Beranda blog Halaman 6

OPPO A6c Rilis: Snapdragon 685, Baterai Jumbo, Harga Rp 1 Jutaan

0

Telset.id – Pasar smartphone kelas entry-level kembali kedatangan penantang baru yang cukup menarik perhatian. Tanpa banyak seremoni besar, OPPO resmi meluncurkan OPPO A6c ke pasaran. Perangkat ini hadir dengan membawa kombinasi spesifikasi yang cukup agresif di kelas harganya, terutama pada sektor daya tahan baterai dan layar dengan refresh rate tinggi.

Berdasarkan pantauan dari situs e-commerce JD.com, OPPO A6c kini sudah mulai dijual secara terbuka di pasar China. Ponsel ini tampaknya ditargetkan untuk pengguna yang membutuhkan perangkat harian tangguh dengan harga yang sangat terjangkau, namun tetap menginginkan performa yang cukup untuk aktivitas standar.

Salah satu nilai jual utama yang ditawarkan adalah kapasitas baterainya yang di atas rata-rata serta penggunaan chipset dari Qualcomm yang cukup populer di segmen ini. Strategi ini sepertinya diambil OPPO untuk mengamankan posisi mereka di pasar ponsel murah yang persaingannya kian ketat.

Desain dan Layar 120Hz

Secara fisik, OPPO A6c tampil dengan desain yang cukup modern meski berada di segmen harga terjangkau. Ponsel ini memiliki ketebalan bodi 8,61 mm dengan bobot sekitar 210 gram. OPPO menerapkan desain bodi dengan sudut “R” besar yang ergonomis, serta memberikan sentuhan tekstur sutra pada bagian belakang untuk menambah kesan premium dan kenyamanan genggaman.

Untuk urusan visual, OPPO A6c tidak main-main. Perangkat ini dibekali layar berukuran 6,75 inci yang cukup luas. Yang menarik, panel tersebut sudah mendukung refresh rate 120Hz, sebuah fitur yang biasanya absen di ponsel harga sejutaan. Layar ini juga diklaim memiliki tingkat kecerahan puncak hingga 1125 nits, memastikan visibilitas yang baik meski digunakan di bawah terik matahari.

Tersedia dua pilihan warna yang bisa dipilih konsumen, yakni Phantom Purple (Ungu) dan Olive Green (Hijau). Keduanya memberikan opsi estetika yang segar bagi pengguna muda maupun dewasa.

Spesifikasi Utama: Snapdragon 685 dan Baterai 6500mAh

Beralih ke sektor dapur pacu, OPPO A6c mempercayakan performanya pada chipset Qualcomm Snapdragon 685. Prosesor ini dipadukan dengan RAM sebesar 6GB dan penyimpanan internal 128GB. Konfigurasi ini dianggap cukup mumpuni untuk menangani multitasking ringan dan media sosial tanpa kendala berarti.

Jika Anda mencari Smartphone Pilihan dengan harga miring namun performa stabil, kombinasi Snapdragon 685 di perangkat ini bisa menjadi opsi menarik. Namun, sorotan utama justru terletak pada kapasitas dayanya.

OPPO menanamkan baterai berkapasitas jumbo, yakni 6500mAh. Kapasitas ini jauh lebih besar dibandingkan standar industri saat ini yang rata-rata masih di angka 5000mAh. Hal ini tentu mengingatkan kita pada Daya Tahan baterai seri A terdahulu yang memang dikenal awet. Dengan baterai sebesar ini, pengguna diharapkan bisa menggunakan ponsel seharian penuh atau bahkan lebih tanpa perlu sering mencari colokan listrik.

Kamera dan Fitur Tambahan

Di sektor fotografi, OPPO A6c membawa spesifikasi yang tergolong sederhana namun fungsional. Di bagian belakang, terdapat kamera utama beresolusi 13MP. Sementara untuk kebutuhan selfie dan panggilan video, tersedia kamera depan 5MP yang disematkan pada bagian layar.

Meski resolusinya tidak fantastis, kamera ini cukup untuk dokumentasi harian standar. Selain itu, ponsel ini juga sudah mengantongi sertifikasi IP64, yang artinya perangkat ini memiliki ketahanan terhadap debu dan cipratan air. Fitur ini menjadi nilai tambah penting untuk durabilitas penggunaan jangka panjang.

Terkait harga, OPPO A6c varian 6GB/128GB dibanderol dengan harga perdana 799 Yuan atau jika dikonversikan sekitar Rp 1,7 jutaan. Perangkat ini baru tersedia di pasar China melalui platform JD.com. Belum ada informasi resmi apakah OPPO akan memboyong seri A6c ini ke pasar Indonesia atau tidak. Kita tunggu saja kabar selanjutnya.

Bagi Anda yang sedang membandingkan performa chipset di kelas menengah, Anda mungkin juga tertarik melihat perkembangan terbaru dari kompetitor seperti Moto G57 yang baru saja diperkenalkan.

Honor Magic8 Pro Air: Baterai Jumbo 5500mAh dalam Bodi Tipis

0

Telset.id – Honor kembali membuat kejutan di awal tahun 2026 ini dengan membuka kartu as mereka lebih awal. Melalui akun media sosial resminya, perusahaan tersebut mengonfirmasi kehadiran Honor Magic8 Pro Air, sebuah perangkat yang berani menjanjikan dua hal yang seringkali bertolak belakang dalam dunia smartphone: bodi tipis dan daya tahan baterai monster.

Dalam poster promosi yang dirilis pagi ini (15/1), Honor secara gamblang memamerkan spesifikasi kunci yang menjadi nilai jual utama seri “Air” ini. Ponsel ini dipastikan menggendong baterai Qinghai Lake berkapasitas 5.500mAh. Angka ini terbilang masif untuk sebuah ponsel yang melabeli dirinya dengan nama “Air”, yang biasanya identik dengan profil tipis dan ringan.

Tidak hanya kapasitas besar, Honor juga menyematkan teknologi pengisian daya cepat 80W via kabel dan 50W nirkabel. Klaim “ringan dan tahan lama, semuanya ada” menjadi jargon utama yang didengungkan Honor untuk perangkat ini. Tentu saja, ini menjadi tantangan tersendiri bagi kompetitor yang masih berjuang menyeimbangkan dimensi bodi dengan kapasitas daya, seperti yang terlihat pada kompetisi Flagship Terjangkau lainnya di pasaran.

Spesifikasi “Rata Kanan” dengan Dimensity 9500

Berdasarkan data yang telah dikonfirmasi dan bocoran yang beredar, Honor Magic8 Pro Air (Nomor Model: LDY-AN00) tidak main-main soal dapur pacu. Perangkat ini ditenagai oleh prosesor MediaTek Dimensity 9500. Untuk menunjang performa multitasking, tersedia opsi RAM hingga 16GB dengan fitur 16GB smart memory tambahan.

Sektor penyimpanan juga sangat lega. Meski versi ritel mungkin bervariasi, data reservasi di JD.com menunjukkan ketersediaan varian mulai dari 256GB, 512GB, hingga 1TB. Layarnya sendiri memiliki resolusi 2640×1216 piksel yang didukung oleh chip efisiensi energi yang dikembangkan sendiri, HONOR E2. Bagi Anda yang penasaran dengan perbandingan performa kelas atas, bisa melihat Spesifikasi Lengkap ponsel kompetitor sebagai acuan standar tahun ini.

