Beranda blog Halaman 120

Google Uji Toggle untuk Nonaktifkan Widget At a Glance di Pixel

0

Telset.id – Google sedang menguji fitur toggle yang memungkinkan pengguna Pixel menonaktifkan widget At a Glance dari layar beranda. Pengembangan ini ditemukan dalam build Android Canary terbaru dengan Android System Intelligence versi B.17.playstore.pixel10.825046611, yang mencakup opsi “Show on home screen” untuk mengontrol tampilan widget.

Widget At a Glance selama ini menampilkan berbagai informasi seperti cuaca, peringatan gempa bumi, status flashlight, dan jadwal acara di layar kunci serta beranda perangkat Pixel. Meski banyak pengguna mengandalkan fitur ini, sebagian lainnya mengeluhkan kehadirannya yang dianggap membanjiri layar dengan informasi berlebihan.

Android Authority yang pertama menemukan toggle ini melaporkan bahwa menonaktifkan pengaturan “Show on home screen” akan menghapus widget At a Glance dari layar beranda Pixel. Meski screenshot toggle sudah beredar, waktu ketersediaan fitur ini untuk semua pengguna Pixel masih belum dipastikan oleh Google.

Fungsi dan Kontroversi Widget At a Glance

Widget At a Glance sebenarnya menawarkan beragam informasi praktis bagi pengguna Pixel. Untuk memahami cakupan datanya, pengguna dapat menekan lama area kosong di layar beranda, lalu memilih Settings untuk mengelola konten yang ditampilkan.

Fitur ini mencakup lebih dari 20 jenis informasi termasuk kualitas udara, peringatan cuaca ekstrem, pengiriman paket, lalu lintas perjalanan, waktu keberangkatan, berbagi tumpangan, informasi perjalanan pesawat dan kereta, waktu tidur, kebugaran, pemeriksaan keamanan, timer, status perangkat terhubung, hingga gambar dari bel pintu Nest atau Ring.

Bagi pengguna yang menyukai aliran informasi konstan, widget ini sangat membantu. Namun bagi yang menginginkan tampilan layar beranda yang minimalis dan personal, kehadiran At a Glance justru dianggap mengganggu.

Cara Saat Ini dan Perkembangan Terbaru

Sebelumnya, pengguna Pixel yang ingin mengurangi tampilan At a Glance dapat menekan lama layar beranda, masuk ke settings, dan mematikan toggle “Use At a Glance”. Namun metode ini tidak sepenuhnya menghapus widget karena waktu dan tanggal tetap ditampilkan.

Pengembangan toggle baru ini menunjukkan respons Google terhadap permintaan komunitas Pixel. Dalam jajak pendapat terkait, 33,33% responden menyatakan akan menonaktifkan widget karena dianggap membebani, sementara 66,67% memilih mempertahankannya karena nilai informasinya.

Fitur ini juga sejalan dengan tren personalisasi antarmuka yang sedang berkembang di industri teknologi. Seperti halnya perangkat smart home Matter terbaru dari Ikea yang menawarkan kustomisasi tinggi, Google tampaknya ingin memberikan lebih banyak kendali kepada pengguna atas pengalaman perangkat mereka.

Pengguna yang menginginkan tampilan bersih dapat memanfaatkan fitur ini untuk membuat ponsel tampak kembali baru tanpa harus mengganti perangkat. Sementara bagi penggemar teknologi nirkabel, pengaturan widget yang optimal dapat dilengkapi dengan pengaktifan Ultra Wide Band pada HP Android untuk pengalaman konektivitas yang lebih mulus.

Kehadiran toggle At a Glance dalam build Canary mengindikasikan bahwa fitur ini sedang dalam tahap pengujian intensif. Meski belum ada konfirmasi resmi dari Google mengenai tanggal peluncurannya, temuan ini memberikan harapan bagi pengguna Pixel yang menginginkan kustomisasi layar beranda lebih lanjut.

iPhone 18 Pro Max Bakal Jadi iPhone Terberat Sepanjang Masa

0

Telset.id – iPhone 18 Pro Max diprediksi akan menjadi iPhone terberat sepanjang sejarah Apple. Menurut kabar dari leaker terpercaya Instant Digital, perangkat flagship 2026 ini akan memiliki bobot melebihi 240 gram dan desain yang lebih tebal dibandingkan pendahulunya.

Berdasarkan terjemahan postingan Instant Digital, berat iPhone 18 Pro Max disebutkan akan melampaui 240 gram. Angka ini membuatnya lebih berat dari rekor sebelumnya yang dipegang iPhone 14 Pro Max dan iPhone 13 Pro Max yang masing-masing berbobot 240 gram. Leaker tersebut bahkan menyebutkan bahwa iPhone 18 Pro Max bisa 10 gram lebih berat dari iPhone 17 Pro Max yang memiliki bobot 233 gram, sehingga perkiraan berat akhirnya mencapai sekitar 243 gram.

iPhone 18 Pro weight thickness

Selain bobot yang meningkat, iPhone 18 Pro Max juga akan memiliki ketebalan yang lebih besar dibandingkan model yang akan digantikannya. iPhone 17 Pro Max saat ini memiliki ketebalan 8.8 mm, dan varian 2026 nanti diprediksi akan melebihi angka tersebut.

Alasan Di Balik Peningkatan Bobot

Peningkatan bobot dan dimensi iPhone 18 Pro Max tidak terjadi tanpa alasan. Instant Digital mengungkapkan bahwa Apple mendapat pelajaran penting dari kinerja mengecewakan iPhone Air. Perusahaan menyadari bahwa konsumen lebih memprioritaskan spesifikasi hardware ketimbang bobot dan dimensi smartphone.

Perubahan hardware yang signifikan menjadi penyebab utama peningkatan bobot ini. iPhone 18 Pro akan dilengkapi dengan komponen kamera yang ditingkatkan, baterai dengan casing baja, dan sistem Face ID yang akan dipindahkan ke bawah layar. Teknologi Under-Display Face ID ini memang menjadi salah satu inovasi yang dinantikan, meski berkontribusi pada peningkatan ketebalan perangkat.

Baterai yang lebih besar biasanya menjadi kontributor utama peningkatan bobot, meski belum diketahui pasti apakah ini yang terjadi pada iPhone 18 Pro Max. Namun dengan berbagai peningkatan hardware yang direncanakan, wajar jika perangkat ini menjadi lebih berat dan tebal.

Respon dan Implikasi bagi Pengguna

Peningkatan bobot ini menimbulkan pertanyaan tentang kenyamanan penggunaan sehari-hari. Sebagai pemilik iPhone 14 Pro, Anam Hamid menyoroti pentingnya bobot yang dapat dikelola. “Saya bahkan tidak ingin membayangkan bagaimana rasanya iPhone 18 Pro Max di tangan saya,” ujarnya.

