Beranda blog Halaman 133

Jadwal Rollout HyperOS 3 Xiaomi: Mulai Oktober 2025!

0

Telset.id – Apakah Anda salah satu pengguna setia Xiaomi yang sudah tidak sabar menantikan kehadiran HyperOS 3? Kabar gembira datang dari raksasa teknologi asal Tiongkok ini. Setelah meluncurkan HyperOS 3 di China bulan lalu, Xiaomi kini telah memperluas program beta ke banyak perangkat, memberikan lebih banyak pengguna kesempatan untuk mencicipi software terbarunya lebih awal.

Yang lebih menarik, Xiaomi baru saja mengungkap rencana lengkap rollout versi stabil HyperOS 3. Rollout stabil akan dimulai bulan depan dengan seri Xiaomi 15, menandai babak baru dalam ekosistem software perusahaan. Namun, perlu diingat bahwa HyperOS 3 saat ini hanya dirilis di China, dan jadwal rollout ini hanya berlaku untuk wilayah tersebut.

Rollout stabil HyperOS 3 dimulai pertengahan Oktober, tetapi pada akhir bulan tersebut, Xiaomi berencana merilis update terbaru ini ke puluhan perangkat. Tidak hanya smartphone flagship, tetapi juga tablet high-end, smartphone Redmi, televisi, dan jam tangan Xiaomi. Rencana rollout akan secara bertahap mencakup lebih banyak perangkat dalam bulan-bulan mendatang dan dijadwalkan selesai pada Januari 2026.

Jadwal Rollout Stabil HyperOS 3 Xiaomi

Mari kita bahas lebih detail jadwal rollout yang telah diumumkan Xiaomi. Pada Oktober 2025, tepatnya sebelum 15 Oktober, perangkat pertama yang akan menerima HyperOS 3 stabil adalah Xiaomi 15 Ultra, Xiaomi 15S Pro, Xiaomi 15 Pro, Xiaomi 15, Redmi K80 Pro, dan Redmi K80 Supreme Edition. Menjelang akhir Oktober, giliran Xiaomi MIX Flip 2, Xiaomi Civi 5 Pro, berbagai model Xiaomi Pad, Redmi K80, Redmi Turbo 4 Pro, Redmi Turbo 4, Redmi K Pad, serta seri televisi dan jam tangan Xiaomi terbaru.

November 2025 akan menyusul dengan lebih banyak perangkat ikonik. Sebelum 15 November, HyperOS 3 stabil akan datang ke Xiaomi 14 Ultra (termasuk edisi Titanium), Xiaomi 14 Pro, Xiaomi 14, Xiaomi MIX Fold 4, Xiaomi MIX Flip, Xiaomi Civi 4 Pro, Xiaomi Pad 6S Pro 12.4, dan berbagai model Redmi K70. Menjelang akhir November, Redmi TV X 2025 Series, Redmi Monitor G Pro 27U, dan Xiaomi Smart Band 10 akan menyusul.

Desember 2025 menjadi bulan yang cukup padat dengan kehadiran HyperOS 3 stabil di perangkat seperti Xiaomi MIX Fold 3, seri Xiaomi 13, Xiaomi Pad 6 Pro, Xiaomi Pad 6 Max 14, berbagai model Redmi K60, seri Redmi Note terbaru, serta wearable devices seperti Redmi Watch 5 dan Xiaomi Smart Band 9 Pro. Sedangkan Januari 2026 akan menutup rollout dengan perangkat seperti Xiaomi MIX Fold 2, seri Xiaomi 12S dan Xiaomi 12, Xiaomi Civi 3 dan Civi 2, serta berbagai model Redmi dan produk TV.

Bagi Anda yang penasaran dengan fitur-fitur baru yang dibawa HyperOS 3, update ini disebut-sebut membawa peningkatan signifikan dalam hal AI integration, performance optimization, dan user experience. Seperti yang pernah kami bahas dalam artikel sebelumnya, HyperOS 3 menawarkan lebih dari sekadar pembaruan kosmetik.

Namun, tidak semua perangkat Xiaomi akan mendapatkan pembaruan ini. Seperti yang diungkap dalam laporan terpisah, beberapa model populer justru tidak akan menerima HyperOS 3. Keputusan ini sejalan dengan strategi Xiaomi yang lebih fokus pada pengembangan software terbaru, seperti yang terlihat dari penghentian dukungan untuk 9 smartphone mereka.

Lalu bagaimana dengan pengguna di luar China? Xiaomi kemungkinan akan mengumumkan rencana rollout untuk region lain pada peluncuran global HyperOS 3 yang dijadwalkan pada 24 September mendatang. Setelah peluncuran global, Xiaomi kemungkinan akan segera mulai merollout update beta untuk region lainnya.

Jika Anda ingin menjadi salah satu beta tester HyperOS 3, pastikan untuk mempersiapkan perangkat Anda dan mengikuti panduan instalasi yang benar. Menjadi bagian dari program beta memberikan kesempatan untuk mengalami fitur-fitur terbaru sebelum orang lain, meskipun dengan risiko stability yang mungkin masih perlu diperbaiki.

Dengan jadwal yang begitu komprehensif dan terencana, Xiaomi menunjukkan komitmennya dalam memberikan pengalaman software terbaik kepada pengguna. Rollout bertahap selama beberapa bulan ke depan memastikan bahwa setiap perangkat mendapatkan perhatian dan optimasi yang sesuai dengan spesifikasinya.

Jadi, apakah perangkat Xiaomi Anda termasuk dalam daftar penerima HyperOS 3? Bagaimana persiapan Anda menyambut update besar ini? Bagikan anticipasi Anda di kolom komentar!

realme Next AI: Inovasi AI Camera, Productivity, dan Gaming untuk Anak Muda

0

Telset.id – Jika Anda mengira kecerdasan buatan di smartphone hanya sekadar fitur tambahan, realme punya jawaban yang bakal bikin Anda berpikir ulang. Di tengah gempuran tren AI yang semakin masif, realme justru memilih pendekatan yang lebih personal, relevan, dan—yang paling penting—nyata digunakan oleh anak muda sehari-hari.

Brand yang dikenal sebagai “Pilihannya Anak Muda” ini tidak hanya ikut-ikutan meramaikan euforia AI, tetapi secara serius membangun ekosistem inovasi melalui tiga pilar utama: AI Camera, AI Productivity, dan AI Gaming. Apa yang membuat pendekatan realme berbeda? Mereka tidak sekadar menempelkan label “AI” pada fitur biasa, tetapi benar-benar mendalami kebutuhan generasi muda dan menjawabnya dengan solusi yang fungsional dan menyenangkan.

Sejak awal, realme punya visi yang jelas: “AI for Everyone”. Artinya, kecerdasan buatan tidak hanya dinikmati oleh pengguna flagship, tetapi juga merambah ke berbagai segmen harga. Ini bukan sekadar jargon marketing, melainkan komitmen nyata yang terlihat dari portofolio produk mereka sepanjang tahun ini.

AI Camera: Lebih Dari Sekadar Jepretan Biasa

Di era di mana setiap momen bisa jadi konten, realme paham betul bahwa anak muda butuh kamera yang bukan hanya tajam, tetapi juga cerdas. Fitur andalan seperti AI Eraser telah menjadi favorit banyak orang karena kemampuannya menghapus objek tak diinginkan dalam sekejap. Tapi realme tidak berhenti di situ.

Mereka menghadirkan rangkaian fitur canggih seperti AI Ultra Clarity yang tersedia bahkan di lini terjangkau seperti C Series, AI Landscape untuk pemandangan yang lebih hidup, AI Travel Snap Mode yang memudahkan Anda mengambil gambar saat bepergian, hingga AI Glare Remover yang mengatasi masalah silau secara otomatis. Bahkan, fitur AI Sketch to Image memungkinkan Anda mengubah sketsa sederhana menjadi gambar utuh—sesuatu yang dulu hanya bisa dibayangkan.

Semua fitur ini terintegrasi dalam AI Editor di aplikasi Galeri, membuat pengeditan foto menjadi lebih intuitif dan—yang paling penting—menyenangkan. Ini bukan lagi soal teknologi yang rumit, tetapi bagaimana AI bisa menjadi teman kreatif bagi anak muda.

AI Productivity: Kerja Jadi Lebih Cepat dan Pintar

Bagaimana jika AI tidak hanya untuk bersenang-senang, tetapi juga mempermudah hidup? realme menjawabnya dengan kategori AI Productivity yang dirancang khusus untuk generasi muda yang serba cepat dan multitasking.

Inovasi dimulai dari AI SmartLoop yang memungkinkan Anda berbagi konten ke aplikasi lain hanya dengan drag and drop—fitur yang debut di realme GT 6 dan langsung menarik perhatian. Lalu hadir AI Summary untuk meringkas dokumen panjang, AI Recording Summary yang membantu Anda mengambil intisari dari rekaman meeting, hingga AI Writer yang membantu menyusun teks dengan lebih efisien.

