Beranda blog Halaman 95

Indonesia Targetkan PLTN Pertama Beroperasi 2032 untuk Net Zero Emission

0

Telset.id – Pemerintah Indonesia menargetkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertama akan beroperasi pada 2032 sebagai bagian dari strategi mencapai target emisi nol bersih (net zero emission) pada 2060. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, Yuliot Tanjung, dalam Rapat Eksekutif Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) yang digelar Senin (27/10).

Yuliot menegaskan bahwa tenaga nuklir kini dipandang sebagai opsi strategis untuk memastikan ketahanan dan keberlanjutan energi nasional. “PLTN tidak lagi dianggap sebagai pilihan terakhir, namun menjadi bagian krusial dalam perencanaan energi nasional,” ujar Yuliot dalam pernyataannya. Kebijakan ini sejalan dengan rencana pembangunan jangka panjang Indonesia serta regulasi pemerintah terbaru mengenai kebijakan energi nasional.

Berdasarkan peta jalan pemerintah, tenaga nuklir diproyeksikan menyumbang 5 persen dalam bauran energi Indonesia pada 2030 dan meningkat menjadi 11 persen pada 2060. Target ini menunjukkan komitmen serius Indonesia dalam transisi energi bersih sekaligus mengatasi tantangan krisis iklim global.

Peran Strategis Nuklir dalam Transisi Energi

Perubahan paradigma energi nuklir dari opsi terakhir menjadi komponen utama strategi energi nasional mencerminkan perkembangan tren global. Beberapa negara maju telah mengintegrasikan energi nuklir dalam transisi energi mereka, termasuk China yang berhasil menggeser AS dalam laju pengembangan energi nuklir dengan 10 reaktor baru. Bahkan, inovasi pengembangan energi nuklir telah mencapai tahap yang lebih ambisius dengan rencana AS membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di Bulan untuk mendukung eksplorasi ruang angkasa.

Di sektor teknologi, perusahaan raksasa seperti Google telah mengambil langkah strategis dengan membangun tiga pembangkit nuklir baru khusus untuk kebutuhan data center AI. Langkah ini menunjukkan bagaimana energi nuklir dianggap sebagai solusi andal untuk memenuhi kebutuhan listrik yang besar dan stabil, terutama untuk infrastruktur teknologi masa depan.

Tantangan dan Langkah Mitigasi Pengembangan PLTN

Meski prospek pengembangan PLTN di Indonesia menjanjikan, Yuliot mengakui terdapat sejumlah tantangan signifikan yang harus diatasi. Tantangan utama meliputi aspek pendanaan yang besar, waktu pembangunan yang panjang, serta masalah keamanan dan penerimaan masyarakat. Pembangunan PLTN memerlukan investasi awal yang sangat besar dan waktu konstruksi yang bisa mencapai puluhan tahun.

Dalam menghadapi tantangan keamanan, pemerintah berkomitmen memperkuat langkah mitigasi, pengawasan regulasi, dan kerja sama internasional. Langkah ini penting mengingat fasilitas nuklir di berbagai negara pernah menjadi sasaran serangan siber. Pemerintah juga akan memastikan implementasi standar keselamatan tertinggi dan pengawasan ketat selama operasional PLTN.

Pengintegrasian teknologi modern seperti kecerdasan artifisial juga menjadi pertimbangan penting. Pengalaman penggunaan AI pertama kali di pembangkit nuklir AS dapat menjadi pembelajaran berharga bagi Indonesia dalam mengoptimalkan operasional dan keamanan PLTN di masa depan.

Implementasi PLTN di Indonesia akan menjadi tonggak sejarah dalam transformasi energi nasional. Keberhasilan proyek ini tidak hanya akan mendukung target net zero emission 2060, tetapi juga membuktikan kemampuan Indonesia dalam mengadopsi teknologi energi bersih mutakhir. Perkembangan lebih lanjut mengenai persiapan teknis, lokasi pembangunan, dan skema pendanaan PLTN pertama Indonesia diharapkan dapat diumumkan dalam waktu dekat.

iPhone 20 Bakal Hadir dengan 6 Fitur Inovatif di 2027

0

Telset.id – Apple dikabarkan tengah mempersiapkan gebrakan besar untuk merayakan dua dekade kehadiran iPhone. Menjelang peringatan 20 tahun pada 2027, perusahaan asal Cupertino itu berencana meluncurkan iPhone 20 dengan enam fitur inovatif yang mengusung desain tanpa bezel, layar melengkung, hingga chip 2 nanometer.

Rencana ini mengikuti jejak iPhone X yang diluncurkan pada peringatan 10 tahun iPhone dengan menghadirkan perubahan signifikan seperti FaceID dan desain notch. Menurut laporan Macrumors, Apple menargetkan realisasi visi jangka panjangnya untuk menciptakan perangkat yang tampak seperti “lempengan kaca” tanpa potongan.

Analis dan pembocor teknologi memprediksi bahwa momen spesial ini akan diwarnai dengan transformasi mendasar pada desain dan kemampuan teknis iPhone. Peluncuran iPhone 20 diperkirakan akan terjadi pada September 2027, mengikuti pola rilis tahunan Apple yang biasanya jatuh di bulan tersebut.

Transformasi Desain dan Layar

Apple dikabarkan sedang mengembangkan layar yang melengkung ke bawah di keempat sisinya untuk menciptakan pengalaman visual tanpa bingkai. Desain tanpa bezel ini akan membuat iPhone 20 tampak seperti lempengan kaca mulus, meski berpotensi membatasi penggunaan berbagai jenis casing.

Untuk mendukung daya tahan perangkat dengan desain yang lebih minimalis ini, Apple telah mulai meningkatkan ketahanan iPhone melalui penerapan lapisan Ceramic Shield 2 yang lebih tahan terhadap goresan dan kerusakan. Inovasi material ini menjadi fondasi penting untuk realisasi desain futuristik.

Pengembangan layar juga mencakup rencana adopsi panel OLED yang lebih terang dan tipis dari Samsung dengan teknologi Color Filter on Encapsulation (COE). Teknologi ini menghilangkan lapisan polarisasi dari panel OLED, memungkinkan filter warna langsung diaplikasikan pada lapisan enkapsulasi layar.

Keunggulan pendekatan COE terletak pada pengurangan ketebalan keseluruhan tumpukan layar, peningkatan kecerahan melalui penetrasi cahaya yang lebih optimal, dan efisiensi daya yang lebih baik. Inovasi display ini sejalan dengan perkembangan teknologi layar lipat yang juga sedang dikembangkan Apple.

Penyempurnaan Teknologi Pengenal Wajah dan Kamera

Untuk mewujudkan desain kaca sepenuhnya, Apple perlu menghilangkan Dynamic Island dan lubang kamera depan. Rencana implementasi Face ID di bawah layar masih menjadi perdebatan di kalangan analis. Ross Young, analis layar ternama, menyatakan bahwa Apple tidak akan menghadirkan Fitur Face ID di bawah layar untuk iPhone 2027.

Namun, pembocor lain memiliki pandangan berbeda dan meyakini teknologi tersebut mungkin saja terealisasi. Ketidakpastian ini mencerminkan kompleksitas teknis yang dihadapi Apple dalam mengintegrasikan sensor canggih tanpa mengorbankan estetika desain.

Di sektor kamera, Apple dikabarkan akan mengadopsi sensor HDR khusus untuk rentang dinamis yang lebih baik pada sistem kamera Fusion. Peningkatan ini akan melengkapi penyempurnaan yang direncanakan untuk model iPhone 18, termasuk bukaan lensa variabel.

Sensor yang ditingkatkan ini akan mampu menangkap detail dalam sorotan terang dan bayangan gelap dalam satu bingkai, dengan rentang dinamis mencapai 20 stop. Kemampuan ini setara dengan kamera sinematik kelas atas, menandakan lompatan signifikan dalam fotografi mobile.

Perkembangan kamera ini menjadi bagian penting dari strategi Apple mempertahankan posisinya di pasar global, termasuk di tengah tantangan seperti penurunan penjualan iPhone di China yang terjadi pada kuartal kedua 2024.

Inovasi Chip dan Modem

Apple berencana menghadirkan chip 2 nanometer generasi kedua khusus untuk perayaan 20 tahun iPhone. Transisi ke ukuran chip yang lebih kecil, cepat, dan efisien diperkirakan akan dimulai pada jajaran iPhone 18, dengan iPhone 20 menggunakan chip 2 nanometer generasi kedua.

Model iPhone 18 diperkirakan akan menggunakan chip A20, sehingga model iPhone 20 kemungkinan besar akan ditenagai oleh chip A21. Pembuat chip Apple, TSMC, sudah mengerjakan node 1,4 nanometer, namun teknologi ini belum akan siap hingga paling cepat 2028.

Di sektor konektivitas, Apple menargetkan untuk memiliki modem rancangan sendiri yang mengungguli modem Qualcomm pada 2027. Target ini bertepatan dengan tahun peluncuran iPhone ulang tahun ke-20. Perusahaan telah menggunakan modem C1 dan C1X di iPhone 16e dan iPhone Air, dengan rencana ekspansi ke seluruh jajaran iPhone.

