Beranda blog Halaman 132

AS Pertimbangkan Larangan Router TP-Link, Ini Alasannya!

0

Telset.id – Bayangkan jika router yang selama ini menjadi gerbang internet di rumah Anda tiba-tiba dilarang beredar. Itulah skenario yang sedang dipertimbangkan pemerintah Amerika Serikat terhadap produk-produk TP-Link, salah satu merek router paling populer di dunia. Bocoran terbaru mengindikasikan langkah drastis ini bukan sekadar wacana, melainkan hasil proses panjang yang melibatkan berbagai lembaga intelijen AS.

Menurut laporan eksklusif The Washington Post, Departemen Perdagangan AS didukung oleh sejumlah badan pemerintah lainnya sedang mempertimbangkan pelarangan menyeluruh terhadap router TP-Link. Proses antar-lembaga yang berlangsung selama berbulan-bulan melibatkan Departemen Keamanan Dalam Negeri, Kehakiman, dan Pertahanan. Yang membuat situasi ini semakin menarik, investigasi terhadap perusahaan ini telah berjalan setidaknya sejak tahun lalu karena kekhawatiran keamanan nasional.

Ilustrasi router TP-Link dengan latar belakang bendera Amerika Serikat dan China

Di balik popularitasnya yang mencakup 36 persen pasar router AS – bahkan menurut mantan pejabat keamanan siber AS Rob Joyce angkanya mencapai 60 persen – tersembunyi kekhawatiran mendalam tentang koneksi perusahaan dengan China. Meskipun TP-Link secara resmi memisahkan diri dari perusahaan induk China, TP-Link Technologies, pada 2022 dan menjadi entitas mandiri, kecurigaan tentang hubungan terselubung tetap menguat.

Anda mungkin bertanya: mengapa sebuah perusahaan yang mengklaim sebagai entitas Amerika masih dicurigai memiliki loyalitas kepada Beijing? Jawabannya terletak pada hukum China yang kontroversial. Menurut pejabat AS yang diwawancarai The Washington Post, undang-undang China mewajibkan semua perusahaan – termasuk yang beroperasi di luar negeri – untuk bekerja sama dengan badan intelijen China apabila diminta.

Dilema Keamanan di Balik Popularitas

Skala penetrasi pasar TP-Link di AS sungguh mencengangkan. Dengan menguasai lebih dari sepertiga pasar router Amerika, produk mereka telah menjadi tulang punggung konektivitas jutaan rumah tangga dan bisnis. Mantan pejabat cybersecurity AS Rob Joyce bahkan menyebut angka yang lebih fantastis – sekitar 60 persen – yang dicapai sebagian berkat strategi penetrasi pasar dengan menjual perangkat di bawah harga pokok.

Tapi di balik kesuksesan komersial ini, muncul pertanyaan kritis: apakah harga murah itu worth it jika mengorbankan keamanan nasional? Kekhawatiran terbesar para analis keamanan adalah potensi penyusupan melalui update software. Bayangkan jika suatu hari nanti, update firmware biasa berubah menjadi trojan horse yang membawa malware berbahaya.

TP-Link Systems, entitas AS dari perusahaan tersebut, membantah keras semua tuduhan ini. “Kami tidak tunduk pada arahan aparat intelijen China,” tegas juru bicara perusahaan. Mereka bahkan berargumen bahwa tindakan terhadap TP-Link justru akan merugikan perusahaan Amerika, bukan China.

Politik Perdagangan sebagai Panggung Utama

Larangan potensial terhadap TP-Link bukanlah insiden terisolasi. Ini adalah episode terbaru dalam drama panjang ketegangan teknologi antara AS dan China yang semakin memanas. Seperti yang terjadi dengan klaim China tentang chip AS yang berbahaya, perang teknologi telah menjadi medan tempur baru antara dua raksasa ekonomi dunia.

Yang menarik, meskipun hari ini tercapai terobosan dalam perundingan perdagangan AS-China, sumber The Washington Post mengungkapkan bahwa larangan TP-Link tetap dipertahankan sebagai bargaining chip oleh administrasi AS. Ini menunjukkan betapa kompleksnya permainan catur geopolitik di balik keputusan teknis seperti ini.

Fenomena pembatasan produk teknologi asing karena alasan keamanan nasional sebenarnya bukan hal baru di kancah global. Indonesia sendiri memiliki preseden dengan rencana Kemenperin mematikan IMEI iPhone 16 yang masuk secara ilegal, serta larangan penjualan iPhone 16 yang tidak mematuhi regulasi lokal.

Pertanyaannya sekarang: akankah konsumen Amerika rela melepas router murah dan populer mereka demi alasan keamanan yang mungkin terasa abstrak? Ataukah pemerintah AS akan menemukan jalan tengah yang melindungi kepentingan nasional tanpa mengganggu kenyamanan pengguna? Jawabannya mungkin akan menentukan masa tidak hanya TP-Link, tetapi seluruh ekosistem teknologi global yang semakin terfragmentasi.

Thief VR: Legacy of Shadow Rilis 4 Desember, Eksklusif di Platform VR

0

Telset.id – Bayangkan kembali sensasi menyelinap di kegelapan, mencuri harta karun, dan menghindari penjaga yang waspada—semuanya dalam dunia virtual yang begitu nyata hingga Anda hampir bisa merasakan dinginnya batu istana. Itulah janji yang dibawa oleh Thief VR: Legacy of Shadow, kelahiran kembali franchise stealth legendaris yang diumumkan bakal rilis pada 4 Desember mendatang. Seperti Half-Life: Alyx sebelumnya, kembalinya Thief ini adalah eksklusif virtual reality, mengubah cara kita mengalami game stealth selamanya.

Pengumuman ini bukan lagi sekadar rumor. Setelah pertama kali diumumkan pada Juni lalu, kini Maze Theory dan Vertigo Games memberikan kepastian tanggal yang dinanti-nanti para penggemar. Dengan harga listing $30 di Steam dan Meta, serta diskon pre-order menjadi $27, game ini menawarkan petualangan baru yang terjangkau. Namun, bagaimana pengalaman menyelinap di dunia VR benar-benar mengubah permainan? Apakah Magpie, karakter utama baru, mampu meneruskan warisan Garrett yang ikonik?

Thief VR: Legacy of Shadow mengambil setting waktu yang strategis: sekitar pertengahan antara peristiwa trilogi orisinal dan reboot Thief tahun 2014. Ini adalah era yang penuh celah cerita, memberikan ruang bagi narasi segar tanpa mengganggu kanon yang sudah mapan. Anda akan memerankan Magpie, seorang pencuri licik—sesuai dengan namanya—yang secara tak terduga menemukan artefak mata legendaris. Artefak ini diklaim memiliki koneksi misterius dengan masa lalu, sebuah penemuan yang pasti akan menarik perhatian kekuatan-kekuatan gelap di kota.

Gameplay Thief VR: Legacy of Shadow di Meta Quest menunjukkan aksi menyelinap dan mencuri

Latar belakang cerita semakin menarik dengan hadirnya Baron Ulysses Northcrest, seorang tiran yang menggenggam kota dengan tangan besi. Deskripsi “menghancurkan pemberontakan sebelum sempat berakar” menciptakan atmosfer opresif yang sempurna bagi gameplay stealth. Anda bukan lagi sekadar penonton yang menggerakkan karakter dari jarak jauh; dalam VR, Andalah yang menyelinap, mengintai, dan merasakan ketegangan setiap kali nyaris ketahuan. Vertigo Games telah memberikan sekilas gameplay melalui platform Meta Quest, menunjukkan bagaimana mekanik mencuri dan menghindar diadaptasi secara imersif.

Dari segi platform, Thief VR tidak hanya terbatas pada satu ekosistem. Game ini akan tersedia di Meta Quest, PS VR, dan SteamVR, memastikan jangkauan yang luas bagi pemilik berbagai perangkat VR. Sayangnya, untuk versi PlayStation Store, informasi harga dan pre-order belum tersedia pada saat pengumuman. Keputusan untuk merilis secara multi-platform ini cerdas, mengingat pasar VR yang masih berkembang dan tersegmentasi. Bagi Anda yang penasaran dengan pengalaman game stealth di VR, mungkin ini saatnya menjelajahi 20 Game RPG Terbaik di Android dan PC 2023, Bisa Main Offline sebagai alternatif sambil menunggu.

Lalu, bagaimana dengan narasi dan karakter Magpie? Dalam warisan franchise Thief, karakter utama selalu menjadi jiwa dari pengalaman bermain. Magpie hadir bukan sebagai pengganti Garrett, melainkan sebagai penerus dalam era yang berbeda. Penekanan pada “pencuri yang licik” dan penemuan artefak mata menunjukkan bahwa elemen supernatural—yang selalu menjadi bumbu dalam serial Thief—akan kembali memainkan peran penting. Dalam dunia VR, interaksi dengan objek seperti kunci, peti harta, dan bahkan senjata akan terasa lebih personal dan menuntut ketrampilan manual.

Dari perspektif harga, $30 untuk pengalaman VR eksklusif terasa cukup masuk akal, terutama dengan diskon pre-order menjadi $27. Ini menempatkan Thief VR dalam segmen mid-range untuk game VR, sebanding dengan pengalaman serupa seperti Half-Life: Alyx di masa lalu. Bagi penggemar berat stealth game, investasi ini mungkin sepadan dengan janji imersi yang ditawarkan. Namun, bagaimana dengan replay value-nya? Apakah mission design akan cukup variatif untuk membuat Anda kembali menyusuri lorong-lorong gelap kota?

