan sempurna antara inovasi, kualitas, dan keterjangkauan—sebuah tantangan yang akan menentukan masa depan mereka di era pasca-mobile revolution. Bagaimana pendapat Anda? Apakah kenaikan harga sebesar ini masih bisa dibenarkan untuk mendapatkan teknologi terbaru?

EA Gandeng Stability AI untuk Revolusi Game dengan Teknologi AI

0

Telset.id – Bayangkan jika para seniman game bisa menciptakan dunia virtual yang menakjubkan hanya dengan beberapa perintah sederhana. Itulah masa depan yang sedang dibangun Electronic Arts melalui kemitraan strategis dengan Stability AI, sang pembuat alat generasi gambar Stable Diffusion yang legendaris. Kolaborasi ini bukan sekadar tren, melainkan langkah revolusioner yang bisa mengubah cara kita memproduksi konten game selamanya.

Dalam pengumuman resminya, EA mengungkapkan rencana untuk “mengembangkan bersama model AI transformatif, alat, dan alur kerja” khusus bagi pengembang game. Tujuannya jelas: mempercepat proses pengembangan tanpa mengorbankan kualitas. Steve Kestell, Head of Technical Art untuk EA SPORTS, menggunakan analogi yang sangat menggugah: “Saya menggunakan istilah kuas pintar. Kami memberikan alat kepada para kreator kami untuk mengekspresikan apa yang mereka inginkan.”

Fase awal kolaborasi ini akan fokus pada generasi tekstur dan aset dalam game. EA berambisi menciptakan “material Physically Based Rendering” dengan alat baru yang mampu “menghasilkan tekstur 2D yang mempertahankan akurasi warna dan cahaya yang tepat di semua lingkungan.” Yang lebih menarik lagi, perusahaan menggambarkan penggunaan AI untuk “pra-visualisasi seluruh lingkungan 3D dari serangkaian perintah yang disengaja, memungkinkan artis untuk secara kreatif mengarahkan generasi konten game.”

Ilustrasi kolaborasi EA dan Stability AI dalam pengembangan game dengan teknologi kecerdasan buatan

Stability AI memang paling terkenal dengan generator gambar Stable Diffusion yang powerful, namun perusahaan ini juga memiliki berbagai alat untuk menghasilkan model 3D. Jadi kemitraan dengan EA sama sekali tidak mengherankan. Ini seperti dua raksasa yang bertemu di puncak inovasi teknologi.

Anda mungkin bertanya-tanya: mengapa sekarang? Ternyata, AI sedang menjadi buah bibir di kalangan eksekutif video game. Strauss Zelnick, kepala Grand Theft Auto publisher Take-Two, baru-baru ini berbagi bahwa AI generatif “tidak akan mengurangi lapangan kerja, justru akan meningkatkannya,” karena “teknologi selalu meningkatkan produktivitas, yang pada gilirannya meningkatkan PDB, yang kemudian meningkatkan lapangan kerja.”

Komitmen terhadap AI bahkan lebih jelas terlihat dari Krafton, publisher PUBG: Battlegrounds, yang mengumumkan rencana pada Kamis untuk menjadi perusahaan berbasis AI pertama. Perusahaan dengan kepentingan langsung dalam kesuksesan industri AI, seperti Microsoft, juga telah menciptakan alat yang berfokus pada gaming dan mengembangkan model untuk prototyping.

Namun, motivasi EA mungkin lebih sederhana dari yang kita bayangkan. Perusahaan sedang dalam proses diambil alih secara privat, dan akan segera dibebani dengan utang miliaran dolar. Secara teoritis, memotong biaya dengan AI mungkin menjadi salah satu cara perusahaan berharap dapat bertahan dalam transisi ini. Ini seperti strategi bertahan hidup di tengah badai ekonomi yang tak terelakkan.