Modem rancangan Apple diklaim jauh lebih hemat daya dibandingkan modem Qualcomm, berkat kemampuan Apple dalam mengintegrasikan berbagai komponen perangkat keras secara lebih optimal di dalam iPhone. Pengembangan modem sendiri ini juga sejalan dengan strategi diversifikasi produksi Apple, termasuk rencana 50% produksi iPhone yang akan “Made in India” pada 2027.

Dengan semua inovasi yang direncanakan, iPhone 20 tidak hanya menjadi simbol perayaan dua dekade revolusi smartphone, tetapi juga penanda babak baru dalam evolusi teknologi mobile. Keberhasilan realisasi fitur-fitur ini akan menentukan posisi Apple dalam persaingan pasar smartphone global yang semakin ketat.

Galaxy S26 Bakal Jadi Smartphone Pertama dengan Bluetooth 6.1

0

Telset.id – Bayangkan jika smartphone Anda bisa terhubung ke perangkat nirkabel dengan kecepatan lebih tinggi, keamanan lebih ketat, dan efisiensi daya yang lebih baik. Itulah yang mungkin akan dihadirkan Samsung Galaxy S26 series, yang menurut bocoran terbaru bisa menjadi lini smartphone pertama di dunia yang mengusung teknologi Bluetooth 6.1.

Sebuah listing Bluetooth SIG yang baru-baru ini terungkap mengindikasikan bahwa chip Exynos S6568 yang baru disertifikasi akan menjadi modul konektivitas yang mendukung standar Bluetooth terbaru ini. Ini bukan sekadar upgrade minor, melainkan lompatan signifikan dalam cara perangkat Galaxy Anda berkomunikasi dengan earbuds, wearable, dan perangkat smart home di sekeliling Anda.

Lalu, apa sebenarnya yang membuat Bluetooth 6.1 begitu istimewa? Dan mengapa Samsung begitu serius mengintegrasikannya ke dalam flagship masa depan mereka? Mari kita selami lebih dalam analisis eksklusif Telset.id ini.

Exynos S6568: Jantung Konektivitas Galaxy S26

Bocoran dari Bluetooth SIG mengungkap bahwa Exynos S6568 berperan sebagai modul konektivitas yang menangani Bluetooth dan Wi-Fi bersama dengan prosesor aplikasi Exynos. Yang menarik, chip ini secara spesifik disebutkan mendukung Bluetooth 6.1, menjadikannya salah satu komponen pertama di industri yang siap mengadopsi standar nirkabel terbaru ini.

Namun, ada sedikit teka-teki dalam narasi ini. Listing tersebut menyebutkan bahwa “S6568 digunakan bersama dengan prosesor aplikasi Exynos yang kompatibel untuk membangun solusi BT + Wi-Fi lengkap yang mendukung Bluetooth 6.1.” Kalimat ini membuat kita bertanya-tanya: bagaimana dengan varian Galaxy S26 yang menggunakan Snapdragon 8 Elite Gen 5?

Untuk diketahui, Snapdragon 8 Elite Gen 5 saat ini hanya mendukung Bluetooth 6.0, bukan 6.1. Ini berarti kemungkinan besar hanya unit dengan chipset Exynos yang akan menikmati keunggulan Bluetooth 6.1. Seperti yang kita ketahui dari pola sebelumnya, Samsung biasanya menggunakan Exynos di sebagian besar wilayah global, sementara Snapdragon dipasang untuk pasar AS dan China.

Bluetooth 6.1: Bukan Sekadar Angka yang Berubah

Bluetooth 6.1 secara resmi diperkenalkan pada Mei 2025, dan membawa beberapa peningkatan praktis yang signifikan dibandingkan pendahulunya. Salah satu fitur keamanan terpenting adalah pembaruan Randomized Resolvable Private Address (RPA), yang secara otomatis mengubah identitas Bluetooth perangkat untuk mencegah pelacakan yang tidak diinginkan di ruang publik.

Bayangkan Anda sedang duduk di kafe favorit dengan Galaxy S26 di saku. Dengan Bluetooth 6.1, perangkat Anda secara berkala mengubah “wajah digital”-nya, membuatnya jauh lebih sulit bagi pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melacak pergerakan atau kebiasaan Anda. Ini seperti memiliki plat nomor yang bisa berubah-ubah setiap beberapa menit.

Efisiensi daya juga mendapatkan perhatian serius dalam versi 6.1. Manajemen alamat sekarang berjalan pada controller, bukan pada CPU utama. Ini mungkin terdengar teknis, tetapi dampaknya sangat nyata: baterai smartphone Anda akan lebih hemat, terutama ketika terhubung ke multiple devices secara bersamaan.

Sementara Bluetooth 6.0 memperkenalkan Channel Sounding untuk akurasi lokasi level sentimeter, versi 6.1 fokus pada pengencangan privasi, stabilitas, dan penggunaan energi. Ini menunjukkan pergeseran prioritas dari sekadar kecepatan menuju pengalaman pengguna yang lebih aman dan efisien.

Jadwal Peluncuran dan Implikasinya

Waktu listing Bluetooth SIG ini sangat sesuai dengan jadwal Samsung. Galaxy S26 series, yang dikabarkan tertunda hingga Maret 2026, diharapkan menampilkan Exynos 2600 di sebagian besar wilayah, sementara Snapdragon 8 Elite Gen 5 akan menggerakkan unit di AS dan China.

Penundaan hingga Maret 2026 ini sebenarnya memberikan waktu lebih bagi Samsung untuk mematangkan integrasi Bluetooth 6.1. Jika berhasil, S26 series akan menjadi lini smartphone besar pertama yang mengirimkan dengan standar baru ini, mengalahkan kompetitor seperti Oppo Find X8 Ultra yang saat ini masih menggunakan teknologi Bluetooth sebelumnya.

Bagi Anda yang menantikan smartphone dengan konektivitas mutakhir, perkembangan ini tentu menggembirakan. Namun, pertanyaannya adalah: seberapa signifikan perbedaan yang akan dirasakan pengguna sehari-hari? Dan apakah upgrade ini sepadan dengan kemungkinan harga yang lebih premium?

Yang pasti, inovasi Samsung dalam hal konektivitas nirkabel menunjukkan komitmen mereka untuk tidak hanya bersaing di segi kamera atau performa, seperti yang kita lihat pada deretan HP Samsung dengan kamera terbaik, tetapi juga dalam aspek konektivitas yang sering kali kurang mendapat perhatian.

Perkembangan teknologi Bluetooth 6.1 ini juga menarik untuk diamati dalam konteks yang lebih luas. Sementara smartphone flagship seperti Galaxy S26 bersiap dengan konektivitas mutakhir, pasar menengah seperti Oppo A3 Pro tetap fokus pada value proposition yang berbeda. Ini menunjukkan bagaimana teknologi merembes dari segmen premium ke mainstream dalam siklus yang semakin cepat.

Dengan integrasi Bluetooth 6.1 yang potensial, Galaxy S26 series tidak hanya menawarkan upgrade incremental, tetapi mungkin menjadi pionir dalam era konektivitas nirkabel yang lebih cerdas dan aman. Tunggu saja kabar selanjutnya dari Telset.id untuk perkembangan terbaru mengenai flagship Samsung yang sangat dinantikan ini.

Hyper Island Tak Eksklusif Lagi, Redmi dan POCO Dapat Fitur Premium

0

Telset.id – Kabar gembira untuk para pengguna smartphone Redmi dan POCO! Fitur premium Hyper Island yang sebelumnya hanya dinikmati perangkat flagship Xiaomi kini resmi meluas ke jajaran perangkat mid-range dan entry-level. Perubahan kebijakan software ini menjadi angin segar dalam strategi inklusivitas Xiaomi.

Bocoran terbaru dari insider terpercaya PaperKing13 mengungkapkan bahwa build HyperOS 3.0.23 telah menghapus kode pembatas yang selama ini memblokir akses Hyper Island di sebagian besar model Redmi dan POCO. Artinya, semua perangkat Xiaomi, Redmi, dan POCO yang eligible untuk HyperOS 3 akan mendapatkan fitur notifikasi gaya Dynamic Island ini. Fitur yang mampu menampilkan kontrol musik, timer, hingga update perjalanan secara real-time tersebut akhirnya tak lagi menjadi hak eksklusif perangkat mahal.

Namun, ada sedikit kompromi yang harus diterima pengguna perangkat dengan spesifikasi terbatas. Meskipun Hyper Island akan muncul dan berfungsi normal, animasi halus yang menjadi daya tarik utamanya akan dinonaktifkan pada perangkat dengan RAM terbatas. Xiaomi belum mengonfirmasi secara resmi batasan RAM yang dimaksud, namun analisis mengarah pada perangkat dengan RAM 6GB atau lebih rendah.

Jadwal Rollout yang Terstruktur

Implementasi fitur ini akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan jadwal rollout HyperOS 3 yang telah ditetapkan. Xiaomi 15T dan 15T Pro disebut-sebut telah menerima fitur ini secara global, sementara model entry-level diperkirakan akan mendapatkannya antara Desember 2025 hingga Maret 2026.

Bagi Anda yang penasaran apakah perangkat termasuk dalam daftar penerima update, kami telah merangkum informasi lengkapnya. Daftar lengkap perangkat Xiaomi yang dapat upgrade HyperOS 3 bisa menjadi referensi utama untuk memastikan kelayakan perangkat Anda.

