Beranda blog Halaman 2

NASA Mulai Uji Coba Krusial Roket Artemis II Jelang Peluncuran

0

Telset.id – NASA telah memindahkan roket Space Launch System (SLS) seberat 11 juta pon beserta peluncur selulernya ke landasan peluncuran di Kennedy Space Center, Florida, pada Sabtu, 17 Januari 2026. Langkah strategis ini menandai dimulainya persiapan akhir untuk wet dress rehearsal, sebuah simulasi pengisian bahan bakar berisiko tinggi yang wajib sukses sebelum empat astronot dapat diterbangkan mengelilingi Bulan.

Proses pemindahan roket setinggi 322 kaki yang di atasnya terpasang pesawat ruang angkasa Orion ini bukanlah pekerjaan ringan. Menggunakan crawler-transporter tua milik agensi antariksa tersebut, perjalanan lambat sejauh empat mil menuju landasan peluncuran memakan waktu hingga 12 jam. Perjalanan ini bisa jadi merupakan tahap awal dari Misi Artemis II, sebuah perjalanan 10 hari mengelilingi Bulan dan kembali ke Bumi untuk menguji ketahanan pesawat ruang angkasa tersebut.

Artemis 2 SLS rocket emerging from the Vehicle Assembly Building on Jan. 17, 2026

Misi ini membawa beban sejarah yang signifikan. Artemis II akan menjadi misi NASA pertama yang membawa astronot—Victor Glover, Christina Koch, Reid Wiseman, dan Jeremy Hansen dari Kanada—dalam 53 tahun terakhir sejak era Apollo 17 berakhir.

Gladi Bersih yang Menentukan

Agenda utama setelah roket tiba di landasan adalah apa yang disebut sebagai wet dress rehearsal. Dalam pengujian ini, tim teknis akan memuat roket raksasa tersebut dengan 700.000 galon propelan oksigen cair dan hidrogen cair yang sangat dingin. Mereka akan menjalankan hitungan mundur simulasi hingga berhenti tepat di 29 detik sebelum waktu lepas landas (T-29).

Hasil dari pengujian ini akan sangat menentukan linimasa penerbangan selanjutnya. NASA menargetkan tanggal 2 Februari untuk latihan krusial ini, meskipun jadwal tersebut masih bisa berubah tergantung pada persiapan di lapangan. Keberhasilan tes ini akan menentukan apakah peluang peluncuran pada bulan Februari masih bisa diambil.

Artemis 2 SLS rocket traveling 4 miles to the launchpad for wet dress rehearsal at Kennedy Space Center in Cape Canaveral, Florida, on Jan. 17, 2026

“Kami harus melalui wet dress, kami perlu melihat pelajaran apa yang kami dapatkan dari sana, dan itu pada akhirnya akan menentukan jalan kami menuju peluncuran,” ujar Charlie Blackwell-Thompson, Direktur Peluncuran Artemis.

Ia menambahkan bahwa jika latihan pengisian bahan bakar ini berjalan tanpa masalah yang signifikan dan sesuai rencana, maka peluang peluncuran di bulan Februari sangat mungkin untuk dicapai. Jendela peluncuran terdekat diketahui akan dibuka pada 6 Februari.

Belajar dari Kesalahan Masa Lalu

Artemis II dibangun di atas pelajaran berharga dari peluncuran perdana tanpa awak pada tahun 2022. Kala itu, misi Artemis 1 membutuhkan beberapa kali percobaan untuk menyelesaikan pengisian bahan bakar. Para insinyur telah menyesuaikan cara memuat oksigen cair setelah melihat masalah suhu dan memodifikasi perangkat keras setelah kebocoran hidrogen ditemukan pada koneksi antara sistem darat dan roket.

NASA's crawler-transporter carrying the 11-million-pound rocket stack and mobile launcher to the launchpad at Kennedy Space Center on Jan. 17, 2026

Selain itu, mereka juga telah mengganti dan menguji secara kriogenik katup kunci yang sempat menyebabkan masalah selama hitungan mundur final misi tanpa awak sebelumnya. Sejak Artemis I, Kennedy Space Center telah merevisi prosedur dan meningkatkan perangkat keras sebagai bagian dari rencana matang untuk Artemis II.

Selama pengujian nanti, pengendali akan menjalankan semua prosedur hitungan mundur, termasuk “hitungan terminal” terakhir. Setelah wet dress rehearsal selesai, para insinyur akan meneliti data kinerja roket, pesawat ruang angkasa Orion, dan sistem darat. Hanya jika data terlihat bersih, manajer misi akan beralih ke penetapan tanggal peluncuran yang spesifik.

NASA administrator and Artemis 2 crew talking to reporters as SLS rocket rolls behind them on Jan. 17, 2026

Pejabat NASA dengan tegas menolak anggapan bahwa tim mengalami “demam peluncuran” atau bahwa persiapan dilakukan dengan terburu-buru. Keselamatan para kru tetap menjadi prioritas mutlak di atas segalanya.

“Saya punya satu tugas, dan itu adalah pengembalian yang aman bagi Reid, Victor, Christina, dan Jeremy. Saya menganggap itu sebagai tugas dan kepercayaan,” tegas John Honeycutt, ketua tim manajemen misi. “Kami akan terbang ketika kami siap.”

Akses ChatGPT hingga Gemini dalam Satu Dashboard, 1min.AI Pangkas Harga Langganan

0

Telset.id – Fenomena menjamurnya kecerdasan buatan (AI) membawa dilema tersendiri bagi pengguna profesional. Di satu sisi, opsi model bahasa kian beragam, namun di sisi lain, pengelolaan alur kerja menjadi rumit karena harus berpindah-pindah platform. Menjawab tantangan tersebut, platform 1min.AI hadir sebagai agregator yang menggabungkan berbagai model AI top dunia dalam satu antarmuka, kini dengan penawaran harga yang dipangkas signifikan.

Bagi mereka yang lelah melakukan “senam jari” (tab-hopping) antar peramban hanya untuk membandingkan jawaban dari AI yang berbeda, solusi ini menawarkan efisiensi nyata. Platform ini memungkinkan pengguna melihat respons dari berbagai model AI secara berdampingan dalam satu layar, menghilangkan kebutuhan untuk berlangganan banyak layanan secara terpisah.

Saat ini, 1min.AI tengah menawarkan promosi agresif untuk paket Advanced Business Plan mereka. Dari harga reguler yang menyentuh angka USD 540, biaya berlangganan seumur hidup (lifetime subscription) kini dibanderol hanya USD 74,97. Penghematan sekitar USD 465 ini menjadi tawaran menarik di tengah tingginya biaya operasional untuk akses ke model-model AI premium.

Mashable Potato

Agregasi Model AI: Solusi Satu Pintu

Kekuatan utama dari 1min.AI terletak pada kemampuannya mengonsolidasikan puluhan model AI di satu ruang kerja. Pengguna tidak perlu lagi bingung memilih mana yang terbaik untuk tugas tertentu, karena platform ini menampilkan hasil dari nama-nama besar seperti ChatGPT, Grok, Gemini, Mistral, dan banyak lagi secara simultan.

Mekanismenya sederhana: pengguna cukup memasukkan satu permintaan (prompt), dan sistem akan menyajikan variasi jawaban dari berbagai model tersebut. Hal ini memungkinkan pengguna untuk meninjau, membandingkan, dan memilih hasil yang paling akurat atau kreatif sesuai kebutuhan mereka. Fleksibilitas ini sangat krusial, terutama mengingat setiap model AI memiliki “keahlian” uniknya masing-masing.

Platform ini dirancang untuk menangani berbagai jenis tugas digital. Mulai dari bantuan pengkodean (coding), pembuatan gambar generatif, hingga penyuntingan video dan audio. Namun, perlu diingat bahwa meskipun teknologi ini canggih, pengguna tetap disarankan untuk melakukan verifikasi manusia (human once-over) terhadap setiap hasil yang diberikan untuk memastikan akurasi dan konteks yang tepat.

Kehadiran alat semacam ini sejalan dengan tren perangkat keras masa depan yang semakin berfokus pada pemrosesan AI, seperti yang terlihat pada bocoran Benchmark Samsung terbaru yang mengindikasikan lonjakan performa untuk tugas-tugas cerdas.

Spesifikasi Kredit dan Fitur Bisnis

Berlangganan paket Advanced Business Plan di 1min.AI bukan hanya soal akses, tetapi juga kapasitas produksi. Pengguna akan mendapatkan alokasi kredit bulanan sebesar 4.000.000 kredit. Angka ini diklaim cukup masif untuk kebutuhan profesional sehari-hari.

Sebagai gambaran konversi, 4 juta kredit tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan sekitar 1.112.500 kata per bulan. Bagi para praktisi SEO dan pemasaran digital, kredit ini setara dengan riset hingga 5.933 kata kunci SEO setiap bulannya. Sementara bagi kreator visual, alokasi ini bisa dikonversi menjadi 1.186 gambar generatif atau pembuatan hingga 37 video per bulan.