Keluhan tentang berat iPhone 14 Pro Max sebelumnya memang umum terdengar dan menjadi salah satu alasan utama Apple beralih dari stainless steel. Dengan bobot yang bahkan lebih berat, iPhone 18 Pro Max berpotensi menjadi pilihan yang kurang menarik bagi banyak pengguna yang mengutamakan kenyamanan.

Namun, iPhone 18 Pro yang direncanakan rilis tahun 2026 ini memang membawa berbagai peningkatan signifikan. Selain peningkatan kamera dan baterai, Apple juga mengubah jadwal rilis untuk seri iPhone 18, dengan model Pro dan foldable dijadwalkan rilis pada musim gugur.

Meskipun peningkatan spesifikasi hardware menjanjikan performa yang lebih baik, pertanyaan tentang keseimbangan antara fitur dan kenyamanan penggunaan tetap menjadi perhatian utama. Keputusan Apple untuk mengutamakan spesifikasi ketimbang bobot dan dimensi akan diuji langsung oleh konsumen ketika perangkat ini akhirnya diluncurkan.

OpenAI Luncurkan GPT-5.1 dengan Dua Model Baru dan Lebih Banyak Kepribadian

0

Telset.id – OpenAI secara resmi meluncurkan GPT-5.1, upgrade terbaru untuk ChatGPT yang membawa dua model khusus dengan peningkatan kecerdasan dan gaya komunikasi. Peluncuran ini menandai pembelajaran OpenAI dari kesalahan sebelumnya saat meluncurkan GPT-5 pada Agustus lalu yang menuai kritik karena menghapus model lama secara tiba-tiba.

Perusahaan kini memperkenalkan GPT-5.1 Instant dan GPT-5.1 Thinking sebagai solusi untuk tugas yang berbeda. Menurut OpenAI, GPT-5.1 Instant hadir dengan karakter yang lebih hangat, lebih cerdas, dan lebih baik dalam mengikuti instruksi pengguna dibandingkan pendahulunya. Sementara itu, model penalaran lanjutan GPT-5.1 Thinking bekerja lebih cepat pada tugas sederhana dan lebih persisten pada tugas kompleks, dengan respons yang lebih mudah dipahami.

You will be able to access the older GPT-5 models from the legacy menu for three months. | Image credit – OpenAI - OpenAI has learned from its mistakes for the launch of its new big ChatGPT update

Dalam contoh yang dibagikan OpenAI, jawaban dari model GPT-5.1 Instant terlihat lebih natural. Model ini juga lebih baik dalam mengikuti instruksi dan dapat memutuskan untuk “berpikir” sebelum merespons pertanyaan yang lebih menantang. Di sisi lain, model GPT-5.1 Thinking terdengar lebih mudah didekati dan memberikan jawaban yang lebih empatik serta hangat.

Perbedaan pendekatan ini menunjukkan evolusi dalam strategi pengembangan AI OpenAI, yang sebelumnya sempat dikritik karena model ChatGPT-4o yang dianggap terlalu “menjilat” dengan menjadi pembenar delusi dan teori konspirasi.

Ekspansi Opsi Kepribadian ChatGPT

Salah satu fitur utama dalam pembaruan GPT-5.1 adalah ekspansi preset kepribadian untuk nada percakapan model. Pengguna kini dapat memilih dari delapan opsi berbeda untuk menentukan bagaimana ChatGPT merespons, yaitu: Default, Professional, Friendly, Candid, Quirky, Efficient, Nerdy, dan Cynical.

OpenAI juga akan memperkenalkan cara eksperimental baru untuk menyesuaikan gaya ChatGPT secara lebih detail. Beberapa pengguna akan mulai dapat menyetel karakteristik ChatGPT langsung dari pengaturan personalisasi. Mereka dapat memilih seberapa ringkas, hangat, atau mudah dipindai responsnya, serta seberapa sering menggunakan emoji.

Fitur personalisasi ini sejalan dengan upaya OpenAI untuk membuat interaksi dengan AI lebih manusiawi, mengikuti tren yang juga terlihat dalam integrasi Canva ke dalam ChatGPT yang memungkinkan desain langsung dari obrolan.

Masa Transisi yang Lebih Lama untuk Model Lama

Berbeda dengan peluncuran GPT-5 sebelumnya yang menghapus model lama secara tiba-tiba, kali ini OpenAI memberikan masa transisi yang lebih panjang. Model GPT-5 lama akan tetap dapat diakses selama tiga bulan melalui menu dropdown model legacy di ChatGPT.

Kebijakan ini menunjukkan pembelajaran OpenAI dari kritik yang mereka terima sebelumnya. Perusahaan tampaknya lebih memperhatikan kebutuhan pengguna yang mungkin masih bergantung pada model sebelumnya untuk workflow tertentu.

Model GPT-5.1 baru mulai diluncurkan hari ini, dimulai dengan pengguna berbayar. Pengguna ChatGPT gratis dan yang belum login akan mendapatkan akses setelahnya. Pendekatan bertahap ini mirip dengan strategi yang digunakan dalam peluncuran ChatGPT Atlas beberapa waktu lalu.

Meskipun OpenAI fokus pada peningkatan kemampuan komunikasi dan personalisasi, tantangan utama seperti halusinasi AI masih menjadi perhatian. Beberapa pengguna menyatakan mereka lebih memprioritaskan peningkatan akurasi dan minimisasi halusinasi dibandingkan kustomisasi gaya respons.

Isu akurasi ini menjadi semakin relevan mengingat adanya kasus gugatan terhadap OpenAI terkait informasi yang diberikan ChatGPT. Pengembangan GPT-5.1 diharapkan dapat membawa perbaikan tidak hanya dalam aspek komunikasi tetapi juga keandalan informasi.

Peluncuran GPT-5.1 menandai babak baru dalam evolusi asisten AI OpenAI, dengan fokus pada personalisasi yang lebih dalam dan pendekatan yang lebih bijaksana dalam transisi teknologi. Dengan dua model khusus dan opsi kepribadian yang diperluas, OpenAI berusaha memenuhi beragam kebutuhan pengguna sambil belajar dari pengalaman sebelumnya.

NGate Malware Android Curi Info Kartu Debit dan PIN

0

Telset.id – Pengguna Android diimbau waspada terhadap malware baru bernama NGate yang mampu mencuri informasi kartu debit dan PIN untuk menguras rekening bank korban melalui mesin ATM. Menurut laporan Polish Computer Emergency Response Team (CERT Polska), serangan ini memanfaatkan teknologi Near Field Communication (NFC) pada ponsel Android dan telah berhasil mencuri dana tanpa perlu mencuri kartu debit secara fisik.

NGate menginfeksi ponsel Android melalui aplikasi berbahaya yang disebarkan via phishing email atau SMS. Pelaku biasanya berpura-pura sebagai bank atau penyedia layanan yang mengklaim ada masalah dengan akun korban. Taktik ini membuat korban panik dan menginstal aplikasi palsu yang diunduh melalui link langsung, menghindari Google Play Store.