Daftar Perangkat Penerima Hyper Island

Berdasarkan informasi resmi, berikut perangkat yang akan menerima Hyper Island sesuai timeframe yang ditetapkan:

Oktober-November 2025:
REDMI Note 14 Pro+ 5G, REDMI Note 14 Pro 5G, REDMI Note 14 Pro, REDMI Note 14, POCO F7 Ultra, POCO F7 Pro, POCO F7, POCO X7 Pro Iron Man Edition, POCO X7 Pro, POCO X7

November-Desember 2025:
REDMI Note 13 Pro, REDMI 15, REDMI 14C, REDMI 13, REDMI 13x, POCO F6 Pro, POCO F6, POCO X6 Pro, POCO M7, POCO M6 Pro, POCO M6, POCO C75

Desember 2025-Maret 2026:
POCO F5 Pro, POCO F5, POCO X6, POCO M7 Pro 5G, POCO C85, REDMI Note 14 5G, REDMI Note 145, REDMI Note 13 Pro+, REDMI Note 13 Pro, REDMI Note 13 5G, REDMI 15 5G, REDMI 15C 5G, REDMI 15C

Informasi lebih detail mengenai HyperOS 3 Xiaomi dengan lebih dari 80 model uji coba dan fitur baru mengejutkan juga telah kami ulas sebelumnya untuk memberikan gambaran lebih komprehensif.

Strategi Inklusivitas yang Realistis

Keputusan Xiaomi untuk membuka akses Hyper Island ke perangkat lebih terjangkau menunjukkan pendekatan yang lebih realistis dalam menyebarkan fitur software. Daripada memblokir sepenuhnya, perusahaan memilih untuk menyesuaikan pengalaman berdasarkan kemampuan hardware.

Meski tanpa animasi mewah, kehadiran Hyper Island di perangkat Redmi dan POCO tetap menjadi nilai tambah signifikan. Pengguna masih bisa menikmati fungsi inti seperti kontrol media dan notifikasi real-time tanpa harus mengorbankan performa sistem.

Bagi yang khawatir perangkatnya tidak termasuk dalam daftar, tak perlu berkecil hati. Daftar ponsel Xiaomi yang tak dapat HyperOS 3, termasuk seri populer bisa menjadi acuan untuk mengetahui model-model yang tidak akan mendapatkan update ini.

Langkah Xiaomi ini patut diapresiasi. Di tengah maraknya praktikan eksklusivitas fitur di industri smartphone, keputusan untuk membuat Hyper Island lebih accessible menunjukkan komitmen terhadap pengalaman pengguna yang konsisten di seluruh lini produk. Meski dengan sedikit kompromi pada animasi, fungsi utama tetap terjaga – bukti bahwa inklusivitas dan performa bisa berjalan beriringan.

WhatsApp Bakal Bebaskan Memori HP Tanpa Hapus Chat, Begini Caranya!

0

Pernahkah Anda membuka pengaturan penyimpanan ponsel dan terkejut melihat WhatsApp menghabiskan ruang hingga puluhan gigabita? File-file dari grup keluarga yang ramai, video lucu dari teman kantor, atau dokumen kerja yang bertumpuk—semuanya berkontribusi pada memori yang semakin menipis. Situasi ini begitu familiar bagi ratusan juta pengguna aplikasi pesan instan tersebut, hingga kerap memaksa kita melakukan “pembersihan besar-besaran” yang berisiko menghapus kenangan berharga.

Selama ini, opsi yang tersedia terasa seperti pilihan sulit: menghapus seluruh riwayat chat atau terjebak dengan notifikasi “penyimpanan hampir penuh”. Fitur Manage Storage global di pengaturan WhatsApp memang ada, namun navigasinya kurang intuitif dan memerlukan waktu untuk menemukan file-file besar yang spesifik. Banyak pengguna akhirnya memilih untuk menghapus file besar WhatsApp agar memori HP tidak penuh, meski prosesnya memakan waktu dan berpotensi menghilangkan konten penting.

Kini, kabar gembira datang dari pengembangan terbaru WhatsApp. Berdasarkan temuan WaBetaInfo dalam beta terbaru iOS, aplikasi pesan instan tersebut sedang menguji fitur yang akan mengubah cara kita mengelola penyimpanan—dengan presisi yang belum pernah ada sebelumnya.

Revolusi Manajemen Penyimpanan di Ujung Jari

WhatsApp sedang mengerjakan opsi “Manage Storage” baru yang akan ditempatkan secara strategis di halaman info setiap chat individu. Ini bukan sekadar tambahan minor, melainkan perubahan filosofi dalam pendekatan manajemen file. Alih-alih harus menjelajahi menu pengaturan global yang rumit, Anda akan dapat mengontrol secara granular berapa banyak ruang yang dihabiskan oleh setiap percakapan secara terpisah.

Fitur ini menampilkan grid visual file-file yang dibagikan dalam chat tertentu—mulai dari gambar, video, hingga dokumen. Yang membuatnya istimewa adalah kemampuan untuk mengorganisir file-file tersebut berdasarkan ukuran dan waktu pembagian. Bayangkan: dengan beberapa ketuk, Anda dapat langsung melihat video berukuran raksasa yang dibagikan tiga bulan lalu di grup komunitas, lalu memutuskan untuk menghapusnya tanpa harus mengganggu foto-foto kenangan penting lainnya.

The new WhatsApp feature seen in the iOS Beta of the app. | Image credit – WaBetaInfo - WhatsApp will soon solve your storage issues without needing you to delete all your chat history

“Ini adalah pembaruan kualitas hidup yang sesungguhnya bagi pengguna aktif,” kata seorang analis teknologi yang mempelajari perkembangan ini. “Dengan memberikan kontrol mikro pada level percakapan, WhatsApp mengakui bahwa tidak semua chat sama pentingnya—dan tidak semua file dalam chat yang sama bernilai sama.”

Mengapa Fitur Ini Lebih dari Sekadar Tambahan Biasa?

Pada pandangan pertama, fitur ini mungkin terlihat seperti penyempurnaan kecil. Bukankah kita sudah bisa mengelola penyimpanan melalui menu global? Perbedaannya terletak pada konteks dan kemudahan akses. Dengan menempatkan opsi manajemen penyimpanan langsung di setiap chat, WhatsApp mengurangi hambatan psikologis dan teknis untuk melakukan pembersihan rutin.

Fitur ini sangat relevan di era dimana grup WhatsApp telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial dan profesional. Grup RT yang ramai dengan informasi penting tapi juga penuh video viral, grup kerja yang berisi dokumen presentasi besar bersama dengan meme penyegar suasana—semuanya kini dapat dikelola dengan presisi bedah.

Solusi Cerdas untuk Masalah Grup yang “Tidak Bisa Ditinggalkan”

Banyak dari kita terjebak dalam dilema klasik: tergabung dalam grup yang aktif berbagi konten namun sulit untuk keluar karena berbagai alasan. Mulai dari grup keluarga besar yang penuh video reuni, hingga grup komunitas hobi yang kerap berbagi tutorial panjang. Fitur baru ini menjadi jawaban elegan untuk masalah tersebut.

“Saya bagian dari beberapa grup aktif di WhatsApp yang tidak ingin saya tinggalkan, tetapi mereka sering memenuhi penyimpanan saya dengan file tidak perlu,” ungkap Ilia Temelkov, penulis senior di PhoneArena yang menjadi target tepat untuk fitur ini. “Saya telah menantikan cara lebih mudah untuk membersihkan file dari chat tersebut sejak lama.”

Dengan kemampuan untuk melihat file berdasarkan ukuran dan waktu, pengguna dapat dengan cepat mengidentifikasi “pelanggar” terbesar—video berdurasi panjang yang dibagikan berbulan-bulan lalu, atau dokumen PDF yang sudah tidak relevan. Proses yang sebelumnya memakan waktu 10-15 menit kini dapat diselesaikan dalam hitungan detik.

Ketersediaan dan Masa Depan Fitur

Untuk saat ini, opsi baru ini hanya tersedia untuk sejumlah terbatas pengguna beta iOS WhatsApp. Namun, mengikuti pola pengembangan WhatsApp sebelumnya, fitur ini kemungkinan akan diluncurkan secara bertahap dan mencapai lebih banyak pengguna dalam beberapa minggu mendatang.

Yang menarik, pengembang tampaknya masih memiliki ruang untuk penyempurnaan lebih lanjut. Seperti diungkapkan Temelkov, “Sekarang beri saya toggle yang dapat membatasi jumlah penyimpanan yang dapat diambil oleh chat tersebut, dan saya akan semakin bahagia.” Ini mengisyaratkan potensi pengembangan fitur ke level yang lebih canggih—mungkin dengan batasan otomatis atau pembersihan terjadwal.

Perkembangan ini juga sejalan dengan tren lebih besar dalam industri teknologi, dimana aplikasi semakin fokus pada optimasi sumber daya perangkat. Dengan kapasitas penyimpanan ponsel yang seringkali terbatas—terutama di model menengah ke bawah—fitur seperti ini tidak lagi menjadi kemewahan melainkan kebutuhan.

