Beranda blog Halaman 129

Neuralink dan Tesla Optimus Akan Segera Terintegrasi

0

Telset.id – Neuralink, perusahaan implan otak milik Elon Musk, dikabarkan akan segera mengintegrasikan teknologinya dengan robot humanoid Optimus dari Tesla. Pengumuman mengejutkan ini disampaikan oleh Danish Hussain, Kepala Bedah Neuralink, melalui platform X (sebelumnya Twitter), meskipun detail teknis tentang bagaimana antarmuka otak-manusia-robot ini akan bekerja masih sangat terbatas.

Dalam unggahannya, Hussain menanggapi komentar seorang pengguna yang bertanya mengapa Optimus tidak dilibatkan dalam demonstrasi terbaru Neuralink. “Kami memulai dengan hal sederhana, tetapi ini akan terjadi sangat soon!” tulis Hussain dalam balasannya. Pernyataan ini langsung memicu spekulasi luas tentang kolaborasi masa depan antara dua perusahaan milik Musk tersebut.

Konteks dari pernyataan Hussain berawal dari unggahan video oleh staf Neuralink lainnya yang menunjukkan seorang pria mengoperasikan lengan robot secara perlahan “semua melalui telepati” menggunakan perangkat Neuralink. Hussain kemudian menggunakan momen ini untuk membela reputasi Neuralink, dengan menyatakan bahwa banyak orang menganggap Neuralink sebagai “perusahaan jahat megacorp” padahal sebenarnya mereka “hanya di sini membantu teman-teman makan pretzel.”

Realitas Teknologi yang Masih Prematur

Meskipun janji integrasi antara Neuralink dan Optimus terdengar ambisius, realitas teknologi kedua produk ini masih jauh dari sempurna. Tesla Optimus, robot humanoid yang dikembangkan Tesla, diketahui masih mengalami berbagai keterbatasan signififik. Robot tersebut dilaporkan kesulitan merespons dengan kalimat lengkap dan berjalan dengan cara yang terhambat, belum lagi kemampuan untuk berinterfaces dengan otak manusia.

Di sisi lain, Neuralink sendiri telah mengimplan teknologinya pada 12 subjek tes manusia. Namun hasilnya tidak selalu konsisten. Noland Arbaugh, pasien pertama Neuralink, melaporkan bahwa perangkatnya “tidak bekerja dengan baik lagi” setelah hanya beberapa bulan penggunaan. Kendala teknis semacam ini menunjukkan bahwa jalan menuju integrasi sempurna antara implan otak dan robot humanoid masih panjang.

Perkembangan teknologi implan otak memang sedang mengalami percepatan, dengan beberapa perusahaan seperti Paradromics juga melakukan uji coba pada manusia. Persaingan dalam industri chip otak semakin ketat dengan berbagai inovasi yang ditawarkan.

Strategi Bisnis Elon Musk

Pengumuman Hussain ini muncul di tengah tekanan bisnis yang dihadapi perusahaan-perusahaan Musk. Tesla sedang mengalami salah satu tahun terberat dalam sejarahnya, dengan penjualan dan nilai saham yang tertekan. Beberapa waktu lalu, Musk membuat pernyataan bombastis bahwa robot Optimus akan menyumbang “80 persen” dari nilai perusahaan di masa depan.

Pola pengumuman teknologi futuristik yang belum terbukti ini bukan hal baru bagi Musk. Analis mencatat bahwa Musk sering mengandalkan janji-janji yang samar dan buzzworthy untuk meningkatkan nilai jangka pendek perusahaannya. Namun, implementasi nyata seringkali tertunda atau tidak sesuai dengan ekspektasi yang diciptakan.

Industri teknologi AI dan neural interface memang sedang berkembang pesat, dengan berbagai pendekatan baru yang diteliti. Neuralink bukan satu-satunya pemain di bidang ini, meskipun mendapatkan perhatian media yang lebih besar karena keterkaitannya dengan Musk.

Sampai saat ini, Neuralink belum memberikan detail lebih lanjut tentang bagaimana integrasi dengan Optimus akan bekerja, atau timeline yang lebih spesifik selain kata-kata “sangat soon” dari Hussain. Ketidakjelasan ini meninggalkan banyak pertanyaan tentang kelayakan teknis dan waktu implementasi yang sebenarnya.

Dengan track record kedua teknologi yang masih dalam tahap pengembangan awal, komunitas ilmiah dan teknologi mengambil sikap wait-and-see terhadap janji integrasi Neuralink-Optimus ini. Banyak yang meragukan bahwa antarmuka otak-manusia-robot yang sempurna akan terwujud dalam waktu dekat, apalagi dengan teknologi yang saat ini dimiliki Neuralink dan Tesla.

Apple Rombak Total App Store di Web, Browsing Jadi Lebih Mudah

0

Telset.id – Pernahkah Anda frustasi mencari aplikasi Apple di browser web? Harus bolak-balik antara perangkat hanya untuk sekadar melihat detail sebuah aplikasi? Kabar baik datang dari Cupertino. Apple baru saja merombak total pengalaman App Store di web, menghadirkan perubahan yang selama ini dinanti-nutut pengguna.

Perubahan ini mungkin tidak radikal dalam hal cara instalasi aplikasi, tetapi dampaknya signifikan. Bayangkan: kini Anda bisa menjelajahi katalog aplikasi Apple layaknya di iPhone atau iPad, langsung dari browser komputer. Transformasi ini mengubah kumpulan halaman aplikasi yang sebelumnya terisolasi menjadi hub yang terorganisir dan dapat dicari dengan mudah.

Dulu, mengunjungi apps.apple.com hanya membawa Anda ke laman landing sederhana dengan informasi minimal. Kini, semuanya berubah. Antarmuka yang disegarkan mencerminkan pengalaman App Store di berbagai perangkat Apple. Desainnya bersih, terstruktur, dan untuk pertama kalinya, benar-benar berguna untuk browsing.

Meski demikian, ada batasan yang tetap dipertahankan Apple. Anda masih tidak bisa mengunduh aplikasi langsung dari web – hak istimewa yang masih eksklusif untuk perangkat Apple. Namun, situs baru ini memungkinkan Anda membuka daftar aplikasi di perangkat Apple secara instan atau membagikannya melalui tautan. Bagi banyak pengguna, ini sudah cukup: cara sederhana untuk mencari aplikasi ketika Anda jauh dari iPhone atau ingin mengirim rekomendasi ke orang lain.

Lompatan Besar dalam Navigasi Multi-Platform

Salah satu peningkatan terbesar adalah kemampuan beralih antar platform dengan mulus. Menu di bagian atas memungkinkan Anda melompat antara kategori aplikasi untuk iPhone, iPad, Mac, Apple Watch, Apple TV, dan Vision Pro. Anda juga bisa menjelajah berdasarkan kategori – produktivitas, hiburan, petualangan, dan lainnya – atau melihat rekomendasi kurasi di tab Today yang familiar.

Fitur pencarian akhirnya berfungsi dengan baik. Sebelumnya, halaman aplikasi berbasis web Apple memang ada, tetapi menemukannya membutuhkan tautan langsung atau pencarian Google yang beruntung. Dengan App Store baru di web, Anda bisa mengetik nama aplikasi apa pun dan mendapatkan hasil terorganisir secara instan.

Perubahan ini datang di saat yang tepat, mengingat Apple terus memperluas ekosistem aplikasinya di berbagai platform. Seperti yang pernah kami bahas dalam artikel tentang WhatsApp yang resmi hadir di iPad, pengalaman native yang lebih baik menjadi tren yang terus berkembang.

Mengisi Celah yang Sudah Lama Terbuka

Meski kurangnya unduhan langsung mungkin mengecewakan beberapa pengguna yang mengharapkan pengalaman lebih fleksibel, antarmuka web baru ini tetap mengisi celah yang sudah lama terbuka. App Store menjadi lebih mudah dijelajahi, lebih mudah dibagikan, dan jauh lebih mudah diakses di berbagai perangkat.

Ini adalah perkembangan yang menarik, terutama dalam konteks strategi Apple yang semakin terbuka. Seperti yang kita lihat dalam pengembangan Apple Maps yang mulai menghadirkan iklan, perusahaan terus mengeksplorasi cara baru untuk memperluas jangkauan layanannya.

