Beranda blog Halaman 91

POCO F7 Bocor di Geekbench: Performa Lebih Rendah dari iQOO Neo 10?

Telset.id – POCO mulai memanaskan pasar dengan mengisyaratkan kehadiran POCO F7 yang rencananya akan meluncur secara global akhir Juni ini. Namun, bocoran terbaru dari Geekbench justru mengungkap performa yang sedikit mengecewakan dibandingkan pesaing utamanya.

Dalam hasil tes Geekbench yang terungkap, POCO F7 mencetak skor 1937 untuk single-core dan 6021 untuk multi-core. Angka ini berada di bawah iQOO Neo 10 yang menggunakan chipset yang sama, Snapdragon 8s Gen 4, dengan skor masing-masing 2093 dan 6836.

POCO F7 Live Image Leak

Antara Optimasi dan Konservasi Daya

Perbedaan skor ini memunculkan pertanyaan: apakah POCO sengaja membatasi performa untuk alasan tertentu? Beberapa analis berpendapat ini bisa jadi strategi untuk menyeimbangkan antara performa dan efisiensi baterai. “Skor benchmark tidak selalu mencerminkan pengalaman pengguna sehari-hari,” jelas seorang analis teknologi Telset.id. “POCO mungkin sedang menguji berbagai profil performa sebelum peluncuran resmi.”

Meski demikian, perbedaan yang cukup signifikan ini patut diperhatikan, terutama bagi kalangan gamer dan pengguna berat. Seperti yang kami bahas dalam artikel sebelumnya tentang komponen POCO F7, chipset seharusnya mampu memberikan performa yang lebih baik.

Upgrade Bertahap dari Generasi Sebelumnya

Bocoran ini juga mengkonfirmasi bahwa varian yang diuji memiliki RAM 12GB, melanjutkan tradisi POCO yang selalu menyediakan opsi RAM besar. Sebagai perbandingan, POCO F6 sebelumnya hadir dengan pilihan 8GB atau 12GB RAM dan ditenagai Snapdragon 8s Gen 3.

Di sisi lain, rumor menyebutkan POCO F7 akan membawa beberapa peningkatan signifikan di sektor lain. Layar OLED 1.5K dengan kecerahan puncak 3.200 nits menjadi salah satu yang paling dinanti, melampaui pendahulunya yang hanya 2.400 nits. Ukuran layar juga dikabarkan membesar menjadi 6.83 inci dari sebelumnya 6.67 inci.

Untuk kamera, POCO F7 dikabarkan akan menggunakan sensor utama Sony LYT-600 berukuran 1/1.95″, sama seperti yang dipakai iQOO Neo 10. Ini menunjukkan bahwa meski performa prosesor sedikit tertinggal, POCO tetap berusaha menawarkan paket komplit di segmen harga menengah.

Seperti yang pernah kami laporkan dalam artikel tentang kedatangan POCO F7 Series di Indonesia, seri ini memang ditujukan untuk menjadi flagship killer dengan harga yang lebih terjangkau.

Sementara harga resmi masih menjadi misteri, bocoran performa ini setidaknya memberikan gambaran awal tentang apa yang bisa diharapkan dari POCO F7. Apakah Anda termasuk yang menanti kehadiran ponsel ini, atau justru lebih tertarik dengan varian Ultra-nya yang sudah kami bahas di artikel sebelumnya?

Galaxy Watch 8 Kembali dengan Rotating Bezel, Apa yang Baru?

Telset.id – Samsung kembali memainkan strategi klasiknya. Setelah tahun lalu menghadirkan Galaxy Watch Ultra yang lebih rugged, kini perusahaan asal Korea Selatan itu dikabarkan akan membangkitkan kembali varian Classic dengan rotating bezel pada seri Galaxy Watch 8. Bocoran terbaru menunjukkan, smartwatch ini akan meluncur bersamaan dengan perangkat lipat terbaru Samsung di acara Unpacked bulan Juli mendatang.

Bagi penggemar setia Galaxy Watch, rotating bezel bukan sekadar fitur, melainkan sebuah ikon. Kehadirannya di Watch 8 Classic menjadi kabar gembira, terutama setelah absen di generasi sebelumnya. Namun, jangan berharap desainnya sama persis dengan pendahulunya. Bocoran yang muncul di eBay mengungkap perubahan signifikan pada bentuk dan sistem strap.

Desain Baru yang Lebih “Squircle”

Jika selama ini Galaxy Watch identik dengan bentuk bulat, Watch 8 dikabarkan akan mengadopsi desain “squircle” — kombinasi antara square (kotak) dan circle (lingkaran) — mirip dengan Galaxy Watch Ultra. Perubahan ini bukan sekadar rumor. Referensi tentang bentuk baru tersebut telah ditemukan dalam firmware One UI 8, dan One UI 8 Watch disebut-sebut akan membawa sejumlah pembaruan signifikan.