Selain kuota kredit, paket ini juga menyertakan fitur-fitur pendukung produktivitas tingkat lanjut:

  • Pembaruan Mingguan: Memastikan pengguna selalu mendapatkan fitur atau model terbaru.
  • Perpustakaan Prompt Tanpa Batas: Menyimpan dan mengelola perintah AI agar tidak perlu mengetik ulang.
  • Penyimpanan Tanpa Batas: Untuk arsip hasil generasi konten.
  • Opsi Brand Voice Tanpa Batas: Memungkinkan penyesuaian gaya bahasa agar sesuai dengan identitas jenama yang berbeda-beda.

Jika kuota bulanan tersebut dirasa kurang, 1min.AI menyediakan mekanisme gamifikasi untuk mendapatkan kredit tambahan secara gratis. Pengguna bisa memperolehnya hanya dengan menggunakan aplikasi secara aktif, meninggalkan ulasan, atau merujuk teman (referral) ke platform tersebut.

Efisiensi kerja yang ditawarkan oleh alat agregator seperti ini menjadi sangat relevan bagi pengguna mobile yang membutuhkan produktivitas tinggi namun tetap hemat daya, mirip dengan filosofi Baterai Jumbo pada perangkat modern yang memaksimalkan output dalam satu paket ringkas.

Penting untuk dicatat bahwa harga kesepakatan dan ketersediaan paket ini dapat berubah sewaktu-waktu setelah publikasi. Bagi profesional yang ingin merampingkan alur kerja AI mereka tanpa harus membayar biaya langganan ke masing-masing penyedia model bahasa, tawaran dari 1min.AI ini merupakan opsi ekonomis yang patut dipertimbangkan.

Mengapa Desain Smartphone Kini Terlihat Sama? Inilah Jawabannya

0

Telset.id – Jika Anda memperhatikan deretan smartphone flagship yang dirilis belakangan ini, Anda mungkin merasakan semacam déjà vu. Layar OLED besar, bezel tipis, dan modul kamera yang menumpuk seolah menjadi standar baku yang sulit diubah. Apakah ini tanda matinya kreativitas para insinyur teknologi? Jawabannya: Tidak sama sekali.

Konvergensi desain ini bukanlah kegagalan imajinasi, melainkan tanda kedewasaan industri. Masalah desain yang “jelas” dan mendasar—seperti bagaimana membuat layar besar nyaman digenggam atau menempatkan kamera multi-lensa—sudah terpecahkan. Kini, pertarungan inovasi telah bergeser dari apa yang bisa Anda lihat di luar, menuju apa yang terjadi di dalam “kap mesin” perangkat tersebut. Fokus utama pabrikan kini beralih pada kecerdasan buatan (AI), efisiensi daya, dan konektivitas tanpa batas.

Pergeseran Fokus ke “Jeroan” dan Kecerdasan Buatan

Di balik desain eksterior yang tampak stagnan, kemajuan teknologi justru sedang melaju kencang. Para pembuat smartphone kini menata ulang perangkat mereka dengan berpusat pada sistem operasi generasi berikutnya dan chip yang semakin bertenaga. Generative AI bukan lagi sekadar fitur tambahan atau gimmick pemasaran, melainkan menjadi fitur inti yang mengubah cara kerja ponsel.

Sebagai contoh, silikon A-series terbaru dari Apple menghadirkan kemampuan machine learning tingkat lanjut langsung di perangkat (on-device). Teknologi ini mampu menganalisis pemandangan secara otomatis dan mengoptimalkan hasil foto atau video secara real-time tanpa perlu campur tangan pengguna yang rumit. Hal serupa juga terlihat pada lini Pixel dari Google yang sangat bergantung pada inovasi teknologi AI, mulai dari pengenalan suara yang lebih cerdas, teks prediktif, hingga fotografi komputasional yang canggih.

Pergeseran yang lebih luas adalah menuju ponsel yang mampu menjalankan model bahasa besar (LLM) secara lokal. Ini memungkinkan perangkat menangani tugas-tugas kompleks secara offline demi menjaga privasi pengguna, merancang konten, menerjemahkan bahasa secara instan, dan beradaptasi dengan perilaku pengguna sehari-hari. Pada dasarnya, smartphone modern sedang berevolusi menjadi komputer saku yang terus belajar seiring Anda menggunakannya.

Konektivitas Satelit: Mengisi Celah yang Tak Terlihat

Salah satu area inovasi yang paling signifikan namun sering kali tidak terlihat dalam bocoran gambar produk adalah konektivitas. Era di mana kita mengalami “hilang sinyal” perlahan mulai memudar. Konektivitas satelit mulai mengisi celah yang ditinggalkan oleh jaringan seluler tradisional.

Teknologi ini memungkinkan fitur pesan dasar dan panggilan darurat berfungsi jauh di luar jangkauan menara seluler, dengan dukungan suara dan data yang diprediksi akan segera hadir di cakrawala. Ponsel masa depan diharapkan dapat mendorong batas ini lebih jauh dengan mengintegrasikan aplikasi sehari-hari seperti peta dan pesan instan dengan tautan satelit.

Bayangkan Anda sedang berada di desa terpencil atau mendaki gunung; jangkauan ponsel Anda akan meluas secara dramatis. Meskipun inovasi semacam ini tidak terlihat “seksi” dalam lembar spesifikasi atau render promosi, nilainya sangat besar dalam penggunaan sehari-hari, terutama dalam situasi kritis.

Lompatan Kapasitas Baterai dan Manajemen Panas

Sistem daya juga telah mengambil lompatan besar ke depan. Kapasitas baterai yang dulunya tampak berlebihan kini menjadi hal yang lumrah. Banyak ponsel kini mengemas sel baterai dalam kisaran 5.000 hingga 8.000 mAh. Namun, kapasitas besar saja tidak cukup tanpa kecepatan pengisian yang memadai.

Pengisian cepat (fast charging) kini benar-benar cepat, dengan beberapa perangkat mampu mengisi daya dari kosong hingga penuh dalam waktu kurang dari setengah jam. Kimia baterai baru dan manajemen daya yang lebih efisien memberikan ketahanan lebih lama tanpa membuat ponsel menjadi lebih tebal secara signifikan. Pengisian nirkabel juga telah meningkat, mencapai kecepatan yang menyaingi solusi kabel model lama. Hasilnya, kecemasan akan baterai habis (battery anxiety) menjadi kurang relevan bagi banyak pengguna.

Namun, semua performa ekstra dan daya besar ini menciptakan panas. Di sinilah peran pendingin canggih menjadi krusial. Pabrikan kini mengatasi masalah termal secara langsung. Ponsel kelas atas (high-end) sekarang menggunakan sistem pendingin vapor-chamber canggih yang menyebarkan panas lebih efektif ke seluruh sasis.

Teknologi ini memungkinkan chip untuk mempertahankan kinerja tinggi dalam periode yang lebih lama tanpa mengalami throttling (penurunan performa paksa), bahkan saat digunakan untuk bermain game berat, merekam video resolusi tinggi, atau menjalankan beban kerja AI. Meskipun desain eksterior mungkin tampak familiar, rekayasa internal semakin difokuskan pada konsistensi dan keandalan performa.

Eksplorasi Form Factor dan Masa Depan Desain

Meskipun desain “batangan” mendominasi, bukan berarti eksperimen perangkat keras berhenti. Kehadiran ponsel lipat atau foldables menunjukkan bahwa inovasi bentuk fisik terus berjalan beriringan dengan desain arus utama. Perangkat seperti seri Galaxy Z Flip dan Z Fold mendemonstrasikan faktor bentuk alternatif yang menarik.

Bahkan, desain tri-fold (lipat tiga) yang lebih baru mampu membentang menjadi layar yang jauh lebih besar, mendorong batas rekayasa engsel, layar fleksibel, dan baterai. Produk-produk HP lipat ini mungkin belum ditujukan untuk semua pengguna dan generasi awal biasanya lebih menarik bagi para antusias teknologi. Namun, mereka memainkan peran penting dalam memajukan komponen yang nantinya akan muncul di smartphone konvensional.

Secara keseluruhan, gambaran yang lebih luas menunjukkan bahwa meskipun perubahan desain eksterior telah melambat, pengembangan smartphone tetap aktif di area lain. Desain flagship telah bertemu di satu titik konvergensi karena formula dasarnya memang sudah bekerja dengan baik. Kini, pabrikan lebih menekankan pada penyempurnaan atau refinement.

Di dalam perangkat dan dalam perangkat lunak, kemajuan terus berlanjut melalui kemampuan AI, peningkatan konektivitas, peningkatan sensor, serta manajemen daya dan termal yang lebih baik. Smartphone mungkin terlihat familiar dari luar, tetapi mereka masih berevolusi dengan cara yang sangat bermakna di bagian dalamnya.

Sistem Pengawasan AI Sekolah Picu Penangkapan Siswa Salah Sasaran

0

Telset.id – Penerapan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam sistem keamanan sekolah di Amerika Serikat kini menjadi sorotan tajam setelah terbukti memicu gelombang penangkapan siswa yang tidak perlu. Alih-alih menciptakan lingkungan belajar yang aman, sistem pengawasan canggih ini justru kerap gagal memahami konteks percakapan remaja, menyebabkan trauma psikologis mendalam bagi para siswa yang menjadi korban “salah tangkap” akibat algoritma yang terlalu sensitif.

