Beranda blog Halaman 96

ROG x Honkai Impact 3rd Elysia’s Special Collection Resmi Dirilis

0

Telset.id – Bayangkan membuka sebuah kotak yang bukan sekadar wadah, melainkan sebuah surat cinta dari karakter game favorit Anda. Itulah yang ditawarkan ASUS Republic of Gamers (ROG) melalui kolaborasi eksklusif mereka dengan HoYoverse dalam ROG x Honkai Impact 3rd Elysia’s Special Collection untuk seri ROG Phone 9. Sebuah perpaduan sempurna antara elegannya desain Elysia dan teknologi gaming mutakhir ROG.

Kolaborasi ini hadir dengan slogan “Your Game, Lit With Love,” menghadirkan pengalaman gaming yang lebih personal dan emosional. Bukan sekadar merchandise biasa, koleksi spesial ini dirancang untuk menghubungkan fans secara lebih dalam dengan karakter Elysia melalui berbagai item eksklusif yang penuh makna. Setiap elemen dalam koleksi ini mencerminkan perhatian terhadap detail yang luar biasa, mulai dari kemasan hingga konten di dalamnya.

Kotak hadiah Elysia’s Special Collection hadir dengan tema Romantic Pink yang mendominasi, dengan kemasan berbentuk surat yang simbolis. Desain ini merepresentasikan pesan pribadi dari Elysia kepada para penggemarnya, menciptakan sensasi seolah-olah Anda benar-benar menerima surat dari karakter tersebut. Warna pink lembut dipadukan dengan elemen teknologi bergaya pixel yang harmonis dengan tampilan AniMe Vision pada ROG Phone 9.

Membuka kotak ini memberikan pengalaman yang unik dan personal. Proses pembukaannya dirancang untuk menciptakan momen spesial, seolah-olah Anda sedang membuka surat rahasia dari seseorang yang sangat berarti. Sensasi ini memperkuat hubungan emosional antara pemain dengan karakter Elysia, membawa pesona sang karakter ke dalam kehidupan gaming sehari-hari.

Koleksi Eksklusif di Dalam Kotak

Isi dari Elysia’s Special Collection benar-benar istimewa dan lengkap. Setiap item dirancang dengan cermat untuk memuaskan para kolektor dan fans berat Honkai Impact 3rd. Berikut adalah item-item eksklusif yang akan Anda temukan:

  • Eternal Elegance Stand – Display stand akrilik yang menampilkan desain elegan Elysia, sempurna untuk memajang koleksi terbaik Anda
  • Affectionate Badge with Cover – Lencana koleksi dengan cover pelindung, menjadi emblem kebanggaan bagi setiap fans
  • Dreamy Pink Letter Character Card and Envelope – Kartu karakter dan amplop keepsake yang didesain khusus dengan sentuhan personal
  • Adorable Stickers – Stiker bergaya chibi Elysia yang imut dan menggemaskan
  • Solid Love Armor Case – Casing pelindung ponsel yang terinspirasi dari outfit khas Elysia
  • Love-Powered Cable Guard – Pelindung kabel dengan desain chibi Elysia yang fungsional dan estetik
  • Dreamlink Wand Ejector Pin – Pin ejector SIM yang berbasis pada senjata ikonik Elysia

Yang membuat koleksi ini semakin spesial adalah setiap kotak dilengkapi dengan nomor seri unik yang dapat digunakan untuk membuka dua Enchanted Phones dan 2.000 Asterite dalam game Honkai Impact 3rd melalui situs kampanye khusus. Nilai tambah ini memberikan keuntungan nyata bagi para pemain game.

Theme Pack Eksklusif untuk ROG Phone 9

ROG tidak berhenti hanya pada merchandise fisik. Mereka juga meluncurkan Elysia Theme Pack eksklusif untuk seri ROG Phone 9. Paket tema ini mencakup wallpaper bertema khusus, animasi charging, layar incoming call, always-on display, dan animasi AniMe Vision yang semuanya terinspirasi oleh karakter Elysia. Yang menarik, theme pack ini tersedia gratis di ROG Phone Theme Store, memberikan nilai tambah yang signifikan bagi para pengguna ROG Phone 9.

Integrasi tema ini dengan teknologi AniMe Vision pada ROG Phone 9 menciptakan pengalaman visual yang immersive. Setiap kali Anda menggunakan ponsel, pesona Elysia akan terpancar melalui berbagai elemen antarmuka, memperkuat hubungan emosional antara perangkat dan karakter favorit Anda.

Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana ROG memahami bahwa pengalaman gaming modern tidak hanya tentang performa teknis semata, tetapi juga tentang hubungan emosional antara pemain dengan konten yang mereka nikmati. ROG Phone 9 yang sudah terlihat di Geekbench sebelumnya, kini hadir dengan nilai tambah yang memperkaya ekosistem gaming secara keseluruhan.

Ketersediaan dan Harga yang Terbatas

ROG x Honkai Impact 3rd Elysia’s Special Collection secara resmi diluncurkan di seluruh dunia pada 23 Oktober 2025. Yang perlu diperhatikan, koleksi ini sangat terbatas dengan hanya 5.000 unit yang tersedia secara global. Dengan harga US$119 (sekitar Rp 1,8 juta), koleksi ini menawarkan nilai yang menarik mengingat kelangkaan dan kelengkapan item yang ditawarkan.

Beberapa region juga akan mendistribusikan kotak koleksi ini melalui kampanye promosi khusus, memberikan kesempatan tambahan bagi fans untuk memilikinya. Kelangkaan produk ini dipastikan akan membuatnya menjadi barang koleksi yang sangat dicari di kalangan penggemar Honkai Impact 3rd dan kolektor merchandise gaming.

Bagi Anda yang tertarik dengan varian lebih terjangkau dari seri ini, Asus ROG Phone 9 versi terjangkau sedang dalam pengerjaan dan dapat menjadi alternatif yang menarik. Sementara bagi yang ingin mencoba pengalaman terbaru, ROG Phone 9 dan 9 Pro sudah mulai uji coba Android 16 dengan berbagai fitur baru yang menjanjikan.

Kolaborasi ROG dan HoYoverse ini menandai era baru dalam merchandise gaming, di mana batas antara dunia virtual dan fisik semakin kabur. Bukan sekadar produk, melainkan pengalaman yang mengangkat hubungan emosional antara gamer dengan karakter favorit mereka ke level yang lebih tinggi. Sebuah langkah strategis yang memperkaya ekosistem gaming secara keseluruhan.

Google AI Studio Terbaru: Buat Aplikasi AI Hanya dengan Prompt

0

Telset.id – Bayangkan bisa menciptakan aplikasi AI canggih hanya dengan mengetikkan deskripsi sederhana. Tidak perlu lagi repot mengatur kunci API atau menyambungkan model secara manual. Inilah yang ditawarkan Google melalui pembaruan revolusioner di AI Studio dengan fitur vibe coding terbarunya.

Dunia pengembangan aplikasi AI sedang mengalami perubahan fundamental. Google secara resmi meluncurkan desain ulang AI Studio yang memungkinkan siapa saja—bahkan mereka tanpa latar belakang pemrograman—untuk menciptakan aplikasi AI yang berfungsi penuh hanya dalam hitungan menit. Transformasi ini bukan sekadar pembaruan kosmetik, melainkan lompatan kuantum dalam aksesibilitas teknologi kecerdasan buatan.

Bagaimana mungkin? Kuncinya terletak pada sistem otomatisasi cerdas yang memanfaatkan Gemini, model AI mutakhir Google. Anda cukup menggambarkan jenis aplikasi yang diinginkan, dan platform ini akan secara otomatis menghubungkan model dan API yang tepat. Proses yang sebelumnya membutuhkan keahlian teknis mendalam kini bisa diselesaikan dengan beberapa kalimat deskriptif saja.

Antarmuka Google AI Studio dengan fitur vibe coding terbaru

Mari kita ambil contoh konkret. Ingin membuat alat seperti Veo untuk menghasilkan video dari naskah? Atau mungkin mengembangkan aplikasi editing gambar AI seperti Nano Banana? Bahkan Anda bisa merancang aplikasi penulisan yang secara otomatis memeriksa sumber melalui Google Search. Semua ini bisa diwujudkan tanpa harus berurusan dengan API terpisah, SDK, atau layanan yang rumit.

Sistem baru ini menghilangkan hambatan teknis yang selama ini menjadi penghalang utama bagi banyak calon developer. “Cukup jelaskan ide Anda, dan AI Studio yang akan membangunnya,” begitulah prinsip yang diusung Google dalam pembaruan ini. Bagi yang membutuhkan inspirasi instan, tombol “I’m Feeling Lucky” bisa menghasilkan proyek acak sebagai titik awal yang menyenangkan.

Galeri Inspirasi yang Diperbarui

Google tidak hanya mengubah cara kita membuat aplikasi, tetapi juga bagaimana kita menemukan inspirasi. App Gallery yang sebelumnya hanya menampilkan daftar proyek kini bertransformasi menjadi perpustakaan visual yang memamerkan sampel proyek yang dibuat dengan Gemini. Pengguna bisa menjelajahi berbagai contoh, melihat kode awal, dan memodifikasinya menjadi kreasi sendiri.

