Beranda blog

Samsung Galaxy Z Fold7 & Gemini: Cerita dari Jeju tentang Masa Depan AI

0

Jeju, Korea Selatan — Ada yang istimewa dari perjalanan saya kali ini bersama Samsung. Di tengah sejuknya udara dan pemandangan indah Pulau Jeju, saya bersama sejumlah wartawan dan influencer dari Indonesia diajak untuk merasakan langsung pengalaman menggunakan Samsung Galaxy Z Fold7. Bukan sekadar memegang perangkat baru, tetapi mencoba bagaimana smartphone lipat ini dipadukan dengan Galaxy AI dan Google Gemini untuk menemani aktivitas sehari-hari.

Ketika Layar Lipat Bertemu AI

Samsung Galaxy Z Fold7 jelas mencuri perhatian dengan desain lipatnya yang semakin ramping dan elegan. Tapi selama di Jeju, fokusnya bukan hanya soal desain atau hardware, melainkan bagaimana AI benar-benar dihadirkan untuk membuat perangkat ini terasa lebih personal dan produktif.

Salah satu yang paling menarik adalah pengalaman mencoba Gemini Live, fitur terbaru dari Google Gemini yang memungkinkan pengguna berdialog secara real-time layaknya berbicara dengan asisten pribadi. Di layar besar Fold7, interaksi ini jadi terasa natural dan nyaman. Misalnya, saat saya ingin tahu rekomendasi hidden gems di Jeju, Gemini Live bisa memberikan jawaban lengkap, bahkan dengan saran aktivitas yang sesuai dengan profil perjalanan saya.

Formula Prompt: Persona + Context + Task + Format

Dalam sesi presentasi, Samsung bahkan mengajarkan cara membuat prompt yang efektif agar hasil dari Gemini benar-benar sesuai kebutuhan. Rumusnya sederhana:

  • Persona → siapa kita atau peran apa yang kita ingin AI pahami
  • Context → informasi relevan yang menjelaskan situasi
  • Task → instruksi jelas apa yang harus dilakukan
  • Format → hasil dalam bentuk apa yang kita inginkan

Contoh nyatanya, di salah satu slide, ditunjukkan prompt: “Saya adalah solo traveler. Saya ingin liburan ke Jeju selama 5 hari 4 malam. Buatkan saya itinerary untuk mengunjungi berbagai tempat bersejarah di Jeju dalam format tabel.” Hasil yang keluar jauh lebih rapi, detail, dan personal.

Buat saya pribadi, bagian ini terasa penting. Bukan hanya menjual AI sebagai gimmick, tetapi Samsung ingin pengguna benar-benar belajar “cara ngobrol” dengan AI sehingga perangkat bisa bekerja maksimal.

Evolusi Galaxy AI dan Fitur Favorit Pengguna

Samsung juga memaparkan perjalanan Galaxy AI yang dimulai Januari 2024 dengan peluncuran ponsel AI pertama, lalu terus berkembang hingga kini terintegrasi di berbagai perangkat Galaxy termasuk foldable, tablet, hingga Galaxy Watch.

Menariknya, dari data Samsung, ada Top 5 fitur Galaxy AI yang paling sering dipakai pengguna seri Fold dan Flip, yaitu:

  1. Circle to Search
  2. Writing Assist
  3. Photo Assist
  4. AI Wallpaper
  5. Generative Edit

Di Galaxy Z Fold7, penggunaan AI meningkat hingga 1,26 kali lipat dibanding seri sebelumnya. Artinya, memang ada kaitan antara layar besar dengan kenyamanan menggunakan AI.

Samsung & Google: Kolaborasi untuk Masa Depan

Kehadiran Gemini di Galaxy Z Fold7 bukan sekadar tambahan aplikasi melainkan bagian dari strategi Samsung dalam memperkuat posisinya di pasar smartphone premium. Dengan layar besar dan form factor lipat, Fold7 memberi ruang lebih luas bagi AI untuk berinteraksi secara lebih mendalam dengan penggunanya.

Ilham Indrawan, MX Flagship Category Management Lead at Samsung Electronics Indonesia, menjelaskan bahwa pengalaman Galaxy AI kini juga membawa Gemini sejak seri S25 sebagai wujud komitmen untuk menghadirkan AI yang tidak hanya mendukung produktivitas tetapi juga kreativitas dan komunikasi.

“Kami ingin Gemini diasosiasikan dengan Samsung, begitu pula sebaliknya.” Jelas Ilham.

Menurutnya Galaxy AI yang dihadirkan bersifat kontekstual dan multimodal dengan Gemini di baliknya, sehingga pengalaman yang ditawarkan bisa menyatu dengan ekosistem Galaxy yang sudah ada.

Ia juga menekankan bahwa integrasi Galaxy AI dan Gemini membuat penggunaan foldable device menjadi berbeda dibanding perangkat lain karena mampu memaksimalkan produktivitas sehari-hari mulai dari writing assist hingga note assist.

Jeju, AI, dan Sebuah Cerita Baru

Menggunakan Galaxy Z Fold7 di Jeju memberi kesan berbeda. Dari menyusun itinerary, mencari cerita di balik Yongduam: Dragon Head Rock, hingga tips mengambil foto estetik di Biwon, semua bisa saya lakukan hanya dengan satu perangkat. Layar lipat membuat pengalaman ini lebih leluasa, sementara AI menjadikan interaksi terasa personal.

Seolah Samsung ingin menunjukkan, masa depan smartphone bukan lagi sekadar soal spesifikasi kamera atau prosesor, melainkan soal bagaimana AI + layar lipat bisa menjadi partner perjalanan, partner kerja, sekaligus partner kreatif yang menyatu dalam keseharian kita.

Rusia Mulai Batasi Akses WhatsApp, Sinyal Blokir Total?

0

Telset.id – Otoritas pemerintah Rusia dilaporkan mulai membatasi akses terhadap layanan pesan instan WhatsApp di beberapa wilayah, sebuah langkah yang diyakini sebagai pendahuluan sebelum pemblokiran total. Langkah drastis ini menandai babak baru dalam upaya Kremlin untuk mengendalikan arus informasi digital di tengah situasi geopolitik yang memanas.

Berdasarkan laporan dari pengguna lokal dan pantauan trafik internet, gangguan akses ini tidak terjadi secara serentak, namun menyasar fitur-fitur spesifik seperti panggilan suara dan video, serta penurunan kecepatan pengiriman media. Fenomena ini memperkuat dugaan bahwa regulator komunikasi Rusia, Roskomnadzor, sedang menguji coba mekanisme pemblokiran yang lebih komprehensif terhadap aplikasi milik Meta tersebut.

Ilustrasi pemerintah Rusia mulai batasi akses layanan WhatsApp dan akan blokir total.

Eskalasi Ketegangan Digital

Posisi WhatsApp di Rusia sebenarnya cukup unik. Ketika Meta—induk perusahaan WhatsApp—dinyatakan sebagai organisasi “ekstremis” oleh pengadilan Rusia pada tahun 2022, Facebook dan Instagram langsung diblokir. Namun, WhatsApp saat itu lolos dari jerat pemblokiran karena dianggap sebagai alat komunikasi pribadi, bukan penyebar informasi publik. Kini, status “kebal” tersebut tampaknya mulai dicabut.

Pola pembatasan ini mengingatkan pada strategi yang diterapkan oleh negara lain dengan kontrol internet ketat. Tiongkok, misalnya, telah lebih dulu mengambil langkah tegas. Negeri Tirai Bambu tersebut akhirnya Resmi Blokir WhatsApp sepenuhnya setelah periode gangguan layanan yang berkepanjangan, memaksa warganya beralih ke aplikasi lokal.

Alasan utama di balik pembatasan terbaru ini disinyalir berkaitan dengan ketidakmampuan otoritas keamanan Rusia untuk mendekripsi pesan end-to-end encryption milik WhatsApp. Selain itu, fitur Channels yang baru diperkenalkan WhatsApp dianggap berpotensi menjadi sarana penyebaran informasi yang tidak terkontrol oleh narasi negara.

Dampak Bagi Pengguna

Bagi jutaan pengguna di Rusia, WhatsApp adalah alat komunikasi primer. Pembatasan ini tentu menimbulkan kepanikan digital. Banyak pengguna yang kini mulai mencari alternatif atau menggunakan VPN untuk menembus pembatasan tersebut. Situasi ini juga memicu kekhawatiran privasi, di mana pengguna mulai mencari cara untuk Membatasi Chat dan mengamankan data mereka sebelum akses benar-benar tertutup.

Ilustrasi pemerintah Rusia mulai batasi akses layanan WhatsApp dan akan blokir total.