Bagi pengguna yang sering mengalami masalah dengan aplikasi WhatsApp, memahami cara jitu mengatasi WhatsApp error dan mengenali penyebabnya dapat menjadi pengetahuan pendukung yang berharga. Demikian pula dengan memanfaatkan cara kirim pesan WhatsApp tanpa internet untuk situasi darurat ketika penyimpanan penuh menghambat kinerja aplikasi.

Fitur manajemen penyimpanan granular ini merepresentasikan evolusi dalam pendekatan WhatsApp terhadap pengalaman pengguna. Daripada menawarkan solusi satu-untuk-semua, aplikasi kini memberikan alat yang memungkinkan setiap pengguna membuat keputusan berdasarkan prioritas dan kebutuhan individual mereka. Dalam dunia dimana ruang penyimpanan telah menjadi komoditas berharga, kontrol yang lebih baik berarti kebebasan yang lebih besar—untuk menyimpan yang penting, dan melepas yang tidak.

AI Ubah Cara Mesin Pencari, Sumber Tak Populer Lebih Sering Dikutip

0

Telset.id – Apa jadinya jika mesin pencari yang Anda gunakan setiap hari tiba-tiba lebih memilih website kecil dan kurang dikenal daripada situs-situs besar yang biasa muncul di halaman pertama? Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa itulah yang sedang terjadi dengan mesin pencari bertenaga AI. Sistem kecerdasan buatan ini ternyata lebih sering mengutip sumber-sumber yang jarang terdengar, mengubah fundamental cara kita menemukan informasi online.

Bayangkan Anda mencari resep kue spesial. Biasanya, Anda akan langsung mengklik situs masak ternama yang muncul di hasil teratas Google. Tapi dengan AI search engine, bisa jadi yang muncul justru blog pribadi seorang ibu rumah tangga di kota kecil dengan resep turun-temurun. Inilah perubahan mendasar yang diungkap studi dari Ruhr University Bochum dan Max Planck Institute for Software Systems. Mereka membandingkan hasil pencarian tradisional Google dengan respons dari Google AI Overviews, Gemini 2.5 Flash, dan dua varian GPT-4o dengan mode pencarian web.

Yang mengejutkan, sistem AI seringkali mengambil informasi dari website yang peringkat popularitasnya jauh lebih rendah. Dalam banyak kasus, sumber-sumber ini bahkan tidak muncul dalam 100 hasil teratas Google untuk kueri yang sama. Para peneliti menggunakan berbagai kueri tes, termasuk pertanyaan pengguna nyata dari percakapan ChatGPT, topik politik dari AllSides, dan produk paling banyak dicari di Amazon.

Data Mengejutkan dari Balik Layar AI Search

Menggunakan Tranco, alat peringkat domain, penelitian ini menemukan bahwa sumber yang digunakan mesin AI memiliki peringkat yang secara signifikan lebih rendah daripada yang ada di hasil teratas Google. Hasil dari Gemini bahkan memiliki peringkat domain median di luar 1.000 teratas. Lebih dari separuh sumber yang dikutip oleh Google AI Overviews tidak muncul dalam 10 hasil tradisional. Sekitar 40 persen bahkan tidak ada dalam 100 teratas sama sekali.

Namun, pergeseran menuju website yang kurang dikenal ini ternyata tidak mengurangi kualitas informasi. Model berbasis GPT sering mengutip situs perusahaan dan konten ensiklopedis sambil menghindari media sosial. Studi menemukan bahwa hasil pencarian yang dihasilkan AI mengandung rentang “konsep” yang dapat diidentifikasi hampir sama dengan pencarian tradisional, menunjukkan bahwa sistem AI mempertahankan tingkat keragaman informasi yang sebanding.

Perubahan ini mengingatkan kita pada perkembangan persaingan mesin pencari di China dimana Bing berhasil menggeser dominasi Baidu. Tapi kali ini, perubahannya lebih fundamental – bukan sekadar pergantian pemain, tapi perubahan aturan permainan.

Sintesis vs Popularitas: Pertaruhan Baru Otoritas Online

Karena model AI ini meringkas informasi daripada mencantumkan sumber individual, mereka sering memampatkan data dalam jumlah besar menjadi respons yang lebih pendek. Kompresi ini dapat menyebabkan hilangnya detail yang lebih kecil atau lebih ambigu yang mungkin masih muncul dalam hasil pencarian tradisional. Seperti pisau bermata dua, di satu sisi kita mendapatkan informasi yang lebih padat dan terstruktur, di sisi lain kita kehilangan nuansa dan keragaman perspektif.

Peneliti juga mencatat bahwa alat pencari bertenaga AI kesulitan dengan topik yang sensitif terhadap waktu atau berubah dengan cepat. Mode hybrid GPT-4o, misalnya, terkadang gagal memberikan informasi terbaru ketika merespons kueri tentang peristiwa terkini atau subjek yang sedang tren. Ini menjadi tantangan serius mengingat kecepatan perkembangan informasi di era digital.

Fenomena ini juga mengingatkan kita pada kasus AI yang salah mendeteksi kantong keripik sebagai senjata di sekolah Baltimore. Meski konteksnya berbeda, keduanya menunjukkan betapa sistem AI masih memiliki kelemahan dalam menafsirkan realitas dengan akurat.

Masa depan pencarian bukan tentang lebih baik atau lebih buruk. Ini tentang perbedaan. Dan jika penelitian ini benar, AI mungkin sedang membangun web yang lebih menghargai sintesis daripada popularitas, dan itu menulis ulang aturan otoritas online. Pergeseran ini bisa menjadi berkah bagi konten kreator kecil yang selama ini tenggelam dalam dominasi website besar, sekaligus tantangan bagi kita sebagai pengguna untuk lebih kritis dalam menilai kredibilitas informasi.

Dalam dunia yang semakin dipenuhi oleh berbagai alternatif mesin pencari selain Google, penelitian ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana AI mengubah lanskap pencarian informasi. Bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan, kita akan melihat munculnya pemain-pemain baru yang sepenuhnya mengadopsi pendekatan sintesis AI ini, menantang dominasi raksasa teknologi yang ada saat ini.

Apple Capai $4 Triliun, iPhone 17 Jadi Mesin Pertumbuhan Utama

0

Telset.id – Nilai pasar Apple baru saja menembus angka fantastis: $4 triliun. Prestasi ini menempatkan raksasa teknologi asal Cupertino tersebut ke dalam klub ultra-eksklusif yang hanya beranggotakan tiga perusahaan—bersama Nvidia dan Microsoft. Bagaimana Apple mencapai milestone bersejarah ini di tengah gejolak perdagangan global?

Kenaikan saham Apple ke rekor tertinggi $269,2 per lembar—mencatat kenaikan hampir 13% sejak peluncuran iPhone 17—menjadi bukti ketahanan bisnis perusahaan di bawah tekanan. Yang menarik, pencapaian ini terjadi justru ketika tarif impor AS yang baru mengancam mengganggu rantai pasokan global. Tiga perusahaan raksasa teknologi ini kini menyumbang lebih dari 14% dari indeks Nasdaq 100, menunjukkan dominasi mereka yang semakin kuat di pasar.

Jika melihat lebih dalam, mesin pertumbuhan utama Apple ternyata masih berasal dari lini produk andalannya: iPhone. Seri iPhone 17 dilaporkan mengalami lonjakan penjualan 14% year-over-year dalam 10 hari pertama peluncurannya, dengan model standar iPhone 17 mencatatkan penjualan hampir sepertiga lebih tinggi dibandingkan pendahulunya, iPhone 16. Fenomena ini cukup mengejutkan mengingat tingginya ekspektasi terhadap iPhone 16 di pasar Indonesia sebelumnya.

Strategi Harga dan Model yang Tepat

Apple tampaknya berhasil membaca selera pasar dengan cermat. iPhone Air yang dibanderol $999 ternyata sedikit lebih laris daripada model 16 Plus, sementara subsidi dari operator telekomunikasi berhasil mendongkrak penjualan model Pro dan Pro Max. Kombinasi strategi harga dan segmentasi produk ini terbukti efektif mempertahankan momentum penjualan.

Tinjauan dari berbagai media teknologi juga turut mendongkrak popularitas seri terbaru ini. NotebookCheck, misalnya, memuji chip A19 Pro untuk peningkatan daya tahan baterai dan performa termal yang lebih baik. Dalam dunia di mana pengguna semakin bergantung pada perangkat mobile untuk produktivitas dan hiburan, peningkatan di aspek-aspek fundamental seperti ini jelas menjadi nilai jual yang kuat.

Manuver Rantai Pasokan yang Cerdas

Di balik kesuksesan penjualan, terdapat strategi rantai pasokan yang patut diacungi jempol. Menghadapi tarif impor Donald Trump tahun 2025 untuk produk China, Apple dengan gesit mempercepat pergeseran manufaktur—memindahkan produksi iPhone ke India dan perakitan iPad ke Vietnam. Langkah antisipatif ini terbukti menjadi keputusan yang brilian.

Meskipun Apple harus menaikkan harga iPhone 17 Pro sebesar $100, perusahaan berhasil mempertahankan margin berkat penyesuaian rantai pasokan ini. Analis Evercore ISI menyebut fleksibilitas Apple sebagai “faktor kritis dalam mempertahankan pertumbuhan di lingkungan proteksionis.” Pengalaman kerugian sebelumnya akibat tarif Trump tampaknya menjadi pelajaran berharga yang diterapkan dengan baik.