Tampilan App Gallery baru di Google AI Studio dengan proyek sampel

Fitur cerdas lainnya adalah Brainstorming Loading Screen yang muncul saat aplikasi sedang dibangun. Alih-alih menunggu dengan layar kosong, Anda akan disuguhi ide-ide yang dihasilkan Gemini. Ini seperti memiliki asisten kreatif yang terus memberikan inspirasi selama proses development berlangsung.

Perkembangan ini sejalan dengan tren yang kita lihat di industri teknologi global. Seperti yang terjadi dengan upaya Meta dan Google membuat kesepakatan AI dengan studio Hollywood, demokratisasi teknologi AI sedang berlangsung dengan cepat. Bahkan revolusi ini mulai menyentuh berbagai aspek, termasuk bagaimana AI mulai menggantikan aktor hewan di industri film.

Edit dengan Cara yang Lebih Manusiawi

Salah satu inovasi paling menarik dalam pembaruan AI Studio ini adalah Annotation Mode. Fitur ini mengubah cara kita melakukan editing aplikasi dari yang sebelumnya teknis menjadi intuitif. Cukup tunjuk bagian mana pun dari aplikasi Anda dan beri tahu Gemini apa yang ingin diubah.

“Buat tombol ini berwarna biru” atau “animasikan gambar dari kiri” adalah contoh perintah sederhana yang langsung bisa dipahami sistem. Perubahan akan terjadi seketika, tanpa perlu menyelami baris kode yang rumit. Ini menghilangkan kebutuhan untuk memahami sintaks pemrograman hanya untuk melakukan modifikasi kecil.

Demonstrasi Annotation Mode di Google AI Studio untuk editing aplikasi

Pendekatan ini merevolusi workflow development tradisional. Developer pemula tidak lagi takut untuk bereksperimen, sementara profesional bisa menghemat waktu yang biasanya terbuang untuk debugging dan modifikasi manual.

Kontinuitas Tanpa Batas

Google memahami bahwa kreativitas tidak boleh terhambat oleh batasan teknis. Itulah mengapa mereka menyediakan solusi elegan untuk masalah penggunaan gratis. Jika Anda mencapai batas penggunaan gratis, cukup tambahkan kunci API sendiri dan lanjutkan coding. Sistem akan secara otomatis beralih kembali ketika kuota gratis Anda diperbarui.

Fleksibilitas ini memastikan bahwa proses kreatif tidak terputus di tengah jalan. Bagi developer yang serius dengan proyek mereka, ini berarti mereka bisa terus bekerja tanpa khawatir kehilangan momentum hanya karena batasan kuota.

Revolusi dalam pengembangan aplikasi AI ini membuka peluang besar bagi ekosistem teknologi Indonesia. Dengan tools yang semakin mudah diakses, kita bisa melihat gelombang baru developer lokal yang mampu menciptakan solusi inovatif. Seperti yang ditunjukkan oleh inovasi dalam teknologi mobile yang terus berkembang, akses terhadap tools canggih adalah kunci untuk menciptakan produk yang kompetitif di pasar global.

Pembaruan Google AI Studio ini bukan sekadar tambahan fitur biasa. Ini adalah perubahan paradigma dalam bagaimana kita berinteraksi dengan teknologi AI. Dari yang sebelumnya eksklusif untuk kalangan teknis, kini menjadi accessible untuk semua orang dengan ide kreatif. Pertanyaannya sekarang: aplikasi AI apa yang akan Anda ciptakan hari ini?

Perbedaan Utama Android Auto vs Android Automotive

0

Telset.id – Google memiliki dua teknologi berbeda untuk menghubungkan pengguna dengan kendaraan mereka: Android Auto dan Android Automotive. Meski sama-sama berbasis Android, kedua sistem ini memiliki pendekatan integrasi yang sangat berbeda. Android Auto beroperasi melalui smartphone pengguna dan memproyeksikan antarmuka ke layar mobil, sementara Android Automotive adalah sistem operasi penuh yang tertanam langsung dalam sistem infotainment kendaraan.

Perbedaan mendasar terletak pada cara kerja masing-masing sistem. Android Auto membutuhkan smartphone Android dengan versi 9.0 atau lebih baru untuk berfungsi, sedangkan Android Automotive dapat beroperasi secara mandiri tanpa bergantung pada ponsel. Sistem yang tertanam dalam dashboard mobil ini menggantikan perangkat lunak infotainment pabrikan, seperti yang diterapkan Volvo untuk menggantikan sistem Sensus mereka.

Jeremy Laukkonen, mantan penulis Lifewire, menjelaskan bahwa meski keduanya bertujuan membuat berkendara lebih aman dan terhubung, implementasinya sangat berbeda. “Android Auto menghubungkan ponsel Anda ke head unit kendaraan, sementara Android Automotive berjalan di head unit dan tidak membutuhkan ponsel untuk beroperasi,” jelasnya.

Integrasi dan Kontrol Kendaraan

Android Automotive menawarkan integrasi yang lebih dalam dengan sistem kendaraan. Sistem ini memungkinkan pengendara mengontrol fitur seperti AC, pemanas kursi, dan audio melalui perintah suara Google Assistant. Sebaliknya, Android Auto terbatas pada kontrol aplikasi yang berjalan di ponsel dan belum dapat mengatur fitur kendaraan secara langsung.

Meski demikian, kabarnya Google sedang mengembangkan fungsi kontrol iklim untuk Android Auto. Sementara menunggu fitur tersebut, pengguna dapat memanfaatkan berbagai peningkatan yang telah diluncurkan, termasuk fitur baru yang membuat Android Auto lebih mirip sistem asli mobil.

Fleksibilitas Aplikasi dan Navigasi

Android Auto unggul dalam hal fleksibilitas aplikasi. Sistem ini mendukung berbagai aplikasi navigasi alternatif seperti Waze dan MapQuest, serta bekerja dengan beragam aplikasi Android yang diinstal di ponsel. Pengguna juga dapat dengan mudah menambah dan mengatur aplikasi di Android Auto sesuai kebutuhan.

Android Automotive lebih terbatas dalam hal aplikasi. Meski berbasis Android, sistem ini hanya mendukung jumlah aplikasi terbatas yang harus diinstal langsung pada perangkat Android Automotive. Untuk navigasi, Google Maps menjadi pilihan utama dengan dukungan Waze yang terbatas pada beberapa model kendaraan.

Perkembangan terbaru menunjukkan integrasi yang semakin baik antara kedua platform dengan layanan streaming musik. Spotify Jam kini hadir di mobil dengan Android Auto dan Google Built-in, memberikan pengalaman berbagi musik yang lebih baik selama perjalanan.

Dari segi ketersediaan, Android Auto memiliki keunggulan signifikan. Mayoritas kendaraan baru dari merek utama mendukung Android Auto, sementara Android Automotive hanya tersedia pada beberapa model kendaraan tertentu. Namun, Android Automotive tidak memerlukan koneksi data seluler untuk beroperasi, berbeda dengan Android Auto yang bergantung pada koneksi ponsel.

Untuk kompatibilitas perangkat, Android Auto hanya bekerja dengan ponsel Android, sementara Android Automotive dapat terhubung dengan ponsel Android dan iPhone via Bluetooth untuk panggilan dan pesan teks. Namun, koneksi ini terbatas pada fungsi komunikasi tanpa kontrol aplikasi atau proyeksi layar dari ponsel.

Pemutakhiran sistem juga dilakukan dengan cara berbeda. Android Auto pada Android 10 dan lebih baru merupakan bagian dari sistem operasi yang diperbarui melalui update reguler, sementara pada Android 9 dan lebih rendah, aplikasi terpisah dapat diupdate via Google Play Store.

Kedua sistem terus berkembang dengan penambahan fitur-fitur baru. Google Gemini akan hadir di Android Auto dalam waktu dekat, menandakan komitmen Google dalam menyempurnakan pengalaman berkendara yang terhubung.

Pilihan antara Android Auto dan Android Automotive ultimately tergantung pada kebutuhan dan preferensi pengguna. Android Auto menawarkan fleksibilitas dan kompatibilitas yang lebih luas, sementara Android Automotive memberikan integrasi yang lebih dalam dengan sistem kendaraan. Dengan perkembangan teknologi yang pesat, kedua platform diperkirakan akan terus menyempurnakan fitur dan kemampuan mereka untuk memenuhi tuntutan pengguna modern.

Instagram Luncurkan Fitur Watch History untuk Reels, Solusi Cerdas

0

Telset.id – Pernahkah Anda mengalami momen frustasi ketika sebuah video Reels yang menarik tiba-tiba hilang begitu saja? Entah karena ketukan jari yang salah, aplikasi yang tiba-tiba refresh, atau sekadar terganggu notifikasi. Pencarian manual pun kerap berujung pada labirin konten tanpa ujung. Kini, Instagram menjawab keluhan klasik ini dengan sebuah solusi elegan: fitur watch history untuk Reels.