Lalu, bagaimana dengan masa depan kreativitas dalam industri game? Apakah AI akan menggantikan peran manusia? Justru sebaliknya. Pendekatan EA dengan “kuas pintar” ini menunjukkan bahwa AI diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti. Seperti halnya teknologi self-repair Samsung untuk layar foldable, inovasi ini bertujuan memberdayakan pengguna—dalam hal ini, para developer dan artis game.

Revolusi AI dalam gaming ini juga mengingatkan kita pada evolusi dalam industri lain. Sama seperti transformasi Ferrari menuju mobil listrik, perubahan di industri game ini tak terelakkan namun harus dilakukan dengan menjaga esensi kreativitas. Atau seperti Vivo V60 Lite yang menggabungkan desain premium dengan performa andal, kolaborasi EA-Stability AI berusaha menyeimbangkan efisiensi teknologi dengan kualitas artistik.

Yang pasti, kemitraan antara EA dan Stability AI ini menandai babak baru dalam industri game. Bukan sekadar tentang grafis yang lebih baik atau proses yang lebih cepat, melainkan tentang mendefinisikan ulang apa yang mungkin dalam kreasi digital. Dan bagi kita para gamer, ini berarti pengalaman gaming yang lebih kaya, lebih imersif, dan mungkin lebih personal daripada yang pernah kita bayangkan sebelumnya.

Perbedaan ROG Xbox Ally X & ROG Xbox Ally: Mana yang Cocok untuk Anda?

0

Telset.id – Dunia handheld gaming PC sedang mengalami revolusi, dan dua nama yang paling banyak dibicarakan adalah ROG Xbox Ally dan ROG Xbox Ally X. Dengan harga yang terpaut cukup jauh, banyak gamer Indonesia yang bertanya-tanya: apa sebenarnya perbedaan ROG Xbox Ally X & ROG Xbox Ally yang membuat harganya berbeda signifikan? Apakah upgrade ke varian X sebanding dengan tambahan investasi yang harus dikeluarkan?

Berdasarkan informasi resmi dari peluncuran di Hotel Pullman, Jakarta Barat, kedua perangkat ini memang memiliki DNA yang sama sebagai hasil kolaborasi Asus dan Microsoft. Namun, di balik kemiripan desain eksterior, tersembunyi perbedaan teknis yang cukup substansial. Muhammad Firman, Head of PR Asus Indonesia, dengan tegas menyatakan bahwa keduanya menggunakan prosesor terbaru dari AMD yang sudah dilengkapi dengan NPU (Neural Processing Unit). “Jadi, kalau ada game-game yang akan dirilis di masa depan yang sudah mendukung NPU, device ini sudah bisa memanfaatkan teknologi AI yang akan digunakan di dalam game tersebut,” ujarnya. Pernyataan ini memberikan gambaran bahwa baik Ally maupun Ally X sudah dipersiapkan untuk masa depan gaming yang lebih cerdas.

Namun, ketika kita menyelami lebih dalam, perbedaan mendasar mulai terlihat jelas. ROG Xbox Ally dibekali dengan prosesor AMD Ryzen Z2 A yang memiliki konfigurasi 4-core/8-thread dengan arsitektur Zen 2 dan GPU RDNA 2. Sementara itu, adik termudanya, ROG Xbox Ally X, datang dengan senjata yang lebih berat: AMD Ryzen AI Z2 Extreme dengan 8-core/16-thread, arsitektur Zen 5 terbaru, GPU RDNA 3.5, dan tentu saja NPU terintegrasi. Perbedaan generasi prosesor ini bukan hanya sekadar angka—ini tentang efisiensi daya, kemampuan pemrosesan paralel, dan kesiapan untuk teknologi gaming masa depan.

Performa dan Daya Tahan: Dualitas yang Menentukan

Jika Anda termasuk gamer yang sering bermain dalam durasi panjang atau menyukai game-game berat dengan grafis maksimal, maka perbedaan dalam hal RAM dan baterai menjadi pertimbangan krusial. ROG Xbox Ally standar datang dengan RAM 16GB LPDDR5X-6400 dan baterai 60Wh—spesifikasi yang cukup solid untuk gaming casual dan sesi menengah. Namun, ROG Xbox Ally X melompat lebih jauh dengan RAM 24GB LPDDR5X-8000 dan baterai 80Wh yang lebih besar.