Langkah strategis Apple ini mengingatkan kita pada kesuksesan startup teknologi Indonesia seperti eFishery yang berhasil “naik kelas” menjadi unicorn melalui manuver bisnis yang tepat. Keduanya menunjukkan pentingnya adaptasi dalam menghadapi tantangan pasar.

Masa Depan: AI dan Ekosistem yang Terus Berkembang

Investor kini memusatkan perhatian pada panggilan pendapatan Apple tanggal 30 Oktober mendatang, yang bisa menjadi penentu apakah rally ini akan berlanjut atau mereda. Wedbush Securities memprediksi panduan yang optimis, dengan memperkirakan layanan AI Apple yang terus berkembang dapat menghasilkan pendapatan tahunan $10 miliar pada 2027.

Dengan lebih dari 1,5 miliar iPhone aktif di seluruh dunia, ekosistem Apple—dari wearable hingga layanan finansial—terus menjadi parit pertahanan terkuat perusahaan. Inilah yang membedakan Apple dari banyak pesaingnya: kemampuan membangun ekosistem yang saling terhubung dan sulit untuk ditinggalkan pengguna.

Pada valuasi $4 triliun, nilai Apple masih tertinggal di belakang lonjakan Nvidia yang didorong oleh AI, tetapi ini tetap menandai titik balik lain untuk merek teknologi paling dikenali di dunia. Pertanyaannya sekarang: apakah momen ini akan berkelanjutan? Karena bahkan di wilayah triliunan dolar, ekspektasi investor tetap melangit.

Pencapaian Apple mengajarkan kita bahwa dalam dunia teknologi yang berubah cepat, kesuksesan tidak hanya tentang produk inovatif, tetapi juga tentang strategi bisnis yang lincah, adaptasi rantai pasokan yang cerdas, dan kemampuan membangun ekosistem yang kokoh. Pelajaran apa yang bisa diambil perusahaan teknologi Indonesia dari kesuksesan Apple ini?

HyperOS 3 Xiaomi Resmi Rilis: AI Lebih Cerdas, Performa 30% Lebih Kencang

0

Telset.id – Bayangkan smartphone Anda tiba-tiba menjadi 30% lebih cepat, dengan fitur AI yang bisa menerjemahkan percakapan secara real-time atau mengubah ide sederhana menjadi catatan lengkap. Itulah yang dijanjikan Xiaomi dengan HyperOS 3, evolusi sistem operasi terbaru mereka yang dibangun di atas Android 16. Setelah bulan-bulan penuh antisipasi, akhirnya perusahaan asal Tiongkok ini mengonfirmasi detail resmi dan jadwal rollout global yang akan berlangsung hingga Maret 2026.

Lalu apa sebenarnya yang membuat HyperOS 3 berbeda dari generasi sebelumnya? Bukan sekadar pembaruan antarmuka kosmetik, melainkan lompatan signifikan dalam kecerdasan buatan dan optimisasi sistem. Xiaomi secara gamblang menyebutkan peningkatan performa sistem hingga 30%, dengan aplikasi yang terbuka 21% lebih cepat dan efisiensi energi yang naik 10%. Untuk Anda yang gemar gaming, kabar baiknya: frame drop dalam game berkurang drastis berkat lebih dari 100 penyempurnaan animasi yang membuat navigasi terasa seperti mengoleskan mentega pada wajan panas.

Jadwal Rollout Bertahap Mulai Oktober 2025

Xiaomi mengambil pendekatan bertahap yang terorganisir untuk meluncurkan HyperOS 3. Gelombang pertama, yang berlangsung dari Oktober hingga November 2025, akan menyentuh perangkat-perangkat flagship terbaru mereka. Xiaomi 15T dan 15T Pro di Eropa menjadi pionir, diikuti oleh seluruh seri Xiaomi 15, Xiaomi 15 Ultra, Redmi Note 14, serta lineup Poco F7 dan X7. Pengguna beta mendapatkan akses paling awal, sementara lainnya bisa mengecek ketersediaan update melalui Settings > About Phone > System Update.

Memasuki November hingga Desember 2025, gelombang kedua akan menjangkau seri Xiaomi 14, Poco F6, dan beberapa model Redmi midrange. Fase final, yang berlangsung dari Desember 2025 hingga Maret 2026, menjadi momen bagi pemilik flagship lama seperti seri Xiaomi 12 dan 13 untuk akhirnya merasakan HyperOS 3. Strategi rollout yang terencana ini memastikan sebagian besar perangkat Xiaomi modern mendapatkan upgrade tersebut. Untuk mengetahui daftar lengkap perangkat yang kompatibel, Anda bisa merujuk ke daftar lengkap perangkat Xiaomi yang dapat upgrade HyperOS 3 yang telah kami rangkum sebelumnya.

Revolusi AI dalam Genggaman Tangan

HyperOS 3 bukan sekadar tentang performa yang lebih cepat, melainkan tentang kecerdasan yang lebih kontekstual. Fitur andalannya, Hyper Island, hadir sebagai hub berbentuk pil di bagian atas layar yang mengkonsolidasikan notifikasi, aktivitas langsung, dan aksi cepat dalam satu ruang terpadu. Bayangkan bisa mengontrol musik atau membalas pesan tanpa perlu berpindah aplikasi—Hyper Island bekerja dengan lebih dari 70 aplikasi dan layanan untuk membuat pengalaman multitasking menjadi lebih cair.

Namun yang benar-benar membedakan HyperOS 3 adalah arsenal fitur AI-nya. DeepThink Note Writing mampu mengembangkan ide-ide sederhana menjadi catatan detail atau ringkasan yang koheren. AI Voice Translation memberikan terjemahan multibahasa secara real-time—cocok untuk Anda yang sering berkomunikasi dengan rekan bisnis internasional. AI Noise Reduction meningkatkan kejernihan audio rekaman, sementara Gallery AI Search membantu menemukan foto berdasarkan konten atau objek tertentu. System-Wide AI Search memungkinkan pencarian cepat aplikasi dan file, dan AI Image Description & Summarization mengubah visual menjadi konteks atau keterangan yang bermakna.

Pertanyaan besarnya: apakah semua fitur AI ini akan tersedia untuk semua model? Sayangnya, Xiaomi masih belum memberikan kejelasan apakah tools canggih seperti image generation akan menjadi eksklusif untuk perangkat premium mereka atau tersedia secara universal. Yang patut dicatat, banyak dari tools AI ini ditenagai oleh Google AI dan kemungkinan besar berjalan di server cloud daripada secara lokal di perangkat.

Antara Harapan dan Realitas Kompatibilitas

Meskipun jadwal rollout terlihat komprehensif, tidak semua perangkat Xiaomi akan mendapatkan kesempatan merasakan HyperOS 3. Jika Anda penasaran apakah smartphone Xiaomi Anda termasuk yang beruntung atau justru terdepak, artikel tentang HyperOS 3 Xiaomi resmi rilis memberikan gambaran lengkap mengenai perangkat yang kompatibel. Sebaliknya, bagi Anda yang ingin mengetahui perangkat mana saja yang tidak akan mendapatkan upgrade ini—termasuk beberapa seri populer—daftar ponsel Xiaomi yang tak dapat HyperOS 3 memberikan penjelasan detail.

Dengan HyperOS 3, Xiaomi tidak hanya sekadar mengejar ketinggalan dalam perlombaan sistem operasi, tetapi berusaha menentukan standar baru untuk integrasi AI dalam ekosistem mobile. Pertanyaannya sekarang: apakah janji peningkatan performa 30% dan fitur AI canggih ini akan terwujud dalam pengalaman sehari-hari? Jawabannya akan segera terungkap ketika update ini mulai menyebar ke perangkat pengguna mulai Oktober mendatang. Satu hal yang pasti: lanskap sistem operasi mobile semakin menarik dengan kehadiran pemain yang tidak takut berinovasi.

Galaxy Z Fold7 & Z Flip7: Senjata Baru Kreator Muda Indonesia

0

Telset.id – Di era di mana ide bisa muncul kapan saja dan di mana saja, bagaimana perangkat teknologi mampu menjadi mitra sejati bagi generasi muda dalam mewujudkan kreativitas mereka? Samsung menjawab tantangan ini dengan menghadirkan Galaxy Z Fold7 dan Z Flip7 sebagai creativity enabler yang tak sekadar canggih, tetapi benar-benar memahami ritme hidup dinamis anak muda Indonesia.

Memperingati Hari Sumpah Pemuda 2025, Samsung Electronics Indonesia mengajak generasi muda untuk menyalakan kembali semangat persatuan dan kolaborasi melalui kreativitas. Andi Airin, Head of MX Marketing & Demand Generation Samsung Electronics Indonesia, menegaskan bahwa device foldable terbaru ini hadir sebagai pendamping anak muda untuk mengasah ide-ide mereka tumbuh lebih cepat, efisien, dan relevan dengan zaman. “Mereka bisa memanfaatkan fitur Galaxy AI ataupun Gemini dalam mewujudkan spirit Sumpah Pemuda masa kini,” ujarnya.

Lantas, bagaimana kedua perangkat ini benar-benar berfungsi sebagai creativity enabler dalam praktik nyata? Mari kita telusuri melalui pengalaman dua kreator muda Indonesia yang telah memanfaatkannya dalam perjalanan kreatif mereka.