Namun, yang paling menarik adalah AI Planner—fitur pertama di industri yang memungkinkan Anda menambahkan jadwal ke kalender hanya dengan mengetuk dua kali bagian belakang smartphone. Bayangkan, tidak perlu lagi membuka aplikasi kalender dan mengetik manual. Cukup ketuk, dan jadwal langsung tersimpan. Inilah yang disebut inovasi yang benar-benar menyentuh pain point pengguna.

Fitur seperti AI Circle to Search juga memudahkan Anda mencari informasi tanpa harus meninggalkan aplikasi yang sedang dibuka. Ini bukan sekadar teknologi canggih, tetapi solusi praktis yang membuat produktivitas sehari-hari menjadi lebih smooth.

AI Gaming: Pengalaman Main Game yang Lebih Hidup

Bagi anak muda, gaming bukan sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari gaya hidup dan sosialisasi. realme melihat peluang ini dan menghadirkan AI Gaming yang tidak hanya meningkatkan performa, tetapi juga menciptakan pengalaman bermain yang lebih imersif.

Fitur seperti AI Motion Control dan AI Ultra Touch Control bahkan dikustomisasi bersama pemain profesional seperti tim RRQ dan kreator gaming Jess No Limit. Jadi, bukan sekadar fitur biasa, tetapi hasil kolaborasi dengan orang-orang yang benar-benar memahami dunia gaming.

Yang paling menggemparkan adalah kehadiran AI Gaming Coach yang debut di realme GT 7. Fitur ini memungkinkan Anda memilih voice pack dari pemain RRQ atau Jess No Limit, sehingga Anda bisa mendapatkan panduan langsung selama permainan. Bayangkan, seolah-olah Anda didampingi oleh pemain profesional saat bermain—pengalaman yang belum pernah ada sebelumnya di industri smartphone.

Ini membuktikan bahwa realme tidak hanya fokus pada hardware, tetapi juga pada pengalaman pengguna yang holistik. Mereka paham bahwa gaming adalah tentang lebih dari sekadar FPS dan grafis—tentang emosi, interaksi, dan kebanggaan.

Menurut Krisva Angnieszca, Public Relations Lead realme Indonesia, “realme percaya bahwa kecerdasan buatan bukan hanya sekadar tren, tetapi solusi nyata untuk meningkatkan kreativitas, produktivitas, dan gaya hidup anak muda.”

Dan komitmen ini tidak berhenti di sini. realme telah mengisyaratkan akan menghadirkan fitur AI terbaru dalam waktu dekat, yang akan semakin memperluas kemampuan smartphone dalam mendukung kehidupan anak muda. Apa lagi yang akan mereka hadirkan? Mungkin AI yang bisa memprediksi kebutuhan kita sebelum kita sendiri menyadarinya? Atau fitur kolaborasi yang lebih canggih? Kita tunggu saja.

Sementara itu, bagi Anda yang penasaran dengan inovasi terbaru realme, jangan lupa untuk mengunjungi artikel tentang baterai 15.000mAh mereka yang bisa membuat Anda menonton video hingga 50 jam nonstop. Atau, jika Anda tertarik dengan inovasi lain di luar smartphone, Realme Air Purifier juga layak untuk disimak.

Yang pasti, realme tidak main-main dengan AI. Mereka tidak hanya ikut arus, tetapi menjadi pemimpin yang menciptakan arus tersebut. Dan bagi anak muda, itu artinya lebih banyak kemudahan, lebih banyak kreativitas, dan tentu saja—lebih banyak kesenangan.

Nothing Ear 3 Meluncuran dengan Super Mic dan Desain Premium di Harga Rp3 Jutaan

0

Telset.id – Bayangkan Anda sedang menelepon di tengah keramaian, tapi suara Anda terdengar jernih seperti sedang berbicara di ruang kedap suara. Itulah janji yang dibawa Nothing dengan peluncuran terbaru mereka: Ear 3. Dengan harga $179 atau sekitar Rp3 jutaan, earbuds premium ini tidak hanya menawarkan desain yang lebih elegan, tetapi juga fitur unik bernama Super Mic yang siap mengubah cara Anda berkomunikasi.

Nothing Ear 3 hadir dengan sentuhan aluminium pada bagian tertentu, baik di earbuds maupun casing-nya. Desain yang sedikit direvisi ini tidak hanya membuatnya terlihat lebih mewah, tetapi juga meningkatkan sensitivitas sinyal sebesar 20 persen. Artinya, dropout audio—masalah yang kadang mengganggu pada model sebelumnya—kini bisa diminimalisir. Selain itu, sudut stem yang “lebih alami” dan ventilasi internal dirancang untuk kenyamanan lebih dan mengurangi tekanan di telinga.

Casing-nya sendiri merupakan perpaduan antara aluminium daur ulang dan plastik, diproses dengan teknik nano-injection yang menyatukan kedua material tanpa lem. Meski ini terdengar seperti kabar baik untuk repairability, menyatukan plastik dan aluminium yang meleleh mungkin justru membuat perbaikan menjadi lebih rumit. Di samping port USB-C, terdapat grill Super Mic yang ukurannya cukup kecil sehingga bisa disalahartikan sebagai jack headphone 3,5mm. Sentuhan menarik lainnya adalah loop untuk lanyard di sisi berlawanan dari port.

Nothing Ear 3 dengan sentuhan aluminium

Lalu, apa sebenarnya Super Mic itu? Ini adalah sepasang mikrofon tambahan yang berada di dalam casing pengisian. Dengan teknologi beamforming dan kemampuan untuk diposisikan layaknya mikrofon handheld tradisional, Super Mic dirancang untuk memblokir semua suara selain suara Anda. Penggunaannya terasa seperti berbicara melalui earbuds, tetapi dengan sensasi walkie-talkie dari masa depan. Sayangnya, masa depan itu belum sepenuhnya didukung perangkat lunak.

Super Mic dapat digunakan untuk panggilan dalam aplikasi seperti Zoom, Teams, Google Meet, WhatsApp, dan WeChat. Namun, untuk rekaman suara, dukungannya terbatas pada voice memo native di Android dan iOS, serta aplikasi video pihak ketiga Blackmagic. Jika Anda sering mengirim pesan suara di Messages atau WhatsApp, sayangnya fitur ini tidak bisa digunakan. Nothing menjelaskan bahwa mereka tidak dapat memaksa Super Mic untuk mengambil alih input mikrofon default di smartphone. Begitu pula, Anda tidak bisa menggunakannya sebagai mikrofon remote untuk perekaman video—kecuali dengan aplikasi Blackmagic.

Dalam pengujian, Super Mic berhasil membuat panggilan dan catatan suara terdengar lebih jernih. Baik melalui Voice Memos iOS maupun panggilan dengan keluarga dan teman, perbedaan antara mikrofon pada earbuds dan Super Mic cukup terasa. Yang mengejutkan, pendengar tidak melaporkan pengurangan signifikan terhadap kebisingan lingkungan saat panggilan dilakukan di kedai kopi, tetapi mereka menyatakan suara pengguna menjadi lebih jelas. Kelebihan lainnya adalah kemampuan Super Mic menangkap suara meski diucapkan dengan volume rendah—sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh mikrofon pada earbuds.

Nothing Ear 3 dengan Super Mic

Tidak hanya Super Mic, earbuds Ear 3 sendiri juga ditingkatkan. Masing-masing dilengkapi tiga mikrofon directional dan VPU (voice pickup unit) konduksi tulang untuk meningkatkan penangkapan suara. Meski teknologi konduksi tulang bukan hal baru, implementasi Nothing terasa lebih halus. Sinyal yang dikonduksikan melalui tulang kurang terpengaruh oleh angin dan kebisingan lain. Nothing mengklaim teknologi peredam bising (noise cancellation) mereka dapat mengurangi kebisingan eksternal hingga lebih dari 25 dB.

Namun, dalam penggunaan beberapa hari terakhir, ANC pada Ear 3 terasa belum cukup kuat mengisolasi suara. Pengguna masih bisa mendengar desis lingkungan saat ANC aktif. Dibandingkan dengan pesaing seperti Pixel Buds Pro 2 dan AirPods Pro 2, performa peredam bising Nothing Ear 3 agak lemah.

Dengan harga $179, Ear 3 tidak semurah pendahulunya. Ear 2 diluncurkan dengan harga $149, sementara Ear Stick hanya $99. Harapan pun lebih tinggi. Nothing meningkatkan kualitas suara Ear 3 berkat redesain driver dinamis 12mm dan penyesuaian lainnya. Nada bass terdengar lebih menonjol dibanding Ear 2, sementara treble lebih kaya dan kurang “bersiul”. Pengguna juga bisa memanfaatkan aplikasi pendamping Nothing X untuk menyesuaikan equalizer sesuai preferensi.

Selain equalizer, Nothing memasukkan sejumlah fitur AI, tetapi ini memerlukan Nothing Phone terbaru untuk dapat digunakan. Essential Space—fitur yang mengumpulkan catatan suara, pengingat, screenshot, dan lainnya—dapat terhubung langsung dengan Super Mic. Di luar aplikasi panggilan, pengguna dapat menekan dan menahan untuk merekam catatan suara, yang akan disinkronkan dan ditranskripsikan secara otomatis. Ada juga fungsionalitas ChatGPT; dengan mencubit dua kali, pengguna dapat membuat permintaan ke chatbot OpenAI.

