Telset.id â Bayangkan Anda adalah seorang developer indie yang telah menghabiskan dua tahun dan ratusan ribu dolar untuk sebuah proyek passion. Lalu, tiba-tiba, gerbang utama penjualanâplatform yang menguasai pasarâdibanting tertutup untuk selamanya. Inilah realitas pahit yang sedang dihadapi Santa Ragione, studio di balik game horor kontroversial Horses, yang kini terancam gulung tikur setelah Valve secara permanen melarang game mereka dijual di Steam.
Bagi banyak developer PC, Steam adalah napas kehidupan. Platform ini bukan sekadar toko; ia adalah pusat komunitas, visibilitas, danâyang paling krusialâpendapatan. Keputusan Valve untuk memblokir Horses bukan hanya soal penolakan konten, tetapi sebuah pukulan finansial yang berpotensi mematikan. Santa Ragione mengungkapkan bahwa mereka telah menginvestasikan sekitar $100.000 (setara dengan lebih dari 1,5 miliar rupiah) ke dalam pengembangan game ini. Dana sebesar itu untuk studio independen bukanlah angka main-main. Ini adalah taruhan besar, dan dengan pintu Steam tertutup, peluang untuk balik modal menjadi sangat tipis.
Lantas, apa yang salah dengan Horses? Game first-person horror ini bercerita tentang seorang mahasiswa yang bekerja di sebuah peternakan selama musim panas. Twist-nya? âKuda-kudaâ di peternakan itu sebenarnya adalah manusia dewasa telanjang yang mengenakan topeng kuda. Konsepnya surealis, gelap, dan jelas ditujukan untuk audiens dewasa. Santa Ragione, dalam FAQ mereka, dengan tegas menyatakan komitmen mereka terhadap âcerita dewasa yang menantangâ dan menolak apa yang mereka sebut sebagai âsensor moralisasiâ yang mengingatkan pada masa lalu yang suram.
Namun, Valve memiliki pandangan berbeda. Menurut email yang dibagikan oleh developer, alasan penolakan adalah terkait âkonten yang, menurut penilaian kami, menggambarkan aktivitas seksual yang melibatkan anak di bawah umur.â Klaim ini langsung dibantah habis-habisan oleh Santa Ragione. Mereka menegaskan bahwa semua karakter dalam game berusia jelas di atas 20 tahun. Studio ini memiliki teori tentang pemicu larangan tersebut: sebuah adegan di hari keenam dimana seorang ayah dan putri kecilnya mengunjungi peternakan. Dalam adegan itu, si anak ingin menunggangi salah satu âkudaâ (manusia dengan topeng kuda), yang kemudian mengarah pada sebuah sequence interaktif dimana pemain memimpin seorang wanita dewasa telanjangâdengan si anak di atas pundaknyaâmenggunakan tali kekang.
Santa Ragione bersikeras bahwa adegan itu âsama sekali tidak bernuansa seksual,â tetapi mereka menduga âjuxtaposisiâ atau penempatan elemen-elemen visualnyalah yang memicu bendera merah bagi tim review Valve. Mereka bahkan telah mengubah karakter dalam adegan tersebut menjadi seorang wanita berusia dua puluhan untuk menghindari ambiguitas danâyang lebih pentingâkarena alasan naratif yang lebih kuat. Sayangnya, upaya klarifikasi dan perubahan ini sia-sia. Valve tidak hanya menolak game tersebut, tetapi juga menyatakan tidak akan menerima submisi Horses lagi di masa depan, âbahkan dengan modifikasi.â Keputusan final ini, yang diambil setelah dua tahun banding dan permohonan ulang review dari Santa Ragione, pada dasarnya adalah vonis mati untuk distribusi game ini di platform terbesar di dunia.
Baca Juga:
Dampak domino dari larangan Steam ini jauh lebih dalam dari yang dibayangkan. Santa Ragione mengaku bahwa penolakan Valve membuat mereka âsangat sulitâ menemukan publisher atau partner eksternal. Siapa yang mau berinvestasi pada sebuah game yang sudah dicap tidak layak untuk toko utama? Rencana untuk memasukkan Horses dalam sebuah bundle pun kandas. Akibatnya, studio terpaksa mengandalkan dana dari teman-teman untuk menyelesaikan proyek tersebut. Ini adalah situasi yang sangat rapuh. Pietro Righi Riva, co-founder Santa Ragione, dengan nada pesimis menyatakan kepada GamesIndustry.biz, âSemua uang yang kami hasilkan akan diberikan kepada penulis dan orang-orang yang menawarkan uang untuk menyelesaikan proyek. Jadi, kemungkinan besar tidak akan ada uang tersisa untuk membuat




