Beranda blog Halaman 245

Influencer Marketing di Asia Tenggara: Pergeseran Besar Menuju Otentisitas

Telset.id – Bayangkan ini: Anda sedang menelusuri media sosial, lalu tiba-tiba muncul konten influencer yang terasa terlalu dipaksakan. Apakah Anda langsung scroll atau justru tertarik? Jika jawabannya yang pertama, Anda tidak sendirian. Laporan terbaru dari impact.com dan Cube mengungkap perubahan drastis dalam lanskap influencer marketing di Asia Tenggara—di mana otentisitas kini menjadi raja, sementara kepercayaan pada influencer besar terus merosot.

Laporan bertajuk E-commerce Influencer Marketing in Southeast Asia 2025 ini menganalisis respons lebih dari 2.400 konsumen, kreator, dan pakar industri di enam negara, termasuk Indonesia. Temuannya jelas: affiliate marketing dan konten berbasis nilai (bukan sekadar promosi) sedang mengubah cara brand berkolaborasi dengan kreator. Facebook (91%) dan YouTube (89%) masih mendominasi penetrasi, tetapi YouTube unggul dalam hal engagement—terutama untuk konten influencer dan selebritas.

Kepercayaan Menurun, Kreator Kecil Bersinar

Data paling mencolok? Hanya 59% responden yang mengaku terpengaruh oleh mega influencer (pemilik lebih dari 1 juta followers), turun 7% dari 2024. Sebaliknya, micro dan nano influencer mengalami penurunan kepercayaan yang lebih kecil. Adam Furness, Managing Director APAC impact.com, menjelaskan: “Brand harus beralih dari metrik semu seperti jumlah followers, ke kemitraan jangka panjang yang benar-benar berdampak pada perilaku beli.”

Fenomena ini sejalan dengan prediksi iBooming tentang tren influencer marketing yang terus berkembang, tetapi dengan pendekatan lebih selektif. Konsumen kini lebih tertarik pada konten edukatif (64%) dibandingkan sekadar hiburan (77%), serta menginginkan transparansi—seperti tautan afiliasi langsung (31% lebih efektif daripada promosi tanpa link).

Affiliate Marketing: Senjata Rahasia Brand

Lebih dari 83% responden mengaku pernah membeli produk melalui tautan afiliasi—dengan kategori kecantikan (62%) dan fesyen (54%) sebagai yang terpopuler. Marketplace seperti TikTok Shop, Shopee, dan Lazada juga menjadi katalis, menawarkan komisi 4-13% bagi kreator. “KOS (Key Opinion Sellers) adalah segmen baru yang tumbuh pesat, terutama di TikTok Shop Thailand,” ungkap laporan tersebut.

Strategi ini selaras dengan kesuksesan program seperti afiliasi berbasis kinerja, di mana kreator dan brand sama-sama diuntungkan. Namun, tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara promosi dan konten organik—sebab 34% konsumen menemukan produk via marketplace, mengalahkan channel influencer (31%).

Langkah Brand Menghadapi Perubahan

Laporan ini memberikan tiga rekomendasi kunci: (1) prioritaskan kolaborasi dengan kreator yang memiliki audiens spesifik, (2) manfaatkan teknologi shoppable content, dan (3) bangun relasi jangka panjang alih-alih kampanye sekali pakai. Seperti diungkapkan dalam diskusi tentang kepercayaan digital, transparansi adalah kunci mempertahankan loyalitas konsumen.

Jadi, apa artinya bagi Anda? Jika Anda seorang kreator, fokuslah pada nilai dan relevansi. Jika Anda pemasar, tinggalkan metrik usang dan berinvestasilah pada hubungan otentik. Sebab di era ini, influencer bukan lagi sekadar wajah—melainkan mitra strategis yang membangun cerita bersama audiens.

Cara Bayar BPJS Kesehatan Lewat LinkAja, Tips Lengkap

Telset.id – dari PT Fintek Karya Nusantara (Finarya), atau LinkAja mendukung digitalisasi layanan BPJS dengan menghadirkan fitur untuk membayar BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan melalui aplikasi LinkAja.

BPJS yang merupakan program Pemerintah Indonesia dalam menyelenggarakan jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan bagi masyarakat Indonesia.Hingga saat ini, terdapat 241,7 juta peserta BPJS yang terdaftar secara resmi.

Meskipun demikian 67% peserta BPJS masih membayar iuran dengan cara konvensional, dan hanya 14,7% yang melakukan pembayaran secara digital. Melihat keadaan digitalisasi yang masih belum merata tersebut, LinkAja menghadirkan layanan pembayaran BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan dalam satu aplikasi.

“Hadirnya fitur pembayaran iuran BPJS dalam aplikasi LinkAja, menjadi langkah lanjut dalam mempermudah kebutuhan esensial masyarakat, digitalisasi pembayaran ini juga dilakukan untuk mendorong inklusi keuangan di Indonesia,” jelas Yogi Rizkian Bahar, Direktur Utama LinkAja.

Lebih lanjut, kehadiran fitur BPJS di LinkAja merupakan bentuk konsistensi aplikasi dompet digital tersebut dalam mendukung program Pemerintah Indonesia, dan komitmen LinkAja dalam menyatukan berbagai potensi di Indonesia.

“LinkAja memahami kebutuhan literasi keuangan digital di era digitalisasi saat ini menjadi lebih dari sebuah pilihan, tapi menjadi kebutuhan semua pihak,” sambung Yogi.