Daya tahan Ear 3 juga lebih baik dari pendahulunya. Pada Ear 2, pengguna bisa mengharapkan sekitar empat jam mendengarkan dengan ANC, dengan casing menambahkan 22,5 jam. Pada model yang ditingkatkan ini, Nothing memperkirakan sekitar 5,5 jam mendengarkan dengan ANC, dan tambahan 22 jam dari casing. Dengan pengisian lima menit, Nothing mengklaim earbuds akan bertahan hingga satu jam audio (tanpa ANC).

Nothing Ear 3 dengan casing dan lanyard

Ear 3 akan diluncurkan dalam warna putih dan hitam pada 25 September dengan harga $179. Preorder sudah dibuka di situs Nothing dan mitra ritail. Dengan segala peningkatan dan fitur unik Super Mic, Ear 3 berusaha menawarkan nilai lebih—meski dengan harga yang sedikit lebih tinggi. Apakah ini worth it? Tergantung seberapa sering Anda membutuhkan kejernihan suara dalam kondisi berisik.

Sebagai informasi, Nothing Phone (3a) Hadir dengan Fitur Baru untuk Kreator juga telah diluncurkan dengan fokus pada segmen kreatif. Sementara itu, Nothing dikabarkan memiliki sub-brand baru yang siap merilis smartwatch dan earbud tambahan. Di tengah persaingan ketat, Ear 3 hadir dengan pendekatan berbeda—tidak hanya sekadar earbuds, tetapi juga alat komunikasi yang cerdas.

Terlepas dari inovasinya, keamanan produk audio wireless tetap menjadi perhatian. Seperti insiden Samsung Galaxy Buds FE yang dilaporkan meledak, konsumen semakin kritis terhadap kualitas dan keamanan perangkat mereka. Nothing, dengan desain dan material yang ditingkatkan, berusaha menjawab kekhawatiran ini.

Jadi, apakah Nothing Ear 3 layak menjadi pilihan Anda? Jika Anda mencari earbuds dengan desain premium, fitur unik, dan peningkatan performa—dan tidak keberatan dengan harga yang sedikit lebih tinggi—Ear 3 patut dipertimbangkan. Tapi jika ANC yang kuat adalah prioritas, mungkin Anda perlu melihat opsi lain.

Gemini di Chrome Kini Gratis untuk Semua Pengguna Desktop AS

0

Telset.id – Apakah Anda termasuk yang menunggu akses gratis ke Gemini di Chrome? Kabar baik datang dari Google. Setelah sebelumnya hanya tersedia untuk pelanggan berbayar, asisten AI canggih ini akhirnya dibuka untuk semua pengguna desktop Chrome di Amerika Serikat. Tanpa perlu langganan AI Pro atau AI Ultra, kini Anda bisa menikmati fitur-fitur Gemini langsung dari browser favorit Anda.

Perubahan ini menandai babak baru dalam integrasi AI ke dalam pengalaman browsing sehari-hari. Google secara resmi mengumumkan roll out fitur ini kepada semua pengguna Chrome di Windows dan Mac, asalkan bahasa browser diatur ke Inggris dan pengguna berada di wilayah AS. Lalu, bagaimana cara kerjanya dan apa saja yang bisa dilakukan Gemini untuk Anda?

Yang perlu Anda lakukan sederhana: perhatikan bagian atas antarmuka Chrome. Anda akan melihat ikon sparkle baru yang muncul. Ketuk ikon tersebut, dan Gemini siap membantu menjawab permintaan Anda. Tidak hanya di desktop, fitur ini juga dapat diakses melalui smartphone. Pengguna Android bisa mengaktifkannya dengan menekan tombol power, sementara untuk iOS, Google masih mengupayakan integrasi di aplikasi Chrome.

Sejak diperkenalkan pertama kali di Google I/O 2025, Gemini telah mengalami beberapa peningkatan signifikan. Salah satunya adalah kemampuan untuk bekerja di berbagai tab sekaligus. Bayangkan Anda sedang melakukan riset untuk proyek atau sekadar merencanakan liburan—Gemini bisa membandingkan dan meringkas informasi dari beberapa situs web berbeda tanpa Anda harus bolak-balik manual.

Fitur recall yang baru ditambahkan juga memungkinkan Gemini mengakses riwayat penelusuran Anda. Ini sangat berguna ketika Anda lupa di mana melihat suatu informasi. Daripada membongkar history browser, cukup ketik prompt seperti “blog apa yang saya baca tentang belanja back to school?” dan biarkan Gemini yang mengurus sisanya.

Integrasi yang lebih dalam dengan layanan Google juga menjadi sorotan. Gemini kini terhubung dengan Calendar, YouTube, dan Maps. Ingin menjadwalkan rapat? Cukup minta Gemini melakukannya. Menonton video YouTube yang panjang? Gemini bisa menghasilkan timestamp agar Anda bisa melompat ke bagian tertentu. Kemudahan seperti ini tidak hanya menghemat waktu, tetapi juga membuat pengalaman digital lebih efisien.

Di sisi keamanan, Google tak ketinggalan berinovasi. Awal Mei lalu, perusahaan mulai menggunakan Gemini Nano untuk meningkatkan suite Enhanced Protection di Chrome. Kini, mereka mengumumkan bahwa Gemini Nano akan segera membantu melindungi pengguna dari situs web yang menggunakan virus palsu atau giveaway untuk menipu. Tambahan lainnya adalah algoritma yang mempelajari preferensi Anda dalam memberikan izin. Jika sistem mendeteksi bahwa Anda cenderung tidak memberikan akses ke kamera atau lokasi, permintaan tersebut akan disajikan dengan cara yang kurang mengganggu.

Fitur keamanan lain yang patut dicatat adalah AI yang dirancang untuk memudahkan pembaruan kredensial yang dikompromikan melalui pengelola kata sandi bawaan Chrome. Dengan dukungan awal untuk situs seperti Coursera, Duolingo, dan Spotify, Anda dapat mengubah kata sandi hanya dengan satu klik. Kepraktisan semacam ini menunjukkan komitmen Google terhadap keamanan pengguna tanpa mengorbankan kemudahan penggunaan.

Masa depan Gemini di Chrome bahkan lebih menjanjikan. Google berencana menghadirkan kemampuan agentic dalam beberapa bulan mendatang, yang memungkinkan Gemini menyelesaikan tugas untuk Anda. Misalnya, berbelanja kebutuhan mingguan melalui Instacart tanpa harus membuka banyak tab atau aplikasi. Kemampuan ini pertama kali diperkenalkan melalui Project Mariner akhir 2024, dan kini sedang dalam tahap penyempurnaan.

Mike Torres, Wakil Presiden Produk Chrome, dalam briefing media menjelaskan, “Harapan kami adalah ketika fitur ini sampai ke pengguna, kami telah menghilangkan banyak potensi kesalahan. Ini adalah pengalaman eksperimental yang terus kami tingkatkan. Kami tidak akan melakukan sesuatu yang mengorbankan pengalaman pengguna.” Pernyataan ini menunjukkan keseriusan Google dalam memastikan bahwa integrasi AI tidak hanya canggih, tetapi juga andal dan user-friendly.

Terakhir, Google menambahkan shortcut AI Mode langsung ke bilah alamat Chrome. AI Mode adalah chatbot pencarian khusus Google yang telah tersedia untuk semua pengguna Search di AS sejak I/O 2025. Kini, Anda dapat mengaksesnya tanpa harus membuka Google terlebih dahulu. Torres menekankan bahwa pengguna tidak wajib menggunakan shortcut ini. “Yang kami coba lakukan adalah mempertahankan perilaku existing pengguna,” tambahnya.

Seperti pembaruan besar lainnya dari Google, mungkin perlu beberapa hari sebelum fitur-fitur baru ini muncul di instalasi Chrome Anda. Namun yang pasti, langkah ini menandai era baru di mana AI tidak lagi menjadi fitur eksklusif untuk segelintir orang, tetapi hadir sebagai bagian integral dari pengalaman browsing sehari-hari.

Dengan Gemini yang semakin inklusif di ChromeOS, dan kini hadir gratis untuk desktop, Google jelas sedang memperkuat posisinya dalam lanskap AI yang semakin kompetitif. Apalagi dengan OpenAI yang bersiap menghadapi Chrome dengan browser pencarian AI baru, persaingan di pasar browser dipastikan akan semakin panas.

Lalu, bagaimana dengan masa depan Chrome sendiri? Seperti dibahas dalam analisis mengenai praktik bisnis Chrome, Google tidak perlu menjual browser tersebut, tetapi harus terus beradaptasi dengan perubahan zaman. Integrasi Gemini yang semakin dalam dan terbuka ini bisa menjadi langkah strategis untuk mempertahankan relevansi Chrome di era AI.