Ponsel ini akan hadir dalam empat varian warna yang cukup puitis: Fairy Purple (Ungu), Light Orange (Oranye), Feather White (Putih), dan Shadow Black (Hitam). Fitur keamanan biometrik pun sudah menggunakan sensor sidik jari ultrasonik serta pemindai wajah 2D, lengkap dengan ketahanan air “full level” (kemungkinan besar IP68).

Inovasi Kamera: Periskop Tipis dan Flash AI Pertama

Satu hal yang cukup menggelitik rasa penasaran adalah bagaimana Honor membenamkan modul kamera canggih ke dalam bodi yang diklaim tipis. Magic8 Pro Air membawa kamera utama 50MP dengan sensor besar 1/1,3 inci dan bukaan f/1.6. Lensa ini juga dilapisi teknologi IR spin coating khusus yang diklaim mampu memblokir 95% cahaya inframerah nyasar (glare/ghosting).

Namun, bintang utamanya adalah lensa telefoto periskop 64MP. Honor menyebutnya sebagai “lensa periskop definisi tinggi ultra-tipis pertama di industri”. Dengan sensor 1/2 inci dan bukaan f/2.6, kamera ini mendukung 3,2x optical zoom dan hingga 100x digital zoom. Kedua kamera utama dan telephoto ini sudah mendukung stabilisasi level CIPA 5.0.

Lebih lanjut, Honor juga memperkenalkan apa yang mereka sebut sebagai “Android’s First AI Zoom Array Flash”. Ini bukan sekadar lampu kilat biasa. Sistem ini terdiri dari struktur susunan 5 lampu yang mampu menyesuaikan intensitas cahaya berdasarkan jarak objek (fokus). Teknologi semacam ini mengingatkan kita pada Fitur Terbaru pada kamera profesional, namun kini hadir di ponsel tipis.

Sistem flash ini diklaim memiliki output cahaya tertinggi di industri, dengan iluminasi mencapai 200Lux. Bahkan pada jarak 2 meter, iluminasinya masih mencapai 50Lux dengan keseragaman cahaya di keempat sudut mencapai 80%. Ini jelas sebuah peningkatan signifikan untuk fotografi malam hari atau kondisi minim cahaya.

Honor Magic8 Pro Air dijadwalkan meluncur resmi pada 19 Januari mendatang bersamaan dengan seri kolaborasi desain lainnya, termasuk Magic8 RSR Porsche Design. Fang Fei, eksekutif Honor, menegaskan bahwa tekad mereka untuk membuat lini “Air” yang benar-benar tipis namun bertenaga tidak pernah goyah.

Honor Magic8 RSR Porsche Design Pamer Stabilisasi CIPA 6.5 Level Dewa

0

Telset.id – Honor kembali menaikkan standar fotografi mobile lewat pengumuman terbarunya. Pabrikan asal China ini secara resmi mengonfirmasi bahwa perangkat flagship teranyar mereka, Honor Magic8 RSR Porsche Design, akan menjadi smartphone pertama di industri yang mengusung teknologi stabilisasi CIPA level 6.5. Ponsel pintar ini dijadwalkan meluncur resmi pada 19 Januari 2026 pukul 19:30 waktu setempat.

Kabar ini menjadi sinyal kuat bahwa Honor tidak main-main dalam menggarap segmen ultra-premium. Selain membawa nama besar Porsche Design, perangkat ini menjanjikan perpaduan antara estetika mobil sport dan performa kamera yang “brutal”. Tidak hanya mengandalkan sensor besar, Honor juga memperkenalkan ekosistem aksesori fotografi yang cukup ambisius untuk menemani peluncuran seri Magic8 ini.

Stabilisasi “Monster” dan Sensor 200MP

Berdasarkan informasi resmi yang beredar, Honor Magic 8 RSR Porsche Design masih mempertahankan basis perangkat keras yang serupa dengan saudaranya, Magic8 Pro. Namun, ada peningkatan signifikan pada sektor stabilitas gambar. Jika versi Pro “hanya” mencapai level CIPA 5.5, varian RSR ini mendongkraknya hingga level CIPA 6.5.

Peningkatan satu level penuh dalam standar CIPA (Camera & Imaging Products Association) bukanlah hal sepele. Ini berarti perangkat mampu mengompensasi getaran tangan dengan jauh lebih efektif, terutama saat memotret dalam kondisi minim cahaya atau saat menggunakan rentang zoom panjang. Honor mengklaim bahwa kombinasi perangkat keras yang lebih presisi dan algoritma anyar ini akan secara drastis memperbaiki pengalaman pemotretan handheld (tanpa tripod).

Di balik sistem stabilisasi tersebut, tertanam kamera telefoto periskop dengan resolusi masif 200MP. Sensor ini diproyeksikan untuk memberikan detail yang tajam bahkan saat melakukan cropping ekstrem, sebuah fitur yang sangat krusial bagi pengguna yang gemar fotografi jarak jauh.

Kit Lensa Profesional: Gimmick atau Faedah?

Langkah menarik lainnya dari Honor adalah peluncuran “Teleconverter Professional Imaging Kit”. Aksesori ini dirancang khusus untuk mendukung spesifikasi Honor Magic8 RSR Porsche Design dan Magic8 Pro. Paket ini bukan sekadar casing biasa, melainkan sebuah sistem modular yang terdiri dari:

  • Casing pelindung fotografi profesional.
  • Grip atau pegangan magnetis untuk ergonomi ala kamera saku.
  • Lensa telekonverter 2.35x.

Kehadiran lensa tambahan 2.35x ini cukup menggelitik. Dengan memasang lensa ini, pengguna bisa mendapatkan ekstensi focal length secara optik fisik, yang diklaim mampu mencapai kemampuan pemotretan setara 200mm. Ini adalah upaya Honor untuk menjembatani keterbatasan optik pada bodi tipis smartphone dengan solusi eksternal, memberikan fleksibilitas lebih bagi para kreator konten.

Baterai Raksasa dan Ketahanan Ekstrem

Bergeser ke sektor daya, Honor tampaknya tidak ingin penggunanya membawa power bank. Ponsel ini dikabarkan menggendong baterai 7200mAh berteknologi Qinghai Lake. Kapasitas sebesar ini biasanya hanya ditemukan pada tablet kecil atau ponsel rugged yang tebal, namun Honor berhasil membenamkannya ke dalam bodi flagship yang elegan.

Untuk pengisian daya, perangkat ini mendukung 120W Wired Super Fast Charging dan 80W Wireless Super Fast Charging. Kombinasi kapasitas jumbo dan pengisian ngebut ini jelas menjadi nilai jual utama bagi pengguna dengan mobilitas tinggi.

Dari segi desain, kolaborasi dengan Porsche Design menghasilkan estetika yang mengadopsi garis streamline mobil sport. Tersedia dalam dua varian warna mewah: Moon Gem dan Slate Grey Neo. Bagian depan didominasi oleh layar 6.71 inci 1.5K LTPO yang hemat daya, serta fitur keamanan biometrik ganda berupa sensor sidik jari ultrasonik 3D dan pengenalan wajah 3D.

