Beranda blog Halaman 281

iPhone 19 Pro Masih Pakai Punch-Hole, Kapan Layar Bezel-less Hadir?

Telset.id – Impian memiliki iPhone dengan layar benar-benar bezel-less mungkin harus ditunda lagi. Bocoran terbaru mengindikasikan bahwa iPhone 19 Pro, yang dijadwalkan rilis pada 2027 untuk memperingati 20 tahun iPhone, masih akan menggunakan kamera depan model punch-hole. Artinya, desain layar penuh tanpa gangguan yang dinanti-nanti penggemar Apple belum akan terwujud dalam waktu dekat.

Sebelumnya, banyak spekulasi menyebut Apple sedang mempersiapkan iPhone futuristik dengan teknologi under-display untuk Face ID dan kamera depan. Namun, analis industri ternama Ross Young kini meredam ekspektasi tersebut. Menurutnya, Apple baru akan mulai menempatkan sebagian komponen Face ID di bawah layar pada iPhone 18 Pro tahun 2026, yang akan sedikit mengurangi ukuran Dynamic Island. Namun, kamera depan sendiri diperkirakan baru benar-benar tersembunyi di bawah layar pada 2030.

Kendala Teknologi Under-Display Camera

Penundaan ini terutama disebabkan oleh keterbatasan teknologi kamera under-display saat ini. Beberapa ponsel seperti Nubia Z70 Ultra sudah menggunakan pendekatan ini, tetapi kualitas kameranya cenderung menurun—sesuatu yang tidak mungkin dikompromikan Apple. Young memperkirakan, semua sensor Face ID baru akan sepenuhnya berada di bawah layar pada seri iPhone 20 di 2028, sementara layar tanpa gangguan sama sekali baru akan hadir di iPhone 22 pada 2030.

Upgrade Besar iPhone 19 Pro

Meski desain layarnya belum sempurna, iPhone 19 Pro tetap diprediksi membawa sejumlah peningkatan signifikan. Laporan menyebutkan ponsel ini akan ditenagai chipset A21 Pro berbasis proses 2nm, RAM 12GB, dan bodi lebih ramping dengan ketebalan hanya 7,2mm. Di sisi perangkat lunak, iPhone 19 Pro kemungkinan akan diluncurkan dengan iOS 21 yang mengandalkan fitur-fitur berbasis AI.

Jadi, meski Apple perlahan mendekati impian layar bezel-less dengan mengurangi ukuran cutout dalam beberapa tahun ke depan, penggemar yang menginginkan tampilan bersih tanpa gangguan harus bersabar lebih lama. Pertanyaannya, apakah strategi hati-hati Apple ini akan terbayar—atau justru memberi kesempatan pesaing untuk unggul lebih dulu? Simak terus perkembangan terbarunya di Telset.id.

Xiaomi YU7 SUV Resmi Meluncur: Desain Mewah, Performa Gahar

Telset.id – Xiaomi tidak main-main dalam dunia otomotif. Setelah sukses dengan SU7, perusahaan asal China ini kembali mengguncang pasar dengan meluncurkan SUV pertama mereka, Xiaomi YU7. Mobil ini bukan sekadar kendaraan listrik biasa, melainkan sebuah mahakarya yang menggabungkan desain futuristik, teknologi canggih, dan performa mengagumkan.

Xiaomi YU7 hadir dalam tiga varian: Standard (RWD), Pro (AWD), dan Max (high-performance AWD). Ketiganya menawarkan pengalaman berkendara yang berbeda, mulai dari efisiensi hingga kecepatan tinggi. Pre-order sudah dibuka melalui aplikasi Xiaomi EV dan WeChat Mini Program, menandai babak baru Xiaomi di industri otomotif.

Desain yang Memikat dan Pilihan Warna Eksklusif

Xiaomi YU7 mengusung desain low-slung dengan proporsi seimbang dan stance yang lebar. Tersedia sembilan pilihan warna eksklusif, termasuk Basalt Gray, Lava Orange, Titanium Silver, Emerald Green, Pearl White, Dusk Purple, dan Dawn Pink. Setiap warna memberikan kesan berbeda, mulai dari elegan hingga sporty.

Xiaomi YU7 dalam warna Lava Orange

Untuk roda, Xiaomi menyediakan pilihan mulai dari 19 hingga 21 inci dengan berbagai desain dan tipe ban. Varian Max bahkan menawarkan ban performa tinggi Michelin Pilot Sport EV untuk pengendaraan yang lebih agresif.