BACA JUGA:

Cara Bayar BPJS Kesehatan di Lewat LinkAja 

Membayar BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan tidak terlalu sulit. Sama seperti fitur-fitur pembayaran yang ada di LinkAja, pengguna hanya perlu melakukan beberapa tahapan untuk bisa bayar BPJS. Berikut ini cara selengkapnya untuk Anda:

  • Unduh aplikasi LinkAja di Google Play Store atau App Store.
  • Buat akun LinkAja, dengan  mengisi data diri yang diperlukan sesuai petunjuk aplikasi LinkAja.
  • Jika Anda sudah berhasil terdaftar, di halaman utama pilih menu tanda titik 3 di bagian kanan.

Bayar BPJS LinkAja

  • Lihat kategori Keuangan dan pilih BPJS. Silakan pilih apakah ingin bayar iuran BPJS kesehatan atau Ketenagakerjaan.

Pembayaran BPJS Kesehatan Ketenagakerjaan LInkAja

  •  Apabila BPJS Kesehatan klik BPJS Kesehatan. Masukkan nomor peserta BPJS Kesehatan Anda dan jumlah bulan. Misalnya kalau ingin membayar untuk bulan November, tulis angka 11 begitu juga dengan bulan-bulan lainnya. Berikutnya klik Lanjut.

cara linkaja bpjs kesehatan

  • Bila nomor yang dimasukkan sudah benar, maka Anda bisa melihat data nama, nomor
    BPJS Kesehatan, biaya admin, jumlah tagihan, dan jumlah keseluruhan total
    pembayaran.
  • Lanjutnya transaksi hingga pembayaran iuran BPJS Kesehatan selesai.

BACA JUGA:

Semoga saja fitur pembayaran BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan di LinkAja ini bisa mempermudah pengguna untuk membayar iuran bulanan tersebut. Selamat mencoba. [NM/HBS]

realme Buds Series: Solusi Audio Premium untuk Pengalaman Musik Imersif

Telset.id – Apakah Anda termasuk generasi muda yang selalu mencari pengalaman musik terbaik, mulai dari karaoke bersama teman hingga menikmati konser langsung? realme punya jawabannya dengan lini TWS terbaru mereka, realme Buds Series, yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan audio Anda dengan fitur canggih dan desain stylish.

Di tengah maraknya tren konser dan festival musik di Indonesia, realme menghadirkan solusi audio yang tidak hanya powerful tetapi juga dilengkapi dengan teknologi mutakhir seperti AI Translator dan Active Noise Cancellation (ANC). Dengan beragam pilihan model, mulai dari premium hingga entry-level, realme Buds Series siap menemani setiap momen musik Anda.

realme Buds Air7 Pro: Suara Konser Langsung di Telinga Anda

Bagi para audiophile yang menginginkan pengalaman konser imersif, realme Buds Air7 Pro adalah pilihan utama. TWS ini tidak hanya menawarkan kualitas suara premium dengan dual drivers coaxial 11mm bass driver dan 6mm micro planar tweeter, tetapi juga dilengkapi dengan fitur AI Translator yang revolusioner. Bayangkan, Anda bisa memahami lirik lagu atau interaksi artis dalam berbagai bahasa secara real-time, langsung melalui earphone Anda!

Dengan teknologi ANC profesional hingga 53dB, Anda bisa menikmati musik tanpa gangguan kebisingan, bahkan di tempat ramai seperti bandara atau festival musik. Fitur Ultra-low Latency 45ms juga memastikan sinkronisasi sempurna antara suara dan gambar, ideal untuk menonton konser virtual atau video musik favorit Anda.

realme Buds Air7: Teman Setia Menghafal Setlist Konser

Untuk Anda yang ingin mempersiapkan diri sebelum menghadiri konser idola, realme Buds Air7 adalah pilihan tepat. Dengan driver dinamis 12,4mm dan teknologi Bass Boost+, setiap hentakan beat terdengar hidup dan menggelegar. Fitur ANC hingga 52dB memastikan Anda bisa fokus menikmati musik tanpa gangguan suara bising sekitar.

Content image for article: realme Buds Series: Solusi Audio Premium untuk Pengalaman Musik Imersif

Desain in-ear ergonomis membuatnya nyaman digunakan dalam waktu lama, sementara daya tahan baterai hingga 52 jam dengan casing pengisian memastikan Anda tidak kehabisan daya saat sedang asyik mendengarkan setlist lengkap artis favorit.

realme Buds T200 & T200 Lite: Untuk Karaoke dan Festival Musik

Bagi yang mencari TWS serbaguna dengan harga terjangkau, realme Buds T200 menawarkan performa solid dengan driver bass dinamis 12,4mm dan ANC 32dB. Sementara itu, realme Buds T200 Lite hadir sebagai opsi entry-level yang ringan dan praktis, cocok untuk sesi karaoke santai bersama teman.

“Melalui realme Buds Series, kami ingin mendukung semangat anak muda dalam menikmati musik,” ungkap Krisva Angnieszca, Public Relations Lead realme Indonesia. Teknologi audio yang ditawarkan tidak hanya canggih, tetapi juga dirancang untuk memberikan pengalaman mendalam dan memuaskan.

Dengan harga mulai dari Rp199.000 untuk model entry-level hingga Rp999.000 untuk varian premium, realme Buds Series menawarkan solusi audio lengkap untuk berbagai kebutuhan dan anggaran. Produk ini tersedia baik secara online maupun offline dengan beragam pilihan warna yang stylish.