Fenomena ini menyoroti sisi gelap dari ketergantungan institusi pendidikan pada teknologi pemantauan otomatis. Di era modern ini, sistem pengawasan AI memang telah menjamur di mana-mana, mulai dari memantau jalan raya, melacak pembelian kita di toko kelontong, hingga mengawasi toilet sekolah. Namun, laporan terbaru mengungkapkan bahwa sistem ini memiliki kelemahan fatal: mereka terlalu agresif dalam menandai perilaku yang dianggap buruk, yang berujung pada tingginya angka penahanan paksa terhadap anak di bawah umur.

Investigasi mendalam yang dilakukan oleh Milwaukee Independent menemukan fakta mengejutkan bahwa sekolah-sekolah yang menggunakan sistem pengawasan untuk memantau obrolan online terkait kekerasan telah mencatat jumlah “hits” atau peringatan positif yang mencengangkan. Sayangnya, sebagian besar dari peringatan tersebut bukanlah ancaman nyata yang dapat ditindaklanjuti, namun tetap berujung pada interogasi dan penahanan.

Kegagalan Algoritma Memahami Konteks

Salah satu contoh paling mencolok dari kegagalan sistem ini terjadi di distrik sekolah Lawrence, Kansas. Di wilayah ini, sebuah alat pemantauan keamanan online bernama Gaggle menandai lebih dari 1.200 insiden online hanya dalam periode 10 bulan. Angka ini mungkin terdengar mengerikan pada awalnya, seolah-olah sekolah tersebut berada dalam zona perang.

Namun, setelah ditelusuri lebih lanjut oleh Independent, ditemukan bahwa dua pertiga dari ribuan peringatan tersebut adalah masalah sepele atau “non-isu”. Sistem tersebut gagal membedakan antara ancaman serius dengan percakapan remaja biasa, lelucon, atau sarkasme. Meskipun teknologi seperti ini sering digadang-gadang memiliki spesifikasi lengkap dan canggih dalam mendeteksi pola kata, kenyataannya kemampuan mereka dalam memahami nuansa bahasa manusia masih sangat terbatas.

Masalah ini menjadi semakin pelik ketika diterapkan di negara bagian yang memiliki undang-undang pelaporan “nol toleransi” (zero-tolerance) seperti Tennessee atau Florida. Di wilayah-wilayah ini, pihak sekolah diwajibkan secara hukum untuk melaporkan kepada polisi setiap kali ada siswa yang mengisyaratkan kekerasan dalam bentuk apa pun, tanpa memandang konteks atau niat di balik ucapan tersebut.

Di Distrik Sekolah Polk County, Florida, dampaknya sangat nyata dan meresahkan. Selama empat tahun penggunaan, sistem Gaggle menandai sekitar 500 siswa. Akibat dari undang-undang yang kaku tersebut, setidaknya 72 anak sejauh ini telah ditangkap atau dirawat di rumah sakit secara paksa di bawah undang-undang kesehatan mental negara bagian yang dikenal sebagai Baker Act.

Trauma Psikologis Akibat Teknologi

Dampak dari penangkapan dan pemeriksaan paksa ini jauh melampaui sekadar catatan disipliner sekolah. Sam Boyd, seorang pengacara dari Southern Poverty Law Center, menegaskan kepada Independent bahwa pengalaman ini meninggalkan bekas luka psikologis yang dalam bagi anak-anak.

“Jumlah anak yang sangat tinggi yang mengalami pemeriksaan paksa mengingatnya sebagai pengalaman yang sangat traumatis dan merusak—bukan sesuatu yang membantu perawatan kesehatan mental mereka,” ujar Boyd. Ironisnya, teknologi yang seharusnya melindungi siswa justru menjadi sumber trauma baru. Hal ini mengingatkan kita pada risiko diskriminasi yang sering menghantui penerapan AI dalam ranah sosial.

Banyak dari siswa ini bahkan tidak menyadari bahwa email, obrolan online, dan pencarian Google mereka di peralatan sekolah sedang dipantau secara real-time. Mereka juga sering kali tidak merasa telah melakukan kesalahan apa pun. Ketidaktahuan ini menambah rasa syok ketika tiba-tiba mereka harus berhadapan dengan aparat penegak hukum.

Kasus memilukan dialami oleh seorang ibu di Tennessee bernama Lesley Mathis. Ia menceritakan bagaimana putrinya yang duduk di kelas delapan ditangkap, diinterogasi, digeledah (strip-searched), dan ditahan di penjara selama satu malam hanya karena lelucon online.

Secara spesifik, teman-teman siswa tersebut telah mengejeknya tentang kulitnya yang berwarna “Meksiko”, meskipun ia memiliki garis keturunan yang berbeda. Sebagai respons defensif khas remaja, siswi kelas delapan itu membalas dengan gurauan, “Pada hari Kamis kita bunuh semua orang Meksiko

Trafik Website Berita Diprediksi Anjlok 43 Persen Gara-gara AI

0

Telset.id – Sebuah survei terbaru terhadap lebih dari 280 pemimpin media dari 51 negara mengungkapkan prediksi suram bagi industri jurnalisme global, di mana trafik website berita diperkirakan akan anjlok hingga 43 persen dalam tiga tahun ke depan akibat dampak masif kecerdasan buatan (AI). Laporan yang dirilis oleh Reuters Institute for the Study of Journalism (RISJ) ini menyoroti kekhawatiran para eksekutif media, editor, dan CEO digital bahwa era mesin pencari kini mulai tergantikan oleh chatbot cerdas.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Tren penurunan pengunjung ke situs berita sebenarnya sudah terjadi sebelum ledakan AI generatif, namun kehadiran teknologi seperti ChatGPT mempercepat proses tersebut secara drastis. Data analitik yang dikutip dalam laporan RISJ menunjukkan bahwa lalu lintas web yang diarahkan ke situs berita dari Google Search saja sudah merosot 33 persen secara global. Ini adalah sinyal keras bagi model bisnis media tradisional yang selama ini sangat bergantung pada klik dari mesin pencari.

Nick Newman, peneliti senior di RISJ, menyebut fenomena ini sebagai akhir dari “era trafik” internet awal yang selama ini menopang penerbit tradisional. Menurutnya, ketidakpastian besar sedang menanti di depan mata. Para penerbit takut bahwa chatbot AI menciptakan cara baru yang terlalu nyaman bagi pengguna untuk mengakses informasi, yang pada akhirnya meninggalkan merek berita—dan para jurnalis—dalam kondisi yang tidak menguntungkan.

Blunder Implementasi AI dan “Halusinasi” Teknologi

Meskipun platform teknologi memegang kendali besar, Newman menegaskan bahwa mereka tidak memegang semua kartu. Berita yang dapat dipercaya, analisis ahli, dan sudut pandang manusia tetap penting, terutama di masa-masa yang tidak pasti. Sentuhan manusia dan penceritaan yang hebat adalah sesuatu yang sulit direplikasi oleh AI. Sayangnya, kepanikan industri membuat beberapa penerbit mengambil langkah yang salah perhitungan.

Beberapa media besar mencoba beradaptasi dengan merangkul teknologi AI, namun implementasinya sering kali membahayakan prinsip dasar jurnalisme yang baik. Salah satu contoh yang paling mencolok dan menjadi sorotan adalah kegagalan fitur podcast berbasis AI dari Washington Post. Fitur ini dirancang untuk menyajikan berita terbaru surat kabar tersebut dalam format audio personal, namun hasilnya justru memicu kemarahan internal dan eksternal.

Podcast yang dihasilkan oleh AI tersebut dipenuhi dengan kesalahan faktual dan dalam beberapa kasus bahkan melakukan editorialisasi pada berita yang sedang berkembang. Insiden ini diejek habis-habisan secara online, dan staf Washington Post sendiri menyebut langkah manajemen tersebut sebagai sebuah “bencana” yang menakjubkan. Kasus ini menjadi peringatan keras bahwa memasukkan teknologi yang rentan “berhalusinasi” ke dalam ruang redaksi tanpa kontrol manusia yang ketat adalah tindakan berisiko tinggi.

Di sisi lain, ada penggunaan yang lebih hati-hati dan tidak berbahaya, seperti The New York Times yang menggunakan AI untuk membantu menyusun berita utama (headline). Namun, tekanan ekonomi dan PHK yang terjadi bersamaan di industri ini membuat banyak perusahaan media mengambil langkah putus asa yang seringkali tidak bijaksana.

Strategi Bertahan: Kembali ke Jurnalisme Autentik

Tingkat kepercayaan diri di kalangan pemimpin media sedang berada di titik nadir. Menurut laporan RISJ, hanya 38 persen dari pemimpin media yang disurvei merasa yakin tentang prospek jurnalisme di tahun-tahun mendatang. Angka ini merupakan penurunan drastis sebesar 22 persen dibandingkan empat tahun lalu. Situasi ini memaksa industri untuk memikirkan ulang strategi mereka dalam menghadapi tantangan AI yang semakin nyata.

Untuk menavigasi perairan keruh ini, para penerbit menekankan strategi untuk kembali ke akar jurnalisme yang unik. Mereka berencana untuk melipatgandakan investasi pada aspek-aspek yang sulit ditiru oleh mesin, seperti investigasi orisinal, pelaporan langsung dari lapangan (on-the-ground reporting), dan cerita-cerita yang berorientasi pada manusia. Pemerintah dan lembaga terkait pun mulai menaruh perhatian pada isu ini demi melindungi hak jurnalis dan integritas informasi.