Interior Mewah dengan Fitur Canggih

Kabin YU7 didesain untuk kenyamanan maksimal. Xiaomi menggunakan material soft-touch bersertifikasi OEKO-TEX® Class 1, sementara jok dibalut dengan kulit Nappa premium. Pengemudi bisa memilih kursi zero-gravity dengan fitur recline dan pijat, sementara kursi belakang bisa direbahkan hingga 135° dan dilipat rata untuk membentuk tempat tidur sepanjang 1,8 meter.

Fitur penyimpanan juga tak kalah mengesankan. YU7 memiliki bagasi depan 141L, bagasi belakang 687L, dan kapasitas maksimal 1.758L ketika kursi belakang dilipat. Tak lupa, Xiaomi menyematkan teknologi canggih seperti dual wireless charging 80W, kulkas 4,6L, sistem audio Dolby Atmos 25-speaker, dan filter kabin HEPA seluas 2,2m².

Performa Gahar dan Teknologi Charging Super Cepat

Varian Max menggunakan HyperEngine V6s Plus milik Xiaomi, mampu melesat dari 0-100 km/jam hanya dalam 3,23 detik dengan kecepatan maksimal 253 km/jam. Untuk jarak tempuh, varian Standard menawarkan CLTC range hingga 835 km, sementara versi AWD mencapai 770 km.

Interior mewah Xiaomi YU7 dengan layar panoramic

Teknologi charging 800V memungkinkan pengisian baterai dari 10-80% hanya dalam 12 menit, atau menambah jarak tempuh hingga 620 km dalam 15 menit. Xiaomi juga membekali YU7 dengan Smart Chassis yang mencakup adaptive suspension, Smart Ride Control, dan Motion Sickness Relief Mode untuk kenyamanan berkendara.

Integrasi Ekosistem Xiaomi dan Fitur Keselamatan

YU7 menjalankan sistem HyperVision Panoramic Display dengan tiga layar Mini LED. Fitur unggulan termasuk Hyper XiaoAI voice assistant, kontrol suara lima-zona, dan perintah suara dari luar mobil. Pengguna Apple juga mendapat keuntungan dengan dukungan CarPlay multi-layar, remote unlocking, dan integrasi Apple Watch.

Untuk keselamatan, YU7 dilengkapi dengan LiDAR, radar milimeter-wave 4D, 11 kamera HD, dan 12 sensor ultrasonik. Struktur bodinya menggunakan baja ultra-kuat 2200 MPa dan kombinasi baja-aluminium dengan torsional stiffness 47.610 N·m/deg. Xiaomi mengklaim YU7 telah melalui lebih dari 50 tes tabrakan dan 6,49 juta km uji jalan dalam berbagai kondisi ekstrem.

Tak tanggung-tanggung, YU7 Max bahkan memecahkan rekor ketahanan EV 24 jam dengan menempuh 3.944 km dalam satu hari di bawah pengawasan resmi. Ini membuktikan keandalan powertrain dan baterai buatan Xiaomi.

Harga YU7 dimulai dari RMB 253.500 (sekitar Rp 550 juta) untuk varian Standard, RMB 279.900 (Rp 608 juta) untuk Pro, dan RMB 329.900 (Rp 717 juta) untuk Max. Dengan segudang fitur dan performa yang ditawarkan, YU7 siap menjadi pesaing serius di pasar SUV listrik premium.

Bocoran Chipset Flagship 2025: Apple, Qualcomm, MediaTek, dan Huawei Siap Bertarung

Telset.id – Jika Anda mengira persaingan chipset flagship tahun ini sudah panas, bersiaplah untuk gelombang baru di paruh kedua 2025. Bocoran terbaru dari tipster ternama Digital Chat Station (DCS) mengungkapkan, raksasa teknologi seperti Apple, Qualcomm, MediaTek, dan Huawei tengah mempersiapkan senjata andalan mereka.

Menurut DCS, Apple akan mempertahankan tradisi peluncuran tahunan dengan menghadirkan A19 Pro pada September mendatang. Tak mau ketinggalan, Qualcomm diprediksi akan merilis Snapdragon 8 Elite 2 (kode internal SM8850) tak lama setelahnya. Kedua chipset ini kabarnya akan dibangun di atas proses manufaktur N3P milik TSMC, penyempurnaan dari teknologi 3nm yang ada saat ini.