Antarmuka Chrome dengan ikon sparkle Gemini di bagian atas

Valve Steam Hentikan Dukungan Windows 32-bit Akhir Tahun Ini

0

Telset.id – Bayangkan Anda membuka Steam di komputer kesayangan, siap memulai petualangan gaming terbaru, hanya untuk menemukan bahwa platform tersebut tak lagi mendukung sistem operasi Anda. Itulah kenyataan pahit yang akan dihadapi ribuan gamer di seluruh dunia. Valve, perusahaan di balik Steam, secara resmi mengumumkan penghentian dukungan untuk Windows 32-bit mulai akhir tahun ini.

Langkah ini mungkin terdengar drastis, tetapi data berbicara lebih keras. Menurut survei hardware Steam, hanya 0,01% pengguna yang masih menggunakan Windows 10 32-bit. Dengan basis pengguna harian lebih dari 36 juta, perubahan ini diperkirakan hanya memengaruhi beberapa ribu gamer. Namun, bagi mereka yang terdampak, ini bukan sekadar angka statistik—ini tentang pengalaman gaming yang tiba-tiba terancam.

Valve menjelaskan bahwa fitur inti Steam bergantung pada driver sistem dan library yang tidak lagi didukung pada versi Windows 32-bit. “Ini bukan keputusan yang diambil sembarangan,” jelas pernyataan resmi mereka. Meskipun klien Steam Anda tidak akan meledak pada tengah malam 1 Januari, Anda tak akan lagi menerima update atau dukungan teknis. Artinya, kerentanan keamanan dan bug perangkat lunak akan menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya.

Ilustrasi antarmuka Steam di Windows 32-bit yang tak lagi didukung

Microsoft sendiri telah mengumumkan penghentian dukungan Windows 10 pada 14 Oktober tahun ini, yang berarti tidak ada lagi update keamanan. Keputusan Valve sejalan dengan tren industri yang semakin meninggalkan arsitektur 32-bit. Windows 11 bahkan tidak menawarkan versi 32-bit, menjadikannya sistem operasi pertama tanpa dukungan tersebut sejak Windows NT diperkenalkan pada 1993.

Bagi pengguna yang masih bertahan di Windows 10 32-bit, transisi ke sistem 64-bit mungkin terdengar menakutkan. Namun, langkah ini sebenarnya membuka pintu ke pengalaman gaming yang lebih mulus dan aman. Seperti yang pernah terjadi ketika Valve tidak memberi dukungan Counter-Strike 2 di Windows jadul dan Mac, evolusi teknologi seringkali membutuhkan pengorbanan kompatibilitas demi kemajuan.

Lalu, bagaimana dengan masa depan gaming PC? Keputusan Valve ini mungkin justru membawa angin segar. Dengan fokus resources yang dialihkan dari maintain sistem lawas, developer bisa lebih berkonsentrasi pada inovasi dan perbaikan fitur. Siapa tahu—mungkin ini langkah kecil menuju realisasi Half-Life 3 yang telah dinanti-nanti fans selama bertahun-tahun?

Bagi Anda yang masih menggunakan perangkat dengan Windows 32-bit, pertimbangkan untuk upgrade. Jika khawatir dengan biaya, cara jalankan Windows 95 di Mac untuk nostalgia mungkin mengingatkan bahwa teknologi memang terus bergerak maju. Atau, jika Anda pengguna tablet, produk seperti Tablet Lenovo ThinkPad 10 yang dipersenjatai fingerprint sensor menunjukkan bahwa perangkat mobile modern pun sudah mengadopsi standar keamanan terkini.

Pada akhirnya, perubahan adalah satu-satunya konstanta dalam dunia teknologi. Keputusan Valve mungkin menyakitkan bagi sebagian kecil komunitas, tetapi necessary evil untuk memastikan Steam tetap relevan di masa depan. Daripada berpegang pada sistem yang sudah usang, mungkin inilah saatnya untuk melangkah ke era computing yang lebih modern—dan who knows, mungkin gaming experience Anda justru akan menjadi lebih baik karenanya.

Microsoft Gaming Copilot Resmi Hadir di PC dan Xbox Mobile App

0

Telset.id – Bayangkan Anda sedang terjebak di level sulit sebuah game, frustrasi karena tidak tahu solusinya. Dulu, Anda mungkin harus mencari solusi di forum atau menonton video tutorial. Kini, Microsoft punya jawaban yang lebih cerdas dan instan: Gaming Copilot. Asisten AI ini resmi meluncur untuk PC Windows dan aplikasi Xbox mobile, siap membantu para gamer dengan tips real-time, rekomendasi, dan bahkan obrolan suara. Apakah ini akhir dari era kebingungan saat gaming?

Microsoft telah menguji coba Gaming Copilot melalui program Xbox Insiders, dan sekarang alat ini akhirnya tersedia untuk khalayak lebih luas. Pemain berusia 18 tahun ke atas dapat mengaksesnya melalui PC Game Bar, sementara versi aplikasi Xbox untuk Android dan iOS akan dirilis pada Oktober mendatang, menyusul uji beta awal tahun ini. Menariknya, Microsoft menyatakan bahwa Gaming Copilot akan tersedia secara global, kecuali di Tiongkok Daratan. Lantas, seperti apa sebenarnya pengalaman menggunakan asisten AI ini?

Gaming Copilot ibarat versi modern dari layanan bantuan Nintendo yang legendaris dulu—tapi dengan kecerdasan buatan yang jauh lebih canggih. Kotak chat muncul sebagai overlay di layar, memungkinkan pemain mengajukan pertanyaan atau meminta tips tentang game yang sedang dimainkan. Microsoft mengklaim bahwa alat ini “tahu apa yang Anda mainkan dan memahami aktivitas Xbox Anda,” berkat penggunaan screenshot dalam game. Selain itu, ia dapat menjawab pertanyaan tentang akun Xbox dan menawarkan rekomendasi pembelian.

Tampilan antarmuka Microsoft Gaming Copilot di layar PC

Yang membedakan versi resmi ini adalah dukungan obrolan suara. Anda cukup berbicara untuk bertanya, tanpa perlu mengetik. Pada PC, terdapat hotkey “Push to Talk” yang mengaktifkan bot—fitur yang sangat praktis saat tangan sibuk dengan kontrol game. Aplikasi juga dilengkapi tombol mikrofon. Ada widget khusus untuk versi PC yang dapat ditempatkan di mana saja di layar, memudahkan percakapan panjang tanpa mengganggu gameplay.

Seperti diungkapkan CEO Microsoft Satya Nadella dalam cuitannya, “Dengan Copilot for Gaming, Anda dapat kembali ke game lebih cepat, mendapatkan pelatihan real-time, dan tetap terhubung… semua sesuai keinginan Anda.” Nadella tampak antusias dengan apa yang disiapkan timnya, menandakan bahwa ini bukan sekadar fitur tambahan, tetapi langkah strategis dalam ekosistem gaming Microsoft.

Microsoft masih terus menyempurnakan software ini dan mendorong umpan balik dari pengguna. Perusahaan menyatakan bahwa mereka akan “terus mengembangkan Gaming Copilot dan membuatnya lebih membantu untuk kebutuhan dan preferensi pemain.” Pengujian juga dilakukan pada konsol portabel berbasis Windows, dan mengingat Microsoft baru saja mengumumkan kehadiran Xbox Ally handheld gaming machines, sangat mungkin software ini akan diintegrasikan secara resmi untuk konsol tersebut setelah peluncurannya pada 16 Oktober.

Kehadiran Gaming Copilot juga sejalan dengan tren AI yang semakin menguasai industri teknologi. Seperti yang terjadi pada produk AI terbaru Tencent yang fokus pada efisiensi industri, Microsoft jelas ingin memanfaatkan AI untuk meningkatkan pengalaman pengguna—khususnya di dunia gaming. Bahkan, perangkat seperti laptop AI Tecno dan Samsung Galaxy Tab S11 Series turut menguatkan betapa AI telah menjadi bagian tak terpisahkan dari produk teknologi masa kini.

Namun, pertanyaannya: apakah gamers benar-benar membutuhkan asisten AI saat bermain? Bagi sebagian orang, tantangan dan eksplorasi adalah bagian dari keseruan gaming. Kehadiran AI yang memberikan solusi instan bisa saja dianggap mengurangi unsur tantangan tersebut. Di sisi lain, bagi pemain kasual atau mereka yang terbatas waktu, fitur seperti ini mungkin menjadi penyelamat.

Microsoft tampaknya paham betul dinamika ini. Mereka tidak memaksakan Gaming Copilot sebagai sesuatu yang wajib digunakan, melainkan sebagai opsi tambahan yang bisa dimanfaatkan “sesuai keinginan Anda,” sebagaimana disampaikan Nadella. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Microsoft ingin memenuhi beragam preferensi tanpa mengganggu esensi pengalaman gaming itu sendiri.

Dengan peluncuran Gaming Copilot, Microsoft tidak hanya memperkuat posisinya di industri gaming, tetapi juga menunjukkan komitmennya dalam integrasi AI di berbagai lini produk. Langkah ini mungkin akan diikuti oleh para kompetitor, membuka babak baru dimana AI bukan lagi sekadar fitur tambahan, tetapi elemen inti yang mengubah cara kita berinteraksi dengan game.