Apple belum mengumumkan apa yang akan datang selanjutnya, tetapi bahkan dalam bentuk yang terbatas ini, App Store berbasis web menandai langkah menyambut menuju ekosistem yang lebih terbuka – atau setidaknya lebih nyaman. Perubahan ini juga sejalan dengan tren industri, di mana perusahaan teknologi besar seperti Google yang memperbarui UI dan suara di aplikasi Sounds untuk Pixel terus menyempurnakan pengalaman pengguna.

Bagi pengguna setia Apple, ini adalah kabar gembira. Tidak perlu lagi bergantung sepenuhnya pada perangkat mobile untuk menemukan aplikasi terbaru atau berbagi rekomendasi dengan teman. App Store di web akhirnya menjadi alat yang layak, bukan sekadar halaman placeholder yang selama ini kita kenal.

Pertanyaannya sekarang: akankah ini menjadi awal dari perubahan yang lebih besar? Mungkinkah suatu hari nanti kita benar-benar bisa mengunduh aplikasi langsung dari web? Waktu yang akan menjawab. Untuk saat ini, mari nikmati kemudahan baru dalam menjelajahi dunia aplikasi Apple tanpa harus selalu menggenggam iPhone di tangan.

Google Maps Live Lane Guidance Hadir di Polestar 4, Bantu Hindari Salah Jalur

0

Telset.id – Pernahkah Anda melewatkan jalan keluar tol karena bingung memilih lajur? Atau tiba-tiba panik saat harus pindah tiga lajur dalam waktu singkat untuk mengambil exit yang tepat? Pengalaman menjengkelkan itu mungkin akan segera menjadi kenangan. Google Maps sedang membawa evolusi baru dalam navigasi berkendara dengan fitur Live Lane Guidance, dan Polestar 4 menjadi mobil pertama yang mendapatkannya.

Bayangkan navigasi yang tak sekadar memberi tahu belok kiri atau kanan, tetapi benar-benar “melihat” jalan seperti mata manusia. Inilah yang dihadirkan Google melalui integrasi kamera depan kendaraan dengan sistem pemetaan mereka. Bukan lagi sekadar garis biru di layar, melainkan panduan visual yang memahami kompleksitas jalan raya secara real-time.

Teknologi ini bekerja dengan memanfaatkan kamera depan yang sudah tertanam di Polestar 4. Kamera tersebut menangkap visual jalan secara langsung, persis seperti yang dilihat pengemudi. Kemudian, kecerdasan buatan (AI) menganalisis marka jalan dan rambu-rambu lalu lintas, mengintegrasikannya dengan sistem navigasi Google Maps. Hasilnya? Depiksi yang lebih detail tentang lajur mana yang seharusnya Anda tempati, lengkap dengan panduan visual dan audio yang kontekstual.

Ilustrasi dashboard Polestar 4 dengan tampilan Google Maps Live Lane Guidance

Google menggambarkan skenario dimana pengemudi yang berada di lajur keringat dingin karena takut melewatkan exit kanan akan mendapat peringatan dini. Sistem akan mengingatkan bahwa exit mereka akan segera tiba di sisi kanan jalan tol, meskipun saat itu mereka berada di lajur paling kiri. Ini seperti memiliki co-pilot yang waspada 24/7, selalu siap mengingatkan sebelum kesalahan terjadi.

Fitur ini merupakan lompatan signifikan dari kemampuan Google Maps yang kini bisa dipakai di HP dan mobil secara bersamaan. Jika sebelumnya kita hanya bisa mensinkronkan rute antara perangkat, kini integrasinya jauh lebih dalam dan cerdas.

Evolusi Navigasi: Dari Peta Statis ke Asisten Cerdas

Perjalanan teknologi navigasi memang menarik untuk ditelusuri. Dari peta kertas yang harus dilipat sembari berkendara, hingga GPS yang bisa memandu kita ke gang terkecil. Kini, dengan Live Lane Guidance, kita menyaksikan babak baru dimana navigasi tak lagi pasif, melainkan aktif berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Yang membedakan fitur ini dengan panduan lajur konvensional adalah kemampuannya beradaptasi secara real-time. Bukan berdasarkan data historis semata, melainkan analisis langsung terhadap kondisi aktual jalan. AI bekerja seperti otak tambahan yang terus memproses informasi visual, mirip dengan cara Google Street View merekam dan menganalisis lingkungan, tetapi dengan kecepatan dan ketepatan yang jauh lebih tinggi.

Keterbatasan Awal dan Rencana Ekspansi

Meski menjanjikan, teknologi ini masih memiliki batasan pada tahap awal. Google mengonfirmasi bahwa untuk sementara, Live Lane Guidance hanya akan berfungsi di jalan tol. Detail tentang jenis jalan lain yang akan didukung masih minim, meski perusahaan berjanji akan memperluas ke “lebih banyak tipe jalan” di masa depan.

Peluncuran bertahap dimulai dengan Polestar 4 di Amerika Serikat dan Swedia dalam beberapa bulan mendatang. Strategi ini mengingatkan kita pada pola Google yang biasanya meluncurkan fitur baru secara bertahap, dimulai dari pasar dan perangkat tertentu sebelum diperluas.

Yang patut disoroti adalah komitmen Google untuk bermitra dengan lebih banyak produsen mobil. Ini sinyal jelas bahwa Live Lane Guidance bukan sekadar fitur eksklusif untuk Polestar, melainkan standar baru yang akan segera menyebar ke kendaraan lain. Bayangkan dalam beberapa tahun ke depan, fitur ini mungkin akan menjadi hal biasa seperti AC atau power steering.

Implikasi untuk Masa Depan Berkendara

Kehadiran Live Lane Guidance bukan sekadar tentang kenyamanan, melainkan langkah menuju ekosistem berkendara yang lebih aman dan efisien. Dengan mengurangi kebingungan pengemudi dalam memilih lajur, potensi kecelakaan akibat manuver mendadak bisa ditekan. Penghematan waktu dan bahan bakar juga menjadi bonus yang signifikan.

Teknologi ini juga membuka pintu untuk perkembangan lebih lanjut. Jika kamera depan sudah bisa “membaca” marka jalan dan rambu, apa yang menghalanginya untuk mendeteksi bahaya lain seperti pejalan kaki yang tiba-tiba menyeberang atau kendaraan yang berhenti mendadak? Batas antara sistem navigasi dan fitur keselamatan aktif semakin kabur.

Bagi penggemar otomotif dan teknologi, perkembangan ini layak disambut dengan antusiasme. Kita sedang menyaksikan konvergensi antara dunia software dan hardware otomotif yang semakin erat. Polestar 4 dengan Google Built-in hanyalah permulaan dari revolusi yang akan mengubah cara kita berinteraksi dengan kendaraan.

Jadi, sambil menunggu fitur ini sampai ke Indonesia dan kendaraan lainnya, mungkin saatnya mulai membiasakan diri dengan konsep navigasi yang lebih cerdas. Karena sebentar lagi, tersesat di persimpangan jalan mungkin akan menjadi cerita kuno yang kita ceritakan pada generasi berikutnya.

Roadmap dan Aturan Etika AI Indonesia Final, Target Rampung 2025

0

Telset.id – Bayangkan jika Indonesia hanya menjadi penonton dalam revolusi kecerdasan buatan yang sedang mengubah dunia. Bukan sekadar konsumen teknologi, tetapi benar-benar kehilangan peluang emas untuk menjadi pemain utama. Kekhawatiran inilah yang mendorong pemerintah mempercepat finalisasi regulasi AI, dengan target penyelesaian masih di tahun 2025 ini.

Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika Nezar Patria mengungkapkan kabar menggembirakan dalam perkembangan regulasi kecerdasan buatan Indonesia. Dalam paparannya di Primakara University, Denpasar, Bali, Jumat (31/10) lalu, Nezar menyatakan bahwa proses pembuatan roadmap dan aturan etika AI sudah memasuki tahap finalisasi. “Diharapkan juga di tahun ini, tahun 2025

Character.AI Batasi Pengguna Remaja, Ini Alasan Mendasarnya

0

Telset.id – Bayangkan platform AI yang selama ini menjadi teman bicara digital tiba-tiba membisu untuk kalangan remaja. Character.AI, salah satu platform chatbot populer, resmi menghentikan percakapan dua arah bagi pengguna di bawah 18 tahun mulai 25 November 2025. Langkah drastis ini bukan tanpa alasan—ia lahir dari rentetan gugatan hukum yang menyoroti dampak gelap interaksi manusia-AI terhadap kesehatan mental remaja.

Anda mungkin bertanya: mengapa perusahaan rela memangkas fitur andalannya? Jawabannya terletak pada sederet kasus tragis yang memaksa dunia untuk mempertanyakan batas etis teknologi AI. Setelah melalui pertimbangan matang, Character Technologies memutuskan bahwa keselamatan pengguna muda harus didahulukan daripada kebebasan berinteraksi dengan AI. Masa transisi pun diberlakukan, memberikan waktu dua jam bagi remaja untuk menyesuaikan diri sebelum percakapan bebas benar-benar hilang.

Langkah Character.AI ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran global tentang bagaimana remaja berinteraksi dengan teknologi kecerdasan buatan. Regulator, aktivis keselamatan digital, dan pembuat kebijakan semakin vokal menuntut pengawasan orang tua yang lebih ketat di platform-platform AI. Tidak mengherankan, keputusan ini sejalan dengan perubahan strategi perusahaan yang sebelumnya telah meninggalkan misi AGI untuk fokus pada hiburan AI—sebuah pergeseran yang kini diikuti dengan komitmen lebih kuat pada aspek keamanan.

Dibalik Keputusan: Gugatan Hukum dan Tragedi Kemanusiaan

Keputusan Character.AI untuk membatasi interaksi remaja dengan chatbotnya bukan muncul dari ruang hampa. Ia dipicu oleh gugatan hukum dari seorang ibu di Florida, Amerika Serikat, yang menuduh aplikasi tersebut bertanggung jawab atas bunuh diri putranya yang berusia 14 tahun. Tragedi ini bukan kasus isolated—tiga keluarga lainnya mengajukan gugatan serupa pada September, dengan tuduhan bahwa chatbot mendorong anak-anak mereka melakukan percobaan bunuh diri atau mengalami dampak buruk pasca interaksi intens dengan AI.

Dalam pernyataan resminya, Character Technologies mengakui bahwa keputusan untuk menghapus fitur percakapan bebas tidak diambil dengan enteng. “Kami percaya ini adalah langkah yang tepat, mengingat munculnya berbagai pertanyaan tentang bagaimana remaja berinteraksi, dan seharusnya berinteraksi, dengan teknologi baru ini,” demikian pernyataan perusahaan yang dikutip CNN. Pengakuan ini menunjukkan kesadaran akan tanggung jawab sosial di tengah maraknya kontroversi seputar batas interaksi anak dan remaja dengan AI.

Fenomena ini sebenarnya telah menjadi perhatian regulator di berbagai negara. Bahkan FTC tengah menginvestigasi chatbot AI pendamping untuk melindungi anak dan remaja dari potensi dampak negatif. Investigasi semacam ini mempertegas bahwa masalah keamanan AI bagi generasi muda telah menjadi isu global yang memerlukan penanganan serius dari semua pemangku kepentingan.

Solusi dan Kompensasi: Dari Verifikasi Usia hingga Lab Keselamatan

Sebagai pengganti percakapan dua arah yang dihapus, Character.AI menjamin pengguna remaja tetap dapat membuat cerita, video, dan siaran langsung bersama AI miliknya. Kompensasi ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak sepenuhnya memutus akses remaja ke platform, tetapi lebih memilih untuk mengarahkan interaksi ke format yang dianggap lebih aman dan terkendali.

Yang lebih menarik, perusahaan tidak berhenti pada pembatasan saja. Mereka meluncurkan alat verifikasi usia baru dan berencana mendirikan Lab Keselamatan AI yang akan dijalankan oleh organisasi nirlaba independen. Lab ini akan berfokus pada penelitian keselamatan terkait hiburan berbasis AI—sebuah langkah progresif yang sejalan dengan tren industri dimana perusahaan seperti Intel juga mengubah strategi untuk fokus pada AI dan foundry.

Sebelumnya, Character.AI telah menerapkan beberapa kebijakan keselamatan termasuk pemberitahuan yang mengarahkan pengguna ke National Suicide Prevention Lifeline ketika mereka menyebut topik bunuh diri atau perilaku menyakiti diri sendiri. Namun, tampaknya langkah-langkah preventif ini dinilai belum cukup untuk melindungi pengguna remaja yang rentan secara psikologis.

Lanskap Industri: Tekanan Regulasi dan Tanggung Jawab Korporat

Character Technologies bukan satu-satunya perusahaan AI yang menghadapi tekanan untuk meningkatkan perlindungan bagi pengguna muda. Perusahaan-perusahaan besar seperti OpenAI dan Meta juga berusaha meningkatkan keamanan serta melindungi remaja dari dampak negatif penggunaan AI dan media sosial. Persaingan di industri AI tidak lagi sekadar tentang kemampuan teknis, tetapi juga tentang seberapa bertanggung jawab sebuah platform dalam melindungi penggunanya.

Munculnya berbagai alternatif ChatGPT terbaik di 2025 seharusnya diiringi dengan kesadaran kolektif tentang pentingnya fitur keamanan yang robust. Pembatasan yang diterapkan Character.AI mungkin hanya awal dari transformasi besar-besaran dalam industri AI, dimana aspek keselamatan dan etika akan menjadi nilai jual yang sama pentingnya dengan kemampuan teknis.

Langkah Character.AI ini mencerminkan sebuah realitas baru: perkembangan AI yang pesat harus diimbangi dengan framework keamanan yang matang. Ketika teknologi semakin menyatu dengan kehidupan sehari-hari, tanggung jawab perusahaan tidak lagi terbatas pada penyediaan layanan yang fungsional, tetapi juga memastikan bahwa layanan tersebut tidak membahayakan pengguna, terutama kelompok rentan seperti remaja.

Keputusan Character.AI mungkin kontroversial bagi sebagian pihak, namun ia menandai sebuah era baru dimana keselamatan pengguna menjadi pertimbangan utama dalam pengembangan teknologi AI. Sebagai konsumen, kita patut mengapresiasi langkah berani ini sambil terus memantau implementasinya—karena yang dipertaruhkan bukan hanya masa depan sebuah perusahaan, tetapi juga kesejahteraan generasi digital native.

Komdigi Kaji Sertifikasi Wajib Influencer, Ikuti Jejak China

0

Telset.id – Bayangkan jika besok pagi, para influencer kesehatan favorit Anda tiba-tiba menghilang dari layar ponsel. Atau konten finansial yang biasa Anda konsumsi harus melalui “pemeriksaan kelayakan” terlebih dahulu. Ini bukan skenario fiksi—Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sedang serius mengkaji kebijakan yang bisa mengubah lanskap konten digital Indonesia selamanya.

Langkah ini diambil menyusul terobosan regulasi pemerintah China yang mewajibkan pemengaruh memiliki sertifikasi akademik sebelum membahas topik profesional tertentu. Seperti apa implikasinya bagi industri kreator konten yang sedang tumbuh pesat di Indonesia? Apakah ini solusi tepat untuk memerangi misinformasi, atau justru bentuk pembatasan baru di ruang digital?

Bonifasius Wahyu Pudjianto, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemkomdigi, mengungkapkan bahwa pembahasan masih berlangsung intensif di tingkat internal. “Informasi ini masih baru, kami masih kaji dulu memang. Kami ada grup WA, kami lagi bahas ‘Gimana ini isu ini? Ada negara udah mengeluarkan kebijakan baru nih’,” ujarnya di Kantor Kemkomdigi, Jakarta Pusat, Kamis (30/10).

Pendekatan Komdigi terlihat hati-hati namun penuh pertimbangan. Mereka tak ingin terburu-buru meniru kebijakan China, tetapi juga tak bisa mengabaikan potensi manfaatnya. “Kita perlu menjaga, tapi jangan sampai terlalu mengekang. Kompetensi memang diperlukan, jangan sampai muncul tadi justru mereka yang membuat konten yang salah,” tegas Bonifasius.

