Beranda blog Halaman 85

Sharp Aquos R10 Meluncur dengan DNA Jepang dan Kamera Leica

0

Telset.id – Di tengah pasar smartphone yang kerap diwarnai spesifikasi serupa dan desain yang saling meniru, kehadiran sebuah perangkat dengan identitas kuat selalu menarik perhatian. Sharp, dengan warisan teknologi dan desain khas Jepang yang sudah tak diragukan lagi, kembali menegaskan posisinya. Kali ini, mereka tidak sekadar merilis produk baru, melainkan menyodorkan sebuah pernyataan: bahwa smartphone premium haruslah tentang pengalaman holistik, ketahanan, dan presisi yang konsisten. Pernyataan itu diwujudkan dalam Sharp Aquos R10.

Smartphone ini hadir bukan sebagai evolusi kecil, melainkan lompatan signifikan dalam lini premium Sharp. Ditenagai oleh Snapdragon® 7+ Gen 3 dan sistem operasi Android™ 15 terbaru, Aquos R10 dirancang untuk mereka yang menolak kompromi. Targetnya jelas: para profesional, content creator, dan pengguna berat yang membutuhkan perangkat yang mampu mengimbangi ritme kerja dan gaya hidup digital mereka tanpa batas. Lantas, apa yang membuat Aquos R10 layak disebut sebagai penantang serius di segmen premium? Jawabannya terletak pada kombinasi teknologi eksklusif, ketangguhan fisik, dan pendekatan desain yang humanis.

Mari kita mulai dari jantung pengalaman visual, yaitu layar. Sharp bukanlah pemain baru dalam dunia display. Teknologi IGZO (Indium Gallium Zinc Oxide) yang menjadi andalan mereka kini hadir pada panel OLED 6,5 inci beresolusi FHD+ di Aquos R10. Apa keunggulannya? Teknologi ini memungkinkan kontrol yang lebih efisien terhadap setiap piksel, menghasilkan warna yang akurat, kontras tinggi, dan yang terpenting, konsumsi daya yang lebih hemat. Variable refresh rate 1–240Hz adalah fitur pamungkasnya. Layar akan secara adaptif menyesuaikan refresh rate, dari yang sangat halus untuk gaming berat hingga sangat rendah untuk membaca artikel statis. Hasilnya? Pengalaman visual yang selalu mulus dan responsif, sekaligus efisiensi baterai yang optimal. Ini adalah pembeda nyata dibanding banyak smartphone sekelas yang hanya mengandalkan angka refresh rate tinggi tanpa optimasi daya yang cerdas.

Namun, sorotan utama Sharp Aquos R10 mungkin ada pada sektor fotografi. Kolaborasi dengan Leica bukanlah sekadar tempelan logo. Aquos R10 mengusung dual camera 50,3MP dengan lensa Leica Hektor dan 14-channel spectrum sensor. Kombinasi ini dirancang untuk menangkap spektrum warna yang lebih luas dan akurat, mendekati apa yang dilihat mata manusia. Dalam kondisi cahaya tropis Indonesia yang seringkali menantang—terlalu terang atau justru redup—sensor ini dijanjikan mampu menghasilkan detail yang konsisten dan warna yang natural. Untuk Anda yang kerap membuat konten, kamera depan 50,3MP juga siap mendukung kebutuhan vlog atau meeting virtual dengan kualitas premium. Inisiatif kolaborasi dengan raksasa optik seperti Leica memang sedang tren, seperti yang juga dilakukan merek lain, misalnya dalam pemberian suara shutter Leica untuk smartphone lawas.

Di balik kamera yang powerful, performa multitasking yang mulus dijamin oleh kombinasi RAM 12GB tipe LPDDR5X dan penyimpanan internal 512GB UFS 4.0. Konfigurasi ini memastikan kecepatan baca-tulis data yang sangat tinggi, mengurangi waktu tunggu saat membuka aplikasi berat, mengedit video, atau berpindah antar banyak tugas. Dukungan 5G dan dual SIM (nano + eSIM) melengkapi paket konektivitasnya, memberikan fleksibilitas bagi pengguna profesional. Sharp seolah berkata, “Ini adalah alat kerja Anda, dan ia harus siap kapan saja.”

Karakter lain yang sering diabaikan pabrikan lain adalah ketangguhan. Aquos R10 dibangun dengan standar yang ketat. Ia memiliki sertifikasi ketahanan air IPX5/IPX6/IPX8 serta sertifikasi ketahanan benturan dan ekstrem suhu MIL-STD-810G. Dalam bahasa yang lebih sederhana, smartphone ini dirancang untuk bertahan dalam kondisi penggunaan sehari-hari yang keras, termasuk guyuran hujan tropis atau suhu panas. Ini bukan sekadar fitur tambahan, melainkan nilai inti yang membuat investasi pada Aquos R10 menjadi lebih bernilai dalam jangka panjang.

Pengalaman multimedia juga tidak dilupakan. Dukungan Dolby Atmos® pada speaker stereo menawarkan dimensi suara yang lebih luas dan imersif, baik untuk menonton film maupun mendengarkan musik. Semua kehebatan teknis ini kemudian dibungkus oleh sentuhan desain dari Miyake Design, yang dikenal dengan pendekatan minimalis, elegan, dan fungsional. Aquos R10 hadir dalam dua pilihan warna trench beige dan charcoal black, memberikan kesan premium yang understated namun berkarakter. Desain ini adalah perpaduan antara teknologi dan seni, sebuah filosofi yang kental dengan DNA Jepang.

Kehadiran Sharp Aquos R10, bersama saudaranya sense10, merupakan bagian dari strategi Sharp untuk memperkuat bisnis smartphone premium di Indonesia. Seperti diungkapkan Shinji Teraoka, President Director PT Sharp Electronics Indonesia, pasar Indonesia adalah pasar strategis yang membutuhkan produk relevan dengan kebutuhan nyata. Ardy, Smartphone Product Marketing Head, menambahkan bahwa nilai lebih AQUOS terletak pada kombinasi performa, ketahanan, kenyamanan, dan teknologi yang presisi. Mereka tidak sekadar mengejar angka di spec sheet, tetapi menawarkan pengalaman penggunaan yang konsisten dan bernilai. Pendekatan ini juga terlihat pada produk-produk inovatif Sharp lainnya, seperti Poketomo, robot AI saku yang jadi teman curhat, menunjukkan komitmen mereka pada solusi teknologi yang humanis.

Bagi Anda yang tertarik, Sharp membuka periode pre-order promo untuk Aquos R10 pada 17–23 Desember 2025 dengan harga Rp10.999.000. Penawaran menarik termasuk cicilan 0% hingga 12 bulan, gratis berlangganan Vidio Ultimate Mobile 3 bulan, e-voucher Indomaret Rp500.000, serta bonus powerbank, phone holder, dan gimbal. Penjualan perdana akan dimulai 24 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026 melalui Erafone, Sharp Official Mobile Store, dan jaringan resmi Sharp. Dengan paket penawaran yang komprehensif ini, Sharp Aquos R10 tidak hanya menjual sebuah perangkat, tetapi sebuah ekosistem pengalaman digital premium. Ia hadir sebagai alternatif yang matang bagi mereka yang mencari smartphone dengan identitas kuat, ketahanan teruji, dan performa yang siap menghadapi segala tuntutan, sekaligus menjadi bukti bahwa inovasi display, seperti yang juga diperhatikan kompetitor dalam hal Smart TV Gaming berbasis AI, tetap menjadi medan pertarungan yang penting.

Pada akhirnya, Sharp Aquos R10 lebih dari sekadar kumpulan spesifikasi tinggi. Ia adalah representasi dari filosofi desain dan rekayasa Jepang yang menitikberatkan pada keandalan, presisi, dan nilai guna jangka panjang. Di pasar yang sering kali gegap gempita dengan angka-angka, kehadiran ponsel yang diam-diam tangguh dan elegan seperti ini justru bisa menjadi penawar yang tepat. Ia mungkin tidak berteriak paling keras, tetapi kinerja dan ketahanannya yang konsistenlah yang akan berbicara. Seperti halnya duet smartphone premium Sharp lainnya, Aquos R10 hadir untuk mengukuhkan bahwa dalam dunia teknologi, ketahanan dan pengalaman menyeluruh seringkali lebih berharga daripada sekadar gebyar inovasi sesaat.

Sharp AQUOS sense10 dan R10 Resmi: Smartphone Premium dengan DNA Jepang

0

Telset.id – Di pasar smartphone yang kerap diwarnai gimmick dan spesifikasi mentah, kehadiran produk dengan filosofi desain yang matang dan solusi nyata justru terasa seperti angin segar. Sharp, dengan warisan teknologi dan desain khas Jepang yang kuat, baru saja melebarkan sayapnya di segmen premium Indonesia dengan meluncurkan dua varian terbaru: AQUOS sense10 dan AQUOS R10. Keduanya bukan sekadar upgrade biasa, melainkan pernyataan bahwa smartphone harus memahami konteks penggunanya, terutama di tengah dinamika dan tantangan geografis Indonesia.