Jadi, siapkah Anda untuk didampingi asisten AI saat gaming? Atau justru merasa bahwa ini adalah langkah yang terlalu jauh? Yang pasti, Microsoft telah membuka pintu bagi masa depan gaming yang lebih cerdas dan terhubung. Dan seperti biasa, waktu yang akan membuktikan apakah inovasi ini diterima dengan baik oleh komunitas gamers global.

AI Stupid Meter: Alat Open Source Pantau Kinerja Model AI

0

Telset.id – Bayangkan jika ada alat yang bisa mengukur tingkat “kebodohan” model AI besar seperti GPT-5, Claude Opus 4, atau Gemini 2.5 Pro secara real-time. Kedengarannya seperti lelucon, bukan? Namun, proyek open source terbaru ini justru serius dan sudah menarik perhatian hampir satu juta pengunjung sejak diluncurkan awal tahun ini.

Disebut sebagai “AI Stupid Meter”, alat ini bertujuan memantau penurunan performa model AI populer dengan lebih dari 140 tes coding dan debugging yang berjalan terus-menerus. Hasilnya ditampilkan dalam dashboard live yang menunjukkan seberapa “pintar” atau “bodoh” sebuah model pada waktu tertentu. Meski namanya terkesan candaan, tujuan di baliknya sangatlah serius: memberikan transparansi di industri AI yang semakin tertutup.

Alat ini tidak hanya menguji kebenaran jawaban, tetapi juga stabilitas, kemampuan pemulihan, efisiensi, dan faktor lainnya. Salah satu aspek paling menarik adalah analisis biaya yang tidak hanya melihat harga API, tetapi juga berapa banyak percobaan yang dibutuhkan model untuk menyelesaikan tugas dengan benar. Model yang “murah” bisa jadi lebih boros jika membutuhkan banyak percobaan, sementara model mahal mungkin justru lebih hemat karena menyelesaikan tugas lebih cepat.

Mengapa Developer Membutuhkan Alat Seperti Ini?

Dalam beberapa tahun terakhir, model AI besar sering kali mengalami fluktuasi performa yang tidak terduga. Terkadang, sebuah model yang sebelumnya sangat andal tiba-tiba menghasilkan jawaban yang mengecewakan. Fenomena ini sering disebut sebagai “performance drop” atau penurunan kinerja, dan bisa sangat frustasi bagi developer yang mengandalkan konsistensi model AI.

AI Stupid Meter hadir sebagai solusi open source yang memungkinkan siapa pun memantau perubahan ini. Kode dan API-nya tersedia di GitHub, sehingga developer dapat meninjau, berkontribusi, atau bahkan mengadaptasinya sesuai kebutuhan. Pendekatan ini sejalan dengan tren open source yang semakin populer di kalangan pengembang, di mana kolaborasi dan transparansi menjadi kunci utama.

Dampak pada Industri AI

Keberadaan AI Stupid Meter bukan hanya sekadar alat monitoring, tetapi juga bentuk kritik terhadap kurangnya transparansi dari perusahaan AI besar. Dengan membandingkan performa model secara objektif, developer dan pengguna akhir dapat membuat keputusan yang lebih informed tentang model mana yang layak digunakan.

Selain itu, alat ini juga menyoroti pentingnya efisiensi biaya. Banyak perusahaan mungkin tergoda menggunakan model AI dengan harga API rendah, tetapi tanpa menyadari bahwa model tersebut mungkin membutuhkan lebih banyak sumber daya untuk menyelesaikan tugas. Di sisi lain, model yang lebih mahal bisa jadi justru lebih efisien dalam jangka panjang.

Transparansi semacam ini sangat penting mengingat semakin banyaknya situs yang diblokir yang membatasi akses ke informasi terkini tentang perkembangan AI. Dengan alat open source seperti AI Stupid Meter, developer dapat mengakses data performa model tanpa bergantung sepenuhnya pada klaim dari perusahaan pengembang.

Masa Depan Monitoring AI

AI Stupid Meter mungkin masih dalam tahap awal, tetapi minat yang besar dari komunitas menunjukkan bahwa kebutuhan akan alat semacam ini sangat nyata. Kedepannya, tidak menutup kemungkinan akan muncul alat serupa yang fokus pada aspek lain dari performa AI, seperti keamanan, bias, atau bahkan kreativitas.

Bagi developer, alat ini bisa menjadi tambahan yang berharga untuk kumpulan tool gratis yang sudah mereka gunakan. Dengan memantau performa model AI secara real-time, mereka dapat menghindari kekecewaan akibat penurunan kualitas yang tidak terduga.

Apakah AI Stupid Meter akan menjadi standar baru dalam industri AI? Waktu yang akan menjawab. Namun, satu hal yang pasti: alat ini telah membuka percakapan penting tentang transparansi dan akuntabilitas dalam dunia AI yang semakin kompleks.

Ayaneo Pocket Air Mini: Handheld Retro dengan Harga Terjangkau

0

Telset.id – Bayangkan bisa membawa nostalgia gaming retro di genggaman Anda tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam. Itulah yang ditawarkan Ayaneo melalui Pocket Air Mini, handheld Android terbaru mereka yang resmi diumumkan pekan ini dengan harga mulai dari $69.99 secara global. Sebuah langkah berani dari brand yang dikenal dengan perangkat premium, kini hadir dengan pendekatan lebih demokratis.

Bagi para penggemar gaming portabel, nama Ayaneo mungkin sudah tidak asing di telinga. Brand ini dikenal dengan seri handheld high-end mereka yang sering dibandingkan dengan perangkat seperti Steam Deck atau Nintendo Switch. Namun, kali ini Ayaneo mengambil pendekatan berbeda: membuat gaming handheld yang terjangkau tanpa mengorbankan DNA flagship mereka.

Lalu, apa yang membuat Pocket Air Mini layak diperhitungkan di pasar yang semakin ramai? Mari kita telusuri lebih dalam spesifikasi dan penawaran nilai yang dibawa oleh perangkat ini.

Ayaneo Pocket Air Mini

Spesifikasi yang Menarik untuk Kelas Entry-Level

Pocket Air Mini menghadirkan layar LCD 4.2 inci dengan aspek rasio 4:3 yang sempurna untuk game-game retro. Resolusi 1280×960 dan brightness hingga 500 nits menjanjikan pengalaman visual yang memuaskan, didukung kalibrasi warna pabrik yang akurat. Bagi Anda yang sering bermain di luar ruangan, brightness tinggi ini tentu menjadi nilai tambah.

Ditenagai oleh MediaTek Helio G90T, chipset octa-core ini menggabungkan dua core Cortex-A76 untuk performa dan enam core Cortex-A55 untuk efisiensi, dipasangkan dengan GPU Mali-G76 MP4. Meski bukan prosesor paling mutakhir, kombinasi ini cukup untuk menjalankan game Android dan emulasi retro dengan lancar.

Perangkat ini hadir dalam dua varian: 2GB RAM/32GB penyimpanan dan 3GB RAM/64GB penyimpanan, dengan dukungan ekspansi melalui MicroSD. Yang menarik, Ayaneo menyertakan sistem pendingin aktif dengan kipas built-in untuk menjaga suhu tetap stabil selama sesi gaming panjang.

Desain dan Kontrol yang Diperhatikan

Dengan berat 269 gram dan dimensi 165.9 x 82.5 x 18.7 mm, Pocket Air Mini dirancang agar nyaman digenggam dalam waktu lama. Area grip mencapai ketebalan 27.6 mm, memberikan ergonomi yang baik. Kontrolnya termasuk joystick dan trigger Hall-effect dengan lighting RGB, D-pad, tombol ABXY dengan conductive rubber, shoulder buttons, dan motor getar dengan dukungan XInput.

Perangkat ini juga dilengkapi tombol AYA dan navigasi untuk akses sistem yang cepat. Tersedia dalam tiga pilihan warna: Retro White, Aurora Black, dan Retro Power – pilihan yang sesuai dengan tema retro yang diusung.

Baterai 4500mAh dengan dukungan fast charging 18W memastikan Anda bisa bermain lebih lama dengan waktu pengisian yang cepat. Konektivitas lengkap dengan USB Type-C, jack headphone 3.5mm, Wi-Fi dual-band (5GHz), dan Bluetooth 5.0.

Software dan Pengalaman Pengguna

Pocket Air Mini menjalankan Android 11 dengan suite software Ayaneo termasuk AYASpace dan AYAHome. Aplikasi-aplikasi ini menyediakan tuning performa, pemetaan tombol, kontrol kipas, dan manajemen library game – fitur yang biasanya hanya ditemukan di perangkat high-end Ayaneo.

Ini menunjukkan komitmen Ayaneo untuk tidak mengorbankan pengalaman pengguna meski dengan harga yang lebih terjangkau. Bagi Anda yang tertarik dengan handheld Android lainnya, mungkin ingin membandingkan dengan Ayn Thor yang menawarkan pengalaman dual-layer atau mempertimbangkan perkembangan prosesor gaming handheld seperti Snapdragon G Series terbaru dari Qualcomm.