Ironisnya, ketika satu pintu ditutup, pintu lain justru semakin ramai. Telegram, yang didirikan oleh Pavel Durov (asli Rusia), diprediksi akan menjadi penerima manfaat terbesar dari kebijakan ini. Hal ini cukup kontradiktif mengingat sejarah hubungan Telegram dan Rusia yang juga pasang surut. Namun, dalam konteks global, pergeseran ini bukan hal baru. Sebelumnya, dilaporkan bahwa Bukan Telegram yang menjadi target utama di beberapa negara, melainkan produk-produk Meta yang dianggap lebih sulit diajak “kompromi” soal data.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Meta terkait gangguan masif di wilayah Rusia. Namun, jika pola ini berlanjut, Rusia akan segera bergabung dengan daftar pendek negara yang sepenuhnya mengisolasi warganya dari platform pesan instan terpopuler di dunia tersebut.

Samsung Galaxy A37 dan A57 Muncul di Google Play Console, Kok Bisa?

0

Telset.id – Sebuah kejutan yang cukup membingungkan baru saja terjadi di jagat maya. Tanpa ada angin atau hujan, duo perangkat masa depan, Samsung Galaxy A37 dan Galaxy A57, dilaporkan telah terdaftar di database Google Play Console. Kemunculan ini memicu tanda tanya besar, mengingat siklus rilis Samsung biasanya sangat terjadwal dan rapi.

Kabar ini menjadi anomali menarik di tengah penantian pasar terhadap seri generasi sebelumnya yang bahkan belum sepenuhnya merata di pasar global. Data yang muncul di Google Play Console ini seolah melompati satu generasi atau mungkin menandakan percepatan strategi pengembangan perangkat lunak dan keras dari raksasa teknologi asal Korea Selatan tersebut.

Penampakan Prematur di Google Play Console

Google Play Console biasanya menjadi “gerbang terakhir” bagi sebuah perangkat Android sebelum diluncurkan secara resmi ke publik. Ketika sebuah perangkat muncul di sini, artinya perangkat tersebut telah melewati tahap pengembangan krusial dan sedang dalam proses sertifikasi untuk dukungan layanan Google. Namun, kehadiran nama Galaxy A37 dan A57 di daftar ini terasa terlalu dini, jika tidak ingin disebut “mendahului takdir”.

Secara teknis, daftar di Google Play Console sering kali mengungkap informasi kunci seperti nama kode perangkat, resolusi layar, versi Android bawaan, hingga chipset yang digunakan. Meskipun detail spesifikasi teknis mendalam belum sepenuhnya terurai dalam referensi awal ini, eksistensi nama tersebut saja sudah cukup membuat dahi para pengamat teknologi berkerut. Apakah ini kesalahan input data, atau memang Samsung sedang menyiapkan strategi jangka panjang yang agresif?

Jika melihat ke belakang, bocoran mengenai Strategi Hemat chipset untuk seri A37 memang sempat beredar. Hal ini berkaitan dengan upaya Samsung untuk menekan biaya produksi di tahun-tahun mendatang tanpa mengorbankan performa secara drastis. Namun, melihatnya “hidup” di database resmi Google saat ini adalah lompatan waktu yang signifikan.

Anomali Siklus Rilis Samsung

Normalnya, Samsung memperbarui lini seri A mereka setahun sekali. Saat ini, fokus pasar masih tertuju pada penyempurnaan seri Ax5 dan antisipasi seri Ax6. Munculnya seri A37 dan A57—yang secara logika penamaan seharusnya untuk rilisan dua tahun mendatang—bisa diartikan dalam beberapa skenario.

Skenario pertama, dan yang paling mungkin, adalah ini merupakan persiapan placeholder atau pengujian internal yang tidak sengaja terpublikasi. Pengembang sering kali menggunakan nama model masa depan untuk menguji kompatibilitas framework jangka panjang. Skenario kedua, Samsung mungkin sedang merombak penamaan atau mempercepat siklus hidup produk mereka untuk melawan gempuran vendor China yang semakin agresif merilis model baru setiap enam bulan.

Berbicara mengenai desain, rumor sebelumnya menyebutkan bahwa Galaxy A57 Bocor dengan membawa karakteristik fisik tertentu, seperti ketebalan bezel bawah atau “chin” yang mungkin masih dipertahankan. Jika data Play Console ini valid, kita mungkin akan segera melihat apakah render desain tersebut sesuai dengan kenyataan atau tidak dalam waktu yang lebih cepat dari prediksi.

Dampak pada Ekosistem Galaxy A Series

Kehadiran dini ini juga memberikan sinyal bahwa Samsung tidak main-main dalam mempersiapkan portofolio kelas menengah mereka. Seri Galaxy A adalah tulang punggung penjualan Samsung secara volume global. Memastikan kompatibilitas perangkat lunak sejak jauh hari di Google Play Console menjamin bahwa saat perangkat ini rilis, integrasi dengan layanan Google akan berjalan mulus tanpa bug berarti.

Selain itu, ini juga berkaitan dengan roadmap teknologi Samsung secara keseluruhan. Dengan adanya Jajaran A Series yang semakin padat, konsumen dihadapkan pada banyak pilihan. Galaxy A27, A37, hingga A57 nantinya harus memiliki diferensiasi yang jelas agar tidak saling memakan pangsa pasar sendiri (kanibalisasi produk).

Kita juga tidak bisa mengabaikan aspek kecerdasan buatan. Samsung gencar mempromosikan Galaxy AI di seri flagship mereka. Kemungkinan besar, Fitur AI yang saat ini eksklusif di seri S, akan mulai diturunkan secara bertahap ke seri A yang lebih tinggi seperti A57 di masa depan. Persiapan software di Play Console bisa jadi indikasi awal pengujian fitur-fitur berat tersebut pada hardware kelas menengah.

Hingga saat ini, Samsung belum memberikan pernyataan resmi mengenai daftar tersebut. Namun, bagi pengamat industri dan konsumen yang cerdas, kemunculan di Google Play Console adalah bukti validitas eksistensi yang sulit dibantah. Pertanyaannya kini bukan lagi “apakah ada?”, melainkan “kapan rilisnya?”. Kita tunggu saja langkah catur selanjutnya dari raksasa teknologi Korea ini.

Tecno Pova Curve 2 Debut, Bawa Baterai 8.000mAh dan Layar Lengkung

0

Telset.id – Tecno secara resmi memperkenalkan perangkat terbarunya, Tecno Pova Curve 2, yang langsung menarik perhatian pasar berkat dua spesifikasi kuncinya yang menonjol: kapasitas baterai masif 8.000mAh dan desain layar lengkung (curved display) berukuran 6,78 inci.

Peluncuran ini menandai langkah berani Tecno dalam mendefinisikan ulang standar ketahanan daya pada smartphone modern. Di saat mayoritas kompetitor masih bermain aman di angka 5.000mAh hingga 6.000mAh, Tecno Pova Curve 2 hadir dengan kapasitas daya yang jauh melampaui rata-rata, menjanjikan durabilitas penggunaan yang ekstrem bagi penggunanya.

Selain sektor daya, estetika perangkat ini juga mengalami peningkatan signifikan lewat adopsi layar lengkung. Panel seluas 6,78 inci ini tidak hanya menawarkan area pandang yang luas, tetapi juga memberikan kesan premium yang jarang ditemui pada lini seri yang biasanya fokus pada performa gaming budget.

Kombinasi antara layar luas dan baterai raksasa ini mengindikasikan bahwa Tecno membidik segmen pengguna berat yang memprioritaskan konsumsi multimedia dan produktivitas tanpa henti. Konsep ini sejalan dengan rumor sebelumnya mengenai Baterai Monster yang siap mendisrupsi pasar.

Penggunaan desain layar lengkung pada seri Pova ini menjadi diferensiasi yang menarik. Biasanya, Layar Lengkung lebih sering diasosiasikan dengan perangkat flagship atau high-end. Keputusan Tecno untuk membawa fitur ini ke Pova Curve 2 menunjukkan upaya brand tersebut untuk menaikkan kelas seri Pova dari sekadar ponsel baterai besar menjadi perangkat yang juga estetik.

Hingga berita ini diturunkan, fokus utama dari debut perangkat ini memang tertuju pada spesifikasi layar dan baterainya yang di atas kertas sangat mengesankan. Kehadiran anggota baru keluarga Seri Pova ini tentunya akan memanaskan persaingan di segmen ponsel yang mengutamakan endurance.

Debut Tecno Pova Curve 2 memberikan opsi baru yang segar bagi konsumen yang mendambakan ponsel dengan masa pakai baterai panjang tanpa mengorbankan keindahan desain layar. Pasar kini menanti respons kompetitor terhadap standar kapasitas baterai baru yang ditawarkan oleh Tecno.

