Telset.id – CEO OpenAI Sam Altman menuai kritik setelah mengucapkan terima kasih kepada programmer yang menulis kode perangkat lunak kompleks secara manual, di tengah gelombang PHK massal di industri teknologi yang dikaitkan dengan kemajuan kecerdasan buatan (AI). Ucapannya dianggap tidak sensitif dan mengabaikan kekhawatiran para pekerja.
Dalam cuitan di platform X pada Selasa (11/3/2025), Altman menyatakan, “Saya sangat berterima kasih kepada orang-orang yang menulis perangkat lunak yang sangat kompleks karakter demi karakter.” Ia menambahkan, “Sudah terasa sulit untuk mengingat betapa besar usaha yang sebenarnya dibutuhkan. Terima kasih telah membawa kami sampai ke titik ini.”
Pernyataan tersebut muncul dalam konteks ratusan ribu pekerja teknologi kehilangan pekerjaan, termasuk dari perusahaan seperti Atlassian yang memangkas 1.600 posisi dan Block milik Jack Dorsey yang memberhentikan hampir separuh tenaga kerjanya. Bahkan, Meta dikabarkan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang mempengaruhi lebih dari 20 persen karyawannya. Banyak pemimpin industri yang mengaitkan efisiensi ini dengan kemampuan AI yang dianggap membuat peran manusia menjadi berlebihan.
Reaksi terhadap cuitan Altman mayoritas negatif. Banyak pengguna media sosial menilai pernyataannya sebagai bentuk ketidakpekaan dan bahkan dianggap merendahkan. Seorang pengguna membalas, “Sama-sama. Senang mengetahui bahwa imbalan kami adalah pekerjaan kami yang diambil alih.” Pengguna lain menyebut Altman sebagai “psikopat” dan “sampah masyarakat”. Komentar lain menyatakan, “Tidak ada yang lebih jelas mengatakan ‘kamu sedang digantikan’ selain ucapan terima kasih yang tulus dari orang yang melakukan penggantian.”
Kritik ini juga menyentuh praktik pelatihan model AI OpenAI, yang diketahui menggunakan data yang diambil secara luas dari internet. Praktik ini telah memicu sejumlah gugatan pelanggaran hak cipta. Ucapan Altman dianggap mengabaikan kontribusi konten kreator dan programmer yang karyanya digunakan tanpa kompensasi yang adil.
Baca Juga:
Insiden ini terjadi saat OpenAI berusaha keras bersaing di pasar perangkat lunak AI untuk perusahaan dan pemrograman yang semakin ramai. Menurut laporan Wall Street Journal, eksekutif OpenAI mulai membunyikan alarm, mendesak perusahaan untuk lebih fokus pada pelanggan korporat dan pengembangan kode. CEO Aplikasi OpenAI, Fidji Simo, dalam memo internal yang dikutip WSJ, menegaskan, “Kami tidak boleh melewatkan momen ini karena terganggu oleh pencarian sampingan. Kami benar-benar harus menguasai produktivitas secara umum dan khususnya produktivitas di front bisnis.”
Sementara itu, kompetitor seperti Anthropic telah membuat kemajuan signifikan dengan chatbot Claude Code dan Cowork-nya, yang bahkan memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham senilai triliunan dolar bulan lalu. Kekhawatiran bahwa AI dapat menggeser perangkat lunak perusahaan lawas mendorong persaingan yang ketat. Dalam situasi ini, cuitan Altman sulit dibaca selain sebagai bentuk pengabaian terhadap ketakutan luas akan dampak AI terhadap lapangan kerja, sekaligus promosi kemampuan produk perusahaannya.
Gelombang PHK di perusahaan teknologi terus menjadi perdebatan, apakah benar-benar disebabkan oleh efisiensi AI atau lebih merupakan koreksi atas kelebihan rekrutmen selama pandemi dan pembengkakan korporat. Ucapan Altman telah menambah dimensi emosional dan kontroversial pada diskusi tersebut, menyoroti ketegangan antara narasi kemajuan teknologi dan realita sosial di lapangan kerja.