Galaxy Watch 8 Classic dengan desain squircle dan rotating bezel

Live image yang beredar juga mengonfirmasi kembalinya rotating bezel fisik, dengan tiga tombol di sisi kanan dan speaker grill di sebelah kiri. Sayangnya, sistem strap baru mungkin membuat band lama tidak kompatibel — kabar buruk bagi yang sudah mengoleksi berbagai strap Galaxy Watch sebelumnya.

AI dan Fitur Kesehatan yang Lebih Cerdas

Samsung tak hanya bermain di desain. Dalam shareholder call terbaru, perusahaan menjanjikan “fitur kesehatan yang ditingkatkan” dan integrasi AI lebih dalam. Tahun lalu, Galaxy Watch 7 sudah membawa AI-backed coaching tools. Kini, Watch 8 mungkin akan melangkah lebih jauh dengan rencana latihan yang lebih personal dan rekomendasi adaptif.

Yang paling dinantikan adalah kemungkinan hadirnya non-invasive blood glucose monitoring, fitur yang diumumkan Samsung awal tahun ini. Selain itu, rumor tentang “antioxidant index” dalam Samsung Health juga menambah daftar fitur kesehatan yang patut ditunggu.

Perubahan Software dan Target Pasar

Watch 8 akan datang dengan Wear OS terbaru, yang mungkin membawa fitur “Now Bar” dari smartphone Samsung ke layar smartwatch. Fitur ini diyakini akan menjadi widget interaktif yang menyediakan informasi dan kontrol cepat.

Lalu, untuk siapa Galaxy Watch 8 ini? Jika Anda masih menggunakan Watch 4 atau lebih lama, upgrade ke Watch 8 bisa menjadi pilihan tepat — apalagi dengan kembalinya rotating bezel. Namun, bagi pengguna Watch 6 atau 7, perubahan mungkin terasa incremental. Kecuali Anda sangat menginginkan desain baru atau fitur kesehatan teranyar, tunggu mungkin lebih bijak.

Dengan segala bocoran yang ada, Galaxy Watch 8 tampaknya menjadi evolusi yang matang — bukan revolusi. Namun, bagi yang merindukan rotating bezel, kehadirannya saja sudah cukup menjadi alasan untuk bersukacita.

iOS 26 dan Fitur “Adaptive Power”: Solusi Apple untuk Baterai iPhone 17?

Telset.id – Apple baru saja meluncurkan iOS 26 dengan desain “Liquid Glass” yang memukau, tetapi fitur yang mungkin paling berdampak justru tersembunyi di balik layar: Adaptive Power. Kabarnya, teknologi berbasis AI ini dirancang untuk memperpanjang daya tahan baterai dengan mengelola sumber daya secara cerdas. Namun, seperti biasa, ada trade-off—pengguna mungkin merasakan penurunan performa saat sistem berusaha menghemat daya.

Bocoran sebelumnya mengindikasikan bahwa Apple sedang mengembangkan fitur manajemen baterai bertenaga AI, dan kini terkonfirmasi sebagai Adaptive Power. Fitur ini bisa menjadi penyelamat bagi iPhone 17 Air, yang dikabarkan hanya memiliki baterai 2.800mAh—jauh lebih kecil dibandingkan iPhone 16 (3.561mAh) atau pesaing Android seperti Galaxy S25 Edge (3.900mAh).

Adaptive Power: Kunci Daya Tahan iPhone 17?

Dengan ketebalan hanya 5,5mm, iPhone 17 Air jelas mengorbankan kapasitas baterai demi desain yang ramping. Padahal, di pasar yang semakin kompetitif, banyak ponsel China sudah menawarkan baterai 6.000mAh+ berkat teknologi silicon-carbon. Apple, yang belum mengadopsi teknologi tersebut, tampaknya mengandalkan integrasi perangkat lunak dan perangkat keras yang lebih baik untuk menutupi kekurangan ini.

Adaptive Power bekerja dengan menganalisis kebiasaan pengguna dan mengalokasikan daya secara dinamis ke aplikasi yang benar-benar dibutuhkan. Misalnya, jika Anda hanya membuka media sosial, sistem mungkin akan membatasi sumber daya untuk proses latar belakang yang tidak penting. Namun, ketika bermain game atau mengedit video, fitur ini akan mengoptimalkan performa—meski dengan konsekuensi konsumsi daya yang lebih tinggi.

Apakah Performa Akan Dikorbankan?

Meski terdengar menjanjikan, efektivitas Adaptive Power masih perlu diuji di dunia nyata. Beberapa pengguna mungkin tidak menyukai fluktuasi performa, terutama jika mereka terbiasa dengan kecepatan konsisten. Namun, bagi yang lebih mementingkan daya tahan baterai, fitur ini bisa menjadi solusi cerdas—terutama di iPhone 17 Air yang kapasitas baterainya terbatas.