Tak ketinggalan, durabilitas perangkat ini juga dimaksimalkan dengan sertifikasi IP68, IP69, dan IP69K. Adanya rating IP69K menandakan bahwa ponsel ini tidak hanya tahan debu dan air, tetapi juga tahan terhadap semprotan air bertekanan tinggi dan suhu tinggi, sebuah standar ketahanan yang jarang ditemui di ponsel konvensional.

Honor Magic8 RSR Porsche Design akan meluncur bersamaan dengan Honor Magic8 Pro Air pada acara peluncuran 19 Januari nanti. Saat itulah harga resmi dan ketersediaan pasar global akan diungkap. Bagi pengguna setia yang menantikan pembaruan perangkat lunak, peluncuran ini mungkin juga beriringan dengan info update perangkat ke sistem operasi terbaru mereka.

Bocoran Desain Modul Kamera Huawei Pura 90 Ultra Terungkap, Bawa Spesifikasi Monster?

0

Telset.id – Huawei tampaknya tidak pernah kehabisan amunisi untuk membuat kompetitornya ketar-ketir, terutama di sektor fotografi mobile. Baru-baru ini, jagat maya kembali dihebohkan dengan beredarnya bocoran terbaru mengenai desain modul kamera dan spesifikasi kunci dari perangkat flagship masa depan mereka, Huawei Pura 90 Ultra. Informasi ini memberikan gambaran awal tentang bagaimana raksasa teknologi asal Tiongkok tersebut berencana mempertahankan takhtanya di puncak rantai makanan smartphone photography.

Bocoran yang beredar memperlihatkan skema desain yang cukup berani, mengindikasikan bahwa Huawei masih akan menjadikan sektor kamera sebagai nilai jual absolut. Tidak hanya sekadar penyegaran kosmetik, bocoran ini juga menyinggung peningkatan spesifikasi yang cukup signifikan dibandingkan pendahulunya. Bagi para pengamat industri, langkah ini terbaca sebagai upaya agresif Huawei untuk menetapkan standar baru, atau mungkin sekadar pamer kekuatan teknis di tengah persaingan yang makin stagnan.

Meskipun belum ada konfirmasi resmi dari pihak jenama, pola kebocoran semacam ini biasanya memiliki tingkat akurasi yang cukup tinggi, mengingat rekam jejak “leaker” yang terlibat. Kita tidak sedang membicarakan sekadar render imajinatif penggemar, melainkan skema yang diklaim berasal dari rantai pasokan industri. Mari kita bedah lebih dalam apa yang ditawarkan oleh desain modul kamera yang diduga milik Huawei Pura 90 Ultra ini.

Evolusi Desain Modul Kamera: Lebih Besar, Lebih Berani

Salah satu poin paling mencolok dari bocoran ini adalah desain modul kameranya. Huawei Pura 90 Ultra diprediksi akan membawa perubahan estetika yang cukup radikal namun tetap mempertahankan DNA seri Pura (sebelumnya seri P) yang fashionable. Jika melihat tren sebelumnya, Huawei tidak pernah malu-malu menempatkan bongkahan modul kamera raksasa di punggung ponsel mereka. Kali ini, desain tersebut tampaknya dirancang untuk mengakomodasi sensor yang jauh lebih superior.

Bocoran tersebut mengisyaratkan tata letak lensa yang tidak konvensional. Bukan sekadar menumpuk lensa secara vertikal atau membentuk lingkaran simetris biasa, Huawei tampaknya sedang bereksperimen dengan formasi yang memaksimalkan ruang internal untuk komponen optik canggih. Hal ini sejalan dengan rumor yang menyebutkan adanya penggunaan sensor ganda beresolusi super tinggi. Anda bisa membaca detail teknis mengenai sensor ini dalam artikel terkait tentang Kamera 200MP yang digadang-gadang akan menjadi fitur utama perangkat ini.

Desain modul yang bocor ini juga mengindikasikan adanya mekanisme “pop-out” atau setidaknya tonjolan yang cukup signifikan. Dalam dunia optik fisika, ukuran memang menentukan kualitas. Untuk memasukkan sensor besar dan lensa dengan bukaan lebar, ketebalan perangkat seringkali menjadi tumbal. Huawei tampaknya memilih untuk mengorbankan sedikit kerampingan di area kamera demi kualitas gambar yang uncompromising. Ini adalah pendekatan yang berisiko secara ergonomi, namun seringkali diapresiasi oleh para purist fotografi.

Spesifikasi yang Mengiringi Desain

Berbicara soal desain tanpa menyinggung jeroan tentu terasa hambar. Bocoran desain modul ini berjalan beriringan dengan spesifikasi yang menyertainya. Berdasarkan informasi yang beredar, Huawei Pura 90 Ultra tidak main-main dalam hal hardware pencitraan. Konfigurasi kamera yang diusung diprediksi akan melampaui standar industri saat ini.

Rumor kuat menyebutkan integrasi sensor utama dengan ukuran yang mendekati 1 inci, atau bahkan lebih, yang dipadukan dengan teknologi pemrosesan gambar XMAGE terbaru. Selain itu, kemampuan zoom juga menjadi sorotan. Dengan ruang modul yang lebih lega seperti yang terlihat pada bocoran desain, Huawei memiliki keleluasaan untuk menanamkan lensa periskop dengan jangkauan focal length yang lebih ekstrem tanpa mengorbankan kualitas detail.

Tentu saja, spesifikasi kamera yang buas membutuhkan dukungan dapur pacu yang mumpuni. Meski fokus kebocoran kali ini ada pada kamera, besar kemungkinan perangkat ini akan ditenagai oleh chipset Kirin generasi terbaru yang mampu menangani komputasi AI untuk fotografi secara real-time. Ini penting untuk memastikan shutter lag yang minim dan pemrosesan HDR yang instan. Bagi Anda yang ingin membandingkan posisinya di pasar, bisa melihat daftar HP Huawei Terbaru sebagai referensi evolusi spesifikasi mereka.

Konteks Persaingan dan Strategi Huawei

Munculnya bocoran Huawei Pura 90 Ultra ini tidak bisa dilepaskan dari konteks persaingan global. Di saat kompetitor lain sibuk dengan integrasi AI generatif pada software, Huawei tetap teguh pada pendirian bahwa hardware optik adalah kunci utama. Desain modul kamera yang bocor ini adalah manifestasi dari filosofi tersebut.

Langkah ini juga bisa dilihat sebagai upaya diferensiasi produk. Seri Pura selalu diposisikan sebagai ikon fashion dan fotografi. Dengan desain modul yang unik dan spesifikasi tinggi, Huawei ingin memastikan bahwa Pura 90 Ultra bisa langsung dikenali dari jarak jauh, sebuah strategi branding visual yang juga sukses diterapkan pada seri Mate. Berbicara soal seri Mate, Huawei baru saja merilis varian dengan bodi tipis, seperti yang diulas dalam artikel Huawei Mate 70, yang menunjukkan bahwa perusahaan ini mampu bermain di dua kaki: desain tipis untuk seri Mate Air, dan performa kamera maksimal (dengan konsekuensi modul tebal) untuk seri Pura Ultra.