Studio Mini di Genggaman: Pengalaman Aulion dengan Galaxy Z Fold7

Dalam dunia produksi konten digital yang serba cepat, Aulion, content creator kenamaan Indonesia, mengakui bahwa ide bisa muncul kapan saja dan harus segera ditangkap sebelum hilang. Baginya, Galaxy Z Fold7 telah menjadi seperti ‘studio mini’ yang selalu ada di genggamannya. “Aku benar-benar merasakan kalau di dunia kreatif ide bisa muncul di tempat dan waktu yang nggak bisa ditebak,” tutur Aulion.

Layar lebar Galaxy Z Fold7 memungkinkan Aulion melakukan multitasking dengan mudah – melakukan riset, mencatat di notes, dan mengecek kalender secara bersamaan tanpa harus membuka laptop. Namun yang paling menarik adalah bagaimana ia memanfaatkan Gemini AI sebagai creative sparring partner. Saat mengalami kebuntuan kreatif, Aulion menggunakan Gemini Live untuk brainstorming, bahkan dengan sengaja memberikan prompt tambahan seperti: “Jangan langsung setuju sama ide ini. Apakah konsep ini cukup menarik buat konten sosial media?”

Pendekatan kritis ini menunjukkan bagaimana AI tidak sekadar menjadi asisten pasif, tetapi mitra aktif yang bisa mempertajam ide. Bagi Aulion, semangat Sumpah Pemuda kini bukan hanya tentang anak muda yang bersatu secara fisik, tapi juga bagaimana ide-ide dari berbagai latar belakang bisa disatukan menjadi karya yang menginspirasi.

Mengangkat Budaya Lokal ke Panggung Global: Perjalanan Bianca dengan Galaxy Z Flip7

Cerita serupa datang dari Bianca Victoria, Co-Founder Ende Indonesia, yang sedang merintis brand slow-fashion dengan mengusung budaya lokal. Sebagai desainer muda yang aktif mempromosikan fashion berkelanjutan, Bianca percaya bahwa fashion bukan hanya tentang penampilan, tetapi cara menghargai proses, budaya, dan tangan-tangan kreatif di baliknya.

Galaxy Z Flip7 menjadi partner setia Bianca dalam mendokumentasikan perjalanan kreatifnya – dari mencari bahan di pasar lokal hingga berkolaborasi dengan pengrajin di berbagai daerah. Fitur Gemini Live Camera yang compact di cover screen memudahkannya mencari informasi tentang kain-kain unik yang ia temukan. “Tantangannya, informasi pada label atau papan keterangan kain tersebut seringkali masih ditulis dalam bahasa daerah setempat,” ungkap Bianca.

Solusinya? Bianca menggunakan Gemini Live dengan mengarahkan kamera langsung ke tulisan tersebut untuk meminta AI menerjemahkannya. Teknologi ini tidak hanya memecahkan masalah praktis, tetapi juga memperdalam pemahamannya tentang warisan budaya yang ia angkat. Dengan dukungan teknologi yang tepat, setiap anak muda kini punya kesempatan mengubah cerita kecil mereka menjadi inspirasi besar bagi dunia.

Gemini AI: Bukan Sekadar Fitur, Tapi Alat Pemberdayaan

Yang membedakan Galaxy Z Fold7 dan Z Flip7 dari generasi sebelumnya adalah integrasi Gemini AI yang lebih mendalam. Inovasi ini menjadi bukan sekadar fitur canggih, tapi alat pemberdayaan yang membantu anak muda menuangkan ide, mengeksekusi karya, dan menjaga keseimbangan hidup di era digital. Kemampuan AI yang kini bisa memberi feedback dan diajak berdiskusi membuka dimensi baru dalam berkreasi.

Baik Aulion maupun Bianca membuktikan bahwa teknologi AI dalam genggaman mereka telah menjadi bagian tak terpisahkan dari proses kreatif. Dari sekedar alat bantu, Gemini AI berkembang menjadi mitra diskusi yang bisa mempertajam ide dan memberikan perspektif baru. Seperti yang diungkapkan dalam perbandingan fitur AI smartphone terbaru, kemampuan generative AI Samsung memang memberikan pengalaman yang berbeda.

Bahkan bagi para gamer, Galaxy Z Fold7 telah terbukti sebagai HP lipat terbaik untuk gaming tanpa kompromi, menunjukkan fleksibilitas perangkat ini dalam berbagai skenario penggunaan.

Spesifikasi dan Penawaran Menarik untuk Generasi Muda

Bagi yang tertarik memiliki Galaxy Z Fold7 atau Z Flip7, Samsung menyediakan penawaran spesial hingga 13 November 2025 dengan total benefit senilai hingga Rp5 juta. Pembeli juga akan mendapatkan akses gratis Google AI Pro selama enam bulan dan opsi cicilan 0% hingga 24 bulan, mulai dari Rp700 ribuan per bulan untuk Galaxy Z Flip7.

Galaxy Z Fold7 hadir dalam tiga varian: 16GB/1TB (Rp34.999.000), 12GB/512GB (Rp31.499.000), dan 12GB/256GB (Rp28.499.000). Sementara Galaxy Z Flip7 tersedia dalam dua pilihan: 12GB/512GB (Rp19.999.000) dan 12GB/256GB (Rp17.999.000). Investasi yang cukup signifikan, namun sepadan dengan kemampuan yang ditawarkan sebagai creativity enabler sejati.

Seperti yang terlihat dalam kemampuan kamera Galaxy Z series dalam mengabadikan keindahan Jeju, kualitas hasil kreatif yang dihasilkan memang luar biasa.

Di tangan generasi muda Indonesia yang penuh semangat dan ide kreatif, Galaxy Z Fold7 dan Z Flip7 bukan sekadar smartphone biasa. Mereka menjadi jembatan antara ide dan realisasi, antara mimpi dan karya nyata. Seperti semangat Sumpah Pemuda yang terus berkobar, kolaborasi antara kreativitas manusia dan kecerdasan buatan membuka peluang tak terbatas untuk menciptakan dampak positif bagi negeri. Dan mungkin, inilah wujud modern dari persatuan yang sesungguhnya – bukan hanya persatuan antarmanusia, tetapi juga persatuan antara kreativitas manusia dengan teknologi yang memberdayakan.

Galaxy Z Fold7 & Z Flip7: Senjata Baru Kreator Muda Indonesia

0

Telset.id – Di era di mana ide bisa muncul kapan saja dan di mana saja, bagaimana perangkat teknologi mampu menjadi mitra sejati bagi generasi muda dalam mewujudkan kreativitas mereka? Samsung menjawab tantangan ini dengan menghadirkan Galaxy Z Fold7 dan Z Flip7 sebagai creativity enabler yang tak sekadar canggih, tetapi benar-benar memahami ritme hidup dinamis anak muda Indonesia.

Memperingati Hari Sumpah Pemuda 2025, Samsung Electronics Indonesia mengajak generasi muda untuk menyalakan kembali semangat persatuan dan kolaborasi melalui kreativitas. Andi Airin, Head of MX Marketing & Demand Generation Samsung Electronics Indonesia, menegaskan bahwa device foldable terbaru ini hadir sebagai pendamping anak muda untuk mengasah ide-ide mereka tumbuh lebih cepat, efisien, dan relevan dengan zaman. “Mereka bisa memanfaatkan fitur Galaxy AI ataupun Gemini dalam mewujudkan spirit Sumpah Pemuda masa kini,” ujarnya.

Lantas, bagaimana kedua perangkat ini benar-benar berfungsi sebagai creativity enabler dalam praktik nyata? Mari kita telusuri melalui pengalaman dua kreator muda Indonesia yang telah memanfaatkannya dalam perjalanan kreatif mereka.

Studio Mini di Genggaman: Pengalaman Aulion dengan Galaxy Z Fold7

Dalam dunia produksi konten digital yang serba cepat, Aulion, content creator kenamaan Indonesia, mengakui bahwa ide bisa muncul kapan saja dan harus segera ditangkap sebelum hilang. Baginya, Galaxy Z Fold7 telah menjadi seperti ‘studio mini’ yang selalu ada di genggamannya. “Aku benar-benar merasakan kalau di dunia kreatif ide bisa muncul di tempat dan waktu yang nggak bisa ditebak,” tutur Aulion.

Layar lebar Galaxy Z Fold7 memungkinkan Aulion melakukan multitasking dengan mudah – melakukan riset, mencatat di notes, dan mengecek kalender secara bersamaan tanpa harus membuka laptop. Namun yang paling menarik adalah bagaimana ia memanfaatkan Gemini AI sebagai creative sparring partner. Saat mengalami kebuntuan kreatif, Aulion menggunakan Gemini Live untuk brainstorming, bahkan dengan sengaja memberikan prompt tambahan seperti: “Jangan langsung setuju sama ide ini. Apakah konsep ini cukup menarik buat konten sosial media?”

Pendekatan kritis ini menunjukkan bagaimana AI tidak sekadar menjadi asisten pasif, tetapi mitra aktif yang bisa mempertajam ide. Bagi Aulion, semangat Sumpah Pemuda kini bukan hanya tentang anak muda yang bersatu secara fisik, tapi juga bagaimana ide-ide dari berbagai latar belakang bisa disatukan menjadi karya yang menginspirasi.

