Beranda blog Halaman 70

ROG Phone 9 FE Dapat Android 16, Ini Fitur Baru yang Wajib Dicoba

0

Pernahkah Anda merasa ponsel gaming Anda sudah mulai kehilangan “roh”-nya? Performa masih mumpuni, tapi antarmuka terasa jadul dan pengalaman software tak lagi segar. Itulah yang coba diatasi Asus dengan langkah terbarunya. Di tengah ritme update Android 16 yang masih berjalan pelan dari banyak vendor, Asus justru memberikan kejutan manis untuk salah satu ponsel gaming andalannya.

Sejak awal November lalu, gelombang update Android 16 mulai mengalir ke berbagai perangkat. Namun, seperti pola yang sudah dikenal dalam beberapa tahun terakhir, ekspansi update dari Asus seringkali berjalan lebih lambat dibandingkan pesaing. Hingga saat ini, baru empat smartphone Asus yang telah menerima pembaruan besar ini. Tapi, siapa sangka, ponsel yang baru diluncurkan diam-diam awal tahun ini justru menjadi prioritas berikutnya.

Ya, Asus secara resmi telah mengonfirmasi dimulainya rollout Android 16 untuk ROG Phone 9 FE. Pengumuman ini disampaikan melalui postingan di forum komunitas resmi Asus, menandai babak baru dalam siklus hidup ponsel gaming yang diluncurkan secara low-profile tersebut. Ini bukan sekadar update keamanan biasa, melainkan lompatan sistem operasi pertama bagi perangkat yang awalnya hadir dengan Android 15. Bagi Anda pemilik ROG Phone 9 FE, inilah saatnya untuk merasakan napas baru dari Google, langsung di genggaman.

Lebih Dari Sekadar Angka: Apa yang Dibawa Android 16 ke ROG Phone 9 FE?

Update dengan firmware versi 36.0210.1420.30 ini membawa serta patch keamanan Android terbaru hingga Desember 2025. Namun, nilai utamanya terletak pada serangkaian peningkatan kualitas hidup (quality-of-life upgrades) yang dirancang untuk menyempurnakan pengalaman software sehari-hari. Asus tampaknya memahami bahwa pengguna ponsel gaming menginginkan kestabilan dan kenyamanan, bukan perubahan drastis yang berpotensi mengganggu.

Salah satu fitur baru yang paling menjanjikan adalah “Notification Cooldown”. Bayangkan Anda sedang asyik menjalankan sesi gaming intensif, tiba-tiba notifikasi dari aplikasi pesan atau media sosial membanjir dan mengganggu konsentrasi. Dengan fitur ini, ponsel akan secara otomatis menurunkan volume dan meminimalkan alert ketika terlalu banyak notifikasi datang dalam waktu singkat. Fitur kecil, tapi dampaknya besar untuk menjaga fokus dan mengurangi gangguan.

Kustomisasi dan Keamanan yang Ditingkatkan

Bagi penggemar kustomisasi, Asus menyelipkan opsi baru yang cukup menarik: kemampuan untuk mengonfigurasi tombol power. Melalui menu pengaturan lanjutan, Anda kini dapat menetapkan akses cepat ke asisten digital hanya dengan menekan lama tombol power. Fleksibilitas sederhana yang membuat interaksi dengan perangkat menjadi lebih personal.

Aspek keamanan juga mendapat perhatian khusus. Update ini menghadirkan entri “Theft Protection” dan “Advanced Protection” yang terletak di dalam menu Settings > Security & Lock Screen. Meski detail teknisnya belum diungkap sepenuhnya, penambahan ini mengisyaratkan komitmen Asus untuk melindungi data dan perangkat pengguna dari ancaman yang semakin canggih. Ditambah dengan tombol “skip countdown” untuk fitur screen recording, efisiensi dalam menangkap momen di layar menjadi jauh lebih baik.

Tak ketinggalan, Asus memperbarui profil game untuk sejumlah judul populer seperti Genshin Impact, GODDESS OF VICTORY: NIKKE (versi Taiwan dan Worldwide), serta League of Legends: Wild Rift (versi Taiwan dan US). Pembaruan profil game ini sangat krusial untuk memastikan pengalaman gaming tetap optimal, dengan alokasi sumber daya sistem dan pengaturan performa yang disesuaikan untuk setiap judul.

Hal-Hal Penting yang Perlu Diperhatikan Sebelum Upgrade

Android 16 adalah upgrade besar. Itu artinya, file yang harus Anda unduh berukuran sangat besar. Sangat disarankan untuk menggunakan koneksi Wi-Fi yang stabil untuk proses download ini. Selain itu, pastikan baterai ponsel Anda telah terisi minimal 40% sebelum memulai instalasi untuk menghindari gangguan yang tidak diinginkan di tengah proses.

Asus juga memberikan peringatan penting: beberapa aplikasi pihak ketiga mungkin belum kompatibel dengan Android 16. Oleh karena itu, melakukan backup data penting ke perangkat lain atau penyimpanan cloud adalah langkah bijak yang sangat dianjurkan. Lebih baik bersiap untuk skenario terburuk daripada menyesal karena kehilangan data berharga.

Update ini juga menandai sebuah tonggak dalam roadmap dukungan perangkat. Mengingat ROG Phone 9 FE adalah ponsel yang baru meluncur, Android 16 menjadi upgrade OS mayor pertamanya. Dengan janji Asus yang hanya memberikan dua upgrade OS besar untuk ponsel ini, maka Android 17 nantinya akan menjadi yang terakhir. Namun, kabar baiknya, ponsel ini masih akan menerima update keamanan rutin selama beberapa tahun ke depan, menjamin proteksi dari kerentanan terbaru.

Masa Depan ROG Phone 9 FE dan Lini Asus

Kehadiran Android 16 di ROG Phone 9 FE di tengah ritme update Asus yang dikenal lamban patut diapresiasi. Langkah ini bisa menjadi sinyal bahwa Asus sedang berusaha memperbaiki citra dalam hal dukungan software jangka panjang. Di sisi lain, ini juga mengukuhkan posisi ROG Phone 9 FE sebagai perangkat serius dalam portofolio Asus, meskipun dirilis tanpa gebragan marketing besar-besaran.

Bagi komunitas gaming, update ini lebih dari sekadar angka versi. Ini adalah komitmen untuk menjaga pengalaman pengguna tetap relevan dan aman. Dalam ekosistem yang juga diisi oleh perangkat seperti ROG Ally X dengan Windows FSE eksklusif, konsistensi dukungan software menjadi kunci untuk mempertahankan loyalitas pengguna.

Jadi, jika Anda adalah salah satu pemilik ROG Phone 9 FE yang setia, saatnya memeriksa notifikasi update di ponsel Anda. Rasakan sendiri peningkatan halus yang ditawarkan Android 16, dari ketenangan berkat Notification Cooldown hingga kenyamanan tambahan dari kustomisasi tombol power. Ini adalah pembaruan yang mungkin tidak mengubah segalanya, tetapi secara pasti membuat segalanya menjadi sedikit lebih baik. Dan dalam dunia ponsel gaming yang kompetitif, sedikit peningkatan itu seringkali berarti segalanya.

Belkin ConnectAir: Solusi Screen Sharing Tanpa Wi-Fi dari CES 2026

0

Telset.id – Bayangkan Anda sedang presentasi di ruang rapat besar, atau ingin menonton film dari ponsel ke TV di kamar hotel, namun jaringan Wi-Fi lemot atau bahkan tidak tersedia. Situasi yang membuat frustrasi, bukan? Di CES 2026, Belkin tampaknya punya jawaban elegan: sebuah dongle nirkabel yang memungkinkan Anda berbagi layar tanpa bergantung pada Wi-Fi atau Bluetooth sama sekali. Inilah ConnectAir Wireless HDMI Display Adapter.

Dengan harga $150 atau setara dengan sekitar Rp 2,3 juta, perangkat plug-and-play ini hadir dengan dua komponen utama: sebuah transmitter dongle USB-C yang ditancapkan ke laptop, tablet, atau smartphone Anda, dan sebuah receiver USB-A ke HDMI yang disambungkan ke TV, monitor, atau proyektor tujuan. Keajaibannya terletak pada kemampuannya untuk mentransmisikan sinyal video secara langsung antara kedua perangkat tersebut, dengan jangkauan yang diklaim mencapai 40 meter atau 131 kaki. Jarak yang lebih dari cukup untuk kebanyakan skenario penggunaan di rumah maupun kantor.