Kembalinya franchise Thief dalam format VR juga menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan gaming. Apakah ini menjadi tren di mana IP klasik dihidupkan kembali melalui teknologi imersif? Mengingat kesuksesan Half-Life: Alyx, langkah Vertigo Games ini bisa dibilang berani sekaligus strategis. Mereka tidak hanya menjual nostalgia, tetapi juga pengalaman baru yang mustahil direplikasi di platform konvensional. Bagi developer lain yang merencanakan revival serupa, seperti Ubisoft dengan Assassin’s Creed Mirage, Thief VR mungkin menjadi studi kasus yang berharga.

Ketika tanggal 4 Desember semakin dekat, antisipasi komunitas gaming VR pasti akan memuncak. Thief VR: Legacy of Shadow bukan sekadar game baru; ini adalah tes bagi masa franchise legendaris dan bukti bahwa VR mampu menghadirkan genre stealth dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya. Apakah Magpie dan artefak matanya akan memenuhi harapan? Ataukah justru menjadi pelajaran bagi developer lain? Jawabannya akan segera terungkap—dan kali ini, Andalah yang memegang kendali penuh dalam dunia virtual tersebut. Sementara menunggu, tidak ada salahnya menyimak perkembangan Assassin’s Creed Codename Red yang akan menghadirkan karakter samurai dan shinobi, membuktikan bahwa genre stealth dan action terus berevolusi di berbagai platform.

Huawei Nova Flip S: Chipset Kirin 8000 Terungkap, Harga Terjangkau

0

Telset.id – Inilah yang ditunggu para penggemar foldable: Huawei Nova Flip S akhirnya mengungkap rahasia prosesornya. Setelah peluncuran yang penuh teka-teki, performa chipset yang menjadi jantung ponsel lipat kecil ini akhirnya terkuak. Dan hasilnya? Huawei tetap konsisten dengan strategi chipset Kirin mereka.

Bagaimana tidak, selama peluncuran resmi, Huawei dengan sengaja menyembunyikan identitas prosesor yang menggerakkan Nova Flip S. Tapi seperti kata pepatah, rahasia sebesar apapun akhirnya terbongkar juga. Melalui software deteksi performa, terungkap bahwa ponsel lipat terkini Huawei ini ditenagai oleh Kirin 8000 – chipset yang sama dengan yang digunakan pada pendahulunya, Huawei Nova Flip yang debut Agustus lalu.

Huawei Nova Flip S

Spesifikasi Kirin 8000 cukup mengesankan untuk segmen ponsel lipat entry-level. Prosesor octa-core ini menghadirkan satu core Cortex-A77 berkecepatan 2.4GHz, tiga core Cortex-A77 2.189GHz, dan empat core Cortex-A55 1.84GHz. Tidak ketinggalan, GPU Mali-G610 turut melengkapi untuk menangani beban grafis. Konfigurasi ini menunjukkan bahwa Huawei serius menghadirkan performa solid tanpa mengorbankan efisiensi daya.

Yang membuat Nova Flip S semakin menarik adalah posisinya sebagai ponsel lipat termurah Huawei sejauh ini. Dengan harga mulai 3.488 Yuan (sekitar $490 atau setara Rp 7,8 juta), ponsel ini berpotensi membuka pasar foldable ke segmen yang lebih luas. Bagi Anda yang penasaran dengan varian sebelumnya, spesifikasi lengkap Huawei Nova Flip bisa menjadi perbandingan menarik.

Desain yang Disempurnakan dengan Sentuhan Warna Baru

Meski mengusung chipset yang sama dengan pendahulunya, Huawei tidak serta merta hanya melakukan rebranding. Nova Flip S mempertahankan DNA desain eksterior Nova Flip original, namun menghadirkan nuansa segar melalui pilihan warna baru. Dua varian warna yang ditawarkan – Celadon Blue dan Feather Sand Black – memberikan opsi personalisasi yang lebih berkarakter.

Layar luar berukuran 2,14 inci dengan aspect ratio 1:1 tetap dipertahankan, namun pengalaman software-nya yang ditingkatkan. Widget, animated pets, dan fungsi komunikasi cepat menjadi fitur andalan yang membuat interaksi dengan ponsel dalam keadaan tertutup menjadi lebih menyenangkan dan efisien.

Huawei Nova Flip S

Ketika dibuka, pengguna disuguhkan dengan layar OLED 6,94 inci beresolusi 2690×1136. Teknologi LTPO dengan adaptive refresh rate 1–120Hz memastikan pengalaman visual yang smooth sekaligus efisien dalam konsumsi daya. Fitur ini sangat berguna saat Anda beralih dari membaca artikel statis ke menonton video berframe tinggi.

HarmonyOS 5.1 dan Daya Tahan Baterai

Software experience menjadi salah satu nilai jual Nova Flip S. Perangkat ini langsung menghadirkan HarmonyOS 5.1 out-of-the-box, menawarkan integrasi software yang lebih refined. Bagi pengguna setia Huawei, ini adalah kabar gembira karena ecosystem HarmonyOS terus berkembang dengan fitur-fitur yang semakin matang.

Daya tahan baterai juga tidak ketinggalan diperhatikan. Kapasitas 4.400mAh dipadukan dengan fast charging 66W memastikan ponsel tetap aktif sepanjang hari dengan waktu pengisian yang singkat. Kombinasi ini sangat ideal untuk gaya hidup mobile yang menuntut perangkat selalu siap pakai.

Sistem kamera Nova Flip S mengusung konfigurasi dual camera: lensa utama 50MP didukung lensa sekunder 8MP. Untuk ukuran ponsel lipat kompak, kemampuan fotografi ini cukup menjanjikan, terutama untuk dokumentasi sehari-hari. Jika Anda tertarik dengan perkembangan chipset Kirin terbaru, Bocoran Huawei Mate 80 Pro+ dengan Chipset Kirin 9030 patut disimak.

Sayangnya, untuk saat ini Nova Flip S hanya tersedia di pasar China. Belum ada kepastian kapan ponsel ini akan meluncur secara global. Namun, mengingat antusiasme terhadap Huawei Nova Flip yang sebelumnya juga dikabarkan menggunakan Kirin 9000, tidak menutup kemungkinan Huawei akan mempertimbangkan ekspansi pasar jika respons konsumen positif.

Dengan segala keunggulan dan harga yang terjangkau, Huawei Nova Flip S berpotensi menjadi game changer di segmen ponsel lipat entry-level. Perpaduan antara performa Kirin 8000, desain yang disempurnakan, dan software experience yang matang menjadikannya pilihan menarik bagi mereka yang ingin merasakan pengalaman foldable tanpa merogoh kocek terlalu dalam.

Anbernic RG DS Resmi Preorder: Handheld Dual-Screen dengan Harga Menjanjikan

0

Telset.id – Bayangkan sebuah handheld gaming dengan dua layar yang mampu menghidupkan nostalgia era Nintendo DS, namun dengan harga yang tak sampai menyentuh angka $100. Itulah yang ditawarkan Anbernic melalui RG DS, perangkat yang baru saja membuka pintu preorder setelah sebelumnya hanya sekadar teaser menggiurkan.

Dalam dunia handheld gaming yang semakin kompetitif, kehadiran RG DS seperti angin segar. Anbernic berhasil menepati janjinya tentang harga terjangkau, menawarkan perangkat ini seharga $93.99 selama masa preorder. Sebuah posisi harga yang strategis, mengingat pasar sedang dipenuhi oleh perangkat seperti Ayaneo Pocket Air Mini yang menawarkan konsep serupa dengan pendekatan berbeda.

Namun, seperti biasanya dalam industri gadget, selalu ada trade-off. Meski harga preorder terlihat menggoda, Anbernic ternyata mengorbankan salah satu warna andalan yang sempat diumbar saat reveal pertama. Warna transparent white yang sempat membuat gamer berdecak kagum ternyata tak tersedia di halaman preorder. Pilihan yang tersedia hanya tiga varian: black & crimson red, turquoise blue, dan polar white.

Anbernic RG DS handheld gaming dual-screen dengan tiga pilihan warna

Spesifikasi Teknis: Kekuatan dan Keterbatasan

Dibalik desain yang mengingatkan pada era keemasan Nintendo DS, RG DS ditenagai chip RK3566. Sebuah pilihan yang cukup masuk akal untuk emulasi Nintendo DS, namun mungkin akan tersendat ketika berhadapan dengan game-game 3DS yang lebih berat. Anbernic sendiri cukup berani menunjukkan demo gameplay yang menampilkan RG DS menjalankan game seperti Shovel Knight, Harvest Moon: The Tale of Two Towns, dan Rune Factory 4.

Yang membedakan RG DS dari kompetitor adalah dual display 4-inch IPS dengan resolusi 640 x 480 yang mendukung input touch dan capacitive stylus. Fitur ini memberikan pengalaman yang lebih autentik bagi para penggemar game-game DS original. Belum lagi adanya six-axis gyroscope dan tombol khusus untuk berpindah fokus antar layar yang menunjukkan perhatian Anbernic terhadap detail pengalaman pengguna.

Posisi di Pasar Handheld Gaming

Kehadiran RG DS di harga bawah $100 ini menempatkannya dalam posisi yang menarik. Di satu sisi, ia bersaing dengan Ayaneo yang baru saja merambah pasar smartphone gaming, sementara di sisi lain harus berhadapan dengan raksasa seperti Nintendo. Namun dengan Android 14 sebagai OS dan baterai 4,000mAh yang menjanjikan waktu pakai hingga 6 jam, RG DS memiliki nilai jual yang cukup kuat untuk segmen entry-level.

Pertanyaannya sekarang: apakah chip RK3566 dan spesifikasi yang ditawarkan cukup untuk memuaskan hasrat gaming retro community? Ataukah ini sekadar perangkat yang mengandalkan nostalgia semata? Jawabannya mungkin terletak pada ekspektasi masing-masing gamer. Bagi yang mencari pengalaman DS/3DS yang autentik dengan budget terbatas, RG DS layak dipertimbangkan. Namun untuk yang menginginkan performa lebih tinggi, mungkin perlu melihat opsi seperti ROG Xbox Ally X meski dengan harga yang tentu lebih premium.