Dengan harga mulai 499 yuan untuk versi 2+32GB di China (terbatas untuk 3.000 unit pertama di JD.com) dan 599 yuan untuk versi 3+64GB, Pocket Air Mini jelas menawarkan nilai yang menarik. Harga global dimulai dari $69.99 dan $79.99 untuk early bird, yang kemudian akan naik menjadi $89.99 dan $99.99 setelah peluncuran penuh.

Kehadiran Pocket Air Mini terjadi di saat yang tepat, mengingat beberapa produsen handheld lain menghadapi tantangan distribusi. Ayaneo tampaknya membaca peluang ini dengan baik, menawarkan produk yang tidak hanya terjangkau tetapi juga lengkap fitur.

Apakah Pocket Air Mini akan menjadi game-changer di pasar handheld entry-level? Jawabannya mungkin terletak pada bagaimana konsumen merespons kombinasi harga, spesifikasi, dan brand value yang ditawarkan. Satu hal yang pasti: kompetisi di segmen handheld gaming semakin panas, dan yang untung adalah kita, para gamer.

Meta Ray-Ban Display Resmi Dirilis! Kacamata AR dengan Layar Transparan

0

Telset.id – Bayangkan jika kacamata biasa tiba-tiba bisa menampilkan pesan teks, arahan navigasi, bahkan panggilan video langsung di lensa Anda. Itulah yang ditawarkan Meta Ray-Ban Display, kacamata pintar pertama Meta dengan layar built-in yang baru saja diumumkan di Connect 2025. Dengan harga $799, perangkat ini siap mengubah cara kita berinteraksi dengan dunia digital.

Setelah berbulan-bulan beredarnya rumor, akhirnya Meta membuktikan bahwa mereka serius memasuki arena augmented reality. Kacamata ini tidak hanya sekadar aksesori fashion, tetapi sebuah perangkat komputasi yang dikenakan di wajah. Bagaimana performanya? Mari kita selidiki lebih dalam.

Meta Ray-Ban Display akan tersedia secara terbatas di toko-toko fisik di Amerika Serikat mulai 30 September. Retailer yang dipilih termasuk Best Buy, LensCrafters, Ray-Ban, dan Verizon. Untuk pasar internasional seperti Kanada, Prancis, Italia, dan Inggris Raya, produk ini baru akan meluncur pada awal 2026. Ekspansi bertahap ini menunjukkan strategi Meta yang berhati-hati dalam memasuki pasar global.

Demo Meta Ray-Ban Display di Meta Connect 2025

Fitur utama yang membedakan Ray-Ban Display dari pendahulunya adalah adanya heads-up display (HUD) transparan. Layar ini memungkinkan pengguna melihat dan membalas chat teks, prompt AI, arahan navigasi, dan panggilan video tanpa harus mengeluarkan smartphone. Interaksi dengan HUD dilakukan melalui gestur tangan, termasuk gerakan mengusap jari untuk mengetik balasan chat.

Yang menarik, setiap pasang kacamata dilengkapi dengan gelang khusus bernama Meta Neural Band. Gelang EMG (electromyography) ini mendeteksi sinyal saraf dari gerakan tangan pengguna, memungkinkan kontrol yang lebih presisi terhadap antarmuka kacamata. Tanpa gelang ini, interaksi dengan HUD tidak akan mungkin dilakukan.

Demo Langsung: Sukses dan Gagal

Presentasi di Meta Connect 2025 memberikan gambaran nyata tentang kemampuan kacamata ini. Sayangnya, demo langsung tidak berjalan mulus – kacamata gagal menerima panggilan telepon saat diperagakan. Namun, Mark Zuckerberg berhasil menunjukkan fitur-fitur lain dengan impresif. CEO Meta itu membuka Spotify dan memutar lagu, mengambil dan melihat foto, serta mendemonstrasikan fitur subtitle real-time yang terlihat sangat berguna.

HUD pada Ray-Ban Display mendukung Meta AI dengan visual, messaging, video calling, preview dan zoom foto, navigasi pejalan kaki turn-by-turn, live captions dan terjemahan, serta pemutaran musik. Zuckerberg bahkan membuka konferensi dengan streaming POV dari kacamata ini, menunjukkan HUD di sisi kanan yang menampilkan Spotify, pengingat kalender, chat teks, dan gambar masuk dengan opsi balasan melalui pesan dikte, emoji, atau frasa tertulis.

Spesifikasi Teknis yang Mengagumkan

Dari segi desain, kacamata dan gelang tersedia dalam dua warna (black dan sand) dan dua ukuran (standard dan large). Semua pasang dilengkapi lensa Transitions yang menyesuaikan secara otomatis dengan kondisi cahaya. Zuckerberg dengan bangga melaporkan bahwa layarnya memiliki “resolusi sangat tinggi” – full color dengan 42 piksel per derajat bidang pandang. Sebagai perbandingan, Meta Quest 3S hanya memiliki 20 piksel per derajat.

Untuk daya tahan baterai, kacamata mengklaim “enam jam untuk penggunaan campuran dan hingga 30 jam total,” sementara Meta Neural Band memiliki daya tahan 18 jam dengan rating air IPX7. Spesifikasi ini cukup menjanjikan untuk penggunaan sehari-hari.

Peluncuran Meta Ray-Ban Display tidak terjadi dalam vakum. Produk ini merupakan bagian dari lineup kacamata pintar yang diumumkan di Connect 2025, termasuk generasi kedua Ray-Ban Meta glasses (yang juga gagal dalam demo langsung kemampuan asisten AI-nya) dan Oakley Meta Vanguard yang sporty. Persaingan di pasar kacamata pintar semakin panas, terutama dengan Apple yang sedang menggarap chip baru untuk kacamata pintar dan AI.

Masa Depan yang Transparan

Keberhasilan Meta Ray-Ban Display tidak hanya tergantung pada hardware-nya yang canggih, tetapi juga pada pengembangan software dan AI yang berkelanjutan. Meta Aria Gen 2 yang baru dirilis menunjukkan komitmen perusahaan dalam riset AI, sementara pengembangan teknologi pengenalan wajah mengindikasikan arah yang mungkin diambil untuk fitur-fitur masa depan.

Dengan harga $799, Meta Ray-Ban Display memang tidak murah. Namun, untuk teknologi yang bisa mengubah cara kita berinteraksi dengan dunia digital, harga tersebut mungkin sepadan. Pertanyaan besarnya: apakah konsumen siap menerima bentuk komputasi yang benar-benar baru ini? Waktu yang akan menjawabnya.

Yang pasti, dengan Ray-Ban Display, Meta telah meletakkan dasar yang kuat untuk masa depan augmented reality. Kacamata ini bukan sekadar gadget, tetapi jendela menuju dunia di mana digital dan fisik menyatu secara mulus. Dan bagi kita yang menyaksikan kelahirannya, ini hanya awal dari revolusi yang jauh lebih besar.

HUAWEI Pura 80 Series Resmi di Indonesia, Zoom Super Jernih & Low-Light Menawan

0

Telset.id – Bayangkan bisa memotret detail wajah dari jarak dekat atau menangkap keindahan langit malam dengan ketajaman luar biasa, semua dari genggaman smartphone Anda. Itulah yang dihadirkan HUAWEI Pura 80 Series, yang resmi meluncur di Indonesia hari ini, 17 September 2025. Dengan teknologi kamera terdepan dan desain elegan, seri ini tidak hanya menawarkan performa fotografi terbaik, tetapi juga menjadi simbol inovasi yang terus berdenyut dari Huawei.

Peluncuran HUAWEI Pura 80 Series di Indonesia bukan sekadar peristiwa biasa. Ini adalah momen di mana Huawei kembali membuktikan dedikasinya dalam menghadirkan teknologi terkini yang memadukan estetika dan fungsi. Sebagai penerus Pura Series yang telah dikenal dengan inovasi fotografi mobile, seri ini menghadirkan dua flagship: HUAWEI Pura 80 Ultra dan HUAWEI Pura 80 Pro. Keduanya dirancang untuk memenuhi kebutuhan berbagai segmen pengguna, dari fotografer profesional hingga pecinta gaya hidup premium.

Selama periode launching 17 September hingga 17 Oktober 2025, konsumen dapat membeli HUAWEI Pura 80 Ultra dengan harga Rp22.999.000 dan HUAWEI Pura 80 Pro seharga Rp14.999.000. Tidak hanya itu, Huawei juga menawarkan benefit hingga Rp10 juta untuk setiap pembelian, termasuk HUAWEI WATCH GT 5 senilai Rp2,6 juta secara gratis, trade-in cashback hingga Rp2,5 juta, bank cashback hingga Rp2 juta, layanan perlindungan HUAWEI Care+ senilai Rp2,4 juta, serta cashback Rp500 ribu untuk transaksi di Tiket.com. Penawaran menggiurkan ini tersedia baik secara online melalui Huawei Official Store di berbagai platform e-commerce maupun offline di HUAWEI Authorized Experience Store dan mitra resmi lainnya.