Mengangkat Budaya Lokal ke Panggung Global: Perjalanan Bianca dengan Galaxy Z Flip7

Cerita serupa datang dari Bianca Victoria, Co-Founder Ende Indonesia, yang sedang merintis brand slow-fashion dengan mengusung budaya lokal. Sebagai desainer muda yang aktif mempromosikan fashion berkelanjutan, Bianca percaya bahwa fashion bukan hanya tentang penampilan, tetapi cara menghargai proses, budaya, dan tangan-tangan kreatif di baliknya.

Galaxy Z Flip7 menjadi partner setia Bianca dalam mendokumentasikan perjalanan kreatifnya – dari mencari bahan di pasar lokal hingga berkolaborasi dengan pengrajin di berbagai daerah. Fitur Gemini Live Camera yang compact di cover screen memudahkannya mencari informasi tentang kain-kain unik yang ia temukan. “Tantangannya, informasi pada label atau papan keterangan kain tersebut seringkali masih ditulis dalam bahasa daerah setempat,” ungkap Bianca.

Solusinya? Bianca menggunakan Gemini Live dengan mengarahkan kamera langsung ke tulisan tersebut untuk meminta AI menerjemahkannya. Teknologi ini tidak hanya memecahkan masalah praktis, tetapi juga memperdalam pemahamannya tentang warisan budaya yang ia angkat. Dengan dukungan teknologi yang tepat, setiap anak muda kini punya kesempatan mengubah cerita kecil mereka menjadi inspirasi besar bagi dunia.

Gemini AI: Bukan Sekadar Fitur, Tapi Alat Pemberdayaan

Yang membedakan Galaxy Z Fold7 dan Z Flip7 dari generasi sebelumnya adalah integrasi Gemini AI yang lebih mendalam. Inovasi ini menjadi bukan sekadar fitur canggih, tapi alat pemberdayaan yang membantu anak muda menuangkan ide, mengeksekusi karya, dan menjaga keseimbangan hidup di era digital. Kemampuan AI yang kini bisa memberi feedback dan diajak berdiskusi membuka dimensi baru dalam berkreasi.

Baik Aulion maupun Bianca membuktikan bahwa teknologi AI dalam genggaman mereka telah menjadi bagian tak terpisahkan dari proses kreatif. Dari sekedar alat bantu, Gemini AI berkembang menjadi mitra diskusi yang bisa mempertajam ide dan memberikan perspektif baru. Seperti yang diungkapkan dalam perbandingan fitur AI smartphone terbaru, kemampuan generative AI Samsung memang memberikan pengalaman yang berbeda.

Bahkan bagi para gamer, Galaxy Z Fold7 telah terbukti sebagai HP lipat terbaik untuk gaming tanpa kompromi, menunjukkan fleksibilitas perangkat ini dalam berbagai skenario penggunaan.

Spesifikasi dan Penawaran Menarik untuk Generasi Muda

Bagi yang tertarik memiliki Galaxy Z Fold7 atau Z Flip7, Samsung menyediakan penawaran spesial hingga 13 November 2025 dengan total benefit senilai hingga Rp5 juta. Pembeli juga akan mendapatkan akses gratis Google AI Pro selama enam bulan dan opsi cicilan 0% hingga 24 bulan, mulai dari Rp700 ribuan per bulan untuk Galaxy Z Flip7.

Galaxy Z Fold7 hadir dalam tiga varian: 16GB/1TB (Rp34.999.000), 12GB/512GB (Rp31.499.000), dan 12GB/256GB (Rp28.499.000). Sementara Galaxy Z Flip7 tersedia dalam dua pilihan: 12GB/512GB (Rp19.999.000) dan 12GB/256GB (Rp17.999.000). Investasi yang cukup signifikan, namun sepadan dengan kemampuan yang ditawarkan sebagai creativity enabler sejati.

Seperti yang terlihat dalam kemampuan kamera Galaxy Z series dalam mengabadikan keindahan Jeju, kualitas hasil kreatif yang dihasilkan memang luar biasa.

Di tangan generasi muda Indonesia yang penuh semangat dan ide kreatif, Galaxy Z Fold7 dan Z Flip7 bukan sekadar smartphone biasa. Mereka menjadi jembatan antara ide dan realisasi, antara mimpi dan karya nyata. Seperti semangat Sumpah Pemuda yang terus berkobar, kolaborasi antara kreativitas manusia dan kecerdasan buatan membuka peluang tak terbatas untuk menciptakan dampak positif bagi negeri. Dan mungkin, inilah wujud modern dari persatuan yang sesungguhnya – bukan hanya persatuan antarmanusia, tetapi juga persatuan antara kreativitas manusia dengan teknologi yang memberdayakan.

Garmin Instinct Crossover AMOLED: Hybrid Tangguh dengan Layar Cerah

0

Telset.id – Bayangkan sebuah jam tangan yang memadukan keanggunan jarum analog klasik dengan kecanggihan layar AMOLED modern, dirancang khusus untuk bertahan di medan petualangan paling ekstrem. Inilah yang ditawarkan Garmin melalui peluncuran terbarunya di Indonesia.

Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan Instinct Crossover AMOLED, lini hybrid smartwatch yang menjawab kerinduan para petualang akan perangkat yang tak hanya fungsional tetapi juga penuh gaya. Diluncurkan pada 28 Oktober 2025, jam tangan ini menghadirkan perpaduan unik antara estetika tradisional dan teknologi mutakhir, dengan daya tahan baterai hingga 14 hari yang siap menemani setiap eksplorasi Anda.

Chandrawidhi Desideriani, Marketing Communications Senior Manager Garmin Indonesia, dengan penuh keyakinan menyatakan, “Instinct Crossover AMOLED membawa kombinasi sempurna antara ketangguhan dan gaya. Dengan layar AMOLED yang cerah, desain analog yang elegan, dan fitur kebugaran lengkap, jam tangan ini hadir untuk mereka yang menginginkan performa maksimal tanpa meninggalkan estetika.” Pernyataan ini bukan sekadar jargon pemasaran, melainkan janji yang diwujudkan dalam setiap detail desain.

Revolusi Tampilan Hybrid yang Cerdas

Instinct Crossover AMOLED menghadirkan pengalaman membaca data yang benar-benar baru. Bayangkan jarum jam analog yang bergerak elegan berpadu dengan tampilan digital yang informatif, bekerja dalam harmoni sempurna untuk memperluas bidang data. Anda tidak perlu lagi memilih antara keindahan desain tradisional dan fungsionalitas smartwatch modern – keduanya hadir secara bersamaan.

Layar AMOLED 1,2 inci menjadi jantung dari pengalaman visual ini. Dengan warna yang hidup dan detail tajam, ditambah tingkat kecerahan tinggi, informasi tetap terbaca jelas bahkan di bawah terik matahari langsung atau dalam kondisi minim cahaya. Ini bukan sekadar upgrade minor, melainkan lompatan signifikan dalam hal keterbacaan dan estetika.

Perkembangan hybrid smartwatch memang sedang tren, seperti yang kita lihat pada Xiaomi Rilis Smartwatch Hybrid, Harganya Murah! Namun, Garmin mengambil pendekatan berbeda dengan fokus pada ketangguhan dan performa outdoor, bukan sekadar gaya.

Ketahanan Baterai yang Mengesankan

Dalam dunia smartwatch, daya tahan baterai sering menjadi trade-off yang tidak terhindarkan. Instinct Crossover AMOLED menantang paradigma tersebut dengan menawarkan hingga 14 hari dalam mode smartwatch standar, dan bahkan bisa mencapai 18 hari dalam mode hemat baterai. Angka ini cukup untuk menemani perjalanan hiking mingguan atau ekspedisi alam bebas tanpa khawatir kehabisan daya.

Bandungkan dengan Garmin Venu Punya Layar AMOLED dan Baterai Awet yang sudah dikenal dengan efisiensi dayanya, Instinct Crossover AMOLED menghadirkan paket lengkap dengan ketangguhan ekstra. Bahkan untuk standar Garmin yang memang terkenal dengan baterai tahan lama – seperti pada Garmin Quatix 8 Resmi Hadir di Indonesia, Smartwatch Maritim dengan Baterai Tahan 29 Hari – performa Instinct Crossover AMOLED tetap impresif mengingat fitur lengkap yang ditawarkan.

DNA Ketangguhan yang Tak Tertandingi

Mewarisi gen ketangguhan dari seri Instinct, jam tangan ini dibangun dengan bezel logam dua lapis dan lensa safir yang tahan gores. Desainnya telah melalui pengujian ketat sesuai standar militer AS (MIL-STD-810) dan memiliki ketahanan air hingga 10 ATM – cukup untuk menyelam hingga 100 meter.

Fitur senter LED bawaan dengan pengaturan tingkat kecerahan menjadi nilai tambah yang praktis. Bayangkan ketika Anda sedang berkemah dan perlu mencari sesuatu di dalam tenda di malam hari, atau dalam situasi darurat yang membutuhkan penerangan instan – fitur ini bisa menjadi penyelamat.

Ketangguhan ekstrem ini mengingatkan kita pada perangkat lain seperti Vivo X Fold 5: Ponsel Lipat Pertama dengan Ketahanan Ekstrem IPX9 yang juga menekankan daya tahan dalam desain premium.