Anbernic mengklaim akan mulai mengirimkan unit preorder sebelum 15 Desember mendatang. Sebuah timeline yang cukup cepat, mengingat baru bulan lalu perangkat ini masih dalam tahap teaser. Keputusan Anbernic untuk langsung membuka preorder menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi terhadap produk ini, meski dengan beberapa kompromi di spesifikasi dan pilihan warna.

Dalam landscape handheld gaming yang semakin ramai, RG DS hadir dengan proposition yang jelas: nostalgia gaming dual-screen dengan harga terjangkau. Meski bukan perangkat paling powerful di kelasnya, kehadirannya memperkaya pilihan bagi gamer yang mencari alternatif di luar mainstream. Dan di era dimana perusahaan teknologi besar seperti Samsung pun harus berstrategi dengan produksinya, keputusan Anbernic untuk fokus pada niche market mungkin justru menjadi langkah yang cerdas.

Apple Dengarkan Keluhan, iOS 26.1 Hadirkan Toggle Kurangi Efek Liquid Glass

0

Telset.id – Apakah Anda termasuk pengguna iOS yang merasa terganggu dengan efek Liquid Glass yang diperkenalkan Apple di WWDC 2025? Kabar baik datang dari Bloomberg, karena Apple dikabarkan sedang menyiapkan kompromi melalui update iOS 26.1 yang akan datang. Menurut bocoran terbaru, toggle untuk mengurangi efek visual kontroversial ini akan segera hadir di genggaman Anda.

Liquid Glass, yang diumumkan dengan gegap gempita sebagai revolusi visual terbaru Apple, ternyata menuai kritik pedas dari pengguna setia. Bukan tanpa alasan—efek transparansi yang seharusnya mempercantik tampilan justru dinilai mengganggu keterbacaan teks dan menimbulkan lag yang cukup mengesalkan. Bayangkan ketika Anda sedang terburu-buru membuka pesan penting atau mengecek notifikasi, namun harus berhadapan dengan animasi yang justru memperlambat responsivitas perangkat.

Mark Gurman, jurnalis Bloomberg yang dikenal akurat dengan prediksi Apple-nya, mengungkapkan bahwa iOS 26.1 sedang dalam persiapan final. Update ini dikabarkan akan membawa toggle ajaib yang memungkinkan pengguna mengatur intensitas efek Liquid Glass sesuai preferensi. Sebuah langkah yang patut diapresiasi, mengingat Apple selama ini dikenal cukup “keras kepala” dalam mempertahankan desain visioner mereka meski menghadapi kritik pengguna.

Timeline rilis yang diungkap Gurman cukup menarik perhatian. iOS 26.1 disebutkan akan mulai didistribusikan kepada pengguna mulai hari Senin mendatang, sementara beta pertama iOS 26.2 untuk developer akan menyusul sehari setelahnya. Pola update yang konsisten ini menunjukkan komitmen Apple dalam menjaga ritme perkembangan sistem operasi mereka, meski harus berhadapan dengan feedback negatif dari komunitas.

Yang menarik, ini bukan pertama kalinya Apple merespon keluhan pengguna tentang Liquid Glass. Sebelumnya, pada beta keempat iOS 26.1, Apple sudah memperkenalkan opsi pengaturan tinted untuk desain transparan mereka. Namun tampaknya, langkah tersebut belum cukup memuaskan para kritikus. Kini dengan kehadiran toggle khusus, harapannya pengguna bisa memiliki kendali penuh atas pengalaman visual mereka.

Ilustrasi antarmuka iOS dengan efek Liquid Glass dan toggle pengaturan

Lebih dari Sekadar Toggle: Komitmen Apple terhadap Stabilitas

Meski toggle Liquid Glass menjadi perhatian utama, Gurman menegaskan bahwa iOS 26.1 membawa lebih dari sekadar penyesuaian visual. “Update terbaru ini akan lebih reliable, dengan bug yang lebih sedikit,” ujarnya. Pernyataan ini penting, mengingat pengalaman pengguna tidak hanya tentang estetika, tetapi juga tentang konsistensi performa.

Bagi Anda yang sering mengalami crash aplikasi atau bug aneh setelah update besar, kabar ini tentu menyegarkan. Apple tampaknya belajar dari pengalaman update-update sebelumnya, di mana fitur baru seringkali dibayangi masalah stabilitas. Dengan fokus pada perbaikan bug dan peningkatan keandalan, iOS 26.1 berpotensi menjadi update yang benar-benar dirindukan.

Selain toggle Liquid Glass dan perbaikan stabilitas, update ini juga akan menghadirkan icon Apple TV yang diperbarui. Meski terdengar sepele, perubahan kecil semacam ini seringkali mencerminkan perhatian Apple terhadap detail—sebuah filosofi yang membuat produk mereka begitu disukai. Seperti yang kita lihat dalam review Poco X3 GT, perhatian terhadap detail antarmuka bisa menjadi pembeda utama dalam pengalaman pengguna.

Masa Depan Ecosystem Apple: Pola Update yang Terprediksi

Melihat ke depan, Gurman memprediksi Apple akan mempertahankan pola update yang sama seperti biasanya. Artinya, kita bisa mengharapkan macOS 26.1 dan beta pertama watchOS 26.2 akan menyusul tidak lama setelah rilis iOS 26.1. Konsistensi ini penting untuk menjaga sinkronisasi antar perangkat dalam ecosystem Apple.

Bagi Anda yang memiliki multiple Apple devices, sinkronisasi yang mulus antara iPhone, Mac, dan Apple Watch tentu menjadi prioritas. Pola update yang terprediksi memungkinkan pengguna mempersiapkan diri dan memastikan semua perangkat mereka tetap kompatibel. Ini menjadi nilai tambah yang sulit ditandingi kompetitor, seperti yang juga kita lihat dalam integrasi fitur-fitur WhatsApp Web yang terus ditingkatkan.

Respons Apple terhadap kritik Liquid Glass ini patut diapresiasi. Di era di mana perusahaan teknologi seringkali bersikap arogan dengan visi mereka, kemauan Apple untuk mendengarkan dan berkompromi dengan pengguna menunjukkan kedewasaan yang langka. Toggle yang akan hadir di iOS 26.1 bukan sekadar fitur tambahan—ini adalah simbol bahwa suara pengguna masih berarti dalam perkembangan teknologi.

Jadi, bersiaplah menyambut iOS 26.1 yang akan datang. Dengan toggle Liquid Glass, perbaikan stabilitas, dan berbagai penyempurnaan kecil lainnya, update ini berjanji memberikan pengalaman yang lebih personal dan andal. Setelah periode penantian dan kritik, akhirnya Apple membuktikan bahwa mereka masih peduli dengan apa yang diinginkan pengguna setia mereka.

Lenovo AI Glasses V1 Resmi Rilis di China, Harga Rp 8 Jutaan

0

Telset.id – Bayangkan kacamata yang tidak hanya membantu penglihatan Anda, tetapi juga menjadi asisten pribadi, penerjemah, dan bahkan teleprompter. Itulah yang ditawarkan Lenovo dengan peluncuran AI Glasses V1 di China dengan harga 3.999 yuan atau setara Rp 8 jutaan. Produk ini akan tersedia untuk pembelian di JD.com mulai 9 November mendatang.

Lenovo tampaknya serius mengeksplorasi masa depan teknologi wearable. Setelah sukses dengan berbagai produk gaming melalui seri Legion, kini perusahaan teknologi asal China ini meluncurkan kacamata pintar yang mengusung konsep lightweight comfort dan fungsi berbasis AI. Targetnya jelas: pengguna yang menginginkan fitur cerdas dalam bentuk wearable yang nyaman dipakai sehari-hari.

Bagi Anda yang penasaran dengan spesifikasinya, Lenovo AI Glasses V1 memiliki bobot yang sangat ringan, hanya 38 gram. Mereka menggunakan resin diffraction light waveguide display yang mampu mencapai puncak kecerahan hingga 2000 nits. Lensa dengan ketebalan 1,8mm ini dilengkapi dengan eye box range 15×11mm yang menjaga konsistensi visual meski pengguna sedikit bergerak.

Lenovo AI Glasses V1

Desain ergonomis menjadi perhatian utama Lenovo. Klaim perusahaan, desain ini mengurangi tekanan pada hidung dan telinga, membuat kacamata cocok untuk penggunaan harian yang panjang. Bagi Anda yang sering melakukan panggilan hands-free, perangkat ini sudah dilengkapi dengan setup dual-microphone dan dual-speaker untuk audio stereo yang jernih.

Kecerdasan Buatan di Balik Lensa

Yang membuat produk ini istimewa adalah integrasi asisten pintar Tianxi dari Lenovo. Asisten ini mendukung perintah berbasis suara, terjemahan real-time, dan pencarian informasi. Fitur terjemahan memungkinkan komunikasi bilingual baik suara maupun teks langsung dalam bidang pandang pengguna, berfungsi layaknya interpreter visual.

Fitur lain yang tak kalah menarik adalah built-in teleprompter mode yang dirancang khusus untuk content creator dan public speaker. Ketika dipasangkan dengan aksesori smart ring dari perusahaan, pengguna dapat menggulir naskah atau mengontrol slide tanpa perlu memalingkan pandangan dari audiens. Panel kontrol sentuh pada gagang kacamata memungkinkan pengelolaan panggilan, pesan, dan konten di layar dengan mudah.

Lenovo juga menyematkan sistem navigasi AI yang memberikan panduan visual dan audio real-time, meski saat ini hanya berfungsi dengan smartphone Android. Perangkat ini mendukung kedua mode display monocular dan binocular, memberikan fleksibilitas penggunaan sesuai kebutuhan.