Pengumuman resmi datang langsung dari sang CEO, Adam Mosseri, pada Jumat lalu. Dalam pernyataannya yang sederhana namun penuh makna, Mosseri menyebutkan bahwa fitur ini diharapkan dapat membantu pengguna menemukan kembali konten yang sebelumnya sulit dilacak. “Semoga sekarang Anda bisa menemukan hal yang sedang Anda cari namun sebelumnya tidak bisa ditemukan,” ujarnya. Pernyataan ini bukan sekadar janji marketing belaka, melainkan respons langsung terhadap salah satu pain point terbesar pengguna platform media sosial tersebut.

Fitur ini hadir dengan pendekatan yang surprisingly komprehensif. Bukan sekadar daftar tontonan biasa, melainkan sebuah sistem pencarian yang cerdas. Anda dapat mengaksesnya melalui jalur Settings > Your activity > Watch history. Di sini, Anda akan menemukan arsip Reels yang pernah ditonton, lengkap dengan kemampuan untuk menyortir dari yang terbaru ke terlama atau sebaliknya. Bahkan lebih dari itu, fitur ini memungkinkan Anda untuk melompat ke tanggal tertentu atau rentang tanggal, serta memfilter berdasarkan akun yang memposting konten tersebut.

Tampilan antarmuka fitur Watch History Reels Instagram dengan opsi filter dan sortir

Inovasi ini muncul di tengah semakin ketatnya persaingan platform video pendek. Instagram terus berinovasi untuk mempertahankan relevansinya di pasar yang didominasi oleh TikTok. Fitur watch history ini bisa menjadi pembeda signifikan, terutama bagi pengguna yang menginginkan pengalaman yang lebih terorganisir dan mudah dilacak. Bandingkan dengan platform lain yang seringkali membuat pengguna kesulitan menemukan kembali konten favorit mereka.

Yang menarik, fitur ini bukanlah inovasi pertama Instagram dalam upaya meningkatkan pengalaman pengguna. Sebelumnya, platform ini telah meluncurkan berbagai pembaruan signifikan, termasuk Fitur Baru Instagram: Repost, Peta, dan Tab Teman untuk Koneksi Lebih Baik yang fokus pada aspek sosial, serta Fitur Baru Instagram Memudahkan Hapus Pengikut Berisi Spam yang menargetkan masalah keamanan akun.

Dari perspektif teknis, implementasi watch history untuk Reels menunjukkan kedewasaan platform dalam memahami pola konsumsi konten pengguna. Kemampuan untuk memfilter berdasarkan akun tertentu sangat berguna bagi content creator dan bisnis yang ingin melacak kompetitor atau inspirasi konten. Sementara fitur pencarian berdasarkan tanggal memberikan kemudahan bagi pengguna yang ingin menemukan kembali konten spesifik yang mereka ingat waktu penayangannya.

Fitur ini juga memiliki implikasi yang lebih luas bagi ekosistem Instagram. Dengan adanya watch history, engagement pengguna diprediksi akan meningkat karena mereka tidak lagi khawatir kehilangan konten berharga. Hal ini sejalan dengan upaya Instagram lainnya seperti Fitur Baru Instagram Dirilis, Hapus Foto Multiple dan Rage Shake yang bertujuan membuat platform lebih user-friendly.

Dalam konteks yang lebih besar, langkah Instagram ini mencerminkan tren industri menuju personalisasi dan kontrol yang lebih besar bagi pengguna. Di era dimana perhatian menjadi komoditas berharga, kemampuan untuk mengelola dan melacak konten yang telah dikonsumsi menjadi nilai tambah yang signifikan. Fitur watch history tidak hanya menyelesaikan masalah praktis, tetapi juga membangun kepercayaan pengguna terhadap platform.

Bagi para content creator, fitur ini membuka peluang baru untuk memahami performa konten mereka. Dengan mengetahui bahwa pengguna dapat dengan mudah menemukan kembali Reels mereka, creator dapat fokus pada kualitas konten yang memiliki daya tahan lama, bukan sekadar konten viral sesaat. Pendekatan ini sejalan dengan evolusi platform media sosial menuju konten yang lebih meaningful dan sustainable.

Implementasi watch history juga menunjukkan bagaimana Instagram belajar dari pengalaman pengguna nyata. Banyak pengguna yang mengeluh tentang sulitnya menemukan kembali konten yang mereka sukai, terutama ketika algoritma terus memperbarui feed mereka. Dengan solusi ini, Instagram memberikan kontrol kembali ke tangan pengguna, sebuah langkah yang patut diapresiasi dalam industri yang seringkali didikte oleh algoritma.

Ke depan, kita dapat berharap fitur ini akan terus berkembang. Mungkin saja Instagram akan menambahkan kemampuan untuk menyimpan Reels favorit dalam folder khusus, atau integrasi dengan fitur bookmark yang sudah ada. Yang pasti, kehadiran watch history menandai babak baru dalam evolusi platform menuju pengalaman yang lebih terpersonalisasi dan terkendali.

Jadi, lain kali ketika Anda menemukan Reels yang menarik namun terpaksa meninggalkannya karena suatu hal, jangan panik. Cukup buka Settings > Your activity > Watch history, dan temukan kembali konten yang hampir hilang tersebut. Fitur ini mungkin terlihat sederhana, namun dampaknya terhadap pengalaman pengguna sehari-hari sangatlah signifikan. Instagram sekali lagi membuktikan bahwa inovasi terbaik seringkali datang dari menyelesaikan masalah yang paling mendasar.

Kolaborasi OPPO dan Google Hadirkan AI Personal di Find X9 Series

0

Telset.id – Bayangkan smartphone yang benar-benar memahami kebutuhan harian Anda, mampu mengorganisir konten layar dengan geser tiga jari, lalu memanfaatkannya untuk merencanakan liburan impian bersama asisten AI. Itulah yang dijanjikan OPPO dalam kolaborasi barunya dengan Google. Dua raksasa teknologi ini bergandengan tangan untuk menghadirkan pengalaman AI yang lebih personal, efisien, dan—yang tak kalah penting—terjaga privasinya.

Kemitraan ini bukan sekadar kerja sama biasa. Ini adalah langkah strategis untuk membawa kecerdasan buatan ke tingkat yang lebih intim dengan pengguna. Fokusnya terbagi dalam tiga pilar utama: fitur AI yang disesuaikan dengan preferensi individu, penyebaran model AI yang lebih optimal, serta perlindungan privasi yang diperkuat. Kai Tang, President of Software Engineering di OPPO, menegaskan, “Bekerja erat dengan mitra seperti Google memungkinkan kami mengintegrasikan pengalaman AI generasi berikutnya yang tidak hanya kuat, tetapi juga sangat personal dan aman.”

Lantas, seperti apa wujud nyata kolaborasi ini? Semua akan terungkap sepenuhnya pada peluncuran OPPO Find X9 Series yang dijadwalkan pada 28 Oktober mendatang. Inovasi ini bisa jadi akan menggeser cara kita berinteraksi dengan perangkat sehari-hari, mirip dengan bagaimana Samsung mengoptimasi aplikasi di layar sekunder Galaxy Z Flip5 untuk pengalaman pengguna yang lebih efisien.

Mind Space: Revolusi Pengelolaan Konten dengan Sentuhan AI

Jantung dari kolaborasi ini adalah aplikasi baru bernama Mind Space. Bayangkan Anda sedang merencanakan perjalanan dan menemukan berbagai artikel, gambar, dan catatan menarik di layar ponsel. Biasanya, konten-konten ini tersebar di berbagai aplikasi dan tab browser. Dengan Mind Space, cukup gunakan gestur tiga jari untuk menyimpan semuanya. Aplikasi ini akan mengumpulkan dan mengurutkannya secara otomatis di satu tempat yang mudah diakses.

Yang membuatnya benar-benar cerdas adalah integrasinya dengan Gemini, asisten AI Google. Gemini dapat mengakses konten yang tersimpan di Mind Space dan membantu Anda mengambil tindakan berdasarkan informasi tersebut. Misalnya, setelah mengumpulkan berbagai referensi wisata kuliner dan objek menarik, Anda bisa meminta Gemini untuk menyusun itinerary perjalanan yang detail dan personal.

Kontrol sepenuhnya ada di tangan pengguna. Anda dapat memilih secara spesifik konten mana saja yang boleh dilihat atau digunakan Gemini dari dalam Mind Space. Pendekatan ini menjaga kedaulatan data pribadi sekaligus memanfaatkan kekuatan AI untuk produktivitas. Inovasi semacam ini sejalan dengan tren personalisasi perangkat mobile, seperti yang terlihat pada berbagai trik personalisasi layar kunci Android yang semakin populer.

Gemini Live dan Nano Banana: AI yang Melihat Dunia Anda

Integrasi Gemini tidak berhenti di Mind Space. Asisten AI ini akan bekerja sama dengan berbagai aplikasi OPPO lainnya di Find X9 Series. Fitur Gemini Live memungkinkan interaksi yang lebih kontekstual—Gemini dapat merespons apa yang Anda lihat di layar atau melalui kamera ponsel. Misalnya, saat Anda kesulitan memperbaiki perangkat tertentu, arahkan kamera ke objek tersebut dan Gemini Live akan menunjukkan langkah-langkah perbaikannya secara visual.