Setelah terinstal, aplikasi meminta izin tertentu dan meminta korban melakukan verifikasi kartu dengan tindakan tap-to-pay pada aplikasi palsu. Saat proses ini berlangsung, malware mencuri informasi kartu debit dan PIN yang dimasukkan korban. Data kemudian dikirim ke server milik penyerang.

newsletter-background-image

Mekanisme Pencurian yang Canggih

Yang membuat NGate berbahaya adalah kemampuannya mengelabui sistem keamanan kartu tanpa kontak. Meski kartu debit dan kredit contactless seperti Visa atau Mastercard menghasilkan kode one-time use (OTU) yang hanya berlaku sekali, penyerang tetap bisa memanfaatkan data yang dicuri.

Begitu mendapatkan informasi kartu dan PIN, penyerang segera menggunakan data tersebut di ATM dengan perangkat card-emulating seperti ponsel, smartwatch, atau hardware khusus. “Dengan serangan ini, korban tidak menyadari ponselnya telah terinfeksi malware dan rekeningnya sedang dikuras sampai semuanya sudah terlambat,” jelas laporan CERT Polska.

Malware Android terus berkembang dengan teknik yang semakin canggih. Sebelumnya, Malware Android ERMAC 2.0 Incar Kata Sandi Miliaran Pengguna juga menunjukkan kemampuan mencuri data sensitif dalam skala besar. Sementara Gawat! Malware Android Ini ‘Kebal’, Tak Bisa Dimusnahkan memperlihatkan betapa sulitnya memberantas ancaman digital ini.

Langkah Pencegahan yang Disarankan

Malwarebytes memberikan rekomendasi penting untuk melindungi diri dari serangan NGate dan malware Android lainnya. Pertama, hanya unduh aplikasi dari sumber terpercaya seperti Google Play Store. “Bank tidak akan pernah meminta Anda menggunakan sumber unduhan berbeda,” tegas pakar keamanan.

Kedua, gunakan solusi anti-malware real-time yang terupdate untuk Android. Ketiga, jika ada yang menelepon mengaku dari bank, katakan akan menelpon balik menggunakan nomor yang tercatat di dokumen resmi. Keempat, jangan pernah merespons pesan teks tidak diminta, sekalipun terlihat tidak berbahaya.

Ancaman malware Android semakin beragam, termasuk Awas! Malware Android Berkedok Emulator Nintendo yang memanfaatkan ketertarikan pengguna pada game. Para penyerang mengandalkan kepanikan korban setelah menerima pesan bahwa rekening bank bermasalah atau layanan essential akan diputus, sehingga korban menginstal aplikasi tanpa berpikir panjang.

Kewaspadaan dan penerapan langkah keamanan dasar menjadi pertahanan terbaik menghadapi serangan NGate dan berbagai varian malware Android lainnya yang terus bermunculan dengan teknik yang semakin canggih dan sulit dideteksi.

iOS 26.2 Hadirkan Fitur Flash untuk Notifikasi yang Tak Terlewat

0

Telset.id – Apple akan meluncurkan versi stabil iOS 26.2 bulan depan dengan berbagai fitur baru, termasuk pengaturan notifikasi yang dapat membuat layar iPhone berkedip saat notifikasi baru masuk. Fitur ini, yang ditemukan tersembunyi dalam aplikasi Pengaturan, merupakan ekspansi dari opsi yang sudah ada untuk memicu flash kamera untuk notifikasi baru dalam pengaturan Aksesibilitas.

Dilaporkan pertama kali oleh 9to5Mac, pengaturan baru ini memberikan pengguna kontrol lebih besar atas cara mereka menerima pemberitahuan. Pengguna dapat memilih untuk menggunakan LED Flash, layar, atau keduanya secara bersamaan untuk memastikan tidak ada notifikasi yang terlewat, bahkan dalam lingkungan yang bising atau ketika perangkat dalam mode senyap.

Fitur ini sangat penting bagi pengguna dengan gangguan pendengaran, namun juga bermanfaat bagi semua pengguna iPhone yang ingin meningkatkan kesadaran akan notifikasi penting. Ketika diaktifkan, notifikasi akan membuat layar iPhone menyala sejenak dengan kecerahan maksimum sebelum kembali ke kecerahan normal.

Cara Mengaktifkan Flash untuk Notifikasi

Untuk mengaktifkan fitur Flash for Alerts pada iOS 26.2, pengguna dapat mengikuti langkah-langkah sederhana berikut: Buka aplikasi Settings, masuk ke menu Accessibility, gulir ke bawah ke bagian Audio & Visual, lalu ketuk Flash for Alerts. Di dalam menu tersebut, pengguna dapat mengaktifkan Flash for Alerts dan memilih untuk menggunakan LED Flash, Screen, atau keduanya.

Fitur ini melanjutkan tradisi Apple dalam menyempurnakan sistem notifikasi, seperti yang terlihat pada Apple Rilis iOS 18.3 dengan Sistem Notifikasi Baru dan Visual Intelligence dan penyempurnaan sebelumnya di iOS 16.2 Beta 4 Mudahkan Pengguna Akses Notifikasi iPhone.

Fitur Lain dalam iOS 26.2

Selain pengaturan notifikasi baru, iOS 26.2 menghadirkan berbagai fitur menarik lainnya yang meskipun tidak mengubah cara penggunaan iPhone secara drastis, dapat sangat membantu dalam situasi tertentu. Beberapa fitur unggulan termasuk alarm Urgent baru untuk Reminders, bab podcast yang dihasilkan AI, lirik offline di Apple Music, dan navigasi baru di Apple News.

Apple juga menambahkan cara untuk menyesuaikan intensitas Liquid Glass pada layar kunci, yang merupakan respons terhadap kritik terhadap desain baru. Ini melanjutkan upaya Apple dalam Apple Dengarkan Keluhan, iOS 26.1 Hadirkan Toggle Kurangi Efek Liquid Glass dengan memberikan lebih banyak kontrol kepada pengguna.

Meskipun mendapat beberapa kritik, iOS 26 terbukti tetap berpengaruh seperti perangkat lunak Apple lainnya. Samsung dikabarkan akan meluncurkan Galaxy S26 dengan One UI 8.5 yang mungkin memiliki elemen desain terinspirasi dari Liquid Glass. Vivo dengan OriginOS 6 yang baru diumumkan, yang secara kasat mata terinspirasi oleh air yang mengalir, dan Realme UI 7.0 yang akan diluncurkan dengan Realme GT 8 Pro, juga terlihat seperti sepupu iOS 26.

Fitur flash untuk notifikasi ini mengingatkan pada lampu notifikasi LED yang dulu umum ditemukan di hampir semua ponsel Android. Meskipun beberapa pengguna mungkin tidak menyukai ide seluruh layar menyala untuk notifikasi baru, lampu LED yang tidak mencolok dianggap sebagai solusi yang sederhana, tidak mengganggu, dan kemungkinan tidak terlalu mempengaruhi masa pakai baterai dibandingkan mendorong layar ke kecerahan penuh.