Teknologi Inovatif di Balik Jarum Analog

Salah satu inovasi paling cerdas dalam Instinct Crossover AMOLED adalah RevoDrive Technology. Sistem ini secara otomatis mendeteksi guncangan keras dan mengkalibrasi ulang posisi jarum untuk memastikan akurasi waktu tetap terjaga. Jadi, ketika Anda terjatuh saat mendaki atau mengalami benturan tak terduga, jam tangan ini akan “memperbaiki” sendiri posisi jarumnya.

Detail-Rich Dynamic Display menghadirkan pengalaman visual yang memukau. Jarum analog berlapis Super-LumiNova yang menyala dalam gelap berpadu dengan layar AMOLED berkontras tinggi, menciptakan simbiosis sempurna antara analog dan digital.

Fitur Purpose-Built seperti kompas dan GPS multi-band menjadikannya perangkat yang benar-benar dirancang untuk petualangan luar ruang. Presisi tinggi di berbagai medan membuatnya menjadi companion yang andal, baik untuk hiking, climbing, atau sekadar eksplorasi urban.

Pemantauan Kesehatan 24/7 yang Komprehensif

Bagi mereka yang peduli dengan kebugaran, Instinct Crossover AMOLED menawarkan suite pemantauan kesehatan lengkap. Dari detak jantung, kualitas tidur tingkat lanjut, Pulse Ox, hingga Body Battery – semua tersedia untuk membantu Anda memahami kondisi tubuh secara menyeluruh.

Fitur Body Battery khususnya menjadi alat yang berguna untuk mengelola energi sepanjang hari. Dengan menganalisis data stres, tidur, dan aktivitas, fitur ini memberikan insight tentang waktu terbaik untuk beraktivitas intens atau justru perlu beristirahat.

Pendekatan holistik terhadap kesehatan ini menunjukkan bahwa Garmin tidak hanya fokus pada performa outdoor, tetapi juga kesejahteraan penggunanya secara keseluruhan.

Ketersediaan dan Pilihan Varian

Garmin Instinct Crossover AMOLED akan tersedia di Indonesia mulai 31 Oktober 2025 dengan harga Rp 10.819.000. Jam tangan ini hadir dalam ukuran 46mm dengan dua pilihan warna utama: Charcoal dan Bronze/Sunburst. Untuk kalangan tertentu, tersedia juga varian Tactical – Black dengan harga Rp 12.679.000.

Dengan banderol harga tersebut, Garmin memposisikan Instinct Crossover AMOLED sebagai premium hybrid smartwatch yang menawarkan nilai tambah melalui ketangguhan, teknologi inovatif, dan desain yang timeless. Bandingkan dengan Lenovo Watch S Resmi Dirilis: Smartwatch Murah dengan AMOLED dan Baterai Tahan Lama yang menawarkan pendekatan berbeda dengan harga lebih terjangkau.

Kehadiran Instinct Crossover AMOLED menandai babak baru dalam evolusi smartwatch hybrid. Bukan sekadar menggabungkan analog dan digital, melainkan menciptakan pengalaman yang benar-benar seamless antara tradisi dan inovasi. Untuk para petualang yang tidak mau berkompromi antara gaya dan performa, jawabannya mungkin telah hadir.

Work Relationship Index HP: 72% Pekerja Indonesia Tak Bahagia di Kantor

0

Telset.id – Bayangkan: setiap pagi, 7 dari 10 profesional di Indonesia bangun dengan perasaan enggan menuju tempat kerja. Ini bukan skenario fiksi, melainkan tempaan mengejutkan dari Work Relationship Index (WRI) 2025 HP yang baru saja dirilis. Studi global ini mengungkap fakta pilu: hanya 28% knowledge worker Indonesia yang memiliki hubungan sehat dengan pekerjaan mereka—turun drastis 16 poin dari tahun sebelumnya.

Penurunan terbesar secara global ini seharusnya menjadi alarm bagi setiap pemimpin bisnis di tanah air. Namun di balik data suram tersebut, tersimpan optimisme teknologi yang justru membuka jalan keluar. Sebanyak 89% pekerja Indonesia percaya bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat meningkatkan kualitas hidup dan pengalaman kerja mereka. Bahkan, Indonesia memimpin adopsi AI dengan 94% knowledge worker telah menggunakan teknologi ini dan 50% di antaranya menggunakannya setiap hari—angka tertinggi di antara 14 negara yang disurvei.

Lalu di mana letak paradoksnya? Mengapa di tengah tingginya adopsi teknologi, kepuasan kerja justru merosot tajam? Jawabannya mungkin terletak pada bagaimana organisasi mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam budaya kerja mereka.

Tekanan Kerja yang Kian Membelenggu

WRI 2025 HP menunjukkan peningkatan ekspektasi dan tekanan yang lebih tinggi di tempat kerja Indonesia. Lebih dari 8 dari 10 karyawan kantoran mengalami perubahan besar di tempat kerja selama setahun terakhir, dengan 32% di antaranya terdampak kebijakan wajib kembali ke kantor. Yang lebih memprihatinkan, 37% pekerja merasa perusahaan mereka lebih mengutamakan profit dibandingkan kesejahteraan karyawan, sementara 68% menyatakan tuntutan dan ekspektasi perusahaan terhadap mereka semakin bertambah.

“Ini seperti berlari di treadmill yang terus dipercepat,” kata seorang analis HR yang enggan disebutkan namanya. “Karyawan dituntut berproduktivitas lebih tinggi dengan sumber daya yang seringkali tidak memadai, sementara dukungan emosional dan pengembangan diri justru berkurang.”

AI: Penyelamat atau Penambah Beban?

Di tengah tekanan kerja yang kian membelenggu, kecerdasan buatan muncul sebagai harapan baru. Data WRI HP mengungkap korelasi menarik: 64% pekerja Indonesia yang melaporkan memiliki hubungan kerja sehat ternyata menggunakan alat AI yang disediakan perusahaan setiap hari. Ini menunjukkan bahwa AI bukan sekadar tren, melainkan solusi konkret untuk meningkatkan kesejahteraan kerja.

Namun, adopsi AI saja tidak cukup. Studi ini menemukan bahwa 85% faktor yang memengaruhi hubungan karyawan dengan pekerjaan sebenarnya berada dalam kendali organisasi—mulai dari kepemimpinan hingga akses terhadap alat yang tepat. Karyawan lebih dari dua kali lebih mungkin memiliki hubungan kerja sehat ketika dilengkapi alat dan teknologi yang sesuai. Kemungkinan ini bahkan meningkat hingga lima kali lipat ketika karyawan melihat perusahaan secara aktif berinvestasi pada pengembangan mereka.

Inovasi terbaru HP dalam gelaran Amplify 2025 menunjukkan komitmen serius dalam menjawab tantangan ini. Portofolio PC berbasis AI, perangkat kolaborasi Poly, dan berbagai solusi terintegrasi dirancang khusus untuk mengurangi beban kerja dan meningkatkan kenyamanan.

Strategi OneHP: Jembatan Menuju Masa Depan Kerja yang Lebih Manusiawi

HP menjawab kebutuhan mendesak ini melalui strategi OneHP yang menyatukan seluruh portofolio—dari PC berbasis AI, perangkat kolaborasi Poly, periferal, hingga solusi dan layanan—ke dalam satu ekosistem terintegrasi. Pendekatan ini dirancang khusus untuk gaya hidup hybrid masa kini dan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.

“Di HP, kami percaya bahwa ketika karyawan memiliki pengalaman kerja yang optimal, mereka akan menjadi lebih produktif dan memiliki hubungan yang lebih sehat dengan pekerjaannya,” tegas Juliana Cen, President Director HP Indonesia. “Itulah yang ingin kami wujudkan melalui OneHP—menciptakan teknologi yang mendukung kesejahteraan dan memperkuat koneksi antar manusia di tempat kerja.”

Beberapa inovasi utama yang diperkenalkan dalam strategi ini termasuk HP Workforce Experience Platform yang menghadirkan insight berbasis data, HP Smart Sense yang secara otomatis menyesuaikan kinerja perangkat, dan HP AI Companion yang membantu karyawan mengelola tugas dengan lebih efisien. Produk-produk bertenaga AI dari HP ini bukan sekadar gadget canggih, melainkan solusi holistik untuk masalah nyata di tempat kerja.

Yang menarik, pendekatan OneHP ini sejalan dengan temuan WRI bahwa teknologi berperan penting dalam membangun hubungan kerja lebih sehat. Inovasi HP di Amplify 2025 tidak hanya fokus pada performa teknis, tetapi juga pada pengalaman manusia yang menggunakan teknologi tersebut.

Laporan WRI HP 2025 ini seharusnya menjadi refleksi bagi setiap organisasi di Indonesia. Di era di mana talenta menjadi aset paling berharga, menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan mental dan emosional karyawan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis. Teknologi seperti AI bukan musuh yang akan menggantikan manusia, melainkan sekutu yang dapat membebaskan kita dari beban kerja rutin dan menciptakan ruang untuk kreativitas dan inovasi yang sesungguhnya.

Pertanyaannya sekarang: apakah perusahaan Anda siap bertransformasi, atau akan tertinggal dalam perlombaan merebut hati dan pikiran talenta terbaik?