Apple memang memiliki keunggulan dalam efisiensi daya berkat chip A-series yang dioptimalkan, tetapi apakah itu cukup untuk mengimbangi baterai yang lebih kecil? Adaptive Power mungkin menjadi jawabannya. Jika berhasil diimplementasikan dengan baik, fitur ini tidak hanya membantu iPhone 17 Air bertahan seharian, tetapi juga mempertahankan keunggulan seri iPhone lainnya dalam hal daya tahan baterai.

Bagaimana pendapat Anda? Apakah Anda rela mengorbankan sedikit performa untuk baterai yang lebih tahan lama? Atau justru lebih memilih ponsel dengan kapasitas baterai besar sejak awal? Simak terus perkembangan terbaru seputar iOS 26 dan iPhone 17 di Telset Gizmo.

Bocoran Snapdragon 8 Elite 2: Performa CPU dan GPU Melonjak Drastis

Telset.id – Jika Anda mengira chipset flagship tahun depan hanya akan menawarkan peningkatan inkremental, bersiaplah untuk terkejut. Qualcomm dikabarkan akan meluncurkan Snapdragon 8 Elite 2 pada Snapdragon Summit 23-26 September mendatang, dan bocoran terbaru menunjukkan lompatan performa yang signifikan.

Menurut Digital Chat Station, tipster terpercaya di Weibo, chipset anyar ini akan membawa arsitektur CPU Oryon generasi kedua. Bocoran benchmark Geekbench 6 menunjukkan skor single-core di atas 4.000 dan multi-core lebih dari 11.000 – peningkatan besar dari Snapdragon 8 Elite pertama yang mencetak 3.100 dan 9.800.

Revolusi Arsitektur dan Performa

Snapdragon 8 Elite 2 dikabarkan mengadopsi konfigurasi CPU 2+6 dengan clock speed hingga 5GHz, didukung proses manufaktur 3nm TSMC generasi ketiga. Base frequency 4.4GHz ini lebih tinggi dari pendahulunya yang 4.32GHz. Tidak hanya itu, chipset ini juga akan dilengkapi cache GMEM 16MB dan GPU Adreno 840 yang dioptimalkan untuk aplikasi berat grafis.

Peningkatan ini menunjukkan fokus Qualcomm pada efisiensi performa dan manajemen termal yang lebih baik – dua aspek krusial untuk perangkat flagship masa depan. Dengan spesifikasi seperti ini, Snapdragon 8 Elite 2 berpotensi menjadi jantung dari smartphone premium 2025.

Pertarungan Vendor Flagship

Berdasarkan pola sebelumnya, Xiaomi kemungkinan akan menjadi vendor pertama yang mengadopsi chipset ini melalui seri Xiaomi 16 dan 16 Pro. Namun menariknya, varian Ultra mungkin justru menggunakan chipset Xring buatan sendiri. Vendor lain yang diprediksi akan segera mengadopsi termasuk OnePlus 15, iQOO 15/15 Pro, Honor Magic 8 series, Realme GT 8 Pro, Nubia Red Magic 11 series, dan Redmi K90 series.

Untuk tahun 2025, Oppo Find X9 Ultra dan Vivo X300 Ultra juga diperkirakan akan menggunakan Snapdragon 8 Elite 2. Persaingan vendor dalam mengoptimalkan chipset ini untuk perangkat mereka akan menjadi pertarungan menarik yang patut ditunggu.

Sebagaimana dilaporkan sebelumnya di Telset.id, peluncuran chipset ini bisa menjadi ancaman serius bagi Samsung yang masih bergulat dengan chipset Exynos. Apalagi dengan kabar bahwa MediaTek Dimensity 9500 mungkin akan dirilis lebih dulu.

Dengan spesifikasi yang bocor ini, Snapdragon 8 Elite 2 berpotensi menggeser batasan performa smartphone. Namun pertanyaan besarnya: apakah peningkatan performa ini akan diimbangi dengan efisiensi daya yang baik? Jawabannya mungkin baru kita dapatkan saat chipset ini resmi diperkenalkan bulan September mendatang.

Snapdragon 7+ Gen 3 vs Dimensity 8300: Pertarungan Sengit Chipset Mid-Range

Telset.id – Jika Anda sedang mencari smartphone mid-range dengan performa hampir setara flagship, dua chipset ini wajib masuk daftar pertimbangan. Snapdragon 7+ Gen 3 dan Dimensity 8300 sama-sama menggunakan proses 4nm TSMC, tapi dengan pendekatan arsitektur yang berbeda. Mana yang lebih unggul? Mari kita bedah secara tuntas.

Diuji pada Realme GT 6T (Snapdragon 7+ Gen 3) dan Poco X6 Pro (Dimensity 8300), skor AnTuTu keduanya nyaris seimbang: 1.448.293 vs 1.442.661. Tapi jangan terkecoh angka total—detailnya justru lebih menarik. Snapdragon unggul 33% di tes CPU berkat kombinasi core Cortex-X4 dan A720, sementara Dimensity memimpin di GPU dengan Mali-G615 MP6 yang beroperasi pada frekuensi lebih tinggi.