Ilustrasi chipset flagship 2025 dari berbagai vendor

Peningkatan Signifikan di Segi Performa dan Efisiensi

DCS menyebutkan, chipset-chipset terbaru ini tidak hanya menawarkan peningkatan frekuensi (kecepatan clock) yang signifikan, tetapi juga efisiensi energi yang lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya. Ini menjadi kabar gembira bagi penggemar gadget yang menginginkan performa tinggi tanpa harus mengorbankan daya tahan baterai.

MediaTek juga tak mau kalah. Vendor asal Taiwan ini dikabarkan akan meluncurkan Dimensity 9500 pada akhir September. Sementara itu, Huawei mungkin menjadi yang paling misterius dengan rencana peluncuran Kirin 9030 mendekati akhir tahun. Seperti biasa, Huawei cenderung merahasiakan detail spesifikasi chipset mereka hingga saat peluncuran resmi.

Kejutan dari Xiaomi dan Apple

Yang menarik, bocoran ini juga menyentuh perkembangan dari Xiaomi. DCS mengungkapkan bahwa CEO Xiaomi Lei Jun ternyata tidak menyangka performa chipset XRING O1 buatan mereka akan sebaik itu. Awalnya, Xiaomi bahkan tidak berencana mengembangkan generasi berikutnya. Namun, kabarnya XRING O2 sedang dalam persiapan dan diprediksi akan “lebih populer” daripada pendahulunya.

Sementara itu, laporan terpisah dari IT Home menyebutkan Apple sedang mempersiapkan chipset M5 untuk iPad Pro dan MacBook Pro baru yang rencananya akan dirilis musim gugur ini. Namun, update kali ini mungkin hanya terfokus pada peningkatan prosesor tanpa perubahan signifikan pada desain hardware atau fitur lainnya.

Dengan timeline yang beredar, keempat chipset flagship ini diprediksi akan membanjiri pasar antara akhir 2025 hingga awal 2026. Pertanyaannya sekarang: vendor mana yang akan menjadi yang terdepan dalam perlombaan teknologi kali ini?

Samsung Galaxy Tab S11 Ultra Bocor: MediaTek Dimensity 9400+ dan Performa Gahar

Telset.id – Bocoran terbaru mengungkap Samsung Galaxy Tab S11 Ultra akan hadir dengan chipset MediaTek Dimensity 9400+, menandakan pergeseran strategi besar-besaran dari Qualcomm Snapdragon. Apakah ini akhir dari dominasi Snapdragon di lini tablet premium Samsung?

Daftar Geekbench dengan kode model SM-X936B mengkonfirmasi spesifikasi inti tablet flagship tersebut. Dimensity 9400+ hadir dengan konfigurasi inti 1+3+4, dipimpin oleh Cortex-X925 berkecepatan 3.73GHz, didukung tiga inti 3.3GHz dan empat inti efisiensi 2.4GHz. GPU Immortalis-G925 12-core dan kemampuan AI hingga 59 TOPS menjadikannya salah satu chipset paling powerful tahun ini.

Performa CPU-nya mencetak 2.675 poin (single-core) dan 8.039 (multi-core), melampaui pendahulunya, Galaxy Tab S10 Ultra yang hanya mencapai 2.200 dan 7.500 poin. Lonjakan signifikan ini bisa menjadi game changer di pasar tablet Android.

Spesifikasi Lengkap yang Membuat iPad Pro Ketar-Ketir

Selain chipset, Tab S11 Ultra dikabarkan akan membawa:

  • RAM 12GB LPDDR5X (opsional hingga 16GB)
  • Android 16 dengan One UI 8 out-of-the-box
  • Layar AMOLED 14.8″ resolusi 2.9K dan 120Hz
  • Baterai 11.374mAh (lebih besar 174mAh dari generasi sebelumnya)

Strategi Baru Samsung: Mengapa Beralih ke MediaTek?

Pergeseran ke Dimensity 9400+ bukan tanpa alasan. Chipset ini menawarkan:

  • Efisiensi daya lebih baik
  • Dukungan AI on-device yang mumpuni
  • Harga yang mungkin lebih kompetitif

Rilis diperkirakan September-Oktober 2024, menyusul peluncuran seri Z Fold7/Flip7 pada Juli. Dengan spesifikasi ini, Samsung jelas ingin merebut tahta tablet premium dari iPad Pro. Pertanyaannya: apakah strategi baru mereka akan berhasil?