Menkomdigi Meutya Hafid Wajibkan Pegawai Komdigi Bersihkan Meja Sendiri

0

Telset.id – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid secara resmi menginstruksikan seluruh jajarannya untuk menerapkan budaya bersih melalui pelaksanaan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah). Langkah ini ditegaskan bukan sekadar seremonial, melainkan fondasi utama disiplin aparatur di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Digital.

Dalam apel yang digelar di Lapangan Anantakupa, Kantor Kementerian Komdigi, Jumat lalu, Meutya menekankan bahwa kebersihan fisik lingkungan kerja merupakan cerminan langsung dari tanggung jawab dan integritas aparatur negara dalam menjalankan tugas pelayanan publik. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam menjaga ruang digital yang sehat dan beretika.

“Sesuai arahan Pak Presiden, kita bertanggung jawab terhadap lingkungan melalui Gerakan Indonesia ASRI,” ujar Meutya.

Gerakan ini merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Presiden Prabowo Subianto. Presiden meminta setiap kementerian dan lembaga untuk membangun lingkungan kerja yang tertib, sehat, dan aman sebagai bagian integral dari tata kelola pemerintahan yang profesional. Ini bukan hanya soal estetika, tetapi juga mentalitas.

Tak Boleh Hanya Andalkan OB

Salah satu poin krusial yang disampaikan Meutya adalah perubahan pola pikir terkait kebersihan kantor. Ia menegaskan bahwa kebersihan ruang kerja tidak boleh lagi bergantung sepenuhnya pada petugas kebersihan atau Office Boy (OB). Setiap pegawai kini memiliki kewajiban moral dan fisik untuk membersihkan ruang kerjanya sendiri.

Meutya mengajak seluruh pejabat dan pegawai untuk membangun kebiasaan “korve” atau kerja bakti rutin. Tujuannya agar budaya bersih ini meresap menjadi etos kerja sehari-hari, mirip dengan semangat pembangunan desa yang mengandalkan gotong royong.

“Hari ini kita sebarkan kegiatan ASRI sampai ke ruang kerja. Kita tidak hanya mengandalkan OB. Kebiasaan ini harus kita lakukan terus,” tegasnya.

Rutinitas Jumat Pagi Menjelang Ramadan

Sebagai implementasi nyata, kegiatan korve ini ditetapkan akan berlangsung setiap Jumat pagi. Meutya menyoroti momentum menjelang bulan Ramadan dan perayaan Imlek sebagai titik awal yang tepat untuk memulai kebiasaan baik ini. Ia menginginkan suasana kerja yang bersih menjadi bagian dari persiapan menyambut bulan ibadah dan hari besar keagamaan tersebut.

“Saya ingin setiap Jumat pagi kita lakukan pembersihan lingkungan kantor. Menjelang Ramadan dan Imlek, kita mulai dengan hati yang bersih,” tambah Meutya. Jika negara lain seperti China sibuk membersihkan konten vulgar dari internet, Komdigi memulainya dengan membersihkan lingkungan fisik kantor mereka terlebih dahulu.

Kegiatan perdana ini diikuti oleh seluruh elemen kementerian, mulai dari pejabat tinggi madya, pejabat tinggi pratama, hingga seluruh pegawai di lingkungan Kementerian Komunikasi dan Digital. Meutya berharap korve bersama ini menjadi langkah awal dalam membangun disiplin kolektif dan menumbuhkan rasa tanggung jawab pribadi yang kuat terhadap lingkungan kerja masing-masing.

Ilmuwan Peringatkan Risiko Utang Kognitif Akibat Ketergantungan AI

0

Telset.id – Psikiater asal Denmark, Søren Dinesen Østergaard, mengeluarkan peringatan serius mengenai dampak jangka panjang penggunaan kecerdasan buatan (AI) terhadap kemampuan intelektual manusia. Dalam sebuah surat kepada editor yang diterbitkan di jurnal Acta Psychiatrica Scandinavica, Østergaard menyebutkan bahwa para intelektual dan ilmuwan dunia kini mulai menumpuk apa yang disebutnya sebagai “utang kognitif” atau cognitive debt.

Peringatan ini muncul setelah sebelumnya Østergaard menyoroti bahaya interaksi obsesif dengan chatbot AI yang dapat memicu krisis kesehatan mental, bahkan berujung pada kasus bunuh diri. Kini, fokusnya beralih pada bagaimana AI mengikis kemampuan dasar manusia dalam menulis dan melakukan riset ilmiah.

Menurut Østergaard, meskipun AI mampu mengotomatisasi berbagai tugas ilmiah dengan cara yang memukau, kemudahan ini tidak datang tanpa konsekuensi negatif bagi penggunanya. Ia menegaskan bahwa penalaran ilmiah—dan penalaran secara umum—bukanlah kemampuan bawaan sejak lahir, melainkan keterampilan yang dipelajari melalui pengasuhan, pendidikan, dan latihan terus-menerus.

Kekhawatiran utamanya adalah penggunaan alat generatif yang ceroboh dapat menggantikan “otot mental” yang seharusnya dilatih oleh para pelajar dan ilmuwan, sebuah pandangan yang juga didukung oleh ahli saraf Universitas Monterrey, Umberto León Domínguez.

Sebagai contoh konkret dari dampak jangka panjang yang dikhawatirkan, Østergaard merujuk pada pencapaian Demis Hassabis dan John Jumper, peneliti AI yang memenangkan Hadiah Nobel Kimia 2024. Keduanya berhasil mendemonstrasikan potensi AI dalam penemuan ilmiah menggunakan AlphaFold2, sistem besutan Google DeepMind yang mampu memprediksi struktur tiga dimensi protein secara akurat.

Namun, Østergaard berargumen bahwa terobosan tersebut tidak muncul begitu saja. Prestasi Hassabis dan Jumper dibangun di atas fondasi pelatihan ilmiah yang intensif selama bertahun-tahun. Ironisnya, Østergaard meragukan apakah sosok selevel mereka akan mampu mencapai tingkat Nobel jika alat AI generatif—yang mereka kembangkan sendiri—sudah tersedia sejak awal karier atau saat mereka masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Alasannya adalah mereka mungkin tidak akan mendapatkan cukup latihan penalaran dengan ketersediaan alat-alat ini,” tulis Østergaard. Ia menambahkan bahwa jika penggunaan chatbot AI benar-benar menyebabkan utang kognitif, dunia ilmu pengetahuan mungkin berada dalam situasi yang mengerikan.

Fenomena ini dikenal sebagai cognitive offloading atau pelimpahan beban kognitif ke mesin. Beberapa perusahaan teknologi besar mulai menyadari risiko ini, bahkan ada yang merekrut ahli untuk menangani dampak AI tersebut. Namun, Østergaard memprediksi bahwa dalam jangka panjang, hal ini akan mengurangi peluang munculnya ilmuwan-ilmuwan brilian seperti Hassabis dan Jumper dari generasi mendatang.

Peringatan ini menambah daftar panjang risiko penggunaan teknologi yang tidak terkontrol, yang sebelumnya juga dikaitkan dengan penelitian kesehatan mental terkait media sosial. Tanpa keseimbangan antara penggunaan alat bantu dan latihan intelektual mandiri, kemampuan manusia untuk menghasilkan inovasi orisinal mungkin akan tergerus secara perlahan.

Misteri Serangan Bot Asal China Hantam Website Global dan Pemerintah AS

0

Telset.id – Gelombang trafik misterius yang didominasi oleh bot asal China dan Singapura dilaporkan membanjiri berbagai situs web di seluruh dunia, mulai dari blog pribadi hingga domain pemerintah Amerika Serikat, yang memicu kekacauan data analitik dan kerugian pendapatan iklan bagi para pengelola situs.

Fenomena ini mencuat setelah sejumlah pemilik situs web melaporkan lonjakan kunjungan yang tidak wajar sejak akhir tahun lalu. Trafik tersebut memiliki pola yang identik: berasal dari satu kota spesifik di China, yakni Lanzhou, serta Singapura. Serangan ini tidak hanya menargetkan situs kecil, tetapi juga infrastruktur digital milik pemerintah AS, menciptakan tanda tanya besar mengenai motif di balik aktivitas masif ini.

Alejandro Quintero, seorang analis data asal Bogotá yang mengelola situs web bertema paranormal, adalah salah satu korban awal yang menyadari anomali ini. Situsnya, yang ditulis dalam “Spanglish” dan tidak menargetkan audiens Asia, tiba-tiba menerima volume kunjungan besar dari China. Awalnya mengira kontennya viral, Quintero segera menyadari bahwa “pengunjung” tersebut bukanlah manusia. Data Google Analytics menunjukkan durasi kunjungan rata-rata 0 detik tanpa adanya aktivitas scrolling atau klik, sebuah tanda klasik dari aktivitas serangan siber berbasis bot.