Sebaliknya, para eksekutif media berencana untuk mengurangi porsi berita umum dan jurnalisme layanan (service journalism), yang mereka perkirakan akan menjadi komoditas murah yang mudah diambil alih oleh AI. Selain itu, ada kecenderungan kuat untuk mengarahkan jurnalis menjadi kreator konten, seperti membuat video pendek, guna mendapatkan pijakan yang lebih kuat di media sosial. Bahkan, penggunaan alat bantu seperti prompt Gemini atau tools AI lainnya mungkin akan lebih difokuskan untuk aspek visual dan kreatif, bukan untuk menggantikan substansi berita.

Masa depan jurnalisme mungkin tidak sepenuhnya hancur seperti di film “The Matrix”, namun pergeseran besar sedang terjadi. Dengan model “klik dari pencarian” yang semakin ditinggalkan, media dituntut untuk membuktikan bahwa nilai “kemanusiaan” dalam berita adalah sesuatu yang layak dibayar dan dipertahankan, bukan sesuatu yang bisa digantikan oleh algoritma chatbot semata.

Peta Digital Ungkap Pegunungan dan Lembah Tersembunyi di Bawah Antartika

0

Telset.id – Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Science berhasil menyingkap tabir misteri yang menyelimuti benua paling selatan Bumi. Para peneliti telah menciptakan peta baru lanskap bawah tanah Antartika, mengungkap topografi luas yang sebelumnya tersembunyi. Siapa sangka, di balik lapisan es yang membeku selama ribuan tahun, terdapat bukit, punggung bukit, hingga pegunungan utuh yang “bersembunyi” bermil-mil di bawah permukaan.

Temuan ini bukan sekadar pameran visual geografis semata. Peta baru ini merepresentasikan metode anyar dalam menyelidiki lapisan es Antartika, sebuah langkah krusial untuk memprediksi nasib benua beku tersebut di tengah ancaman perubahan iklim yang kian ekstrem. Selama ini, pemahaman kita tentang apa yang ada di bawah es Antartika sangatlah terbatas, bahkan bisa dibilang kita lebih mengenal permukaan planet Merkurius dibandingkan dasar benua kita sendiri.

Helen Ockenden, peneliti dari University of Grenoble-Alpes di Prancis sekaligus penulis utama studi ini, memberikan analogi menarik mengenai lompatan teknologi yang mereka capai. Kepada BBC, ia menggambarkan perbandingan antara metode lama dengan temuan baru timnya.

“Ini seperti sebelumnya Anda hanya memiliki kamera film dengan piksel yang pecah-pecah, dan sekarang Anda memiliki gambar digital yang diperbesar dengan sangat jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi di sana,” ujar Ockenden.

Mengintip di Balik Selimut Es

Sebelum adanya terobosan ini, para ilmuwan sangat bergantung pada misi darat dan udara yang menggunakan radar untuk memindai fitur bawah permukaan benua tersebut. Masalahnya, lanskap Antartika sangatlah luas dan menakutkan. Misi-misi survei tersebut sering kali terpisah oleh jarak puluhan mil. Akibatnya, para ilmuwan hanya mendapatkan gambaran yang tidak utuh, seperti mencoba menyusun puzzle dengan separuh kepingan yang hilang.

Kondisi ini memaksa para ahli untuk “menebak-nebak” apa yang terperangkap di bawah bermil-mil lapisan es tersebut. Ketidaktahuan ini setara dengan misteri yang menyelimuti Laut Terdalam di dunia, di mana kegelapan dan tekanan ekstrem menyulitkan eksplorasi.

Robert Bingham, seorang glasiolog dari University of Edinburgh yang juga salah satu penulis studi, memberikan perumpamaan untuk menjelaskan betapa butanya kita sebelumnya. “Bayangkan jika Dataran Tinggi Skotlandia atau Pegunungan Alpen Eropa tertutup es, dan satu-satunya cara untuk memahami bentuknya adalah dengan penerbangan sesekali yang berjarak beberapa kilometer,” jelasnya kepada BBC.

“Tidak mungkin Anda akan melihat semua gunung tajam dan lembah yang kita tahu ada di sana,” tambah Bingham. Keterbatasan radar konvensional inilah yang coba diatasi oleh tim Ockenden dengan pendekatan yang lebih cerdas, memanfaatkan teknologi luar angkasa.

Metode “Kayak” dan Data Satelit

Alih-alih hanya mengandalkan radar yang terbatas jangkauannya, para peneliti beralih ke luar angkasa. Mereka menggunakan kombinasi gambar optik dan data radar yang diambil oleh satelit. Data ini kemudian digabungkan dengan model pergerakan aliran es bawah permukaan. Dengan cara ini, Ockenden dan timnya berhasil “menggoda” keluar detail undulasi atau gelombang pada batuan dasar di bawah es.

Metode ini bekerja dengan prinsip fisika yang logis. Ockenden menjelaskan proses ini dengan analogi olahraga air. “Ini sedikit mirip jika Anda sedang bermain kayak di sungai, dan ada batu di bawah air. Terkadang ada pusaran di permukaan, yang bisa memberi tahu Anda tentang keberadaan batu di bawah air tersebut,” ujarnya.

Ketika es mengalir di atas punggung bukit atau bukit batuan dasar, hal itu bermanifestasi pada topografi permukaan es di atasnya, dan juga mempengaruhi kecepatan aliran es itu sendiri. Analisis mendalam terhadap data ini tentu membutuhkan pemrosesan tingkat tinggi, mungkin tidak sekompleks algoritma yang membuat Popularitas Pengguna Internet beralih ke AI, namun cukup rumit untuk memetakan benua.

Hasilnya mengejutkan. Pendekatan baru ini mengungkap lanskap yang jauh lebih menarik dan heterogen daripada yang diduga sebelumnya. Tim peneliti menemukan lembah-lembah alpine, dataran rendah yang tererosi, dan jaringan saluran luas yang dibentuk oleh air yang mengalir, membentang hingga ratusan mil. Ini jauh lebih detail daripada sekadar panduan navigasi Google Maps Offline yang biasa kita gunakan.

Keterbatasan dan Implikasi Iklim

Meski revolusioner, metode ini bukannya tanpa cela. Duncan Young, glasiolog dari University of Texas at Austin yang tidak terlibat dalam studi, memberikan pandangan kritisnya. Ia mengatakan kepada Science bahwa pendekatan ini belum bisa mendeteksi fitur yang lebih kecil dari beberapa meter. Untuk detail sekecil itu, pendekatan radar tradisional masih menjadi metode terbaik.

Namun, peta baru ini memberikan panduan yang sangat baik tentang di mana survei radar harus difokuskan. “Kita tidak terlalu buta sekarang,” kata Bingham kepada Science. “Kita memiliki kesan yang sangat baik tentang di mana dasar es cukup kasar, di mana Anda perlu mensurvei dengan cermat jika Anda benar-benar ingin melihat detail fiturnya.”

Memahami geografi yang terkubur dan jaringan sungai di bawah Antartika akan sangat krusial untuk memahami bagaimana cadangan es yang sangat besar akan terpengaruh oleh perubahan iklim. Para ilmuwan memprediksi bahwa potensi runtuhnya satu saja lapisan es benua itu—yang terhubung dengan gletser Thwaites yang terkenal atau “Gletser Kiamat”—bisa menaikkan permukaan laut hingga puluhan kaki di abad-abad mendatang.

Kejadian di bawah tanah ternyata menjadi perkembangan yang mengkhawatirkan dalam pemahaman kita tentang kesehatan Thwaites. Para ilmuwan menemukan bahwa sisi bawah gletser tersebut, yang dulunya dianggap terlindungi oleh dasar laut, ternyata terekspos oleh air laut yang menghangat. Pengungkapan serupa, dengan teknik pencitraan baru ini, bisa sangat berpengaruh pada pemahaman kita tentang nasib benua beku tersebut secara keseluruhan.

10 Trik Rahasia iPhone yang Wajib Dicoba Pengguna iOS

0

Telset.id – iPhone dikenal sebagai perangkat dengan antarmuka yang ramah pengguna, namun di balik kesederhanaan tersebut, tersimpan ratusan fitur canggih yang sering kali luput dari perhatian. Banyak pengguna yang hanya memanfaatkan fungsi dasar tanpa menyadari bahwa perangkat mereka memiliki kemampuan “tersembunyi” yang dapat meningkatkan produktivitas hingga efisiensi baterai.

Berdasarkan pembaruan sistem operasi terbaru hingga tahun 2026, terdapat serangkaian trik sederhana yang mampu membuka potensi sebenarnya dari smartphone buatan Apple ini. Mulai dari mengubah papan ketik menjadi trackpad hingga mematahkan mitos lama mengenai manajemen aplikasi, pemahaman terhadap fitur-fitur ini sangat krusial bagi pengguna yang ingin memaksimalkan investasi teknologi mereka.

Berikut adalah rangkuman 10 trik dan fitur tersembunyi iPhone yang telah kami kurasi untuk meningkatkan pengalaman penggunaan Anda sehari-hari.