Samsung Galaxy S26 Ultra Bakal Atasi Masalah S Pen yang Mengganggu Selama Ini

Telset.id – Jika Anda pengguna setia seri Galaxy Note atau Ultra, pasti pernah merasakan frustrasi saat S Pen tiba-tiba tidak responsif karena gangguan magnetik. Kabar baik datang dari Samsung: bocoran terbaru mengindikasikan Galaxy S26 Ultra akan membawa solusi permanen untuk masalah klasik ini.

Menurut tipster ternama @PandaFlashPro di X, Samsung sedang mengembangkan teknologi S Pen atau digitizer baru yang dirancang khusus untuk mengatasi interferensi magnetik dari aksesori seperti casing atau wireless charger. Gangguan ini telah menjadi momok selama lebih dari satu dekade—mulai dari dead zone hingga sensitivitas yang tidak konsisten.

Magnet: Musuh Bebuyutan S Pen

Meski Galaxy S25 Ultra mendukung standar Qi2 melalui aksesori pihak ketiga, Samsung tetap memperingatkan pengguna tentang potensi gangguan magnetik di area S Pen. Uniknya, flagship terbaru ini sengaja tidak dilengkapi magnet internal untuk menghindari masalah tersebut—sebuah keputusan yang justru memaksa pengguna bergantung pada casing magnetik.

“Jika Samsung berhasil mengatasi keterbatasan ini, S26 Ultra bisa jadi yang pertama mengintegrasikan magnet internal tanpa kompromi,” ujar seorang analis industri yang enggan disebutkan namanya. Langkah ini tidak hanya menyederhanakan ekosistem aksesori, tetapi juga membuka lebih banyak pilihan desain dan harga untuk konsumen.

Teknologi Pendahulu di Fold 7?

Menariknya, solusi serupa dikabarkan akan debut lebih dulu di Galaxy Z Fold 7 yang rencananya diluncurkan pada Galaxy Unpacked 9 Juli 2025 di New York. Meski Fold 7 tidak memiliki slot S Pen bawaan, kehadiran teknologi ini bisa menjadi fondasi untuk implementasi lebih matang di S26 Ultra.

Spekulasi lain menyebutkan kemungkinan integrasi lebih dalam dengan cincin magnetik Qi2 untuk meningkatkan kompatibilitas pengisian nirkabel. Namun, detail teknis seperti sistem pelacakan canggih atau modifikasi digitizer masih menjadi misteri.

Selain upgrade S Pen, S26 Ultra diprediksi mengusung chipset Exynos 2600 berproses 2nm, RAM 16GB, dan baterai berkapasitas “di bawah 5.400mAh”. Seperti dilaporkan sebelumnya, pertarungan chipset ini bisa menjadi penentu performa flagship Samsung di tahun 2026.

Dengan jadwal rilis awal 2026, apakah solusi S Pen ini akan memenuhi harapan pengguna? Jawabannya masih terbuka. Tapi satu hal pasti: setelah bertahun-tahun mengeluh, fans berat seri Ultra akhirnya bisa bernapas lega.

Samsung Tri-Fold Bakal Pakai Titanium & Snapdragon 8 Elite, Tapi Tanpa Kamera Under-Display

Telset.id – Samsung sedang bersiap meluncurkan ponsel lipat tiga layar (tri-fold) pertama mereka akhir tahun ini. Bocoran terbaru mengungkap, perangkat premium ini akan mengusung rangka titanium dan chipset Snapdragon 8 Elite, meski tanpa fitur kamera under-display yang sempat diharapkan.

Menurut informasi dari leaker terpercaya @PandaFlashPro di X, ponsel tri-fold Samsung akan menggunakan kombinasi titanium dan aluminium untuk rangka dan bodinya. Material ini dipilih untuk meningkatkan daya tahan — aspek krusial untuk perangkat lipat berukuran besar. Titanium sendiri bukan hal baru bagi Samsung, mengingat material ini sudah digunakan di seri Galaxy S Ultra terbaru.

Spesifikasi Unggulan dengan Kompromi

Di bagian dapur pacu, ponsel ini diperkirakan akan ditenagai Snapdragon 8 Elite — chipset flagship Qualcomm yang juga akan menghidupi Galaxy S25. Bocoran menyebut chipset ini akan dipasangkan dengan RAM LPDDR5X berkapasitas 16GB, kombinasi yang dijamin mampu menangani multitasking berat, gaming, dan fitur AI canggih.