Jejak Digital dari Lanzhou hingga Singapura

Investigasi lebih lanjut mengungkapkan bahwa Quintero tidak sendirian. Majalah gaya hidup di India, blog tentang pulau kecil di Kanada, toko ecommerce di Shopify, platform prakiraan cuaca dengan 15 juta halaman, hingga situs pemerintah AS menjadi sasaran. Menurut data dari Analytics.usa.gov, dalam 90 hari terakhir, 14,7 persen kunjungan ke situs web pemerintah AS berasal dari Lanzhou, sementara 6,6 persen datang dari Singapura. Angka ini menjadikan kedua lokasi tersebut sebagai sumber trafik teratas yang seolah-olah “haus” akan informasi pemerintah Amerika.

Pertanyaan besarnya adalah: Mengapa Lanzhou? Kota tingkat dua di barat laut China ini dikenal dengan industri manufaktur berat dan sejarah Jalur Sutra, bukan sebagai pusat teknologi atau basis pusat data (data center). Gavin King, pendiri Known Agents yang menganalisis trafik otomatis, menyebutkan bahwa Lanzhou mungkin bukan sumber asli bot tersebut. Meskipun Google Analytics menunjuk ke kota tersebut, King menemukan bahwa trafik itu dirutekan melalui server di Singapura.

Detail teknis yang ditemukan King menunjukkan bahwa trafik bot ini melewati Autonomous System Number (ASN) 132203, sebuah pengenal unik dalam sistem perutean internet yang ditugaskan kepada penyedia layanan internet yang dioperasikan oleh raksasa teknologi China, Tencent. Selain itu, manajer grup situs web cuaca bernama Andy juga mendeteksi trafik bot dari ASN yang terkait dengan Alibaba dan Huawei. Ketiga perusahaan ini merupakan penyedia layanan cloud utama, sehingga belum jelas apakah bot ini berasal dari internal perusahaan atau dari klien yang menyewa server mereka.

Para pengelola situs web kini dipaksa untuk lebih waspada terhadap keamanan website mereka, mengingat bot ini mampu menyamarkan diri dengan canggih.

Dugaan Pengerukan Data untuk AI

Banyak pihak mencurigai bahwa lonjakan bot ini terkait dengan upaya perusahaan kecerdasan buatan (AI) untuk mengumpulkan data pelatihan (scraping) dari halaman web. Pada tahun 2025, bot AI memang menyumbang porsi signifikan dari trafik web global untuk memberi makan Large Language Models (LLM) yang haus data.

Namun, terdapat perbedaan mencolok antara bot China ini dengan crawler AI pada umumnya. Pertama, volumenya jauh lebih masif. Gavin King mencatat bahwa trafik dari China dan Singapura menyumbang 22 persen dari total trafik di situsnya, sementara gabungan seluruh bot AI lainnya hanya menyumbang kurang dari 10 persen. Kedua, bot ini tidak transparan. Perusahaan AI terkemuka biasanya mengidentifikasi bot mereka agar mudah dikenali dan diblokir oleh operator situs. Sebaliknya, gelombang bot baru ini menyamar sebagai pengguna manusia sejak awal.

Brent Maynard, direktur senior strategi teknologi keamanan di Akamai, menjelaskan bahwa laboratorium AI terdepan biasanya tidak tertarik untuk melanggar aturan pemblokiran bot. Namun, bot yang berasal dari China ini justru menggunakan taktik penyamaran, seperti menggunakan identitas sistem operasi Windows versi lama dan rasio aspek layar yang tidak umum. Hal ini membuat mereka lebih sulit dideteksi oleh filter keamanan standar, mirip dengan pola serangan DDoS yang terdistribusi.

Dampak Finansial dan Distorsi Data

Meskipun belum ada bukti bahwa bot ini melakukan serangan siber destruktif atau memindai kerentanan keamanan, dampaknya tetap merugikan. Bagi pemilik situs web, lonjakan trafik ini mendistorsi laporan analitik, membuat data demografi pengunjung menjadi tidak akurat. Lebih parah lagi, hal ini berdampak langsung pada biaya operasional dan pendapatan.

Alejandro Quintero mengeluhkan bahwa strategi AdSense miliknya hancur. Google dapat menilai situsnya hanya dikunjungi oleh bot, sehingga kontennya dianggap tidak berharga bagi pengiklan. Akibatnya, situs web seperti miliknya menjadi kurang diminati oleh pengiklan dan berpotensi terkena penalti. Selain itu, lonjakan trafik memaksa pemilik situs membayar biaya bandwidth yang lebih mahal untuk melayani “pengunjung” yang sebenarnya bukan manusia.

Hingga saat ini, solusi konkret masih minim. Beberapa operator situs web mencoba memblokir ASN yang terkait dengan Tencent, Alibaba, dan Huawei, atau memblokir seluruh IP dari China dan Singapura. Langkah ini terbukti mengurangi jumlah bot secara signifikan, namun tidak menghilangkannya sepenuhnya. WordPress mengakui adanya peningkatan laporan terkait trafik bot AI ini, sementara Google, Cloudflare, dan Squarespace belum memberikan tanggapan resmi.

Seiring dengan menjamurnya perangkat AI otonom di internet, fenomena ini menjadi “biaya” baru yang harus ditanggung oleh siapa pun yang memiliki properti digital. Seperti yang diungkapkan Maynard dari Akamai, berada di internet berarti berada dalam pandangan publik, lengkap dengan segala risiko eksploitasi data yang menyertainya.

Bedah Fitur HyperOS 3: Transformasi AI dan Desain yang Bikin HP Makin ‘Manusiawi’

0

Telset.id – Pernahkah Anda merasa perangkat pintar Anda, mulai dari ponsel hingga tablet, seperti orang asing yang enggan berbicara satu sama lain? Di tengah hiruk-pikuk inovasi teknologi, Xiaomi mengambil langkah berani untuk meruntuhkan tembok pemisah tersebut. Lewat deretan Fitur HyperOS 3, raksasa teknologi ini tidak lagi sekadar berjualan spesifikasi di atas kertas, melainkan menawarkan sebuah ekosistem hidup yang benar-benar mengerti kebutuhan penggunanya.

Jakarta, 13 Februari 2026, menjadi saksi bagaimana Xiaomi Indonesia mempertegas ambisinya. Bukan sekadar pembaruan rutin, sistem operasi terbaru ini hadir sebagai tulang punggung dari visi besar “Human x Car x Home”. Bayangkan sebuah skenario di mana perangkat lunak menjadi konduktor yang memimpin orkestra gadget Anda—mulai dari smartphone di genggaman, kendaraan listrik, hingga perabot rumah tangga pintar—untuk bermain dalam satu harmoni yang selaras.

Andi Renreng, Marketing Director Xiaomi Indonesia, menegaskan bahwa fokus utama mereka bukan lagi pada kehebatan perangkat secara individu. “Fokus kami adalah bagaimana setiap perangkat tersebut saling berkomunikasi secara cerdas untuk menciptakan solusi yang memudahkan hidup pengguna,” ujarnya. Pernyataan ini bukan sekadar jargon pemasaran, melainkan janji akan transformasi gaya hidup digital yang lebih dinamis melalui tiga pilar utama: desain intuitif, interkoneksi tanpa batas, dan kecerdasan buatan yang lebih matang.

Bagi Anda yang penasaran apakah pembaruan ini layak dinanti atau sekadar gimmick, kami telah membedah secara mendalam apa saja yang ditawarkan oleh OS terbaru ini. Berikut adalah ulasan lengkap mengenai keunggulan dan inovasi yang dibawa oleh Xiaomi HyperOS 3.

1. Xiaomi HyperIsland: Revolusi Notifikasi yang Lebih Bersih

Salah satu perubahan paling mencolok yang akan langsung Anda sadari adalah penyegaran pada antarmuka pengguna. Xiaomi tampaknya menyadari bahwa estetika bukan hanya soal keindahan, tapi juga kenyamanan visual. Animasi dibuat jauh lebih halus, memberikan sensasi fluiditas yang memanjakan mata saat berpindah antar menu.

Namun, bintang utamanya adalah fitur Xiaomi HyperIsland. Inovasi ini mengubah cara kita berinteraksi dengan notifikasi. Pengguna kini dapat memantau aktivitas yang sedang berjalan, seperti pemutar musik atau status aplikasi, langsung di bagian atas layar tanpa harus meninggalkan aplikasi yang sedang dibuka. Mekanismenya pun dibuat sangat natural; cukup ketukan ringan untuk melihat detail, atau usapan sederhana untuk membuka aplikasi dalam mode floating window. Ini adalah definisi multitasking yang sebenarnya, ringkas dan tidak mengganggu.