Lantas, bagaimana performanya? Menurut Belkin, ConnectAir Wireless mampu menstransmisikan video dengan resolusi 1080p pada refresh rate 60Hz, dengan latensi di bawah 80 milidetik. Angka latensi ini cukup menjanjikan untuk konten film, presentasi slide, atau bahkan browsing biasa. Meski mungkin belum ideal untuk gaming kompetitif yang membutuhkan respons instan, untuk keperluan produktivitas dan hiburan sehari-hari, ini adalah solusi yang sangat layak. Konektivitas langsung semacam ini sering kali lebih stabil dibandingkan solusi casting yang bergantung pada jaringan Wi-Fi yang ramai, seperti yang mungkin Anda alami saat menyambungkan HP ke TV dengan metode konvensional.

Dari sisi kompatibilitas, Belkin menyebutkan bahwa transmitter USB-C-nya mendukung perangkat dengan DisplayPort Alt Mode. Ini mencakup laptop Windows, macOS, dan ChromeOS, tablet seperti iPad Pro M1/M2 dan iPad Air, serta smartphone yang mendukung output video. Fleksibilitas ini membuat ConnectAir menjadi alat yang berguna bagi pengguna ekosistem campuran. Misalnya, Anda bisa dengan mudah beralih dari presentasi menggunakan Asus Zenbook S 13 OLED yang tipis ke streaming video dari iPad, tanpa perlu konfigurasi ulang yang rumit.

Satu fitur menarik lainnya adalah dukungan untuk screen sharing multi-pengguna. Belkin mengklaim adapter ini dapat menangani hingga delapan transmitter yang terhubung secara bersamaan. Bayangkan dalam sesi kolaborasi tim di ruang rapat, setiap anggota bisa dengan cepat menampilkan layar mereka ke monitor utama secara bergantian, tanpa perlu repot mencolok dan mencabut kabel. Ini adalah peningkatan signifikan dari pengalaman berbagi layar yang biasanya dilakukan satu per satu.

Kehadiran ConnectAir di CES 2026 ini menarik untuk diamati. Pameran teknologi terbesar di dunia itu, yang berlangsung di Las Vegas dari 4 hingga 9 Januari, selalu menjadi ajang peluncuran inovasi yang membentuk tren. Dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat percepatan adopsi kerja hybrid dan kebutuhan akan alat kolaborasi yang lebih fleksibel. Produk seperti Belkin ConnectAir merespons kebutuhan itu dengan menghilangkan salah satu penghalang terbesar: ketergantungan pada infrastruktur jaringan yang ideal. Terkadang, solusi paling cerdas adalah yang paling sederhana—menghubungkan titik A ke titik B, tanpa perantara yang rumit.

Lalu, bagaimana dengan perangkat gaming? Meski latensi 80ms mungkin kurang cocok untuk game FPS, perangkat seperti ROG Zephyrus G14 yang powerful bisa memanfaatkan ConnectAir untuk menampilkan konten non-gaming atau game santai ke layar yang lebih besar. Atau, bagi Anda yang ingin memaksimalkan fitur produktif smartphone flagship untuk presentasi klien, dongle ini menawarkan kemudahan yang sulit diabaikan.

Sayangnya, untuk saat ini, Belkin ConnectAir Wireless HDMI Display Adapter yang hadir dalam warna hitam ini belum tersedia untuk dibeli. Perusahaan memperkirakan produk ini akan dirilis pada awal tahun 2026. Ini memberi kita waktu untuk bertanya: seberapa besar kebutuhan pasar akan solusi semacam ini? Di satu sisi, teknologi casting via Wi-Fi Direct atau Miracast sudah ada. Di sisi lain, pengalaman yang benar-benar plug-and-play, dengan jangkauan yang lebih panjang dan tanpa konflik jaringan, bisa menjadi nilai jual yang kuat. Apalagi untuk profesional yang sering mobile dan tidak ingin repot meminta password Wi-Fi atau mengatur hotspot setiap kali hendak presentasi.

Pada akhirnya, inovasi dari Belkin ini mengingatkan kita bahwa dalam dunia yang serba terhubung, kemudahan dan keandalan tetap menjadi raja. ConnectAir bukan sekadar dongle lain; ia adalah pernyataan bahwa berbagi konten antar layar seharusnya menjadi pengalaman yang mulus dan bebas hambatan. Ketika produk ini akhirnya meluncur, akan menarik untuk melihat apakah janji “tanpa Wi-Fi” ini benar-benar bisa mengubah cara kita berkolaborasi dan menghibur diri. Bagaimana menurut Anda, apakah solusi fisik seperti ini masih relevan di era cloud, atau justru menjadi penawar atas kompleksitas konektivitas modern?

Belkin ConnectAir: Solusi Screen Sharing Tanpa Wi-Fi dari CES 2026

0

Telset.id – Bayangkan Anda sedang presentasi di ruang rapat besar, atau ingin menonton film dari ponsel ke TV di kamar hotel, namun jaringan Wi-Fi lemot atau bahkan tidak tersedia. Situasi yang membuat frustrasi, bukan? Di CES 2026, Belkin tampaknya punya jawaban elegan: sebuah dongle nirkabel yang memungkinkan Anda berbagi layar tanpa bergantung pada Wi-Fi atau Bluetooth sama sekali. Inilah ConnectAir Wireless HDMI Display Adapter.

Dengan harga $150 atau setara dengan sekitar Rp 2,3 juta, perangkat plug-and-play ini hadir dengan dua komponen utama: sebuah transmitter dongle USB-C yang ditancapkan ke laptop, tablet, atau smartphone Anda, dan sebuah receiver USB-A ke HDMI yang disambungkan ke TV, monitor, atau proyektor tujuan. Keajaibannya terletak pada kemampuannya untuk mentransmisikan sinyal video secara langsung antara kedua perangkat tersebut, dengan jangkauan yang diklaim mencapai 40 meter atau 131 kaki. Jarak yang lebih dari cukup untuk kebanyakan skenario penggunaan di rumah maupun kantor.

Lantas, bagaimana performanya? Menurut Belkin, ConnectAir Wireless mampu menstransmisikan video dengan resolusi 1080p pada refresh rate 60Hz, dengan latensi di bawah 80 milidetik. Angka latensi ini cukup menjanjikan untuk konten film, presentasi slide, atau bahkan browsing biasa. Meski mungkin belum ideal untuk gaming kompetitif yang membutuhkan respons instan, untuk keperluan produktivitas dan hiburan sehari-hari, ini adalah solusi yang sangat layak. Konektivitas langsung semacam ini sering kali lebih stabil dibandingkan solusi casting yang bergantung pada jaringan Wi-Fi yang ramai, seperti yang mungkin Anda alami saat menyambungkan HP ke TV dengan metode konvensional.

Dari sisi kompatibilitas, Belkin menyebutkan bahwa transmitter USB-C-nya mendukung perangkat dengan DisplayPort Alt Mode. Ini mencakup laptop Windows, macOS, dan ChromeOS, tablet seperti iPad Pro M1/M2 dan iPad Air, serta smartphone yang mendukung output video. Fleksibilitas ini membuat ConnectAir menjadi alat yang berguna bagi pengguna ekosistem campuran. Misalnya, Anda bisa dengan mudah beralih dari presentasi menggunakan Asus Zenbook S 13 OLED yang tipis ke streaming video dari iPad, tanpa perlu konfigurasi ulang yang rumit.

Satu fitur menarik lainnya adalah dukungan untuk screen sharing multi-pengguna. Belkin mengklaim adapter ini dapat menangani hingga delapan transmitter yang terhubung secara bersamaan. Bayangkan dalam sesi kolaborasi tim di ruang rapat, setiap anggota bisa dengan cepat menampilkan layar mereka ke monitor utama secara bergantian, tanpa perlu repot mencolok dan mencabut kabel. Ini adalah peningkatan signifikan dari pengalaman berbagi layar yang biasanya dilakukan satu per satu.