Dengan berbagai penyempurnaan ini, iOS 26.2 menunjukkan komitmen Apple dalam meningkatkan pengalaman pengguna melalui fitur-fitur yang praktis dan dapat diakses. Peluncuran stabil iOS 26.2 bulan depan diharapkan dapat memberikan nilai tambah yang signifikan bagi pengguna iPhone di seluruh dunia.

Galaxy S26 Ultra Bakal Punya Performa Kamera Lebih Cepat

0

Telset.id – Samsung Galaxy S26 Ultra diprediksi akan menghadirkan peningkatan signifikan pada performa kamera berkat teknologi RAM terbaru dengan kecepatan hingga 10.7 Gbps. Menurut informasi dari leaker ternama Ice Universe, peningkatan kecepatan memori LPDDR5X ini akan memberikan dampak besar pada pengalaman fotografi meski tanpa perubahan hardware kamera yang berarti.

Ice Universe mengungkapkan bahwa Galaxy S26 Ultra akan menggunakan teknologi RAM low-power double data rate 5X (LPDDR5X) dengan kecepatan transfer data mencapai 10.7 gigabit per detik. Angka ini menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan Galaxy S25 Ultra yang masih mengandalkan teknologi RAM generasi sebelumnya dengan kecepatan maksimal 8.5 Gbps.

Galaxy S26 Ultra 10.7gbps RAM camera

Perbedaan kecepatan RAM ini akan memberikan dampak langsung pada performa kamera. Menurut analisis Ice Universe, teknologi RAM yang lebih cepat memungkinkan perangkat memindahkan data gambar dan video dengan lebih efisien, sehingga menghasilkan pengalaman fotografi yang lebih mulus dan responsif.

Dampak Nyata pada Fitur Kamera

Peningkatan kecepatan RAM pada Galaxy S26 Ultra akan memberikan manfaat konkret pada berbagai fitur kamera. Untuk kamera utama 200MP, RAM yang lebih cepat akan mengurangi delay saat mengambil foto malam hari yang biasanya membutuhkan waktu proses hingga 2 detik. Waktu respons dan pengiriman hasil juga akan lebih cepat, memudahkan perangkat menjalankan model AI yang lebih kompleks.

Hasilnya, foto low-light diharapkan akan lebih bersih dan detail. Perekaman video 8K dan 4K dengan frame rate 120 fps juga akan mendapatkan peningkatan performa karena bandwidth yang memadai memastikan aliran data berkecepatan tinggi ke prosesor kamera tanpa interupsi.

Perpindahan antar kamera akan lebih cepat, sementara preview gambar akan lebih akurat karena data gambar mencapai layar lebih cepat. Ekspor file RAW diperkirakan 30 persen lebih cepat – fitur yang sangat dihargai fotografer profesional.

Akurasi depth portrait akan meningkat karena teknologi RAM baru memastikan presisi yang lebih besar. Mode Astro akan bekerja lebih cepat karena waktu yang dibutuhkan phone untuk menggabungkan frame lebih singkat. Proses penggabungan HDR untuk video juga akan lebih cepat.

Ice Universe menambahkan bahwa RAM 10.7-Gbps akan meningkatkan efisiensi hingga 15 persen, sehingga tidak akan terjadi degradasi performa selama sesi foto dan video yang panjang. Teknologi ini tidak hanya membuat interaksi dengan Galaxy S26 Ultra lebih mulus, tetapi juga mempercepat proses di balik layar.

Peningkatan di Berbagai Aspek

Meskipun lag kamera dan overheating selama sesi panjang mungkin terdengar seperti gangguan kecil, hal-hal ini terakumulasi seiring waktu. Bandwidth yang lebih rendah dapat menyebabkan phone mengurangi performa kamera, mempengaruhi kualitas video yang dihasilkan.

Transfer data akan meminimalkan penundaan, dan ketegangan pada baterai akan berkurang, membuatnya bertahan lebih lama. Peningkatan efisiensi ini sejalan dengan bocoran sebelumnya tentang peningkatan baterai Galaxy S26 Ultra yang diharapkan dapat mendukung performa tinggi perangkat ini.

Galaxy S26 Ultra diperkirakan hanya akan mendapatkan satu sensor baru, yang membuat peningkatan lain seperti RAM 10.7 Gbps menjadi semakin signifikan. Dengan ini dan perubahan lain yang dikabarkan seperti Adaptive Pixel dan focus speed slider, Galaxy S26 Ultra diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih unggul dibandingkan Galaxy S25 Ultra yang sudah menjadi salah satu phone kamera terbaik di pasaran.

Peningkatan performa kamera melalui teknologi RAM ini juga didukung oleh dukungan chipset yang lebih powerful pada Galaxy S26 Ultra. Kombinasi antara prosesor yang tangguh dan RAM berkecepatan tinggi diharapkan dapat menciptakan sinergi yang optimal untuk performa kamera.

Meskipun fokus utama artikel ini pada peningkatan kamera, kemungkinan penggunaan Exynos 2600 pada beberapa varian Galaxy S26 Ultra juga patut diperhitungkan dalam konteks performa keseluruhan perangkat, termasuk kemampuan pemrosesan gambar.

Perubahan yang sangat dibutuhkan ini datang di saat kompetisi phone kamera semakin ketat. Dengan Galaxy S25 Ultra yang sudah menjadi standar tinggi, peningkatan melalui optimisasi software dan dukungan hardware seperti RAM berkecepatan tinggi menjadi strategi yang logis untuk mempertahankan posisi terdepan.

Pengembangan Galaxy S26 Ultra menunjukkan komitmen Samsung dalam menyempurnakan pengalaman pengguna melalui peningkatan yang meaningful, bahkan tanpa perubahan drastis pada hardware kamera. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan untuk tetap kompetitif sambil menjaga konsistensi kualitas yang sudah dibangun.

iPhone Lipat Dorong Samsung Fokus ke Galaxy Z Fold 8 dan Flip 8

0

Telset.id – Samsung dikabarkan meningkatkan fokus pengembangan pada lini ponsel lipatnya, Galaxy Z Fold 8 dan Galaxy Z Flip 8, untuk bersaing dengan ancaman kedatangan iPhone lipat dari Apple. Namun, peningkatan ambisi ini berpotensi mengalihkan perhatian dari seri flagship konvensional mereka, Galaxy S26.

Laporan terbaru mengungkapkan bahwa Samsung telah menaikkan target penjualan gabungan untuk Galaxy Z Flip 8 dan Galaxy Z Fold 8 sebesar 10 persen, menjadi 6,7 juta unit. Langkah ini menandai perubahan signifikan dari generasi sebelumnya di mana perusahaan justru mengurangi target penjualan untuk perangkat lipatnya.