Benchmark: Pertarungan CPU vs GPU

Geekbench mengkonfirmasi keunggulan Snapdragon di single-core (1.834 vs 1.421), cocok untuk multitasking berat. Tapi Dimensity 8300 punya trik tersembunyi: clock speed maksimal 3.35GHz—lebih tinggi dari 2.8GHz milik Snapdragon. “Ini seperti membandingkan sprinter dengan marathoner,” kata seorang insinyur chipset yang enggan disebutkan namanya. “Snapdragon lebih konsisten, Dimensity bisa meledak sesaat.”

Kamera & Konektivitas: Pertukaran Fitur

Snapdragon membawa Spectra triple ISP 18-bit dengan dukungan 200MP, sementara Dimensity mampu sampai 320MP lewat Imagiq 980 14-bit. Tapi ISP Qualcomm menawarkan fitur canggih seperti Real-time Semantic Segmentation—teknologi yang juga ada di Galaxy A73 5G.

Di sisi konektivitas, Snapdragon jelas lebih futuristik dengan modem X63 5G dan Wi-Fi 7. Dimensity? “Masih pakai Wi-Fi 6E, tapi Bluetooth-nya lebih baru,” ujar penguji perangkat di lab Telset. “Pilihan tergantung apakah Anda lebih sering pakai Wi-Fi atau Bluetooth earphone.”

Kesimpulan: Pilih Berdasarkan Kebutuhan

Snapdragon 7+ Gen 3 unggul untuk:

  • Produktivitas berat dan multitasking
  • Konektivitas mutakhir (Wi-Fi 7, 5G canggih)
  • Stabilitas gaming jangka panjang

Sementara Dimensity 8300 lebih cocok untuk:

  • Gaming dengan FPS tinggi sesaat
  • Fotografi ultra-high resolution (320MP)
  • Perangkat dengan baterai ketat (efisiensi energi lebih baik)

Kedua chipset ini membuktikan bahwa mid-range 2024 bisa menantang flagship tahun lalu. Seperti pertarungan Snapdragon 7 Gen 3 vs 888, pilihan akhir tergantung pada prioritas Anda. Atau mungkin menunggu generasi berikutnya?

Sony Project Defiant: Kontroller Fighting Game Nirkabel Pertama untuk PS5

Telset.id – Jika Anda seorang gamer yang serius bermain fighting games, bersiaplah untuk revolusi baru. Sony Interactive Entertainment baru saja mengumumkan Project Defiant, kontroler nirkabel pertama mereka yang dirancang khusus untuk game pertarungan kompetitif. Dengan fitur-fitur canggih dan desain ergonomis, kontroler ini siap mengubah cara Anda bermain.

Project Defiant bukan sekadar kontroler biasa. Sony membangunnya dari nol dengan fokus pada kebutuhan gamer fighting games. Salah satu fitur utamanya adalah digital stick buatan Sony sendiri yang memungkinkan Anda mengganti limit gate tanpa alat. Tersedia tiga bentuk—kotak, lingkaran, dan segi delapan—untuk menyesuaikan gaya bermain Anda.

Dibuat untuk Bertarung Tanpa Lelah

Kontroler ini dilengkapi dengan tombol mechanical switch yang responsif dan tahan lama, serta touchpad mirip DualSense. Sony mengklaim desainnya mampu menahan sesi gaming maraton dan pertarungan sengit tanpa kehilangan performa. Bahkan, Anda bisa menyalakan PlayStation 5 secara nirkabel hanya dengan menahan tombol PS—fitur yang jarang ditemukan di kontroler khusus fighting games.

Teknologi Koneksi Ultra-Cepat

Project Defiant menggunakan teknologi PlayStation Link (PS Link) terbaru Sony untuk koneksi nirkabel dengan latensi ultra-rendah di PlayStation 5 dan PC. Setiap input—baik tombol maupun stick—merespons dengan presisi tinggi. Jika lebih suka kabel, kontroler ini juga mendukung koneksi USB-C.

Sony juga memikirkan mobilitas. Kontroler ini dilengkapi dengan Sling Carry Case yang melindungi digital stick selama perjalanan, cocok untuk dibawa ke turnamen atau gaming session bersama teman. Dengan casing ini, Anda tak perlu khawatir komponennya rusak.

Sayangnya, Sony belum mengungkap nama final atau tanggal rilis pastinya. Project Defiant diperkirakan baru meluncur pada 2026, dengan detail lebih lanjut akan diumumkan dalam beberapa bulan ke depan. Sementara itu, simak terus perkembangan terbaru di bagian Gizmo Telset.id.

Dengan Project Defiant, Sony menunjukkan komitmennya terhadap komunitas fighting games. Apakah kontroler ini akan menjadi standar baru untuk gamer kompetitif? Kita tunggu saja kabar selanjutnya.

MediaTek Dimensity 9500 Bakal Lebih Cepat Rilis Dibanding Snapdragon 8 Elite 2?