Pada akhirnya, bocoran desain dan spesifikasi Huawei Pura 90 Ultra ini menegaskan satu hal: perang megapiksel dan ukuran sensor belum berakhir. Huawei tampaknya siap untuk kembali menaikkan standar kompetisi, memaksa pemain lain untuk berinovasi atau tertinggal. Kita hanya perlu menunggu waktu hingga perangkat ini benar-benar meluncur ke pasaran untuk membuktikan apakah desain modul yang “berani” tersebut sebanding dengan kualitas foto yang dihasilkan.

Google Rilis Personal Intelligence untuk Gemini, AI Makin Tahu Urusan Anda

0

Telset.id – Google kembali membuat langkah agresif dalam kompetisi kecerdasan buatan dengan meluncurkan fitur “Personal Intelligence” untuk Gemini. Langkah ini menandai pergeseran signifikan dari sekadar chatbot pintar menjadi asisten digital yang benar-benar memahami konteks personal penggunanya. Raksasa teknologi asal Mountain View ini tampaknya ingin membuktikan bahwa Gemini bukan hanya sekadar mesin pencari yang bisa mengobrol, melainkan entitas yang mampu “mengingat” dan memproses informasi pribadi untuk memberikan solusi yang jauh lebih relevan.

Peluncuran ini menjawab kebutuhan pasar akan interaksi AI yang tidak kaku. Sebelumnya, interaksi dengan chatbot seringkali terasa transaksional dan amnesia—setiap sesi baru berarti memulai dari nol. Dengan Personal Intelligence, Google menjanjikan pengalaman yang lebih mulus, di mana Gemini dapat mengakses dan memproses data dari ekosistem Google pengguna, tentunya dengan klaim privasi yang tetap dijaga ketat.

Pembaruan ini hadir di tengah memanasnya persaingan integrasi AI ke dalam perangkat dan kehidupan sehari-hari. Google menyadari bahwa kecerdasan generik saja tidak cukup; kunci memenangkan hati pengguna adalah personalisasi.

Menjadikan Gemini Lebih “Manusiawi”

Inti dari pembaruan Personal Intelligence ini adalah kemampuan memori dan konteks. Gemini kini dirancang untuk memahami pola, preferensi, dan data historis pengguna. Ini bukan sekadar tentang menjawab pertanyaan “siapa presiden Amerika Serikat”, tetapi lebih ke arah “kapan jadwal penerbangan saya selanjutnya” atau “ringkaskan email dari bos minggu lalu”. Kemampuan ini menempatkan Google di posisi strategis mengingat dominasi mereka pada layanan email, kalender, dan penyimpanan cloud.

Tren ini sejalan dengan prediksi industri bahwa masa depan teknologi ada pada agen AI yang terpersonalisasi. Hal ini senada dengan pandangan para petinggi teknologi global yang melihat pergeseran besar menuju Era AI Personal, di mana setiap individu akan memiliki asisten digital unik yang benar-benar mengenal tuannya.

Namun, kemampuan “mengingat” ini tentu menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, kenyamanan pengguna akan meningkat drastis. Anda tidak perlu lagi memberikan prompt yang panjang lebar berisi konteks yang sama berulang kali. Di sisi lain, memberikan akses “otak” AI ke dalam data personal terdalam tentu memicu pertanyaan kritis mengenai keamanan data.

Integrasi Ekosistem dan Tantangan Privasi

Kekuatan utama Google dibanding kompetitornya adalah ekosistem yang masif. Personal Intelligence di Gemini tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan berbagai layanan Google lainnya. Ini memungkinkan AI untuk menarik benang merah antar aplikasi yang sebelumnya terpisah. Strategi serupa juga mulai diadopsi oleh vendor smartphone yang mencoba menanamkan kecerdasan serupa langsung ke dalam perangkat keras mereka, seperti terlihat pada Kolaborasi OPPO dengan Google yang baru-baru ini mencuat.

Meskipun fitur ini terdengar futuristik dan memudahkan, aspek keamanan menjadi sorotan tajam. Ketika AI mulai “tahu terlalu banyak”, risiko kebocoran data atau penyalahgunaan informasi menjadi lebih menakutkan. Google harus memastikan bahwa “Personal Intelligence” ini memiliki benteng pertahanan yang kuat, setara atau bahkan lebih baik dari Solusi Keamanan tingkat militer yang ditawarkan oleh kompetitor seperti Samsung Knox.

Bagi pengguna awam, fitur ini mungkin hanya terlihat sebagai peningkatan kenyamanan. Namun bagi pengamat teknologi, ini adalah langkah Google untuk mengunci pengguna lebih dalam lagi ke dalam ekosistem mereka. Jika Gemini sudah tahu segalanya tentang jadwal, kebiasaan belanja, hingga preferensi kerja Anda, akan sangat sulit untuk berpindah ke platform AI lain.

Kehadiran Personal Intelligence ini menegaskan bahwa tahun ini adalah tahunnya personalisasi AI. Google tidak ingin kehilangan momentum di saat para pesaing juga mulai menawarkan fitur serupa, bahkan hingga ke ranah e-commerce seperti Fitur Belanja berbasis AI yang diluncurkan platform lain. Pertanyaannya kini bukan lagi seberapa pintar AI Anda, tapi seberapa baik AI tersebut mengenal Anda tanpa melanggar batas privasi.

Awal 2026, Harga Xiaomi 15T Series di Indonesia Resmi Naik

0

Telset.id – Kabar kurang sedap menyapa para Mi Fans di awal tahun ini. Xiaomi Indonesia secara resmi melakukan penyesuaian harga untuk lini produk andalan mereka, Xiaomi 15T Series, yang berlaku efektif mulai Januari 2026. Langkah ini cukup mengejutkan mengingat perangkat tersebut baru berumur beberapa bulan sejak peluncuran perdananya.

Perubahan label harga ini terungkap melalui daftar harga terbaru yang beredar di jaringan distribusi resmi. Kenaikan ini tentu menjadi sorotan, mengingat Xiaomi selama ini dikenal sebagai brand yang menawarkan spesifikasi tinggi dengan harga miring. Namun, realitas ekonomi makro tampaknya memaksa pabrikan asal China ini untuk merevisi strategi penetapan harganya di pasar tanah air.

Country Director Xiaomi Indonesia Wentao Zhao memperkenalkan Xiaomi 15T series di Indonesia, Selasa (30/9/2025). Ada dua model yang dirilis yaitu Xiaomi 15T reguler dan Xiaomi 15T Pro.

Sebagai kilas balik, Xiaomi 15T Series pertama kali diperkenalkan ke publik Indonesia pada akhir September 2025. Kala itu, Country Director Xiaomi Indonesia, Wentao Zhao, memboyong dua varian sekaligus, yakni Xiaomi 15T reguler dan varian tertingginya, Xiaomi 15T Pro, dalam sebuah acara peluncuran megah di Jakarta.