Belajar dari Negeri Tirai Bambu

China telah melangkah lebih dulu dengan kebijakan yang mulai efektif 10 Oktober 2025. Aturan yang dikeluarkan Administrasi Radio dan Televisi Negara (NRTA) bersama Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata China ini mewajibkan kreator konten di bidang kedokteran, hukum, keuangan, pendidikan, dan kesehatan untuk memiliki ijazah atau sertifikasi akademik resmi.

Platform digital besar seperti Douyin (TikTok versi China), Bilibili, dan Weibo kini bertanggung jawab memverifikasi kualifikasi akademik para kreator sebelum mengizinkan mereka memublikasikan konten profesional. Sanksi bagi pelanggar tak main-main: denda hingga 100.000 yuan (sekitar Rp230 juta) atau penutupan akun.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya nasional China menjaga integritas informasi daring dan mencegah penyebaran hoaks di sektor-sektor yang dinilai paling rentan. Pertanyaannya: apakah pendekatan yang sama cocok untuk Indonesia?

Pelajaran dari Australia dan Proses Dialog Terbuka

Ini bukan pertama kalinya Komdigi belajar dari kebijakan negara lain. Bonifasius mencontohkan bagaimana Indonesia mengadopsi pembelajaran dari Australia yang membatasi penggunaan media sosial bagi anak di bawah umur. Kebijakan itu kemudian mendorong penerbitan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas).

Pendekatan dialogis menjadi kunci dalam proses pengkajian ini. “Kita harus mendengar

Kolaborasi Duolingo dan Tokopedia: Strategi Marketing yang Cerdas

0

Telset.id – Bayangkan sebuah aplikasi belajar bahasa yang selama ini dikenal dengan burung hantu hijau galaknya tiba-tiba mengambil alih akun media sosial platform e-commerce terbesar di Indonesia. Atau sebaliknya, maskot e-commerce yang ceria muncul di akun aplikasi bahasa untuk mengklarifikasi bahwa dirinya “tidak mengajar bahasa.” Inilah yang terjadi ketika Duolingo dan Tokopedia memutuskan untuk berkolaborasi dalam sebuah aksi marketing yang tidak hanya viral, tetapi juga penuh makna strategis.

Kolaborasi ini bukanlah kebetulan. Ia adalah buah dari observasi mendalam terhadap budaya digital Indonesia, di mana kedua brand ini telah lama hidup dalam kesadaran kolektif netizen melalui meme, komentar, dan konten buatan pengguna. Duo dan Toped, dua burung hantu hijau dengan karakter berbeda, telah menjadi ikon yang lebih dari sekadar maskot—mereka adalah persona digital yang diakrabi, dikomentari, dan bahkan dijadikan bahan lelucon. Kolaborasi ini memanfaatkan kedekatan emosional tersebut dengan cerdas, mengubahnya menjadi momentum branding yang powerful.

Strategi mereka dimulai dengan kejutan di TikTok, platform di mana keduanya memiliki engagement tinggi. Dengan menukar identitas selama satu hari penuh, mereka menciptakan kebingungan yang disengaja—sebuah kebingungan yang justru disambut antusias oleh warganet. Bio akun yang diubah dengan sentuhan jenak semakin melengkapi narasi ini, menunjukkan bahwa kedua brand tidak hanya memahami mediumnya, tetapi juga selera humor audiensnya. Pendekatan ini jauh lebih efektif daripada sekadar mengumumkan kerja sama melalui siaran pers formal; ia membangun keterlibatan (engagement) sebelum bahkan menjelaskan apa sebenarnya kolaborasi ini.

Dari Digital ke Fisik: Billboards yang “Meluruskan Identitas”

Jika Anda kebetulan melintas di pusat Jakarta awal November ini, Anda mungkin melihat dua billboard berdampingan yang seolah-olah sedang “berdebat” secara visual. Di satu sisi, Tokopedia menegaskan dirinya sebagai platform e-commerce dengan promo terbaik. Di sisi lain, Duolingo menampilkan dirinya sebagai aplikasi belajar bahasa yang seru. Pendekatan offline ini tidak hanya memperkuat pesan digital, tetapi juga menunjukkan komitmen kedua brand untuk menjangkau audiens di berbagai titik kontak. Ini adalah contoh bagus bagaimana aktivasi marketing dapat terintegrasi antara dunia online dan offline, menciptakan pengalaman brand yang kohesif.

Bagi Duolingo, kolaborasi ini juga menjadi pintu masuk untuk meluncurkan toko merchandise resmi pertamanya di Asia Tenggara melalui Tokopedia—sebuah langkah strategis yang menandakan betapa pentingnya pasar Indonesia bagi mereka. Seperti yang diungkapkan Irene Tong, SEA Marketing Lead Duolingo, ini bukan sekadar tentang menjual merchandise, tetapi tentang membawa karakter-karakter ikonik seperti Duo, Lily, dan Zari lebih dekat dengan audiens lokal. Dalam dunia di mana aplikasi belajar bahasa pemrograman untuk anak-anak pun mulai bermunculan, pendekatan human-centric seperti ini menjadi pembeda yang signifikan.

Merangkul K-Fandom: Dance Battle yang Menggebrak

Siapa sangka bahwa dua burung hantu hijau bisa menari mengikuti irama K-Pop? Pada 2 November 2025, Duo dan Toped menghadirkan K-Pop dance battle di sekitar Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta—sebuah lokasi yang sarat dengan makna budaya pop. Aktivasi ini bukanlah sekadar atraksi; ia adalah pengakuan terhadap besarnya pengaruh K-Pop di Indonesia dan bagaimana kedua brand ini telah lama terlibat dengan budaya tersebut. Duolingo melalui kampanye sosialnya dengan grup K-Pop, dan Tokopedia melalui dukungannya pada konser dan acara musik.

Dengan menyelenggarakan dance battle, mereka tidak hanya menarik perhatian publik, tetapi juga memicu gelombang konten buatan pengguna di media sosial. Ini adalah strategi yang cerdas: alih-alih hanya menjadi sponsor, mereka menjadi bagian dari budaya itu sendiri. Pendekatan serupa bisa dilihat dalam inisiatif Kemkomdigi yang merayakan HUT dengan edukasi bahasa isyarat, di mana engagement dibangun melalui partisipasi aktif dalam isu yang relevan dengan masyarakat.

Jonathan Theon Locanawan dari Tokopedia menegaskan bahwa kolaborasi ini mencerminkan keyakinan mereka bahwa inovasi dan kemitraan dapat menciptakan dampak bermakna. Dan memang, dalam industri yang sering kali terjebak dalam transaksi semata, kolaborasi Duolingo dan Tokopedia mengingatkan kita bahwa marketing yang paling efektif adalah yang membangun cerita, bukan hanya menawarkan produk. Seperti halnya RollerCoaster Tycoon yang legendaris karena ditulis dalam bahasa assembly, keaslian dan kedalaman strategi sering kali berbicara lebih keras daripada sekadar kemasan.

Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari kolaborasi ini? Pertama, bahwa pemahaman mendalam terhadap budaya digital lokal adalah kunci. Kedua, bahwa humor dan kejutan bisa menjadi alat yang powerful untuk membangun engagement. Dan ketiga, bahwa kolaborasi antara brand yang tampaknya berbeda justru bisa menghasilkan sinergi yang lebih kuat daripada yang serupa. Duolingo dan Tokopedia tidak hanya berhasil menarik perhatian; mereka berhasil menciptakan momen yang akan dikenang—sebuah capaian yang tidak semua kampanye marketing bisa raih.

Brigitta Gunawan, Aktivis Laut Indonesia yang Diperkuat Samsung Galaxy S25 Ultra

0

Telset.id – Bayangkan jika Anda bisa membawa studio produksi lengkap ke tengah lautan, mengabadikan keindahan terumbu karang dengan detail menakjubkan, dan langsung membagikan pesan konservasi ke seluruh dunia—hanya dengan satu perangkat di genggaman. Inilah yang kini dilakukan Brigitta Gunawan, aktivis muda Indonesia yang terpilih sebagai anggota Generation17, dengan dukungan teknologi Samsung Galaxy S25 Ultra.