Lenovo AI Glasses V1

Daya Tahan Baterai dan Konektivitas

Soal baterai, kacamata ini menawarkan performa yang cukup variatif tergantung mode penggunaan. Dalam mode teleprompter, daya tahan mencapai 4 jam, sementara mode terjemahan bisa bertahan 8 hingga 10 jam. Untuk pemutaran dengan kecerahan dan volume maksimal, baterai mampu bertahan sekitar 2,6 jam.

Lenovo menyertakan fitur fast charging yang hanya membutuhkan sekitar 40 menit untuk pengisian penuh. Standby time yang ditawarkan cukup mengesankan, mencapai 250 jam. Konektivitas ditangani oleh Bluetooth 5.4 yang memastikan koneksi stabil dan efisien.

Peluncuran AI Glasses V1 ini sejalan dengan strategi Lenovo dalam membangun ekosistem perangkat yang terintegrasi. Seperti yang pernah kita lihat dalam upaya Lenovo Legion membangun ekosistem gaming masa depan dengan perangkat terintegrasi, kini mereka memperluas visi tersebut ke kategori wearable AI.

Posisi di Pasar dan Masa Depan

Dengan harga Rp 8 jutaan, Lenovo menempatkan AI Glasses V1 di segmen premium. Namun, jika dibandingkan dengan teknologi serupa di pasaran, harga ini cukup kompetitif mengingat fitur-fitur canggih yang ditawarkan. Terutama untuk profesional yang membutuhkan alat bantu produktivitas dalam format yang praktis dan stylish.

Inovasi Lenovo dalam teknologi display memang patut diacungi jempol. Sebelumnya, kita sudah melihat monitor 3D canggih yang bisa dilihat dengan mata telanjang dari Lenovo. Kini, dengan AI Glasses V1, mereka membawa pengalaman visual yang imersif ke format yang lebih personal.

Bagi penggemar brand Lenovo, perkembangan produk ini tentu menarik untuk diikuti. Apalagi mengingat bocoran desain Lenovo Legion S yang baru-baru ini muncul menunjukkan komitmen perusahaan dalam berinovasi di berbagai segmen produk.

Pertanyaan yang muncul sekarang adalah: akankah Lenovo membawa AI Glasses V1 ke pasar global, termasuk Indonesia? Mengingat kesuksesan mereka dalam menghadirkan ekosistem gaming terbaru di Indonesia dengan seabrek produk gaming, peluang untuk meluncurkan produk inovatif seperti ini di pasar Indonesia cukup besar.

AI Glasses V1 bukan sekadar kacamata pintar biasa. Ini adalah perwujudan bagaimana teknologi AI dan wearable computing dapat bersatu menciptakan pengalaman pengguna yang benar-benar baru. Dengan kombinasi fitur penerjemah real-time, teleprompter, dan navigasi AI, Lenovo mungkin telah menemukan formula yang tepat untuk produk wearable masa depan.

Bagaimana pendapat Anda? Apakah kacamata pintar seperti ini akan menjadi tren berikutnya dalam teknologi wearable, atau masih terlalu niche untuk pasar mainstream? Satu hal yang pasti: Lenovo terus membuktikan bahwa inovasi tidak pernah berhenti, dari laptop gaming hingga kacamata AI yang mengubah cara kita berinteraksi dengan teknologi sehari-hari.

Elon Musk Bocorkan Mobil Terbang Tesla Sebelum Akhir Tahun

0

Telset.id – Bayangkan Anda sedang menyetir di jalanan macet, lalu tiba-tiba mobil Anda lepas landas dan terbang melayang di atas kemacetan. Itulah visi futuristik yang kembali dihembuskan Elon Musk dalam wawancara eksklusif dengan Joe Rogan. CEO Tesla ini mengklaim sedang mempersiapkan demonstrasi “tak terlupakan” untuk kendaraan terbang yang mungkin akan diumumkan sebelum akhir tahun.

Dalam podcast The Joe Rogan Experience yang ramai diperbincangkan, Musk secara mengejutkan mengalihkan pembicaraan dari Tesla Roadster generasi kedua yang tertunda produksinya ke konsep kendaraan terbang yang lebih ambisius. Alih-alih memberikan update jelas tentang Roadster yang sejak 2017 terus tertunda, Musk justru memilih berbicara tentang teknologi “gila-gilaan” yang sedang dikembangkan timnya.

“Teman saya Peter Thiel pernah berkomentar bahwa masa depan seharusnya sudah memiliki mobil terbang, tapi kita belum memilikinya. Saya pikir jika Peter menginginkan mobil terbang, kita seharusnya bisa membelinya,” ujar Musk dengan senyum khasnya, seperti dikutip dari wawancara tersebut. Pernyataan ini langsung memicu spekulasi luas di kalangan penggemar teknologi dan otomotif.

Elon Musk dalam wawancara dengan Joe Rogan membahas mobil terbang Tesla

Yang menarik, Musk dengan sengaja tidak mau membocorkan detail teknis spesifik. Ketika Rogan bertanya apakah kendaraan ini memiliki sayap yang bisa ditarik atau menggunakan teknologi VTOL (Vertical Take-off and Landing), CEO Tesla itu hanya tersenyum dan menghindari jawaban langsung. Ia lebih memilih menggambarkannya sebagai sesuatu yang “terlihat seperti mobil” namun mengandung teknologi yang menurutnya “sangat, sangat gila”.

Bagi yang mengikuti perkembangan industri mobil terbang, kabar ini datang di saat yang tepat. Beberapa negara sudah mulai serius menguji coba teknologi transportasi masa depan ini. Jepang baru saja melakukan uji penerbangan pertama mobil terbang berawak, sementara Ibu Kota Nusantara dikabarkan akan menjadikan mobil terbang sebagai moda transportasi andalan.

Sejarah Panjang Visi Musk tentang Kendaraan Terbang

Ini bukan pertama kalinya Musk berbicara tentang kendaraan terbang. Sejak 2014, founder Tesla dan SpaceX ini sudah beberapa kali menyebut minatnya mengembangkan teknologi transportasi udara. Namun yang membedakan kali ini adalah waktu pengumuman yang relatif dekat – “sebelum akhir tahun” – dan kesan bahwa ini sudah dalam tahap prototipe yang siap didemonstrasikan.

Tapi mari kita jujur: track record Musk dalam hal tenggat waktu memang patut dipertanyakan. Roadster yang diumumkan 2017 dan rencananya mulai produksi 2020 hingga kini masih menjadi misteri. Bahkan Sam Altman, CEO OpenAI, mengeluh kesulitan mendapatkan refund deposit $50,000 yang ia bayarkan sejak 2018 untuk memesan Roadster tersebut.

SpaceX Falcon Heavy adalah contoh lain – peluncuran pertamanya terjadi lima tahun lebih lambat dari prediksi Musk. Pola ini membuat banyak analis bersikap skeptis terhadap janji “sebelum akhir tahun” untuk demonstrasi mobil terbang Tesla.

Realitas Industri Mobil Terbang Global

Sementara Musk masih dalam tahap wacana, beberapa perusahaan lain sudah lebih konkret dalam pengembangan mobil terbang. Jepang secara aktif melakukan uji coba penerbangan dengan berbagai prototipe, sementara perusahaan seperti Jetson One sudah menawarkan produk yang bisa dipesan konsumen.

Pertanyaannya: apa yang membuat mobil terbang Tesla berbeda? Musk menyebut “teknologi gila-gilaan” yang mungkin mengacu pada sistem propulsi, baterai, atau kontrol penerbangan yang revolusioner. Mengingat pengalaman Tesla dalam teknologi baterai dan sistem otonom, bukan tidak mungkin mereka memiliki pendekatan unik dalam menciptakan kendaraan terbang yang praktis untuk penggunaan sehari-hari.

Yang pasti, jika Tesla benar-benar bisa mewujudkan mobil terbang yang aman, terjangkau, dan mudah dioperasikan, ini akan menjadi game changer dalam dunia transportasi. Bayangkan perjalanan dari Jakarta ke Bandung yang biasanya memakan waktu 3-4 jam bisa ditempuh dalam 30 menit melalui udara.

Tapi tantangannya tidak kecil. Regulasi penerbangan, keamanan, infrastruktur, dan tentu saja harga menjadi hambatan utama yang harus diatasi. Mobil terbang Jetson One saja dibanderol sekitar $92,000 – masih terlalu mahal untuk konsumen rata-rata.

Jadi, apakah kita harus percaya dengan bocoran Musk kali ini? Sejarah mengatakan untuk tidak terlalu berharap tinggi. Tapi jika ada yang bisa mengubah aturan permainan, mungkin saja Musk dan tim Tesla-lah orangnya. Kita tunggu saja “demonstrasi tak terlupakan” yang dijanjikan sebelum tutup tahun – atau mungkin tahun depan, atau tahun depannya lagi. Dalam dunia Elon Musk, waktu adalah konsep yang relatif.

Kreator Facebook Vs Meta: Perang Kecil di Pengadilan Khusus

0

Telset.id – Bayangkan Anda telah membangun bisnis yang menghasilkan puluhan ribu dolar per bulan, tiba-tiba semuanya lenyap karena sebuah notifikasi otomatis yang tak bisa Anda lawan. Inilah realitas pahit yang dihadapi para kreator konten viral Facebook, yang kini memilih jalur tak biasa: menggugat raksasa teknologi Meta di pengadilan klaim kecil.

Selama bertahun-tahun, Meta dengan sengaja membangun ekosistem konten viral di Facebook. Mereka mengubah umpan utama menjadi “mesin penemuan” yang membanjiri pengguna dengan rekomendasi dari halaman acak. Para kreator pun menyambutnya dengan menyuplai konten yang dirancang khusus untuk algoritma—mulai dari meme, video hewan, hingga konten yang dihasilkan AI. Sukses berarti puluhan ribu dolar per bulan dari bonus performa dan program monetisasi lainnya. Namun, dalam setahun terakhir, hubungan simbiosis ini retak. Meta mulai menghukum kreator untuk konten yang sama yang dulu mereka ganjar, sementara sistem pembayaran mereka mengalami gangguan yang membuat pendapatan kreator tertahan.