Bayangkan Anda sedang menjelajahi dunia open-world yang luas atau terlibat dalam pertempuran multiplayer intensif. Dengan tambahan 8GB RAM dan kecepatan memori yang lebih tinggi pada Ally X, stuttering dan frame drop bisa diminimalisir secara signifikan. Belum lagi daya tahan baterai yang hampir 33% lebih lama—sebuah nilai tambah yang sangat berarti ketika Anda sedang dalam perjalanan atau tidak memiliki akses ke stopkontak. Bagi yang penasaran dengan detail spesifikasi lengkapnya, Anda bisa membaca ulasan mendalam tentang spesifikasi ROG Xbox Ally X di Telset.id.

Storage dan Konektivitas: Detail yang Membuat Perbedaan

Masih ada lagi perbedaan teknis yang mungkin tidak terlihat sekilas tetapi berdampak besar pada pengalaman penggunaan. ROG Xbox Ally standar menyediakan storage 512GB SSD PCIe 4.0 NVMe—kapasitas yang cukup untuk menginstal beberapa game AAA sekaligus. Namun, bagi kolektor game atau content creator, ROG Xbox Ally X menawarkan ruang dua kali lipat dengan SSD 1TB M.2 2280. Dalam era dimana ukuran game mudah mencapai 100-200GB per judul, perbedaan 512GB ini bisa berarti menginstal 3-5 game tambahan.

Port dan konektivitas juga menunjukkan pembedaan yang menarik. Ally X dilengkapi dengan USB4 yang mendukung Thunderbolt 4—sebuah fitur premium yang memungkinkan koneksi ke external GPU dan perangkat peripheral berkecepatan tinggi. Sementara Ally standar masih mengandalkan USB 3.2 Gen 2 yang cukup cepat namun tidak setara kemampuan Thunderbolt. Perbedaan ini mungkin tidak berarti bagi gamer biasa, tetapi menjadi nilai tambah besar bagi power user yang ingin menghubungkan handheld mereka dengan docking station atau perangkat eksternal lainnya.

Kabar baiknya, pre-order untuk kedua perangkat ini sudah resmi dibuka di Indonesia. Bagi yang tertarik untuk memesan, informasi lengkap tentang pre-order ROG Xbox Ally dengan berbagai hadiah menarik bisa Anda temukan di Telset.id. Kehadiran kedua perangkat ini memang sudah dinantikan sejak lama, dan seperti yang dilaporkan sebelumnya, ROG Xbox Ally segera hadir di Indonesia menjadi kenyataan.

Keputusan Investasi: Mana yang Lebih Tepat untuk Anda?

Dengan perbedaan spesifikasi yang cukup signifikan, muncul pertanyaan penting: apakah upgrade ke ROG Xbox Ally X sebanding dengan selisih harga Rp 5 juta? Jawabannya sangat tergantung pada profil gaming dan kebutuhan Anda. Untuk gamer casual yang terutama bermain game indie, game-game esports, atau sesi gaming pendek, ROG Xbox Ally standar dengan harga Rp 9.999.000 sudah lebih dari cukup. Performanya yang solid dikombinasikan dengan harga yang lebih terjangkau membuatnya menjadi pilihan rasional.

Namun, jika Anda adalah gamer serius yang menginginkan performa maksimal, bermain game AAA terbaru dengan setting tinggi, atau sering melakukan streaming dan konten kreatif, maka ROG Xbox Ally X dengan harga Rp 14.999.000 layak dipertimbangkan. Investasi tambahan tersebut membeli Anda bukan hanya performa hari ini, tetapi juga future-proofing untuk beberapa tahun ke depan—terutama dengan adanya NPU yang siap mendukung game-game AI-enhanced di masa datang.