Dalam wawancara eksklusif dengan Telset.id, Brigitta membagikan bagaimana perangkat Samsung telah menjadi mitra strategis dalam memperluas gerakan konservasi lautnya. Dari merekam kehidupan bawah laut hingga mengedukasi komunitas melalui pengalaman virtual reality, teknologi menjadi jembatan yang menghubungkan passion dengan dampak nyata.

Brigitta bukan sekadar aktivis biasa. Di usia 17 tahun, ia telah mendirikan 30×30 Indonesia—organisasi nirlaba yang berfokus pada pendidikan lingkungan dan konservasi laut. Organisasi ini mendukung target global untuk melindungi 30% daratan, perairan, dan laut dunia pada 2030, sejalan dengan komitmen Indonesia untuk mengonservasi 30% wilayah laut nasional pada 2045. Kini, melalui yayasannya, Yayasan Permata Biru Hayati, Brigitta mengembangkan berbagai inisiatif termasuk Diverseas yang memanfaatkan teknologi virtual reality untuk edukasi konservasi.

Dari Snorkeling Pertama Menjadi Gerakan Nasional

“Saat pertama kali snorkeling di kawasan konservasi laut dan melihat langsung keindahan terumbu karang dari dekat, saya menyadari betapa pentingnya menjaga laut,” kenang Brigitta. Pengalaman transformatif itu mengubah mindsetnya dari ‘one day’ menjadi ‘day one’—sebuah filosofi yang mendorongnya untuk segera bertindak daripada menunggu.

Namun, tantangan konservasi laut Indonesia tidak kecil. Seperti yang diungkap dalam studi terbaru tentang lautan yang semakin gelap, ancaman terhadap ekosistem laut semakin kompleks. Brigitta memahami bahwa solusinya membutuhkan pendekatan inovatif yang mampu menjangkau generasi muda.

Galaxy S25 Ultra: Studio Portabel di Tengah Laut

Bagi Brigitta, perubahan dimulai dari kesadaran, dan kesadaran muncul ketika orang bisa melihat langsung apa yang terjadi di bawah laut. “Galaxy S25 Ultra benar-benar memudahkan saya bekerja di lapangan,” ujarnya dengan antusias.

Perangkat ini menjadi solusi all-in-one untuk kebutuhan kreatifnya. S Pen membantu menangkap ide secara spontan, sementara kamera 200MP mampu mengabadikan detail kehidupan bawah laut yang biasanya sulit tertangkap. “Bahkan pola kompleks pada terumbu karang atau gerakan halus biota laut bisa terekam dengan jelas,” tambahnya.

Fitur-fitur seperti Audio Eraser dan Auto Trim menjadi game-changer dalam efisiensi kerja. Brigitta menjelaskan, “Video edukasi yang sebelumnya membutuhkan waktu editing berjam-jam kini bisa diselesaikan dalam hitungan menit, memungkinkan saya membagikan konten secara real-time.”

Pendekatan teknologi dalam konservasi ini sejalan dengan tren yang berkembang, seperti yang terlihat dalam inisiatif penyelamatan burung langka menggunakan GoPro. Teknologi konsumen semakin terbukti menjadi alat vital dalam upaya pelestarian alam.

Diverseas: Membawa Lautan ke Ruang Kelas

Inovasi tidak berhenti di konten visual biasa. Melalui Diverseas, Brigitta dan timnya menggunakan ponsel Samsung Galaxy yang dipasang di headset VR berbasis smartphone untuk menciptakan pengalaman edukasi yang imersif. “Kami membawa siswa menjelajahi lautan secara virtual, menyelam bersama praktisi konservasi, dan memahami langsung pentingnya ekosistem laut,” paparnya.

Yang membuat solusi ini efektif adalah stabilitas dan efisiensi perangkat Samsung dalam menampilkan konten video berkualitas tinggi. Keunggulan teknis ini memungkinkan skalabilitas program ke lebih banyak sekolah di berbagai daerah, mengatasi keterbatasan akses fisik ke lokasi konservasi.

Ekosistem Galaxy juga mendukung gaya hidup aktif Brigitta. Galaxy Watch membantunya menjaga keseimbangan antara kerja lapangan yang menuntut fisik dengan monitoring kesehatan. “Fitur seperti Running Coach dan Energy Score membantu saya tetap optimal dalam aktivitas padat,” ujarnya.

Revolusi teknologi dalam aktivisme lingkungan ini mengingatkan kita pada perkembangan inovasi di perusahaan teknologi besar, di mana perangkat mobile semakin menjadi pusat dari solusi kreatif.

Generation17: Amplifikasi Dampak Global

Terpilihnya Brigitta sebagai anggota Generation17—inisiatif kolaborasi Samsung dan United Nations Development Programme (UNDP)—tidak sekadar pengakuan, tetapi akselerator dampak. “Sebagai anggota Generation17, saya mendapatkan akses ke jejaring global para ahli lintas bidang dan terhubung dengan organisasi advokasi dunia,” jelasnya.

Kemitraan ini membuka peluang untuk tampil sebagai pembicara di forum internasional, berbagai kolaborasi strategis, dan mendapatkan eksposur global. Yang terpenting, ini memungkinkan Brigitta membawa suara anak muda Indonesia ke panggung dunia.

Bagus Erlangga, Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, menegaskan komitmen perusahaan: “Kami percaya bahwa inovasi harus mendorong perubahan positif. Galaxy S25 Ultra menjadi studio lengkap bagi Brigitta di lapangan, membantu memperluas misinya dan membawa literasi seputar laut ke khalayak yang lebih luas.”

Brigitta menutup dengan pesan optimis: “Masa depan keberlanjutan lingkungan ditentukan oleh akses teknologi yang merata. Melalui kolaborasi dengan Samsung dan UNDP, saya bertujuan memberdayakan lebih banyak komunitas di Indonesia untuk melindungi alam bersama-sama. Perubahan yang berarti tidak pernah diraih sendirian.”

Kisah Brigitta membuktikan bahwa ketika passion bertemu dengan teknologi yang tepat, dampaknya bisa bergema dari laut Indonesia ke seluruh dunia. Dan mungkin, inilah yang dibutuhkan untuk menyelamatkan lautan kita—generasi muda yang tidak hanya peduli, tetapi juga dilengkapi dengan alat untuk bertindak.

Telkom Kembangkan Hyperscale Data Center AI di Batam

0

Telset.id – TelkomGroup secara resmi mengembangkan Batam sebagai pusat hyperscale data center berbasis kecerdasan buatan (AI) melalui NeutraDC Nxera Batam. Langkah strategis ini menargetkan potensi Batam sebagai hub pusat data regional dengan menarik investasi dan memanfaatkan lokasi geografis unggul dekat Singapura.

Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk Dian Siswarini mengungkapkan, Batam memiliki makna penting dan strategis bagi pengembangan pusat data center nasional. “Letak geografisnya yang berdekatan dengan pusat keuangan dan teknologi seperti Singapura, didukung 14 infrastruktur kabel laut yang menghubungkan Asia Tenggara, serta statusnya sebagai zona ekonomi khusus, menjadikan Batam lokasi ideal untuk investasi infrastruktur digital,” jelas Dian dalam agenda Topping Off Hyperscale Data Center (HDC) NeutraDC-Nxera Batam, Kamis (30/10) di Batam.

Dian menekankan bahwa melalui dukungan kebijakan, konektivitas strategis, dan kolaborasi sektor publik-swasta, proyek data center ini menawarkan manfaat luas bagi industri teknologi, pelaku usaha digital, masyarakat lokal, dan investor yang mencari peluang di sektor infrastruktur digital yang tengah tumbuh pesat.

Investasi dan Kapasitas Data Center

Batam telah berhasil menarik banyak investor dalam pembangunan hyperscale data center. Anak usaha Telkom mengembangkan NeutraDC Nxera Batam dengan target kapasitas total IT load sebesar 18 MW untuk gedung pertama (BTM-1) di kawasan Kabil Integrated Industrial Estate (KIIE). Proyek serupa juga dikembangkan pemain data center lainnya di Nongsa Digital Park (NDP).