2. Interkonektivitas Tanpa Batas dengan HyperConnect

Di dunia kerja yang hybrid, batasan antar perangkat seringkali menjadi penghambat produktivitas. Revolusi AI dan konektivitas dalam HyperOS 3 mencoba menjawab masalah ini melalui teknologi Xiaomi HyperConnect. Ekosistem ini dirancang agar perpindahan kerja dari ponsel ke perangkat lain terasa sangat mulus atau seamless.

Fitur andalannya, Home Screen+, memungkinkan Anda menampilkan dan mengontrol layar smartphone langsung dari tablet atau laptop. Menariknya, fitur ini juga mendukung perangkat lintas ekosistem seperti MacBook. Anda bisa menjalankan aplikasi smartphone di layar yang lebih besar dan memindahkan file hanya dengan metode drag-and-drop. Tidak perlu lagi kabel data atau aplikasi pihak ketiga yang rumit.

Selain itu, hadir pula fitur Touch to Share yang memungkinkan berbagi foto dan dokumen antar perangkat Xiaomi hanya dalam hitungan detik. Semua kemudahan ini dibalut dengan protokol keamanan MiTEE. Artinya, sinkronisasi data dan informasi biometrik Anda tetap terlindungi dengan enkripsi tingkat tinggi, memastikan privasi tidak tergadaikan demi kenyamanan.

3. Kecerdasan Buatan yang Benar-Benar “Pintar”

Kata “AI” seringkali disematkan sembarangan, namun dalam Fitur HyperOS 3, implementasi Xiaomi HyperAI terasa sangat fungsional untuk kebutuhan harian. Xiaomi menyuntikkan kecerdasan buatan ke dalam berbagai aspek sistem untuk meningkatkan efektivitas pengguna.

Pertama, ada AI Writing & DeepThink Mode pada aplikasi Catatan. Fitur ini bukan sekadar mengetik, tapi membantu pengguna mengolah teks dan memberikan ringkasan informasi yang cerdas. Bagi jurnalis, mahasiswa, atau profesional, ini adalah asisten saku yang sangat berguna. Kemudian, fitur Voice Enhancement menjamin kejernihan suara saat panggilan atau rekaman, bahkan di lingkungan bising sekalipun, dengan cara menyaring gangguan suara latar secara otomatis.

Tak ketinggalan, AI Search mempermudah pencarian informasi atau foto di galeri menggunakan perintah bahasa alami. Anda bisa menemukan foto lama hanya dengan mendeskripsikan suasananya. Terakhir, untuk sentuhan personal, AI Dynamic Wallpapers mampu mengubah foto favorit menjadi latar belakang yang tampak hidup dan sinematik, memberikan nuansa segar setiap kali Anda membuka kunci layar.

Daftar Perangkat yang Mendapatkan Pembaruan

Pembaruan ini akan digulirkan secara bertahap melalui sistem Over-the-Air (OTA). Xiaomi memastikan stabilitas performa bagi perangkat yang memenuhi syarat. Anda bisa segera Cek Update di pengaturan ponsel Anda jika menggunakan salah satu dari daftar berikut:

  • Smartphone Xiaomi: Xiaomi 15 Ultra, Xiaomi 15 Pro, Xiaomi 15, Xiaomi 15T Pro, Xiaomi 15T, Xiaomi 14, Xiaomi 14T Pro, dan Xiaomi 14T.
  • Smartphone Redmi: Redmi Note 14 Pro+ 5G, Redmi Note 14 Pro 5G, Redmi 15, Redmi 13, dan Redmi A3.
  • Smartphone POCO: POCO F8 Ultra, POCO F8 Pro, POCO F7 Ultra, POCO F7 Pro, POCO F7, POCO X7 Pro 5G, POCO M7, dan POCO M6.
  • Tablet: Xiaomi Pad 7 Pro, Xiaomi Pad 7, dan Xiaomi Pad 6s Pro 12.4”.

Jika perangkat Anda belum masuk daftar di atas, jangan berkecil hati dulu. Terkadang ada penyesuaian jadwal atau Bocoran Update susulan untuk seri lainnya. Xiaomi HyperOS 3 jelas bukan sekadar pembaruan kosmetik, melainkan langkah serius Xiaomi dalam menciptakan ekosistem digital yang terintegrasi penuh.

Dominasi Meta Terancam! WhatsApp Bakal Dipaksa “Rujuk” dengan ChatGPT dan AI Lain?

0

Pernahkah Anda merasa kehilangan kenyamanan saat bot AI favorit Anda tiba-tiba menghilang dari WhatsApp? Atau mungkin, Anda menyadari betapa agresifnya Meta menyodorkan asisten cerdas buatan mereka sendiri, Meta AI, di setiap sudut aplikasi percakapan yang Anda gunakan sehari-hari? Jika Anda merasakan keresahan tersebut, Anda tidak sendirian. Jutaan pengguna di seluruh dunia merasakan pergeseran drastis ini, di mana pilihan seolah dipersempit demi keuntungan satu pihak saja.

Situasi ini bermula ketika Meta, induk perusahaan WhatsApp, mengambil langkah strategis—dan kontroversial—dengan memblokir akses bagi bot AI pihak ketiga seperti ChatGPT untuk beroperasi secara optimal di platform mereka. Langkah ini jelas terlihat sebagai upaya untuk “membersihkan jalan” bagi Meta AI agar menjadi penguasa tunggal di ekosistem pesan instan terbesar di dunia tersebut. Namun, hegemoni ini tampaknya tidak akan bertahan lama karena regulator Uni Eropa mulai mencium aroma persaingan usaha yang tidak sehat.

Kabar terbaru menyebutkan bahwa Uni Eropa (UE) kini tengah membidik Meta dengan serius. Melalui regulasi ketat Digital Markets Act (DMA), UE berpotensi memaksa WhatsApp untuk membuka kembali pintunya bagi chatbot AI eksternal. Ini bukan sekadar rumor, melainkan respons atas keluhan resmi yang diajukan oleh startup AI yang merasa dirugikan. Pertarungan antara regulasi ketat Eropa melawan raksasa teknologi Amerika ini akan menjadi babak penentu bagi masa depan kebebasan digital kita.

Keluhan “Am I” dan Tudingan Monopoli

Pemicu utama dari sorotan tajam Uni Eropa ini adalah keluhan resmi yang diajukan oleh sebuah startup bernama “Am I”. Startup ini secara vokal menyuarakan keberatan mereka kepada Komisi Eropa terkait praktik Meta yang dinilai anti-kompetisi. Inti dari permasalahan ini adalah keputusan Meta untuk memutus akses interoperabilitas yang sebelumnya memungkinkan bot AI pihak ketiga berinteraksi dengan pengguna WhatsApp.

Menurut laporan, Meta dituduh sengaja menciptakan hambatan teknis untuk menyingkirkan pesaing. Padahal, sebelumnya pengguna bisa dengan mudah berinteraksi dengan berbagai layanan AI melalui chat. Langkah pemblokiran ini dinilai bukan semata-mata masalah teknis, melainkan strategi bisnis untuk mematikan kompetisi. Pemerintah dan regulator pun mulai bereaksi, mirip dengan situasi saat kebijakan privasi WhatsApp menuai protes global beberapa tahun lalu.

How to use Meta AI on WhatsApp: A guide

Dalam kerangka Digital Markets Act (DMA), Meta dikategorikan sebagai “gatekeeper” atau penjaga gerbang. Status ini diberikan kepada perusahaan teknologi dengan basis pengguna yang sangat masif—WhatsApp sendiri memiliki lebih dari 2 miliar pengguna aktif. Sebagai gatekeeper, Meta memiliki kewajiban hukum untuk tidak membatasi akses pihak ketiga ke platform intinya demi keuntungan produk sendiri.

Tindakan Meta yang memprioritaskan Meta AI sambil memblokir akses bagi ChatGPT dan bot lainnya dianggap melanggar prinsip dasar DMA. Jika terbukti bersalah, ini bukan hanya soal denda, tapi soal perombakan struktur bisnis. Kasus ini mengingatkan kita pada insiden di mana blokir jutaan akun pernah terjadi, yang menunjukkan betapa besarnya kendali platform terhadap siapa yang boleh dan tidak boleh ada di dalamnya.

Dalih Keamanan vs Realitas Pasar

Tentu saja, Meta tidak tinggal diam. Dalam pembelaannya, raksasa teknologi yang dipimpin Mark Zuckerberg ini kerap berlindung di balik narasi “keamanan dan privasi pengguna”. Argumen klise yang sering dilontarkan adalah bahwa membuka akses bagi bot pihak ketiga dapat membahayakan enkripsi end-to-end yang menjadi nilai jual utama WhatsApp. Meta berdalih bahwa integrasi AI eksternal bisa menciptakan celah keamanan yang berpotensi mengekspos data pengguna.