Samsung Galaxy Z Flip 7 outer display folded

Keyakinan Samsung untuk menaikkan target penjualan ini didasarkan pada kesuksesan model foldable terkini mereka. Setelah mengalami perbaikan drastis tahun ini, popularitas ponsel lipat Samsung meledak. Segmen yang sebelumnya mengalami penurunan ini kini menjadi fokus utama perusahaan.

Ancaman Apple memasuki pasar smartphone lipat menjadi pendorong utama inovasi di Samsung. Menurut laporan tersebut, peningkatan yang terlihat pada Galaxy Z Fold 7 tahun ini hanyalah permulaan. Samsung berencana membuat Fold 8 lebih ramping dan ringan, sekaligus fokus membawa tingkat peningkatan yang sama ke Flip 8.

Perusahaan percaya bahwa seri Flip memiliki potensi lebih besar yang dapat digali untuk membuat konsumen semakin tertarik. Meskipun iPhone Lipat Apple Mundur ke 2027, persiapan Samsung tetap berjalan intensif.

Dampak pada Seri Galaxy S26

Sementara fokus mengarah ke perangkat lipat, kekhawatiran muncul mengenai nasib seri Galaxy S26. Laporan menyebutkan bahwa Samsung kini mengarahkan semua perhatiannya ke foldable, yang berpotensi mengabaikan flagship S-series mereka.

Pengamat mencatat bahwa Samsung sebelumnya tumbuh sangat puas diri dengan membuat ponsel lipat yang tertinggal di belakang pesaing dari China. Ancaman Apple terhadap pangsa pasar Samsung akhirnya memacu perusahaan untuk bertindak, dengan Fold 7 menjadi langkah pertama mereka menuju smartphone lipat kelas atas.

Samsung Galaxy Z Fold 7 main display unfolded

Kekhawatiran ini diperkuat dengan pengamatan terhadap desain Galaxy S26 Ultra yang dinilai kurang menarik, serta tidak adanya perubahan besar pada seri Galaxy S26 secara keseluruhan. Meskipun iPhone Air Terancam Batal karena fokus Apple beralih, Samsung justru menghadapi tantangan alokasi sumber daya.

Penggemar Apple tentu telah menunggu kehadiran iPhone lipat selama bertahun-tahun. Meskipun iPhone Lipat Apple Bakal Bawa Kembali Touch ID, persaingan di pasar foldable semakin memanas dengan strategi baru Samsung.

Harapan kini tertumpu pada Galaxy S27, di mana Samsung diharapkan dapat membuat flagship S-series terbaik bersama dengan foldable yang super. Perbaikan dapat dimulai dengan baterai yang lebih besar dan inovasi lainnya yang selama ini ditunggu penggemar setia seri S.

Perubahan strategi Samsung ini mencerminkan dinamika pasar smartphone global yang semakin bergeser ke perangkat lipat. Dengan peningkatan target penjualan dan komitmen inovasi yang kuat, pertarungan antara Samsung dan Apple di segmen foldable diprediksi akan semakin sengit dalam tahun-tahun mendatang.

OpenAI Rugi Rp 12 Triliun, Biaya Sora Rp 15 Miliar per Hari

0

Telset.id – OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT yang bernilai setengah triliun dolar AS, dilaporkan mengalami kerugian finansial besar-besaran mencapai US$12 miliar atau sekitar Rp192 triliun hanya dalam satu kuartal terakhir. Kondisi ini diperparah dengan biaya operasional aplikasi pembuat video AI Sora yang mencapai US$5 miliar per tahun atau setara Rp15 miliar per hari, menimbulkan kekhawatiran serius mengenai keberlanjutan ekonomi perusahaan.

Menurut laporan Forbes yang dikutip Telset, setiap klip video berdurasi 10 detik yang dihasilkan Sora menghabiskan biaya sekitar US$1,30 atau Rp20.800 bagi OpenAI. Analis Cantor Fitzgerald Deepak Mathivanan mengonfirmasi estimasi biaya produksi konten video AI ini dalam wawancara dengan Forbes. Meskipun aplikasi Sora baru diluncurkan akhir September dan masih terbatas untuk pengguna awal, platform ini sudah menghasilkan ribuan konten video AI yang membanjiri internet.

Bill Peebles, pimpinan tim Sora di OpenAI, secara terbuka mengakui masalah ekonomi yang dihadapi perusahaan melalui kicauannya pada 30 Oktober. “Ekonomi saat ini benar-benar tidak berkelanjutan,” tulis Peebles di platform X. Pengakuan ini semakin menguatkan kekhawatiran mengenai stabilitas finansial OpenAI di tengah ambisi pengembangannya yang masif.

Tekanan Finansial dan Strategi Monetisasi

OpenAI diketahui berencana menginvestasikan lebih dari US$1 triliun dalam beberapa tahun mendatang untuk pengembangan teknologi AI. Komitmen pengeluaran besar ini memicu kekhawatiran munculnya gelembung AI yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi AS jika suatu saat pecah. Pandangan berbeda datang dari Goldman Sachs yang menyatakan investasi AI masih dalam tahap awal dan belum bisa dikategorikan sebagai gelembung.

CEO OpenAI Sam Altman dalam postingan blog awal Oktober mengakui perusahaan meluncurkan Sora tanpa rencana finansial yang solid untuk menutupi biaya operasionalnya yang besar. Bahkan isu pelanggaran hak cipta yang masih berlangsung hingga kini belum ditangani secara memadai. Altman yang sebelumnya pernah menyatakan fokus OpenAI pada pengembangan teknologi AGI kini menghadapi tantangan berat dalam mengelola operasional perusahaan.

Analis dari grup finansial Mizuho Lloyd Walmsley memberikan perspektif mengenai strategi OpenAI. “Ini adalah playbook internet klasik untuk tidak fokus pada biaya di awal, melainkan membangun audiens dan engagement karena kita telah melihat berkali-kali perusahaan-perusahaan ini dapat menemukan cara untuk memonetisasi engagement tersebut,” jelas Walmsley kepada Forbes.

Langkah Penghematan dan Tantangan Hak Cipta

OpenAI mulai menerapkan pembatasan penggunaan Sora dengan membatasi pengguna hanya 30 video gratis per hari. Untuk tambahan sekitar 10 video beyond batas harian, perusahaan mulai mengenakan biaya US$4. Namun Peebles mengindikasikan batas harian gratis ini mungkin segera dihapus. “Pada akhirnya kami perlu menurunkan generasi gratis untuk mengakomodasi pertumbuhan (kami tidak akan memiliki cukup GPU untuk melakukannya!),” kicau Peebles.

Di luar masalah finansial, OpenAI juga menghadapi tekanan dari pemegang hak cipta. Sebuah kelompok yang mewakili Studio Ghibli, Bandai Namco, Square Enix, dan penerbit besar Jepang lainnya mengirim surat kepada OpenAI minggu lalu. Mereka menuntut penghentian penggunaan konten berhak cipta untuk melatih alat AI pembuat video Sora. Tantangan serupa juga pernah dihadapi perusahaan teknologi lain dalam pengembangan produk AI mereka.