Inovasi Kamera yang Mengubah Segalanya

HUAWEI Pura 80 Series membawa terobosan besar dalam dunia fotografi mobile dengan menghadirkan Industry First Switchable Dual Telephoto Lens. Teknologi ini memungkinkan pengguna menikmati fleksibilitas zoom optik 3,7x hingga 9,4x dalam satu modul, menghasilkan Crystal-Clear Zoom yang menjaga ketajaman dan kejernihan foto di setiap tingkat zoom. Bayangkan Anda bisa memotret detail arsitektur dari kejauhan atau close-up wajah dengan presisi tinggi, tanpa kehilangan kualitas.

Selain itu, seri ini dilengkapi dengan 1 inch Ultra Large Sensor yang mampu menangkap cahaya secara maksimal, terutama dalam kondisi low-light. Sensor ini menghasilkan dynamic range hingga 16EV, memastikan detail tetap terjaga baik di area terang maupun gelap. Hasilnya? Potret malam yang dramatis dan pemandangan dengan pencahayaan kompleks dapat diabadikan dengan warna yang tetap alami dan hidup.

Bicara soal warna, HUAWEI Pura 80 Pro hadir dengan Ultra Chroma Technology yang memproses 1,5 juta channel warna untuk reproduksi warna yang akurat dan natural. Fitur ini sangat ideal untuk fotografi kuliner, fashion, dan lanskap yang membutuhkan ketepatan warna tinggi. Sementara itu, HUAWEI Pura 80 Ultra, yang ditujukan untuk fotografer profesional dan pencinta desain mewah, telah meraih peringkat pertama DXOMARK Global untuk kualitas foto dan video.

Desain Elegan dan Ketahanan Tangguh

HUAWEI Pura 80 Series tidak hanya unggul dalam hal teknologi, tetapi juga dalam estetika. Seri ini hadir dengan Dazzling Forward Symbol Design yang terinspirasi dari kemewahan perhiasan. Pada model Ultra, Huawei menambahkan sentuhan Ultra Golden Look yang memancarkan karakter eksklusif dan elegan. Pilihan warna yang ditawarkan pun beragam: HUAWEI Pura 80 Ultra tersedia dalam Golden Black dan Prestige Gold, sedangkan HUAWEI Pura 80 Pro hadir dalam Glazed Red, Glazed Black, dan Glazed White.

Dari sisi ketahanan, Huawei tidak main-main. HUAWEI Pura 80 Pro menggunakan 2nd-Gen Kunlun Glass yang meningkatkan ketahanan terhadap jatuh hingga 20 kali lipat. Sementara itu, HUAWEI Pura 80 Ultra dilengkapi dengan 2nd-Gen Crystal Armor Kunlun Glass yang meningkatkan ketahanan terhadap goresan hingga 16 kali lipat dan ketahanan terhadap jatuh hingga 25 kali lipat. Dengan demikian, pengguna dapat merasa aman dan nyaman membawa perangkat ini dalam aktivitas sehari-hari.

Dukungan AI dan Pengalaman Pengguna yang Mulus

HUAWEI Pura 80 Series didukung oleh HUAWEI XMAGE Imaging System yang cerdas dalam mengoptimalkan tekstur, warna, dan cahaya. Sistem ini menawarkan fitur Moving Picture yang merekam tiga detik footage untuk membantu pengguna memilih momen terbaik saat berfoto, serta efek AI Multi Exposure yang memberi sentuhan kreatif pada hasil jepretan.

Selain itu, seri ini dilengkapi dengan berbagai fitur AI yang memudahkan pengguna dalam aktivitas sehari-hari. AI Smart Controls Button memberikan akses cepat ke kamera, AI Removal menghapus objek yang tidak diinginkan pada foto, AI Messaging melindungi privasi pesan, dan AI Noise Cancellation menjaga kejernihan panggilan suara dan video. Pengguna juga dapat menikmati tema interaktif seperti Emoji Crush dan Air Hoops, serta dynamic wallpapers yang merespons pergerakan mata untuk pengalaman visual yang lebih personal.

Daya tahan baterai juga menjadi perhatian utama. HUAWEI Pura 80 Series memiliki baterai 5170mAh dan teknologi 100W Wired & 80W Wireless HUAWEI SuperCharge, memastikan produktivitas dan kreativitas pengguna tidak terputus oleh kekurangan daya.

Huiler Fan, CEO Huawei Device Indonesia, mengatakan, “HUAWEI Pura Series lebih dari sekadar smartphone; ini adalah partner fashion dan gaya hidup yang memadukan desain elegan dengan kamera bertenaga. Setelah 12 tahun inovasi, seri P berevolusi menjadi Pura — sebuah brand yang berani membayangkan dan menetapkan tren baru. Di Huawei, kami terus maju, membuka babak baru di mana inovasi tidak pernah berhenti.”

Dengan segala keunggulan yang ditawarkan, HUAWEI Pura 80 Series tidak hanya menjadi smartphone biasa, tetapi juga simbol inovasi dan gaya hidup modern. Bagi Anda yang mencari perangkat dengan kemampuan fotografi terbaik dan desain yang memukau, seri ini layak menjadi pertimbangan utama.

Jangan lewatkan kesempatan untuk memiliki HUAWEI Pura 80 Series dengan benefit hingga Rp10 juta selama periode launching. Kunjungi Huawei Official Website atau akses My HUAWEI App untuk informasi lebih lanjut.

AMD Ryzen AI 300 Series: Laptop Kreator Masa Depan Hadir di Indonesia

0

Telset.id – Bayangkan jika laptop Anda tak hanya memahami perintah, tetapi juga mampu memprediksi kebutuhan kreativitas Anda. Itulah yang ditawarkan AMD Ryzen AI 300 Series melalui kolaborasi strategis dengan Lenovo dan Microsoft—sebuah lompatan besar dalam komputasi AI personal yang siap mengubah cara kita bekerja dan berkreasi.

Dalam acara “Next-Gen Storytelling: AI-Driven Creativity with Ryzen AI”, AMD dan Lenovo tidak sekadar memamerkan produk, tetapi membuktikan bagaimana teknologi AI dapat menjadi mitra kreatif yang nyata. Dengan dukungan penuh Microsoft Copilot+ dan optimasi perangkat lunak dari CyberLink, laptop berbasis Ryzen AI 300 Series hadir sebagai jawaban atas kebutuhan konten kreator modern yang menginginkan efisiensi tanpa kompromi.

Lantas, apa yang membuat seri prosesor ini begitu istimewa? Mari kita telusuri lebih dalam.

AMD Ryzen AI 300 Series: Otak di Balik Revolusi Kreativitas

Dibangun di atas arsitektur AMD XDNA™ 2, Ryzen AI 300 Series menawarkan Neural Processing Unit (NPU) dengan kemampuan pemrosesan AI hingga 50 TOPS—melampaui standar PC AI Copilot+ dan tiga kali lebih cepat dari generasi sebelumnya. Ini bukan sekadar angka, melainkan fondasi bagi pengalaman komputasi yang lebih responsif dan privat.

“AI adalah teknologi paling transformatif dalam 50 tahun terakhir,” tegas Cen Armawati, Consumer Business Development Manager AMD Indonesia. “Kami berkomitmen untuk mendefinisikan ulang cara kita hidup dan bekerja.”

Seri ini menghadirkan hingga 12 core CPU “Zen 5” dengan 24 thread, dilengkapi cache L3 50% lebih besar dari generasi sebelumnya. Hasilnya? Performa multitasking yang secepat kilat, bahkan untuk rendering video 4K atau desain grafis kompleks. Tak ketinggalan, grafis AMD Radeon™ 800M Series dengan arsitektur RDNA™ 3.5 memastikan pengalaman gaming mulus dengan frame rate tinggi—sebuah kombinasi langka di laptop ultra-tipis.

Yang membedakan Ryzen AI adalah kemampuannya menangani beban kerja AI secara lokal. Alih-alih mengandalkan cloud, prosesor ini memproses data di perangkat, menjaga privasi sekaligus mengurangi ketergantungan pada koneksi internet. Fitur seperti automated workflow dan content generation berjalan lancar, membebaskan kreator dari tugas-tugas repetitif.

Lenovo: Wadah Sempurna untuk Ryzen AI

Lenovo memahami bahwa hardware canggih perlu diwadahi dengan desain yang intuitif. Melalui seri Yoga dan IdeaPad, mereka menghadirkan PC AI yang tidak hanya bertenaga, tetapi juga adaptif terhadap gaya hidup pengguna.

“Kemitraan kami dengan AMD dan Microsoft memungkinkan kami menghadirkan PC AI yang intuitif,” ujar Santi Nainggolan, Consumer Lead Lenovo Indonesia. “Perangkat seperti Lenovo Yoga Pro memberdayakan pengguna mencapai tingkat produktivitas dan kreativitas baru.”

Lenovo Yoga Pro, misalnya, memadukan keanggunan dengan performa. Layar OLED PureSight Pro 2.8K dengan refresh rate 120Hz menjanjikan visual memukau, sementara keyboard dengan keycaps berbentuk piringan dan lapisan tahan air memberikan pengalaman mengetik yang premium. Fitur andalannya, Lenovo AI Now, didukung local language model berbasis Llama 3 dari Meta, memungkinkan tugas seperti pencarian dokumen dan peringkasan berjalan langsung di perangkat—tanpa khawatir data bocor ke cloud.