Namun, para kritikus dan pengamat industri melihat alasan ini dengan skeptis. Banyak yang menilai bahwa “keamanan” hanyalah kedok untuk mempertahankan monopoli. Faktanya, teknologi untuk mengintegrasikan bot pihak ketiga dengan aman sudah tersedia. Yang terjadi sebenarnya adalah Meta ingin memastikan bahwa 2 miliar penggunanya hanya bergantung pada satu otak kecerdasan buatan: milik mereka sendiri.

Situasi ini menciptakan dilema bagi pengguna bisnis maupun personal. Di satu sisi, pengguna menginginkan privasi, namun di sisi lain, mereka menginginkan kebebasan memilih alat bantu kerja yang paling efektif. Pembatasan ini bahkan berdampak pada kebijakan korporasi, di mana ada kasus perusahaan larang karyawannya menggunakan platform tertentu karena keterbatasan kontrol dan fitur.

whatsapp share

Ancaman Denda Fantastis dan Masa Depan Interoperabilitas

Apa yang dipertaruhkan Meta dalam kasus ini sangatlah besar. Jika Komisi Eropa memutuskan bahwa Meta melanggar aturan DMA, sanksi yang menanti tidak main-main. Meta bisa dikenai denda hingga 10% dari total omzet global tahunan mereka. Mengingat pendapatan Meta yang mencapai ratusan miliar dolar, denda ini bisa menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah teknologi.

Lebih dari sekadar uang, keputusan Uni Eropa ini bisa memaksa perubahan fundamental pada cara kerja WhatsApp. Meta mungkin akan diwajibkan untuk membangun sistem interoperabilitas yang memungkinkan ChatGPT, Claude, Gemini, dan bot AI lainnya untuk “hidup” kembali di dalam WhatsApp secara resmi dan setara dengan Meta AI. Ini adalah kemenangan besar bagi konsumen yang menginginkan keragaman pilihan.

Tekanan regulasi ini membuktikan bahwa era di mana raksasa teknologi bisa mendikte pasar sesuka hati mulai berakhir. Eropa sekali lagi menjadi medan pertempuran utama dalam menegakkan keadilan digital. Bagi Anda para pengguna setia WhatsApp, bersiaplah. Kemungkinan besar dalam waktu dekat, Anda tidak perlu lagi berpindah aplikasi hanya untuk bertanya pada ChatGPT, karena “tembok” yang dibangun Meta mungkin akan segera runtuh.

Keanu Reeves Kembali! Game John Wick AAA Siap Guncang PS5 dan PC

0

Telset.id – Jika Anda berpikir era kejayaan Baba Yaga sudah berakhir di layar lebar, pikirkan lagi. Lionsgate dan Saber Interactive baru saja menjatuhkan “bom” berita yang bakal membuat para gamer menahan napas: sebuah game John Wick terbaru berskala AAA sedang dalam tahap pengembangan. Ini bukan sekadar adaptasi asal-asalan, karena sang aktor utama, Keanu Reeves, dipastikan terlibat penuh baik dari segi suara maupun visual karakternya.

Pengumuman ini menjadi angin segar di tengah industri game yang belakangan terasa stagnan. Proyek yang saat ini belum memiliki judul resmi tersebut dikonfirmasi akan hadir untuk platform next-gen, yakni PlayStation 5, Xbox Series X/S, dan PC. Saber Interactive, pengembang di balik kesuksesan Warhammer 40,000: Space Marine 2, dipercaya untuk memegang kendali produksi. Mereka menjanjikan pengalaman single-player dengan sudut pandang orang ketiga yang kental dengan nuansa aksi.

Menariknya, game ini dirancang khusus untuk audiens dewasa. Langkah ini sangat masuk akal mengingat brutalitas artistik yang menjadi ciri khas waralaba filmnya. Anda tidak akan menemukan sensor yang memperhalus aksi “Gun-Fu” ikonik si pembunuh bayaran legendaris ini. Meski belum ada tanggal rilis pasti, konfirmasi kehadiran game ini di konsol modern tentu memancing rasa penasaran, terutama bagi mereka yang terbiasa menikmati Game Tanpa Konsol lewat layanan cloud.

Kolaborasi Langsung dengan Chad Stahelski

Salah satu poin yang membuat proyek ini berbeda dari adaptasi film-ke-game lainnya adalah keterlibatan langsung para kreator aslinya. Chad Stahelski, sutradara yang membidani kesuksesan franchise film John Wick, turut ambil bagian dalam proses produksi game ini. Hal ini menjamin bahwa visi artistik dan koreografi pertarungan yang selama ini kita kagumi di bioskop akan diterjemahkan dengan akurat ke dalam mekanik permainan.

Dalam pernyataan resminya, pihak pengembang menyebutkan bahwa game aksi ini akan menggabungkan gaya bertarung “Gun-Fu” yang memacu adrenalin dengan reputasi Saber Interactive dalam menciptakan pengalaman bermain yang mendebarkan. Keanu Reeves tidak hanya meminjamkan wajahnya, tetapi juga menyumbangkan suaranya, memastikan imersi total bagi para pemain. Ini adalah standar kualitas yang tinggi, jauh berbeda dengan isu Bocoran Game kualitas rendah yang sering mengecewakan penggemar.

Cerita Orisinal dan Gameplay Sinematik

Direktur game ini, Jesus Iglesias, membocorkan bahwa narasi yang diusung adalah cerita orisinal. Kisah ini akan menyoroti periode waktu yang signifikan dalam hidup John Wick, yang belum pernah dieksplorasi secara mendalam di filmnya. Pemain akan bertemu dengan karakter-karakter familiar dari semesta film, sekaligus diperkenalkan pada wajah-wajah baru yang diciptakan khusus untuk game ini.

Dari segi gameplay, tim pengembang menjanjikan sistem pertarungan yang keras, kerja kamera yang memukau, serta pengalaman berkendara yang intens. Saber Interactive berambisi menghadirkan penceritaan sinematik dengan lingkungan yang atmosferik. Kualitas visual tentu menjadi prioritas, mungkin akan memanfaatkan teknologi terkini setara Kodec Video canggih untuk cutscene-nya.

Sebagai catatan penutup, Saber Interactive saat ini juga tengah sibuk dengan judul besar lain seperti Jurassic Park: Survival dan John Carpenter’s Toxic Commando. Game John Wick terbaru ini akan menjadi penerus dari John Wick Hex yang dirilis pada 2019, sebuah game strategi yang cukup unik namun kini telah ditarik dari peredaran. Dengan rekam jejak Saber dan kembalinya Keanu, ekspektasi gamer tentu melambung tinggi.

Bye Spam! Galaxy S25 Disulap Jadi Mesin Penjawab Cerdas di Update Ini

0

Pernahkah Anda merasa terganggu dengan dering telepon di tengah rapat penting, hanya untuk mendapati bahwa itu adalah panggilan spam atau penawaran kartu kredit yang tidak diinginkan? Di era digital yang serba cepat ini, manajemen panggilan telepon bukan lagi sekadar menekan tombol hijau atau merah. Kita membutuhkan asisten yang lebih cerdas, lebih tanggap, dan mampu menyaring kebisingan komunikasi yang tidak perlu. Samsung tampaknya sangat memahami frustrasi modern ini dan memberikan jawaban telak melalui pembaruan perangkat lunak terbaru mereka.

Kabar terbaru yang beredar di kalangan penggemar teknologi menyoroti langkah agresif Samsung dalam memoles antarmuka andalan mereka. Raksasa teknologi asal Korea Selatan ini baru saja menggulirkan pembaruan One UI 8.5 Beta 4 yang secara spesifik menargetkan lini flagship mereka, Samsung Galaxy S25. Bukan sekadar perbaikan bug rutin atau perubahan kosmetik pada ikon aplikasi, pembaruan ini membawa transformasi fungsional yang sangat signifikan. Fokus utamanya jelas: mengubah cara Anda berinteraksi dengan panggilan masuk.

Pembaruan ini digadang-gadang akan mengubah Galaxy S25 Anda menjadi “mesin penyaring panggilan” yang sangat efisien. Dengan memanfaatkan kecerdasan buatan dan integrasi sistem yang lebih dalam, Samsung ingin memastikan bahwa pengguna memegang kendali penuh atas siapa yang bisa menjangkau mereka dan bagaimana interaksi tersebut terjadi. Ini adalah langkah maju yang menjanjikan pengalaman komunikasi yang jauh lebih tenang dan terorganisir bagi para profesional maupun pengguna kasual.