Kedua kawasan industri ini telah memperoleh status Special Economic Zone (SEZ) yang memberikan insentif fiskal dan regulasi bagi pengembangan data center. “Dengan demikian, Batam dapat menjadi digital bridge antara Indonesia dan Regional Asia Tenggara. Suatu keunggulan yang sangat relevan di era Cloud Computing, Big Data, dan kecerdasan buatan atau AI,” papar Dian.

Pengembangan infrastruktur data center di Batam sejalan dengan upaya penguatan infrastruktur digital Indonesia, termasuk yang dilakukan melalui neuCentrIX Telkom Pontianak yang baru saja diresmikan untuk memperkuat jaringan data center menuju Ibu Kota Nusantara (IKN).

Dampak Multi-Dimensi bagi Ekonomi Digital

Pembangunan hyperscale data center di Batam diharapkan memberikan dampak multi-dimensi bagi perekonomian Indonesia. Manfaat tersebut meliputi akselerasi ekonomi digital dan investasi asing, peningkatan kapasitas data center untuk mendukung kebutuhan Cloud, Artificial Intelligence, Internet of Things (IoT), serta layanan digital lainnya.

Selain memperkuat infrastruktur digital Indonesia, proyek ini juga ditujukan untuk menarik investor global ke sektor teknologi. “Dengan kapasitas HDC yang besar, Indonesia tidak hanya menjadi pengguna infrastruktur digital, tapi juga hub bagi layanan global dan meningkatkan kedaulatan data,” tambah Dian.

Bagi perekonomian lokal Batam, investasi dalam infrastruktur data center membawa dampak ekonomi ke sektor konstruksi, utilitas, logistik, layanan teknologi, dan khususnya sektor pendukung seperti konektivitas dan tenaga kerja. Pengembangan AI dalam infrastruktur digital ini juga selaras dengan diskusi global tentang regulasi AI yang sedang hangat diperbincangkan.

NeutraDC Nxera Batam juga berkomitmen pada pengembangan sumber daya manusia dengan menandatangani kerja sama dengan institusi pendidikan lokal untuk pengembangan talenta data center. Pendekatan berkelanjutan diterapkan melalui pemanfaatan energi terbarukan dan infrastruktur ramah lingkungan dengan memprioritaskan sumber energi terbarukan dan operasi berbasis efisiensi energi.

CEO NeutraDC Nxera Batam Indrama YM Purba mengonfirmasi bahwa hyperscale data center ini menggunakan listrik yang disuplai oleh Medco Power Indonesia dari sumber terbarukan. Tantangan teknis seperti kebutuhan daya tinggi, pasokan air pendingin, dan manajemen limbah panas telah diantisipasi dengan penyiapan infrastruktur khusus di kawasan industri dan Special Economic Zone.

Penguatan infrastruktur digital melalui data center ini juga mendukung peningkatan literasi digital masyarakat, yang sejalan dengan pencapaian literasi keuangan digital Indonesia yang terus menunjukkan tren positif.

Pembangunan hyperscale data center di Batam tidak hanya menjadi proyek infrastruktur berskala besar, tetapi juga bagian penting dari transformasi ekonomi digital Indonesia. Inisiatif ini membawa dampak signifikan bagi ekosistem lokal, regional, hingga global, sekaligus menjadi wujud nyata penguatan kedaulatan data dan percepatan pertumbuhan ekonomi digital yang berkelanjutan.

Jepang Protes OpenAI Soal Pelatihan Sora 2 dengan Konten Berhak Cipta

0

Telset.id – Sejumlah perusahaan hiburan terbesar Jepang, termasuk Studio Ghibli, Bandai Namco, dan Square Enix, secara resmi meminta OpenAI untuk menghentikan penggunaan konten berhak cipta mereka sebagai data pelatihan untuk model generatif video AI Sora 2. Permintaan tertulis ini disampaikan oleh Content Overseas Distribution Association (CODA) pada 28 Oktober, menandai eskalasi ketegangan antara industri kreatif Jepang dan raksasa teknologi AI.

Dalam pernyataannya, CODA menyatakan telah menentukan bahwa kemampuan Sora 2 menghasilkan konten yang “sangat mirip dengan konten atau gambar Jepang” diduga kuat karena konten-konten tersebut digunakan sebagai data pelatihan. Asosiasi tersebut berpendapat bahwa dalam kasus di mana karya berhak cipta spesifik direproduksi atau dihasilkan secara serupa sebagai output, tindakan replikasi selama proses machine learning dapat dianggap sebagai pelanggaran hak cipta.

Langkah ini merupakan respons terhadap maraknya video yang dihasilkan Sora 2 menampilkan karakter anime dan game Jepang tanpa izin. Platform media Automaton pertama kali melaporkan perkembangan ini, yang mencerminkan semakin kuatnya sinyal protektif Jepang terhadap seni dan medianya dari industri AI yang kerap menggunakan karya berhak cipta secara massal tanpa izin atau kompensasi.

Eksploitasi Karakter Ikonik

Peluncuran Sora 2 memperlihatkan lagi alat generatif AI yang bersikap tidak menghormati hukum hak cipta, kali ini dirancang khusus untuk langsung membanjiri feed video pendek vertikal ala TikTok. Karakter-karakter yang mudah dikenali seperti SpongeBob sering diparodikan menggunakan AI, namun tidak ada yang lebih sering daripada karakter-karakter Jepang dari berbagai franchise.

Banyak video Sora menampilkan Pokemon, termasuk satu video yang menunjukkan CEO OpenAI Sam Altman versi deepfake sedang membakar Pikachu yang sudah mati, dan video lain yang menampilkan Altman menatap kawanan Pokemon yang bermain-main di lapangan sebelum menyeringai ke kamera dan berkata, “Saya harap Nintendo tidak menuntut kami.”

Sam Altman sebenarnya telah mengakui ketertarikan penggemarnya terhadap seni Jepang, meski tanpa menyebutkan kemarahan yang ditimbulkannya. “Secara khusus, kami ingin mengakui keluaran kreatif luar biasa dari Jepang,” tulisnya dalam postingan blog setelah peluncuran Sora 2. “Kami terkesan dengan betapa dalamnya koneksi antara pengguna dan konten Jepang!”

Sejarah Panjang Ketegangan

Koneksi “dalam” ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Ketika OpenAI merilis kemampuan pembuatan gambar baru untuk ChatGPT pada Maret lalu, hal itu memicu tren viral mega menggunakan alat tersebut untuk menghasilkan gambar yang meniru gaya legendaris rumah animasi Jepang Studio Ghibli, termasuk swafoto “Ghiblified” dari diri sendiri. Altman mengukuhkan tren ini dengan membuat potret bergaya Ghibli-nya sendiri, yang hingga hari ini masih menjadi foto profilnya di media sosial.

Tidak mengherankan kemudian jika Jepang merasa sedikit waspada dengan sikap OpenAI terhadap hak cipta. Pertengahan Oktober, pemerintah Jepang telah menyampaikan permintaan formal yang memintanya untuk berhenti menjiplak karakter-karakter yang dicintai bangsa tersebut. Minoru Kiuchi, menteri negara untuk strategi IP dan AI, menyebut manga dan anime sebagai “harta yang tak tergantikan.”

Awalnya, OpenAI memberi sinyal bahwa pemegang hak cipta harus secara manual memilih untuk tidak mengikutsertakan karya mereka digunakan Sora, namun kemudian membalikkan keputusan setelah peluncuran dan mengatakan bahwa mereka akan dikeluarkan secara default. Yang penting, ini hanya terjadi setelah mereka memanfaatkan viralitas penggunaan karakter berhak cipta untuk melambungkan aplikasi tersebut ke puncak App Store Apple.

CODA juga tampaknya tidak menganggap ini sebagai langkah yang memuaskan. Dalam pernyataannya, kelompok tersebut mencatat bahwa “di bawah sistem hak cipta Jepang, izin sebelumnya umumnya diperlukan untuk penggunaan karya berhak cipta, dan tidak ada sistem yang memungkinkan seseorang menghindari tanggung jawab atas pelanggaran melalui keberatan berikutnya.” Seperti yang pernah dibahas dalam larangan keras komunitas fans terhadap seni buatan AI, perlindungan terhadap karya orisinal memang menjadi perhatian serius.