Peluncuran ini menandai komitmen Sharp untuk tidak sekadar ikut arus, tetapi menawarkan nilai lebih yang konkret. Jika selama ini kita mengenal Sharp lewat keunggulan display IGZO yang legendaris, kali ini mereka membawa paket komplit: performa cerdas, ketangguhan teruji, dan desain yang lahir dari kolaborasi dengan rumah mode ternama Jepang. Lantas, apa yang membuat AQUOS sense10 dan AQUOS R10 layak diperhitungkan di tengah persaingan ketat smartphone premium? Mari kita telusuri lebih dalam.

Shinji Teraoka, President Director PT Sharp Electronics Indonesia, menegaskan bahwa Indonesia adalah pasar strategis. “Melalui AQUOS sense10 dan AQUOS R10, kami ingin memperkuat bisnis smartphone dengan menghadirkan produk yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat,” ujarnya. Pernyataan ini bukan basa-basi korporat. Ketika Anda menyimak fitur-fitur unggulannya, akan terasa bagaimana Sharp mencoba menjawab masalah sehari-hari, mulai dari percakapan di keramaian hingga keamanan dari panggilan penipuan.

Aquos sense10: Sang Penakluk Keseharian yang Tangguh

Posisi AQUOS sense10 jelas: menjadi partner andal bagi pengguna dengan mobilitas tinggi. Smartphone ini dibangun dengan fondasi ketangguhan yang impresif. Bayangkan, satu perangkat memiliki sertifikasi tahan air IPX5/IPX8, tahan debu IP6X, dan bahkan memenuhi standar ketahanan militer MIL-STD-810H. Ini adalah kombinasi yang jarang ditemui, dan menjadikannya sangat ideal untuk iklim tropis dan kondisi lapangan di Indonesia.

Namun, ketangguhan fisik hanya satu sisi. Kecerdasan artifisial di baliknya yang justru menjadi pembeda. Fitur Noise Reduction, misalnya, bekerja secara otomatis untuk memisahkan suara manusia dari kebisingan latar. Hasilnya? Percakapan telepon Anda tetap jernih meski berada di tengah hiruk-pikuk terminal bus atau kendaraan umum. Ini solusi sederhana namun sangat berdampak.

AI Phone Assistant-nya melangkah lebih jauh. Asisten ini bisa menjawab panggilan otomatis, merekam percakapan, dan mengonversinya menjadi teks. Yang lebih cerdas lagi, ia mampu mendeteksi dan memblokir panggilan mencurigakan yang berpotensi penipuan. Dalam era di mana ancaman digital semakin marak, fitur seperti ini bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan.

Di sektor fotografi, AQUOS sense10 mengandalkan kamera utama 50,3 megapiksel yang didukung mesin gambar ProPix. Sensor besarnya dirancang untuk menangkap cahaya lebih banyak, menghasilkan foto dengan warna natural bahkan dalam kondisi minim cahaya. Fitur Auto Macro-nya memudahkan Anda mengabadikan detail kecil secara instan, sementara AI secara cerdas menyesuaikan eksposur untuk hasil optimal di bawah terik matahari. Pendekatan ini mengingatkan pada kecanggihan sensor Sony LYT-828: Sensor Kamera 50MP Terbaru untuk Smartphone Premium yang juga berfokus pada kualitas gambar superior.

Pengalaman visual disuguhkan melalui layar OLED Pro IGZO 6,1 inci dengan kecerahan hingga 2.000 nit. Teknologi IGZO khas Sharp ini dikenal efisiensi dayanya. Ditambah refresh rate hingga 240Hz, tampilan menjadi sangat halus untuk scrolling maupun gaming ringan. Performa ditenagai Snapdragon 7s Gen 3 yang diklaim 40% lebih cepat dari generasi sebelumnya, didukung baterai 5.000 mAh dengan teknologi Intelligent Charge untuk umur pakai hingga dua hari.

Yang tak kalah menarik adalah desainnya. Hasil kolaborasi dengan Miyake Design, dikenal dengan inovasi mode Jepang, menghadirkan bodi aluminium matte yang ringan, solid, dan elegan. Enam pilihan warna, dari Khaki Green hingga Pale Pink, mencerminkan variasi gaya hidup pengguna modern.

Aquos R10: Powerhouse untuk Creator dan Multitasker

Bagi mereka yang menuntut lebih, ada AQUOS R10. Smartphone ini adalah evolusi dari teknologi Sharp yang telah teruji, ditujukan untuk multitasking berat, content creation, dan hiburan premium. Jantungnya adalah Snapdragon® 7+ Gen 3 yang berjalan di atas Android™ 15, menjanjikan kelincahan dan efisiensi di level atas.

Layarnya lebih besar, 6,5 inci, dengan panel IGZO OLED FHD+. Keunggulan variable refresh rate 1–240Hz adalah game changer. Layar secara adaptif menyesuaikan refresh rate sesuai konten: halus saat gaming, responsif untuk scrolling, dan sangat hemat daya saat menampilkan konten statis. Teknologi display ini menjadi pembeda utama yang sulit ditandingi pesaing sekelas.

Fotografi diangkat ke level profesional berkat dual camera 50,3MP yang bermerek Leica Hektor. Dilengkapi 14-channel spectrum sensor, sistem ini dirancang untuk menangkap warna dengan akurasi tinggi dan detail yang konsisten di berbagai kondisi pencahayaan. Kamera depannya juga tak main-main, 50,3MP, menjadikan AQUOS R10 senjata andalan bagi content creator dan profesional. Untuk mendukung alur kerja yang mulus, smartphone ini dibekali RAM 12GB LPDDR5X dan penyimpanan internal 512GB UFS 4.0.

Seperti saudaranya, R10 juga tangguh dengan sertifikasi IPX5/IPX6/IPX8 dan MIL-STD 810G. Pengalaman audio didukung Dolby Atmos® stereo, sementara konektivitas mutakhir diwakili oleh 5G dan dukungan dual SIM (nano + eSIM). Desain premium Miyake Design tersedia dalam dua warna elegan: Trench Beige dan Charcoal Black. Pendekatan holistik pada performa dan desain ini juga terlihat pada tren smartphone premium lain, seperti yang dihadirkan Toshiba dengan Smart TV Gaming berbasis AI, yang fokus pada pengalaman pengguna yang imersif.

Harga, Promo, dan Strategi Pasar

Sharp tampaknya paham betul cara merangkul konsumen Indonesia. Mereka tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga paket nilai tambah yang menarik melalui program pre-order. Untuk AQUOS sense10 yang dibanderol Rp6.699.000, pembeli yang pre-order pada 17–23 Desember 2025 mendapatkan cicilan 0% hingga 12 bulan, gratis berlangganan Vidio Ultimate Mobile 3 bulan, e-voucher Indomaret Rp500.000, plus bonus powerbank dan tumbler. Seratus pembeli pertama bahkan dapat Spingle Case eksklusif.

Sementara itu, AQUOS R10 dengan harga Rp10.999.000 pada periode pre-order yang sama menawarkan paket serupa plus bonus phone holder dan gimbal. Penjualan perdana kedua model ini akan berlangsung dari 24 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026 di Erafone, Sharp Official Mobile Store, dan jaringan resmi Sharp lainnya.

Ardy, Smartphone Product Marketing Head Division PT Sharp Electronics Indonesia, menekankan filosofi di balik produk ini. “Nilai lebih AQUOS terletak pada kombinasi performa, ketahanan, kenyamanan dan teknologi display serta kamera yang presisi. Kami tidak sekadar menawarkan spesifikasi tinggi, tetapi pengalaman penggunaan yang konsisten, aman, dan bernilai dalam jangka panjang.”

Peluncuran AQUOS sense10 dan R10 ini memperlihatkan bagaimana Sharp terus berinovasi tidak hanya pada produk elektronik rumahan, tetapi juga di ranah personal device. Inovasi berbasis AI ini sejalan dengan langkah mereka sebelumnya yang memperkenalkan Poketomo, robot AI saku yang jadi teman curhat, menunjukkan fokus mereka pada teknologi yang lebih personal dan kontekstual.

Jadi, apakah AQUOS sense10 dan R10 sekadar tambahan di rak yang sudah penuh? Tampaknya tidak. Keduanya datang dengan proposisi nilai yang jelas: ketangguhan untuk keseharian Indonesia dan performa premium untuk kreativitas tanpa kompromi. Di tengah laut samaran spesifikasi, kehadiran smartphone dengan karakter kuat dan solusi berbasis AI yang matang seperti ini justru bisa menjadi penawar dahaga bagi konsumen yang mencari substansi, bukan sekadar angka.