Di garis depan pertempuran ini berdiri Mel Bouzad, mantan fotojurnalis Getty Images yang selama delapan tahun terakhir menghidupi dirinya dengan menjalankan halaman Facebook populer seperti “The Meme Bros” dan “FunkiestShitEver”. Ia adalah ahli dalam membaca algoritma Facebook. “Ini pada dasarnya melompat pada tren saat sedang terjadi,” jelasnya tentang strateginya. “Jika Anda bisa melompat pada topik tren di awal, Anda mendapatkan momentum, itu memicu algoritma, dan membuat konten Anda viral.”

Bouzad memperkirakan pada puncaknya, halaman-halamannya secara kolektif menghasilkan antara $10.000 hingga $20.000 per bulan—terutama dari bonus performa dan iklan video in-stream. Dokumen yang dilihat Engadget menunjukkan bahwa pada September lalu, 12 halamannya menghasilkan lebih dari $68.000 dalam bonus performa. Namun, tahun lalu, lima halaman meme dan travel-nya tiba-tiba didemonetisasi. Mereka menerima “pelanggaran kebijakan monetisasi”—istilah samar yang bisa mencakup banyak dugaan pelanggaran. Setelah diselidiki, ia menemukan halamannya ditandai karena allegedly beroperasi di negara yang tidak memenuhi syarat untuk program monetisasi Meta, padahal ia tinggal di Amerika Serikat.

Contoh postingan terbaru dari salah satu halaman bertema travel Bouzad di Facebook.

Seperti banyak kreator lainnya, Bouzad menemukan bahwa mendapatkan bantuan dari Meta jauh dari mudah. “Meskipun 20+ tiket dukungan dan menggunakan dukungan berbayar, saya hanya menerima balasan otomatis,” tulisnya dalam pengajuan pertama ke pengadilan klaim kecil November lalu. Keputusannya untuk menempuh jalur hukum lahir dari frustrasi. Ia menggugat Meta untuk satu halaman, “Man Cave USA”, dengan nilai $2.498 yang ditahan, plus biaya pengadilan. Taktiknya berhasil. Tiga minggu kemudian, ia mendapat telepon dari firma hukum yang mewakili Meta, dan akhirnya kemampuan halamannya untuk menghasilkan uang dipulihkan.

Namun, masalahnya tidak berhenti di situ. Saat masih dalam mediasi untuk “Man Cave USA”, perwakilan hukum Meta mengatakan mereka tidak akan membantu halaman lain kecuali terkait dengan gugatan. Ini memicu Bouzad untuk membuka enam kasus pengadilan klaim kecil baru pada Februari, dengan total klaim lebih dari $40.000 dari akun-akun yang salah ditandai. Yang membuatnya semakin frustrasi adalah informasi yang ia terima melalui saluran dukungan resmi Meta seringkali membingungkan dan bertentangan. Dalam satu email, dukungan Meta memberitahunya ia ditandai karena “originalitas konten terbatas”, tanpa penjelasan. Ia juga kembali menerima notifikasi bahwa ia berada di negara “tidak memenuhi syarat”.

Obrolan dengan dukungan Meta Verified di mana Bouzad diberi tahu akunnya didemonetisasi karena banknya berbasis di Malta. Bouzad mengatakan ia hanya pernah bank dengan Wells Fargo.

Dalam dua obrolan terpisah dengan Meta Verified—layanan langganan berbayar untuk dukungan pelanggan—ia diinformasikan bahwa ia tidak memenuhi syarat karena halamannya terhubung ke rekening bank di Malta. Perwakilan kemudian menutup obrolan tanpa memberinya kesempatan merespons. “Satu, saya tidak pernah ke Malta, dua, bank saya Wells Fargo dan tiga, saya tinggal di Oregon,” katanya. Bouzad melihat masalahnya sebagai bagian dari pola yang lebih luas dari Meta. Perusahaan menjadi terlalu bergantung pada kecerdasan buatan untuk moderasi konten, yang menghasilkan terlalu banyak kesalahan, sementara layanan pelanggan yang ada sebagian besar dialihdayakan dan tidak mampu menangani masalah kompleks yang dihadapi kreator.

Kisah Bouzad bukanlah insiden terisolasi. Beberapa kreator yang ia sebutkan dalam gugatannya mengklaim kehilangan puluhan ribu dolar pembayaran karena yang mereka sebut sebagai gangguan dalam proses Meta. Seorang kreator bernama Brent, yang menjalankan halaman Facebook bertema video AI sejarah, mengalami masalah saat Meta memintanya memverifikasi identitas untuk terus menerima pembayaran. Akunnya memiliki lebih dari $11.000 pendapatan yang belum dibayar pada saat itu. Beberapa bulan kemudian, Brent masih belum dapat menyelesaikan langkah yang tampaknya sederhana ini, meski berulang kali memberikan salinan identitasnya kepada Meta. Masalahnya berasal dari Meta yang salah mengklasifikasikan akun pembayarannya sebagai “korporasi swasta” alih-alih “akun pribadi”.

Kreator lain terjebak setelah mengalami masalah serupa yang mencegahnya mengonfirmasi informasi pajak yang terkait dengan akun pembayarannya di Facebook. “Penghasilan pembayaran saya terkunci karena detail yang tidak dapat diedit ‘dikelabui’ ketika harus memasukkan informasi pajak dan bidang lainnya,” jelas kreator tersebut. Setelah sekitar satu tahun mencoba mendapatkan dukungan, Meta akhirnya memberikan formulir kuno untuk mentransfer akun pembayaran ke yang baru. Namun, setelah mengisi formulir transfer, Meta menginformasikan bahwa lebih dari $16.000 penghasilan yang belum dibayar dari halamannya tidak dapat ditransfer ke akun baru. Kreator ini, yang telah menghabiskan lebih dari satu dekade menjalankan halaman bertema musik yang mendukung artis independen di platform, juga sedang memerangi kanker stadium 4. Dana yang hilang telah mengganggu pengobatannya dan menambah stres yang sudah dihadapinya.

Media sosial dipenuhi dengan keluhan tentang ketidakefektifan alat dukungan Facebook, termasuk Meta Verified. Daniel Abas, presiden dan pendiri Creators Guild of America, mengatakan bahwa demonetisasi adalah “masalah kronis” yang mempengaruhi kreator di banyak platform, termasuk Meta. “Yang sangat sulit adalah tidak memiliki konsistensi dalam hal penegakan dan memiliki kebijakan yang buram, memiliki proses banding yang tidak konsisten,” katanya. Abas menekankan bahwa kreator, terutama yang berpenghasilan tinggi, harus memiliki lebih banyak sumber daya untuk mendapatkan dukungan dari perusahaan seperti Meta.

Meta tampaknya telah mengubah beberapa standar yang mereka miliki untuk kreator di Facebook selama setahun terakhir. Perusahaan dalam beberapa bulan terakhir mulai menindak kreator yang membagikan konten spam dan “berkualitas rendah”, meski hanya menggambarkan beberapa contoh spesifik aktivitas tersebut, seperti halaman yang membagikan postingan dengan “keterangan yang panjang dan mengganggu”. Perusahaan tidak melarang kreator memonetisasi konten yang dihasilkan AI. Bahkan, Mark Zuckerberg baru-baru ini mengatakan bahwa Meta berencana menambahkan “korpus besar” konten AI ke sistemnya.

Bouzad mengatakan bahwa Facebook secara konsisten menghadiahi postingannya dengan jangkauan yang lebih tinggi sebelum menuduhnya memanipulasi tampilan.

Dalam komunikasi dengan Bouzad, Meta memberikan penjelasan yang saling bertentangan. Dalam email dengan dukungan Meta Verified, seorang perwakilan layanan pelanggan memberitahunya pelanggaran baru-baru ini untuk salah satu halaman travel-nya adalah karena “Originalitas Konten Terbatas”, tanpa menunjuk ke postingan spesifik. Namun, selama mediasi, tim hukum Meta mengklaim halaman yang sama telah menghasilkan tampilan melalui “keterlibatan tidak otentik”. Bouzad membantah. “Ini bukan manipulasi — ini eksposur berbasis performa … kami dihukum untuk perilaku yang sangat sistem ganjar,” tulisnya dalam email kepada tim hukum Meta. Meta tidak menjelaskan tuduhan keterlibatan tidak otentik dalam dokumen yang dilihat Engadget, tetapi perusahaan menawarkan $5.000 — sebagian kecil dari yang ia klaim berutang — untuk menyelesaikan kasus meski tetap pada keputusannya untuk mendemonetisasi halamannya. Bouzad menolak.

Setelah mengajukan batch kedua kasus pengadilan klaim kecil pada Februari, Bouzad mulai menjangkau jaringan dan mengajukan lebih banyak kasus. Ia bukan pengacara dan tidak memiliki pelatihan hukum; ia mengandalkan ChatGPT dan Gemini untuk memandu strategi hukumnya. Banyak dari strategi itu bergantung pada menunjukkan bahwa kreator lain telah mengizinkannya menggugat atas nama mereka melalui proses yang dikenal sebagai penugasan klaim. Ia mengajukan 25 kasus seperti itu pada 2025. Menjadi penerima tugas hukum adalah langkah yang tidak biasa untuk pengadilan klaim kecil. Beberapa pakar hukum yang dihubungi Engadget mengatakan mereka belum pernah mendengar ada yang melakukannya.