Revolusi Call Screening di Saku Anda

Fitur utama yang menjadi sorotan dalam One UI 8.5 Beta 4 ini adalah peningkatan drastis pada kemampuan penyaringan panggilan. Samsung Galaxy S25, yang sudah dikenal dengan perangkat keras mumpuninya, kini mendapatkan suntikan kecerdasan perangkat lunak yang membuatnya semakin superior. Fitur ini memungkinkan perangkat untuk secara otomatis menangani panggilan yang masuk dengan cara yang lebih proaktif, mirip dengan memiliki sekretaris pribadi digital yang bekerja 24 jam.

Mekanisme ini kemungkinan besar merupakan evolusi lanjut dari fitur Bixby Text Call yang telah diperkenalkan sebelumnya, namun dengan tingkat responsivitas dan akurasi yang jauh lebih tinggi. Dalam skenario penggunaan sehari-hari, fitur ini akan sangat berguna untuk menghindari gangguan dari nomor tidak dikenal atau panggilan robot (robocalls) yang kian marak. Pengguna tidak perlu lagi repot mengangkat telepon hanya untuk memastikan urgensi panggilan tersebut.

Selain itu, pembaruan ini juga mengindikasikan adanya Upgrade Bixby yang lebih mendalam. Asisten suara ini tidak lagi hanya pasif menunggu perintah, tetapi aktif bekerja di latar belakang untuk memproses percakapan teks-ke-suara dan sebaliknya dengan lebih natural. Ini memastikan bahwa ketika mesin penjawab bekerja, penelepon di ujung sana merasa dihargai dan tidak seperti berbicara dengan robot kaku.

Web_Photo_Editor-19

Performa dan Stabilitas Sistem

Tentu saja, sebuah fitur canggih tidak akan berjalan optimal tanpa fondasi sistem yang kuat. One UI 8.5 Beta 4 tidak hanya membawa fitur kosmetik atau fungsional di permukaan, tetapi juga perbaikan di tingkat kernel. Stabilitas menjadi kunci, mengingat fitur penyaringan panggilan membutuhkan akses real-time ke jaringan dan pemrosesan audio yang cepat tanpa membebani baterai secara berlebihan.

Bagi Anda yang menjadikan smartphone sebagai pusat produktivitas, stabilitas ini sangat krusial. Bayangkan Anda sedang bekerja menggunakan laptop seperti Laptop Handal untuk menyelesaikan laporan, dan tiba-tiba ponsel Anda mengalami lag saat ada panggilan masuk. Dengan pembaruan kernel dan optimasi sistem di Beta 4 ini, Samsung menjanjikan transisi yang mulus antara aplikasi dan fitur telepon, menjaga alur kerja Anda tetap lancar.

Daya Tarik Bagi Pengguna Ekosistem Lain

Langkah Samsung memperkuat fitur komunikasi dasar seperti telepon ini juga bisa dilihat sebagai strategi untuk menarik pengguna dari ekosistem kompetitor, khususnya Apple. Dengan menawarkan fitur penyaringan panggilan yang lebih canggih dan terintegrasi langsung ke dalam dialer bawaan, Samsung memberikan nilai tambah yang sulit diabaikan. Hal ini sejalan dengan upaya mereka baru-baru ini yang membuat proses Pindah iPhone ke Galaxy menjadi jauh lebih sederhana.

iPhone-17e-Launch-in-2026

Jika dibandingkan, pengguna sering kali terjebak dalam dilema fitur vs kenyamanan. Namun, dengan Galaxy S25 yang kini mampu menangani panggilan secara cerdas, hambatan untuk berpindah platform menjadi semakin kecil. Pengguna tidak hanya mendapatkan perangkat keras yang solid, tetapi juga perangkat lunak yang benar-benar “mengerti” kebutuhan privasi dan kenyamanan penggunanya.

Nasib Perangkat Generasi Sebelumnya

Sementara sorotan utama tertuju pada Galaxy S25, pertanyaan wajar muncul mengenai nasib perangkat flagship generasi sebelumnya. Samsung dikenal cukup dermawan dalam memberikan pembaruan perangkat lunak, namun setiap perangkat memiliki batas usia dukungannya. Misalnya, bagi pengguna seri lama, penting untuk memperhatikan siklus pembaruan ini.

Seperti yang terjadi pada seri terdahulu, di mana Update Terakhir sering kali menjadi momen emosional bagi pengguna setia. Meskipun fitur canggih seperti Advanced Call Screening ini mungkin dioptimalkan khusus untuk NPU (Neural Processing Unit) terbaru di Galaxy S25, harapan agar fitur ini diturunkan (trickle-down) ke seri S24 atau S23 tetap ada, meskipun mungkin dengan kapabilitas yang sedikit disesuaikan.

Antisipasi Menuju Rilis Stabil

Perlu diingat bahwa One UI 8.5 ini masih dalam tahap Beta 4. Artinya, meskipun fitur-fiturnya sangat menjanjikan, pengguna mungkin masih akan menemukan beberapa ketidaksempurnaan kecil. Namun, melihat rekam jejak Samsung dalam program beta sebelumnya, versi Beta 4 biasanya sudah sangat mendekati versi final atau Release Candidate. Ini adalah waktu yang tepat bagi para early adopter untuk mencicipi masa depan telekomunikasi seluler.

Dengan menjadikan Galaxy S25 sebagai mesin penyaring panggilan yang handal, Samsung tidak hanya menjual spesifikasi kamera atau layar, tetapi menjual “ketenangan pikiran”. Di dunia yang semakin bising, kemampuan untuk mengontrol siapa yang bisa berbicara dengan kita adalah kemewahan yang kini menjadi standar baru di kelas flagship.

Xiaomi HyperOS 3 Resmi Meluncur: Revolusi AI dan Interkoneksi Tanpa Batas

0

Telset.id – Pernahkah Anda membayangkan sebuah ekosistem teknologi di mana ponsel, kendaraan, dan perangkat rumah tangga Anda “berbicara” dalam satu bahasa yang sama tanpa jeda? Jika selama ini integrasi antar perangkat sering kali terasa kaku atau terbatas pada merek tertentu saja, Xiaomi tampaknya ingin mengubah narasi tersebut. Melalui peluncuran Xiaomi HyperOS 3, raksasa teknologi ini tidak sekadar menawarkan pembaruan perangkat lunak, melainkan sebuah transformasi gaya hidup digital yang menyeluruh.

Komitmen ini ditegaskan kembali oleh Xiaomi Indonesia pada pertengahan Februari 2026 ini. Visi besar “Human x Car x Home” bukan lagi sekadar slogan pemasaran, tetapi menjadi fondasi utama dari pengembangan sistem operasi terbaru mereka. Fokusnya jelas: menciptakan integrasi yang menyatukan individu dengan lingkungan digital di sekitarnya dalam satu kesatuan yang utuh, responsif, dan adaptif.

Andi Renreng, Marketing Director Xiaomi Indonesia, menyoroti bahwa teknologi seharusnya menjadi penggerak gaya hidup yang dinamis. Menurutnya, fokus Xiaomi kini bergeser dari sekadar menciptakan perangkat keras yang hebat secara individu, menjadi bagaimana perangkat-perangkat tersebut saling berkomunikasi secara cerdas. Ini adalah langkah strategis untuk menghadirkan solusi yang benar-benar memudahkan hidup pengguna, bukan sekadar menambah kompleksitas fitur yang jarang terpakai. Bagi Anda yang menantikan Update HyperOS 3, perubahan ini tentu menjadi kabar baik.

Desain Intuitif dan “Pulau” Interaktif

Salah satu perubahan paling mencolok yang langsung terasa saat menggenggam perangkat dengan HyperOS 3 adalah antarmukanya. Xiaomi menghadirkan desain yang lebih segar dengan animasi yang jauh lebih halus, memanjakan mata sekaligus memberikan kenyamanan visual. Namun, bintang utamanya adalah fitur Xiaomi HyperIsland. Fitur ini mengubah cara kita berinteraksi dengan notifikasi dan aktivitas latar belakang.

Melalui HyperIsland, pengguna dapat memantau status aplikasi yang berjalan—seperti pemutar musik atau penghitung waktu—langsung di bagian atas layar tanpa perlu berpindah aplikasi. Mekanismenya sederhana namun brilian: cukup ketukan ringan untuk melihat detail, atau usapan (swipe) untuk membuka aplikasi dalam mode floating window. Ini adalah sentuhan kecil yang membuat pengalaman pengguna terasa jauh lebih modern dan efisien, seolah-olah sistem operasi ini mengerti prioritas visual Anda.

Konektivitas Tanpa Sekat Lewat HyperConnect

Di era produktivitas hybrid, batasan antar perangkat adalah musuh utama efisiensi. Xiaomi menjawab tantangan ini melalui teknologi Xiaomi HyperConnect. Fitur ini memungkinkan pengguna bekerja lebih produktif di mana pun dengan batasan yang semakin seamless. Salah satu fitur unggulannya adalah Home Screen+, yang memungkinkan Anda menampilkan dan mengontrol layar smartphone langsung dari tablet atau laptop, bahkan perangkat lintas ekosistem seperti MacBook.