Detail Harga Baru Xiaomi 15T Series

Berdasarkan pantauan tim Telset.id pada materi promosi terbaru per Januari 2026, terlihat adanya koreksi harga yang cukup signifikan. Fenomena harga HP Xiaomi yang merangkak naik ini bukanlah hal baru, namun tetap saja berdampak pada keputusan pembelian konsumen yang sensitif terhadap harga.

Meskipun Xiaomi Indonesia belum merilis pernyataan resmi mengenai alasan spesifik di balik kenaikan ini, pola seperti ini biasanya dipicu oleh fluktuasi nilai tukar mata uang atau kenaikan biaya komponen global. Situasi ini mengingatkan kita pada prediksi analis mengenai krisis memori yang diperkirakan akan mengerek harga perangkat elektronik secara umum di tahun 2026.

Harga HP Xiaomi 15T Pro di Indonesia per Januari 2026.

Bagi konsumen yang sudah mengincar perangkat ini sejak peluncurannya, kenaikan harga ini mungkin terasa sedikit “pahit”. Namun, Xiaomi 15T Pro tetap menawarkan performa yang sulit ditandingi di kelasnya, terutama dengan dukungan ekosistem AI yang semakin matang.

Tetap Menjadi Opsi Menarik?

Kendati harganya terkoreksi naik, Xiaomi 15T Series masih membawa proposisi nilai yang kuat. Desain premium dan kemampuan fotografi yang ditawarkan masih menjadi daya tarik utama. Selain itu, bagi pengguna yang ingin melengkapi pengalaman ekosistemnya, perangkat ini sangat cocok dipadukan dengan aksesoris terbaru seperti TWS terbaru dari Xiaomi yang juga mendukung fitur penerjemah berbasis AI.

Xiaomi 15T series resmi meluncur di Indonesia, dalam acara peluncuran yang digelar di Park Hyatt, Jakarta, Selasa (30/9/2025)

Perubahan harga di awal tahun 2026 ini menjadi sinyal bahwa industri smartphone sedang menghadapi tantangan biaya produksi yang nyata. Konsumen disarankan untuk segera mengambil keputusan pembelian sebelum potensi penyesuaian harga lanjutan terjadi di masa mendatang, mengingat tren pasar global yang masih belum stabil.

Dongfeng Uji Coba Baterai Solid-State 1.000 Km di Suhu Ekstrem

0

Telset.id – Dongfeng Motor Corporation (Dongfeng) kembali membuat langkah agresif dalam kompetisi teknologi kendaraan listrik global. Raksasa otomotif asal China ini resmi memulai uji coba musim dingin (winter test) untuk kendaraan prototipe yang ditenagai baterai solid-state dengan kepadatan energi tinggi mencapai 350Wh/kg. Langkah ini menjadi sinyal kuat keseriusan Dongfeng untuk merealisasikan mobil listrik dengan jangkauan 1.000 kilometer yang tahan banting di segala cuaca.

Seremoni pelepasan unit uji coba ini dilakukan di Wuhan, menandai dimulainya perjalanan panjang menuju pangkalan uji coba di kawasan dingin Mohe. Di lokasi dengan suhu ekstrem tersebut, teknologi baterai anyar ini akan menjalani serangkaian kalibrasi ketat guna memastikan performanya sebelum masuk ke jalur produksi massal.

Ketahanan di Suhu Beku

Salah satu tantangan terbesar mobil listrik saat ini adalah penurunan performa baterai yang drastis saat menghadapi suhu dingin. Namun, Dongfeng mengklaim telah menemukan solusinya melalui pengembangan material baru pada baterai solid-state mereka.

Berdasarkan data teknis yang dirilis, baterai dengan kepadatan energi 350Wh/kg ini memiliki spesifikasi yang cukup impresif untuk standar industri saat ini:

  • Jangkauan Ekstra Jauh: Mampu mendukung kendaraan menempuh jarak lebih dari 1.000 kilometer dalam sekali pengisian daya.
  • Retensi Energi Tinggi: Di lingkungan bersuhu rendah hingga -30℃, tingkat retensi energi baterai diklaim masih mencapai 72%. Angka ini jauh di atas rata-rata baterai lithium-ion konvensional yang sering kali kehilangan lebih dari 40-50% kapasitasnya di suhu serupa.
  • Standar Keamanan Ketat: Baterai ini telah lolos uji keamanan kotak panas (hot box test) pada suhu 170℃, memastikan stabilitas termal yang tinggi.

Pengujian di Mohe ini tidak main-main. Dongfeng menjadwalkan lebih dari 70 item pengujian yang mencakup daya tahan baterai pada suhu rendah, efisiensi pengisian daya di kondisi beku, hingga kemampuan koordinasi sistem kendaraan secara keseluruhan. Rentang suhu pengujian difokuskan pada kondisi ekstrem antara -40℃ hingga -30℃.

Tujuannya jelas, yakni mengevaluasi stabilitas jangkauan dan memastikan bahwa baterai solid-state ini mampu beroperasi optimal di segala skenario iklim saat nantinya disematkan pada model produksi massal.

Peta Jalan Menuju 2026

Dongfeng tampaknya tidak ingin sekadar menjadi pengikut dalam tren teknologi ini. Perusahaan menegaskan telah membangun platform pengembangan mandiri yang mencakup seluruh proses, mulai dari riset dan pengembangan (R&D), uji coba, hingga produksi skala menengah. Hingga saat ini, mereka telah mengantongi lebih dari 180 paten penemuan dan menguasai lebih dari 10 teknologi inti terkait baterai.

Strategi produk mereka pun dibuat bertingkat, mulai dari baterai dengan kepadatan 240Wh/kg hingga target ambisius 500Wh/kg. Untuk varian 350Wh/kg yang sedang diuji coba ini, Dongfeng telah menyelesaikan verifikasi material dan sistem elektrokimia, serta sudah mencapai tahap pilot production.

Jika semua berjalan sesuai rencana, Dongfeng menargetkan teknologi baterai solid-state ini akan resmi “naik” ke mobil produksi massal pada tahun 2026. Ini adalah target yang cukup agresif mengingat kompleksitas biaya produksi dan teknis dari baterai padat.

Tidak berhenti di situ, peta jalan (roadmap) teknologi Dongfeng juga mengungkap rencana pengembangan lanjutan:

  • Desember 2027: Uji coba aplikasi untuk baterai all-solid-state tipe pengisian cepat (fast-charging) dengan kepadatan 350Wh/kg.
  • Riset Lanjutan: Pengembangan awal untuk baterai all-solid-state berbasis sulfida dengan kepadatan energi mencapai 500Wh/kg.

Langkah Dongfeng ini semakin mempertegas posisi China yang kian mendominasi pasar baterai global. Dengan kemampuan menembus jarak 1.000 km dan ketahanan suhu ekstrem, hambatan utama adopsi EV seperti range anxiety dan performa buruk di musim dingin tampaknya akan segera menjadi cerita lama.

Oppo A6t Series Resmi Diumumkan, Bawa Tiga Model Sekaligus

0

Telset.id – Oppo kembali memperluas portofolionya di pasar smartphone dengan langkah yang cukup agresif. Tanpa banyak basa-basi, pabrikan asal Tiongkok ini resmi mengungkap kehadiran lini seri terbarunya, yakni Oppo A6t Series. Tidak tanggung-tanggung, Oppo langsung memperkenalkan tiga varian berbeda dalam keluarga ini: Oppo A6t 5G, Oppo A6t 4G, dan varian tertingginya, Oppo A6t Pro.