Optimalisasi Visual dan Aksesibilitas

Bagi pengguna yang sering beraktivitas di kondisi minim cahaya atau memiliki kebutuhan visual khusus, iPhone menyediakan opsi yang lebih dalam daripada sekadar mode malam standar. Fitur ini sangat berguna tidak hanya untuk kenyamanan mata, tetapi juga membantu pengguna dengan buta warna.

Anda dapat mengakses “Hidden Dark Mode” melalui fitur Smart Invert atau Classic Invert. Smart Invert akan membalik warna layar menjadi mode gelap namun tetap menjaga gambar dan media dalam warna aslinya, sementara Classic Invert membalik seluruh warna tampilan.

Accessibility, Display & Text Size, and Smart Invert/Classic Invert in iOS Settings

Untuk mengaktifkannya, buka Settings, lalu masuk ke menu Accessibility > Display & Text Size. Di sana Anda dapat memilih antara Smart Invert atau Classic Invert. Trik ini dapat diaplikasikan pada semua model iPhone yang menjalankan iOS 11 ke atas. Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan layar agar tampilan tetap optimal, simak Tips Membersihkan perangkat Anda secara berkala.

Selain visual layar, notifikasi juga dapat dioptimalkan secara visual. Jika Anda sering melewatkan pesan atau panggilan karena ponsel dalam mode senyap, Anda dapat memanfaatkan lampu kilat kamera sebagai indikator notifikasi. Fitur ini membuat lampu LED di bagian belakang iPhone berkedip saat ada pemberitahuan masuk.

Accessibility, Audio/Visual, and LED Flash for Alerts options in iOS Settings

Caranya cukup mudah: Masuk ke Settings > Accessibility > Audio & Visual > LED Flash for Alerts, lalu geser tombol ke posisi aktif (hijau). Pastikan juga untuk mengaktifkan opsi “Flash in Silent Mode” agar fitur ini tetap bekerja saat ponsel di-silent.

Produktivitas Input dan Navigasi

Salah satu keluhan umum pengguna layar sentuh adalah sulitnya menempatkan kursor teks secara presisi. Seringkali, pengguna harus menyeret “kaca pembesar” kecil yang cukup merepotkan. Namun, Apple sebenarnya telah menyematkan fitur yang mengubah keyboard iPhone menjadi trackpad layaknya laptop.

Tap and hold the space bar on the keyboard to turn it into a trackpad

Untuk menggunakan trik ini, tekan dan tahan tombol spasi (Space bar) saat Anda sedang mengetik. Tunggu sesaat hingga kursor “muncul” atau memberikan efek pop, lalu Anda dapat menggeser jari di area keyboard untuk memindahkan kursor dengan sangat presisi ke mana saja yang Anda inginkan.

Selanjutnya, bagi pengguna iPhone X atau model yang lebih baru, hilangnya tombol Home fisik mungkin masih terasa asing bagi sebagian orang. Atau mungkin, tombol fisik Anda mengalami kerusakan. Solusinya adalah mengaktifkan tombol Home virtual melalui fitur AssistiveTouch.

Touch and AssistiveTouch options in iOS Settings

Fitur ini memberikan akses cepat ke berbagai fungsi yang biasanya memerlukan gestur rumit. Aktifkan dengan menuju Settings > Accessibility > Touch > AssistiveTouch dan geser tombol ke posisi on. Anda bahkan bisa mengatur tindakan khusus untuk ketukan tunggal, ganda, atau tekanan lama.

Dalam hal interaksi dengan asisten virtual, tidak semua situasi memungkinkan kita untuk berbicara. Apple menyediakan fitur “Type to Siri” yang memungkinkan Anda mengetik perintah alih-alih mengucapkannya. Ini sangat berguna di tempat umum yang sunyi atau bagi penyandang disabilitas wicara. Fitur ini mirip dengan Voice Control namun berbasis teks.

Typing a question to Siri on an iPhone

Aktifkan melalui Settings > Accessibility > Siri dan nyalakan Type to Siri. Kini saat Anda memanggil Siri, sebuah keyboard akan muncul. Bagi pengguna iPhone yang kompatibel dengan Apple Intelligence, Anda bahkan bisa mengetuk dua kali bagian bawah layar untuk memunculkan bilah pencarian.

Manajemen Baterai dan Mitos Aplikasi

Efisiensi pengisian daya sering menjadi isu krusial. Jika Anda membutuhkan daya baterai terisi dengan cepat dalam waktu singkat, ada trik sederhana yang sangat efektif: gunakan Airplane Mode. Mengaktifkan mode pesawat akan mematikan sinyal seluler, Wi-Fi, dan radio lainnya, sehingga beban kerja baterai berkurang drastis saat diisi ulang.

Cukup buka Control Center dan ketuk ikon pesawat sebelum mencolokkan pengisi daya. Trik ini adalah salah satu metode dasar dalam Mengisi Daya secara efisien. Ingatlah untuk mematikannya kembali setelah selesai.

Berbicara mengenai baterai, terdapat sebuah mitos yang dipercaya banyak orang: menutup aplikasi di latar belakang (force close) dapat menghemat baterai. Faktanya, hal ini justru sebaliknya. Menutup paksa aplikasi dan membukanya kembali justru memaksa prosesor bekerja lebih keras dan mengonsumsi daya lebih besar.

The App Switcher in iOS

Sistem manajemen iOS sudah dirancang sedemikian rupa untuk membekukan aplikasi yang tidak digunakan di latar belakang tanpa menguras daya secara signifikan. Jadi, biarkan saja aplikasi tersebut tetap ada di background kecuali aplikasi tersebut macet. Pemahaman ini penting agar Baterai Awet sepanjang hari.

Utilitas Kamera dan Pengukuran AR

iPhone modern bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga alat ukur yang canggih berkat teknologi Augmented Reality (AR). Aplikasi bawaan bernama Measure memungkinkan Anda mengukur jarak atau dimensi objek secara real-time.

The Measure app for iPhone

Khusus untuk iPhone 12 dan model yang lebih baru yang dilengkapi sensor LiDAR, pengukuran jarak dalam ruang 3D menjadi sangat cepat dan akurat. Anda dapat membuat titik dan garis untuk mengukur furnitur, dinding, atau benda lainnya. Jika aplikasi mendeteksi permukaan utuh, ia bahkan bisa menghitung luas area secara otomatis.

Dalam hal fotografi, terkadang menyentuh tombol rana di layar terasa sulit, terutama saat mengambil selfie atau memegang ponsel dengan satu tangan. Solusinya adalah menggunakan tombol volume. Saat aplikasi kamera terbuka, menekan tombol volume atas atau bawah akan memicu pengambilan gambar. Trik ini juga berlaku jika Anda menggunakan headphone yang memiliki tombol kontrol volume.

Terakhir, manfaatkan Siri untuk mempercepat proses pengambilan foto. Meskipun Siri tidak bisa menekan tombol rana untuk Anda, ia bisa membuka aplikasi kamera langsung ke mode yang Anda inginkan. Cukup katakan “Hey Siri, take a selfie” atau “Hey Siri, take a video”, dan ponsel akan langsung siap dalam mode tersebut. Anda tinggal menekan tombol volume untuk mulai merekam. Jangan lupa untuk selalu waspada saat mengambil foto di tempat umum agar terhindar dari risiko Kehilangan iPhone kesayangan Anda.

Dengan menerapkan kesepuluh trik di atas, penggunaan iPhone Anda akan terasa jauh lebih efisien dan fungsional di tahun 2026 ini.

CEO Nvidia: AI Tidak Membunuh Pekerjaan, Hanya Mengambil Alih Tugas Rutin

0

Telset.id – CEO Nvidia, Jensen Huang, kembali melontarkan pandangan kritis mengenai dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap masa depan tenaga kerja manusia. Dalam sebuah diskusi mendalam di podcast “No Priors”, Huang menepis narasi kiamat pekerjaan yang sering didengungkan, menegaskan bahwa AI hadir untuk mengotomatisasi tugas-tugas spesifik (tasks), bukan untuk menghapus pekerjaan (jobs) itu sendiri secara keseluruhan.

Pernyataan ini memberikan perspektif segar di tengah kekhawatiran global mengenai gelombang pemutusan hubungan kerja akibat automasi. Menurut Huang, ketakutan akan pengangguran massal sering kali muncul karena kegagalan dalam membedakan antara “tugas rutin” dengan “nilai inti” dari sebuah profesi. Ia menekankan bahwa meskipun cara penyelesaian tugas akan berubah drastis berkat teknologi, esensi atau nilai utama dari sebuah pekerjaan tetap membutuhkan sentuhan manusia.

Dalam pandangan bos perusahaan chip raksasa tersebut, teknologi ini justru berpotensi meningkatkan permintaan terhadap tenaga profesional yang bertanggung jawab atas hasil akhir pekerjaan. Logika yang dibangun Huang cukup sederhana: hampir semua pekerjaan terdiri dari serangkaian tugas repetitif yang bisa disederhanakan oleh teknologi, namun inti dari pekerjaan tersebut tetap harus dikendalikan oleh manusia.