Telset.id – Persaingan sengit antara MediaTek dan Qualcomm di pasar chipset flagship kembali memanas. Bocoran terbaru mengindikasikan bahwa MediaTek mungkin sekali lagi akan mengungguli Qualcomm dalam hal waktu peluncuran. Dimensity 9500, chipset andalan terbaru MediaTek, dikabarkan akan meluncur lebih awal dibandingkan Snapdragon 8 Elite 2 milik Qualcomm. Jika benar, ini akan menjadi tahun kedua berturut-turut MediaTek unggul dalam “balapan waktu” ini.

Pada tahun lalu, MediaTek sukses menggebrak pasar dengan meluncurkan Dimensity 9400 beberapa hari lebih awal dibandingkan Snapdragon 8 Elite. Kini, kabar serupa kembali mencuat. Qualcomm telah mengonfirmasi bahwa Snapdragon Summit akan digelar pada 23 September 2025, di mana Snapdragon 8 Elite 2 diprediksi akan diperkenalkan. Namun, menurut Digital Chat Station, tipster ternama, MediaTek mungkin akan meluncurkan Dimensity 9500 lebih awal di bulan yang sama.

Performa dan AI: Apa yang Bisa Diharapkan?

Meskipun detail spesifik tentang Dimensity 9500 masih minim, chipset ini diyakini akan membawa peningkatan signifikan dalam hal performa dan pemrosesan AI. Sebagai referensi, bocoran benchmark sebelumnya menunjukkan bahwa Dimensity 9500 bisa 17% lebih cepat dibanding pendahulunya. Jika klaim ini akurat, MediaTek mungkin benar-benar menantang dominasi Qualcomm di segmen high-end.

Smartphone Flagship yang Akan Menggunakan Dimensity 9500

Seperti tahun sebelumnya, Dimensity 9500 kemungkinan besar akan menghadirkan gelombang baru smartphone flagship. Oppo Find X8 dan Vivo X200 series menggunakan Dimensity 9400, sehingga penerusnya—Find X9 dan X300—diprediksi akan mengadopsi Dimensity 9500. Sementara itu, Snapdragon 8 Elite 2 kemungkinan akan dipasang di Galaxy S25, OnePlus 13, dan flagship Android lainnya.

Namun, perlu diingat bahwa informasi ini masih bersifat rumor. MediaTek belum memberikan konfirmasi resmi terkait tanggal peluncuran Dimensity 9500. Jika Anda ingin tetap update dengan perkembangan terbaru, pastikan untuk mengunjungi bagian Berita kami atau bergabung dengan komunitas Telegram Telset.id.

Samsung Sindir Apple: Desain “Liquid Glass” Mirip Windows Vista

0

Telset.id – Persaingan sengit antara Apple dan Samsung kembali memanas. Kali ini, Samsung tak segan melontarkan sindiran pedas terhadap Apple usai pengumuman fitur terbaru di WWDC 2025. Desain “Liquid Glass” dan AI yang dianggap kurang matang menjadi sasaran utama.

Melalui akun resmi Samsung Mobile US di X, raksasa asal Korea Selatan itu mengejek dengan kalimat tajam: “Aplikasi yang bisa disesuaikan? Floating bars? Desain antarmuka kaca yang elegan? Terlihat… familiar 🤔.” Sindiran ini jelas ditujukan untuk antarmuka Liquid Glass pada iOS 26 dan macOS 26 yang dianggap mirip dengan Aero UI di Windows Vista.

Samsung sindir Apple di media sosial tentang desain Liquid Glass

AI Jadi Medan Pertempuran Baru

Samsung tak hanya menyerang dari sisi desain. Mereka juga memamerkan keunggulan Galaxy AI yang sudah lebih dulu matang dibandingkan solusi Apple. “Baru mengenal terjemahan langsung? Selamat bergabung! Kami sudah menerjemahkan teks dan ucapan secara real-time sejak lama… #GalaxyAI,” tulis Samsung dalam unggahan lainnya.

Yang menarik, Apple justru terlihat hati-hati dalam mengintegrasikan AI. Siri hanya disebut dua kali selama presentasi 90 menit di WWDC. Strategi ini kontras dengan Google dan Samsung yang gencar mempromosikan kemampuan AI mereka. Seperti dilaporkan sebelumnya di Telset, Samsung bahkan berencana mengintegrasikan Perplexity AI di generasi mendatang.

Kritik terhadap Desain Ikon Baru

Perubahan desain ikon aplikasi di iOS 26 juga menuai kritik. Banyak pengguna mengeluh ikon baru justru membuat aplikasi lebih sulit dikenali dan teks kurang terbaca. Ini menjadi ironi mengingat Apple selalu dikenal dengan desain yang fungsional.

Perbandingan desain ikon iOS 26 dengan versi sebelumnya

Sementara Apple berhati-hati dengan AI, Samsung justru semakin agresif. Seperti diungkap dalam uji ketahanan terbaru, Galaxy S25 Edge menunjukkan ketangguhan hardware yang diimbangi software canggih. Persaingan kedua raksasa teknologi ini semakin panas, dan konsumenlah yang akan menikmati hasilnya.