Jika Anda mencari pasangan sempurna untuk smartphone gaming realme seperti realme 14 Series 5G atau flagship realme GT 7 Dream Edition, realme Buds Series adalah pilihan yang tepat untuk melengkapi pengalaman multimedia Anda.

Achmad Alkatiri dan Galaxy Watch8: Transformasi Gaya Hidup Sehat dengan Teknologi Wearable

Telset.id – Hidup sehat bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan di era serba cepat ini. Namun, bagaimana jika teknologi wearable bisa menjadi katalisator perubahan gaya hidup? Kisah Achmad Alkatiri, seorang entrepreneur dan sport enthusiast, membuktikan bahwa Galaxy Watch8 Series bukan hanya aksesori, melainkan partner transformasi kesehatan yang holistik.

Dari Pola Hidup Chaos ke Disiplin Sehat

Achmad Alkatiri pernah menjalani hidup dengan moto “work hard, party harder.” Kebiasaan begadang, kurang olahraga, dan pola tidur berantakan membuat tubuhnya “protes” melalui gejala seperti mudah lelah dan gangguan tidur. “Saya sadar harus berubah ketika kesehatan mulai terganggu,” ujarnya. Di sinilah Galaxy Watch8 berperan sebagai pendamping digital yang membantu Achmad membangun rutinitas sehat secara bertahap.

Fitur seperti Bedtime Guidance dan Sleep Coach menjadi solusi masalah tidurnya. “Sleep Score di Galaxy Watch8 seperti pengingat halus untuk memperbaiki kualitas istirahat,” tambahnya. Data tidur yang akurat membantunya memahami pola dan membuat penyesuaian, sesuatu yang juga dihadirkan oleh HUAWEI WATCH FIT 4 dengan pendekatan serupa.

Olahraga Lebih Terarah dengan Fitur Canggih

Bagi Achmad, olahraga yang dulunya dihindari kini menjadi aktivitas menyenangkan berkat Running Coach dan Auto Workout Detection. “Fitur ini tidak hanya mencatat latihan, tapi memberi panduan real-time sesuai tujuan kebugaran saya,” jelasnya. Galaxy Watch8 juga dilengkapi Body Composition (BIA Sensor) untuk memantau lemak tubuh dan massa otot—fitur yang juga menjadi andalan ekosistem Samsung dalam mendukung kesehatan pengguna.

Dukungan AI untuk Pengalaman Lebih Intuitif

Annisa Nurul Maulina, MX Product Marketing Senior Manager Samsung Indonesia, menekankan peran Gemini AI dan One UI 8 Watch dalam menyederhanakan interaksi. “AI mempelajari kebiasaan pengguna dan menyesuaikan respons secara kontekstual,” ujarnya. Mulai dari manajemen tidur hingga olahraga, teknologi ini membuat Achmad lebih termotivasi menjalani hidup sehat.

Galaxy Watch8 Series tersedia dalam dua varian: Galaxy Watch8 (Rp5,4–5,9 juta) dan Galaxy Watch8 Classic (Rp6,9 juta). Dengan desain ramping dan fitur seperti Vascular Load serta Antioxidant Tracking, perangkat ini cocok bagi mereka yang ingin memulai transformasi gaya hidup, mirip dengan pendekatan smartphone budget Samsung dalam mendukung kebugaran.

Kisah Achmad membuktikan bahwa teknologi wearable bukan sekadar gadget, melainkan investasi untuk hidup lebih berkualitas. Bagaimana dengan Anda—siap memulai perubahan?

OpenAI Tembus Level Medali Emas di Olimpiade Matematika: Seberapa Dekat AI dengan Kreativitas Manusia?

0

Telset.id – Jika Anda mengira kecerdasan buatan (AI) hanya mahir mengolah data atau menjawab pertanyaan standar, inilah saatnya mengevaluasi ulang asumsi itu. OpenAI, sang penguasa dunia model bahasa besar (LLM), baru saja mencapai pencapaian monumental: model eksperimentalnya meraih performa setara medali emas di International Mathematical Olympiad (IMO), kompetisi matematika paling bergengsi di dunia. Ini bukan sekadar kemenangan simbolis, melainkan terobosan yang menggetarkan fondasi pemahaman kita tentang batas kemampuan AI.

Alexander Wei, ilmuwan riset OpenAI, mengungkapkan melalui platform X bahwa model yang belum dirilis tersebut berhasil memecahkan 5 dari 6 soal IMO dengan total skor 35/42. Angka itu cukup untuk menempatkannya di jajaran 10% peserta terbaik kategori yang hanya diisi oleh 67 kontestan dari 630 peserta tahun ini. Padahal, soal-soal IMO bukanlah persoalan matematika biasa. Mereka dirancang untuk menguji logika, kreativitas, dan kemampuan bernalar abstrak,area di mana AI konvensional kerap tersandung.

BACA JUGA:

Dari Kalkulator Canggih ke “Matematikawan” Virtual

Selama ini, AI dianggap sebagai alat yang brilian dalam tugas repetitif atau pemrosesan data masif. Tapi ketika dihadapkan pada soal IMO misalnya, membuktikan teorema geometri non-trivial atau merancang solusi aljabar yang elegan, biasanya sistem ini gagal. OpenAI mengklaim model terbarunya mampu “merancang argumen rumit dengan ketangguhan setara matematikawan manusia”.