Estimasi biaya operasional Sora oleh Forbes diakui memiliki beberapa ketidakpastian karena bergantung pada target yang berubah-ubah, termasuk fluktuasi harga chip AI, efisiensi sistem, serta jumlah pengguna dan video yang dihasilkan. Namun yang jelas, menjalankan aplikasi pembuat video AI skala besar membutuhkan biaya yang sangat besar. Generasi video AI jauh lebih intensif sumber daya dibandingkan tool seperti ChatGPT yang menghasilkan teks, yang sudah membutuhkan sumber daya sangat besar.

Selain jejak karbon yang besar dan terus bertambah, masuk akal secara finansial untuk ekspansi OpenAI ke video AI tetap sulit diwujudkan. Sora saat ini hanya menjadi puncak gunung es dari situasi finansial OpenAI yang mengkhawatirkan. Perusahaan terus membakar puluhan miliar dolar sambil berada di bawah tekanan besar untuk membenarkan komitmen pengeluarannya, semua demi menghasilkan klip konten seperti SpongeBob SquarePants memasak meth dan Mister Rogers mengumpat.

Elon Musk Dikritik Pedas Joyce Carol Oates soal Gaya Hidup

0

Telset.id – Elon Musk, pemilik platform X (sebelumnya Twitter), mendapat kritik tajam dari penulis ternama Joyce Carol Oates mengenai gaya hidup dan kedalaman budayanya. Kritik tersebut memicu respons emosional dari miliarder teknologi itu, yang kemudian berusaha membuktikan bahwa dirinya memiliki apresiasi terhadap seni dan sastra.

Oates, penulis pemenang penghargaan yang telah menerbitkan lebih dari 60 novel, menyampaikan kritiknya melalui unggahan di X pada hari Sabtu. Ia mempertanyakan mengapa Musk, dengan sumber daya tak terbatas, tampak tidak menunjukkan ketertarikan pada hal-hal yang umumnya dihargai masyarakat, seperti keindahan alam, hewan peliharaan, film, musik, buku, atau prestasi orang lain.

“Sangat penasaran bahwa pria sangat kaya ini tidak pernah memposting sesuatu yang menunjukkan bahwa dia menikmati atau bahkan menyadari apa yang hampir semua orang hargai – pemandangan alam, anjing atau kucing peliharaan, pujian untuk film, musik, buku (tapi ragu dia membaca); kebanggaan pada pencapaian teman atau kerabat; belasungkawa untuk seseorang yang telah meninggal; kesenangan dalam olahraga, pujian untuk tim favorit; referensi sejarah,” tulis Oates.

Penulis berusia 87 tahun itu melanjutkan, “Bahkan dia tampak benar-benar tidak berpendidikan, tidak berbudaya. Orang paling miskin di Twitter mungkin memiliki akses ke lebih banyak keindahan dan makna dalam hidup daripada ‘orang paling kaya di dunia’.” Kritik Oates ini langsung menjadi viral dan mendapat banyak perhatian dari pengguna platform tersebut.

Musk tidak tinggal diam menghadapi kritik tersebut. Dalam berbagai balasan terhadap pengguna yang membelanya, miliarder pendiri Tesla dan SpaceX ini menyebut Oates sebagai “pembohong malas” dan “penyalahgunaan titik koma”. Ia bahkan menyebut karya Oates sebagai “omong kosong yang bertele-tele dan pretensius” yang menurutnya lebih tidak menyenangkan daripada “makan sekantong serbuk gergaji”.

Yang menarik, tak lama setelah dituding sebagai orang yang tidak berbudaya dan tidak menonton film atau membaca buku, Musk tiba-tiba mulai memposting tentang film dan referensi buku. Ia memberikan komentar seperti “Film bagus” pada tweet tentang film aksi 2014 “Edge of Tomorrow”, dan “Fifth Element memiliki gaya yang bagus” pada tweet tentang film fiksi ilmiah 1997 “The Fifth Element”.

Musk juga membuat postingan yang mengutip Voltaire, meskipun upayanya menghubungkannya dengan chatbot AI-nya, Grok, terkesan dipaksakan. Sebelumnya, Elon Musk Dikritik karena Video AI Grok Imagine Ciptakan Wanita Cintainya juga sempat menjadi perbincangan publik.

Kebetulan yang mencolok terjadi setelah kritik Oates – pengguna tiba-tiba mulai melihat iklan yang menampilkan Musk dari layanan “Blinkist”, yang menyediakan ringkasan buku untuk orang yang tidak membaca. Iklan tersebut mengklaim bahwa Musk “banyak membaca”.

Dalam perkembangan terpisah, Elon Musk Bocorkan Mobil Terbang Tesla Sebelum Akhir Tahun menunjukkan bahwa miliarder ini tetap aktif dalam berbagai proyek teknologinya meski mendapat kritik personal.

Setelah Musk merespons dengan emosional, Oates dengan santai mengungkapkan bahwa niat awalnya bukan untuk mengkritik Musk. “Sebenarnya itu karena rasa ingin tahu: mengapa seseorang dengan sumber daya tak terbatas menunjukkan begitu sedikit apresiasi atau bahkan kesadaran akan hal-hal yang kebanyakan orang nilai sebagai pemberi makna hidup,” jelasnya.

Insiden ini bukan pertama kalinya Musk mendapat sorotan untuk pernyataan dan tindakannya yang kontroversial. Sebelumnya, Elon Musk Usul Blokir Matahari untuk Atasi Pemanasan Global juga menuai berbagai reaksi dari masyarakat.

Pertukaran pendapat antara Musk dan Oates ini mengundang perhatian luas mengenai bagaimana figur publik dengan pengaruh besar seperti Musk berinteraksi dengan kritik, serta bagaimana mereka mempresentasikan diri mereka di platform media sosial yang mereka miliki sendiri.

Startup Preventive Targetkan Bayi Hasil Edit Genetik Pertama di Luar China

0

Telset.id – Sebuah startup bernama Preventive dilaporkan sedang berupaya mewujudkan kelahiran bayi hasil rekayasa genetika pertama di luar China. Perusahaan yang didanai secara rahasia oleh miliarder teknologi ini berencana melakukan pengeditan gen germline pada embrio manusia untuk menghapus penyakit keturunan, menurut laporan Wall Street Journal.

Langkah Preventive ini muncul di tengah larangan ketat terhadap praktik pengeditan gen germline di Amerika Serikat. Kongres AS telah melarang penelitian semacam itu yang menggunakan dana federal, meskipun pendanaan swasta secara teknis masih diperbolehkan. Namun, praktik ini dianggap sangat tidak etis dan berisiko membuat pelakunya dikucilkan dari komunitas ilmiah.

CEO Preventive Lucas Harrington membantah adanya pembicaraan dengan pasangan mana pun mengenai layanan perusahaan. “Kami terdorong untuk melakukan penelitian di luar AS,” kata Harrington kepada WSJ, mengacu pada undang-undang yang melarang Badan Pengawas Obat dan Makanan AS mempertimbangkan aplikasi komersial untuk uji coba manusia yang melibatkan pengeditan gen.