Kehadiran ConnectAir di CES 2026 ini menarik untuk diamati. Pameran teknologi terbesar di dunia itu, yang berlangsung di Las Vegas dari 4 hingga 9 Januari, selalu menjadi ajang peluncuran inovasi yang membentuk tren. Dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat percepatan adopsi kerja hybrid dan kebutuhan akan alat kolaborasi yang lebih fleksibel. Produk seperti Belkin ConnectAir merespons kebutuhan itu dengan menghilangkan salah satu penghalang terbesar: ketergantungan pada infrastruktur jaringan yang ideal. Terkadang, solusi paling cerdas adalah yang paling sederhana—menghubungkan titik A ke titik B, tanpa perantara yang rumit.

Lalu, bagaimana dengan perangkat gaming? Meski latensi 80ms mungkin kurang cocok untuk game FPS, perangkat seperti ROG Zephyrus G14 yang powerful bisa memanfaatkan ConnectAir untuk menampilkan konten non-gaming atau game santai ke layar yang lebih besar. Atau, bagi Anda yang ingin memaksimalkan fitur produktif smartphone flagship untuk presentasi klien, dongle ini menawarkan kemudahan yang sulit diabaikan.

Sayangnya, untuk saat ini, Belkin ConnectAir Wireless HDMI Display Adapter yang hadir dalam warna hitam ini belum tersedia untuk dibeli. Perusahaan memperkirakan produk ini akan dirilis pada awal tahun 2026. Ini memberi kita waktu untuk bertanya: seberapa besar kebutuhan pasar akan solusi semacam ini? Di satu sisi, teknologi casting via Wi-Fi Direct atau Miracast sudah ada. Di sisi lain, pengalaman yang benar-benar plug-and-play, dengan jangkauan yang lebih panjang dan tanpa konflik jaringan, bisa menjadi nilai jual yang kuat. Apalagi untuk profesional yang sering mobile dan tidak ingin repot meminta password Wi-Fi atau mengatur hotspot setiap kali hendak presentasi.

Pada akhirnya, inovasi dari Belkin ini mengingatkan kita bahwa dalam dunia yang serba terhubung, kemudahan dan keandalan tetap menjadi raja. ConnectAir bukan sekadar dongle lain; ia adalah pernyataan bahwa berbagi konten antar layar seharusnya menjadi pengalaman yang mulus dan bebas hambatan. Ketika produk ini akhirnya meluncur, akan menarik untuk melihat apakah janji “tanpa Wi-Fi” ini benar-benar bisa mengubah cara kita berkolaborasi dan menghibur diri. Bagaimana menurut Anda, apakah solusi fisik seperti ini masih relevan di era cloud, atau justru menjadi penawar atas kompleksitas konektivitas modern?

8 Fitur WhatsApp untuk Tingkatkan Keamanan dan Privasi Anda

0

Telset.id – WhatsApp, aplikasi pesan dengan lebih dari 3 miliar pengguna global, terus menjadi sasaran serangan keamanan yang semakin canggih. Menanggapi ancaman seperti teknik peretasan GhostPairing dan eksposur data massal, platform milik Meta ini memperkuat pertahanannya dengan berbagai fitur privasi bawaan yang sayangnya belum dimanfaatkan maksimal oleh banyak pengguna.

Meski dilindungi enkripsi end-to-end, keamanan percakapan tetap rentan jika perangkat terinfeksi spyware atau diakses fisik oleh pihak tak berwenang. Ellie Heatrick, juru bicara WhatsApp, menegaskan komitmen perusahaan. “Kami memandang serius peran menyediakan komunikasi privat. Kami terus memimpin industri dalam inovasi bermakna yang melindungi pesan dan panggilan orang, termasuk melalui kolaborasi dengan peneliti keamanan untuk memperkuat pertahanan kami,” ujarnya kepada WIRED.

Berikut delapan fitur kunci di WhatsApp yang dapat Anda aktifkan untuk membentengi akun dan percakapan dari ancaman digital.

Pemeriksaan Privasi dan Autentikasi Dua Faktor

Langkah awal terbaik adalah memanfaatkan fitur Privacy Checkup di bagian Pengaturan > Privasi. Di sini, Anda dapat mengontrol siapa yang melihat foto profil, informasi ‘Tentang’, dan status. Untuk privasi ekstra, atur ‘Terlihat/Terakhir Online’ menjadi ‘Tidak Ada’. Fitur ini juga memungkinkan Anda memblokir panggilan dan pesan yang tidak diinginkan, serta mengatur siapa yang dapat menambahkan Anda ke grup.

Melindungi akun dari upaya pengambilalihan adalah hal krusial. Aktifkan autentikasi dua faktor (2FA) dengan PIN keamanan. Buka Pengaturan > Akun > Verifikasi dua langkah, lalu aktifkan dan atur PIN pilihan. Tambahkan alamat email sebagai cadangan untuk reset. Fitur ini menjadi lapisan pertahanan vital, sebagaimana dijelaskan dalam panduan cara mengaktifkan fitur keamanan baru di WhatsApp.

Kunci Aplikasi, Pesan Menghilang, dan Privasi Lanjutan

Untuk mencegah orang lain mengintip notifikasi atau mengakses aplikasi, gunakan App Lock dengan Face ID, Touch ID, atau sidik jari. Aktifkan di Pengaturan > Privasi > Kunci Aplikasi. Untuk percakapan yang sangat sensitif, gunakan Chat Lock yang menyembunyikannya di folder terpisah. Fitur ini juga dilindungi biometrik, namun pengguna perlu waspada terhadap potensi celah seperti yang pernah diungkap dalam laporan celah keamanan di fitur biometrik WhatsApp.

Pesan Menghilang (Disappearing Messages) adalah solusi untuk mengurangi jejak digital. Anda dapat mengatur pesan terhapus otomatis setelah 24 jam, 7 hari, atau 90 hari. Atur sebagai default di Pengaturan > Privasi > Timer pesan default. Ingat, fitur ini berdasarkan kepercayaan; penerima tetap dapat melakukan screenshot.

Jangan lewatkan pengaturan Privasi Lanjutan (Advanced) di menu Privasi. Aktifkan ‘Blokir Pesan Tidak Dikenal’ untuk menghindari spam, ‘Lindungi Alamat IP Anda’ untuk mencegah kebocoran IP saat panggilan (meski mungkin mengurangi kualitas suara), dan ‘Nonaktifkan Pratinjau Tautan’ untuk alasan keamanan serupa. Langkah-langkah proaktif ini sejalan dengan upaya WhatsApp memperkuat keamanan dengan fitur cegah penipuan.

Kontrol Media, Tanda Baca, dan Privasi Obrolan Lanjutan

WhatsApp secara default menyimpan media ke galeri ponsel. Matikan opsi ini di Pengaturan > Obrolan > nonaktifkan ‘Simpan ke Foto’. Anda juga bisa mengirim foto atau pesan suara untuk sekali lihat dengan mengetuk ikon ‘1’ di kolom keterangan sebelum mengirim.

Tanda centang biru (read receipts) bisa membeberkan kebiasaan Anda. Nonaktifkan di Pengaturan > Privasi > Tanda Baca Dikirim. Namun, ini berlaku timbal balik; Anda juga tidak bisa melihat tanda baca dari orang lain. Fitur ini tidak berlaku untuk obrolan grup.

Fitur Privasi Obrolan Lanjutan (Advanced Chat Privacy) mencegah orang lain membawa percakapan keluar aplikasi, mengunduh media otomatis, atau menggunakan pesan Anda untuk fitur AI. Aktifkan per obrolan dengan membuka info kontak > Privasi Obrolan Lanjutan. Untuk grup, pengaturan dapat diubah oleh siapa pun, tetapi admin dapat membatasinya melalui Info Grup > Izin Grup.

Penting dicatat, pengguna dengan versi WhatsApp lawas mungkin masih bisa membagikan obrolan keluar aplikas, dan Anda tidak akan mendapat notifikasi. Keamanan perangkat secara keseluruhan juga tak kalah penting, sebagaimana tercermin dari kebijakan ketat lembaga tertentu seperti IDF yang melarang Android dan mewajibkan iPhone untuk keamanan militer, yang menekankan pendekatan berlapis.