Looki L1 Resmi Rilis di China, “Manajer Hidup AI” yang Otomatis Buat Vlog

0

Telset.id – Bayangkan sebuah perangkat yang bisa merekam momen terbaik hari Anda, lalu menyusunnya menjadi vlog yang siap dibagikan, semuanya tanpa Anda perlu menyentuh tombol apa pun. Itulah janji yang dibawa Looki L1, wearable AI terbaru yang baru saja diluncurkan secara resmi di pasar China. Dengan harga 1.499 yuan (sekitar Rp 3,3 juta), perangkat ini mengusung konsep “manajer hidup AI” yang pasif, menandai langkah konkret dalam tren perangkat keras berbasis kecerdasan buatan yang semakin panas.

Peluncuran Looki L1 di China ini terjadi di saat yang tepat. Minat terhadap perangkat keras yang mengutamakan AI sebagai fitur inti sedang melonjak, terutama setelah berbagai laporan mengenai proyek perangkat keras rahasia OpenAI yang dikabarkan sedang digarap. Meski detail tentang perangkat OpenAI masih sangat terbatas, kehadiran Looki L1 memberikan gambaran awal yang nyata tentang seperti apa wujud kategori baru wearable AI ini. Pendekatannya yang fokus pada perekaman tanpa henti dan pengorganisasian konten berbasis AI, sejalan dengan diskusi terkini tentang masa depan “pendamping AI” dalam kehidupan sehari-hari. Ini bukan sekadar aksesori, melungkin sebuah eksperimen awal tentang bagaimana AI bisa menjadi arsiparis pribadi kita.

Menurut Looki, L1 didesain untuk secara otomatis merekam keseharian dengan tetap mengutamakan privasi pengguna. Semua data secara default disimpan secara lokal di perangkat. Konten baru akan diunggah ke cloud setelah pengguna memberikan izin secara eksplisit. Fitur utamanya mencakup pembuatan vlog yang dihasilkan AI, pencarian pintar bertenaga AI, dan yang disebut sebagai “personal life insights” melalui Looki AI. Fitur terakhir ini bertujuan membantu pengguna memahami pola dalam rutinitas harian mereka dari waktu ke waktu. Jadi, bukan cuma merekam, tapi juga mencoba memberikan makna.

Looki L1 wearable AI camera desain ringan

Dari segi desain, Looki L1 mengutamakan kepraktisan. Perangkat ini kompak dan ringan, dengan ukuran 50,53 × 16,84 × 48,02 mm dan bobot hanya 32 gram, sehingga nyaman dipakai berjam-jam. Looki menggunakan bahan yang lembut dan ramah kulit untuk meningkatkan kenyamanan dan mengurangi kelelahan saat digunakan sepanjang hari. Perangkat ini juga memiliki sertifikasi tahan air dan debu IP67, membuatnya cukup tangguh untuk menghadapi kondisi luar ruangan sehari-hari. Tersedia dalam pilihan warna hitam, putih, dan hijau.

Untuk menangkap momen, Looki melengkapi L1 dengan kamera wide-angle yang dilengkapi lensa setara 16mm dengan aperture f/2.2 dan sudut pandang 109 derajat. Ia mendukung perekaman foto 4K dan video 1080p pada 30 frame per detik. Kamera ini dilengkapi stabilisasi gambar elektronik dan kemampuan HDR untuk menangani berbagai kondisi pencahayaan. Agar suara juga tertangkap jelas, terdapat susunan tiga mikrofon dengan reduksi noise cerdas untuk meningkatkan kejernihan suara dan menangkap audio ambient secara lebih akurat. Sebagai media umpan balik, ada speaker built-in 1W yang dipasangkan dengan sistem Smart PA untuk interaksi audio yang digerakkan AI.

Soal penyimpanan dan konektivitas, Looki L1 memiliki memori internal 32GB dan, sekali lagi, menyimpan data secara lokal sebagai default. Ia mendukung Bluetooth 5.0 dan Wi-Fi dual-band (2,4GHz dan 5GHz), serta dilengkapi giroskop enam sumbu untuk sensing gerak dan deteksi adegan. Daya tahan baterai menjadi pertimbangan penting untuk perangkat yang selalu menyala. L1 ditenagai baterai 375mAh yang diklaim terisi penuh dalam sekitar 1,5 jam. Performa baterainya bervariasi tergantung mode rekaman. Looki mengklaim hingga 9 jam penggunaan saat merekam 5 detik per menit, 11 jam untuk 9 detik setiap dua menit, dan 13 jam untuk 11 detik setiap tiga menit. Angka ini menunjukkan strategi pengambilan gambar yang intermiten untuk menghemat daya, alih-alih merekam terus-menerus.

Looki L1 wearable AI camera fitur dan spesifikasi

Lebih Dari Sekadar Kamera yang Selalu Menyala

Looki L1 pada dasarnya adalah sebuah eksperimen sosial dan teknologi. Ia mengajukan pertanyaan: sejauh mana kita rela mendelegasikan ingatan dan narasi hidup kita kepada sebuah algoritma? Konsep “manajer hidup” yang diusungnya terdengar ambisius. Ini bukan hanya tentang membuat klip video, tapi tentang mengorganisir pengalaman. Fitur “personal life insights” misalnya, berpotensi menunjukkan pola seperti jam produktif Anda, tempat yang sering dikunjungi, atau bahkan frekuensi interaksi sosial. Bisa jadi alat refleksi yang powerful, atau sebaliknya, terasa seperti pengawasan diri yang berlebihan.

Privasi, tentu saja, adalah isu terbesar di sini. Meski Looki menekankan penyimpanan lokal dan persetujuan pengguna untuk unggah cloud, keberadaan kamera dan mikrofon yang selalu aktif (meski dengan interval) di tubuh seseorang akan selalu memicu perdebatan. Bagaimana jika perangkat ini diretas? Atau bagaimana jika kebijakan privasi perusahaan berubah? Looki L1 hadir di tengah meningkatnya penggunaan teknologi AI dalam pengawasan, seperti yang terlihat pada kacamata AI yang digunakan polisi lalu lintas China untuk memeriksa kendaraan. Perbedaannya, L1 adalah pilihan personal, sebuah alat untuk mendokumentasikan hidup, bukan mengawasi orang lain.

Lalu, apakah ada pasar untuk perangkat seperti ini? Looki tampaknya menargetkan para content creator, vlogger, atau siapa pun yang ingin mendokumentasikan perjalanan atau keseharian tanpa repot mengatur kamera. Dalam ekosistem yang sama, kita melihat bagaimana AI juga menjadi nilai jual utama di perangkat lain, seperti pengalaman “healing” yang ditawarkan Galaxy AI kepada selebritas seperti Ji Chang Wook, atau integrasi AI dalam perangkat wearable lain seperti kacamata Meizu StarV Snap dengan chip Snapdragon AR1. Looki L1 mengambil niche yang lebih spesifik: dokumentasi otomatis.

Pertarungan di Lain Front: Daya Tahan vs. Kecerdasan

Sementara Looki L1 berfokus pada kecerdasan buatan untuk mengelola konten, pasar gadget secara keseluruhan masih bertarung di medan lain yang tak kalah sengit: daya tahan baterai. Konsumen menginginkan perangkat yang pintar sekaligus tahan lama. Ini terlihat dari rumor seperti Honor Power 2 yang dikabarkan membawa baterai raksasa 10.000mAh, atau klaim Huawei Mate 70 Air yang menggabungkan bodi tipis dengan baterai 6.500mAh. Looki L1, dengan baterai 375mAh dan strategi rekaman interval, adalah kompromi yang menarik. Ia mengakui bahwa untuk menjadi “always-on”, daya harus dikelola dengan cermat, bukan hanya dengan menambah kapasitas fisik.

Peluncuran Looki L1 di China mungkin adalah uji coba pasar yang penting. Jika diterima dengan baik, kita bisa melihat varian atau penerusnya merambah pasar global. Ia mewakili sebuah alternatif dalam lanskap perekaman kehidupan. Di satu sisi ada kamera profesional seperti Leica Q3 Monochrom atau SL3 Reporter yang menawarkan kualitas gambar tertinggi dengan kontrol penuh dari fotografer. Di sisi lain, ada Looki L1 yang menawarkan kemudahan dan otomatisasi total, dengan kualitas gambar yang “cukup baik” untuk media sosial. Ia bukan untuk menggantikan kamera profesional, tapi untuk mengisi celah yang selama ini mungkin tidak kita sadari: dokumentasi tanpa usaha.