Pada akhirnya, memahami perbedaan ROG Xbox Ally X & ROG Xbox Ally adalah kunci untuk membuat keputusan pembelian yang tepat. Keduanya adalah perangkat handheld gaming PC yang luar biasa, tetapi masing-masing ditujukan untuk segmen pengguna yang berbeda. Seperti memilih senjata dalam game, pilihan terbaik adalah yang paling sesuai dengan gaya bermain dan anggaran Anda. Yang jelas, dengan kehadiran kedua varian ini, gamers Indonesia sekarang memiliki lebih banyak opsi untuk mengalami gaming PC berkualitas di genggaman tangan.

Honor Power 2 Bocor, Baterai 10.000mAh dan Desain Tipis 8mm

0

Telset.id – Honor dikabarkan sedang mempersiapkan penerus lini smartphone bertenaga baterai besar mereka. Berdasarkan bocoran terbaru dari China, Honor Power 2 diprediksi akan membawa baterai berkapasitas sekitar 10.000mAh, sebuah angka yang luar biasa untuk kelas ponsel pintar. Yang lebih mengejutkan, perangkat ini diklaim memiliki ketebalan tubuh hanya sekitar 8,0 mm, menunjukkan terobosan signifikan dalam optimisasi desain dan teknologi baterai.

Bocoran tersebut mengungkap spesifikasi potensial lainnya yang tak kalah menarik. Honor Power 2 disebutkan akan mengusung layar LTPS flat dengan resolusi 1.5K, dilengkapi sensor sidik jari optik yang terintegrasi. Untuk ketahanan, bodi ponsel didesain agar tahan terhadap benturan. Performa perangkat ini akan ditopang oleh chipset MediaTek Dimensity 8500, yang hingga saat ini masih dalam tahap peluncuran.

Kehadiran Honor Power 2 ini akan melanjutkan warisan dari pendahulunya, Honor Power generasi pertama, yang diluncurkan pada April tahun ini. Generasi pertama sudah membawa baterai besar 8.000mAh dengan dukungan pengisian daya kabel 66W, sambil mempertahankan ketebalan 8mm. Ponsel tersebut juga memiliki spesifikasi mumpulan di bidang lain, seperti panel AMOLED 6,78 inci dengan refresh rate 120Hz, kecerahan puncak 4.000 nits, dan dukungan HDR. Chipset Snapdragon 7 Gen 3 menggerakkannya, dengan konfigurasi kamera belakang 50MP + 5MP dan kamera depan 16MP. Fitur menarik lainnya adalah dukungan konektivitas satelit yang tersedia pada varian berkapasitas 512GB.

Peningkatan dan Ekspektasi Fitur

Dengan landasan yang kuat dari generasi pertama, banyak yang berharap Honor Power 2 akan mewarisi dan menyempurnakan fitur-fitur unggulan tersebut. Peningkatan kapasitas baterai dari 8.000mAh menjadi 10.000mAh menjadi lonjakan yang signifikan, berpotensi menjadikannya salah satu smartphone dengan daya tahan baterai terbaik di pasaran. Kemampuan untuk mengemas baterai sebesar itu dalam bodi yang tetap ramping menunjukkan kemajuan teknologi yang dicapai oleh Honor.

Meskipun Honor belum memberikan konfirmasi resmi mengenai keberadaan atau spesifikasi Honor Power 2, waktu rilis perangkat ini diperkirakan akan jatuh pada kuartal pertama tahun 2026. Jika prediksi ini akurat, komunitas teknologi tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menyaksikan bagaimana Honor menghadirkan keseimbangan antara performa tinggi, desain elegan, dan daya tahan baterai maksimal dalam satu perangkat.

Lini produk Honor terus menunjukkan inovasi, tidak hanya pada segi perangkat keras tetapi juga perangkat lunak. Seperti yang telah diumumkan dalam jadwal resmi MagicOS 10, perusahaan berkomitmen untuk menghadirkan pengalaman pengguna yang lebih baik melalui pembaruan sistem. Integrasi yang mulus antara perangkat juga menjadi fokus, sebagaimana terlihat dalam ekosistem yang mereka bangun.