Mitos Kiamat Radiologi dan Realitas Data

Untuk memperkuat argumennya, Huang menggunakan contoh kasus di bidang radiologi yang sangat relevan. Ia mengingatkan kembali pada prediksi Geoffrey Hinton, salah satu bapak baptis AI, yang pada tahun 2016 pernah menyarankan mahasiswa kedokteran untuk menghindari spesialisasi radiologi. Kala itu, Hinton memprediksi bahwa algoritma akan segera menggantikan peran radiolog dalam membaca hasil pencitraan medis.

Namun, realitas yang terjadi hampir satu dekade kemudian justru berbanding terbalik. Meskipun asisten AI kini mampu mengotomatisasi banyak tugas pembacaan citra medis, jumlah dokter radiologi yang berpraktik saat ini justru jauh lebih banyak dibandingkan saat prediksi Hinton dibuat. Data terbaru tahun 2025 menunjukkan tren yang mengejutkan:

  • Program pelatihan residen radiologi diagnostik di Amerika Serikat menawarkan 1.208 posisi, sebuah rekor tertinggi dalam sejarah.
  • Jumlah posisi ini meningkat 4% dibandingkan tahun 2024.
  • Tingkat kekosongan posisi di bidang ini juga mencapai puncaknya, menandakan tingginya permintaan pasar.
  • Radiologi menjadi spesialisasi medis dengan bayaran tertinggi kedua di AS pada tahun 2025, dengan rata-rata pendapatan tahunan mencapai USD 520.000 (sekitar Rp 8,4 miliar).
  • Gaji rata-rata ini melonjak lebih dari 48% dibandingkan tahun 2015.

Mengapa paradoks ini bisa terjadi? Huang menjelaskan bahwa nilai inti dari seorang radiolog bukanlah sekadar “membaca gambar”—sebuah tugas yang memang bisa dilakukan mesin. Nilai sesungguhnya terletak pada diagnosis penyakit, panduan pengobatan, dan riset klinis. Ketika AI membantu dokter menganalisis lebih banyak gambar dengan presisi tinggi dan cepat, rumah sakit justru dapat melayani lebih banyak pasien dan meningkatkan pendapatan. Hal ini secara otomatis menciptakan alasan ekonomi yang kuat untuk merekrut lebih banyak dokter spesialis, bukan memecatnya.

Produktivitas Memicu Ekspansi, Bukan Pengurangan

Huang menegaskan bahwa logika yang terjadi di dunia medis ini berlaku untuk hampir seluruh sektor ekonomi. Ia mengambil contoh dirinya sendiri. “Sebagian besar waktu saya dihabiskan untuk mengetik,” akunya. Namun, mengetik hanyalah sebuah tugas, bukan nilai inti dari pekerjaannya sebagai CEO. Kehadiran alat penulisan otomatis tidak akan menghilangkan posisi eksekutif, melainkan memperluas kapasitas kerja mereka.

“Jika ada yang bisa menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas mengetik saya secara otomatis, saya akan sangat berterima kasih. Itu sangat membantu,” ujar Huang. “Tapi itu tidak akan membuat saya lebih santai. Justru sebaliknya, saya akan menjadi lebih sibuk karena saya bisa menangani lebih banyak pekerjaan.”

Kerangka berpikir “Tugas vs Nilai Inti” ini semakin relevan di sektor pekerjaan berbasis pengetahuan (knowledge work). Alat-alat canggih kini mempercepat pembuatan draf, ringkasan konten, hingga pembuatan kode pemrograman. Huang mencontohkan bidang rekayasa perangkat lunak. Meskipun agen AI dapat memangkas waktu penulisan kode secara signifikan, hal ini justru meningkatkan permintaan terhadap kemampuan pemecahan masalah (problem solving) dan inovasi.

Di Nvidia sendiri, meskipun para insinyur telah menggunakan alat pemrograman AI seperti Cursor secara luas, perusahaan tetap melakukan perekrutan besar-besaran. Alasannya logis: peningkatan produktivitas memungkinkan perusahaan untuk mengejar lebih banyak ide inovatif, yang pada akhirnya mendorong pertumbuhan pendapatan dan menyediakan anggaran untuk merekrut lebih banyak talenta baru. Ini mirip dengan bagaimana industri manufaktur mengadopsi robot humanoid untuk efisiensi, namun tetap membutuhkan pengawasan manusia.

Sektor hukum juga menjadi sorotan Huang. Membaca dan menyusun draf kontrak adalah tugas yang sarat dokumen, namun nilai inti seorang pengacara adalah membela kepentingan klien dan menyelesaikan sengketa. Meskipun AI mempercepat proses administrasi, keputusan strategis dan tanggung jawab hukum tetap membutuhkan penilaian manusia yang berpengalaman.

Bahkan, logika ini menyentuh industri jasa seperti restoran. Tugas seorang pelayan mungkin mencatat pesanan, tetapi nilai intinya adalah memastikan pelanggan mendapatkan pengalaman bersantap yang menyenangkan. “Meskipun AI mengambil alih pencatatan atau pengantaran pesanan, tugas pelayan tetap membantu kita mendapatkan pengalaman konsumsi yang baik,” tambah Huang. Mereka hanya akan menyesuaikan fokus kerja mereka ke aspek hospitality yang lebih personal.

Jensen Huang tidak menampik bahwa teknologi ini akan membawa guncangan. Perubahan adalah hal yang pasti. Namun, ia menekankan bahwa fakta di lapangan menunjukkan AI tidak memicu pengangguran massal, melainkan mendesain ulang fungsi pekerjaan. Bagi para pekerja, pesan ini menjadi peringatan sekaligus peluang: jika pekerjaan Anda hanya berkutat pada tugas repetitif, AI adalah ancaman nyata. Namun, jika fokus Anda adalah pada hasil akhir, penyelesaian masalah, dan kreativitas, teknologi ini akan menjadi mitra yang membuat Anda lebih produktif, bukan menggantikan Anda.

Desain AI5 Rampung, Elon Musk Hidupkan Lagi Proyek Dojo 3

0

Telset.id – CEO Tesla, Elon Musk, kembali membuat manuver mengejutkan di industri teknologi. Melalui unggahan di platform X (sebelumnya Twitter) pada Minggu pagi (19/1/2026), Musk mengumumkan bahwa Tesla secara resmi memulai kembali pengembangan proyek superkomputer Dojo 3. Keputusan ini diambil tepat setelah desain chip AI5 dinyatakan rampung, menandai babak baru dalam ambisi otonom raksasa kendaraan listrik tersebut.

Langkah ini seolah menjadi plot twist bagi para pengamat industri. Pasalnya, nasib proyek superkomputer ini sempat berada di ujung tanduk tahun lalu. Kini, dengan selesainya desain Chip 3nm (AI5), Musk tampaknya kembali percaya diri untuk tancap gas. Dalam pengumumannya, ia menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah mengejar ketertinggalan dan mempercepat kemampuan komputasi untuk jaringan saraf tiruan kendaraan mereka.

Tidak hanya sekadar pengumuman, Musk juga langsung membuka keran rekrutmen. Dalam gaya khasnya yang to the point, ia memposting “lowongan kerja” bagi para insinyur berbakat yang tertarik terlibat dalam pengembangan chip dengan volume produksi tertinggi di dunia. Syaratnya pun terbilang unik dan jauh dari birokrasi HRD pada umumnya.

Syarat Masuk Tim Dojo: Email Langsung ke Musk

Bagi mereka yang berminat bergabung dengan tim elit Dojo 3, Musk tidak meminta surat lamaran yang bertele-tele. Ia meminta pelamar untuk mengirimkan email yang berisi tiga poin utama yang menjelaskan masalah teknis paling sulit yang pernah mereka pecahkan. Pendekatan pragmatis ini menunjukkan bahwa Tesla membutuhkan pemecah masalah, bukan sekadar pemegang gelar akademis.

Langkah agresif ini menegaskan keseriusan Musk untuk kembali terjun total ke Dunia AI. Padahal, narasi yang beredar sebelumnya sangat kontradiktif dengan situasi hari ini. Perubahan arah kebijakan yang cepat ini memang sudah menjadi “makanan sehari-hari” bagi mereka yang mengikuti gaya kepemimpinan Musk di Tesla maupun SpaceX.

Sempat “Divonis Mati” Tahun Lalu

Keputusan untuk menghidupkan kembali Dojo 3 menjadi menarik jika melihat ke belakang, tepatnya pada Agustus 2025. Saat itu, santer terdengar kabar bahwa Tesla telah menghentikan total proyek superkomputer Dojo. Laporan menyebutkan bahwa penanggung jawab proyek tersebut akan hengkang, dan Musk sendiri yang memerintahkan penutupan proyek.

Kala itu, alasan Musk terdengar sangat logis dan pragmatis. Ia sempat membalas komentar netizen dengan menyatakan bahwa memecah sumber daya untuk mengembangkan dua desain chip AI yang berbeda secara bersamaan adalah tindakan yang “tidak masuk akal”. Saat itu, Tesla memilih untuk memfokuskan seluruh upaya pada chip AI5 dan AI6 yang diklaim memiliki performa inferensi luar biasa dan kemampuan pelatihan yang mumpuni.