Jadi, apakah Looki L1 akan menjadi awal dari revolusi wearable AI, atau hanya sekadar produk niche yang menarik perhatian sesaat? Jawabannya mungkin terletak pada seberapa baik AI-nya benar-benar memahami konteks dan menyusun cerita yang bermakna. Jika ia hanya sekadar menyambung-nyambung klip acak, maka fungsinya tak jauh berbeda dari dashcam. Namun, jika ia bisa menyoroti momen bahagia, percakapan penting, atau pencapaian kecil dalam sehari, maka ia mungkin benar-benar menjadi “manajer hidup” yang dijanjikan. Saat ini, Looki L1 telah meletakkan batu pertama. Sekarang, kita tinggal menunggu apakah konsumen siap membiarkan AI menjadi penulis harian mereka.

Kepala MI6 Peringatkan Kekuasaan Global Beralih ke Korporasi Teknologi

0

Telset.id – Blaise Metreweli, kepala baru badan intelijen luar negeri Inggris MI6, secara terbuka memperingatkan bahwa kekuasaan global semakin bergeser dari negara-negara ke korporasi teknologi raksasa. Peringatan ini disampaikan dalam pernyataan pertamanya sebagai pemimpin agen mata-mata legendaris tersebut, yang menyoroti implikasi keamanan nasional dan internasional dari fenomena tersebut.

Metreweli menegaskan bahwa dunia sedang aktif dibentuk ulang dengan konsekuensi yang mendalam. “Kekuasaan itu sendiri menjadi lebih tersebar, lebih tidak terduga karena kontrol atas teknologi-teknologi ini beralih dari negara ke korporasi dan terkadang ke individu,” ujarnya, seperti dikutip dari pernyataan resminya. Ia juga menggambarkan kondisi saat ini sebagai operasi di “ruang antara perdamaian dan perang,” yang menurutnya bukanlah keadaan sementara atau evolusi bertahap yang tak terhindarkan.

Latar belakang peringatan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara pemerintah Inggris, khususnya politisi dari Partai Buruh yang berkuasa, dengan miliarder teknologi seperti Elon Musk. Musk sebelumnya disebut-sebut menyerukan penggulingan pemerintah Inggris dalam sebuah rapat akar rumput sayap kanan pada September lalu. Meski Metreweli tidak menyebut nama secara spesifik, pernyataannya menggemakan kekhawatiran yang lebih luas tentang campur tangan politik dari aktor-aktor korporat yang sangat berpengaruh.

Erosi Kepercayaan dan Fragmentasi Informasi

Dalam pidatonya, kepala MI6 itu lebih memusatkan perhatian pada erosi kepercayaan publik sebagai masalah inti. “Fondasi kepercayaan dalam masyarakat kita terkikis,” katanya. “Informasi, yang dulunya merupakan pemersatu, semakin sering dijadikan senjata. Kepalsuan menyebar lebih cepat daripada fakta, memecah belah komunitas dan mendistorsi realitas.”

Metreweli menggambarkan era kontradiktif dimana hiperkonektivitas justru berujung pada isolasi yang mendalam. “Algoritma merayu bias kita dan memecah belah ruang publik kita,” tambahnya. Analisis ini menyentuh jantung masalah regulasi platform digital dan peran teknologi AI dalam membentuk opini, sebuah topik yang juga menjadi perhatian para regulator di berbagai negara, termasuk Indonesia yang berupaya mendorong pertumbuhan teknologi yang bermakna dan inklusif.

Perspektif dari Dalam Lingkaran Kekuasaan Lama

Latar belakang Blaise Metreweli sendiri memberikan konteks unik bagi peringatannya. Sebagai wanita pertama yang memimpin MI6, karirnya terjalin dengan jaringan rumit kekuasaan kolonial yang membentuk tatanan global saat ini. Ia tumbuh besar di kalangan elit Hong Kong saat masih berada di bawah pendudukan Inggris, menikmati pendidikan privat mewah.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Metreweli berkarir sebagai operatif intelijen di zona-zona ekonomi penting seperti Irak dan Afghanistan yang diduduki oleh AS dan Inggris – wilayah yang dianggap sebagai bagian dari Imperium Inggris lama. Pengalamannya dalam memperjuangkan kepentingan Inggris di kancah global ini membentuk sudut pandangnya. Kritiknya terhadap kekuatan korporasi, dengan demikian, dapat ditafsirkan bukan sebagai serangan umum terhadap monopoli teknologi, melainkan lebih sebagai pembelaan atas peran negara-bangsa, khususnya Inggris, dalam mempengaruhi pemerintahan dunia.

Pidatonya pada dasarnya menyampaikan pesan bahwa kekuasaan seharusnya tetap berada di tangan entitas negara, bukan korporasi swasta. Peringatan ini muncul saat banyak pemerintah, termasuk Indonesia melalui program seperti Garuda Spark, berupaya menciptakan kedaulatan teknologi dan mendorong kewirausahaan digital dalam negeri untuk menyeimbangkan pengaruh raksasa teknologi global.

Pernyataan kepala MI6 ini menandai momen penting dimana badan intelijen yang secara historis terlibat dalam operasi penggantian pemerintahan di 27 negara pasca Perang Dunia II, kini justru menyuarakan kekhawatiran akan pergeseran kekuasaan yang dianggap mengancam kedaulatan negara dari arah yang berbeda: boardroom perusahaan teknologi ketimbang agen-agen asing.

Instagram for TV: Reels Resmi Masuk Layar Besar

0

Telset.id – Instagram secara resmi mengumumkan aplikasi barunya yang didesain khusus untuk layar besar televisi, bernama Instagram for TV. Aplikasi yang saat ini masih dalam tahap pengujian ini memungkinkan pengguna menikmati konten Reels di layar TV, dengan fitur awal terbatas pada penayangan video pendek tersebut. Instagram for TV saat ini tersedia untuk diuji coba di Amerika Serikat pada perangkat Amazon Fire TV.

Dalam pengumumannya, perusahaan yang dimiliki Meta ini menyatakan bahwa aplikasi ini akan berekspansi ke lebih banyak perangkat dan wilayah dalam beberapa bulan mendatang. Langkah ini menandai upaya Instagram untuk memperluas jangkauan ekosistem kontennya ke ranah hiburan rumah, mengikuti jejak platform media sosial lain yang telah lebih dulu hadir di TV.

Instagram for TV memungkinkan pengguna menambahkan hingga lima akun Instagram yang berbeda atau membuat akun khusus yang didedikasikan untuk pengalaman menonton di TV. Konten Reels kemudian akan diorganisir ke dalam saluran-saluran terpisah berdasarkan minat pengguna, menciptakan alur tontonan yang lebih personal. Aplikasi ini juga dilengkapi dengan fitur pencarian untuk menemukan kreator, profil, dan topik tertentu.

Instagram for TV announced, brings reels to the big screen

Kehadiran Instagram for TV bisa dilihat sebagai kelanjutan dari strategi konsolidasi fitur video di platform tersebut. Beberapa waktu lalu, Instagram diketahui telah memensiunkan aplikasi IGTV dan lebih memfokuskan pengembangan pada Reels. Bahkan, sebelumnya juga ada wacana bahwa aplikasi IGTV akan berganti nama menjadi Instagram TV, yang kini sepertinya mewujud dalam bentuk yang berbeda.

Fitur-fitur tambahan seperti menggunakan ponsel sebagai remote, feed bersama untuk ditonton secara kolaboratif, serta navigasi yang lebih baik disebutkan sedang dalam pengembangan. Untuk masalah keamanan, Instagram for TV mengadopsi sistem rating PG-13 dan menerapkan proteksi yang sama seperti di aplikasi mobile bagi pengguna remaja, termasuk pembatasan akses ke konten, komentar, dan profil yang dinilai tidak pantas untuk usia di bawah 18 tahun.

Langkah strategis Instagram ini mengindikasikan pergeseran signifikan dalam konsumsi konten digital. Dengan menghadirkan Reels ke layar TV, Instagram tidak hanya bersaing dengan platform video pendek seperti TikTok, tetapi juga mulai masuk ke wilayah yang selama ini didominasi oleh layanan streaming konvensional dan YouTube. Pengalaman menonton bersama di ruang keluarga menjadi nilai jual baru yang potensial.

Keputusan untuk meluncurkan secara terbatas di AS dan di perangkat Amazon Fire TV terlebih dahulu merupakan langkah yang umum dilakukan untuk menguji respons pasar dan mengumpulkan feedback sebelum diluncurkan secara global. Ekspansi ke perangkat TV pintar lain seperti yang berbasis Android TV, webOS, atau Tizen, serta konsol game, sangat mungkin terjadi di fase selanjutnya.