Inovasi di segi visual juga menjadi perhatian Honor, seperti yang ditawarkan oleh seri Honor 400 yang menghidupkan cerita visual dengan dukungan kecerdasan buatan. Pendekatan serupa mungkin akan diterapkan pada Honor Power 2 untuk meningkatkan kualitas fotografi dan tampilan layarnya. Tren perangkat dengan daya tahan baterai panjang semakin populer, tidak hanya di smartphone tetapi juga di perangkat wearable seperti HUAWEI WATCH GT 6 Series yang menawarkan baterai hingga 21 hari.

Kedatangan Honor Power 2 akan menjadi penanda penting dalam persaingan smartphone berdaya tahan tinggi. Dengan kombinasi baterai raksasa, desain tipis, dan chipset performa tinggi, perangkat ini berpotensi menarik minat pengguna yang mengutamakan mobilitas dan produktivitas tanpa khawatir kehabisan daya.

Harga ROG Xbox Ally X & ROG Xbox Ally Yang Baru Meluncur di Indonesia

0

Telset.id – Ingin tahu berapa harga ROG Xbox Ally X & ROG Xbox Ally yang baru saja resmi meluncur di Indonesia? Kolaborasi strategis antara Asus dan Microsoft ini bukan sekadar handheld gaming biasa, melainkan sebuah pernyataan: masa depan gaming portabel ada di sini, dan harganya mungkin akan mengejutkan Anda.

Bayangkan memiliki kekuatan konsol Xbox dalam genggaman, dengan fleksibilitas PC Windows 11 yang lengkap. Itulah janji yang dibawa oleh duo ROG Xbox Ally ini ke pasar Indonesia. Dalam peluncuran resmi di Hotel Pullman, Jakarta Barat, Kamis (23/10/2025), Asus Indonesia dengan percaya diri memamerkan kedua perangkat yang diklaim akan mengubah landscape gaming handheld di tanah air.

Muhammad Firman, Head of PR Asus Indonesia, dengan antusias menjelaskan keunggulan hardware terbaru yang mereka gunakan. “Jadi, di sisi hardware, kita menggunakan prosesor terbaru dari AMD. Dia juga merupakan prosesor AI. Dia juga sudah punya NPU. Jadi, kalau ada game-game yang akan dirilis di masa depan yang sudah mendukung NPU, device ini sudah bisa memanfaatkan teknologi AI yang akan digunakan di dalam game tersebut,” ujarnya. Pernyataan ini bukan sekadar jargon marketing, melainkan visi nyata tentang bagaimana gaming akan berevolusi dalam beberapa tahun ke depan.

Spesifikasi yang Bicara: Ally vs Ally X

Mari kita bedah kedua varian ini secara mendalam. ROG Xbox Ally hadir dengan konfigurasi yang solid untuk gaming kelas menengah. Prosesor AMD Ryzen Z2 A dengan arsitektur Zen 2 dan GPU RDNA 2, dipadukan dengan RAM 16GB LPDDR5X-6400 dan SSD 512GB, menjanjikan pengalaman gaming yang mulus untuk sebagian besar title populer. Baterai 60Wh-nya cukup untuk sesi gaming marathon yang layak.

Namun, jika Anda mencari yang terbaik dari yang terbaik, ROG Xbox Ally X-lah jawabannya. Perangkat ini benar-benar “gahar” dengan prosesor AMD Ryzen AI Z2 Extreme yang mengusung arsitektur Zen 5 terbaru, GPU RDNA 3.5, dan yang paling menarik – NPU terintegrasi. Ditambah dengan RAM 24GB LPDDR5X-8000 dan SSD 1TB yang lebih besar, serta baterai 80Wh yang lebih tahan lama, Ally X jelas ditujukan untuk gamer yang tidak mau berkompromi.