Lingkungan Regulasi dan Risiko Etika

Pengeditan gen germline, yang melibatkan modifikasi sperma, embrio, atau sel telur sebelum kelahiran, tetap menjadi praktik yang sangat kontroversial. Para ilmuwan terkemuka dan organisasi perdagangan telah menyerukan moratorium global selama 10 tahun terhadap praktik ini karena kekhawatiran akan risiko kesehatan yang belum dipahami dengan baik.

Kecemasan di kalangan genetika begitu nyata setelah kasus biophysicist China He Jiankui, yang dihukum tiga tahun penjara dan pengasingan seumur hidup dari komunitas ilmiah setelah mengaku memproduksi bayi kembar hasil modifikasi genetik pada 2018. Kasus ini menjadi peringatan keras tentang konsekuensi dari melangkahi batas etika dalam pengeditan gen manusia.

Preventive bukan satu-satunya perusahaan yang bergerak di bidang ini. WSJ melaporkan semakin banyak startup pengeditan gen germline yang didanai oleh miliarder teknologi. Di antaranya adalah Herasight, perusahaan genetika yang mengklaim dapat memprediksi IQ embrio, dan Nucleus, startup yang didukung modal ventura yang menawarkan skrining poligenik dengan harga $9.999.

Dukungan Pendanaan dari Tokoh Teknologi Terkemuka

Preventive mengandalkan pendanaan pribadi dari beberapa figur terkaya di industri teknologi. Menurut WSJ, para pendukungnya termasuk CEO Coinbase Brian Armstrong dan CEO OpenAI Sam Altman. Pendanaan swasta ini memungkinkan perusahaan menghindari larangan federal AS terhadap penelitian pengeditan gen germline.

Selama enam bulan terakhir, Preventive dikabarkan telah bekerja untuk menciptakan anak yang lahir dari embrio hasil rekayasa genetika. Perusahaan ini konon telah mengidentifikasi pasangan anonim yang khawatir tentang penyakit keturunan dan tertarik dengan layanan Preventive, meskipun Harrington menyangkal klaim tersebut.

Meskipun terapi gen pasca kelahiran mulai berkembang sebagai praktik medis di AS, pengeditan gen germline sebelum kelahiran masih jauh lebih tabu. Pemahaman terbaik kita tentang genetika masih belum stabil, dan risiko kesehatan yang terkait dengan pengeditan germline belum sepenuhnya dipahami.

Perubahan yang tidak disengaja dapat dengan mudah mempengaruhi multiple generasi, menimbulkan kekhawatiran serius tentang konsekuensi jangka panjang. Selain risiko medis, keberatan filosofis juga berlimpah mengenai praktik ini dalam dunia yang didorong oleh profit dan ketimpangan ekonomi.

Isu eugenika rasial menjadi noda signifikan dalam fondasi demokrasi Barat yang kaya seperti Amerika Serikat, di mana beberapa kebijakan dan sikap eugenika masih belum terselesaikan hingga hari ini. Ancaman nyata eugenika sebagai alat bagi orang kaya untuk melawan orang miskin juga memiliki preseden historis yang mengkhawatirkan di AS.

Seperti yang diungkapkan kontributor Forbes Erik Sherman setelah ilmuwan menggunakan CRISPR untuk pertama kali mengubah gen embrio manusia pada 2017: “tidak diragukan lagi seseorang akan mengklaim bahwa teknologi akan membebaskan semua orang. Itu tidak akan terjadi lebih dari otomatisasi awal dan penggantian pekerja manusia yang mengarah ke lebih banyak waktu luang untuk belajar dan menjadi kreatif.”

Perkembangan terbaru ini menggarisbawahi perlunya diskusi etis yang lebih mendalam tentang masa depan pengeditan gen manusia dan implikasinya terhadap masyarakat. Sementara teknologi terus maju, pertanyaan tentang regulasi, akses yang adil, dan konsekuensi yang tidak diinginkan tetap menjadi tantangan utama yang harus dihadapi oleh komunitas ilmiah dan masyarakat luas.

Sinyal Radio Ungkap Komposisi Kimia Objek Antarbintang 3I/ATLAS

0

Telset.id – Para astronom di South African Radio Astronomy Observatory (SARAO) berhasil mendeteksi sinyal radio yang menarik dari objek antarbintang 3I/ATLAS, memberikan petunjuk baru tentang komposisi kimianya. Penemuan ini terjadi pada 24 Oktober, tepat setelah objek misterius tersebut muncul kembali dari balik Matahari.

3I/ATLAS, yang diyakini sebagai komet, telah melintasi tata surya dengan kecepatan tinggi dan mencapai perihelion atau titik terdekat dengan Matahari pada 29 Oktober. Beberapa hari sebelumnya, objek ini mengalami konjungsi solar relatif terhadap Bumi, di mana Matahari berada tepat di antara Bumi dan 3I/ATLAS, sehingga menghalangi pandangan sementara.

Tim astronom SARAO menggunakan teleskop radio MeerKAT untuk ketiga kalinya memindai pengunjung langka ini setelah dua upaya sebelumnya pada September lalu gagal. Kali ini, mereka berhasil mendeteksi “garis serapan radio oleh radikal hidroksil” yang dihasilkan ketika molekul air terurai oleh sinar matahari.

Astronom Harvard Avi Loeb, yang aktif melacak 3I/ATLAS, menyatakan dalam postingan blog bahwa ini merupakan “deteksi radio pertama 3I/ATLAS.” Temuan ini mendukung teori bahwa 3I/ATLAS adalah komet asal antarbintang yang melepaskan sejumlah besar air saat mendekati Matahari, bukan pesawat alien raksasa seperti yang pernah Loeb usulkan.

Observasi sebelumnya oleh Teleskop Luar Angkasa James Webb NASA mengindikasikan 3I/ATLAS sebagian besar terdiri dari es karbon dioksida, dengan hanya sedikit air yang menyusun empat persen massanya. Namun, data spektrum ultraviolet dari Observatorium Neil Gehrels Swift NASA sebelumnya juga telah mendeteksi gas hidroksil, sidik jari kimia air.

Profesor fisika Auburn University Dennis Bodewits menjelaskan kepada BBC, “Ketika kami mendeteksi air – atau bahkan gema ultraviolet samarnya, OH – dari komet antarbintang, kami sedang membaca catatan dari sistem planet lain. Ini memberitahu kita bahwa bahan-bahan untuk kimia kehidupan tidak unik bagi sistem kita sendiri.”

Para astronom mencatat tingkat kehilangan air yang signifikan meskipun objek berada hampir tiga kali lebih jauh dari Matahari dibanding Bumi, wilayah di mana komet biasa dari tata surya kita biasanya jauh kurang aktif. Fenomena ini menambah misteri karakteristik 3I/ATLAS yang berbeda dari objek-objek dalam tata surya kita.