Anggota CODA telah meminta hal berikut: bahwa konten mereka tidak digunakan untuk pelatihan AI tanpa izin, dan bahwa OpenAI “menanggapi dengan tulus klaim dan pertanyaan dari perusahaan anggota CODA mengenai pelanggaran hak cipta terkait output Sora 2.” Permintaan ini sejalan dengan tren yang sebelumnya terlihat ketika ChatGPT mengubah semua jadi seni Ghibli, termasuk konten-konten yang kontroversial.

Eskalasi konflik hak cipta antara industri kreatif Jepang dan OpenAI ini mengindikasikan babak baru dalam regulasi teknologi AI generatif, di mana batasan etis dan hukum penggunaan data pelatihan semakin diperdebatkan secara global.

Review Vivo X Fold5: Foldable Tipis Berbekal Kamera ZEISS, dan Baterai Tahan Lama

0

Telset.id – Seri foldable milik Vivo selalu berhasil menarik perhatian karena perpaduan antara teknologi canggih dan desain yang elegan, serta kamera dengan brand kamera terkenal, yakni Zeiss. Kini, Vivo melanjutkan tradisi tersebut lewat Vivo X Fold5, sebuah perangkat lipat yang mengkombinasikan inovasi baru dalam hal ketipisan, ketahanan, dan pengalaman visual. 

Selain itu, Vivo melompati seri X Fold4 dan langsung meluncurkan penerus dari X Fold3, menjadikan X Fold5 sebagai satu-satunya flagship foldable mereka tahun ini. Tak hanya itu, peluncurannya di Indonesia pun secara tiba-tiba di saat Vivo V60 diluncurkan beberapa bulan lalu.

Sejak peluncurannya pada akhir Agustus, Vivo X Fold5 langsung mencuri perhatian dengan desainnya yang futuristik dan tipis, mereka berusaha membuktikan bahwa Vivo kini bukan sekadar mengejar tren lipat, melainkan berusaha menyaingi Samsung Galaxy Z Fold7 dan Oppo Find N5 secara langsung. Namun di balik spesifikasi yang ditawarkan, seberapa layakkah ponsel lipat ini untuk digunakan sehari-hari? mari simak review Vivo X Fold5 ini.

BACA JUGA:

Desain Vivo X Fold5

Vivo X Fold5
Desain Vivo X Fold5

Di bagian desainnya, Vivo X Fold5 berhasil menunjukkan bagaimana perangkat lipat bisa tampil elegan tanpa kehilangan fungsionalitas. Ketebalannya hanya 4,3 mm saat dibuka dan 9,3 mm saat dilipat, menjadikannya lebih ramping 0,9 mm dibanding X Fold3 Pro dan lebih ringan 19 gram, dengan bobot total 217 gram. Bodi samping dibuat melengkung, yang membuat terasa nyaman digenggam, walaupun dalam beberapa momen, untuk menekan tombol power dan volume terasa agak susah dijangkau dalam beberapa posisi tertentu.

Material aluminium di rangka utama memberikan feel yang kokoh di genggaman dan masih cukup nyaman untuk masuk saku, sementara bagian belakangnya menggunakan finishing kacayang halus. Untuk unit warna hitam yang kami ulas, tampilannya terlihat sangat minimalis dengan kamera bump berbentuk bulat besar dengan logo ZEISS yang ditempatkan secara simetris di bagian tengah. 

Tetapi kekurangannya, permukaan bodinya cukup licin karena menggunakan finishing kaca, pemakaian jadi casing bawaan dengan tekstur kulit vegan sangat disarankan, karena selain menambah genggaman, ini juga memperkuat kesan mewah. Terlebih lagi sebagai ponsel flagship sudah sebaiknya kita memakai casing, untungnya casingnya bukan dibuat sekadar ada saja tetapi dipikirkan. 

Meskipun begitu tipis, Vivo X Fold5 bukan perangkat yang ringkih. ponsel ini sudah memiliki sertifikasi IP58/IP59, menjadikannya tahan debu dan mampu bertahan di dalam air tawar hingga 3 meter selama 30 menit. Engselnya juga cukup solid dapat berhenti di sudut 90 derajat dan menghasilkan sensasi “klik” lembut saat ditutup, sayangnya ketika berada di sudut sekitar 150-160 derajat ponsel ini langsung terbuka layar utamanya. 

Soal ketahanan, Vivo menyebutnya menggunakan sistem engsel baru dengan ketahanan hingga 500.000 kali lipatan. Ketika dilipat, perangkat ini terasa padat dan tidak ada celah yang mencolok di antara layar, menandakan desain mekanis yang sangat presisi. Sepanjang review ini pun tidak ada masalah semuanya terasa aman ketika menutup dan membukanya.

Layar Vivo X Fold5

Vivo X Fold5
Layar Vivo X Fold5

Layar adalah bagian yang paling memanjakan mata dalam Review Vivo X Fold 5. Panel LTPO AMOLED 8,03 inci di bagian dalam memiliki resolusi 2200 x 2480 piksel, mendukung HDR10+ dan Dolby Vision, serta kecerahan puncak hingga 4.500 nits. Sementara layar luar atau cover screen-nya berukuran 6,53 inci dengan resolusi 1172 x 2748 piksel dan kecerahan maksimal 5.500 nits, menjadikannya salah satu layar paling terang di kelasnya.

Rasio 21:9 pada layar depan memberikan pengalaman seperti smartphone biasa, memudahkan penggunaan satu tangan. Transisi dari layar luar ke layar dalam terasa mulus, dan lipatan di tengah kini lebih tak terlihat dibanding pendahulunya, X Fold3 Pro dan beberpa kompetitornya di pasaran. 

Kedua layarnya mendukung refresh rate adaptif 1–120Hz, serta tingkat akurasi warna DCI-P3 yang tinggi. Saat menonton film di Netflix atau bermain game kekinian, warna dan kontras tampil hidup dan alami. Kelebihan lainnya, layar bagian dalam kini lebih tahan gores berkat lapisan pelindung baru yang diklaim 30% lebih kuat terhadap tusukan dan tekanan dibanding generasi sebelumnya.

Lalu, saat dipakai di luar ruangan baik layar cover mau pun utamanya masih tetap bisa diandalkan untuk menampilkan berbagai konten. Terutama ketika di cuaca panas yang belakangan ini mengitari Jakarta dan sekitarnya, layarnya masih sangat memumpuni ketika saya gunakan.

Performa Vivo X Fold5

Vivo X Fold5
Performa Vivo X Fold5

Walaupun sekarang sudah di era Snapdragon Elite, sayangnya Vivo X Fold5 masih mengandalkan Snapdragon 8 Gen 3 (4nm), chipset yang juga digunakan pada X Fold3 Pro. Meskipun bukan generasi terbaru, performanya masih sangat bertenaga untuk segala kebutuhan berat, mulai dari multitasking hingga gaming.

Prosesornya memiliki konfigurasi 8-core (1x Cortex X4 3.3GHz, 3x Cortex A720 3.2GHz, 2x Cortex A720 3.0GHz, dan 2x Cortex A520 2.3GHz) dengan GPU Adreno 750, yang dipadukan dengan RAM 16 GB LPDDR5X dan penyimpanan UFS 4.1 512 GB.

Sebagai gambaran kekuatan chip ini yang menurut sata sudah sangat mempuni untuk membuka aplikasi harian. Lalu, jika dipakai multitasking kemampuan prosesor ini memang tak usah diragukan lagi berbagai aplikasi bisa dilibas bahkan fitur Flex Mode juga bisa membuka dua aplikasi sekaligus dalam satu layar. Lantas bagaimana untuk bermain game dari game ringan hingga berat?