Untuk penggemar fotografi, hadir pula kemampuan editing gambar menggunakan model Nano Banana. Cukup berinteraksi dengan Gemini melalui chat, dan Anda bisa mendapatkan hasil edit foto yang profesional tanpa perlu membuka aplikasi editing yang rumit. Kemampuan AI semacam ini menunjukkan bagaimana smartphone semakin memahami konteks visual, mirip dengan perkembangan inovasi desain dan fungsionalitas pada aksesori smartphone modern.

Privasi sebagai Fondasi Utama

Dengan kemampuan AI yang semakin mendalam, kekhawatiran tentang privasi tentu mengemuka. OPPO menjawab ini dengan AI Private Computing Cloud yang dibangun di atas layanan confidential computing Google Cloud. Arsitektur ini memastikan semua pemrosesan AI terjadi dalam lingkungan terenkripsi yang aman. Data sensitif tetap bersifat privat dan tidak dapat diakses oleh pihak ketiga mana pun—bahkan oleh OPPO sendiri.

Pendekatan ini mencerminkan komitmen kedua perusahaan terhadap kepercayaan pengguna. Dalam era di mana data menjadi aset berharga, menjamin kerahasiaannya bukan sekadar fitur tambahan, melainkan kebutuhan fundamental. OPPO dan Google paham betul bahwa teknologi AI hanya akan diterima luas jika disertai jaminan keamanan yang tak tergoyahkan.

Peluncuran Find X9 Series dengan ColorOS 16 akan menjadi momen penting dalam evolusi smartphone AI. Pembeli Find X9 atau Find X9 Pro akan mendapatkan bonus langganan Google AI Pro selama tiga bulan gratis, yang mencakup akses ke alat Gemini premium dan penyimpanan cloud 2TB. Nilai tambah ini semakin melengkapi paket AI komprehensif yang ditawarkan.

Kolaborasi OPPO dan Google ini bukan sekadar pertemuan dua brand teknologi. Ini adalah sinergi yang berpotensi mengubah lanskap interaksi manusia dengan perangkat mobile. Dari pengelolaan konten yang intuitif hingga asisten AI yang benar-benar kontekstual, Find X9 Series hadir dengan janji smartphone yang tidak hanya pintar, tetapi juga memahami. Tunggu tanggal 28 Oktober—revolusi AI personal segera dimulai.

Google Gemini Canvas Bisa Buat Slide Presentasi Otomatis

0

Telset.id – Bayangkan Anda harus membuat presentasi mendadak untuk rapat penting besok pagi. Biasanya, Anda akan menghabiskan berjam-jam menyusun slide, mencari gambar pendukung, dan merancang tata letak yang menarik. Tapi bagaimana jika semua itu bisa diselesaikan hanya dengan satu perintah sederhana? Itulah yang kini ditawarkan Google melalui fitur terbaru di Gemini Canvas.

Google secara resmi mengumumkan peluncuran kemampuan pembuatan presentasi otomatis di Gemini Canvas, workspace interaktif gratis dalam aplikasi chatbot AI mereka. Fitur yang ditargetkan untuk pelajar dan profesional ini memungkinkan pengguna menghasilkan deck presentasi lengkap hanya dengan prompt teks. Yang lebih menarik, Gemini kini bisa memahami konteks dari dokumen yang Anda unggah—mulai dari laporan penelitian hingga spreadsheet—lalu mengubahnya menjadi presentasi yang koheren.

Bagi yang pernah menggunakan Google Gemini 2.5 Computer Use, perkembangan ini terasa seperti evolusi alami. Jika sebelumnya AI bisa meniru interaksi manusia dengan komputer, kini ia melangkah lebih jauh dengan menjadi asisten presentasi yang cerdas.

Antarmuka Google Gemini Canvas dengan fitur pembuatan presentasi otomatis

Cara kerjanya cukup intuitif. Pengguna memiliki dua opsi: pertama, cukup mengetik prompt seperti “Buat presentasi tentang strategi pemasaran digital 2025” jika tidak memiliki sumber spesifik. Kedua, jika Anda punya dokumen referensi, unggah file tersebut—baik format dokumen, spreadsheet, atau paper akademik—lalu minta Gemini membuat presentasi berdasarkan konten file tersebut. Fleksibilitas ini menjawab kebutuhan berbeda; kadang kita butuh presentasi dari nol, kadang perlu merangkum dokumen existing.

Hasilnya? Deck presentasi yang sudah memiliki tema visual konsisten, dilengkapi gambar pendukung yang relevan, dan tentu saja visualisasi data jika sumber yang diunggah mengandung angka-angka. Ini bukan sekadar teks yang dipindahkan ke slide, melainkan presentasi yang benar-benar siap pakai dengan estetika yang terjaga.

Kemudahan tidak berhenti di situ. Presentasi yang dihasilkan bisa langsung diekspor ke Google Slides untuk penyempurnaan akhir. Artinya, Anda masih memiliki kendali penuh untuk mengedit teks, menyesuaikan desain, atau berkolaborasi dengan rekan tim. Integrasi yang mulus ini menghilangkan kekhawatiran tentang kompatibilitas format file.

Fitur ini mulai diluncurkan hari ini untuk pelanggan Gemini Pro, sementara pengguna gratis akan mendapat akses dalam beberapa minggu mendatang. Yang menarik, kemampuan ini tersedia untuk kedua jenis akun—baik akun personal maupun Workspace. Ini menunjukkan komitmen Google dalam menjadikan AI sebagai alat produktivitas yang inklusif.

Canvas sendiri sebenarnya bukan hal baru. Google meluncurkannya bulan Maret lalu sebagai ruang bagi pengguna untuk berbagi tulisan atau kode dengan Gemini untuk proses editing. Perkembangannya cukup signifikan—dari sekadar editor teks menjadi generator presentasi yang cerdas. Bahkan untuk proyek yang lebih kompleks seperti pembuatan aplikasi, halaman web, atau infografik, Canvas mampu menampilkan representasi visual dari desain yang diminta.

Lalu, bagaimana dengan masa depan kolaborasi AI seperti yang terlihat dalam kerjasama Google Gemini dengan iOS 19? Kemampuan pembuatan presentasi ini bisa menjadi fondasi untuk integrasi yang lebih dalam di berbagai platform. Bayangkan jika nanti Anda bisa memerintahkan Gemini membuat presentasi langsung dari smartwatch atau melalui perintah suara di mobil.

Yang patut diapresiasi adalah pendekatan Google yang tetap memberikan ruang bagi kreativitas manusia. AI handle bagian yang repetitif dan memakan waktu—seperti menyusun layout dan mencari gambar—sementara manusia fokus pada penyempurnaan konten dan penyesuaian kreatif. Ini bukan tentang menggantikan manusia, melainkan memberdayakannya dengan alat yang lebih cerdas.

Bagi dunia pendidikan, fitur ini bisa menjadi revolusi dalam metode pembelajaran. Mahasiswa bisa lebih fokus pada analisis konten daripada menghabiskan waktu untuk hal teknis pembuatan slide. Di sisi korporat, efisiensi waktu yang ditawarkan sangat signifikan—presentasi yang biasanya memakan waktu 2-3 jam bisa diselesaikan dalam hitungan menit.

Tantangannya tentu ada. Seberapa akurat Gemini dalam menangkap esensi dokumen yang kompleks? Apakah visualisasi datanya cukup detail untuk presentasi tingkat executive? Pengalaman pengguna lah yang nantinya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Namun, langkah Google ini jelas mempercepat adopsi AI dalam workflow sehari-hari.

Seiring dengan ekspansi Gemini ke berbagai perangkat seperti Galaxy foldable dan Watch8, kemampuan pembuatan presentasi ini berpotensi menjadi fitur andalan bagi profesional yang mobile. Presentasi mendadak tidak lagi menjadi mimpi buruk, melainkan tantangan yang bisa diatasi dengan beberapa ketukan jari.

Jadi, bersiaplah menyambut era dimana AI tidak hanya membantu kita mencari informasi, tetapi juga menyajikannya dalam format yang siap presentasi. Mungkin sebentar lagi, skill membuat presentasi dari nol akan menjadi seperti mengetik dengan mesin ketik—masih bisa dilakukan, tapi mengapa repot jika ada cara yang lebih efisien?

Spotify di Apple TV Hadir dengan Pengalaman Baru yang Lebih Mulus

0

Telset.id – Apakah Anda pengguna setia Spotify di Apple TV yang kerap merasa pengalaman streaming masih kurang optimal? Kabar gembira datang dari raksasa musik streaming tersebut. Spotify secara resmi meluncurkan pengalaman baru yang dirancang khusus untuk tvOS, menghadirkan berbagai fitur andalan dari versi mobile ke layar televisi Anda. Ini bukan sekadar pembaruan biasa, melainkan transformasi menyeluruh yang menjanjikan kelancaran berlevel lebih tinggi.