Fenomena menonton konten media sosial di layar besar sebenarnya bukan hal baru. Banyak pengguna yang telah melakukan screencasting dari ponsel ke TV. Namun, kehadiran aplikasi native seperti Instagram for TV diharapkan dapat memberikan pengalaman yang lebih optimal, terintegrasi, dan aman, terutama dengan memperhatikan aspek keamanan untuk semua usia. Hal ini menjadi penting mengingat konten di platform sosial bisa sangat beragam, seperti yang pernah terjadi saat seorang bintang TV memamerkan foto di Instagram dan menuai cemoohan.

Dengan fokus awal pada Reels, Instagram for TV secara tidak langsung juga mendorong kreator untuk memproduksi konten dengan kualitas yang lebih baik, mengingat konten tersebut akan dinikmati di layar dengan resolusi lebih tinggi. Ini bisa menjadi momentum bagi kreator untuk lebih berinovasi dalam membuat video pendek.

Keberhasilan Instagram for TV nantinya akan sangat bergantung pada seberapa baik platform ini dapat menghadirkan pengalaman “bersantai di depan TV” yang menyenangkan, sekaligus menjaga esensi interaktif media sosial. Jika fitur seperti feed bersama dan kontrol via ponsel dapat diimplementasikan dengan baik, aplikasi ini berpotensi mengubah kebiasaan menonton TV di rumah menjadi lebih sosial dan personal.

Saat ini, masyarakat teknologi tengah menunggu perkembangan lebih lanjut mengenai timeline ekspansi Instagram for TV ke wilayah lain, termasuk Indonesia, serta daftar perangkat TV yang akan didukung. Kesuksesan fase uji coba ini akan menentukan seberapa cepat aplikasi tersebut sampai ke tangan pengguna di seluruh dunia.

Kemkomdigi Pacu Daya Saing Lulusan AI Talent Factory di Tengah Dinamika Global

0

Telset.id – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkomdigi) mendorong para lulusan program AI Talent Factory untuk memiliki daya saing kuat di tengah persaingan global pengembangan teknologi kecerdasan buatan. Upaya ini dilakukan melalui pendekatan pembelajaran khusus yang dirancang untuk menjawab kebutuhan industri dan tantangan masa depan.

Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika, Nezar Patria, menegaskan pentingnya peningkatan kualitas talenta digital Indonesia. “Kita ingin melakukan leveling up terhadap kemampuan digital talent kita pada hari ini agar bisa berkompetisi, mempunyai daya saing yang cukup kuat, di tengah gencarnya dinamika pengembangan teknologi AI di dunia,” ujar Nezar usai memberikan arahan dalam acara AI Talent Day & Graduation 2025 di Jakarta, Rabu (18/12/2025).

Program AI Talent Factory dirancang dengan pendekatan “triple C” yang terdiri dari (C)omplete, (C)onnect, dan (C)reate. Modul pembelajaran dalam program ini terus diperbarui dan disesuaikan dengan perkembangan teknologi AI terkini. Tujuannya, agar mahasiswa dapat langsung menyesuaikan diri dan memenuhi kebutuhan industri setelah menyelesaikan pendidikan.

Nezar berharap ilmu yang didapatkan tidak berhenti di ruang kuliah. Mahasiswa diharapkan mampu menghadirkan berbagai solusi dengan intervensi teknologi AI untuk menjawab tantangan dalam kehidupan sehari-hari. “Kami berharap pendidikan ini bukan menjadi tujuan akhir, tapi menjadi titik awal bagi generasi muda kita untuk bisa semakin bergairah mendalami teknologi baru ini,” tambahnya.

Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi dan Target Jangka Panjang

Untuk memperluas jangkauan program, Kemkomdigi telah menjalin kerja sama dengan sejumlah universitas ternama. Saat ini, program AI Talent Factory sudah berjalan di Universitas Gajah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Nezar mengungkapkan, beberapa universitas lain akan segera menyusul untuk membentuk program serupa.

Lulusan program ini diharapkan tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi digital. Nezar berharap mereka dapat memperkuat kebutuhan talenta digital Indonesia dan menyokong proyeksi pertumbuhan ekonomi digital pemerintah hingga 2029.

Harapan ini muncul di tengah proyeksi kebutuhan talenta digital Indonesia yang mencapai 12 juta orang pada 2030. Sayangnya, data saat ini menunjukkan Indonesia baru memiliki sekitar 9,3 juta talenta digital yang tersedia, sehingga masih mengalami defisit sekitar 3 juta orang. Program seperti AI Talent Factory menjadi salah satu strategi krusial untuk menutup kesenjangan tersebut.

Persaingan di bidang teknologi, termasuk AI, memang semakin ketat di kancah global. Inovasi dan peluncuran produk baru dari berbagai perusahaan teknologi dunia terus berlangsung cepat, menciptakan pasar yang dinamis. Beberapa brand besar seperti Honor dengan Magic 8 Pro, Oppo dengan Reno 15 series, dan Poco dengan F8 series terus memperluas jangkauan global mereka, menunjukkan betapa cepatnya lanskap teknologi berubah.

Dalam konteks ini, kemampuan adaptasi dan inovasi menjadi kunci. Program AI Talent Factory tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga pada kemampuan mencipta (Create) dan menghubungkan (Connect) ilmu dengan masalah nyata. Pendekatan ini dianggap vital untuk membekali lulusan agar tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta solusi yang dapat bersaing di tingkat internasional.

Upaya Kemkomdigi melalui AI Talent Factory merupakan bagian dari strategi besar membangun sovereign AI atau kedaulatan AI Indonesia. Dengan mencetak talenta dalam negeri yang mumpuni, diharapkan ketergantungan pada talenta asing dapat dikurangi dan Indonesia dapat lebih mandiri dalam mengembangkan serta mengadopsi teknologi AI untuk kepentingan nasional.

Menkomdigi Dorong Sosialisasi PP Tunas ke Orang Tua dan Platform Digital

0

Telset.id – Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Meutya Hafid secara aktif mendorong sosialisasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas). Aturan yang disahkan Presiden Prabowo Subianto pada 28 Maret 2025 ini menyasar peran orang tua dan memerlukan dukungan penuh dari platform digital agar implementasinya efektif.

Meutya menegaskan bahwa PP Tunas membutuhkan perpanjangan tangan pemerintah, termasuk Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (RTIK), untuk menjangkau masyarakat hingga ke daerah terpencil. Sosialisasi dinilai penting karena sifat teknis peraturan pemerintah yang mungkin membingungkan bagi orang awam. “Karena ini bentuknya peraturan pemerintah, tentu kalau kita baca PP-nya mungkin agak membingungkan, sehingga kita perlu banyak teman-teman yang juga memperkenalkan PP ini kepada para orang tua di berbagai daerah di Indonesia,” ujar Meutya dalam temu media di acara Temu Nasional Pegiat Literasi Digital 2025 di Jakarta, Rabu (11/12/2025).

Ia mengakui bahwa dampak PP Tunas belum sepenuhnya terasa karena setiap aturan memerlukan masa penyesuaian minimal satu tahun sebelum dapat berjalan optimal. Meutya mengibaratkan proses implementasi yang serupa terjadi di Australia, yang melahirkan undang-undang pada November 2024 namun baru dapat dilaksanakan pada 10 Desember 2025. “Mudah-mudahan tahun depan sudah bisa kita laksanakan apa yang ditunggu detail-detail pelaksanaannya, karena ini tidak mudah,” tambahnya.

Kolaborasi Kunci: Platform, Orang Tua, dan Anak

Keberhasilan PP Tunas sangat bergantung pada tiga pilar utama: platform digital, orang tua, dan anak-anak itu sendiri. Meutya menyoroti bahwa tanpa dukungan teknis dari platform, aturan ini berisiko menjadi sekadar wacana. “Kalau platform tidak dukung, PP ini akan menjadi aturan yang tidak bisa dijalankan dengan baik, kemudian juga perlu bicara dengan orang tua dan anak-anak,” imbuhnya.

Peran orang tua menjadi fokus khusus dalam sosialisasi. Meutya mencatat bahwa seringkali anak dapat mengakses media sosial karena mendapatkan izin dari orang tua. Oleh karena itu, literasi digital bagi orang tua menjadi krusial. Namun, ia menegaskan bahwa sanksi dalam PP Tunas diarahkan kepada platform digital, bukan kepada orang tua atau anak. “Karena kalau di Komdigi aturannya ya terkait ranah digitalnya, bukan kepada orang tuanya. Jadi platform yang memang nanti masih kedapatan anak di bawah umur misalnya anak 10 tahun masuk di ranah sosial medianya, ya platform-nya yang kita berikan sanksi,” tegas Meutya.

Proses penyusunan PP Tunas sendiri melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), UNICEF, berbagai lembaga pemerhati anak, dan bahkan melibatkan pertemuan langsung dengan anak-anak untuk mendengar aspirasi mereka. Pendekatan kolaboratif ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem digital yang lebih aman dan sesuai dengan tahap perkembangan anak, sebagaimana dijelaskan dalam artikel Kemkomdigi: PP Tunas Jadi Literasi Digital Penggunaan Medsos oleh Anak.