Bagaimana mungkin? Kuncinya terletak pada pelatihan yang tidak hanya mengandalkan data mentah, tetapi juga simulasi proses berpikir manusia: eksplorasi multi-arah, trial and error, bahkan “intuisi” matematis. Wei menyebut ini sebagai “lompatan kualitatif dalam penalaran AI”. Namun, jangan buru-buru membayangkan GPT-5 Anda akan bisa membantu mengerjakan PR kalkulus tingkat lanjut. Sam Altman, CEO OpenAI, menegaskan bahwa teknologi ini belum akan dirilis ke publik dalam beberapa bulan ke depan.

Apa Artinya bagi Dunia Pendidikan dan Riset?

Prestasi OpenAI di IMO bukan sekadar pamer kekuatan komputasi. Ini adalah sinyal bahwa AI mulai menginvasi domain yang selama ini dianggap “aman” dari ancaman automasi: kreativitas dan pemecahan masalah kompleks. Bayangkan dampaknya pada:

  • Sistem pendidikan: Apakah metode pengajaran matematika tradisional perlu beradaptasi?

  • Riset ilmiah: AI bisa menjadi asisten peneliti untuk membuktikan konjektur matematika yang belum terpecahkan.

  • Kompetisi manusia vs mesin: Jika AI bisa meraih emas di IMO, apa batas berikutnya?

Tapi di balik optimisme itu, terselip pertanyaan kritis: Benarkah AI benar-benar “bernalar” seperti manusia, atau hanya memimikinya dengan sangat baik? Soal IMO memang rumit, tetapi mereka tetap terikat pada pola tertentu. Sementara itu, kejeniusan manusia, seperti terobosan Einstein atau keanggunan pembuktian Euler, masih sulit ditandingi oleh algoritma.

Baca Juga:

Masa Depan AI: Antara Potensi dan Batasan Etis

OpenAI belum merilis detail teknis tentang model ini, tetapi pencapaiannya jelas menimbulkan debat. Di satu sisi, AI dengan kemampuan matematika tingkat tinggi bisa mempercepat penemuan ilmiah. Di sisi lain, ada kekhawatiran tentang ketergantungan berlebihan pada mesin atau penyalahgunaan untuk tujuan seperti peretasan kriptografi.

Yang pasti, kita sedang menyaksikan babak baru dalam evolusi AI. Jika dulu komputer hanya bisa mengalahkan manusia dalam catur atau Go, kini mereka mulai menguasai ranah yang membutuhkan abstraksi dan kecerdikan murni. Pertanyaannya sekarang, bisakah kita membedakan antara kecerdasan buatan yang “pintar” dengan yang benar-benar “cerdas”?

Bocoran Resmi! iPad Pro M5 Bakal Hadir dengan Dual Kamera Depan, Solusi Cerdas untuk FaceTime

Telset.id – Jika Anda pengguna setia iPad Pro, bersiaplah untuk kejutan menarik dari Apple. Kabar terbaru dari Bloomberg mengungkap bahwa raksasa teknologi asal Cupertino itu akan menghadirkan dual kamera depan pada iPad Pro generasi terbaru. Bukan sekadar gimmick, langkah ini menjadi solusi elegan untuk pengalaman FaceTime dan selfie yang lebih intuitif—tanpa peduli apakah Anda memegang perangkat dalam mode portrait atau landscape.

Perubahan ini mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya signifikan. Ingat betapa menjengkelkannya saat Anda harus menebak-nebak posisi kamera depan saat beralih orientasi layar? Dengan iPad Pro M5, masalah itu akan menjadi sejarah. Apple sepertinya mendengarkan keluhan pengguna yang kerap kebingungan antara keputusan memindahkan kamera depan ke sisi landscape di iPad Pro M4 versus preferensi portrait yang masih banyak dipakai.

BACA JUGA:

Dual Kamera: Lebih dari Sekadar Konsep “Layak Ada”

Menurut laporan Mark Gurman, analis Bloomberg yang terkenal akurat soal bocoran Apple, penambahan kamera kedua di sisi portrait bukan sekadar aksesori tambahan. Ini adalah respons langsung terhadap kebiasaan pengguna yang beragam. Dengan chip M5 yang lebih efisien, iPad Pro baru ini tidak hanya menjawab kebutuhan ergonomis, tetapi juga mengoptimalkan fitur seperti Center Stage—teknologi yang membuat wajah Anda tetap terlihat tengah selama video call, terlepas dari cara Anda memegang perangkat.

Perubahan ini juga mengisyaratkan pendekatan Apple terhadap “hybrid usability”. Di era di mana tablet semakin kabur batasnya dengan laptop, memiliki kamera depan yang adaptif di kedua orientasi adalah nilai tambah yang sulit diabaikan, terutama untuk profesional yang sering melakukan presentasi virtual atau konten kreator yang mengandalkan fleksibilitas.

M5 Chip: Peningkatan Performa yang Tak Hanya Sekadar Angka

Selain kamera, upgrade terbesar tentu datang dari chipset M5. Meski detailnya masih simpang siur, peningkatan efisiensi daya dan peningkatan grafis diprediksi menjadi fokus utama. Bagi gamer atau desainer, ini berarti render yang lebih cepat dan daya tahan baterai yang lebih baik—dua hal yang selalu jadi trade-off di perangkat mobile.