Tak ketinggalan, seri IdeaPad menawarkan fleksibilitas lebih dengan harga terjangkau mulai Rp 12,999.000. Dengan layar hingga OLED 2.8K dan dukungan fitur cerdas seperti Windows Hello serta peredam bising AI, IdeaPad cocok bagi mereka yang mengutamakan portabilitas tanpa mengorbankan produktivitas.

Lenovo tak hanya menjual produk, tetapi juga pengalaman. Seperti yang pernah mereka demonstrasikan dalam acara Smarter Experience di MRT Bundaran HI, brand ini serius membawa AI lebih dekat ke khalayak Indonesia.

CyberLink: Software yang Memanfaatkan Kekuatan Ryzen AI

Hardware hebat perlu didukung software yang equally powerful. Di sinilah CyberLink berperan dengan PowerDirector 365. Aplikasi editing video ini dioptimalkan khusus untuk Ryzen AI, memanfaatkan NPU untuk tugas berat seperti rendering AI Body Effects.

Hasilnya? Pada AMD Ryzen AI 9 HX 370, performa NPU 15% lebih tinggi daripada CPU. Artinya, pengeditan video yang biasanya memakan waktu berjam-jam kini bisa diselesaikan lebih cepat, dengan GPU dan CPU yang lebih bebas menangani efek tambahan dan koreksi warna.

Bagi kreator, ini bukan sekadar percepatan proses, tetapi perluasan kemungkinan bereksperimen tanpa dibatasi waktu render yang lama.

Perkembangan PC AI seperti ini juga mempengaruhi dinamika pasar. Seperti dilaporkan dalam artikel sebelumnya, ASUS menguasai 60% pasar Copilot+ PC berkat laptop dengan NPU 45+ TOPS. Kini, dengan kehadiran Ryzen AI 300 Series, persaingan semakin panas—dan konsumen yang diuntungkan.

Namun, tantangan tetap ada. Kebijakan perdagangan global, seperti yang dibahas dalam analisis kebijakan Trump, dapat mempengaruhi ketersediaan dan harga gadget. Meski demikian, AMD dan Lenovo tampaknya siap menghadapi tantangan ini dengan strategi lokal yang matang.

Masa Depan Komputasi Ada di Genggaman Anda

AMD Ryzen AI 300 Series bukan sekadar prosesor—ia adalah pintu gerbang menuju era baru di mana AI menjadi bagian tak terpisahkan dari kreativitas manusia. Dengan dukungan Lenovo yang menghadirkan hardware elegan dan software seperti CyberLink PowerDirector yang dioptimalkan sempurna, laptop kini lebih dari sekadar alat; ia adalah partner kreatif yang cerdas.

Bagi Anda yang berkecimpung di dunia konten kreator, pertanyaan bukan lagi “apakah perlu upgrade?”, tetapi “kapan Anda siap menyambut masa depan?”

Samsung Galaxy S25 FE, Smartphone dengan AI dan Kamera Andal

0

Telset.id – Apakah Anda termasuk generasi yang tak pernah berhenti bereksplorasi? Dari hunting kuliner kekinian, hangout bersama teman, hingga menciptakan konten yang estetik—setiap momen adalah kanvas untuk berekspresi. Tapi, bagaimana jika smartphone Anda tidak hanya merekam, tetapi juga menjadi partner kreatif yang memahami visi unik Anda? Samsung menjawab tantangan ini dengan meluncurkan Galaxy S25 FE, perangkat yang dirancang khusus untuk memenuhi aspirasi Gen Z.

Diresmikan pada 17 September 2025, Galaxy S25 FE hadir dengan janji menjadi lebih dari sekadar gadget. Menurut Ilham Indrawan, MX Product Marketing Senior Manager Samsung Electronics Indonesia, smartphone ini adalah partner yang mengerti bagaimana Gen Z berinteraksi, berkreasi, dan menikmati hidup. Dengan dukungan Galaxy AI canggih, peningkatan signifikan pada kamera selfie, serta desain yang lebih ramping dan ringan, S25 FE siap mendongkrak kreativitas penggunanya.

Lantas, mengapa Galaxy S25 FE layak masuk wishlist Anda? Simak tiga alasan utamanya.

Selfie Auto Jernih, Konten Auto Keren

Bagi Gen Z, selfie bukan sekadar foto—ia adalah medium ekspresi diri. Galaxy S25 FE memahami betul kebutuhan ini dengan meningkatkan kamera depan menjadi 12MP, atau 20% lebih baik dari generasi sebelumnya. Hasilnya? Selfie yang lebih jernih, tajam, dan penuh detail. Ekspresi lucu, gaya cool, atau nuansa aesthetic—semua tertangkap sempurna.

Dilengkapi ProVisual Engine tercanggih, S25 FE memastikan selfie tetap on point bahkan dalam kondisi cahaya menantang. Wajah terlihat natural, warna kulit akurat, dan hasilnya siap diunggah tanpa filter berlebihan. Tak hanya selfie, kamera belakang—50MP wide-angle, 8MP telephoto dengan 3x optical zoom, dan 12MP ultra-wide—siap menghasilkan foto dan video berkualitas profesional untuk vlog atau story Anda.

Kreatif Tanpa Batas dengan Galaxy AI

Pernahkah Anda frustasi karena ada photobom yang merusak komposisi foto? Atau terganggu dengan remah makanan yang mengganggu aesthetic flatlay? Galaxy S25 FE menghadirkan solusi melalui Galaxy AI terbaru yang diintegrasikan dengan One UI 8. Ini bukan sekadar fitur—ini adalah asisten AI pribadi yang memahami keinginan Anda. Interaksinya natural, bisa melalui sentuhan, suara, atau kamera.

Fitur andalannya, Generative Edit, ibarat sulap digital. Anda dapat memindahkan objek, menghilangkan photobom, atau mengubah ukuran elemen dalam foto hanya dengan beberapa ketuk. AI ini semakin pintar dalam menghapus bayangan dan membuat hasil editan terlihat natural. Bahkan, foto lama yang rusak atau terpotong dapat “disulap” menjadi utuh kembali dengan detail realistis.

Selain itu, S25 FE menawarkan Instant Slow-Mo untuk membuat video slow motion yang mulus hanya dengan mengetuk layar. Sketch to Image dan AI Composer membantu menambahkan ornamen lucu atau menghasilkan caption catchy untuk media sosial. Dengan Galaxy AI, Anda tidak perlu aplikasi tambahan atau keahlian khusus—ide kreatif langsung dapat diwujudkan.

Bagi yang penasaran dengan perbandingan dengan seri lainnya, Galaxy S25 FE vs S25: Mana yang Lebih Layak Dibeli di 2025? bisa menjadi referensi tepat.

Desain Ramping, Performa Tangguh

Tak hanya cerdas, Galaxy S25 FE juga memukau dari segi penampilan. Desainnya premium namun nyaman digenggam. Dibandingkan pendahulunya, S24 FE, model terbaru ini lebih tipis (7,4mm) dan ringan (190g). Pilihan warnanya pun fresh: Navy, Icy Blue, Jet Black, dan White dengan tekstur hazy yang memberi kesan matte dan lembut.

Layar 6,7 inci Dynamic AMOLED 2X dengan refresh rate 120Hz menghadirkan pengalaman menonton dan gaming yang imersif. Di balik tampilan stylishnya, S25 FE ditenagai chipset Exynos 2400 yang efisien dan vapor chamber 10% lebih besar—menjamin performa anti-lag bahkan untuk gaming berat atau multitasking intensif. Baterai 4.900mAh dan dukungan super-fast charging 45W memastikan daya tahan seharian.

Dibangun dengan rangka Armor Aluminum, Gorilla Glass Victus+, dan sertifikasi IP68, smartphone ini siap menemani petualangan Anda dalam kondisi apa pun. Seperti diungkap dalam Galaxy S25 FE Rilis! Bawa Desain Elegan, Performa Andal, dan Fitur AI Canggih, perangkat ini memang dirancang untuk investasi jangka panjang.

Galaxy S25 FE resmi tersedia mulai 26 September 2025. Pembeli berkesempatan mendapatkan beragam keuntungan dengan total nilai hingga Rp2.699.000, termasuk free memory upgrade, clear case gratis, Galaxy Fit3 untuk pembelian offline, bank cashback hingga Rp750.000, serta diskon 20% untuk Galaxy Buds3 FE. Sungguh, tawaran yang #BeneranWorthIt!

Dengan kombinasi kamera selfie yang ditingkatkan, inovasi AI yang membuka horizon kreatif, serta desain dan performa yang memukau, Galaxy S25 FE bukan sekadar smartphone—ia adalah ekstensi diri bagi generasi yang tak pernah berhenti berkarya. Jadi, tunggu apa lagi? Segera daftar Samsung Reservation+ dan jadikan setiap momen Anda #BeneranWorthIt!