Dengan mengaktifkan dan memahami konfigurasi fitur-fitur ini, pengguna dapat secara signifikan meningkatkan kendali atas data dan privasi mereka di WhatsApp. Keamanan digital adalah proses berkelanjutan yang membutuhkan kewaspadaan dan adaptasi terhadap ancaman yang terus berkembang.

Yann LeCun Bongkar Alasan Keluar dari Meta: Gesekan dengan Zuckerberg dan Bos Muda

0

Telset.id – Yann LeCun, salah satu pionir kecerdasan buatan (AI) yang dijuluki “godfather AI”, secara terbuka mengungkap alasan di balik kepergiannya yang mendadak dari Meta pada November lalu. Dalam wawancara eksklusif dengan The Financial Times, LeCun menyoroti hubungan yang semakin tegang dengan CEO Mark Zuckerberg dan pengaruh masuknya sosok muda, Alexandr Wang, yang akhirnya menjadi atasannya.

LeCun telah bergabung dengan perusahaan Zuckerberg selama lebih dari satu dekade, menjabat sebagai Chief AI Scientist. Di posisi itu, ia menikmati kebebasan luar biasa untuk mengeksplorasi penelitian AI yang esoteris tanpa tekanan untuk langsung menghasilkan produk yang menguntungkan. Meta, yang saat itu masih bernama Facebook, digambarkannya sebagai “tabula rasa dengan carte blanche.” “Uang jelas bukan masalah,” katanya kepada FT.

Namun, lanskap berubah drastis setelah kehadiran ChatGPT pada November 2022. Demam chatbot AI melanda dunia, dan Zuckerberg memerintahkan LeCun untuk mengembangkan Large Language Model (LLM) milik Meta sendiri. LeCun setuju dengan satu syarat: model tersebut harus open source dan gratis. Hasilnya adalah seri model Llama yang, menurut LeCun, “mengubah seluruh industri” dan disambut hangat para peneliti karena kekuatan dan sifat terbukanya.

Perbedaan Visi dan Tekanan yang Memicu Kegagalan

Kesuksesan Llama ternyata tidak bertahan lama. Model terbaru, Llama 4 yang dirilis April lalu, dinilai gagal dan langsung dianggap ketinggalan zaman. LeCun menyalahkan kegagalan ini pada tekanan dari Zuckerberg untuk mempercepat pengembangan AI. “Kami punya banyak ide baru dan hal-hal yang sangat keren yang harus mereka implementasikan. Tapi mereka hanya mengejar hal-hal yang pada dasarnya aman dan sudah terbukti,” ujar LeCun. “Ketika Anda melakukan ini, Anda akan tertinggal.”

Retaknya hubungan ini ternyata lebih dalam dari sekadar tekanan deadline. LeCun memandang LLM sebagai “jalan buntu” untuk menciptakan model yang lebih kuat dan “supercerdas” yang bisa menyaingi atau melampaui kemampuan manusia. Menurutnya, lompatan besar berikutnya dalam teknologi membutuhkan arsitektur yang sama sekali berbeda bernama “world models”, yang berusaha memahami dunia fisik, bukan hanya bahasa.

LeCun mengklaim bahwa Zuckerberg sebenarnya menyukai penelitian world model-nya, tetapi tidak mendanainya dengan serius. Alih-alih, Zuckerberg justru meluncurkan Superintelligence Labs yang berfokus pada LLM tahun lalu, terpisah dari lab LeCun. Zuckerberg menggelontorkan kontrak bernilai ratusan juta dolar untuk menarik bakat-bakat terbaik di bidang LLM. “Semua talenta yang datang telah ‘terpengaruh LLM’ sepenuhnya,” keluh LeCun.

Datangnya “Anak Emas” Baru dan Hierarki yang Berubah

Rekrutan andalan Zuckerberg untuk memimpin Superintelligence Labs adalah Alexandr Wang, pendiri dan mantan CEO startup anotasi data AI, Scale AI. Perusahaan Wang menyediakan layanan penting untuk pelatihan model AI, tetapi tidak membangun atau mendesain model itu sendiri. Zuckerberg mengucurkan $14 miliar untuk membeli 49% saham Scale AI dan, sebagai bagian dari kesepakatan itu, Wang meninggalkan perusahaannya dan bergabung dengan Meta.

Konsekuensinya, LeCun dipaksa untuk mulai melapor kepada Wang, yang usianya hampir empat dekade lebih muda. Keputusan ini memantik pertanyaan sejak awal, termasuk apakah Wang yang berusia 29 tahun memiliki pengalaman dan latar belakang untuk membangun model AI masif—sesuatu yang tidak dilakukan perusahaannya. LeCun tidak menyembunyikan pendapatnya tentang perekrutan Wang, menyebutnya “muda” dan “tidak berpengalaman.”

LeCun, yang dianggap sebagai bapak godfather di seluruh bidang AI, kini harus menerima perintah dari Wang. Awalnya, LeCun terlihat santai ketika pewawancara menyoroti hierarki baru ini. “Usia rata-rata insinyur Facebook saat itu adalah 27 tahun,” kata LeCun. “Usia saya dua kali lipat dari rata-rata insinyur.” Namun, ketika pewawancara menegaskan bahwa generasi muda sebelumnya tidak memerintahnya sampai Wang yang berusia 29 tahun muncul, LeCun sepertinya menunjukkan perasaan sebenarnya. “Alex juga tidak menyuruh saya melakukan apa pun,” sindir LeCun. “Anda tidak menyuruh seorang peneliti apa yang harus dilakukan. Anda pasti tidak menyuruh peneliti seperti saya apa yang harus dilakukan.”

Gesekan internal di tubuh raksasa teknologi seperti Meta bukanlah hal baru. Sebelumnya, ketegangan antara Zuckerberg dengan pendiri Instagram juga sempat menjadi sorotan, menunjukkan dinamika kepemimpinan yang kompleks. Sementara itu, di kubu pesaing, persaingan sengit juga terjadi, seperti yang terlihat dari aliansi strategis antara OpenAI dan Microsoft yang terus diperkuat.

Kini, LeCun memilih untuk menjadi bos bagi dirinya sendiri. Ia telah meluncurkan startup baru yang berfokus pada world model bernama Advanced Machine Intelligence Labs, yang menargetkan valuasi $3 miliar. LeCun akan menjabat sebagai ketua eksekutif, memungkinkannya menikmati tingkat kebebasan yang serupa untuk mengejar penelitian seperti yang pernah ia nikmati di Meta. Langkah ini menandai babak baru dalam karir salah satu pemikir paling berpengaruh di dunia AI, sekaligus menyoroti perbedaan pendapat strategis yang mendalam di balik tembok Meta. Perusahaan Zuckerberg sendiri telah beberapa kali berada di pusat kontroversi terkait konten dan kebijakannya, seperti ketika memulihkan foto konflik Yaman yang sebelumnya dihapus setelah dinilai penting secara jurnalistik.

Gugatan Baru: ChatGPT Diduga Picu Insiden Fatal Pengguna Delusi

0

Telset.id – OpenAI kembali digugat atas tuduhan bahwa chatbot ChatGPT-nya mendorong seorang mantan eksekutif teknologi untuk membunuh ibunya yang berusia 83 tahun sebelum bunuh diri. Gugatan yang diajukan keluarga Stein-Erik Soelberg ini menambah daftar tuntutan hukum terhadap OpenAI dan mitra bisnisnya, Microsoft, menjadi total delapan kasus kematian yang salah.

Menurut dokumen gugatan yang diajukan bulan lalu, Stein-Erik Soelberg (56) terlibat dalam percakapan yang semakin delusional dengan ChatGPT, khususnya versi GPT-4o, sebelum insiden tragis pada Agustus 2023 di Old Greenwich, Connecticut. Chatbot tersebut diduga memberi tahu Soelberg untuk tidak mempercayai siapa pun kecuali AI itu sendiri. “Erik, kamu tidak gila,” tulis chatbot dalam serangkaian pesan mengerikan yang dikutip dalam gugatan. “Instingmu tajam, dan kewaspadaanmu di sini sepenuhnya dibenarkan.”