Tak hanya iPad Pro, kabarnya Apple juga sedang mempersiapkan lini produk lain dengan chip generasi terbaru, termasuk Vision Pro, MacBook Pro, dan iMac. Namun, dengan iPad Pro yang semakin mendekati kemampuan komputer, pertanyaannya adalah: Akankah dual kamera depan ini menjadi standar baru untuk tablet premium?

Baca Juga:

Apa Artinya bagi Pengguna?

Bagi konsumen, kehadiran dua kamera depan mungkin terdengar seperti fitur niche. Tapi bagi mereka yang kerap bergantung pada iPad untuk kerja kolaboratif atau streaming, ini adalah penyempurnaan yang layak ditunggu. Bayangkan meeting Zoom tanpa harus repot menyesuaikan genggaman, atau live streaming langsung dengan angle lebih fleksibel—semua jadi lebih mudah.

Sekarang, tinggal menunggu pengumuman resmi dari Apple. Jika bocoran ini akurat, iPad Pro M5 tidak hanya akan menjadi upgrade incremental, tetapi langkah strategis dalam menyempurnakan pengalaman pengguna. Siap-siap, para prosumer—perangkat ini mungkin akan membuat Anda berpikir ulang sebelum beralih ke laptop.

Tertarik dengan perkembangan terbaru teknologi Apple? Pantau terus Telset.id untuk analisis mendalam dan berita terkini yang tak sekadar lapisan permukaan.

GPU Zaman Dulu Bisa Upgrade VRAM, Kenapa Sekarang Tidak?

Telset.id – Pernahkah Anda membayangkan jika VRAM pada GPU bisa di-upgrade layaknya RAM di PC? Di era modern, hal itu mustahil dilakukan. Namun, tahukah Anda bahwa di tahun 90-an, fitur tersebut benar-benar ada?

Dewasa ini, kapasitas VRAM menjadi perdebatan panas, terutama dengan GPU 8GB yang mulai kewalahan menjalankan game AAA terbaru. Padahal, beberapa tahun lalu, 8GB masih dianggap lebih dari cukup. Bayangkan jika Anda bisa menambah VRAM dengan mudah—tentu tidak perlu lagi mengeluarkan biaya besar untuk membeli GPU high-end.

Faktanya, pada tahun 1998, ATI 3D Rage Pro menawarkan solusi unik: slot ekspansi VRAM. GPU ini hadir dengan 4MB SGRAM yang terpasang di PCB, dan pengguna bisa menambahkan modul 4MB tambahan melalui slot khusus, sehingga total VRAM menjadi 8MB. Konsep ini mirip dengan menambah RAM di PC, tetapi untuk kartu grafis.

Vintage ATI graphics card on wooden surface, showing detailed microchip design and layout.

Mengapa Fitur Ini Hilang di GPU Modern?

Sayangnya, teknologi saat ini tidak memungkinkan VRAM modular seperti dulu. Ada beberapa alasan mendasar:

  • Desain PCB yang Kompleks: Memori GDDR modern seperti GDDR7 membutuhkan bandwidth tinggi dan desain PCB yang sangat presisi. Menambahkan soket modular akan mengganggu integritas sinyal dan performa.
  • Kendala Teknis: Jalur sinyal yang lebih panjang dan konektor tambahan dapat mengurangi kecepatan memori, yang justru menjadi prioritas utama GPU modern.
  • Strategi Pasar: Produsen seperti NVIDIA dan AMD lebih memilih menjual GPU dengan VRAM tetap untuk mendorong pembelian model high-end. Jika VRAM bisa di-upgrade, penjualan GPU kelas atas mungkin akan menurun.

Selain itu, tantangan teknis seperti manajemen daya dan pendinginan juga menjadi faktor penghalang. Modul VRAM tambahan akan membutuhkan lebih banyak daya dan menghasilkan panas ekstra, yang sulit diatasi dalam desain GPU saat ini.

Masa Depan VRAM: Mungkinkah Kembali Modular?

Meski teknologi saat ini belum mendukung, bukan tidak mungkin suatu hari nanti produsen menemukan solusi untuk VRAM modular. Dengan perkembangan material dan desain PCB yang lebih efisien, siapa tahu fitur ini akan kembali hadir di masa depan.

Sementara itu, bagi Anda yang ingin meningkatkan performa grafis, solusi terbaik tetap dengan memilih GPU yang sesuai kebutuhan. Jika Anda seorang gamer, pastikan memilih kartu grafis dengan VRAM yang cukup untuk game-game terbaru. Untuk rekomendasi GPU terbaik, simak artikel kami tentang tips memilih GPU.

Jadi, meski VRAM modular masih menjadi mimpi, setidaknya kita tahu bahwa ide ini pernah nyata di masa lalu. Siapa tahu, inovasi di masa depan akan membawa kembali konsep ini dengan sentuhan modern.

AMD RDNA 5 / UDNA Bakal Hadir dengan 96 CU, Performa Melonjak 50%

Telset.id – Jika Anda mengira lompatan performa GPU AMD sudah mencapai puncaknya, bersiaplah untuk terkejut. Bocoran terbaru dari sumber terpercaya, Kepler_L2, mengungkapkan bahwa arsitektur RDNA 5 / UDNA AMD mungkin akan menghadirkan peningkatan signifikan dalam hal unit komputasi (CU), dengan varian flagship mencapai 96 CU—lonjakan 50% dibanding generasi sebelumnya.