Implementasi dan Tantangan ke Depan

Langkah sosialisasi yang masif menjadi kunci sebelum PP Tunas benar-benar diterapkan. Meutya berharap detail pelaksanaan teknis dapat segera diselesaikan sehingga aturan dapat dijalankan pada tahun depan. Komitmen ini sejalan dengan seruan “Tunggu Anak Siap” sebelum anak memasuki dunia digital, yang menekankan pada kesiapan psikologis dan edukatif.

Dukungan dari para pakar juga menguatkan posisi PP Tunas sebagai langkah progresif. Seperti dilaporkan dalam artikel Pakar Dukung PP Tunas Lindungi Anak dari Dampak Negatif Digital, aturan ini mendapat apresiasi sebagai upaya sistematis melindungi anak dari konten berbahaya di ruang digital.

Dengan fokus pada governance platform dan edukasi orang tua, PP Tunas tidak dimaksudkan untuk membatasi akses anak secara membabi buta, melainkan menciptakan rambu-rambu dan tanggung jawab yang jelas bagi penyelenggara sistem elektronik. Keberhasilan aturan ini akan sangat ditentukan oleh sejauh mana sosialisasi dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan seberapa serius platform digital mengimplementasikan mekanisme perlindungan anak dalam layanannya.

Perjalanan implementasi PP Tunas masih panjang, namun langkah awal dengan sosialisasi yang menyasar orang tua dan kolaborasi multipihak menunjukkan arah yang jelas. Efektivitas aturan ini kelak akan menjadi tolok ukur bagi komitmen Indonesia dalam menciptakan ruang digital yang tidak hanya inklusif, tetapi juga bertanggung jawab dan aman bagi generasi penerus bangsa.

Menkomdigi Ingatkan Kontrol Diri di Ruang Digital untuk Cegah Gangguan Mental

0

Telset.id – Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Meutya Hafid menekankan pentingnya kontrol diri dalam penggunaan perangkat dan platform digital. Tanpa kesadaran untuk mengendalikan, masyarakat berisiko menghabiskan waktu berlebihan di media sosial secara tidak sadar, yang berpotensi berdampak pada kesehatan mental, terutama pada anak dan remaja.

Pernyataan ini disampaikan Meutya dalam acara Temu Nasional Pegiat Literasi Digital di Jakarta, Rabu (11/12/2024). Dia menggarisbawahi bahwa literasi digital tidak lagi sekadar seruan untuk bijak berinternet, tetapi memerlukan pendekatan yang lebih inovatif dan kontekstual dengan tantangan kekinian.

“Ini kenapa kita perlu hadir untuk menyadarkan, mengetuk hati, bahwa penggunaan digital itu memang harus cermat, harus bijak, dan harus dikontrol penuh oleh si manusianya,” kata Meutya Hafid, seperti dikutip dari ANTARA.

Dampak Media Sosial pada Kesehatan Mental Generasi Muda

Meutya secara khusus menyoroti pengaruh buruk penggunaan platform digital berlebihan terhadap kondisi psikologis anak-anak dan remaja. Paparan terus-menerus terhadap berbagai informasi, termasuk konten negatif, di media sosial dinilai dapat memengaruhi stabilitas emosi dan kesehatan mental.

“Secara kesehatan juga sudah ada data-data yang mengatakan bahwa anak-anak terdampak mental illness, gangguan mental, menjadi sesuatu yang sekarang menjadi semakin banyak diperbincangkan di tengah ranah digital yang begitu cepat (berkembang) ini,” jelas Meutya.

Fenomena ini semakin menguat seiring dengan transformasi gaya hidup digital Indonesia yang terus berakselerasi. Kecepatan arus informasi dan karakter platform yang dirancang untuk engagement tinggi menuntut kewaspadaan ekstra dari pengguna.

Meutya juga mengutip peringatan dari para ahli kesehatan mengenai pengaruh konten berdurasi pendek, yang marak di ruang digital, terhadap kemampuan kognitif. Paparan konten-konten cepat saji tersebut diduga memengaruhi rentang perhatian dan daya ingat terhadap materi yang lebih panjang.

“Katanya para ahli kesehatan, time span ingatan manusia juga menjadi agak sulit untuk menerima bahan yang panjang,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa dampak teknologi digital tidak hanya bersifat psikologis, tetapi juga neurologis, mengubah cara otak memproses informasi.

Redefinisi Literasi Digital: Dari Basa-basi ke Aksi Konkret

Menanggapi kompleksitas tantangan ini, Menkominfo mendorong para pegiat, termasuk Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (RTIK), untuk mengembangkan metode yang lebih kreatif dalam meningkatkan literasi digital masyarakat. Pendekatan konvensional dinilai sudah tidak memadai.

“Karena enggak cukup lagi mengatakan ‘nyalakan internet, gunakan secara bijak’,” tegas Meutya. Literasi digital harus bergerak melampaui slogan dan masuk ke dalam penyediaan konten-konten edukatif yang relevan dengan ancaman aktual.

Sebagai contoh, dia menyebutkan pentingnya konten yang mengajarkan cara mengenali hoaks dan berbagai modus penipuan digital yang terus berevolusi. Kejahatan siber berkembang sangat dinamis, sehingga materi edukasi juga harus terus diperbarui.

“Karena orang itu melakukan kejahatan penipuan digital itu hari per hari ilmunya berbeda-beda. Kita baru tahu ilmu penipuan ini, mereka sudah nipu dengan cara lainnya. Nah ini yang memang harus kita redefinisi agar literasinya tidak seperti basa-basi,” papar Meutya.

Pendekatan proaktif dan preventif semacam ini sejalan dengan upaya melindungi masyarakat di tengah maraknya layanan digital, termasuk keuangan. Seperti halnya pentingnya kehati-hatian dalam menggunakan dompet digital terpadu, kesadaran akan keamanan dan batasan penggunaan platform media sosial juga mutlak diperlukan.

Imbauan untuk kontrol diri di ruang digital ini juga relevan dalam konteks perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang masif. Penggunaan teknologi AI yang tidak terkendali berpotensi menimbulkan ketergantungan baru. Literasi digital yang kuat menjadi benteng utama untuk mencegah hal tersebut, sekaligus memastikan masyarakat dapat memanfaatkan kemajuan teknologi, seperti yang terjadi pada platform AI generatif tertentu, secara sehat dan produktif.

Pesan Menkominfo ini pada intinya mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama membangun ekosistem digital Indonesia yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga sehat secara mental dan sosial. Literasi menjadi kunci untuk mengubah pengguna dari sekadar konsumen pasif menjadi individu yang kritis, mampu mengendalikan teknologi, dan melindungi diri serta keluarganya dari dampak negatifnya.

Telkom dan CCSI Sinergi Kembangkan Kabel Laut SUB-2 untuk Konektivitas Nasional

0

Telset.id – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) dan PT Communication Cable Systems Indonesia (CCSI) menjalin kerja sama strategis untuk mengembangkan jaringan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) SUB-2. Inisiatif ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) yang berfokus pada penjajakan pembangunan ruas kabel laut Gresik-Makassar-Takisung, menghubungkan Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan.

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Direktur Network Telkom, Nanang Hendarno, dan President Director CCSI, Peter Djatmiko, di Jakarta pada Senin (15/12). Kolaborasi ini merupakan langkah konkret dalam memperkuat fondasi infrastruktur digital nasional, sekaligus merealisasikan bagian dari strategi transformasi jangka panjang perusahaan.

Nanang Hendarno menegaskan bahwa sinergi ini adalah wujud komitmen Telkom dalam membangun konektivitas digital yang lebih efisien dan berkelanjutan. “Kolaborasi ini dilandasi niat bersama untuk memenuhi kebutuhan pelanggan melalui penambahan kapasitas jaringan kabel laut yang andal, sehingga dapat beroperasi secara optimal dalam jangka panjang serta mendukung pemerataan konektivitas dan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia,” ungkap Nanang dalam keterangan resmi, Rabu (17/12/2025).

Strategi Joint Operation dan Akselerasi Infrastruktur

Peter Djatmiko dari CCSI menyambut positif kolaborasi ini, yang dinilainya tidak hanya mendorong efisiensi investasi dan operasional, tetapi juga mempercepat pembangunan infrastruktur nasional. “Kami mengapresiasi kepercayaan Telkom untuk berkolaborasi dengan CCSI dalam inisiatif strategis ini,” ujar Peter. Ia menjelaskan, MoU menjadi langkah awal rencana pembangunan yang akan dijalankan melalui skema joint operation dan joint investment antara kedua entitas.