Langkah ini menambah panjang daftar perangkat entry-level hingga mid-range yang digelontorkan Oppo ke pasaran. Kehadiran ketiga model ini sekaligus mengindikasikan strategi “sapu jagat” yang kerap dilakukan brand teknologi untuk mengisi berbagai celah harga dan kebutuhan konsumen yang spesifik.

Strategi Tiga Varian: 4G Masih Relevan?

Salah satu hal menarik dari pengumuman ini adalah keputusan Oppo untuk tetap menghadirkan varian Oppo A6t 4G berdampingan dengan saudaranya yang sudah mendukung jaringan generasi kelima, Oppo A6t 5G. Hal ini bisa dibaca sebagai langkah pragmatis Oppo yang menyadari bahwa penetrasi 5G belum sepenuhnya merata di seluruh pasar global, termasuk di beberapa negara berkembang yang menjadi basis pengguna setia mereka.

Dengan memisahkan varian 4G dan 5G, Oppo memberikan opsi bagi konsumen yang mungkin lebih mementingkan harga yang lebih terjangkau dibandingkan kecepatan jaringan yang belum tentu bisa mereka nikmati di wilayahnya. Biasanya, varian 4G akan dibanderol dengan harga yang lebih miring atau memiliki kompensasi spesifikasi di sektor lain dibandingkan versi 5G-nya.

Oppo A6t Pro: Varian Tertinggi

Selain dua model standar tersebut, sorotan utama tentu tertuju pada Oppo A6t Pro. Label “Pro” yang disematkan di belakang nama model ini menjanjikan peningkatan spesifikasi yang signifikan dibandingkan dua saudaranya. Dalam hierarki produk Oppo, varian Pro biasanya menawarkan keunggulan di sektor kamera, kecepatan pengisian daya, atau penggunaan chipset yang lebih bertenaga.

Kehadiran model Pro dalam lini seri A6t ini juga menegaskan upaya Oppo untuk menaikkan kelas seri A mereka agar bisa bersaing dengan kompetitor yang semakin sengit di segmen menengah. Konsumen yang menginginkan performa lebih namun tetap dalam budget seri A, kemungkinan besar akan menjadi target pasar utama dari perangkat ini.

Hingga berita ini diturunkan, Oppo baru sebatas mengungkap nama dan keberadaan ketiga perangkat tersebut. Detail spesifikasi teknis, harga, maupun ketersediaan di pasar Indonesia masih belum dijabarkan secara rinci. Namun, melihat pola rilis Oppo sebelumnya, tidak butuh waktu lama bagi spesifikasi lengkap untuk segera terungkap ke publik setelah pengumuman awal ini.

Bagi para O-Fans (sebutan penggemar Oppo), kehadiran trio Oppo A6t ini tentu menjadi kabar yang patut dinantikan, terutama bagi mereka yang sedang mencari opsi upgrade perangkat di tahun ini. Kita tunggu saja kejutan apa yang akan dibawa oleh Oppo A6t 5G, A6t 4G, dan A6t Pro saat benar-benar mendarat di etalase toko.

Oppo A6x 5G dan 4G Debut Global, Tawarkan Bodi Tahan Banting

0

Telset.id – Oppo kembali memperluas jangkauan lini A-series mereka ke panggung internasional. Dua varian sekaligus, Oppo A6x 5G dan A6x 4G, resmi melakoni debut globalnya. Langkah ini menegaskan agresivitas pabrikan asal China tersebut dalam membanjiri segmen entry-level dengan perangkat yang tidak hanya murah, tetapi juga menonjolkan durabilitas fisik sebagai nilai jual utama.

Kehadiran kedua perangkat ini di pasar global menyusul peluncuran regional yang telah dilakukan sebelumnya. Oppo tampaknya menyadari bahwa pasar budget saat ini tidak lagi hanya soal spesifikasi di atas kertas, melainkan juga soal ketahanan penggunaan sehari-hari. Strategi ini terlihat jelas pada bagaimana mereka memposisikan seri A6x sebagai ponsel yang “tahan banting” di kelas harganya.

Bagi konsumen di Tanah Air, nama ini mungkin sudah tidak asing. Pasalnya, varian Oppo A6x sendiri telah lebih dulu diperkenalkan di Indonesia dengan membawa spesifikasi yang identik, menawarkan kombinasi baterai besar dan bodi tangguh.

Standar Ketahanan Militer dan Layar Terang

Nilai jual utama dari Oppo A6x 5G dan 4G terletak pada sertifikasi ketahanannya. Oppo membekali kedua perangkat ini dengan bodi yang telah lolos uji standar militer (MIL-STD-810H) untuk ketahanan terhadap guncangan (Military-Grade Shock Resistance). Fitur ini menjadi angin segar di segmen entry-level yang biasanya didominasi oleh perangkat dengan build quality seadanya.

Selain bodi yang kokoh, Oppo juga menyematkan fitur Splash Touch. Teknologi ini memungkinkan layar tetap responsif meski dioperasikan dengan tangan basah atau saat layar terkena cipratan air. Ini adalah fitur praktis yang sangat relevan untuk penggunaan di negara tropis dengan curah hujan tinggi.

Berbicara soal visual, kedua ponsel ini mengusung layar LCD berukuran 6,67 inci dengan resolusi HD+. Yang menarik adalah tingkat kecerahannya yang diklaim mampu mencapai 1.000 nits pada mode High Brightness, serta dukungan refresh rate 120Hz. Spesifikasi layar seperti ini menjanjikan pengalaman visual yang mulus, baik untuk scrolling media sosial maupun penggunaan di bawah terik matahari.

Perbedaan Dapur Pacu dan Daya Tahan

Meski memiliki desain fisik yang serupa, perbedaan mendasar antara varian 5G dan 4G terletak pada “otak” pemrosesannya. Oppo A6x 5G ditenagai oleh chipset MediaTek Dimensity 6300. Prosesor ini cukup populer di kelas menengah-bawah karena efisiensi dayanya yang baik serta dukungan konektivitas 5G yang stabil.

Sementara itu, untuk varian 4G, Oppo belum secara spesifik menonjolkan jenis chipset dalam materi promosi global utamanya, namun biasanya varian ini menggunakan prosesor yang lebih sederhana untuk menekan harga jual agar tetap kompetitif. Strategi pembedaan chipset ini merupakan langkah umum yang juga terlihat pada peluncuran Reno15 Series di beberapa negara berkembang.

Sektor daya menjadi sorotan berikutnya. Kedua perangkat dibekali baterai berkapasitas 5.100 mAh. Angka ini sedikit di atas standar industri saat ini yang rata-rata masih bermain di angka 5.000 mAh. Tren peningkatan kapasitas baterai memang sedang menjangkiti berbagai lini produk Oppo, bahkan hingga ke seri yang lebih tinggi seperti Reno 15 Pro yang membawa kapasitas lebih masif.