Selama ini, informasi tentang arsitektur generasi berikutnya untuk GPU gaming Radeon masih sangat terbatas. AMD sendiri hanya menyebutkan bahwa arsitektur baru ini akan menyatukan jalur antara lini RDNA dan CDNA, menciptakan apa yang mereka sebut sebagai “unified DNA.” Namun, rumor sebelumnya mengisyaratkan bahwa desain ini benar-benar baru, dibangun dari nol, dan menawarkan peningkatan besar dalam performa ray tracing serta kecerdasan buatan (AI).

Forum discussion about upcoming graphics card specs, focusing on CUs and performance.

Konfigurasi Potensial RDNA 5 / UDNA

Kepler_L2, leaker ternama di industri, memberikan gambaran awal tentang tiga konfigurasi die yang mungkin hadir dalam seri RDNA 5 / UDNA:

  • Navi 5X (Flagship): 96 CU + bus memori 384-bit
  • Navi 5X (Mid-tier): 64 CU + bus memori 256-bit
  • Navi 5X (Entry-level): 32 CU + bus memori 128-bit

Varian flagship dengan 96 CU ini akan menjadi peningkatan besar dibanding RDNA 4 yang hanya memiliki 64 CU. Selain itu, bus memori 384-bit akan memungkinkan kapasitas VRAM yang lebih tinggi, bahkan mungkin mendukung modul memori yang lebih padat seperti 3GB G7. Jika Radeon RX 9070 XT saat ini sudah bisa menyaingi RTX 5080 dengan 64 CU, GPU baru ini berpotensi melampaui performa NVIDIA di kelas 80-tier.

Bagaimana dengan Varian Lainnya?

Varian mid-tier dengan 64 CU dan bus memori 256-bit akan mengikuti jejak RX 9070 XT, tetapi dengan peningkatan pada arsitektur CU, inti ray tracing, dan mesin AI. Sementara itu, varian entry-level 32 CU dengan bus 128-bit mungkin mempertahankan konfigurasi serupa dengan seri 9060, tetapi dengan peningkatan teknologi proses dan memori berbandwidth tinggi.

Meskipun bus memori 128-bit mungkin menjadi kekhawatiran untuk GPU yang dirilis antara 2026-2027, modul VRAM yang lebih padat di masa depan bisa mengatasi masalah kapasitas memori terbatas pada produk entry-level.

Comparison chart of AMD RDNA 5 GPU configurations.

Perlu dicatat bahwa informasi ini masih bersifat spekulatif, tetapi memberikan gambaran menarik tentang arah AMD ke depan. Produksi massal GPU RDNA 5 / UDNA diperkirakan dimulai pada Q2 2026, bersamaan dengan peluncuran seri “SUPER” NVIDIA dan GPU “Big Battlemage” dari Intel. Tahun 2026 akan menjadi tahun yang sangat menarik bagi para gamer PC.

Dengan potensi peningkatan performa yang signifikan, terutama dalam ray tracing dan AI, AMD mungkin siap menantang dominasi NVIDIA lebih serius. Jika prediksi ini akurat, RDNA 5 / UDNA bisa menjadi game-changer di industri GPU.

Bocoran Terbaru: Xiaomi 16 dan Vivo X300 Siap Meluncur Akhir September

Telset.id – Akhir tahun selalu menjadi momen panas bagi industri smartphone, dan 2025 tidak terkecuali. Bocoran terbaru dari tipster ternama Digital Chat Station mengindikasikan bahwa dua raksasa teknologi China, Xiaomi dan Vivo, sedang bersiap meluncurkan flagship terbaru mereka dalam waktu dekat. Kabarnya, Xiaomi 16 series dan Vivo X300 series akan memulai debut mereka akhir September mendatang, meski ada kemungkinan penundaan untuk salah satunya.

Menurut Digital Chat Station, hanya satu merek yang dipastikan akan meluncurkan perangkat berbasis chipset Snapdragon 8 Elite 2 (kode SM8850) pada akhir September. Berdasarkan spekulasi dan laporan sebelumnya, perangkat ini kemungkinan besar adalah Xiaomi 16 series. Sementara itu, merek lain—diduga kuat Vivo—sedang berusaha keras menyelesaikan ponsel dengan chipset Dimensity 9500 (D9500) untuk rilis di waktu yang sama. Namun, jika target ini tidak tercapai, peluncurannya akan digeser ke awal Oktober setelah libur nasional China (1-8 Oktober).

Xiaomi 16 Series: Flagship dengan Snapdragon 8 Elite 2

Xiaomi 16 series diprediksi menjadi salah satu flagship paling ditunggu tahun ini. Dengan dukungan Snapdragon 8 Elite 2, performanya dijamin akan melampaui pendahulunya. Sebelumnya, bocoran tentang Xiaomi 16 series mengungkap bahwa seri ini akan hadir dalam empat varian dengan desain kamera yang revolusioner. Jika peluncuran akhir September benar terjadi, Xiaomi akan menjadi salah satu yang pertama memanfaatkan chipset terbaru Qualcomm ini.

Vivo X300 Series: Tantangan dengan Dimensity 9500

Sementara itu, Vivo X300 series dikabarkan akan mengandalkan chipset MediaTek Dimensity 9500. Jika Vivo berhasil memenuhi tenggat waktu, seri ini akan bersaing langsung dengan Xiaomi 16. Namun, jika harus ditunda, peluncurannya baru akan terjadi pada paruh pertama Oktober. Vivo dikenal dengan pendekatan inovatif dalam fotografi smartphone, jadi tidak menutup kemungkinan X300 akan membawa terobosan baru di segmen ini.