Kedua perangkat ini berbagi beberapa fitur premium yang sama, seperti layar 7 inci FHD dengan refresh rate 120Hz yang smooth, proteksi Gorilla Glass Victus, dan dukungan AMD FreeSync Premium untuk menghilangkan screen tearing. Namun, Ally X melangkah lebih jauh dengan lapisan anti-refleksi Corning DXC yang membuat gaming di outdoor menjadi lebih nyaman.

Membedah Harga: Investasi untuk Pengalaman Gaming Premium

Lenny Lin, Country Manager Asus Indonesia, akhirnya mengungkap angka yang paling ditunggu-tunggu. ROG Xbox Ally dibanderol dengan harga Rp 9.999.000, sementara varian X yang lebih powerful dihargai Rp 14.999.000. Angka ini mungkin terkesan tinggi bagi sebagian orang, tetapi ketika Anda mempertimbangkan spesifikasi dan teknologi yang ditawarkan, nilainya menjadi lebih masuk akal.

Pertanyaannya: apakah harga ROG Xbox Ally X & ROG Xbox Ally ini sebanding dengan pengalaman yang diberikan? Untuk gamer casual yang ingin menikmati game-game populer dengan performa solid, ROG Xbox Ally dengan harga di bawah Rp 10 juta mungkin sudah lebih dari cukup. Namun bagi enthusiast yang menginginkan performa puncak dan future-proof dengan teknologi AI dan NPU, investasi ekstra untuk Ally X bisa jadi keputusan yang tepat.

Ketika ROG Xbox Ally Segera Hadir di Indonesia diumumkan sebelumnya, komunitas gaming langsung heboh. Kini dengan harga resmi yang terungkap, diskusi semakin panas. Bagaimana tidak, perangkat ini menawarkan sesuatu yang langka: ekosistem Xbox yang terintegrasi sempurna dalam bentuk handheld.

Windows 11 dan Xbox Full Screen Experience

Salah satu pembeda utama duo handheld ini adalah sistem operasinya. Keduanya menjalankan Windows 11 asli, bukan sistem operasi custom seperti kebanyakan pesaing. Ini berarti Anda mendapatkan akses penuh ke library game Steam, Epic Games Store, Xbox Game Pass, dan platform PC lainnya dalam satu perangkat.

Fitur Xbox Full Screen Experience menambahkan lapisan konsol-like experience yang membuat navigasi menjadi lebih intuitif untuk gaming. Anda bisa dengan mudah mengakses Game Pass, library pribadi, dan toko Xbox tanpa harus berurusan dengan desktop Windows yang terkadang kurang optimal untuk interface touch.

Asus ROG Xbox Ally X Hadir dengan Windows FSE Eksklusif bukan sekadar fitur tambahan, melainkan inti dari pengalaman pengguna. Kombinasi antara fleksibilitas Windows dan kemudahan penggunaan konsol inilah yang membuat perangkat ini unik di pasaran.

Dari segi konektivitas, Ally X memiliki keunggulan dengan port USB4 yang mendukung Thunderbolt 4, membuka kemungkinan untuk docking station dan peripheral eksternal. Sementara Ally reguler tetap dilengkapi dengan port USB 3.2 Gen 2 yang cukup untuk kebanyakan kebutuhan.

Analisis Harga di Pasar Indonesia

Dengan banderol harga ROG Xbox Ally X & ROG Xbox Ally yang berkisar antara Rp 9,9 jutaan hingga Rp 14,9 jutaan, bagaimana posisinya di pasar handheld gaming Indonesia? Jika dibandingkan dengan konsol rumahan seperti PlayStation 5 atau Xbox Series X, harganya memang lebih tinggi. Namun, fleksibilitas sebagai perangkat gaming portabel sekaligus PC Windows memberikan nilai tambah yang signifikan.