Inisiatif strategis SKKL SUB-2 memiliki tujuan multi-aspek: meningkatkan efisiensi investasi, mengoptimalkan pemanfaatan rute kabel laut eksisting milik Telkom, dan pada akhirnya memperkuat tulang punggung konektivitas digital Indonesia. Pendekatan ini sejalan dengan strategi TLKM 30 Telkom yang berfokus pada akselerasi monetisasi aset strategis dan penciptaan nilai melalui kemitraan.

Sebagai digital telco, Telkom terus menegaskan perannya dengan kapabilitas layanan end-to-end yang mencakup Digital Connectivity, Digital Platform, dan Digital Services. Sinergi dengan mitra seperti CCSI dianggap dapat mendorong pengembangan infrastruktur yang lebih efektif dan berkelanjutan bagi seluruh ekosistem digital nasional, melengkapi upaya lain seperti pengembangan satelit multifungsi.

Optimalisasi Kapabilitas dan Tahapan Kerja Sama

CCSI, sebagai produsen dan penyedia kabel serat optik darat dan laut, membawa kapabilitas teknis yang krusial dalam kerja sama ini. Ruang lingkup kolaborasi mencakup penjajakan pembangunan SKKL SUB-2 dengan memanfaatkan rencana teknis dan perizinan yang dimiliki. Pendekatan kolaboratif dinilai akan memberikan manfaat yang lebih optimal dibandingkan pembangunan jaringan secara terpisah oleh masing-masing pihak.

Sebelum mencapai tahap MoU, Telkom dan CCSI telah lebih dulu menandatangani Non-Disclosure Agreement (NDA) pada 21 Maret 2025 sebagai dasar pertukaran informasi dalam fase penjajakan awal. Prosedur ini menunjukkan keseriusan dan kehati-hatian kedua belah pihak dalam membahas potensi kemitraan strategis.

Ke depan, kedua perusahaan akan melanjutkan pembahasan mendalam terkait aspek teknis operasional dan komersial untuk merealisasikan potensi kerja sama ini. Tujuannya adalah memastikan pengembangan jaringan SKKL SUB-2 dapat memberikan manfaat optimal tidak hanya bagi Telkom dan CCSI, tetapi juga bagi para pemangku kepentingan, masyarakat luas, dan kemajuan ekosistem digital Indonesia secara keseluruhan. Penguatan infrastruktur fisik seperti kabel laut ini merupakan fondasi penting untuk inisiatif percepatan konektivitas 5G di berbagai daerah.

Kolaborasi antara BUMN telekomunikasi dan perusahaan kabel dalam negeri ini juga mencerminkan upaya untuk memperkuat kemandirian industri infrastruktur digital domestik. Dengan mengombinasikan kekuatan jaringan dan layanan Telkom dengan kemampuan manufaktur dan penyediaan kabel dari CCSI, diharapkan dapat tercipta sinergi yang memperkuat ketahanan dan kedaulatan konektivitas nasional, sekaligus mendukung percepatan transformasi digital di berbagai sektor.

Oppo A6 dan A6x Resmi di Indonesia, Bawa Baterai Jumbo dan Daya Tahan Lama

0

Telset.id – Oppo secara resmi memperkenalkan dua ponsel entry-level terbaru mereka, Oppo A6 dan Oppo A6x, di pasar Indonesia pada Rabu (17/12/2025). Kedua ponsel ini menonjolkan kapasitas baterai besar sebagai fitur utama, dengan klaim daya tahan baterai yang tetap terjaga di atas 80 persen meski telah melalui 1.800 siklus pengisian daya.

Peluncuran ini menegaskan fokus Oppo pada segmen entry-level yang mengutamakan ketahanan baterai. Oppo A6, yang diposisikan sebagai varian lebih premium, dibekali baterai berkapasitas 7.000 mAh dengan dukungan pengisian cepat 45 watt SuperVOOC Flash Charge. Sementara itu, Oppo A6x hadir dengan baterai 6.500 mAh dan menawarkan opsi konfigurasi RAM serta penyimpanan yang lebih beragam dengan harga yang lebih terjangkau.

Klaim daya tahan baterai yang tetap di atas 80 persen setelah 1.800 siklus pengisian merupakan poin penting yang ditekankan Oppo. Angka ini mengindikasikan upaya brand dalam menjawab kekhawatiran konsumen mengenai degradasi baterai ponsel dalam jangka panjang, yang sering menjadi isu di kelas harga terjangkau.

Spesifikasi dan Posisi Pasar Oppo A6 Series

Oppo A6 ditenagai oleh chipset Snapdragon 685 yang diklaim mampu memberikan performa stabil untuk kebutuhan harian seperti multitasking, menikmati konten multimedia, dan bermain game ringan. Chip ini dipasangkan dengan konfigurasi tunggal 6 GB RAM dan 128 GB penyimpanan internal.

Untuk menjaga performa tetap optimal, Oppo membekali ponsel ini dengan sistem pendingin SuperCool VC dan teknologi vapor chamber. Teknologi ini dirancang untuk mengontrol suhu perangkat agar tetap nyaman digenggam dalam penggunaan intensif. Fitur AI GameBoost juga disematkan untuk mengatur performa dan efisiensi daya secara cerdas, sementara Splash Touch memastikan layar tetap responsif meski digunakan dalam kondisi tangan basah.

Di segi tampilan, Oppo A6 mengusung layar LCD berukuran 6,75 inci dengan resolusi HD Plus dan refresh rate 120 Hz yang dinamai Ultra Bright Display. Kombinasi ini ditujukan untuk pengalaman visual yang lebih mulus saat scrolling media sosial, menonton video, atau bermain game.

Posisi Oppo A6x sebagai varian yang lebih terjangkau memberikan fleksibilitas bagi konsumen dengan kebutuhan dan budget berbeda. Meski detail spesifikasi lengkapnya belum sepenuhnya diungkap, varian ini dijanjikan memiliki pilihan RAM dan storage yang lebih beragam. Strategi ini mirip dengan pendekatan yang diterapkan pada lini Oppo A60 sebelumnya, yang juga menawarkan variasi untuk menjangkau pasar lebih luas.

Strategi dan Konteks Pasar

Kehadiran Oppo A6 dan A6x memperkuat portofolio A Series di segmen entry-level Indonesia. Fokus pada baterai besar dan daya tahan menjadi nilai jual utama, membedakannya dari kompetitor yang mungkin lebih menekankan aspek kamera atau desain di rentang harga serupa.

Peluncuran ini juga menunjukkan bahwa Oppo tetap serius berkompetisi di segmen bawah, meski secara paralel juga mengembangkan lini mid-range dan flagship. Ketahanan baterai yang diklaim tahan lama menjadi senjata untuk menarik konsumen yang mengutamakan produktivitas dan minim gangguan pengisian daya.

Meski baru diluncurkan, seri A6 ini telah menjadi pembicaraan, terutama terkait klaim ketahanan baterainya. Konsumen yang tertarik dengan performa lebih tangguh dapat merujuk pada ulasan hands-on Oppo A6 Pro yang menawarkan kapasitas baterai serupa namun dengan spesifikasi yang mungkin berbeda. Perbedaan mendasar antara varian 4G dan 5G dalam satu seri juga penting untuk dipahami, seperti yang dijelaskan dalam artikel perbedaan Oppo A6 Pro 4G dan 5G.

Dengan spesifikasi yang diunggulkan dan strategi positioning yang jelas, Oppo A6 dan A6x siap bersaing di pasar ponsel entry-level Indonesia yang semakin padat. Keberhasilan mereka akan sangat ditentukan oleh respons pasar terhadap harga yang ditawarkan dan validasi klaim ketahanan baterai dalam penggunaan sehari-hari.

ChatGPT Wrapped 2025 Viral, Ini Cara Buat dan Reaksi Warganet

0

Telset.id – Tren “ChatGPT Wrapped 2025” membanjiri media sosial, menawarkan rangkuman akhir tahun ala Spotify Wrapped untuk percakapan pengguna dengan chatbot AI. Namun, berbeda dengan layanan musik, fitur ini bukan produk resmi OpenAI melainkan kreasi mandiri pengguna yang memanfaatkan prompt tertentu.

Unggahan berisi statistik percakapan, topik obrolan favorit, hingga kebiasaan unik pengguna bersama ChatGPT selama setahun terakhir ini banyak ditemui di platform seperti TikTok. Pengguna membuatnya dengan menyalin prompt spesifik ke ChatGPT, lalu membagikan tangkapan layar hasilnya yang sering diiringi lagu-lagu populer seperti “Va Va Voom” dari Nicki Minaj.

Hasil yang muncul beragam dan kerap menghibur. Beberapa pengguna menemukan topik utama mereka seputar karier dan produktivitas, sementara yang lain “ketahuan” lebih sering membahas percintaan, kesehatan mental, atau hal-hal sepele yang berulang. Fenomena ini menyoroti bagaimana pengguna mempersonalisasi interaksi dengan AI, sekaligus memicu diskusi tentang privasi data.