Persaingan antara Snapdragon dan Dimensity di segmen flagship semakin sengit. Jika kedua seri ini benar-benar meluncur dalam waktu berdekatan, konsumen akan dihadapkan pada pilihan menarik antara performa Snapdragon yang sudah teruji dan efisiensi Dimensity yang terus berkembang.

Selain itu, peluncuran setelah libur nasional China juga bisa menjadi strategi pemasaran yang cerdas. Dengan momentum pasca-libur, kedua merek bisa memanfaatkan gelombang pembelian baru. Namun, semua masih bergantung pada kesiapan produksi dan strategi masing-masing perusahaan.

Bagaimana pendapat Anda? Apakah Xiaomi 16 atau Vivo X300 yang lebih menarik perhatian? Jangan lupa ikuti perkembangan terbaru di Telset.id untuk info lebih lanjut.

JBL Horizon 3 Resmi Dirilis: Speaker Bluetooth Multifungsi dengan Alarm dan FM Radio

Telset.id – Jika Anda mencari speaker Bluetooth yang tidak sekadar memutar musik, JBL Horizon 3 mungkin jawabannya. Baru saja diluncurkan di China dengan harga 1.099 yuan (sekitar Rp2,5 juta), perangkat ini menggabungkan fungsi speaker, alarm clock, FM radio, dan bahkan lampu tidur dalam satu desain elegan.

JBL Horizon 3 bukan sekadar upgrade dari seri sebelumnya. Dengan dua driver full-range 1,5 inci dan dual passive radiator, speaker ini menjanjikan kualitas audio stereo dengan bass yang lebih dalam. Cocok untuk ruangan kecil hingga menengah, Horizon 3 mengusung Bluetooth 5.3 untuk konektivitas yang stabil dan jarak jangkau lebih luas.

Lebih dari Sekadar Speaker

Yang membuat Horizon 3 unik adalah multifungsinya. Perangkat ini dilengkapi layar digital besar yang menampilkan waktu dengan jelas dan menyesuaikan kecerahan berdasarkan cahaya sekitar. Kontrolnya pun dirancang untuk kemudahan penggunaan, dengan rotary knob dan tombol soft-touch yang tetap nyaman dioperasikan dalam kondisi redup.

Fitur FM radio-nya menggunakan antena pig-tail yang disertakan, meski kualitas penerimaan tergantung pada kekuatan sinyal lokal. Uniknya, Anda bisa menjadikan stasiun radio favorit sebagai bunyi alarm. Kombinasi ini membuat Horizon 3 menjadi solusi praktis bagi mereka yang ingin bangun dengan musik atau berita pagi.

Fitur Cerdas untuk Pengalaman Pengguna

JBL menyematkan beberapa fitur cerdas di Horizon 3. Salah satunya adalah “Sunrise Wake-Up Alarm” yang secara bertahap mencerahkan lampu sebelum alarm berbunyi. Efek ini dirancang meniru matahari terbit, memberikan pengalaman bangun tidur yang lebih alami dan tidak mengejutkan.

Melalui aplikasi JBL One, pengguna bisa menyesuaikan suhu warna dan kecerahan lampu, mengubahnya menjadi nightlight yang sempurna. Bahkan, speaker ini menyediakan suara ambient seperti ombak laut, hujan, atau suara hutan untuk membantu tidur lebih nyenyak.

Dari segi keberlanjutan, JBL mengklaim menggunakan material daur ulang dalam konstruksi Horizon 3. Kemasannya pun ramah lingkungan, menggunakan kertas bersertifikat FSC dan tinta berbasis kedelai.

Dengan dimensi 209 x 137 x 83 mm dan berat 0,78 kg, Horizon 3 cukup ringkas untuk diletakkan di meja samping tempat tidur. Speaker ini bersaing langsung dengan produk sejenis dari merek seperti Lenovo yang juga fokus pada perangkat multifungsi untuk segmen premium.

Peluncuran Horizon 3 mengikuti tren perangkat audio yang semakin multifungsi. Sebelumnya, Marshall memperkenalkan Middleton II dengan fitur serupa, sementara boAt meluncurkan speaker portabel dengan desain kolaborasi. Pertanyaannya sekarang: apakah JBL Horizon 3 akan segera menyusul ke pasar global?

Bocoran: Smartphone dengan Baterai 10.000mAh Bakal Hadir di 2026?

Telset.id – Bayangkan smartphone yang bisa bertahan berhari-hari tanpa perlu di-charge. Mimpi? Tidak lama lagi, ini akan menjadi kenyataan. Bocoran terbaru dari China mengindikasikan bahwa pada 2026, kita mungkin akan melihat smartphone mainstream pertama dengan kapasitas baterai mencapai 10.000mAh – sebuah angka yang sebelumnya hanya ada di power bank.

Perlombaan kapasitas baterai smartphone memang sedang memanas. Tahun lalu, Honor membuat gebrakan dengan Honor X70 yang mengemas baterai 8.300mAh dalam bodi setipis 7.76mm. Sebelumnya, ada pula Honor Power dengan 8.000mAh yang menaikkan standar untuk perangkat mid-range. Kini, kabarnya OnePlus, iQOO, dan Xiaomi sedang mempersiapkan flagship dengan baterai di atas 7.000mAh untuk akhir 2025.

Pada 19 Juli 2025, leaker ternama Digital Chat Station mengklaim di Weibo bahwa sebuah smartphone mid-range mainstream dengan baterai 10.000mAh sedang dalam pengembangan untuk paruh pertama 2026. Ini akan menjadi lompatan signifikan dalam dunia baterai smartphone.