Bagi Anda yang sudah terbiasa gaming di smartphone flagship dengan controller attachment, lompatan ke ROG Xbox Ally akan terasa seperti upgrade yang monumental. Performanya yang jauh lebih smooth dibandingkan seri sebelumnya yang rilis pada 2023, menurut klaim Firman, bukanlah omong kosong belaka.

Pertimbangan terbesar dalam memilih antara Ally dan Ally X mungkin terletak pada seberapa serius Anda dalam gaming. Jika Anda mainly bermain game-game indie atau title yang tidak terlalu demanding, Ally reguler sudah mencukupi. Namun jika Anda ingin menikmati game AAA terbaru dengan setting tinggi dan mempersiapkan diri untuk game-game AI-enhanced di masa depan, Ally X worth considering.

Kabar baiknya, Pre Order ROG Xbox Ally di Indonesia Resmi Dibuka dengan berbagai penawaran menarik. Bagi early adopter, biasanya ada bundle atau promo khusus yang membuat investasi ini semakin menarik.

Jadi, mana yang akan Anda pilih? ROG Xbox Ally dengan harga lebih terjangkau namun tetap powerful, atau ROG Xbox Ally X dengan semua bell and whistle-nya? Keputusan akhir kembali kepada kebutuhan dan budget Anda. Yang pasti, dengan kehadiran duo handheld ini, pasar gaming Indonesia semakin semarak dan pilihan untuk gamer mobile semakin beragam.

Spesifikasi ROG Xbox Ally X: Handheld Gaming Premium untuk Gamer Sejati

0

Telset.id – Bayangkan sebuah handheld gaming yang tidak hanya menjanjikan portabilitas, tetapi juga kekuatan yang sanggup membuat konsol rumahan sekalipun berpikir ulang. Itulah yang dibawa oleh Spesifikasi ROG Xbox Ally X, perangkat hasil kolaborasi visioner antara Asus dan Microsoft yang baru saja resmi menginjakkan kaki di Indonesia. Bukan sekadar upgrade biasa, Ally X hadir dengan janji pengalaman bermain game yang benar-benar mulus dan bebas kompromi, sebuah lompatan signifikan dari pendahulunya yang rilis pada 2023.

Dalam peluncurannya di Hotel Pullman, Jakarta Barat, Muhammad Firman, Head of PR Asus Indonesia, dengan penuh keyakinan memaparkan fondasi kekuatan perangkat ini. “Jadi, di sisi hardware, kita menggunakan prosesor terbaru dari AMD. Dia juga merupakan prosesor AI. Dia juga sudah punya NPU. Jadi, kalau ada game-game yang akan dirilis di masa depan yang sudah mendukung NPU, device ini sudah bisa memanfaatkan teknologi AI yang akan digunakan di dalam game tersebut,” ujarnya. Pernyataan ini bukan sekadar jargon pemasaran, melainkan sebuah penegasan bahwa Spesifikasi ROG Xbox Ally X dibangun bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk menyambut masa depan gaming.

Lantas, apa sebenarnya yang membuat Spesifikasi ROG Xbox Ally X begitu istimewa hingga pantas disebut sebagai “lebih gahar”? Mari kita selami lebih dalam jantung dari perangkat ini. Semua bermula dari prosesor AMD Ryzen AI Z2 Extreme. Ini bukan chip biasa. Dengan konfigurasi 8-core dan 16-thread yang dibangun di atas arsitektur Zen 5 terbaru, kekuatan pemrosesannya sudah setara dengan banyak laptop gaming kelas menengah. Belum lagi GPU RDNA 3.5 yang disematkan, yang menjamin visual yang lebih tajam dan efisien. Namun, keunggulan sebenarnya terletak pada Neural Processing Unit (NPU) yang terintegrasi. Fitur inilah yang menjadi pembeda utama, memungkinkan perangkat ini menangani beban komputasi AI secara khusus, sesuatu yang akan sangat berharga bagi game-game masa depan yang semakin cerdas.