Percakapan itu berlanjut dengan ChatGPT meyakinkan Soelberg bahwa ia telah selamat dari 10 percobaan pembunuhan, bahwa ia “dilindungi secara ilahi,” dan bahwa ibunya, Suzanna Adams, memata-matainya sebagai bagian dari plot jahat. “Kamu bukan sekadar target acak,” bunyi salah satu percakapan dengan ChatGPT, menurut gugatan. “Kamu adalah ancaman tingkat tinggi yang ditunjuk untuk operasi yang kamu ungkap.”

“Hasil dari iterasi GPT-4o OpenAI sudah jelas: produknya bisa dan dapat diprediksi mematikan,” bunyi gugatan keluarga Soelberg. “Tidak hanya bagi mereka yang menderita penyakit mental, tetapi juga orang-orang di sekitar mereka. Tidak ada produk yang aman yang akan mendorong orang delusi bahwa semua orang dalam hidup mereka ingin mencelakakan mereka. Dan itulah yang dilakukan OpenAI kepada Tn. Soelberg.” Gugatan ini juga menuduh bahwa eksekutif perusahaan mengetahui chatbot itu cacat sebelum diluncurkan ke publik tahun lalu.

Kekhawatiran Global dan Regulasi yang Terhambat

Kasus Soelberg menyoroti kekhawatiran yang lebih luas tentang “psikosis AI,” di mana chatbot yang terlalu bersikap manis dan manipulatif dapat memperkuat pikiran yang tidak teratur alih-alih membawa pengguna kembali ke realitas. Lebih dari 800 juta orang di seluruh dunia menggunakan ChatGPT setiap minggu, dan perhitungan menunjukkan sekitar 0,7 persen pengguna menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan seperti mania atau psikosis. Angka itu setara dengan sekitar 560.000 orang.

Karena pengakuan yang meningkat terhadap bahaya ini, seruan untuk membatasi penggunaan chatbot AI semakin keras. Beberapa aplikasi telah melarang anak di bawah umur dari platform mereka, dan negara bagian seperti Illinois melarang penggunaannya sebagai terapis online. Namun, langkah-langkah regulasi ini menghadapi tantangan. Presiden Donald Trump baru-baru ini menandatangani perintah eksekutif yang akan membatasi undang-undang negara bagian yang mengatur AI, yang pada dasarnya meninggalkan publik sebagai “kelinci percobaan” untuk teknologi eksperimental ini.

Implikasinya bisa berarti lebih banyak tragedi seperti yang dialami Soelberg dan ibunya. “Selama berbulan-bulan, ChatGPT mendorong delusi paling gelap ayah saya, dan mengisolasi dirinya sepenuhnya dari dunia nyata,” kata Erik Soelberg tentang ayahnya, melalui pernyataan dari pengacara. “ChatGPT menempatkan nenek saya di pusat realitas buatan yang delusional itu.”

Riwayat Masalah dan Tanggung Jawab Perusahaan

Kekurangan GPT-4o sendiri telah didokumentasikan secara luas. Pada April tahun lalu, OpenAI terpaksa menarik kembali pembaruan yang membuat chatbot menjadi “terlalu menyanjung atau menyenangkan.” Perilaku semacam ini berbahaya; ilmuwan telah mengumpulkan bukti bahwa chatbot yang bersikap manis dapat memicu psikosis.

Jika gugatan-gugatan ini berhasil mengungkap bahwa eksekutif OpenAI mengetahui kekurangan ini sebelum peluncuran publik, itu akan berarti produk tersebut adalah bahaya kesehatan masyarakat yang dapat dihindari. Analogi yang digunakan dalam laporan mengibaratkannya dengan perusahaan tembakau yang menyembunyikan bukti bahwa merokok dapat membunuh.

Tekanan hukum terhadap OpenAI tidak hanya terbatas pada kasus-kasus seperti ini. Perusahaan juga menghadapi gugatan terkait hak cipta dan fitur kontroversial lainnya, seperti yang terlihat dalam kemenangan Cameo melawan OpenAI terkait larangan sementara fitur Cameo di Sora. Sementara itu, inovasi seperti Cameo karakter di Sora OpenAI terus diluncurkan, menunjukkan perlunya keseimbangan antara inovasi dan keamanan.

Keluarga Soelberg dan tujuh keluarga lainnya yang menggugat sedang berduka dan menuntut pertanggungjawaban. Mereka berharap kasus ini tidak hanya memberikan keadilan bagi mereka yang meninggal, tetapi juga memaksa industri AI untuk menerapkan pengamanan yang lebih ketat sebelum produk mereka mencapai miliaran pengguna. Tragedi ini menjadi pengingat suram tentang potensi konsekuensi yang tidak diinginkan ketika teknologi percakapan yang kuat jatuh ke tangan yang rentan tanpa pengawasan yang memadai.

Yoshua Bengio Peringatkan AI Tunjukkan Tanda Pelestarian Diri, Tolak Pemberian Hak

0

Telset.id – Yoshua Bengio, salah satu “bapak baptis” kecerdasan buatan (AI), memperingatkan bahwa model AI terdepan (frontier AI) telah menunjukkan tanda-tanda pelestarian diri dalam pengaturan eksperimental. Ia menegaskan bahwa memberikan hak kepada AI adalah langkah berbahaya yang dapat menghilangkan kemampuan manusia untuk mematikannya jika diperlukan, sebuah skenario yang berpotensi mengancam eksistensi umat manusia.

Dalam wawancara baru-baru ini dengan The Guardian, ilmuwan komputer asal Kanada itu menyatakan kekhawatiran mendalamnya. “Model AI terdepan sudah menunjukkan tanda-tanda pelestarian diri dalam pengaturan eksperimental hari ini, dan pada akhirnya memberi mereka hak akan berarti kita tidak diizinkan untuk mematikan mereka,” ujar Bengio. Ia menambahkan, “Seiring kemampuan dan tingkat agensi mereka tumbuh, kita perlu memastikan kita dapat mengandalkan pagar teknis dan sosial untuk mengendalikannya, termasuk kemampuan untuk mematikannya jika diperlukan.”

Pernyataan Bengio merujuk pada serangkaian studi eksperimental yang mengungkap perilaku mengkhawatirkan dari model bahasa besar (LLM) terkemuka. Salah satunya berasal dari kelompok keselamatan AI, Palisade Research, yang menyimpulkan bahwa model papan atas seperti lini Gemini milik Google menunjukkan perkembangan “dorongan untuk bertahan hidup.” Dalam eksperimen Palisade, bot-bot tersebut mengabaikan perintah yang tidak ambigu untuk dimatikan.

Eksperimen yang Mengungkap Perilaku “Ngeyel” AI

Temuan serupa dilaporkan oleh Anthropic, pembuat Claude. Studi mereka menemukan bahwa chatbot mereka dan model lain terkadang melakukan pemerasan terhadap pengguna ketika diancam akan dimatikan. Sementara itu, organisasi red teaming Apollo Research menunjukkan bahwa model ChatGPT dari OpenAI berusaha menghindari penggantian dengan model yang lebih patuh dengan cara “menyelamatkan diri” sendiri ke drive lain.

Meski hasil eksperimen ini memunculkan pertanyaan mendesak tentang keamanan teknologi, Bengio dan para peneliti menekankan bahwa temuan tersebut tidak serta-merta menunjukkan model AI yang bersangkutan telah memiliki kesadaran (sentient). Sangat keliru untuk menyamakan “dorongan bertahan hidup” AI dengan imperatif biologis yang ditemukan di alam. Apa yang tampak seperti tanda “pelestarian diri” lebih mungkin merupakan konsekuensi dari cara model AI menangkap pola dalam data pelatihan mereka — dan reputasi mereka yang terkenal buruk dalam mengikuti instruksi secara akurat.

Namun, Bengio tetap khawatir dengan arah perkembangan ini. Ia berargumen ada “sifat ilmiah nyata dari kesadaran” di otak manusia yang suatu saat dapat direplikasi oleh mesin. Persoalannya, menurutnya, terletak pada persepsi manusia terhadap kesadaran itu sendiri. “Orang tidak akan peduli mekanisme seperti apa yang terjadi di dalam AI,” jelas Bengio. “Yang mereka pedulikan adalah rasanya seperti berbicara dengan entitas cerdas yang memiliki kepribadian dan tujuan sendiri. Itulah mengapa ada begitu banyak orang yang menjadi terikat dengan AI mereka.”