Lantas, apakah Apple akan membalas sindiran ini? Atau justru memilih diam sambil menyiapkan kejutan besar? Yang pasti, pertarungan antara dua merek terbesar di dunia teknologi ini masih panjang. Dan seperti biasa, Telset.id akan terus memantau perkembangan terbaru untuk Anda.

Vivo V2507A dengan Baterai 8.000mAh Segera Rilis di China

Telset.id – Jika Anda mencari smartphone dengan daya tahan baterai ekstra panjang, bocoran terbaru dari Vivo mungkin akan menarik perhatian. Vivo V2507A, ponsel misterius yang baru saja mendapatkan sertifikasi MIIT di China, dikabarkan akan dibekali baterai berkapasitas raksasa hingga 8.000mAh. Spesifikasi ini menempatkannya sebagai salah satu smartphone dengan baterai terbesar dari produsen mainstream.

Informasi ini muncul setelah kode sumber sertifikasi CMIIT mengungkap bahwa V2507A memiliki baterai dengan kapasitas terukur 7.840mAh. Dalam standar industri, nilai tipikal biasanya sekitar 2-3% lebih tinggi dari nilai terukur, yang berarti ponsel ini kemungkinan akan dipasarkan dengan baterai 8.000mAh. Sebagai perbandingan, hanya ada sedikit smartphone mainstream dengan kapasitas serupa, seperti Realme GT 8 Pro yang juga dikabarkan akan menggunakan baterai berkapasitas sama.

Vivo V2507A CMIIT listing

Yang menarik, awalnya perangkat ini diduga sebagai Vivo X Fold 5, smartphone lipat terbaru Vivo. Namun, kapasitas baterai yang sangat besar ini membuat spekulasi berubah. “Baterai sebesar ini tidak umum untuk perangkat lipat karena pertimbangan ketebalan dan berat,” jelas seorang analis industri yang enggan disebutkan namanya. “Ini lebih mungkin merupakan varian khusus untuk pengguna yang mengutamakan daya tahan.”

Sertifikasi 3C yang terlihat sebelumnya juga mengungkap bahwa V2507A kemungkinan akan mendukung pengisian cepat 90W. Kombinasi baterai besar dan pengisian cepat ini bisa menjadi solusi ideal bagi pengguna berat. Sebagai referensi, beberapa konsep smartphone dengan baterai lebih besar memang sudah mulai bermunculan, tetapi implementasi di perangkat mainstream masih jarang.

Spekulasi tentang identitas sebenarnya V2507A masih beragam. Beberapa pengamat menghubungkannya dengan seri iQOO Z10 yang baru diluncurkan, mengingat iQOO adalah sub-brand Vivo yang fokus pada performa. Seri Z10 sendiri sudah memiliki beberapa varian dengan kapasitas baterai besar, meski tidak sebesar V2507A. “Jika ini benar-benar bagian dari seri Z10, maka Vivo mungkin sedang menyiapkan varian ‘Ultra’ dengan daya tahan ekstra,” tambah analis tersebut.

Vivo V2507A CMIIT listing

Di tengah maraknya smartphone dengan spesifikasi kamera atau gaming yang tinggi, kehadiran perangkat dengan fokus pada daya tahan baterai seperti V2507A ini justru bisa menjadi pembeda. Apalagi dengan dukungan pengisian cepat 90W, pengguna tidak perlu terlalu khawatir dengan waktu pengisian yang lama meski kapasitas baterainya sangat besar.

Namun, pertanyaan besarnya adalah: seberapa tebal dan berat ponsel ini nantinya? Baterai berkapasitas besar biasanya membutuhkan ruang lebih, yang bisa berdampak pada dimensi perangkat. Vivo mungkin harus menemukan keseimbangan antara kapasitas baterai dan kenyamanan penggunaan sehari-hari. Sebagai perbandingan, beberapa tablet dengan baterai besar memang cenderung lebih tebal daripada smartphone biasa.

Sampai saat ini, Vivo belum memberikan konfirmasi resmi tentang nama akhir atau spesifikasi lengkap V2507A. Namun dengan sudah diperolehnya sertifikasi MIIT dan 3C, peluncuran resmi tampaknya tidak akan lama lagi. Jika Anda termasuk yang mengutamakan daya tahan baterai dalam memilih smartphone, mungkin ada baiknya menunggu kehadiran ponsel satu ini.

Vivo X Fold 5 Buktikan Ponsel Lipat Bisa Punya Kamera Flagship

Telset.id – Jika Anda berpikir ponsel lipat harus mengorbankan kualitas kamera demi desain yang ramping, Vivo X Fold 5 siap mengubah persepsi itu. Han Boxiao, Product Manager Vivo, baru-baru ini membagikan sampel foto dari kamera periskop ponsel lipat terbaru mereka yang akan dirilis bulan ini di China.