Namun, dalam hitungan bulan, logika “tidak masuk akal” tersebut tampaknya sudah tidak berlaku. Dengan desain AI5 yang kini sudah final, Musk melihat peluang untuk kembali mendiversifikasi kekuatan komputasinya melalui Dojo 3. Apakah ini bentuk inkonsistensi atau adaptasi strategi yang jenius? Hanya waktu dan hasil kinerja fitur Full Self-Driving (FSD) Tesla yang bisa menjawabnya.

Elon Musk: Robot Optimus Bakal Bikin Orang Lupa Mobil Tesla

0

Telset.id – Di tengah tantangan global penurunan penjualan kendaraan listrik dan hambatan regulasi fitur otonom, Elon Musk kembali melontarkan visi futuristik yang kontroversial. CEO Tesla tersebut mengisyaratkan bahwa proyek robot Optimus akan menjadi pilar utama perusahaan, bahkan berpotensi membuat publik melupakan sejarah Tesla sebagai produsen mobil.

Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap dinamika pasar yang menekan bisnis inti otomotif Tesla. Musk kini tampak agresif mengarahkan narasi perusahaan menuju pengembangan robotika canggih, sebuah langkah pivot yang dinilai banyak pengamat sebagai upaya “menciptakan ulang masa depan” bagi raksasa teknologi tersebut.

Dalam laporan terbaru, Musk sesumbar bahwa transformasi ini akan melambungkan valuasi Tesla hingga mencapai angka fantastis, yakni USD 25 triliun (sekitar Rp 174.490 triliun). Ia bersikeras bahwa sebagian besar nilai kapitalisasi pasar tersebut nantinya akan disumbangkan oleh divisi robotika, bukan lagi dari penjualan Model 3 atau Cybertruck yang selama ini menjadi tulang punggung pendapatan.

Ambisi Mengubur Sejarah Mobil Listrik

Keyakinan Musk mengenai dominasi robot humanoid ini mencapai titik ekstrem dalam sebuah interaksi dengan investor Jason Calacanis. Dalam sebuah konferensi baru-baru ini, Calacanis melontarkan prediksi provokatif bahwa di masa depan, tidak ada yang akan mengingat Tesla pernah memproduksi mobil.

Menurut Calacanis, warisan terbesar perusahaan tersebut adalah keberhasilan memproduksi 10 miliar unit robot Optimus. Menanggapi prediksi tersebut, Musk memberikan jawaban singkat namun penuh arti: “Sangat mungkin benar.”

Respons ini menegaskan betapa seriusnya Musk mempertaruhkan masa depan Tesla pada kesuksesan robot humanoid tersebut. Hal ini sejalan dengan paket kompensasi fantastis senilai USD 1 triliun untuk Musk, yang salah satu syarat pencairannya mewajibkan Tesla berhasil menyebarkan 1 juta unit robot Optimus. Musk sendiri sebelumnya telah menjanjikan bahwa target ambisius ini bisa mulai terealisasi paling cepat pada tahun 2030.

Realita Teknis yang Belum Matang

Meski narasi yang dibangun terdengar menjanjikan bagi para pemegang saham, realitas di lantai produksi menunjukkan cerita yang berbeda. Proyek Optimus masih dihadapkan pada segudang masalah teknis yang belum terpecahkan. Laporan lapangan menunjukkan bahwa kemajuan pengembangan robot ini jauh lebih lambat dari jadwal agresif yang ditetapkan Musk.

Salah satu indikator ketertinggalan tersebut adalah kegagalan Tesla mencapai target produksi internal. Perusahaan sebelumnya menargetkan produksi 5.000 unit robot Optimus pada tahun lalu, namun angka tersebut gagal tercapai akibat berbagai hambatan dalam pembangunan lini produksi.

Selain masalah kuantitas, kualitas fungsional robot juga masih menjadi tanda tanya besar. Materi demonstrasi resmi yang dirilis Tesla kerap kali dinilai kurang meyakinkan oleh para ahli robotika. Dalam salah satu video, gerakan robot terlihat masih kesulitan untuk sekadar berjalan stabil di lorong kantor yang datar dan tanpa hambatan.

Kritik tajam juga mengarah pada ketergantungan Tesla terhadap operasi jarak jauh (teleoperation). Hingga saat ini, demonstrasi kemampuan robot Optimus sering kali masih melibatkan kendali manusia di balik layar. Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan otonom penuh—di mana robot dapat beroperasi mandiri tanpa intervensi manusia—masih jauh dari kata matang.

Kesenjangan antara janji manis valuasi puluhan triliun dolar dengan kemampuan teknis robot yang masih tertatih-tatih ini menjadi sorotan tajam. Apakah Optimus benar-benar akan menjadi revolusi industri berikutnya, atau sekadar alat untuk mendongkrak harga saham di tengah lesunya pasar mobil listrik? Waktu yang akan menjawab.

Tembus 6.000 Pesanan, Chery Fengyun T9L Siap Meluncur Pasca Imlek

0

Telset.id – Chery kembali menunjukkan taringnya di pasar kendaraan energi baru (NEV). SUV teranyar mereka, Chery Fengyun T9L, berhasil mencatatkan angka pemesanan yang cukup fantastis sesaat setelah gerbang pemesanan dibuka. Model yang diposisikan sebagai “Big 5-Seater SUV” ini tampaknya sukses menarik perhatian konsumen yang mencari kombinasi ruang lapang dan efisiensi bahan bakar.

Eksekutif Wakil Presiden Chery Automobile, Li Xueyong, secara resmi mengumumkan bahwa pemesanan blind booking untuk Chery Fengyun T9L telah menembus angka 6.000 unit hanya dalam kurun waktu 24 jam pertama. Angka ini menjadi indikator awal yang positif bagi Chery, mengingat kompetisi di segmen SUV hybrid saat ini sangatlah ketat.

Berdasarkan informasi resmi, mobil ini dijadwalkan akan meluncur secara resmi ke pasar setelah perayaan Tahun Baru Imlek. Dengan dimensi bongsor dan teknologi hybrid generasi terbaru, Fengyun T9L tampaknya disiapkan untuk mengganggu dominasi pemain lama di kelasnya. Bagi Anda yang mengikuti perkembangan Penjualan Global kendaraan listrik dan hybrid, langkah agresif Chery ini patut diantisipasi.

Dimensi Bongsor dengan Kenyamanan Kelas Atas

Sesuai dengan penamaannya yang mengusung embel-embel “L”, Chery Fengyun T9L menawarkan dimensi yang cukup intimidatif namun fungsional. Mobil ini memiliki ukuran panjang 4.870 mm, lebar 1.930 mm, dan tinggi 1.710 mm. Jarak sumbu roda atau wheelbase mencapai 2.920 mm, yang secara teori menjanjikan stabilitas berkendara dan ruang kabin yang luas.

Salah satu nilai jual utama yang digadang-gadang adalah ruang kaki baris kedua yang mencapai 1.037 mm. Chery mengklaim ruang ini sangat lega untuk ukuran SUV 5-penumpang. Tak hanya itu, kenyamanan penumpang depan juga diperhatikan dengan hadirnya fitur kursi zero gravity ganda, yang diklaim sebagai satu-satunya di kelasnya. Ini tentu menjadi tawaran menarik, terutama jika dibandingkan dengan Update Tesla Model Y yang baru-baru ini juga fokus pada konfigurasi kursi.

Untuk menunjang suasana kabin yang mewah, Chery menyematkan sistem pencahayaan ambient light bertema “mengalir” dan sistem audio premium. Tidak tanggung-tanggung, terdapat 23 speaker yang siap memanjakan telinga penumpang, sebuah spesifikasi yang biasanya hanya ditemukan pada kendaraan premium Eropa.

Performa Buas Kunpeng AI Super Hybrid

Di balik kap mesinnya, Chery Fengyun T9L menggendong teknologi powertrain terbaru mereka, yakni Kunpeng AI Super Hybrid CDM6.0. Sistem ini mengandalkan mesin 1.5T Kunpeng Super Hybrid yang mampu menghasilkan tenaga puncak 115 kW dan torsi 220 Nm. Mesin konvensional ini dikawinkan dengan sistem transmisi DHT260 (Dedicated Hybrid Transmission).

Motor listriknya sendiri memiliki spesifikasi yang cukup mengerikan untuk sebuah SUV keluarga. Dengan tenaga puncak 260 kW dan torsi 330 Nm, mobil ini mampu melesat dari 0 hingga 100 km/jam hanya dalam kisaran waktu 5 detik untuk varian penggerak empat roda (AWD). Performa ini menempatkannya sejajar dengan beberapa SUV performa tinggi lainnya, bahkan bisa bersaing dengan SUV Listrik keluaran terbaru.

Efisiensi juga menjadi sorotan utama. Dalam kondisi baterai depleted (habis), konsumsi bahan bakarnya diklaim sangat irit, yakni hanya 3,9 liter per 100 km. Sementara untuk kemampuan jelajah murni listrik (EV Mode), mobil ini mampu menempuh jarak hingga 230 km menurut standar CLTC. Hal ini dimungkinkan berkat penggunaan baterai khusus hybrid “Rhino Square Blade” dengan kepadatan energi sel mencapai 180 Wh/kg.