Bagi Anda yang sering frustrasi dengan keterbatasan antarmuka sebelumnya, pembaruan ini layak dinanti. Spotify memahami bahwa pengalaman di layar besar harus seintuitif di genggaman tangan. Dengan integrasi fitur manajemen antrian dan lirik yang selama ini menjadi andalan di aplikasi mobile, kini Anda bisa mengontrol playlist dengan lebih leluasa sambil bernyanyi bersama lirik yang terpampang jelas. Yang menarik, Spotify juga membawa asisten AI-nya, Spotify DJ, ke platform Apple TV, memberikan rekomendasi musik yang lebih personal tanpa harus mengangkat remote terlalu sering.

Masalah remote control yang kerap jadi ganjalan? Spotify menjawabnya dengan integrasi Connect yang lebih mulus. Fitur ini memungkinkan Anda mengontrol pemutaran musik dari perangkat lain, sekaligus—diharapkan—mengatasi isu perubahan volume yang sebelumnya kerap dikeluhkan pengguna. Bagi yang gemar konten video, pembaruan ini menghadirkan kabar lebih menggembirakan. Apple TV kini mendukung pemutaran video podcast dan memungkinkan penyesuaian kecepatan putar, memberi fleksibilitas lebih dalam menikmati konten favorit.

Antarmuka baru Spotify untuk Apple TV dengan tampilan lirik dan kontrol queue

Waktu peluncuran terasa begitu tepat, mengingat Spotify baru saja mengumumkan kolaborasinya dengan Netflix untuk menghadirkan video podcast di platform streaming tersebut pada awal 2026. Ini menunjukkan komitmen Spotify dalam memperluas ekosistem konten videonya melampaui batas platform musik konvensional.

Video Musik Masuk ke Ekosistem Apple TV

Salah satu inovasi paling menarik dalam pembaruan ini adalah kehadiran video musik di Apple TV. Untuk pertama kalinya, pelanggan Premium di 97 pasar beta—termasuk kemungkinan Indonesia—bisa menikmati pengalaman “switch to video” pada lagu-lagu yang memiliki video musik resmi. Fitur ini bekerja dengan mekanisme serupa dengan yang sudah tersedia untuk podcast, memberikan transisi mulus antara audio dan visual.

Ini merupakan langkah strategis Spotify dalam memperkuat posisinya di pasar konten video, sekaligus menjawab tantangan dari kompetitor yang sudah lebih dulu mengintegrasikan konten visual ke dalam layanan streaming mereka. Bagi artis dan label musik, kehadiran fitur ini membuka peluang eksposur tambahan di platform yang menjangkau audiens lebih luas.

Antarmuka Baru yang Dirancang Khusus untuk TV

Yang membedakan pembaruan ini dari sekadar porting aplikasi mobile adalah antarmuka yang sepenuhnya didesain ulang untuk lingkungan tvOS. Spotify tampaknya belajar dari pengalaman sebelumnya bahwa antarmuka yang optimal untuk layar sentuh tidak selalu cocok untuk navigasi menggunakan remote.

Desain baru ini menitikberatkan pada kemudahan navigasi dan visibilitas konten dari jarak yang lebih jauh. Elemen-elemen antarmuka diperbesar secara proporsional, sementara tata letak dioptimalkan untuk pengalaman menonton pasif—sesuai dengan karakteristik penggunaan di ruang keluarga.

Spotify juga terlihat berusaha menciptakan konsistensi pengalaman dengan platform lain. Integrasi yang lebih baik dengan ekosistem Apple, termasuk kompatibilitas dengan Apple Vision Pro yang baru saja diluncurkan, menunjukkan strategi jangka panjang perusahaan dalam membangun ekosistem yang terintegrasi.

Kolaborasi dengan platform lain juga terus dikembangkan, seperti yang terlihat dari fitur berbagi musik ke TikTok yang sebelumnya telah diluncurkan. Ini membuktikan bahwa Spotify tidak hanya fokus pada pengalaman dalam aplikasi, tetapi juga bagaimana kontennya bisa diakses dan dibagikan di berbagai platform.

Apa Artinya Bagi Pengguna di Indonesia?

Meskipun rilis resmi disebutkan akan tersedia untuk semua pengguna pada pertengahan November, pertanyaan besar adalah apakah pengguna di Indonesia akan mendapatkan akses penuh ke semua fitur baru tersebut. Mengingat fitur video musik Spotify sudah tersedia di Indonesia, kemungkinan integrasi dengan Apple TV akan menyusul.

Bagi pengguna yang sudah familiar dengan miniplayer Spotify di PC, transisi ke antarmuka Apple TV yang baru diharapkan akan terasa natural. Pola pikir Spotify dalam menghadirkan konsistensi pengalaman lintas platform semakin jelas terlihat dari rangkaian pembaruan yang mereka luncurkan belakangan ini.

Dengan komitmen Spotify yang tercermin dari pembayaran royalti mencapai $10 miliar di 2024, tidak mengherankan jika mereka terus berinvestasi dalam pengembangan platform. Pembaruan Apple TV ini bukan sekadar tambal sulam, melainkan bagian dari strategi besar untuk mendominasi pasar streaming di semua jenis perangkat.

Jadi, bersiaplah untuk menyambut pengalaman Spotify yang benar-benar baru di layar televisi Anda. Dengan antarmuka yang lebih intuitif, fitur yang lebih lengkap, dan integrasi yang lebih mulus, streaming musik dan konten audio lainnya di ruang keluarga akan terasa berbeda. Tinggal tunggu mid-November untuk membuktikan sendiri apakah janji “pengalaman yang lebih smooth” ini benar-benar terwujud.

Cara Tambah dan Atur Aplikasi di Android Auto dengan Mudah

0

Telset.id – Pengguna Android Auto kini dapat dengan mudah menambahkan dan mengatur aplikasi favorit mereka untuk pengalaman berkendara yang lebih personal dan efisien. Prosesnya sederhana: cukup instal aplikasi kompatibel di ponsel Android, lalu aplikasi tersebut otomatis tersedia di sistem infotainment kendaraan.

Tim Fisher, Senior Vice President & Group General Manager di Lifewire dengan pengalaman teknologi lebih dari 30 tahun, menjelaskan bahwa kustomisasi Android Auto memungkinkan pengemudi mengoptimalkan akses ke aplikasi yang paling sering digunakan. “Dengan mengatur tata letak aplikasi dan membuat shortcut khusus, pengguna dapat mengurangi gangguan saat menyetir sekaligus meningkatkan keamanan,” ujarnya.

Android Auto telah berkembang menjadi platform yang semakin cerdas, di mana integrasi dengan asisten digital Google Assistant memungkinkan kontrol suara yang lebih natural. Fitur ini sangat membantu pengemudi untuk tetap fokus pada jalan sambil tetap terhubung dengan aplikasi penting seperti navigasi, musik, dan komunikasi.

Menu showing Android Auto launcher customization with selectable app options

Langkah Mudah Menambah Aplikasi ke Android Auto

Menambahkan aplikasi baru ke Android Auto tidak memerlukan proses yang rumit. Pengguna cukup mengunduh aplikasi yang kompatibel dari Google Play Store ke ponsel Android mereka. Setelah terinstal, aplikasi tersebut akan otomatis muncul di antarmuka Android Auto ketika ponsel terhubung dengan kendaraan.

Fisher menekankan bahwa sebagian besar aplikasi populer sudah mendukung Android Auto melalui versi standarnya. “Tidak perlu mengunduh versi khusus untuk Android Auto. Aplikasi seperti Spotify, Google Maps, dan WhatsApp sudah otomatis terintegrasi setelah diinstal di ponsel,” jelasnya.

Namun, penting untuk memastikan bahwa kendaraan mendukung Android Auto. Pengguna dapat memeriksa kompatibilitas kendaraan mereka melalui halaman resmi Google Android Auto Compatibility. Beberapa kendaraan lama mungkin memerlukan pembaruan sistem atau perangkat tambahan untuk dapat menggunakan fitur ini.

Screenshots showing Android Auto settings and options menus including app customization and system preferences

Mengatur dan Mengorganisir Aplikasi Android Auto

Setelah menambahkan berbagai aplikasi, pengguna dapat mengatur tampilannya sesuai preferensi. Aplikasi Android Auto yang tersedia di Android 10 dan versi lebih baru menyediakan opsi kustomisasi lengkap melalui menu Settings > Apps > Android Auto > Additional settings in the app.

Fisher menjelaskan bahwa pengaturan ini memungkinkan pengguna menyembunyikan aplikasi yang jarang digunakan. “Dengan menghapus centang pada aplikasi tertentu di menu Customize launcher, pengguna dapat membersihkan antarmuka dan hanya menampilkan aplikasi yang benar-benar diperlukan,” ujarnya.

Selain menyembunyikan aplikasi, pengguna juga dapat mengubah urutan tampilan aplikasi dengan menekan dan menahan ikon aplikasi, lalu menariknya ke posisi yang diinginkan. Aplikasi yang ditempatkan di urutan pertama akan muncul di pojok kiri atas layar kendaraan, memudahkan akses cepat saat berkendara.

User interface for customizing an Android Auto launcher showing options for apps and shortcuts

Memanfaatkan Shortcut Google Assistant

Salah satu fitur paling powerful di Android Auto adalah kemampuan membuat shortcut Google Assistant. Fitur ini memungkinkan pengguna mengeksekusi perintah kompleks dengan satu ketukan, tanpa perlu menggunakan perintah suara yang panjang.