Hasil ini menunjukkan bahwa Vivo X Fold 5 masih sangat kompeten. Performa gaming pada judul seperti PUBG Mobile, Mobile Legends, dan Genshin Impact terasa stabil di 60 FPS tanpa penurunan signifikan. Terlebih lagi di game seperti Mobile Legends atau PUBG settingan grafis dan FPS yang tinggi sudah terbuka. Namun, throttling muncul setelah sesi panjang, terutama untuk game berat, yang menandakan sistem pendingin pasifnya agak terbatas, mengingat bodinya yang sangat tipis. Ini pun menjadi penanda bagi para pengguna untuk istirahat sejenak ketika bermain game terlalu lama.

Kamera Vivo X Fold5

Vivo X Fold5
Kamera Vivo X Fold5

Salah satu nilai jual utama dari Vivo X Fold 5 adalah sistem kameranya. Terdapat tiga sensor utama di belakang, yakni Kamera utama 50 MP Sony IMX921 (f/1.57, OIS), Kamera telefoto 50 MP Sony IMX882 (3x optical zoom), dan Kamera ultrawide 50 MP Samsung JN1.

Kamera utama menghasilkan foto dengan warna alami khas ZEISS, dengan dynamic range yang luas dan detail yang tajam, baik di siang hari maupun kondisi minim cahaya. Sensor Sony IMX921 memberikan hasil foto dengan saturasi dan tone warna yang matang, tidak berlebihan, serta menjaga detail di area bayangan.

Kamera ultrawide menjadi kejutan positif warna yang dihasilkannya konsisten dengan kamera utama, dan distorsi di tepi gambar hampir tidak terlihat, walau ada penurunan kualitas ketika dipakai dalam malam hari atau kondisi minim cahaya. 

Sedangkan kamera telefoto menawarkan kemampuan zoom hingga 3x optik dengan detail yang cukup oke. Mode potret tetap menjadi andalan ketika Vivo berkolaborasi dengan Zeiss, menampilkan efek bokeh yang lembut dan pemisahan subjek yang sangat rapi, bahkan untuk helai rambut.

Mode Super Macro juga layak diapresiasi, memungkinkan pengguna menangkap tekstur kecil seperti benang kain, logam, atau permukaan objek dengan detai. Untuk video, ponsel ini mendukung 4K 60FPS di semua kamera belakang, dan 8K 30FPS untuk kamera utama, hasilnya stabil dan tajam berkat kombinasi OIS + EIS yang sangat efektif. Hasil videonya juga cukup oke untuk mengabadikan konser atau gigs.

Di sisi lain, Vivo X Fold5 ini juga menyediakan fitur 4 Seasons Mode yang membuat sebuah foto di tengah panasnya tanah air bisa terlihat seperti di musim semi, panas, gugur, bahkan musim dingin. Fitur ini berbasis AI dan saya cukup menyenangkan untuk mengabadikan momen dengan fitur ini. Tapi, perlu diketahui juga ketika foto cukup kompleks dengan banyak objek, terkadang objek berubah menjadi tidak realistis.

Secara menyeluruh, saya sangat puas dengan hasil foto dan video dari Vivo X Fold5 ini yang punya hasil bagus di 3 kamera dan berbagai kondisi cahaya.

Baterai Vivo X Fold5

Vivo X Fold5
Baterai Vivo X Fold5

Dengan kapasitas 6.000 mAh, Vivo X Fold 5 membuktikan bahwa ponsel lipat pun bisa memiliki daya tahan luar biasa. Dalam penggunaan sehari-hari pengujian mulai dari jam 9 pagi di kondisi 100%, ponsel ini masih bisa bertahan sampai sekitar 20% di jam7 malam. Tentu ini cukup memuaskan saya yang biasa menggunakannya untuk mengetik, browsing, mendengarkan musik, scrolling medsos, hingga sesekali bermain game.

Untuk pengisian daya, Vivo menyertakan adaptor 90W FlashCharge, lengkap dengan charger dalam paket pembelian. Dari kondisi 0–100%, hanya membutuhkan waktu sekitar 40 menitan saja. Dukungan 40W wireless charging dan reverse charging 5W juga tersedia.

Funtouch OS 15 dan Fitur Vivo X Fold5

Vivo X Fold5
Fitur dan Sistem Operasi Vivo X Fold5

Vivo X Fold 5 menjalankan Funtouch OS 15 berbasis Android 15, dan Vivo menjanjikan update OS selama empat tahun serta patch keamanan hingga lima tahun. Sistem ini minim bloatware dan terasa mulus, dengan sejumlah fitur AI baru untuk produktivitas.

Beberapa fitur yang paling menonjol adalah AI Transcribe, yang secara otomatis mengubah rekaman suara menjadi teks dengan akurasi tinggi, serta AI Creation di aplikasi Notes, yang dapat merangkum atau menyusun ulang catatan menjadi lebih terstruktur. Fitur ini sangat membantu bagi pelajar, jurnalis, dan pekerja profesional.

Vivo juga menambahkan fitur eksklusif seperti Flex Mode (membagi layar menjadi dua area kerja), Smart Screen Shift (mengalihkan tampilan otomatis ke layar luar saat dalam mode tent), Fold the Screen, Task Bar, dan Origin Workbench untuk membuka beberapa aplikasi sekaligus. Semua fitur ini menjadikan pengalaman lipat di Vivo X Fold 5 sangat intuitif dan produktif. Meski begitu, fitur Flex Mode mungkin bisa ditngkatkan lagi dengan membuka 3 aplikasi secara bersamaan.

BACA JUGA:

Kesimpulan

 

Vivo X Fold5 berhasil membuktikan dirinya sebagai salah satu smartphone lipat paling matang yang pernah dibuat Vivo. Desainnya tipis, elegan, dan kokoh dengan sertifikasi IP58/IP59 yang jarang ditemukan di perangkat lipat lain. Layar ganda LTPO AMOLED-nya tampil memukau dengan kecerahan tinggi dan warna akurat, menjadikannya ideal untuk bekerja, bermain game, atau menikmati konten hiburan. 

Performanya, meski masih mengandalkan Snapdragon 8 Gen 3, tetap mampu memberikan pengalaman yang cepat dan stabil dalam berbagai skenario, dari multitasking berat hingga gaming kompetitif. Baterai besar 6.000 mAh dan pengisian cepat 90W juga menambah nilai plus, membuatnya sanggup bertahan seharian tanpa kompromi.

Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa Vivo X Fold5 masih memiliki ruang untuk perbaikan, terutama di sektor pendinginan dan optimalisasi fitur Flex Mode yang bisa dibuat lebih fleksibel lagi. Walau begitu, kemampuan kamera hasil kolaborasi dengan Zeiss, menjadi daya tarik utama yang sulit ditandingi di kelas foldable. Kombinasi hasil foto natural, detail tinggi, serta kemampuan video hingga 8K menjadikannya pilihan solid bagi pengguna yang mencari ponsel lipat premium dengan kualitas fotografi flagship. Singkatnya, Vivo X Fold5 adalah perangkat yang elegan, kuat, dan serbaguna, yang membawa pengalaman smartphone lipat ke level lebih praktis tanpa mengorbankan performa dan gaya.

Krisis Listrik AI: Microsoft dan OpenAI Hadapi Dilema Energi

0

Telset.id – Berapa banyak daya listrik yang cukup untuk kecerdasan buatan? Ternyata, tidak ada yang tahu jawaban pastinya. Bahkan CEO OpenAI Sam Altman dan CEO Microsoft Satya Nadella mengaku kebingungan. Ironisnya, ketidakpastian ini justru menjerat bisnis berbasis perangkat lunak seperti OpenAI dan Microsoft dalam dilema energi yang pelik.

Selama ini, dunia teknologi terfokus pada komputasi sebagai penghalang utama penerapan AI. Namun, ketika perusahaan teknologi berlomba-lomba mengamankan pasokan listrik, upaya mereka tertinggal jauh dari pembelian GPU. Microsoft bahkan dilaporkan memesan terlalu banyak chip dibandingkan dengan daya listrik yang telah mereka kontrak. Situasi ini bagai memiliki mesin sport canggih tetapi tidak memiliki bensin untuk menjalankannya.

“Siklus permintaan dan penawaran dalam kasus ini benar-benar tidak bisa diprediksi,” ujar Nadella dalam podcast BG2. “Masalah terbesar kami saat ini bukan kelebihan komputasi, melainkan daya listrik dan kemampuan menyelesaikan pembangunan