Namun, ada satu fitur yang tampaknya absen: kamera under-display (UDC). Alih-alih menggunakan teknologi ini, Samsung dikabarkan akan tetap mempertahankan kamera punch-hole dengan sensor 12MP. Keputusan ini sejalan dengan rumor bahwa Samsung mulai mengurangi ketergantungan pada UDC karena berbagai keterbatasan teknis — tren yang juga terlihat pada bocoran Galaxy Z Fold7.

Baterai dan Jadwal Peluncuran

Detail tentang baterai masih simpang siur, tetapi spekulasi awal menyebut Samsung mungkin akan menggunakan baterai konvensional alih-alih teknologi terbaru seperti sel silikon-karbon atau baterai solid-state yang masih dalam pengembangan. Kapasitasnya diperkirakan sekitar 4.400 mAh — angka yang cukup menantang untuk perangkat dengan tiga layar.

Untuk jadwal, tri-fold Samsung mungkin akan diperkenalkan secara singkat dalam acara Galaxy Unpacked pada 9 Juli di New York, bersama Z Fold7 dan Z Flip7. Peluncuran penuhnya sendiri dikabarkan akan berlangsung pada Oktober, setidaknya untuk pasar terpilih seperti China dan Korea Selatan.

Dengan harga yang diperkirakan mencapai $2.800 (sekitar Rp45 juta), ponsel ini jelas menargetkan segmen ultra-premium. Samsung tampaknya ingin bersaing ketat dengan rival seperti Huawei Mate XT, mengandalkan inovasi fitur software sebagai nilai tambah.

Lantas, apakah Anda termasuk yang menantikan kehadiran ponsel tri-fold ini? Atau justru berpikir bahwa teknologi lipat masih terlalu mahal untuk saat ini? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar!

Resident Evil Requiem: Awalnya Open-World, Kini Kembali ke Akar Seri

Telset.id – Kabar mengejutkan datang dari Capcom. Resident Evil Requiem, yang sebelumnya dikabarkan sebagai game open-world, ternyata memang sempat dikembangkan dengan konsep tersebut. Namun, tim pengembang memutuskan untuk kembali ke formula klasik seri ini setelah menyadari itu bukan yang diinginkan penggemar.

Dalam video Creator’s Message yang eksklusif di Resident Evil Portal, direktur Koshi Nakanishi mengungkapkan bahwa rumor tentang Resident Evil 9 (kini bernama Resident Evil Requiem) sebagai game open-world memang benar adanya. “Kami menghabiskan waktu untuk bereksperimen dengan konsep itu,” kata Nakanishi. “Tapi akhirnya kami sadar, ini bukan yang diharapkan fans.”

Koshi Nakanishi menjelaskan konsep Resident Evil Requiem

Keputusan ini membuat Resident Evil Requiem akan tetap menjadi game single-player offline, seperti yang ditekankan produser Masachika Kawata. Langkah ini patut diapresiasi di era dimana banyak publisher memaksakan elemen online ke franchise yang awalnya single-player.

Fenomena ini mengingatkan pada kasus Dragon Age: The Veilguard yang sempat dipaksa menjadi game live-service oleh EA sebelum akhirnya kembali ke konsep RPG single-player. Bedanya, Capcom menyadari kesalahan ini lebih awal dalam pengembangan.

Kembalinya Resident Evil ke formula klasik ini patut disyukuri. Dalam beberapa tahun terakhir, Capcom konsisten merilis game berkualitas tinggi. Keputusan untuk mendengarkan keinginan fans menunjukkan bahwa publisher ini masih memiliki integritas kreatif yang tinggi.

Lantas, bagaimana jika Capcom bersikeras dengan konsep open-world? Mungkin kita akan melihat Resident Evil yang sangat berbeda – mungkin lebih mirip dengan Wheel of Time atau bahkan Assassin’s Creed versi survival horror. Untungnya, itu tidak terjadi.

Resident Evil Requiem akan membawa pemain kembali ke Raccoon City dengan gameplay yang lebih familiar. Game ini akan menawarkan pengalaman baik dari perspektif first-person maupun third-person, menunjukkan bahwa meski kembali ke akar, Capcom tetap berinovasi.