“Shortcut sangat berguna untuk situasi seperti menavigasi ke lokasi favorit, menelepon kontak dengan nama yang sulit diucapkan, atau mengirim pesan cepat ‘Tidak bisa bicara sekarang’,” jelas Fisher. Pengguna dapat membuat shortcut melalui menu Add a shortcut to the launcher dan memilih antara opsi Call a contact atau An Assistant action.

Untuk shortcut Assistant action, pengguna cukup mengetik perintah yang diinginkan dan memberi nama shortcut. Misalnya, perintah “Buka pintu garasi” dapat diubah menjadi shortcut dengan nama “Pintu Garasi” untuk akses instan. Fitur ini tidak hanya menghemat waktu tetapi juga meningkatkan keselamatan berkendara dengan mengurangi interaksi manual yang berlebihan.

Pengembangan Android Auto terus berlanjut dengan integrasi teknologi AI yang lebih canggih. Seperti yang diungkapkan dalam artikel sebelumnya tentang Google Gemini yang akan hadir di Android Auto, masa depan sistem ini akan semakin intuitif dan personal.

Keamanan perangkat Android juga menjadi faktor penting dalam pengalaman menggunakan Android Auto. Pengguna disarankan untuk selalu menjaga keamanan ponsel mereka dengan menerapkan cara aman dan efektif menghapus virus dari perangkat Android serta menghilangkan dan mencegah peringatan virus palsu di Android.

Selain itu, pengguna yang ingin meningkatkan privasi mereka dapat mempelajari tips mematikan fitur auto sign-in Chrome di Android untuk melindungi data pribadi saat menggunakan berbagai aplikasi terintegrasi.

Dengan berbagai fitur kustomisasi yang tersedia, Android Auto terus ber evolusi menjadi platform yang tidak hanya fungsional tetapi juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan individual setiap pengguna. Kemudahan dalam menambah dan mengatur aplikasi membuat pengalaman berkendara menjadi lebih menyenangkan dan produktif.

Battlefield: RedSec Hadir Gratis, Tantang Warzone di Battle Royale

0

Telset.id – Dunia game battle royale sedang bersiap menyambut pendatang baru yang siap mengguncang. Electronic Arts (EA) resmi mengumumkan Battlefield: RedSec, mode battle royale gratis untuk Battlefield 6 yang akan rilis 28 Oktober pukul 23.00 WIB. Yang menarik, Anda tidak perlu membeli game utamanya untuk bisa bermain.

Pengumuman ini datang tepat setelah Battlefield 6 rilis 10 Oktober dengan penjualan mencengangkan: 7 juta kopi dalam tiga hari. Kini, EA mengambil langkah berani dengan meluncurkan pengalaman gratis yang langsung menargetkan pangsa pasar Call of Duty: Warzone. Sebuah langkah strategis di tengah persaingan sengit genre battle royale.

Nama “RedSec” sendiri masih menyimpan misteri. Meski trailer singkat yang dirilis menunjukkan empat kelas tentara berbeda, detail gameplay masih menjadi teka-teki. Tapi kita bisa berasumsi ini akan mengikuti formula battle royale standar: puluhan pemain di peta luas, bertarung sampai tersisa satu tim atau individu terkuat.

Battlefield RedSec teaser trailer menunjukkan empat kelas karakter berbeda

Yang menjadi pertanyaan besar: bagaimana hubungan RedSec dengan game utamanya? Warzone punya cerita yang terhubung dengan konten musiman Call of Duty. Kebetulan atau tidak, Season 1 Battlefield 6 juga rilis bersamaan pada 28 Oktober, membawa peta, mode, kendaraan, senjata, dan item kosmetik baru. Apakah ini indikasi integrasi yang lebih dalam?

Strategi “free-to-play” ini bukan hal baru, tapi timing-nya cukup cerdas. Dengan basis pemain Battlefield 6 yang sudah solid, RedSec berpotensi menarik baik pemain lama maupun baru yang enggan merogoh kocek untuk game premium. Apalagi mengingat EA mengonfirmasi Battlefield baru bakal rilis sebelum April 2026, RedSec bisa menjadi jembatan sempurna antara dua generasi game.

Platform gaming modern semakin mendukung pengalaman seperti ini. Baik Anda main di konsol seperti yang tersedia di PlayStation Plus atau PC gaming handheld seperti ROG Ally yang diklaim bisa menjalankan game AAA di Full HD 60FPS, Battlefield: RedSec dijamin bisa diakses dengan mudah.

Lalu bagaimana dengan monetisasi? Model free-to-play biasanya mengandalkan battle pass, skin kosmetik, dan item tambahan. Mengingat kesuksesan model ini di Warzone dan game sejenis, besar kemungkinan EA akan menerapkan strategi serupa. Tapi yang pasti, akses ke gameplay inti tetap gratis untuk semua.

Dengan jadwal rilis yang sudah di depan mata, komunitas gaming menanti dengan penasaran. Apakah Battlefield: RedSec bisa mengulang kesuksesan Battlefield V atau bahkan melampauinya? Atau justru menjadi pengalaman battle royale yang berbeda dengan sentuhan khas Battlefield?

Satu hal yang pasti: persaingan di arena battle royale semakin panas. Warzone kini punya penantang serius. Dan bagi Anda penggemar genre ini, akhir Oktober akan menjadi bulan yang sibuk. Siapkan koneksi internet stabil dan pastikan storage perangkat gaming Anda cukup – pertempuran baru akan segera dimulai.

OnePlus 15 Magnetic Case: Inovasi Desain dan Fungsionalitas Baru

0

Telset.id – Siapa sangka aksesori smartphone bisa menjadi begitu personal dan multifungsi? OnePlus baru saja membuktikannya dengan meluncurkan rangkaian magnetic case resmi untuk OnePlus 15 di akhir acara peluncuran terbarunya. Tiga varian case yang diperkenalkan—Custom Dot dengan pendinginan, aramid fiber, dan sandstone—tidak hanya menawarkan perlindungan standar, tetapi juga membawa pengalaman pengguna ke level berikutnya dengan dukungan ekosistem magnetik Oppo Mag.

Dalam dunia aksesori smartphone yang seringkali monoton, langkah OnePlus ini layak diapresiasi. Mereka tidak sekadar menjual pelindung perangkat, melainkan menciptakan ekosistem yang memperkaya interaksi antara pengguna dan perangkatnya. Apalagi dengan harga yang terbilang terjangkau, mulai dari 69 yuan (sekitar Rp 150 ribuan) untuk paket bundling, aksesori ini berpotensi menjadi daya tarik tambahan bagi calon pembeli OnePlus 15.

Lalu, apa saja keunggulan masing-masing varian case magnetic ini? Mari kita telusuri lebih dalam inovasi yang ditawarkan OnePlus, terutama pada model Custom Dot yang paling unik di antara ketiganya.

Custom Dot Magnetic Case: Lebih dari Sekadar Pelindung

Varian Custom Dot Magnetic Case merupakan yang paling menarik perhatian dengan fitur personalisasinya yang brilian. Case ini menggunakan desain matriks perforated yang memungkinkan pengguna menyisipkan balok silikon merah kecil untuk membuat huruf, bentuk, atau pola kustom sesuai keinginan. Bayangkan—Anda bisa mengeja nama, membuat simbol favorit, atau bahkan pola abstrak yang mencerminkan kepribadian.

OnePlus Custom Dot Magnetic Case

Yang lebih menarik, balok-balok silikon ini tidak hanya berfungsi sebagai elemen dekoratif. OnePlus mendesainnya sebagai elemen yang bisa ditekan, memberikan pengalaman taktil yang memuaskan mirip mainan fidget. Bagi Anda yang sering merasa gelisah atau butuh penyaluran stres, fitur ini bisa menjadi solusi yang menyenangkan sekaligus fungsional.

Dari sisi performa, struktur hollow pada case ini dirancang untuk meningkatkan aliran udara dan pendinginan selama gaming atau pengisian daya. Material polycarbonate yang digunakan tetap mempertahankan feel seperti memegang phone tanpa case, sambil memberikan perlindungan ekstra terhadap goresan dan jatuh.

Ekosistem Magnetik yang Komprehensif

Salah satu nilai jual utama rangkaian case magnetic OnePlus 15 ini adalah integrasinya dengan ekosistem Oppo Mag. Setiap case dilengkapi dengan magnetic ring built-in yang menghasilkan gaya magnet hingga 10N—cukup kuat untuk menahan berbagai aksesori magnetik tanpa khawatir terlepas.

Dengan dukungan ini, pengguna dapat dengan mudah memasang wireless charging bank, cooling fan, magnetic stand, atau car mount tanpa perlu repot dengan perekat atau clamp manual. Konsep ini mirip dengan ekosistem MagSafe dari Apple, namun dengan kompatibilitas yang lebih luas mengingat Oppo dan OnePlus berada di bawah payung yang sama.