Boxiao dengan tegas menyanggah anggapan umum bahwa ponsel lipat besar harus berkompromi pada kemampuan kamera untuk tetap tipis dan ringan. “X Fold 5 mematahkan stereotip ini,” ujarnya melalui unggahan media sosial. Menariknya, klaim ini didukung oleh bukti visual yang cukup meyakinkan.

Vivo X Fold 5 periscope camera sample

Menurut Boxiao, meski lebih tipis dan ringan dari generasi sebelumnya – dengan ketebalan hanya 4.x mm saat dibuka – X Fold 5 berhasil menyematkan lensa tele periskop yang bahkan lebih unggul dari yang ada di X Fold 3 Pro. Untuk membuktikannya, ia membagikan tiga sampel foto yang mencakup bidikan 1x dan zoom 20x yang mampu menangkap detail puncak gunung yang jauh dengan sangat jelas.

Yang lebih mengesankan, perangkat ini juga mendukung fotografi makro tele yang mampu menangkap subjek terkecil seperti jaring laba-laba dengan ketajaman luar biasa. “X Fold 5 menawarkan pengalaman pencitraan setara dengan smartphone flagship mainstream dan bahkan bisa menyaingi beberapa model ‘Pro’,” tegas Boxiao.

Meski Boxiao enggan berbagi detail konfigurasi kamera, bocoran terbaru mengungkap bahwa X Fold 5 akan dibekali dengan setup kamera belakang yang mengesankan: sensor utama 50MP Sony IMX921 dengan dukungan OIS, sensor ultra-wide 50MP dengan autofocus, dan kamera tele periskop 50MP Sony IMX882 dengan zoom optik 3x dan OIS. Untuk kamera depan, baik di cover screen maupun bagian dalam, kemungkinan besar akan menggunakan lensa 32MP.

Pencapaian Vivo ini patut diapresiasi karena berhasil menjawab salah satu keluhan utama pengguna ponsel lipat – kompromi pada kualitas kamera. Dengan X Fold 5, Vivo membuktikan bahwa pengguna ponsel lipat juga berhak mendapatkan pengalaman kamera flagship sejati, tanpa harus mengorbankan faktor bentuk yang ramping.

Sebagai informasi tambahan, Vivo X200 FE dan X Fold5 akan dirilis pada 10 Juli mendatang. Sementara itu, kompetitor seperti Honor Magic V5 juga tak ketinggalan dengan inovasi mereka sendiri di segmen ponsel lipat.

Dengan semua fitur unggulan ini, apakah Vivo X Fold 5 akan menjadi ponsel lipat dengan kamera terbaik tahun ini? Jawabannya mungkin akan kita dapatkan setelah pengujian lebih lanjut. Namun satu hal yang pasti: era ponsel lipat dengan kamera premium telah resmi dimulai.

Xiaomi Bakal Lompat ke HyperOS 26, Tiru Strategi Apple?

Telset.id – Jika Anda pengguna setia Xiaomi, bersiaplah untuk perubahan besar dalam sistem operasi HyperOS. Bocoran terbaru mengindikasikan Xiaomi mungkin akan melakukan lompatan drastis dalam penomoran versi HyperOS, dari HyperOS 3 langsung ke HyperOS 26. Strategi ini disebut-sebut terinspirasi dari Apple yang juga dikabarkan akan melompat ke iOS 26.

Menurut laporan dari XiaomiTime, perubahan penomoran ini bukan sekadar gimmick. Xiaomi dikabarkan ingin menyelaraskan sistem penamaan dengan kalender tahun, mirip dengan strategi yang mungkin akan diadopsi Apple untuk iOS, macOS, dan watchOS. Tujuannya? Memberikan kejelasan lebih baik tentang timeline rilis dan menghindari kebingungan pengguna.

Laporan ini menyebutkan bahwa perubahan tersebut merupakan bagian dari strategi besar Xiaomi untuk menyelaraskan perangkat lunaknya dengan “strategi pasar teratas”. Meskipun belum ada konfirmasi resmi dari Xiaomi, langkah ini bisa menjadi upaya perusahaan untuk menciptakan sistem penamaan yang lebih terpadu dan mudah dipahami.

Inspirasi dari Apple?

Jika benar, ini bukan pertama kalinya Xiaomi mengambil inspirasi dari Apple. Sebelumnya, Xiaomi telah mengadopsi berbagai elemen desain dan strategi pemasaran yang mirip dengan raksasa teknologi asal Cupertino tersebut. Lompatan versi dari 3 langsung ke 26 ini akan membuat HyperOS seolah-olah lebih matang dan setara dengan sistem operasi pesaing.

HyperOS 3 saat ini masih menjadi versi terbaru yang tersedia untuk perangkat Xiaomi. Perubahan penomoran versi ini diperkirakan akan muncul bersamaan dengan rilis Android 16. Seperti yang dilaporkan sebelumnya dalam artikel Telset.id tentang jadwal rilis HyperOS, Xiaomi memang memiliki rencana besar untuk pengembangan sistem operasinya.