Prompt Kunci dan Kebebasan Berkreativitas

Inti dari tren ini terletak pada sebuah prompt yang disebarluaskan. Pengguna cukup menyalin dan menempelkan teks berikut ke ChatGPT untuk mendapatkan rangkuman gaya Wrapped mereka sendiri:

“Make me ‘ChatGPT Wrap 2025’, a Spotify Wrapped-style year-end summary of all my conversations with you this year, highlighting my top recurring topics, most-discussed hobbies or projects, any memorable conversations, and quirky patterns in what I ask or how I talk. Present it in a fun, Spotify Wrapped-style format with headings like ‘Top 5 Topics,’ ‘Most Unexpected Question,’ ‘Biggest Obsession,’ and ‘Signature Style,’ and include a month-by-month recap that notes my biggest hyperfixation, favorite topic, or mood shift for each month. Keep the tone playful and witty, with bold headings, emojis, and short punchy commentary like Spotify does.”

Prompt tersebut meminta ChatGPT untuk menganalisis riwayat percakapan (berdasarkan data yang diingat dalam sesi obrolan tersebut) dan menyajikannya dalam format yang menarik. Pengguna juga didorong untuk berkreasi dengan menambahkan kategori sendiri, seperti estimasi total waktu ngobrol, frasa yang paling sering diketik, gaya bahasa favorit, atau kategori humor seperti “Most Repeated Line”, “Top Genre 2025”, hingga “Achievement of the Year”.

Eksposur Digital dan “Pengakuan Dosa” Pengguna

Di balik keseruan, tren ChatGPT Wrapped memunculkan reaksi campur aduk. Banyak warganet justru mengungkapkan rasa lega karena OpenAI tidak merilis fitur Wrapped resmi. Kekhawatiran utama adalah rasa “terekspos” berlebihan jika seluruh riwayat percakapan dianalisis dan dirangkum secara otomatis oleh sistem.

Kolom komentar berbagai unggahan dipenuhi candaan sekaligus kecemasan. Pengguna membayangkan rasa malunya jika ChatGPT membongkar “pertanyaan paling bodoh” yang pernah diajukan atau kesalahan yang terus diulang. Beberapa bahkan menjadikannya sebagai ruang “pengakuan dosa” digital, dengan menuliskan frasa-frasa andalan mereka saat berinteraksi dengan AI.

Frasa-frasa klasik yang sering disebut antara lain “buat jadi narasi”, “persingkat tapi jangan hilangkan poin penting”, “pakai bahasa manusia”, “is my grammar correct?”, “sumbernya mana?”, “buatin caption yang sesuai fotoku”, hingga “dia bales gini, aku balas apa”. Pola ini menunjukkan ketergantungan sekaligus pola penggunaan yang khas pada alat bantu seperti ChatGPT, yang kini semakin terintegrasi dalam workflow sehari-hari, mirip dengan bagaimana Canva diintegrasikan ke dalam ChatGPT untuk kemudahan desain.

Fenomena ini juga mengingatkan pada kompleksitas dan “kotak hitam” di balik teknologi AI. Seperti yang diakui oleh pemain lain di industri, bahkan para pembuatnya pun tidak sepenuhnya memahami bagaimana model AI tertentu bekerja secara mendalam. Kreativitas pengguna dalam memanfaatkan ChatGPT untuk hal-hal yang tidak terduga, seperti membuat Wrapped pribadi ini, adalah contoh nyata dari sifat adaptif teknologi yang masih terus dipelajari.

Tren ChatGPT Wrapped 2025, pada akhirnya, lebih dari sekadar lelucon media sosial. Ia adalah cermin digital dari kebiasaan, prioritas, dan bahkan kecemasan pengguna teknologi AI. Ia menunjukkan keinginan untuk personalisasi dan refleksi, sekaligus menyodorkan pertanyaan penting tentang batasan antara kemudahan dan privasi dalam era di mana percakapan kita dengan mesin bisa menjadi arsip yang suatu hari “dirangkum”.

Motorola Moto G Power (2026) Resmi: Baterai 5.200 mAh, Peningkatan Minimal

0

Telset.id – Motorola secara resmi meluncurkan Moto G Power (2026) sebagai penerus model tahun 2025. Ponsel yang mengusung tagline ketangguhan dan daya tahan baterai ini hadir dengan peningkatan kapasitas baterai menjadi 5.200 mAh, namun sebagian besar spesifikasi intinya masih identik dengan pendahulunya. Smartphone ini mulai dijual di Amerika Serikat dengan harga 299,99 dollar AS atau sekitar Rp 5 juta.

Peluncuran Moto G Power (2026) ini mengikuti jejak dua varian lain dalam seri G 2026, yaitu Moto G (2026) dan Moto G Play (2026), yang telah diumumkan Motorola pada awal November 2025 lalu. Meski disebut sebagai generasi baru, perubahan yang dibawa terbilang sangat konservatif, bahkan bisa dibilang hanya pembaruan tahunan yang bersifat minor. Seperti yang pernah dibocorkan sebelumnya, ponsel ini lebih menitikberatkan pada penyempurnaan ketimbang revolusi desain atau performa.

Motorola menegaskan bahwa fokus utama Moto G Power (2026) adalah pada pengalaman baterai yang tahan lama. Perusahaan mengklaim baterai 5.200 mAh tersebut mampu mempertahankan 80 persen kapasitas aslinya bahkan setelah melalui 1.000 siklus pengisian penuh. Peningkatan 200 mAh dari kapasitas 5.000 mAh pada Moto G Power (2025) ini didukung teknologi fast charging 30 watt.

Spesifikasi yang Hampir Identik dengan Pendahulu

Di balik klaim ketangguhan baterainya, spesifikasi perangkat keras Moto G Power (2026) nyaris tak berubah. Ponsel ini masih ditenagai oleh chipset MediaTek 6300, dipadukan dengan konfigurasi memori 8 GB RAM dan penyimpanan internal 128 GB yang dapat diperluas via kartu microSD hingga 1 TB. Pilihan chipset ini menempatkannya di segmen menengah-bawah, dengan fokus pada efisiensi daya.

Layar yang disematkan juga sama: panel LCD berukuran 6,8 inci dengan resolusi Full HD Plus, refresh rate 120 Hz, dan kecerahan puncak hingga 1.000 nits. Layar tersebut dilindungi oleh kaca Gorilla Glass 7i. Motorola menekankan ketangguhan perangkat ini dengan sertifikasi ketahanan MIL-STD-810H yang mencakup 14 kategori pengujian, serta sertifikasi tahan debu dan air IP68 dan IP69.

Pada sektor kamera, Moto G Power (2026) tetap mengandalkan konfigurasi ganda di belakang: sensor utama 50 MP dengan stabilisasi optis (OIS) dan sensor ultrawide 8 MP yang juga berfungsi sebagai lensa makro. Untuk keperluan selfie dan panggilan video, terdapat kamera depan 32 MP yang ditempatkan dalam punch-hole di layar. Konfigurasi ini persis seperti yang digunakan pada model tahun sebelumnya.

Pasar dan Posisi di Tengah Persaingan Ketat

Dengan harga sekitar Rp 5 juta, Moto G Power (2026) masuk ke dalam segmen mid-range yang sangat kompetitif. Kehadirannya dengan spesifikasi yang hampir tidak berubah menimbulkan pertanyaan tentang strategi Motorola dalam menghadapi rival-rival yang semakin agresif, seperti seri Honor Power 2 yang dikabarkan membawa baterai raksasa 10.000 mAh. Di sisi lain, Motorola tampaknya memilih pendekatan aman dengan mempertahankan formula yang sudah terbukti di pasar tertentu, khususnya Amerika Serikat.

Ponsel ini berjalan menggunakan sistem operasi Android 16 terbaru. Fitur pendukung lainnya mencakup speaker stereo dengan Dolby Atmos, jack audio 3,5 mm, asisten AI Google Gemini, serta konektivitas 5G, Wi-Fi, dan Bluetooth. Moto G Power (2026) hadir dalam dua pilihan warna eksklusif hasil kolaborasi dengan Pantone: Pure Cashmere dan Evening Blue.

Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari Motorola mengenai rencana kehadiran Moto G Power (2026) di pasar Indonesia. Peluncuran yang terbatas di AS ini mengindikasikan bahwa vendor mungkin sedang menguji respons pasar sebelum memperluas distribusinya. Bagi penggemar Motorola yang menantikan inovasi lebih signifikan, mungkin perlu menunggu model flagship seperti Motorola Edge 70 Ultra yang dikabarkan membawa chipset Snapdragon 8 Gen 5.