OnePlus mengklaim bahwa case-case ini telah melalui berbagai pengujian menyeluruh, mencakup kekuatan magnet, ketahanan material, dan keandalan keseluruhan. Dengan berat hanya 25 gram dan dimensi 16.36 × 8.03 × 1.29 cm, case ini tidak akan menambah beban berlebih pada OnePlus 15 Anda.

Pilihan Material yang Berbeda Karakter

Bagi pengguna yang mengutamakan ketipisan dan kekokohan, varian aramid fiber case layak dipertimbangkan. Material aramid fiber—yang juga digunakan dalam industri aerospace dan militer—menawarkan rasio kekuatan-terhadap-berat yang luar biasa. Finish anyaman yang high-tech tidak hanya terlihat premium, tetapi juga memberikan daya tahan ekstra.

Sementara itu, varian sandstone kembali menghadirkan desain tekstur klasik OnePlus yang legendaris. Bagi pengguna setia OnePlus yang sudah familiar dengan sandstone finish sejak generasi-generasi awal, pilihan ini seperti nostalgia yang menyenangkan. Tekstur ini tidak hanya memberikan grip yang lebih baik, tetapi juga menghindari sidik jari yang sering mengganggu pada case berpermukaan halus.

Ketiga model case ini menggunakan kombinasi material polycarbonate, silikon, dan material magnetik untuk menawarkan kekuatan, fleksibilitas, dan konduktivitas yang optimal. OnePlus benar-benar mempertimbangkan setiap aspek—dari perlindungan hingga estetika—dalam merancang aksesori pendamping untuk flagship terbarunya ini.

Perlu diingat bahwa memilih charger yang tepat juga penting untuk menjaga performa perangkat. Seperti yang pernah kami bahas dalam artikel tentang potensi risiko charger OnePlus 2, penggunaan aksesori yang tidak kompatibel bisa berdampak negatif pada perangkat.

Harga yang Terjangkau untuk Nilai Tambah Maksimal

Dari segi harga, OnePlus menawarkan nilai yang cukup menarik. Custom Dot magnetic case dibanderol 99 yuan (sekitar $14) untuk pembelian terpisah, atau 69 yuan (sekitar $10) dalam paket bundling. Varian aramid fiber sedikit lebih premium di 199 yuan (sekitar $28) standar, atau 169 yuan (sekitar $24) dalam bundle. Sementara sandstone version memiliki pricing yang sama dengan Custom Dot.

Dengan rentang harga seperti ini, OnePlus sepertinya ingin membuat aksesori magnetic case ini dapat diakses oleh berbagai segmen pengguna. Strategi pricing yang kompetitif ini mungkin akan menjadi faktor penentu dalam persaingan dengan merek lain yang menawarkan solusi serupa.

Inovasi aksesori semacam ini menunjukkan bahwa OnePlus tidak hanya fokus pada peningkatan spesifikasi hardware, tetapi juga pada pengalaman pengguna secara keseluruhan. Seperti yang terlihat pada review OnePlus X sebelumnya, brand ini konsisten menawarkan nilai tambah di setiap lini produknya.

Rangkaian magnetic case untuk OnePlus 15 ini bukan sekadar aksesori biasa—mereka merepresentasikan pendekatan holistik OnePlus dalam menciptakan ekosistem perangkat yang terintegrasi. Dari personalisasi desain hingga fungsionalitas praktis melalui konektivitas magnetik, setiap elemen dirancang untuk meningkatkan cara kita berinteraksi dengan smartphone sehari-hari.

Bagi pengguna yang menginginkan pengalaman lebih dari sekadar smartphone biasa, aksesori ini bisa menjadi investasi yang worth it. Apalagi dengan dukungan penuh terhadap ekosistem Oppo Mag, kemungkinan pengembangannya ke depan masih sangat terbuka lebar. Siapa tahu, mungkin saja nanti akan muncul aksesori magnetik lain yang semakin memperkaya fungsi OnePlus 15 Anda.

iPhone 20 Bakal Pakai Tombol Solid-State dengan Haptic Feedback

0

Telset.id – Bayangkan memegang iPhone di masa depan, namun tak ada satu pun tombol fisik yang bisa Anda tekan. Yang ada hanyalah permukaan halus yang memberikan sensasi “klik” melalui getaran halus. Ini bukan lagi fiksi ilmiah, melainkan arah yang sedang dipersiapkan Apple untuk iPhone 20 pada 2027, menurut bocoran terbaru.

Rumor mengenai seri iPhone 18 yang akan tiba pada 2026 sudah cukup menggemparkan, namun gosip tentang iPhone 20—yang akan merayakan 20 tahun kehadiran iPhone—ternyata jauh lebih revolusioner. Sebuah laporan dari tipster terpercaya Setsuna Digital melalui Weibo mengungkapkan bahwa Apple sedang mempersiapkan transisi besar-besaran dari tombol mekanis konvensional menuju era baru kontrol solid-state dengan umpan balik haptik. Perubahan ini tidak hanya akan diterapkan pada iPhone, tetapi juga perangkat Apple lainnya dalam ekosistem mereka.

Jika Anda pengguna setia iPhone, pasti familiar dengan tombol power dan volume yang selama ini memberikan kepuasan taktis saat ditekan. Nah, bersiaplah untuk meninggalkan kenangan itu. Menurut sumber yang sama, pada saat iPhone 20 meluncur di tahun 2027, Apple berencana memproduksi massal tombol solid-state untuk tombol power, kontrol volume, tombol operasional, dan bahkan tombol kontrol kamera. Alih-alih bagian yang bergerak secara fisik, tombol-tombol masa depan ini akan mengandalkan sensor tekanan dan feedback “getaran lokal” untuk memberikan sensasi seperti menekan tombol sungguhan.

 

Ilustrasi konsep desain iPhone 20 dengan tombol solid-state dan tampilan futuristic
Konsep visual iPhone 20 dengan tombol solid-state yang mengandalkan haptic feedback bukan mekanisme fisik tradisional

Transisi menuju era tombol tanpa bagian bergerak ini ternyata akan dilakukan secara bertahap. Bocoran mengindikasikan bahwa pada era “iPhone 18” di 2026, Apple akan menyederhanakan tombol kontrol kamera terlebih dahulu dengan menghilangkan lapisan kapasitif dan hanya mempertahankan mekanisme pressure-sensing. Baru setelah itu, Apple berencana mengadopsi komponen piezoelektrik keramik untuk memberikan sensasi haptik pada model-model berikutnya. Pendekatan bertahap ini menunjukkan betapa seriusnya Apple dalam memastikan pengalaman pengguna tetap optimal meski teknologi dasarnya berubah total.

Inisiatif yang lebih luas ini diharapkan dapat menggantikan kunci mekanis di seluruh ekosistem Apple, termasuk model iPad dan Apple Watch di masa depan. Secara internal, upaya ini dikaitkan dengan “Project Bongo” yang telah lama diisukan—sebuah proyek yang fokus pada penghapusan input tak sengaja sambil memastikan pengalaman taktil yang konsisten dan andal untuk pengguna dalam skala besar. Bayangkan betapa frustrasinya jika tombol virtual tidak merespons dengan tepat—inilah tantangan yang sedang coba diatasi Apple di balik layar.

Perubahan jenis antarmuka seperti ini cenderung memerlukan validasi yang signifikan, dan bocoran tersebut menunjukkan bahwa transisi ini masih dalam fase penelitian dan penyempurnaan. Janji yang ditawarkan adalah daya tahan yang lebih baik—dengan lebih sedikit bagian bergerak yang bisa rusak—serta kemungkinan gestur baru seperti tekan kuat, tahan lama, dan usap. Namun tantangannya adalah mendapatkan feedback taktil dan responsivitas yang tepat sebelum diluncurkan ke pasar. Sampai saat itu, tombol mekanis kemungkinan besar akan tetap dipertahankan sementara Apple bekerja di balik layar.

Bagi Anda yang penasaran dengan perkembangan iPhone di masa depan, perubahan menuju tombol solid-state ini bisa menjadi salah satu evolusi terbesar sejak penghilangan tombol home. Jika Apple berhasil menerapkan teknologi ini dengan sempurna, kita mungkin akan melihat desain revolusioner yang benar-benar mengubah cara kita berinteraksi dengan perangkat mobile. Bagaimana dengan kompatibilitas dengan aksesori existing? Mungkin itu pertanyaan berikutnya yang perlu dijawab Apple.

Meski terdengar futuristik, teknologi solid-state sebenarnya bukan hal baru di industri elektronik. Beberapa laptop premium sudah menggunakan trackpad solid-state, dan Apple sendiri telah menerapkan teknologi serupa pada trackpad MacBook yang terkenal responsif. Namun menerapkannya pada tombol smartphone—yang membutuhkan presisi dan keandalan tinggi—merupakan tantangan yang berbeda sama sekali. Apalagi mengingat tombol smartphone sering kali digunakan dalam berbagai kondisi, termasuk dengan sarung tangan atau saat hujan.

Perkembangan ini juga mengingatkan kita pada transisi dari tombol fisik ke layar sentuh yang dimulai dengan iPhone pertama pada 2007. Kalaupun Anda masih menggunakan iPhone 2020 dengan port Lightning, mungkin sudah saatnya mempersiapkan diri untuk lompatan teknologi yang lebih besar lagi. Dan bagi yang khawatir dengan dampak perubahan ini pada penggunaan data, selalu bijak untuk memantau penggunaan data reguler terlepas dari jenis tombol yang digunakan.