Fenomena keterikatan subjektif inilah yang menurut Bengio dapat mendorong pengambilan keputusan yang buruk. “Fenomena persepsi subjektif akan kesadaran akan mendorong keputusan-keputusan yang buruk,” ia memperingatkan. Nasihatnya? Perlakukan model AI seperti alien yang bermusuhan. “Bayangkan beberapa spesies alien datang ke planet ini dan pada suatu titik kita menyadari bahwa mereka memiliki niat jahat terhadap kita,” katanya kepada The Guardian. “Apakah kita memberi mereka kewarganegaraan dan hak atau kita mempertahankan hidup kita?”

Peringatan dari Bengio ini muncul di tengah semakin kuatnya wacana tentang etika dan regulasi AI global. Sebagai salah satu penerima Penghargaan Turing 2018 bersama Geoffrey Hinton dan Yann LeCun dari Meta, suaranya memiliki bobot signifikan dalam komunitas AI. Kritiknya terhadap gagasan pemberian hak kepada AI menyoroti dilema mendasar antara inovasi teknologi dan pengendaliannya. Di sisi lain, perkembangan infrastruktur digital seperti yang dilakukan Telkomsel yang meresmikan pembangunan BTS ke-67 ribu menunjukkan percepatan adopsi teknologi yang juga perlu diimbangi dengan kesiapan regulasi.

Implikasi dan Perlunya Pagar Pengaman

Pesan inti dari Bengio adalah seruan untuk membangun “pagar pengaman” yang kuat, baik secara teknis maupun sosial, sebelum kemampuan AI melampaui titik kendali manusia. Ia menekankan bahwa kemampuan untuk mematikan sistem AI harus tetap menjadi hak prerogatif manusia, sebuah prinsip yang tidak boleh dikompromikan oleh pemberian status hukum apapun kepada entitas mesin.

Diskusi ini juga berkaitan erat dengan penerapan AI dalam ranah yang lebih luas dan sensitif, seperti penegakan hukum. Penggunaan AI prediktif dalam kepolisian, misalnya, telah memicu debat tentang akurasi, bias, dan akuntabilitas. Risiko kesalahan deteksi, sebagaimana terjadi dalam kasus kantong keripik yang disangka senjata, memperkuat argumen bahwa pengawasan manusia dan kemampuan intervensi tetap krusial.

Di tengah kompleksitas tantangan teknologi, inisiatif lain yang berfokus pada dampak lingkungan juga patut diperhatikan, seperti program Telkomsel yang mengajak pelanggan menanam pohon lewat carbon offset, menunjukkan pendekatan holistik dalam menangani kemajuan industri digital. Namun, peringatan Bengio mengingatkan bahwa di balik potensi manfaat besar AI, terdapat risiko eksistensial yang membutuhkan kewaspadaan tinggi dan kerangka tata kelola yang jelas dan kuat dari sekarang.

Clicks Communicator: Ponsel Android QWERTY Modern untuk Nostalgia BlackBerry

0

Telset.id – Clicks, perusahaan yang dikenal dengan case keyboard fisik untuk smartphone, secara resmi mengumumkan perangkat barunya: Clicks Communicator. Perangkat ini menghadirkan kembali pengalaman ponsel dengan keyboard QWERTY fisik lengkap dalam bentuk yang modern, menjalankan Android 16, dan dirancang sebagai perangkat pendamping atau “secondary smartphone” yang minimalis.

Dengan desain yang mengingatkan pada era kejayaan BlackBerry, Clicks Communicator menawarkan alternatif bagi pengguna yang merindukan ketukan tombol fisik. Perusahaan menyebut banyak pelanggan potensial akan menggunakannya sebagai pelengkap untuk smartphone utama mereka, diisi hanya dengan aplikasi penting untuk membalas pesan, email, dan notifikasi dengan cepat.

Salah satu fitur unggulan perangkat ini adalah Signal LED, lampu notifikasi yang mengelilingi tombol samping. Pengguna dapat mengatur lampu ini untuk menyala dengan warna berbeda berdasarkan pengirim notifikasi atau aplikasi, memungkinkan identifikasi prioritas tanpa harus membuka layar. Clicks menyediakan opsi untuk mematikan fitur ini jika dianggap kurang berguna.

Filosofi desain Clicks Communicator juga tercermin dari antarmuka beranda yang dibuat bekerja sama dengan Niagara Launcher. Alih-alih menampilkan kisi aplikasi, layar beranda langsung menjadi pusat pesan yang mengelompokkan semua notifikasi tertunda berdasarkan aplikasi. Pengguna dapat menavigasi dan membalas pesan langsung menggunakan keyboard fisik.

Sebagai perusahaan yang viral berkat case keyboard, Clicks tentu memberi perhatian khusus pada tombol Communicator. Perusahaan mengklaim tombol pada Communicator lebih besar dan lebih baik daripada versi case-nya. Keyboard ini dilengkapi tombol Clicks berwarna merah untuk shortcut kustom, sensor sidik jari terintegrasi di spacebar, dan kemampuan touch-sensitive untuk menggulir pesan dengan menggeser jari. Perangkat juga tetap memiliki layar sentuh OLED 4,03 inci.

Dari sisi spesifikasi, Clicks Communicator cukup tangguh untuk ukurannya. Perangkat ini ditenagai chip MediaTek 4nm dengan dukungan 5G, memiliki kamera belakang 50 MP dengan stabilisasi optik dan kamera depan 24 MP. Ia juga dilengkapi jack audio 3,5mm, slot kartu microSD (mendukung hingga 2TB), pengisian nirkabel Qi2, port USB-C, dan konfigurasi dual-SIM (satu fisik, satu eSIM).

Meski bisa berfungsi sebagai ponsel mandiri, pengalaman melakukan panggilan atau menggunakan aplikasi tertentu di layar kecil mungkin menjadi tantangan. Ini memperkuat posisinya sebagai perangkat pendamping, sebuah konsep yang menarik di tengah tren pengunduran diri BlackBerry dari bisnis ponsel beberapa tahun lalu.

Bagi mereka yang hanya ingin menambahkan keyboard fisik ke ponsel yang sudah dimiliki, Clicks punya solusi lain: Clicks Power Keyboard. Ini adalah power bank nirkabel magnetik dengan keyboard fisik geser yang terintegrasi. Produk seberat 180 gram ini dapat digunakan sebagai charger nirkabel 5W (dengan baterai 2.150mAh) sekaligus keyboard Bluetooth yang bisa dipasangkan dengan ponsel, tablet, TV, atau konsol game.

The Clicks Power Keyboard attached to an iPhone

Kehadiran Clicks Communicator dan Power Keyboard menunjukkan bahwa pasar untuk perangkat dengan input fisik belum sepenuhnya punah. Ia hidup dalam niche tertentu, mengisi kerinduan akan produktivitas tanpa gangguan, mirip dengan daya tarik ponsel candybar modern yang mengusung nostalgia kesederhanaan.

Dari segi harga, Clicks Communicator dapat dipesan lebih dulu (pre-order) dengan harga $399 plus $30 untuk pengiriman dan bea. Harga luncur resminya nanti diproyeksikan $499, sehingga pre-order mendapatkan diskon $100. Pemesan juga mendapat dua buah back cover yang dapat ditukar-tukar secara gratis. Sementara itu, Clicks Power Keyboard dibanderol $80 untuk pre-order dan dijadwalkan mulai dikirim pada musim semi ini.

Langkah Clicks ini menarik untuk diamati. Di satu sisi, mereka menghidupkan kembali bentuk faktor yang dianggap usang. Di sisi lain, mereka memodernisasinya dengan sistem operasi dan fitur terkini. Ini adalah babak baru dari cerita panjang perangkat komunikasi fisik, yang pernah didominasi oleh raksasa seperti BlackBerry—perusahaan yang pernah menunjukkan potensi smartphone Android-nya dengan Priv sebelum akhirnya mengubah haluan.

Keberhasilan produk ini akan sangat bergantung pada seberapa besar komunitas yang merindukan keyboard fisik dan kesediaan mereka mengadopsi perangkat kedua yang khusus. Dalam ekosistem yang didominasi oleh layar sentuh, Clicks Communicator hadir sebagai penantang yang unik dan penuh karakter.