Untuk pengisian daya, Oppo menyertakan dukungan 45W SuperVOOC. Teknologi ini diklaim mampu mengisi daya hingga 50% dalam waktu sekitar 30 menit. Kemampuan charging cepat di kelas harga terjangkau ini jelas menjadi poin plus untuk mobilitas pengguna.

Peluncuran global Oppo A6x series ini juga bisa dilihat sebagai bagian dari strategi baru perusahaan untuk mengamankan pangsa pasar di berbagai segmen harga. Dengan menawarkan fitur durabilitas tinggi dan baterai awet, Oppo mencoba menjawab pain point utama pengguna smartphone murah: perangkat yang ringkih dan baterai yang cepat habis.

Ketersediaan global ini menandakan bahwa Oppo A6x 5G dan 4G akan segera mengisi etalase toko di berbagai negara di Eropa, Asia, dan pasar berkembang lainnya, memberikan opsi solid bagi konsumen yang mencari ponsel tangguh dengan harga yang masuk akal.

Vivo V70 dan V70 Elite Meluncur Februari, Varian FE Menyusul

0

Telset.id – Teka-teki mengenai kehadiran generasi penerus seri V dari Vivo akhirnya mulai terkuak. Berdasarkan informasi terbaru yang kami himpun, Vivo V70 dan varian misterius bernama Vivo V70 Elite dijadwalkan untuk meluncur ke pasaran pada bulan Februari mendatang. Namun, ada sedikit kabar yang mungkin membuat sebagian penggemar harus menahan diri, karena varian V70 FE dipastikan tidak akan hadir bersamaan dalam gelombang peluncuran pertama ini.

Kabar ini memberikan sinyal kuat bahwa Vivo ingin tancap gas di awal tahun dengan memperbarui lini mid-range andalan mereka. Strategi peluncuran yang terpisah antara seri utama dan seri “Fan Edition” (FE) ini menarik untuk dicermati, mengingat persaingan pasar ponsel pintar di segmen menengah ke atas sedang memanas. Kehadiran V70 Series ini diharapkan membawa penyegaran signifikan, terutama dari sektor kamera yang selama ini menjadi nilai jual utama seri V.

Strategi Peluncuran Terpisah: V70 dan V70 Elite Duluan

Berdasarkan laporan yang beredar, Vivo tampaknya memilih bulan Februari sebagai momentum strategis untuk memperkenalkan Vivo V70 reguler dan Vivo V70 Elite. Penggunaan nama “Elite” ini cukup menarik perhatian. Biasanya, Vivo menggunakan nomenklatur “Pro” untuk varian yang lebih tinggi. Munculnya nama Elite bisa jadi mengindikasikan adanya segmentasi baru atau sekadar rebranding untuk pasar tertentu.

Peluncuran di bulan Februari menempatkan Vivo dalam posisi yang cukup agresif untuk bersaing dengan vendor lain yang juga kerap merilis produk baru pasca tahun baru. Fokus utama tentu akan tertuju pada bagaimana Vivo mengemas varian Elite ini. Apakah ia akan menjadi pengganti varian Pro, atau justru menjadi opsi penengah? Kita tahu bahwa lini V seringkali berbagi DNA desain dengan Vivo S50 yang rilis di China, sehingga ekspektasi terhadap desain yang ramping dan estetis tetap tinggi.

Sementara itu, bagi konsumen yang menantikan spesifikasi tinggi dengan harga yang lebih miring melalui varian FE, tampaknya harus sedikit bersabar. Vivo V70 FE dikabarkan akan debut di kemudian hari, terpisah dari acara peluncuran utama di bulan Februari. Penundaan ini bisa jadi merupakan taktik dagang agar sorotan utama tidak terpecah, atau untuk memberikan ruang napas bagi penjualan seri reguler dan Elite terlebih dahulu.

Menanti Kejutan Spesifikasi

Meskipun detail spesifikasi teknis belum dibeberkan secara gamblang dalam kabar peluncuran ini, antusiasme pasar sudah mulai terbangun. Seri V selama ini dikenal dengan kemampuan potretnya yang superior, seringkali didukung oleh teknologi optik dari Zeiss pada varian tertingginya. Konsumen tentu berharap kolaborasi tersebut berlanjut di seri V70 ini.

Selain itu, bocoran mengenai warna meriah dan opsi RAM besar juga sempat mampir di telinga para pengamat gadget. Vivo sepertinya tidak ingin main-main dalam memberikan opsi estetika bagi pengguna muda yang menjadi target pasar utamanya.

Untuk varian V70 FE yang akan menyusul, ekspektasi tertuju pada efisiensi harga berbanding performa. Biasanya, seri FE atau ‘e’ di lini Vivo menawarkan esensi pengalaman seri V namun dengan beberapa kompromi yang masuk akal untuk menekan harga jual. Informasi mengenai baterai yang “bikin melongo” pada varian FE dan saudaranya iQOO 15R juga menjadi poin diskusi yang hangat di kalangan netizen.

Keputusan Vivo untuk memecah jadwal rilis ini mungkin akan memengaruhi keputusan pembelian konsumen. Mereka yang butuh perangkat baru segera mungkin akan langsung meminang V70 atau V70 Elite di bulan Februari, sementara pemburu value deal mungkin akan menahan diri hingga V70 FE resmi diumumkan.

Kita tunggu saja konfirmasi resmi dari pihak Vivo mengenai tanggal pasti peluncuran dan detail harga untuk pasar Indonesia. Apakah Vivo V70 Elite akan benar-benar membawa fitur “elit” yang sepadan dengan namanya, atau hanya sekadar permainan nama? Waktu yang akan menjawab.

Realme Siapkan HP Baterai 10.000mAh, Kabarnya Rilis Bulan Ini

0

Telset.id – Kabar mengejutkan datang dari ranah teknologi mobile. Realme, pabrikan yang dikenal agresif dalam inovasi pengisian daya, dikabarkan sedang bersiap meluncurkan sebuah smartphone dengan kapasitas daya monster, yakni 10.000mAh, yang diprediksi akan diperkenalkan ke publik pada bulan ini.

Isu ini memancing perhatian besar mengingat standar baterai smartphone flagship saat ini masih berkutat di angka 5.000mAh hingga 6.000mAh. Jika rumor ini terbukti benar, Realme akan mendobrak batasan daya tahan perangkat mobile ke level yang belum pernah disentuh oleh merek mainstream sebelumnya.

Ambisi Realme dalam Efisiensi Daya

Langkah ini tampaknya bukan sekadar isapan jempol belaka. Sebelumnya, indikasi mengenai perangkat dengan daya super besar ini sudah mulai tercium. Realme memang dikenal tidak malu-malu dalam bereksperimen, baik dari segi desain maupun spesifikasi teknis.

Berdasarkan rekam jejaknya, perusahaan ini sempat menyinggung mengenai pengembangan teknologi baterai yang lebih padat. Hal ini sejalan dengan bocoran konsep yang pernah beredar sebelumnya, di mana Realme mengeksplorasi kemungkinan menanamkan baterai berkapasitas lima digit ke dalam bodi ponsel yang tetap ergonomis.