Strategi Pemasaran atau Perubahan Nyata?

Pertanyaan besar yang muncul adalah apakah perubahan penomoran ini hanya strategi pemasaran atau mencerminkan perubahan signifikan dalam sistem operasi tersebut. Seperti dilaporkan dalam rilis HyperOS 2, Xiaomi terus menambahkan fitur-fitur baru dan peningkatan performa dengan setiap pembaruan.

Beberapa analis berpendapat bahwa lompatan versi besar ini bisa menjadi cara Xiaomi untuk mengejar ketertinggalan persepsi dari sistem operasi pesaing. Dengan versi 26, HyperOS akan terlihat lebih maju dibandingkan sistem operasi lain yang masih menggunakan penomoran lebih rendah.

Namun, tanpa konfirmasi resmi dari Xiaomi, semua ini masih bersifat spekulatif. Seperti yang diungkapkan dalam daftar perangkat yang akan mendapatkan HyperOS 2 Global, perusahaan cenderung memberikan informasi bertahap tentang rencana pembaruan sistem operasinya.

Bagaimana pun, perubahan ini menunjukkan ambisi besar Xiaomi dalam pengembangan perangkat lunak. Dengan HyperOS yang semakin matang, Xiaomi berpotensi menawarkan pengalaman pengguna yang lebih kompetitif di pasar global. Kita tunggu saja perkembangan resmi dari perusahaan dalam beberapa bulan mendatang.

POCO F7 Bocor: Desain Baru dan Spesifikasi Gahar untuk Gamer

Telset.id – Jika Anda mencari smartphone gaming dengan harga terjangkau namun performa elite, bocoran terbaru POCO F7 mungkin akan membuat Anda tergoda. Sebelum peluncuran resminya, gambar live dari ponsel ini telah bocor ke internet, mengungkap desain baru yang berani dan spesifikasi yang menjanjikan.

Gambar yang dibagikan oleh tipster ternama Abhishek Yadav di platform X (sebelumnya Twitter) ini menunjukkan desain belakang yang unik dengan modul kamera oval dan jendela transparan yang memperlihatkan chipset Qualcomm Snapdragon di dalamnya. Desain ini jelas mengarah ke segmen gamer, dengan sentuhan angular yang agresif.

Desain yang Berani untuk Gamer

POCO F7 tampaknya akan membawa perubahan signifikan dalam hal desain dibandingkan pendahulunya. Modul kamera oval yang menampung dua sensor kamera menjadi pusat perhatian, dengan tulisan “50MP OIS” yang menunjukkan kamera utama berkualitas tinggi. Yang lebih menarik adalah jendela transparan yang mungkin menjadi ciri khas seri ini, mengikuti tren smartphone gaming premium.

Menurut analisis kami, POCO F7 kemungkinan besar merupakan rebrand dari Redmi Turbo 4 Pro, dengan beberapa penyesuaian untuk pasar global. Jika Anda penasaran dengan detail komponen yang membuat performanya “ngebut”, Anda bisa membaca analisis mendalam kami di artikel sebelumnya.

Spesifikasi yang Menggiurkan

Berdasarkan bocoran yang ada, POCO F7 akan ditenagai oleh Snapdragon 8s Gen 4, pilihan yang tepat untuk pengalaman gaming intensif tanpa membebani kantong seperti varian flagship Snapdragon 8 Elite. Chipset ini diprediksi akan memberikan performa yang lebih dari cukup untuk game-game berat sekalipun.

Di bagian depan, ponsel ini mungkin akan menawarkan layar LTPS OLED 6,83 inci dengan resolusi 1.5K dan refresh rate 120Hz – kombinasi sempurna untuk gaming yang mulus dan visual yang tajam. Sistem operasinya diperkirakan akan langsung menggunakan Android 15 dengan lapisan kustom HyperOS 2.0.

Fitur Unggulan Lainnya

POCO F7 tidak hanya mengandalkan performa semata. Ponsel ini juga dilaporkan akan memiliki sertifikasi IP68/69 untuk ketahanan terhadap air dan debu, IR blaster untuk mengontrol perangkat elektronik, serta baterai raksasa berkapasitas 6,550mAh dengan dukungan pengisian cepat 90W.

Peluncuran global POCO F7 diperkirakan akan berlangsung antara 17-19 Juni mendatang, termasuk di pasar Indonesia. Jika Anda tertarik dengan varian yang lebih premium dari seri ini, kami telah membahas secara detail tentang POCO F7 Ultra dan POCO F7 Pro dalam artikel sebelumnya.

Dengan semua spesifikasi yang bocor ini, POCO F7 berpotensi menjadi salah satu smartphone gaming dengan nilai terbaik di kelasnya. Namun, kita masih harus menunggu pengumuman resmi untuk memastikan semua detail ini dan yang paling penting – harganya.