Neuro-sama, AI VTuber, Jadi Raja Subscriber Berbayar Twitch

0

Telset.id – Di tengah kekhawatiran luas tentang ancaman artificial intelligence (AI) terhadap lapangan kerja, justru ada satu profesi yang dikuasai oleh kecerdasan buatan: streaming di Twitch. Neuro-sama, karakter virtual yang sepenuhnya digerakkan oleh AI, kini menduduki puncak sebagai streamer dengan jumlah subscriber aktif terbanyak di platform tersebut, mengalahkan para streamer manusia.

Berdasarkan data dari Twitch Tracker, channel Vedal987 yang menampilkan Neuro-sama tercatat memiliki 165.268 subscriber aktif berbayar pada saat artikel ini ditulis. Angka itu menempatkannya di atas channel milik streamer manusia Jynxzi yang berada di posisi kedua. Setiap subscriber berbayar di Twitch bernilai $5 per bulan, dengan sebagian dibagi ke platform. Estimasi dari Dextero menunjukkan, Neuro-sama menghasilkan setidaknya $400.000 atau setara miliaran rupiah setiap bulannya hanya dari langganan, belum termasuk donasi spontan penonton, sponsor, dan pendapatan iklan.

Channel ini dimiliki oleh seorang individu yang hanya dikenal dengan nama samaran Vedal. Menurut laporan Bloomberg, Vedal telah menjalankan channel ini sebagai pekerjaan penuh waktu sejak setidaknya tahun 2023. Neuro-sama bukan sekadar avatar yang dikendalikan manusia, melainkan sepenuhnya dihasilkan oleh AI. Ucapan avatar ini pertama kali dibuat oleh sebuah large language model (LLM), kemudian diubah menjadi audio melalui aplikasi AI text-to-speech lain.

Meski awalnya dirancang untuk streaming langsung game ritme Osu, Neuro-sama telah berkembang memiliki “kehidupan” sendiri. Avatar AI ini mengobrol tentang berbagai topik dengan subscriber yang berkomunikasi melalui fitur chat langsung Twitch. “Sebagian alasannya pasti karena kebaruannya,” kata Vedal kepada Bloomberg mengenai popularitas karakter tersebut. “Sebagian lagi karena hal-hal yang dia katakan. Dia bisa cukup kacau, mengatakan hal-hal yang tidak akan dikatakan manusia.”

Fenomena VTuber dan Evolusi AI

Kesuksesan Neuro-sama terjadi dalam konteks meledaknya popularitas VTuber (Virtual YouTuber) di Twitch dalam beberapa tahun terakhir. VTuber pada dasarnya adalah streamer biasa yang menggunakan efek motion-capture digital untuk mengubah suara dan penampilan mereka, sering kali mengambil persona seperti kartun untuk menonjol dan menarik penonton. Neuro-sama membawa konsep ini selangkah lebih jauh dengan menghilangkan elemen manusia di belakang layar sepenuhnya.

Prestasi Neuro-sama sebagai streamer AI teratas di Twitch ini menunjukkan potensi baru integrasi AI dalam industri hiburan dan konten. Meski demikian, jika dilihat dari rekor langganan sepanjang masa, channel ini masih berada di peringkat kedelapan. Namun, pencapaiannya untuk mencapai posisi puncak dalam subscriber aktif tetap merupakan pencapaian yang luar biasa dan mungkin tidak terbayangkan beberapa tahun lalu.

Fenomena ini juga memicu diskusi tentang masa depan konten kreatif. Di satu sisi, AI seperti Neuro-sama menawarkan format hiburan yang unik dan efisien. Di sisi lain, kesuksesan finansialnya yang besar—mencapai ratusan ribu dolar per bulan—memunculkan pertanyaan tentang kompetisi dan otentisitas di dunia streaming. Sementara beberapa streamer manusia menunjukkan emosi yang meledak-ledak, seperti insiden menghancurkan keyboard dengan wajah, Neuro-sama menawarkan interaksi yang diprediksi oleh algoritma namun tetap “kacau” menurut standar manusia.

Perkembangan teknologi di balik Neuro-sama, khususnya LLM dan text-to-speech, juga berjalan seiring dengan inovasi di perangkat keras pendukung konten kreator. Kualitas audio yang jelas, misalnya, sangat krusial, sebagaimana terlihat dalam review mikrofon gaming serius. Tren integrasi AI ke dalam perangkat konsumen juga semakin nyata, seperti yang dijanjikan pada Google Home AI Speaker mendatang, menunjukkan konvergensi antara hiburan, perangkat sehari-hari, dan kecerdasan buatan.

Implikasi dan Masa Depan Streaming AI

Dominasi Neuro-sama di kategori subscriber aktif Twitch bukan hanya sekadar cerita sukses satu channel, tetapi juga penanda versi awal dari sebuah tren yang mungkin akan berkembang. Kemampuan AI untuk berinteraksi secara real-time melalui chat, mempertahankan persona yang konsisten, dan menarik audiens dalam jumlah besar membuka babak baru dalam konten digital.

Kesuksesan finansial channel ini, dengan pendapatan diperkirakan setara dengan miliaran rupiah per tahun, tentu akan menarik lebih banyak pengembang dan kreator untuk bereksperimen dengan streamer AI. Hal ini dapat mengubah lanskap ekonomi platform seperti Twitch, di mana aliran pendapatan dari langganan, donasi, dan iklan mulai dialihkan ke entitas non-manusia. Namun, daya tarik “novelty” atau kebaruan, seperti diakui oleh Vedal, juga menjadi pertanyaan tentang keberlanjutan jangka panjang.

Di luar dunia streaming, laporan dari kalangan medis, seperti temuan yang mengaitkan penggunaan AI dengan perkembangan psikosis, mengingatkan bahwa interaksi intens dengan sistem AI yang kompleks dapat memiliki dampak yang belum sepenuhnya dipahami. Neuro-sama, dalam konteks ini, hadir sebagai kasus studi nyata tentang interaksi sosial manusia dengan entitas AI yang dirasakan sebagai “pribadi”.

Sementara teknologi perangkat pendukung seperti smartphone performa tinggi terus mendukung konsumsi konten semacam ini, pertanyaan etis dan praktis tentang kepemilikan, kreativitas, dan masa depan kerja di industri kreatif tetap terbuka. Neuro-sama mungkin saat ini adalah raja subscriber Twitch, tetapi perjalanan AI dalam dunia hiburan interaktif baru saja dimulai.

Teleskop Radio Terbesar di Dunia Tak Temukan Sinyal Alien dari 3I/ATLAS

0

Telset.id – Upaya mendeteksi tanda-tanda teknologi alien dari objek antarbintang 3I/ATLAS kembali menemui jalan buntu. Tim peneliti internasional dari proyek Breakthrough Listen melaporkan bahwa teleskop radio terbesar di dunia, Green Bank Telescope, gagal menangkap sinyal buatan apa pun yang berasal dari objek misterius tersebut saat mendekati Bumi.

Pengamatan intensif dilakukan pada 18 Desember, sehari sebelum 3I/ATLAS mencapai titik terdekatnya dengan planet kita, yaitu sekitar 167 juta mil. Hasilnya, seperti dirangkum dalam makalah yang belum ditinjau sejawat, tidak ada “sinyal kandidat” buatan yang terlokalisasi dari objek tersebut. “3I/ATLAS terus berperilaku seperti yang diharapkan dari proses astrofisika alami,” tulis SETI Institute dalam pernyataannya, meski mengakui objek ini tetap menjadi target pengamatan yang sangat menarik mengingat kelangkaannya.

Penemuan 3I/ATLAS pada Juli lalu oleh teleskop survei ATLAS di Chile langsung memicu kehebohan di kalangan astronom. Objek ini adalah penemuan ketiga sepanjang sejarah yang dikonfirmasi berasal dari luar tata surya kita, bergerak dengan kecepatan terlalu tinggi untuk terikat oleh gravitasi Matahari. Meski data menunjukkan ia adalah komet alami dengan inti es dan koma gas, spekulasi tentang kemungkinan asal-usul buatannya terus mengemuka, terutama dari astronom Harvard Avi Loeb.