Pertanyaan besarnya adalah mengenai dimensi perangkat tersebut. Biasanya, baterai 10.000mAh identik dengan ponsel rugged yang tebal dan berat, menyerupai batu bata. Namun, dengan teknologi baterai silikon-karbon yang mulai diadopsi industri, ada harapan Realme bisa mengemasnya dalam form faktor yang lebih “manusiawi”.

Bulan yang Sibuk bagi Realme

Prediksi peluncuran “bulan ini” menempatkan perangkat misterius tersebut di tengah jadwal padat Realme. Perusahaan ini tidak hanya fokus pada satu segmen. Sebagai contoh, mereka juga tengah mempersiapkan peluncuran seri lain yang menyasar para gamer dan pengguna berat multimedia.

Kita tahu bahwa Realme Neo 8 dijadwalkan untuk rilis 22 Januari mendatang. Kehadiran ponsel baterai 10.000mAh ini bisa saja menjadi kejutan “One More Thing” dalam acara tersebut, atau justru diperkenalkan secara terpisah sebagai portofolio teknologi masa depan.

Selain itu, tren peningkatan kapasitas baterai memang sedang digalakkan oleh Realme. Belum lama ini, mereka juga memperkenalkan perangkat dengan baterai 7.000mAh di seri 16 Pro, yang membuktikan bahwa mereka serius ingin menghilangkan kecemasan pengguna akan baterai habis (battery anxiety).

Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi mengenai nama seri atau spesifikasi detail lainnya. Namun, jika Realme benar-benar merilis ponsel 10.000mAh bulan ini, ini akan menjadi standar baru bagi industri, memaksa kompetitor untuk memikirkan ulang strategi manajemen daya mereka. Kita tunggu saja apakah ini akan menjadi produk komersial massal atau sekadar pameran teknologi yang memukau.

Xiaomi 17 Max Mencuat, Siap Bawa Kapasitas Baterai Terbesar di Serinya

0

Telset.id – Kabar menarik kembali datang dari dapur inovasi Xiaomi. Di tengah persaingan pasar smartphone flagship yang semakin sengit, raksasa teknologi asal China ini dikabarkan tengah mempersiapkan varian baru yang cukup mengejutkan. Sebuah bocoran terbaru mengindikasikan kehadiran perangkat bernama Xiaomi 17 Max, yang digadang-gadang akan menjadi “monster” daya tahan dengan membawa kapasitas baterai terbesar di seluruh lini seri Xiaomi 17.

Isu ini tentu memantik diskusi hangat di kalangan penggemar gadget. Pasalnya, penggunaan nomenklatur “Max” pada lini flagship utama Xiaomi bukanlah hal yang lazim dalam beberapa tahun terakhir. Biasanya, Xiaomi lebih akrab dengan penamaan “Pro”, “Ultra”, atau sekadar varian reguler. Kehadiran nama “Max” ini seolah memberikan sinyal bahwa Xiaomi ingin menantang langsung kompetitor utamanya dengan strategi yang lebih agresif, terutama pada sektor daya tahan.

Xiaomi 17 Max: Fokus pada Daya Tahan Ekstra

Berdasarkan informasi yang beredar, nilai jual utama dari Xiaomi 17 Max ini terletak pada sektor penyokong dayanya. Laporan tersebut secara spesifik menyebutkan bahwa perangkat ini akan hadir dengan baterai paling besar di antara saudara-saudaranya dalam jajaran Xiaomi 17 series. Langkah ini dinilai sebagai respons cerdas terhadap keluhan umum pengguna flagship masa kini: performa tinggi yang seringkali harus dibayar mahal dengan borosnya konsumsi daya.

Jika melihat tren pasar saat ini, kapasitas baterai memang menjadi salah satu faktor penentu bagi konsumen dalam memilih perangkat daily driver. Dengan menyematkan baterai jumbo, Xiaomi tampaknya ingin memposisikan varian Max ini sebagai perangkat produktivitas dan hiburan tanpa kompromi. Hal ini tentu akan sangat menarik jika disandingkan dengan hasil Tes Baterai yang kerap dilakukan pada perangkat sekelasnya.

Belum ada angka pasti mengenai berapa miliampere-hour (mAh) yang akan ditawarkan. Namun, mengingat standar flagship tahun 2025 yang rata-rata sudah menyentuh angka 5.000 mAh hingga 5.500 mAh, besar kemungkinan Xiaomi 17 Max akan melampaui angka tersebut secara signifikan. Strategi ini mengingatkan kita pada era seri Mi Max lawas yang memang legendaris karena layar dan baterainya yang masif, meski kini dikemas dalam balutan spesifikasi kelas atas.

Strategi Naming dan Posisi Pasar

Munculnya nama Xiaomi 17 Max juga memicu spekulasi mengenai posisinya dalam hierarki produk. Apakah ini akan menjadi varian yang lebih tinggi dari model Pro, atau justru menjadi alternatif bagi mereka yang menginginkan layar dan baterai besar tanpa fitur kamera sekompleks varian Ultra? Pertanyaan ini menjadi relevan mengingat kompetisi ketat di segmen ini, terutama dalam Pertarungan Flagship melawan iPhone yang juga menggunakan embel-embel “Max”.

Penggunaan nama “Max” bisa jadi merupakan strategi psikologis untuk menyejajarkan persepsi konsumen dengan produk kompetitor. Dengan demikian, konsumen yang mencari varian tertinggi dengan ukuran terbesar akan langsung mengenali opsi yang ditawarkan Xiaomi. Selain itu, perangkat ini diprediksi tetap akan ditenagai oleh chipset papan atas untuk menjaga reputasinya di Ranking Performa smartphone Android.

Dukungan Software dan Ekosistem

Tentu saja, perangkat keras yang mumpuni tidak akan maksimal tanpa dukungan perangkat lunak yang efisien. Xiaomi 17 Max diperkirakan akan langsung menjalankan sistem operasi terbaru Xiaomi. Optimalisasi software menjadi kunci penting, mengingat kapasitas baterai yang besar membutuhkan manajemen daya yang cerdas agar tidak terbuang percuma. Kabar baiknya, Xiaomi terus menunjukkan komitmennya dalam pembaruan sistem, seperti yang terlihat pada rilis HyperOS 3 baru-baru ini.

Sistem operasi terbaru ini diklaim membawa efisiensi daya yang lebih baik serta integrasi ekosistem yang lebih mulus. Bagi pengguna yang masih menggunakan perangkat lama, Xiaomi bahkan memberikan kejutan dengan memperluas dukungan update ke HP Lawas yang sebelumnya dianggap sudah tidak mendapat pembaruan. Hal ini memberikan optimisme bahwa Xiaomi 17 Max akan didukung oleh software yang matang sejak hari pertama peluncurannya.

Kehadiran Xiaomi 17 Max dengan baterai terbesarnya di lini seri ini jelas menjadi ancaman serius bagi para kompetitor. Jika Xiaomi berhasil memadukan kapasitas baterai jumbo, pengisian daya super cepat khas mereka, dan desain yang tetap ergonomis, maka perangkat ini berpotensi menjadi raja baru di segmen phablet flagship. Kita tunggu saja pengumuman resminya untuk membuktikan apakah rumor ini benar adanya atau sekadar strategi cek ombak dari sang vendor.