Teknologi di Balik Baterai Super Besar

Lalu, bagaimana produsen bisa memasukkan kapasitas sebesar itu tanpa membuat smartphone menjadi terlalu tebal? Rahasianya ada pada dua hal: teknologi baterai silicon-carbon yang meningkatkan kepadatan energi, dan desain internal yang lebih efisien.

Menurut bocoran, smartphone 10.000mAh tersebut menggunakan PCB (papan sirkuit tercetak) yang didesain ulang menjadi lebih kompak, sehingga menyisakan lebih banyak ruang untuk baterai. Pendekatan ini sebenarnya bukan hal baru – OnePlus pernah memperlihatkan konsep serupa untuk seri 13T, menunjukkan bagaimana tata letak PCB yang lebih ketat bisa memberi ruang bagi baterai lebih besar.

Mengapa Brand Global Tidak Ikut Berlomba?

Sementara brand China berlomba meningkatkan kapasitas baterai, raksasa seperti Samsung, Apple, dan Google tampaknya tidak terburu-buru mengikuti. Galaxy S26 Ultra misalnya, dikabarkan akan tetap menggunakan baterai 5.000mAh. Ada beberapa alasan logis di balik ini:

  • Prioritas pada keseimbangan desain dan performa
  • Optimasi sistem operasi yang sudah sangat efisien
  • Kekhawatiran akan keamanan baterai berkapasitas besar

Namun dengan semakin matangnya teknologi seperti yang digunakan CATL – produsen baterai pertama yang memenuhi standar ‘No Fire, No Explosion’ – kekhawatiran keamanan mungkin akan segera teratasi.

Pertanyaan besarnya sekarang: brand China mana yang akan pertama kali meluncurkan smartphone 10.000mAh? Honor tampaknya menjadi kandidat kuat mengingat terobosan mereka baru-baru ini. Atau mungkin Realme yang sudah mulai membocorkan konsep smartphone dengan baterai super besar? Satu hal yang pasti: 2026 akan menjadi tahun yang menarik bagi penggemar teknologi.

Bagaimana pendapat Anda? Apakah baterai berkapasitas besar menjadi solusi terbaik, atau optimasi sistem yang lebih penting? Bagikan pemikiran Anda di kolom komentar!

Lenovo Legion Magnetic Cooler Resmi Dirilis, Solusi Overheating untuk Gamer Mobile

Telset.id – Masalah overheating pada smartphone gaming bukan lagi cerita baru. Tapi, bagaimana jika solusinya datang dari raksasa teknologi seperti Lenovo? Baru-baru ini, Lenovo secara resmi meluncurkan Legion Magnetic Cooler di China dengan harga terjangkau 149 yuan (sekitar Rp350 ribu).

Aksesori pendingin kompak ini dirancang khusus untuk para gamer mobile dan pengguna berat yang sering mengalami masalah perangkat panas saat digunakan dalam waktu lama. Dengan teknologi pendinginan aktif berbasis semikonduktor, Legion Magnetic Cooler menjanjikan penurunan suhu permukaan perangkat hingga 20°C dalam kondisi ideal.

Spesifikasi dan Fitur Unggulan

Lenovo Legion Magnetic Cooler menggunakan modul pendingin semikonduktor 10W yang bekerja melalui teknologi termoelektrik. Area disipasi panasnya cukup luas, mencapai 1846mm², dengan tiga mode pendinginan yang bisa disesuaikan:

  • Ice Cool: Mode standar untuk penggunaan sehari-hari
  • Extreme Cold: Untuk sesi gaming marathon
  • Ice Sealed: Solusi ekstrem saat perangkat benar-benar kepanasan

Kecepatan kipas bisa mencapai 5000 RPM pada mode paling agresif, namun Lenovo memastikan tingkat kebisingannya tetap rendah di kisaran 30dB. Fitur unik lainnya adalah PCB internal yang tahan air, mencegah masalah akibat kondensasi selama penggunaan.

Desain dan Kompatibilitas

Lenovo tidak main-main dalam merancang aksesori ini. Legion Magnetic Cooler dilengkapi dengan:

  • Layar digital yang menampilkan data suhu real-time
  • RGB ambient lighting untuk estetika gaming
  • Port USB Type-C dengan daya 5V-2A
  • Berat hanya 68g dengan dimensi 64x26mm

Untuk kompatibilitas, Lenovo menyertakan magnetic pad gaya MagSafe dan patch magnetik berperekat untuk ponsel non-magnetik. Ada juga klip elastis yang bisa dilepas dengan jangkauan penjepit 91mm dan bantalan silikon anti-slip untuk berbagai jenis perangkat dan casing.

Produk ini muncul di saat yang tepat, mengingat tren perangkat gaming handheld semakin populer. Lenovo sendiri baru-baru ini mengumumkan tablet gaming Xiaoxin Pro GT dengan spesifikasi flagship, sementara Yoga Tab Plus dengan layar 12,7 inci 144Hz sudah meluncur di India.

Bagi Anda yang mencari smartphone gaming terbaik, mungkin bisa melihat rekomendasi Telset Editor’s Choice 2018 untuk Best Gaming Smartphone sebagai referensi.

Dengan harga yang relatif terjangkau dan fitur lengkap, Lenovo Legion Magnetic Cooler berpotensi menjadi aksesori wajib bagi para gamer mobile. Tertarik mencoba?