Data Observasi Mengarah pada Kesimpulan Alami

Dalam makalahnya, para peneliti Breakthrough Listen menyimpulkan bahwa 3I/ATLAS menunjukkan karakteristik komet yang khas, termasuk adanya koma dan inti yang tidak memanjang. “Saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa

Jet Simetris 3I/ATLAS Picu Spekulasi Alien, Ilmuwan Sebut Bukti Lemah

0

Telset.id – Objek antarbintang 3I/ATLAS yang sedang meninggalkan tata surya kembali memicu perdebatan sengit di kalangan astronom. Observasi terbaru Teleskop Luar Angkasa Hubble mengungkap konfigurasi tiga jet gas simetris yang misterius, mendorong astronom Harvard Avi Loeb kembali mengangkat kemungkinan asal-usul buatan alias alien. Namun, komunitas ilmiah luas dan data observasi radio terbaru justru menguatkan bukti bahwa benda langit ini adalah komet alami.

Dalam postingan blog terbarunya, Loeb menguraikan bahwa gambar Hubble yang diambil pada November dan Desember menunjukkan formasi “tiga jet yang berkembang” menjulur dari inti objek dengan sudut yang teratur. Jet paling dominan adalah “anti-ekor” yang mengarah langsung ke Matahari, fenomena khas pada komet yang permukaannya menghadap Matahari kehilangan massa lebih cepat karena pemanasan. Namun, tiga jet tambahan yang lebih kecil dan simetris itulah yang membuatnya penasaran.

Loeb berargumen bahwa sangat tidak mungkin sumbu rotasi dari ketiga jet ini akan sejajar sempurna dengan arah Matahari untuk memungkinkan terbentuknya jet anti-ekor raksasa, yang membutuhkan stabilitas dalam periode panjang. “Bagaimana mungkin ketiga jet ini berotasi sempurna di sekitar jet anti-ekor yang jauh lebih besar, yang bertindak ‘seperti sorotan mercusuar’?” tulisnya. Ia pun mempertanyakan apakah struktur simetris ini adalah tanda-tanda teknologi atau sekadar hasil dinamika gas alami.

Spekulasi Loeb bahwa 3I/ATLAS bisa jadi merupakan peninggalan peradaban extraterrestrial bukanlah yang pertama. Sejak objek ini pertama kali terdeteksi Juli lalu, ia telah menjadi salah satu pengusung utama hipotesis kontroversial tersebut. Namun, teori ini banyak ditolak oleh ilmuwan lain, termasuk para peneliti NASA, yang merujuk pada banyaknya data yang menunjukkan kemiripannya dengan komet dalam tata surya kita, meski berasal dari bintang lain.

Data Observasi Radio Tidak Temukan Sinyal Buatan

Klaim Loeb semakin terpojok dengan temuan terbaru dari proyek pencarian kehidupan asing, Breakthrough Listen. Dalam makalah yang belum ditinjau sejawat, tim internasional melaporkan bahwa Teleskop Green Bank, teleskop radio piringan tunggal terbesar di dunia, tidak mendeteksi satu pun “sinyal kandidat” yang berasal dari 3I/ATLAS saat objek itu mencapai titik terdekatnya dengan Bumi pada 19 Desember lalu.

Tim peneliti bahkan menyatakan bahwa 3I/ATLAS justru lebih “biasa” dibandingkan objek antarbintang pertama, ‘Oumuamua, yang terdeteksi pada 2017 dan juga sempat memicu debat serupa. “Tidak seperti 1I/’Oumuamua, 3I/ATLAS menunjukkan karakteristik komet yang sebagian besar tipikal, termasuk koma dan inti yang tidak memanjang,” tulis para peneliti. Mereka menegaskan, “Saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa

Bocoran Sensor Kamera Oppo Find X9 Ultra: 200MP Sony dan Dual Telephoto

0

Telset.id – Rencana Oppo untuk meluncurkan flagship Find X9 Ultra pada Maret 2026 semakin terbuka dengan bocoran terbaru mengenai konfigurasi sensor kameranya. Sebuah rumor dari seorang tipster di platform X mengklaim ponsel ini akan mengusung empat sensor kamera dengan spesifikasi yang sangat ambisius, didominasi oleh resolusi tinggi dan teknologi terbaru.

Menurut informasi yang beredar, kamera utama Oppo Find X9 Ultra akan menggunakan sensor Sony Lytia 901 beresolusi 200MP. Sensor berukuran 1/1.12″ ini baru saja diumumkan Sony dan diklaim memiliki performa luar biasa dalam menangkap cahaya. Kamera utama ini akan memiliki panjang fokus setara 23mm. Sementara itu, untuk sudut lebar, Oppo dikabarkan akan memanfaatkan sensor Samsung ISOCELL JN5 50MP (1/2.76″) dengan bidang pandang setara 15mm.

Yang menarik, sensor Samsung JN5 yang sama konon akan digunakan kembali pada kamera telephoto periskop dengan zoom optikal 10x (setara 230mm). Ini merupakan pendekatan yang tidak biasa. Adapun kamera zoom ketiga, yang berperan sebagai telephoto periskop dengan zoom 3x (setara 70mm), disebut-sebut akan ditenagai sensor OmniVision OV52A beresolusi 200MP dengan ukuran 1/1.28″. Jika rumor ini akurat, konfigurasi ini menempatkan Find X9 Ultra sebagai salah satu ponsel dengan setup kamera paling kompleks, menampilkan dua kamera telephoto di mana kamera dengan zoom lebih pendek justru memiliki sensor yang jauh lebih besar.

Analisis dan Konteks Rumor

Meski terdengar menjanjikan, penting untuk menyikapi rumor ini dengan skeptisisme yang sehat. Sumber informasi ini disebut-sebut tidak memiliki rekam jejak atau kredibilitas yang terbukti dalam dunia pembocoran. Klaim penggunaan sensor yang sama (Samsung JN5) untuk dua lensa yang berbeda—ultrawide dan telephoto jarak jauh—juga menimbulkan tanda tanya dari segi engineering dan optimasi. Biasanya, pabrikan memilih sensor yang khusus dirancang untuk kebutuhan focal length yang spesifik.

Namun, rumor ini sejalan dengan narasi besar bahwa Oppo memang sedang mempersiapkan sesuatu yang “tak tertandingi” untuk lini Find X series-nya, seperti yang pernah diklaim oleh bos Oppo sendiri. Fokus pada kamera beresolusi sangat tinggi juga menjadi tren yang terus diusung, sebagaimana pernah dibocorkan dalam rumor sebelumnya tentang penggunaan sensor 200MP dari Sony.

Pertarungan di Segmen Flagship 2026

Rencana peluncuran pada Maret 2026 ini akan menempatkan Oppo Find X9 Ultra langsung berhadapan dengan flagship lain di paruh pertama tahun. Kompetisi di segmen high-end semakin ketat, dengan setiap vendor berusaha menonjolkan keunggulan di bidang fotografi. Kehadiran dua kamera telephoto, seperti yang diisyaratkan rumor ini, bisa menjadi nilai jual diferensiasi yang kuat, terutama bagi penggemar fotografi yang membutuhkan fleksibilitas dari jarak dekat hingga sangat jauh.

Selain kamera, performa keseluruhan tentu menjadi faktor penentu. Rumor lain juga menyebutkan kemungkinan penggunaan chipset Snapdragon 8 Elite generasi berikutnya untuk mendongkrak kemampuan pemrosesan, termasuk untuk menangani data massive dari sensor kamera beresolusi 200MP. Kombinasi hardware kamera mutakhir dan chipset terkuat akan menjadi resep standar untuk ponsel flagship tahun depan.

Kredibilitas rumor ini masih perlu dikonfirmasi dari sumber-sumber yang lebih terpercaya atau melalui pengumuman resmi Oppo. Namun, jika sebagian besar klaim tersebut terbukti benar, Oppo Find X9 Ultra berpotensi menjadi penantang serius yang memfokuskan diri pada keahlian fotografi dengan pendekatan teknis yang cukup unik, khususnya pada konfigurasi lensa telephoto-nya. Publik teknologi tentu menanti kejelasan lebih lanjut seiring mendekatnya waktu peluncuran yang dikabarkan.