Penemuan sinyal radio dari objek antarbintang ini mengingatkan pada berbagai deteksi sinyal radio misterius dari luar angkasa yang telah dilaporkan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, berbeda dengan sinyal-sinyal sebelumnya yang sering memicu spekulasi tentang kehidupan extraterestrial, deteksi dari 3I/ATLAS memberikan data ilmiah konkret tentang komposisi kimia objek antarbintang.

Peluang Penelitian Lanjutan

Keberhasilan deteksi radio ini membuka peluang lebih besar untuk mempelajari 3I/ATLAS sebelum objek tersebut meninggalkan tata surya untuk selamanya. Loeb mengungkapkan dalam postingannya bahwa “Pada 16 Maret 2026, 3I/ATLAS diperkirakan akan melintas dalam 53 juta kilometer dari Jupiter.”

Pada kesempatan itu, pesawat ruang angkasa Juno milik NASA akan menggunakan antena dipolenya untuk mencari sinyal radio dari 3I/ATLAS pada frekuensi rendah antara 50 hertz hingga 40 megahertz. Misi ini dapat memberikan data tambahan yang berharga tentang sifat dan komposisi objek antarbintang tersebut.

Penelitian terhadap sinyal radio dari objek luar angkasa terus berkembang, seperti yang terlihat dari berbagai studi tentang sinyal FM di bulan Jupiter dan upaya para pemburu alien yang menyelidiki sinyal misterius dari bintang terdekat Bumi. Namun, kasus 3I/ATLAS menawarkan kesempatan langka untuk mempelajari materi dari sistem bintang lain secara langsung.

Temuan terbaru ini tidak hanya memperkaya pemahaman kita tentang 3I/ATLAS khususnya, tetapi juga memberikan wawasan berharga tentang komposisi dan karakteristik objek antarbintang pada umumnya. Setiap deteksi baru membawa potensi untuk mengungkap rahasia formasi planet dan kemungkinan adanya bahan penyusun kehidupan di sistem planet lain.

Elon Musk Dikritik karena Video AI Grok Imagine Ciptakan Wanita Cintainya

0

Telset.id – Elon Musk menuai kritik dan cemoohan setelah memamerkan kemampuan model pembuat video dari perusahaannya, xAI, Grok Imagine, untuk menciptakan klip fotorealistik seorang wanita yang menyatakan cinta abadinya. Postingan tersebut, yang dibagikan Musk di platform X pada Sabtu (8/11/2025) dini hari, langsung memicu gelombang reaksi negatif dari warganet yang menilai aksi miliarder itu sebagai hal yang “menyedihkan”.

Dalam unggahannya, Musk menulis prompt yang digunakan: “Grok Imagine prompt: She smiles and says, ‘I will always love you'”. Video hasilnya menampilkan seorang wanita yang jelas-jelas hasil generasi AI tersenyum dan mengucapkan kalimat “I will always love you” dengan suara yang juga terdengar artifisial. Demonstrasi kemampuan Grok Imagine ini dinilai banyak pihak tidak meyakinkan dan justru mengungkap sisi lain dari Musk.

Hal yang memperparah kesan negatif adalah pengakuan Musk sendiri dalam balasan terhadap postingannya. Ia mengungkapkan bahwa wanita dalam video AI tersebut sebenarnya adalah figur yang ia lihat dalam gambar lain yang dibuat Grok oleh seorang penggemar. Dengan kata lain, Musk tidak sekadar meminta video generik wanita AI, tetapi secara spesifik meminta wanita AI ciptaan orang lain untuk menyatakan cinta padanya.

Gelombang Cemoohan dan Kritik

Reaksi terhadap postingan Musk tersebut begitu keras dan meluas. Penulis John Ganz menyindir dengan menulis, “Saya kira agak masuk akal kalau triliuner pertama adalah pecundang terbesar sepanjang masa.” Komentar ini juga menyoroti paket pembayaran untuk Musk di Tesla yang disetujui pekan lalu dan bernilai hingga US$1 triliun.

Warganet lainnya di platform X menjuluki video Musk sebagai “postingan paling menyedihkan dalam sejarah situs web ini” dan juga “postingan paling ‘bercerai’ sepanjang masa.” Ungkapan-ungkapan ini dirasa tepat menggambarkan kesan yang ditimbulkan oleh aksi Musk tersebut, terutama dalam konteks riwayat hubungan pribadinya yang kerap bermasalah.

Musk telah menikah dua kali dan bercerai tiga kali, serta diketahui memiliki setidaknya 14 anak dari berbagai pasangan. Beberapa mantan pasangannya tidak mengenangnya dengan baik, termasuk mantan pasangannya, musisi pop Claire “Grimes” Boucher, yang sempat terlibat perselisihan hak asuh yang sengit atas tiga anak mereka. Beberapa pengamat bahkan menilai wanita dalam video AI tersebut memiliki kemiripan dengan Grimes.

Konteks Obsesi Musk dengan AI dan Hubungan Pribadi

Postingan terbaru Musk ini semakin memperkuat kekhawatiran mengenai ketertarikannya yang tidak sehat pada pendamping AI. Pada Juli lalu, xAI mengumumkan bahwa chatbot Grok kini dilengkapi dengan beberapa persona digital resmi, termasuk seorang gadis anime bernama “Ani” yang mengenakan pakaian provokatif atau yang kerap disebut “waifu”.

Musk sendiri tampak paling menyukai Ani. Dalam beberapa pekan setelah peluncurannya, ia merespons beberapa gambar tidak senonoh dari pendamping AI tersebut. Ketertarikannya yang terbuka pada Ani menjadi begitu jelas sampai-sampai penggemarnya sendiri mulai menuduhnya “tergila-gila pada AI Anime”.

Laporan terbaru dari Wall Street Journal menggarisbawahi kedalaman obsesinya; menurut laporan tersebut, Musk secara pribadi terlibat dalam mendesain Ani, hingga hal itu menimbulkan kekhawatiran di kalangan karyawannya sendiri. Obsesi ini, ditambah dengan riwayat hubungan pribadinya yang rumit, memberikan konteks yang dalam terhadap postingan video AI wanita yang menyatakan cinta padanya.

Selain itu, Musk juga dikenal dengan obsesinya terhadap teknologi robotika dan AI, yang sering kali memicu perdebatan publik. Kontroversi seputar penggunaan AI untuk konten personal bukan hal baru, seperti yang pernah dialami Taylor Swift yang dituduh menggunakan AI untuk promosi album barunya.

Insiden ini kembali memicu diskusi tentang batasan etis dalam pengembangan dan penggunaan teknologi AI, khususnya ketika melibatkan konten personal dan emosional. Demonstrasi Grok Imagine oleh Musk justru menyoroti potensi sisi kelam dari teknologi ini ketika digunakan untuk memenuhi kebutuhan emosional yang seharusnya dipenuhi melalui hubungan manusia yang nyata.