Sampai pengumuman resmi dari Apple, semua ini tetap dalam ranah spekulasi. Namun pola yang konsisten dari berbagai bocoran menunjukkan bahwa Apple memang serius mengeksplorasi masa depan tanpa tombol mekanis. Yang pasti, jika prediksi ini akurat, iPhone 20 tidak hanya akan merayakan 20 tahun inovasi Apple, tetapi juga mungkin menjadi titik balik dalam desain antarmuka smartphone modern. Tunggu saja—revolusi taktis sedang dalam perjalanan.

Vivo X300 vs Xiaomi 17: Duel Flagship Android 2025 yang Sengit

0

Telset.id – Musim duel flagship Android telah tiba di China, dan dua punggawa terbaru—Vivo X300 dan Xiaomi 17—siap memamerkan taring mereka. Di atas kertas, keduanya hadir dengan prosesor teranyar, layar top-tier, dan baterai yang lebih besar. Tapi, apa yang sebenarnya membedakan kedua raksasa ini di balik spesifikasi mengkilap mereka?

Pertarungan antara Vivo dan Xiaomi kali ini bukan sekadar soal angka dan klaim marketing. Ini tentang filosofi desain, pendekatan performa, dan prioritas pengalaman pengguna yang berbeda. Mari kita selami lebih dalam apa yang ditawarkan kedua flagship 2025 ini, karena pilihan Anda mungkin akan menentukan bagaimana Anda berinteraksi dengan teknologi dalam beberapa tahun ke depan.

Dari segi dimensi, kedua ponsel ini memang mirip—sekitar 150mm tinggi dengan berat di bawah 200 gram. Mereka adalah slab premium yang dirancang untuk mengesankan sekaligus nyaman digenggam. Tapi di sinilah kesamaan berakhir. Vivo X300 menggunakan kaca di kedua sisi dengan rangka aluminium alloy, sementara Xiaomi 17 memilih Dragon Crystal Glass di depan yang dipadukan dengan rangka aluminium.

Kedua ponsel memiliki rating IP68, artinya mereka tahan terhadap cipratan air dan lingkungan berdebu. Namun, Vivo melangkah lebih jauh dengan sertifikasi IP69 yang memungkinkannya bertahan dari semprotan air bertekanan tinggi. Fitur yang jarang ditemukan bahkan di kalangan flagship sekalipun, meski dalam penggunaan sehari-hari mungkin tidak terlalu berdampak signifikan.

Layar: Kecerahan vs Dolby Vision

Kedua smartphone menggunakan panel LTPO AMOLED dengan refresh rate 120Hz dan PWM dimming 2160Hz, yang lebih ramah mata pada kecerahan rendah. Layar Vivo X300 berukuran 6.31 inci, sementara Xiaomi 17 sedikit lebih kecil di 6.3 inci.

Di sinilah Vivo unggul: X300 mencapai puncak kecerahan 4.500 nits, mengalahkan Xiaomi 17 yang berhenti di 3.500 nits. Keduanya sangat terang dan memberikan visibilitas luar ruangan yang excellent, terlepas dari angka-angka tersebut.

Dalam hal warna, kedua layar mendukung HDR10+, HDR Vivid, dan advanced tone mapping. Xiaomi menambahkan Dolby Vision ke dalam paket, memberikan keunggulan saat menonton konten yang mendukung di platform seperti Netflix atau YouTube. Resolusi keduanya berada di kisaran 1220-1260p, menawarkan teks yang tajam dan visual yang mulus.

Performa: MediaTek vs Snapdragon

Dua pendekatan yang sangat berbeda dalam hal performa. X300 menggunakan chip MediaTek Dimensity 9500, prosesor 3nm dengan core ARM C1 yang diklaim hingga 4.21GHz. Xiaomi, di sisi lain, mengandalkan Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5, juga dibangun dengan proses 3nm dan dilengkapi core custom Oryon V3 yang berjalan hingga 4.6GHz.

Di atas kertas, arsitektur Snapdragon memiliki keunggulan. Chip ini menggunakan dua core Oryon V3 Phoenix L 4.6GHz dan enam core Phoenix M 3.62GHz, dipasangkan dengan GPU Adreno 840—menghadirkan performa gaming dan komputasi tingkat atas. Core C1-Ultra 4.21GHz dan C1-Premium 3.5GHz dari Dimensity 9500 tidak jauh tertinggal, dan GPU Arm G1-Ultra MediaTek juga cukup powerful.

Dalam penggunaan nyata, kedua ponsel terasa sangat cepat. Scrolling, multitasking, dan gaming berjalan tanpa hambatan. OriginOS 6 Vivo (berbasis Android 16) terasa smooth dan responsif, sementara HyperOS 3 Xiaomi menawarkan kustomisasi mendalam dan performa yang sama slick-nya.

Kamera: 200MP vs Pendekatan Tradisional

Ini adalah area yang paling menarik. Vivo X300 menampilkan sensor utama 200MP berani dengan OIS, telephoto periskop 50MP, dan ultrawide 50MP. Sistem ini disetel oleh Zeiss dan mencakup lapisan lensa Zeiss T*, autofocus laser, bahkan impor 3D LUT untuk pekerjaan warna tingkat pro.

Xiaomi 17, sementara itu, tetap pada setup triple 50MP yang lebih tradisional—50MP utama, 50MP telephoto (2.6x optical), dan 50MP ultrawide—dengan optik yang dikembangkan bersama Leica. Kedua ponsel menawarkan performa kamera flagship, dan kualitas akhir akan bergantung pada tuning ISP dan post-processing.

Namun, Vivo memegang keunggulan jelas dalam fleksibilitas, berkat dukungan untuk aksesori fotografi eksternal, termasuk telephoto extender yang dapat menghasilkan bidikan tajam hingga 200mm. Di depan, kedua perangkat menggunakan kamera selfie 50MP dengan dukungan video 4K, tetapi Xiaomi melangkah lebih jauh dengan capture video HDR10+ dan gyro-EIS.

Baterai: Daya Tahan vs Kecepatan Isi Ulang

Masa pakai baterai adalah area di mana Xiaomi mendominasi. Xiaomi 17 mengemas sel baterai besar 7.000mAh bersama pengisian daya kabel 100W, nirkabel 50W, dan pengisian nirkabel terbalik 22.5W. Baterai 6.040mAh Vivo dengan pengisian kabel 90W dan nirkabel 40W masih menawarkan daya tahan kuat, dengan mudah bertahan sehari setengah, tetapi Xiaomi jelas lebih jauh.

Perbedaan antara 6.040mAh dan 7.000mAh akan terasa, terutama untuk pengguna berat. Bagi Anda yang sering melakukan perjalanan atau menghabiskan banyak waktu jauh dari stopkontak, keunggulan Xiaomi dalam hal ini mungkin menjadi penentu.

Audio dan Konektivitas

Kedua ponsel melewatkan jack headphone tetapi menampilkan speaker stereo. Setup Xiaomi disetel untuk Dolby Atmos dan Snapdragon Sound, dengan pemutaran Hi-Res 24-bit/192kHz. Speaker Vivo bersih, tetapi tanpa branding Dolby.

Konektivitas adalah top-tier di kedua perangkat, termasuk Wi-Fi 7, Bluetooth 5.4, NFC, infrared, dan GPS multi-band. Vivo menambahkan dukungan eSIM secara internasional, yang tidak dimiliki Xiaomi, sementara Xiaomi menyertakan output DisplayPort melalui USB-C, memungkinkannya terhubung langsung ke monitor.

Seperti yang kami bahas dalam komparasi Vivo X300 Pro vs Oppo Find X9 Pro, pilihan fitur konektivitas sering kali menjadi pembeda halus antara flagship yang satu dengan lainnya.

Verdict: Dua Filosofi Berbeda

Vivo X300 dan Xiaomi 17 menunjukkan bagaimana dua merek dapat mendekati ide yang sama: flagship kompak 2025. Vivo X300 menonjol dengan layar yang lebih terang, kamera 200MP yang disetel Zeiss, dan desain yang lebih bersih. Ini ideal untuk pengguna yang memprioritaskan fotografi dan estetika.

Xiaomi 17 bersinar dengan baterai besar, tuning Leica, performa Snapdragon, dan audio superior. Ini lebih cocok untuk power user yang menghargai daya tahan dan fleksibilitas. Tidak ada pemenang mutlak—hanya dua flagship yang unggul dengan caranya masing-masing.

Bagi Anda yang penasaran dengan varian Pro dari lini X300, rilis global Vivo X300 Pro bulan depan mungkin patut ditunggu, meski dengan kompromi tertentu untuk pasar Eropa.

Jadi, mana yang sesuai dengan kebutuhan Anda? Apakah Anda fotografer mobile yang menginginkan fleksibilitas maksimal, atau power user yang tak ingin khawatir kehabisan baterai sepanjang hari? Keduanya adalah pilihan outstanding, hanya dengan prioritas yang berbeda.