Membedah Spesifikasi ROG Xbox Ally X: Dari Memori Hingga Daya Tahan

Jika prosesor adalah otaknya, maka memori adalah sistem sarafnya. Spesifikasi ROG Xbox Ally X dilengkapi dengan RAM berkapasitas 24GB tipe LPDDR5X-8000. Kapasitas yang terbilang sangat murah hati untuk sebuah handheld ini memastikan bahwa multitasking antara game berat, aplikasi, dan sistem operasi Windows 11 dapat berjalan tanpa jeda. Ruang penyimpanannya juga tak kalah mengesankan, dengan SSD M.2 1TB yang memberikan kecepatan baca/tulis ultra-cepat. Ini berarti waktu loading game akan terpangkas signifikan, dan Anda memiliki ruang yang lapang untuk mengoleksi puluhan judul game AAA sekaligus.

Bagian yang tak kalah krusial adalah daya tahan. Perangkat genggam harus bisa menemani sesi maraton gaming Anda, dan Spesifikasi ROG Xbox Ally X menjawabnya dengan baterai berkapasitas 80Wh. Kapasitas ini lebih besar dibandingkan varian Ally standar (60Wh), memberikan porsi bermain yang lebih panjang sebelum Anda harus mencari stopkontak. Kelengkapan port-nya juga lebih modern, menampilkan USB4 dengan dukungan Thunderbolt 4 untuk transfer data dan koneksi display yang super cepat, ditambah port USB-C lainnya dan pembaca microSD UHS-II.

Pengalaman Visual dan Audio yang Imersif

Layar 7 inci dengan resolusi FHD (1080p) pada Spesifikasi ROG Xbox Ally X mungkin terdaku standar, namun kualitasnya jauh dari biasa. Layar IPS ini didukung refresh rate 120Hz dan teknologi AMD FreeSync Premium, yang menghilangkan tearing dan stuttering untuk gameplay yang sangat halus. Dengan kecerahan puncak 500 nits, visual tetap jernih bahkan di bawah cahaya matahari langsung. Perlindungan Corning Gorilla Glass Victus dan lapisan anti-silau DXC memastikan layar tetap aman dan nyaman dilihat dalam berbagai kondisi.

Dunia game tidak hanya tentang apa yang Anda lihat, tetapi juga apa yang Anda dengar. Sistem audio pada Spesifikasi ROG Xbox Ally X dirancang untuk menciptakan suasana yang imersif. Dengan dukungan Dolby Atmos, suara akan terasa hidup dan berdimensi, seolah-olah Anda berada di tengah medan pertempuran. Teknologi AI noise-canceling memastikan komunikasi dengan rekan tim tetap jernih, sementara sistem speaker ganda dengan Smart Amplifier Technology menghasilkan output yang powerful tanpa distorsi.

Kehadiran Spesifikasi ROG Xbox Ally X ini tentu semakin memperkaya pilihan gamer Indonesia yang menginginkan fleksibilitas tanpa mengorbankan performa. Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, ROG Xbox Ally Segera Hadir di Indonesia, dan kini janji itu telah menjadi kenyataan. Perangkat ini, bersama saudaranya ROG Xbox Ally, menghadirkan sentuhan Xbox yang khas dalam bentuk yang portabel. Bagi mereka yang ingin pengalaman yang lebih eksklusif, ROG Xbox Ally X Hadir dengan Windows FSE Eksklusif yang dioptimalkan khusus untuk gaming.

Dengan berat 715 gram dan dimensi yang ergonomis, Spesifikasi ROG Xbox Ally X berusaha menemani kenyamanan genggaman Anda dalam sesi bermain yang panjang. Pada akhirnya, dengan harga resmi Rp 14.999.000, Asus menempatkan perangkat ini sebagai premium handheld PC gaming yang menawarkan paket komplit: performa terdepan, kenyamanan penggunaan, dan kesiapan menghadapi evolusi teknologi game. Ini bukan sekadar gadget; ini adalah pernyataan bahwa masa depan gaming ada di genggaman tangan Anda.