Bayangkan Anda sedang bekerja di laptop, dan perlu memindahkan file dari ponsel. Dengan HyperOS 3, Anda bisa menjalankan aplikasi smartphone di layar yang lebih besar dan memindahkan file hanya dengan metode drag-and-drop. Selain itu, fitur Touch to Share memberikan kemudahan instan untuk berbagi foto dan dokumen antar perangkat Xiaomi hanya dalam hitungan detik. Keamanan pun tak luput dari perhatian; seluruh proses sinkronisasi dan data biometrik dilindungi oleh protokol keamanan MiTEE untuk menjamin privasi pengguna tetap terjaga. Ini bisa dibilang sebuah Revolusi Xiaomi dalam hal ekosistem tertutup yang lebih terbuka.

Kecerdasan Buatan yang Lebih Personal

Tentu saja, tidak lengkap rasanya membicarakan teknologi tahun 2026 tanpa menyinggung kecerdasan buatan. Fitur Xiaomi HyperAI hadir lebih canggih untuk meningkatkan efektivitas aktivitas harian. Bagi para profesional atau pelajar, fitur AI Writing & DeepThink Mode pada aplikasi Catatan akan sangat membantu dalam mengolah teks dan memberikan ringkasan informasi yang cerdas.

Selain itu, Xiaomi juga memperhatikan detail kecil yang sering mengganggu, seperti kebisingan saat menelepon. Fitur Voice Enhancement memastikan kejernihan suara saat panggilan atau rekaman dengan menyaring gangguan latar belakang secara cerdas. Tak ketinggalan, AI Search mempermudah pencarian informasi atau foto lama di galeri hanya dengan perintah sederhana. Bagi pecinta estetika, AI Dynamic Wallpapers mampu mengubah foto favorit menjadi latar belakang yang tampak hidup dan sinematik, memberikan sentuhan personal yang unik pada layar kunci Anda.

Pembaruan ini akan tersedia secara bertahap melalui sistem Over-the-Air (OTA). Menariknya, Xiaomi memastikan dukungan untuk berbagai lini perangkat, mulai dari seri flagship terbaru hingga beberapa model yang lebih lawas. Daftar perangkat yang mendukung mencakup seri Xiaomi 15, Xiaomi 14, hingga lini Redmi Note 14 Pro dan POCO F8 series. Bahkan tablet seperti Xiaomi Pad 7 Pro juga masuk dalam daftar prioritas. Langkah ini seolah memberi nafas baru bagi pengguna setia, bahkan bagi mereka yang menggunakan HP Lawas namun masih memiliki spesifikasi mumpuni.

Dengan segala peningkatan pada stabilitas, konektivitas, dan kecerdasan buatan, Xiaomi HyperOS 3 tampaknya bukan sekadar pembaruan rutin tahunan. Ini adalah pernyataan tegas Xiaomi untuk mengukuhkan posisinya tidak hanya sebagai pembuat ponsel, tetapi sebagai arsitek gaya hidup digital masa depan.

Paradoks Smartphone Baterai 7.000mAh: Oppo dan Era Baru Ponsel Tipis yang Awet Berhari-hari

0

Pernahkah Anda merasa cemas saat indikator baterai ponsel berubah menjadi merah di tengah hari yang sibuk? Bertahun-tahun lamanya, kita dipaksa memilih antara dua kutub yang berseberangan: ponsel tipis yang elegan namun boros daya, atau “ponsel batu bata” dengan baterai besar namun tebal dan berat. Ini adalah kompromi klasik yang seolah menjadi hukum alam di industri teknologi seluler.

Namun, angin perubahan berhembus kencang pada awal tahun 2026 ini. Bocoran dan rilis terbaru mengindikasikan bahwa industri smartphone sedang mengalami pergeseran tektonik. Standar baterai 5.000mAh yang selama ini kita anggap cukup, kini mulai terasa usang. Para raksasa teknologi, termasuk Oppo, mulai mendobrak batas dengan memperkenalkan kapasitas 7.000mAh ke dalam bodi perangkat yang tetap ramping dan estetis.

Fenomena ini menciptakan sebuah anomali menarik yang bisa kita sebut sebagai “Paradoks Baterai Jumbo”. Bagaimana mungkin sebuah perangkat bisa menyimpan energi begitu besar tanpa mengorbankan desain? Jawabannya terletak pada inovasi material dan rekayasa internal yang kian canggih, mengubah cara kita memandang ketahanan sebuah ponsel pintar.

Melawan Hukum Fisika dengan Inovasi

Di masa lalu, menyematkan baterai berkapasitas 7.000mAh berarti Anda harus siap membawa perangkat setebal power bank. Namun, teknologi baterai terbaru, seperti penggunaan anoda silikon-karbon, memungkinkan densitas energi yang jauh lebih tinggi dalam ukuran fisik yang sama. Inilah yang memungkinkan terciptanya smartphone tertipis dengan daya tahan monster.

Oppo Find X9 Ultra and Find X9s: New Leak Sheds Light on Cameras and Launch Dates

Oppo, melalui seri flagship terbarunya yang dirumorkan sebagai Find X9 Ultra, tampaknya menjadi salah satu pionir dalam memecahkan paradoks ini. Berdasarkan bocoran visual yang beredar, perangkat ini tidak hanya menonjolkan sektor kamera, tetapi juga manajemen daya yang efisien. Ini bukan lagi sekadar tentang angka mAh, melainkan bagaimana integrasi hardware dan software bekerja harmonis.

Kompetisi ini tidak hanya terjadi di kelas atas. Di segmen yang lebih terjangkau, kita melihat perangkat seperti Oppo A6 Pro yang juga mulai mengadopsi standar ketahanan baterai baru ini, membuktikan bahwa fitur premium perlahan turun ke pasar mainstream.

Perang Spesifikasi: Kamera dan Daya

Menariknya, peningkatan kapasitas baterai ini tidak lantas membuat produsen mengorbankan fitur lain. Justru sebaliknya, kita melihat tren di mana peningkatan daya berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan fotografi. Sebuah bocoran memperlihatkan modul kamera yang sangat serius pada perangkat Oppo mendatang.

Oppo Find X9 Pro to feature world's first 200MP periscope camera

Gambar di atas mengindikasikan bahwa Find X9 Pro mungkin akan membawa kamera periskop 200MP pertama di dunia. Bayangkan, Anda bisa memotret dan merekam video resolusi tinggi seharian tanpa takut kehabisan daya. Ini adalah kombinasi impian bagi para konten kreator yang sering bekerja di lapangan.

Tentu saja, Oppo tidak bermain sendirian. Kompetitor seperti Xiaomi juga terlihat menyiapkan amunisi mereka dengan seri Xiaomi 17 Pro Max, yang juga diprediksi akan membawa spesifikasi gahar. Persaingan ini pada akhirnya menguntungkan kita sebagai konsumen.

Xiaomi-17-Pro-Max-19

Dampak pada Ekosistem Smartphone

Kehadiran baterai 7.000mAh mengubah lanskap penggunaan harian. Jika sebelumnya kita terbiasa mengisi daya setiap malam, standar baru ini bisa memperpanjang siklus tersebut menjadi dua hari sekali, bahkan untuk penggunaan berat. Hal ini juga terlihat pada inovasi Realme C85 5G yang menggabungkan ketahanan air dengan baterai jumbo.

Namun, paradoks ini juga menimbulkan pertanyaan baru: seberapa cepat kita bisa mengisi daya baterai sebesar itu? Teknologi pengisian cepat (fast charging) menjadi kunci. Tanpa pengisian daya di atas 100W, baterai 7.000mAh akan menjadi beban karena waktu isi ulang yang terlalu lama. Untungnya, bocoran mengenai seri Xiaomi 17T Pro menunjukkan bahwa kecepatan charging tetap menjadi prioritas utama.

Xiaomi-17T-Pro

Kesimpulan: Era Baru Mobilitas

Tahun 2026 tampaknya akan dikenang sebagai tahun di mana kita akhirnya berhenti berkompromi. Paradoks yang ditampilkan oleh Oppo dan para pesaingnya membuktikan bahwa teknologi seluler masih memiliki ruang inovasi yang luas. Kita tidak lagi harus memilih antara estetika dan fungsi.

Melihat geliat pasar, perangkat seperti Realme C85 Pro dan seri Find X9 mendatang hanyalah permulaan. Apakah Anda siap untuk meninggalkan kebiasaan membawa power bank dan beralih ke era kebebasan daya yang sesungguhnya? Pilihan kini ada di tangan Anda.