Kecerdasan Buatan dan Fitur Keselamatan

Beralih ke sektor teknologi, Chery tidak main-main dalam membenamkan fitur cerdas pada Fengyun T9L. Mobil ini dilengkapi dengan sistem bantuan pengemudi tingkat lanjut (ADAS) bernama Falcon 700. Sistem ini didukung oleh daya komputasi yang sangat besar, mencapai 560 TOPS. Angka ini mengindikasikan kemampuan pemrosesan data yang sangat cepat untuk fitur otonom dan keselamatan aktif.

Di bagian kokpit, pengalaman pengguna didukung oleh chip kabin pintar seri 8678 yang dibangun dengan fabrikasi 3nm. Chipset canggih ini memungkinkan pengoperasian sistem infotainment yang mulus dan mendukung fitur “Task Cube” untuk kustomisasi kebutuhan pengguna yang lebih personal. Integrasi Teknologi AI yang mendalam pada sistem kendaraan ini menjadi bukti bahwa pabrikan Tiongkok semakin serius menggarap aspek software-defined vehicle.

Dengan kombinasi spesifikasi teknis yang tinggi, ruang kabin lapang, dan teknologi cerdas, Chery Fengyun T9L tampaknya siap menjadi penantang serius di tahun 2026. Tingginya angka pemesanan awal menjadi bukti bahwa pasar merespons positif paket lengkap yang ditawarkan Chery, meskipun harga resminya mungkin baru akan diungkap secara detail saat peluncuran pasca Imlek nanti.

TSMC Kebut 4 Pabrik Advanced Packaging Baru, Demi Penuhi Dahaga Chip AI

0

Telset.id – Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) tampaknya tidak main-main dalam merespons ledakan permintaan kecerdasan buatan (AI) global. Raksasa semikonduktor ini dilaporkan tengah bersiap untuk membangun empat fasilitas advanced packaging baru di Taiwan tahun ini. Langkah agresif ini diambil untuk memastikan kapasitas produksi mereka mampu mengimbangi kebutuhan klien yang terus melonjak, terutama di sektor chip AI yang haus akan teknologi pengemasan canggih.

Kabar ini mencuat setelah laporan dari media lokal Taiwan menyebutkan bahwa keputusan strategis ini akan segera diumumkan secara resmi. Di tengah persaingan teknologi yang kian sengit, TSMC seolah ingin menegaskan posisinya sebagai tulang punggung industri semikonduktor dunia, tidak hanya dalam hal fabrikasi wafer, tetapi juga dalam teknologi pengemasan tingkat lanjut yang kini menjadi kunci performa chip AI.

Ekspansi Masif di Dua Lokasi Strategis

Berdasarkan informasi yang dihimpun, rencana pembangunan empat fasilitas baru ini bukanlah sekadar wacana. TSMC dilaporkan telah memetakan lokasi spesifik untuk ekspansi ini. Dua fasilitas direncanakan akan dibangun di Chiayi Science Park sebagai bagian dari pengembangan tahap kedua (Phase 2). Sementara itu, dua fasilitas lainnya akan ditempatkan di Southern Taiwan Science Park, yang masuk dalam pengembangan tahap ketiga (Phase 3).

Pemilihan lokasi ini dinilai strategis mengingat ekosistem semikonduktor di wilayah selatan Taiwan yang sudah cukup matang. Dengan menempatkan fasilitas advanced packaging berdekatan dengan fasilitas fabrikasi yang ada, TSMC dapat meningkatkan efisiensi rantai pasok internal mereka. Keputusan ini diperkirakan akan diumumkan secara resmi pada pekan ini, menandakan urgensi perusahaan dalam mengeksekusi rencana tersebut.

Langkah ini juga sejalan dengan tren global di mana investasi AI terus meningkat tajam, mendorong kebutuhan akan infrastruktur komputasi yang lebih kuat. TSMC menyadari bahwa tanpa kapasitas pengemasan yang memadai, keunggulan mereka dalam memproduksi chip dengan node proses terkecil tidak akan terserap maksimal oleh pasar.

Advanced Packaging: Mesin Uang Baru TSMC

Dalam laporan pendapatan kuartalan terbarunya, manajemen TSMC memberikan sinyal kuat mengenai pentingnya segmen advanced packaging bagi kesehatan finansial perusahaan. Tercatat, teknologi pengemasan canggih ini telah menyumbang sekitar 10% dari total pendapatan perusahaan pada tahun 2025. Angka ini mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan total pendapatan raksasa tersebut, namun tingkat pertumbuhannya adalah cerita yang berbeda.

Manajemen TSMC menegaskan bahwa laju pertumbuhan pendapatan dari sektor advanced packaging diprediksi akan melampaui rata-rata pertumbuhan perusahaan secara keseluruhan. Ini mengindikasikan bahwa margin dan permintaan di sektor ini sedang berada dalam tren yang sangat positif. Hal ini wajar, mengingat chip AI modern seperti yang digunakan oleh NVIDIA atau AMD sangat bergantung pada teknologi pengemasan seperti CoWoS (Chip-on-Wafer-on-Substrate) untuk mencapai performa tinggi.

Untuk mendukung ambisi tersebut, TSMC juga telah mengalokasikan anggaran belanja modal (Capex) yang signifikan. Tahun ini, sekitar 10% hingga 20% dari total belanja modal perusahaan akan digelontorkan khusus untuk advanced packaging, pembuatan masker (mask manufacturing), dan keperluan lainnya. Alokasi dana jumbo ini menunjukkan betapa seriusnya TSMC dalam mengatasi “bottleneck” atau sumbatan produksi yang selama ini terjadi di tahap pengemasan akhir.

Sinkronisasi Kapasitas Hulu dan Hilir

Salah satu alasan paling krusial di balik ekspansi mendadak ini adalah kebutuhan untuk menyelaraskan kapasitas produksi bagian depan (front-end) dengan bagian belakang (back-end). TSMC memproyeksikan bahwa gelombang baru kapasitas produksi untuk proses fabrikasi canggih (advanced nodes) akan mulai beroperasi secara massal antara tahun 2027 hingga 2029.

Jika kapasitas advanced packaging tidak ditingkatkan mulai sekarang, akan terjadi ketimpangan yang parah. Bayangkan jika TSMC mampu memproduksi jutaan wafer chip canggih, namun tidak memiliki fasilitas yang cukup untuk mengemasnya menjadi produk akhir yang siap pakai. Oleh karena itu, penambahan fasilitas di Chiayi dan Tainan ini adalah langkah antisipatif untuk memastikan koordinasi yang mulus antara produksi wafer dan pengemasan akhir.

Strategi ini juga krusial mengingat kompleksitas chip masa depan. Misalnya, transisi ke teknologi chip 2nm yang dikabarkan akan segera hadir, tentu membutuhkan teknik pengemasan yang jauh lebih presisi dan rumit. Dengan membangun fasilitasnya sekarang, TSMC memastikan infrastruktur mereka siap ketika teknologi fabrikasi 2nm tersebut mulai diproduksi massal.

Lansekap Kompetisi dan Teknologi Masa Depan

Langkah TSMC ini tidak berdiri sendiri dalam ruang hampa. Industri semikonduktor saat ini sedang berlomba-lomba mengembangkan teknologi pengemasan alternatif. Berdasarkan informasi terkait yang beredar, TSMC dan beberapa vendor lain juga sedang mempercepat tata letak teknologi FOPLP (Fan-Out Panel Level Packaging). Bahkan, dikabarkan bahwa tingkat keberhasilan (yield rate) uji coba produksi teknologi ini telah mencapai 90%.

Selain itu, persaingan juga datang dari pemain lain. Amkor, raksasa uji dan pengemasan (OSAT), juga dilaporkan sedang memperluas proyek mereka di Arizona hingga hampir dua kali lipat, yang diposisikan untuk mendukung TSMC dan Intel. Namun, TSMC tampaknya lebih memilih untuk memegang kendali penuh atas teknologi kunci mereka, terutama untuk klien-klien premium.

Menariknya, ada juga desas-desus mengenai ketertarikan perusahaan non-tradisional seperti SpaceX yang mulai melirik ranah advanced packaging semikonduktor. Di sisi lain, TSMC juga dikabarkan sedang menguji coba proses WMCM untuk mengantisipasi transformasi pengemasan pada SoC Apple A20 di masa depan. Semua dinamika ini memaksa TSMC untuk terus berinvestasi besar-besaran agar tidak tertinggal, bahkan ketika mereka sedang berada di posisi puncak.

Pembangunan empat pabrik baru ini menjadi bukti bahwa era “Hukum Moore” tidak lagi hanya bergantung pada seberapa kecil transistor yang bisa dibuat, tetapi juga seberapa canggih cara kita menyatukan komponen-komponen tersebut. Bagi TSMC, investasi chip di sektor pengemasan bukan lagi sekadar opsi pelengkap, melainkan pilar utama bisnis mereka di dekade mendatang.

Dengan target operasional yang ketat dan permintaan pasar yang tidak kenal ampun, tahun ini akan menjadi periode sibuk bagi tim konstruksi dan teknik TSMC. Apakah keempat fasilitas ini akan selesai tepat waktu untuk menyambut gelombang AI berikutnya? Industri teknologi dunia tentu akan mengawasi perkembangannya dengan seksama.