Meta, di sisi lain, berargumen bahwa syarat layanannya dengan jelas melarang pengguna mentransfer hak mereka kepada pihak lain tanpa persetujuannya. “Berdasarkan Klausul Tidak Dapat Dialihkan, Pengadilan ini seharusnya tidak mengizinkan Tn. Bouzad terus merekrut pengguna Facebook dari seluruh dunia dan membanjiri dakwaannya dengan kasus di mana ia mengklaim kedudukan berdasarkan penugasan yang tidak valid,” tulis manajer proyek Meta dalam surat kepada hakim. Selama persidangan, Hakim Marion County Circuit Court Lindsay Partridge, yang memimpin kasus pengadilan klaim kecil Bouzad, mengatakan ia “khawatir” bahwa “yang saya miliki pada dasarnya adalah masalah hukum yang sangat teknis yang disajikan oleh dua orang bukan pengacara.”

Kelompok yang dibantu Bouzad terutama terdiri dari kolega, teman, dan kenalan yang mendengar tentang kasus pengadilan klaim kecilnya. Meski beberapa individu adalah orang yang pernah bermitra dengannya di masa lalu, ia mengatakan tidak memiliki kepentingan finansial dalam kesuksesan halaman mereka. “Ini kekuatan dalam jumlah, kami merasa semakin banyak orang, semakin banyak kebisingan yang bisa kami buat, semakin baik peluang untuk menyelesaikan masalah,” kata Bouzad. Tapi ada juga pembayaran yang berpotensi menguntungkan baginya jika berhasil. Sebagai penerima tugas, ia memiliki hak tunggal untuk mengumpulkan putusan apa pun yang akhirnya keluar dari klaim kreator lain.

Salah satu kreator berbasis di Inggris yang telah menugaskan klaimnya kepada Bouzad menjalankan halaman Facebook bertema anjing yang menghasilkan lebih dari $60.000 dari iklan video in-stream selama periode satu bulan tahun lalu, menurut dokumen yang dilihat Engadget. Seperti Bouzad, halaman mereka terkena pelanggaran “MPV” yang tidak dijelaskan yang mempengaruhi jangkauan mereka. Kreator lain, yang meminta tidak disebutkan namanya karena takut pembalasan dari Meta, memintanya untuk melihat tiga halaman Facebook-nya, yang secara kolektif memiliki lebih dari 1,5 juta pengikut. Ketiganya telah didemonetisasi oleh Meta dan, seperti Bouzad, kreator tersebut menerima penjelasan yang bertentangan tentang alasannya.

Dari 32 kasus yang diajukan Bouzad, delapan diselesaikan setelah Meta menangani masalah yang mendasarinya. Sembilan kasus dibatalkan oleh Bouzad karena kreator memilih untuk menempuh tindakan hukum di negara bagian lain. Lima belas kasus, termasuk enam terkait halaman Bouzad sendiri, masih terbuka. Pada Juli, seorang hakim mengkonsolidasikan kasus Bouzad yang tersisa menjadi satu klaim, meskipun ada permohonan dari Bouzad untuk menjaga kasus tetap terpisah. Bouzad saat ini mencari lebih dari $115.000 dalam ganti rugi, $35.000 di antaranya dari halamannya sendiri, atas faktur yang belum dibayar, biaya pengajuan, dan pengeluaran lain terkait pertempuran berbulan-bulannya atas praktik monetisasi Facebook. Menurut Bouzad, jumlah sebenarnya yang terutang kepada dia dan kreator lainnya jauh lebih tinggi.

Untuk saat ini, klaim Bouzad tidak dapat dilanjutkan sampai hakim memutuskan apakah Bouzad dapat melanjutkan sebagai penerima tugas. Jika hakim memutuskan mendukungnya, ia akan dapat menyampaikan argumennya kepada hakim pengadilan circuit yang mengawasi kasus tersebut. Jika hakim memutuskan mendukung Meta, ia hanya dapat melanjutkan dengan klaim yang berkaitan dengan halaman Facebook-nya sendiri. Bouzad mengatakan ia siap untuk pertarungan. Ia telah dengan susah payah menyusun lebih dari 1.000 halaman dokumen pengadilan, tangkapan layar, dan kliping berita untuk kasusnya. Dalam pengajuannya, ia menuduh Meta melanggar kontrak atas pembayaran yang hilang.

Ia mengakui bahwa pertempuran hukumnya yang berbulan-bulan, dan pendapatannya yang berkurang, telah berdampak pada kehidupan pribadinya. “Melawan Facebook, ini tidak seperti Anda menggugat toko kelontong,” katanya. “Anda menggugat salah satu bisnis terbesar di dunia, dan itu menyebabkan banyak stres.” Tujuannya masih untuk mencabut pembatasan monetisasi dari halaman Facebook dan agar Meta melanjutkan pembayarannya kepada dia dan kreator lainnya. “Saya hanya ingin halaman diperbaiki dan uang yang terutang dibayar,” katanya. Ia memiliki ratusan video perjalanan yang disimpan dan siap diposting di halaman Facebook-nya jika dan ketika monetisasinya dipulihkan.

Pertarungan Bouzad melawan Meta bukan sekadar perselisihan tentang uang. Ini adalah cerita tentang bagaimana kekuatan platform digital yang semakin terkonsentrasi dapat meninggalkan mereka yang sebenarnya membangun nilai di platform tersebut—para kreator—tanpa perlindungan yang memadai. Ketika perusahaan teknologi terus mengandalkan algoritma dan otomatisasi, manusia di balik layar sering kali menjadi korban dari sistem yang tidak memahami nuansa konteks manusiawi. Perjuangan ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap konten viral, ada orang nyata dengan mata pencaharian yang bergantung pada keputusan yang seringkali tak terlihat dan tak terbantahkan dari raksasa teknologi.

SpaceX Dapat Kontrak $2 Miliar untuk Satelit Golden Dome AS

0

Telset.id – Bayangkan sebuah perisai raksasa di angkasa yang mampu mendeteksi dan menghancurkan rudal musuh sebelum sempat mencapai sasaran. Itulah visi ambisius yang sedang dirajut Pentagon, dan kabarnya, Elon Musk menjadi salah satu aktor utamanya. Bocoran terbaru dari Wall Street Journal mengindikasikan SpaceX akan menerima kontrak senilai $2 miliar untuk mengembangkan ratusan satelit pengintai canggih bagi proyek pertahanan “Golden Dome” pemerintahan Trump.

Dalam laporannya, WSJ mengungkap bahwa perusahaan antariksa milik Musk tersebut ditugaskan mengembangkan hingga 600 satelit yang mampu melacak pergerakan rudal dan pesawat terbang. Satelit-satelit mutakhir ini akan menjadi mata dan telinga sistem pertahanan rudal AS yang digadang-gadang sebagai revolusi dalam teknologi militer. Proyek ini bukan sekadar wacana – Presiden Trump secara resmi mengumumkannya pada Mei lalu sebagai bagian dari strategi pertahanan nasional yang lebih komprehensif.

Anda mungkin bertanya-tanya, mengapa SpaceX yang dipilih? Perusahaan ini bukan hanya pionir dalam teknologi roket reusable, tetapi juga memiliki pengalaman luas dalam membangun konstelasi satelit skala besar. Starlink, jaringan internet satelit mereka, telah meluncurkan lebih dari 8.000 satelit ke orbit – pengalaman yang tak ternilai untuk proyek sekompleks Golden Dome. Meski jumlah pasti satelit Starlink terus berfluktuasi, infrastruktur yang sudah terbukti ini menjadi nilai tambah signifikan bagi SpaceX.

Ilustrasi satelit SpaceX Starlink di orbit bumi dengan latar belakang planet biru

Golden Dome sendiri sering dibandingkan dengan sistem Iron Dome Israel yang legendaris. Namun, skalanya jauh lebih masif dan teknologinya lebih canggih. Sistem pertahanan rudal ini dirancang untuk mengintervensi serangan musuh sebelum mencapai target, mirip dengan sistem pertahanan rudal yang diuji kapal perang AS di Hawaii namun dengan cakupan global. Yang menarik, Pentagon masih merahasiakan detail teknis sistem ini, meninggalkan ruang untuk spekulasi tentang kemampuan sebenarnya.

Nilai kontrak $2 miliar untuk SpaceX mungkin hanya bagian kecil dari puzzle raksasa ini. Mengingat kompleksitas proyek Golden Dome, sangat mungkin kontrak serupa akan diberikan kepada perusahaan teknologi pertahanan lainnya. Laporan WSJ menyebut nama-nama seperti Anduril Industries dan Palantir Technologies sebagai calon mitra potensial lainnya. Timeline-nya pun cukup ketat – administrasi Trump ingin menyelesaikan proyek ini sebelum akhir masa jabatan presiden.

Yang patut dicermati, jaringan satelit SpaceX tidak hanya akan dimanfaatkan untuk Golden Dome. Menurut laporan yang sama, Pentagon berencana memanfaatkan infrastruktur satelit ekstensif SpaceX untuk keperluan militer lainnya, termasuk komunikasi militer dan pelacakan kendaraan. Ini menunjukkan betapa strategisnya kemitraan antara militer AS dengan perusahaan swasta di era baru peperangan modern.

Kemitraan SpaceX dengan pemerintah AS sebenarnya bukan hal baru. Seperti yang pernah kami laporkan dalam artikel tentang misi ke Bulan, NASA pun “pasrah” bekerja sama dengan perusahaan swasta seperti SpaceX dan Blue Origin untuk eksplorasi antariksa. Namun, kontrak senilai $2 miliar untuk proyek pertahanan ini menandai babak baru dalam hubungan pemerintah-swasta di sektor pertahanan.

Pertanyaannya sekarang: apakah teknologi ini akan digunakan secara bertanggung jawab? Mengingat komitmen Elon Musk dan koleganya untuk tidak mengembangkan senjata AI otonom, bagaimana dengan sistem pertahanan rudal semi-otonom seperti Golden Dome? Garis antara pertahanan dan ofensif semakin kabur dalam era teknologi mutakhir ini.

Dunia saat ini menyaksikan perlombaan senjata hipersonik yang semakin intens. Rudal hipersonik Dark Eagle yang mampu menyerang target 2.775 km dalam hitungan menit hanyalah salah satu contoh bagaimana teknologi militer berkembang dengan kecepatan luar biasa. Dalam konteks ini, Golden Dome bisa menjadi penyeimbang yang diperlukan – atau justru memicu perlombaan senjata angkasa yang lebih berbahaya.

Kontrak $2 miliar untuk SpaceX ini mungkin hanya awal dari cerita yang lebih besar. Dengan deadline yang ketat dan teknologi yang kompleks, semua mata tertuju pada bagaimana Musk dan timnya akan mewujudkan visi Golden Dome ini. Satu hal yang pasti: lanskap pertahanan global sedang berubah drastis, dan perusahaan swasta seperti SpaceX memainkan peran yang semakin sentral dalam menentukan masa depan keamanan nasional.

Bocoran Resmi: Galaxy S26 Rilis 25 Februari, Ultra Pakai Exynos 2600

0

Telset.id – Jika Anda menunggu kehadiran flagship Samsung berikutnya, bersiaplah untuk sedikit perubahan jadwal. Bocoran terbaru mengindikasikan bahwa Galaxy Unpacked untuk seri S26 akan digelar pada 25 Februari, sekitar satu bulan lebih lambat dari jadwal tradisional Samsung. Kabar ini datang tepat ketika rumor tentang penundaan rilis Galaxy S26 mulai bermunculan di berbagai forum teknologi.

Menurut laporan eksklusif dari media Korea yang dikutip oleh akun @Jukan di platform X, Samsung dikabarkan sedang mempersiapkan acara peluncuran yang sepenuhnya berfokus pada kecerdasan artifisial. Yang menarik, acara ini rencananya akan kembali diadakan di San Francisco setelah tiga tahun absen sejak peluncuran Galaxy S23 pada 2023. Sebuah sumber yang familiar dengan rencana Samsung menyatakan, “San Francisco telah muncul sebagai pusat teknologi AI, menjadikannya lokasi sempurna bagi Samsung—pelopor era smartphone AI—untuk menggelar acaranya.”

Perubahan jadwal ini bukan tanpa alasan. Tampaknya Samsung sedang melakukan penyesuaian strategi lineup yang cukup signifikan. Laporan sebelumnya sempat mengisyaratkan bahwa Galaxy S25 Edge akan menggantikan posisi S26 Plus, namun dengan penjualan Edge yang kurang menggembirakan, Samsung tampaknya memutuskan untuk membangkitkan kembali model Plus. Keputusan ini mengembalikan formasi tiga model yang sudah familiar: Galaxy S26, S26 Plus, dan S26 Ultra.

Samsung-Galaxy-S26-series-dummies

Yang membuat analisis ini semakin menarik adalah kabar tentang chipset yang akan menggerakkan seri flagship ini. Laporan tersebut mengklaim bahwa Galaxy S26 series akan ditenagai oleh chip Exynos 2600 Samsung—termasuk untuk model Ultra—untuk pertama kalinya sejak era Galaxy S22 series. Namun, Samsung tetap akan mempertahankan strategi chipset ganda, di mana beberapa pasar akan mendapatkan Snapdragon 8 Elite Gen 5 terbaru dari Qualcomm. Pembagian region berdasarkan ketersediaan chipset ini mengikuti pola yang sama yang telah digunakan Samsung pada generasi-generasi sebelumnya.

Pemilihan San Francisco sebagai lokasi Unpacked bukanlah keputusan random. Kota ini telah menjadi episentrum perkembangan AI global, rumah bagi raksasa teknologi seperti OpenAI dan berbagai startup AI terdepan. Dengan menempatkan acara peluncurannya di jantung inovasi AI, Samsung jelas ingin menegaskan posisinya sebagai pemimpin dalam evolusi smartphone berbasis kecerdasan artifisial. Apakah strategi ini akan berhasil mengalahkan pesaing-pesaingnya? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Kembalinya model Plus setelah sempat digantikan oleh Edge menunjukkan bahwa Samsung belajar dari feedback pasar. Meskipun model Edge menawarkan desain yang lebih futuristik, ternyata konsumen masih lebih menyukai bentuk tradisional yang ditawarkan oleh seri Plus. Keputusan ini juga mencerminkan fleksibilitas Samsung dalam merespons preferensi konsumen, meski harus mengubah rencana yang sudah disusun sebelumnya.

Penggunaan Exynos 2600 untuk model Ultra menjadi perkembangan yang patut dicermati. Selama beberapa generasi terakhir, model Ultra selalu menggunakan chipset Snapdragon di hampir semua pasar. Kembalinya Exynos ke jajaran flagship tertinggi Samsung menandakan keyakinan yang besar terhadap kemampuan chipset buatan sendiri. Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah Exynos 2600 sudah siap bersaing dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5 dalam hal performa dan efisiensi daya?

Perubahan jadwal rilis ke akhir Februari juga membawa implikasi strategis. Dengan bergeser ke kuartal pertama yang lebih akhir, Samsung mungkin berharap dapat menangkap momentum pembelian yang biasanya terjadi setelah tahun baru. Namun, keputusan ini juga berarti Samsung akan menghadapi persaingan yang lebih ketat dari merek-merek lain yang biasanya meluncurkan flagship mereka di periode yang sama.

Galaxy-S26-dummy-models-comparison

Fokus pada AI yang diusung Samsung untuk seri S26 sejalan dengan tren industri yang semakin mengandalkan kecerdasan buatan untuk membedakan produk. Setelah fitur-fitur inovatif yang sebelumnya dibocorkan, kini Samsung tampaknya ingin melangkah lebih jauh dengan menjadikan AI sebagai selling point utama. Pertanyaannya, apakah fitur AI yang ditawarkan akan sekadar gimmick atau benar-benar memberikan nilai tambah yang signifikan bagi pengguna sehari-hari?

Strategi dual-chipset yang tetap dipertahankan Samsung menunjukkan pendekatan yang pragmatis. Dengan membagi pasar berdasarkan ketersediaan chipset, Samsung dapat mengoptimalkan biaya produksi sekaligus memastikan performa yang sesuai dengan ekspektasi konsumen di setiap region. Namun, kebijakan ini seringkali menuai kritik dari konsumen yang merasa mendapatkan produk yang tidak setara dengan region lain.

Dari sisi persaingan, timing peluncuran Galaxy S26 series ini cukup menarik. Dengan rilis di akhir Februari, Samsung masih memiliki cukup waktu untuk memantau respons terhadap flagship pesaing yang biasanya diluncurkan lebih awal. Namun, mereka juga harus berhadapan dengan produk-produk yang diluncurkan berdekatan waktunya. Apakah strategi timing ini akan membawa keuntungan kompetitif atau justru membuat Samsung tertinggal dalam persepsi konsumen?

Yang jelas, semua perubahan dan penyesuaian ini menunjukkan bahwa Samsung tidak bermain-main dengan seri S26. Dengan kombinasi lokasi peluncuran yang strategis, fokus pada AI, dan penyempurnaan lineup produk, Samsung tampaknya ingin membuat pernyataan kuat di pasar smartphone flagship 2026. Namun, seperti biasa dalam dunia teknologi, buktinya akan terlihat ketika produk ini benar-benar sampai di tangan konsumen dan diuji dalam penggunaan sehari-hari.

Bagi Anda yang penasaran dengan detail lebih lanjut tentang spesifikasi teknis Galaxy S26, bocoran terbaru mengungkap upgrade kamera yang signifikan across the board. Sementara itu, kita tinggal menunggu konfirmasi resmi dari Samsung mengenai tanggal dan detail acara Unpacked yang dinanti-nantikan ini.

Kisah Suram Kreator Facebook Melawan Meta di Pengadilan

0

Telset.id – Bayangkan Anda telah membangun bisnis yang menghasilkan puluhan ribu dolar per bulan, tiba-tiba semuanya lenyap karena algoritma yang tidak bisa diajak bicara. Inilah realitas pahit yang dihadapi para kreator konten viral Facebook yang kini memilih jalur hukum untuk melawan raksasa teknologi Meta.

Selama bertahun-tahun, Meta dengan sengaja membangun ekosistem konten viral di Facebook. Platform ini diubah menjadi “mesin penemuan” yang merekomendasikan postingan dari halaman acak dan akun-akun tak dikenal. Para kreator pun merespons dengan menyuplai konten yang dirancang khusus untuk algoritma—meme, video hewan, hingga konten yang dihasilkan AI. Sukses berarti puluhan ribu dolar per bulan dari bonus performa, bagi hasil pendapatan, dan program monetisasi lainnya.

Tapi dalam setahun terakhir, dinamika ini mulai runtuh. Meta justru menghukum kreator untuk konten yang sama yang dulu mereka ganjar. Sistem pembayaran bermasalah karena glitch dan kesalahan teknis. Yang lebih memprihatinkan, para kreator ini terjebak dalam lingkaran layanan pelanggan otomatis tanpa solusi nyata.

Ilustrasi konten viral Facebook menghadapi masalah monetisasi

Dari Fotografer Getty Menjadi Raja Konten Viral

Mel Bouzad bukan nama asing di dunia konten Facebook. Mantan fotografer Getty Images ini selama delapan tahun terakhir menghidupi diri dengan menjalankan halaman Facebook populer seperti “The Meme Bros” dan “FunkiestShitEver”. Ia memposting meme, konten perjalanan, dan video hasil AI.

“Intinya adalah menunggangi tren saat sedang terjadi,” jelas Bouzad tentang strateginya. “Jika Anda bisa menangkap topik trending di awal, momentum akan tercipta, algoritma bekerja, dan konten Anda menjadi viral. Dan jika satu postingan viral, algoritma akan membuat postingan berikutnya juga viral karena mengira akan mendapat engagement serupa.”

Bouzad bahkan menguasai trik-trik kecil untuk menarik lebih banyak komentar Facebook: menambahkan kesalahan kecil dalam listicle bertema perjalanan, atau mengajukan pertanyaan provokatif seperti “negara bagian mana yang paling membosankan di Amerika?”

Contoh postingan terbaru dari salah satu halaman bertema perjalanan Bouzad di Facebook

Pada puncaknya, halaman-halamannya secara kolektif menghasilkan antara $10.000 hingga $20.000 per bulan—terutama dari bonus performa dan iklan video in-stream. Terkadang bahkan lebih dari itu. September lalu, 12 halamannya menghasilkan lebih dari $68.000 gabungan dalam bonus performa.

Demonetisasi Tiba-tiba dan Layanan Pelanggan yang Hilang

Tahun lalu, lima halaman meme dan perjalanannya tiba-tiba didemonetisasi. Halaman-halaman tersebut menerima “pelanggaran kebijakan monetisasi”—istilah samar yang bisa mencakup banyak pelanggaran dugaan.

Setelah penyelidikan, Bouzad menemukan halamannya ditandai karena allegedly beroperasi di negara yang tidak memenuhi syarat untuk program monetisasi Meta. Padahal, ia tinggal di Amerika Serikat—negara yang jelas memenuhi syarat.

“Meskipun sudah 20+ tiket dukungan dan menggunakan dukungan berbayar, saya hanya menerima balasan otomatis,” tulis Bouzad dalam pengajuan pertama ke pengadilan klaim kecil November lalu.

Percakapan dengan dukungan Meta Verified di mana Bouzad diberi tahu akunnya didemonetisasi karena banknya berbasis di Malta

Dalam dua obrolan terpisah dengan Meta Verified—layanan berlangganan berbayar untuk dukungan pelanggan—ia diberi tahu bahwa ia tidak memenuhi syarat karena halamannya terhubung ke rekening bank di Malta. Padahal, Bouzad bersikeras: “Pertama, saya tidak pernah ke Malta, kedua, bank saya Wells Fargo, dan ketiga, saya tinggal di Oregon.”

Bouzad melihat masalahnya sebagai bagian dari pola yang lebih luas dari Meta. Perusahaan ini menjadi terlalu bergantung pada kecerdasan buatan untuk moderasi konten, yang menghasilkan terlalu banyak kesalahan. Sementara itu, layanan pelanggan yang ditawarkan sebagian besar dioutsource—seperti melalui Meta Verified—dan pekerja ini tidak mampu menangani masalah yang semakin sering dihadapi para kreator.

Kreator Lain yang Terjebak Sistem

Beberapa kreator yang disebutkan dalam gugatan Bouzad mengklaim kehilangan puluhan ribu dolar pembayaran karena yang mereka sebut sebagai glitch dalam proses Meta.

Brent, kreator yang meminta hanya disebutkan nama depannya, menjalankan halaman Facebook sukses yang memposting video AI bertema sejarah. Halaman itu berjalan baik selama beberapa bulan hingga April, ketika Meta meminta Brent memverifikasi identitasnya untuk terus menerima pembayaran. Akunnya memiliki lebih dari $11.000 pendapatan yang belum dibayar pada saat itu.

Beberapa bulan kemudian, Brent masih belum bisa menyelesaikan langkah yang tampaknya sederhana ini, meski berulang kali memberikan salinan KTP-nya kepada Meta. Masalahnya berasal dari Meta yang salah mengklasifikasikan akun pembayarannya sebagai “perusahaan swasta” alih-alih “akun pribadi”.

Kreator lain terjebak setelah mengalami masalah serupa yang mencegahnya mengonfirmasi informasi pajak yang terkait dengan akun pembayarannya di Facebook. “Penghasilan pembayaran saya terkunci karena detail yang tidak dapat diedit ketika memasukkan informasi pajak dan bidang lainnya,” jelas kreator tersebut.

Yang menyedihkan, kreator ini juga sedang melawan kanker stadium 4, dan mengatakan dana yang hilang telah mengganggu pengobatannya. Dokternya baru-baru ini menginformasikan bahwa ia mungkin hanya memiliki beberapa bulan lagi untuk hidup; ia masih berharap untuk mendapatkan kembali dana yang hilang.

Bouzad mengatakan bahwa Facebook secara konsisten memberi penghargaan pada postingannya dengan jangkauan yang lebih tinggi sebelum menuduhnya memanipulasi tampilan

Strategi Hukum yang Tidak Biasa

Bouzad memutuskan mengambil jalur hukum yang tidak biasa. Setelah mendengar orang menggunakan pengadilan klaim kecil untuk mendapatkan perhatian Meta, ia mencobanya sendiri. “Saya pikir, saya akan masuk dan menuntut hanya untuk satu halaman… sesuatu yang kecil, hanya untuk masuk

Canva Luncurkan Platform Desain Profesional Affinity

0

Telset.id – Canva secara resmi meluncurkan platform perangkat lunak desain profesional Affinity yang terintegrasi penuh pada Kamis (30/10). Peluncuran ini menandai langkah strategis perusahaan setelah mengakuisisi Serif Europe Ltd, pengembang Affinity, pada 26 Maret 2024 lalu. Dengan kehadiran Affinity, Canva kini tidak hanya dikenal sebagai platform desain berbasis template yang mudah, tetapi juga menyasar pasar desainer profesional.

Affinity hadir sebagai solusi all-in-one yang menggabungkan alat vektor, pengeditan foto, dan tata letak profesional dalam satu platform berkinerja tinggi. Platform ini dirancang khusus untuk menjawab tantangan yang sering dihadapi desainer profesional, termasuk perangkat lunak yang berat, alur kerja yang menghambat kreativitas, dan harga langganan yang mahal.

Melalui integrasi dengan ekosistem Canva, Affinity menjadi lebih mudah diakses oleh berbagai kalangan desainer. “Kehadiran platform Affinity ini merupakan langkah natural dalam perjalanan Canva untuk memberdayakan semua orang dalam menciptakan desain,” jelas pernyataan resmi Canva mengenai peluncuran tersebut.

Fitur Unggulan Affinity untuk Desainer Profesional

Affinity menawarkan tiga fitur utama yang terintegrasi dalam satu platform. Alat vektor dirancang dengan presisi tinggi, memungkinkan desainer bekerja dengan kurva, garis, dan kisi secara real-time. Setiap perubahan desain dapat dilihat langsung, dengan kemampuan menggeser bentuk, memindahkan jalur secara instan, dan memperbesar file dengan mulus.

Fitur pengeditan foto Affinity menggunakan pendekatan non-destruktif, memungkinkan pengguna melakukan pemrosesan RAW, retouching, dan pengomposisian tanpa kehilangan karya asli. Dengan akselerasi GPU, bahkan file yang rumit dapat diakses secara lancar dan cepat. Platform ini juga dilengkapi alat cerdas seperti filter langsung, smart selections, dan pemrosesan batch untuk mempercepat workflow.

Untuk kebutuhan tata letak, Affinity menyediakan alat yang memungkinkan pembuatan brosur hingga laporan multi-halaman. Pengeditan grafik, gambar, dan teks dapat dilakukan langsung dalam dokumen dengan perubahan yang terlihat secara real-time. Fitur kontrol tipografi canggih, gaya teks bersama, dan halaman “Smart Master” membantu menjaga konsistensi desain.

Akses Mudah dan Kompatibilitas Luas

Pengguna dapat mengakses Affinity dengan menggunakan akun Canva yang sudah dimiliki. Platform ini tersedia secara gratis selamanya untuk setiap pengguna Canva, sementara pengguna akun premium mendapatkan akses ke fitur khusus Canva AI. Cara mengaksesnya cukup sederhana: instal aplikasi Affinity, login menggunakan akun Canva, ikuti proses otorisasi, dan pilih “Peluncuran” setelah melihat pesan sambutan.

Affinity saat ini tersedia untuk Windows dan MacOS, dengan versi iPad yang akan segera hadir. Platform ini mendukung berbagai format file termasuk PSD, AI, PDF, SVG, TIFF, dan IDML, memudahkan pengguna untuk membuka, mengedit, dan berkolaborasi tanpa harus memulai dari awal.

Peluncuran Affinity ini sejalan dengan strategi ekspansi Canva ke pasar profesional yang sebelumnya juga ditandai dengan integrasi AI melalui Magic Studio. Langkah ini memperkuat posisi Canva dalam ekosistem desain digital yang semakin kompetitif.

Sejarah Affinity sendiri bermula dari produk Serif Europe Ltd yang pertama kali meluncurkan Affinity Designer untuk pengguna MacOS pada 2014. Perusahaan tersebut dikenal sebagai alternatif profesional bagi software desain besar seperti Adobe, dengan tujuan memberikan opsi di luar produk langganan konvensional. Seiring perkembangan, Serif meluncurkan Affinity Photo dan Affinity Publisher sebelum akhirnya diakuisisi oleh Canva.

Dengan dukungan penuh dari Canva, Affinity kini hadir dengan performa yang lebih optimal dan integrasi yang lebih seamless. Platform ini dirancang untuk memberikan kebebasan berkreasi tanpa kendala, dengan fokus pada kecepatan kinerja dan pengalaman pengguna yang smooth. Kinerja optimal Affinity juga didukung oleh teknologi terbaru yang memastikan kelancaran bahkan pada perangkat dengan spesifikasi menengah.

Kehadiran Affinity dalam portofolio Canva menandai babak baru dalam evolusi platform desain digital. Dari awalnya fokus pada desainer pemula dengan template mudah, kini Canva semakin serius mengejar pasar desainer profesional yang membutuhkan alat yang lebih powerful dan fleksibel. Transformasi ini menunjukkan bagaimana teknologi desain terus berkembang untuk memenuhi kebutuhan berbagai segmen pengguna.