Keputusan kreatif ini patut menjadi pelajaran bagi industri game. Terkadang, mendengarkan fans dan tetap setia pada DNA franchise justru menghasilkan karya yang lebih baik daripada sekadar mengikuti tren.

Google Luncurkan Offerwall, Solusi untuk Penerbit yang Terdampak AI Overviews

0

Telset.id – Jika Anda adalah penerbit atau konten kreator yang merasakan penurunan trafik sejak Google memperkenalkan fitur AI Overviews, kabar terbaru ini mungkin bisa menjadi angin segar. Google kini meluncurkan Offerwall, sebuah alat baru yang dirancang khusus untuk membantu penerbit mendapatkan kembali pendapatan mereka yang tergerus oleh dominasi pencarian berbasis AI.

Sejak diperkenalkan awal 2024, AI Overviews telah mengubah cara pengguna mengakses informasi. Fitur ini menyajikan ringkasan langsung di halaman hasil pencarian, membuat pengguna tidak perlu lagi mengklik tautan ke situs asli. Praktis, trafik organik ke situs penerbit pun merosot tajam. Seperti yang pernah kami bahas dalam artikel AI Mengubah Ekonomi Internet, dampaknya terhadap bisnis digital sangat signifikan.

Google introduces Offerwall to help publishers

Bagaimana Offerwall Bekerja?

Offerwall adalah solusi yang memungkinkan penerbit memonetisasi konten mereka tanpa bergantung sepenuhnya pada iklan atau kunjungan situs. Dengan alat ini, penerbit dapat memasang paywall atau sign-in wall, mengharuskan pengguna untuk berlangganan, login, atau menyelesaikan tindakan tertentu sebelum mengakses konten premium.

Google mengklaim bahwa Offerwall telah diuji coba pada ribuan penerbit dengan berbagai jenis konten dan wilayah. Alat ini tersedia gratis melalui Google Ad Manager, memberikan fleksibilitas bagi penerbit untuk menyesuaikan model akses sesuai kebutuhan mereka. Misalnya, penerbit bisa meminta pembaca membuat akun untuk membangun hubungan yang lebih dalam.

Dampak AI Overviews terhadap Industri Penerbitan

AI Overviews memang memudahkan pengguna, tetapi di sisi lain, fitur ini telah memicu kekhawatiran besar di kalangan penerbit. Seperti yang terjadi pada Google Ask Photos, inovasi AI seringkali memiliki konsekuensi yang tidak terduga. Banyak penerbit mengandalkan trafik organik dari Google untuk menghasilkan pendapatan melalui iklan, dan penurunan kunjungan berarti penurunan pendapatan.

Offerwall hadir sebagai upaya Google untuk memulihkan kepercayaan dengan ekosistem penerbitan. Namun, apakah solusi ini cukup? Beberapa analis berpendapat bahwa penerbit masih perlu mencari strategi diversifikasi pendapatan jangka panjang, terutama mengingat perkembangan pesat teknologi AI seperti yang terlihat pada ekspansi Audio Overviews di Gemini.

Bagaimana pendapat Anda? Apakah Offerwall bisa menjadi solusi berkelanjutan, atau hanya sekadar tempelan untuk masalah yang lebih besar?

OpenAI Beralih ke Google TPU untuk Tekan Biaya AI, Apa Dampaknya?

0

Telset.id – Jika Anda mengira persaingan di dunia AI hanya soal model dan algoritma, siap-siap terkejut. Laporan terbaru dari The Information mengungkapkan bahwa OpenAI diam-diam telah beralih menggunakan Tensor Processing Unit (TPU) milik Google untuk menjalankan ChatGPT dan produk AI lainnya. Langkah ini disebut-sebut sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada GPU NVIDIA yang harganya selangit.

Selama ini, OpenAI dikenal sebagai mitra utama Microsoft dan Oracle dalam hal infrastruktur komputasi AI. Kedua perusahaan tersebut menyediakan akses ke GPU NVIDIA untuk pelatihan dan inferensi model AI. Namun, rupanya biaya operasional yang membengkak membuat OpenAI mencari alternatif. Di sinilah Google masuk dengan TPU-nya.

Google TPU generasi ketujuh yang digunakan untuk AI

Mengapa OpenAI Beralih ke Google TPU?

Menurut sumber anonim yang dikutip The Information, OpenAI mulai menggunakan TPU Google dalam beberapa bulan terakhir. Alasan utamanya sederhana: efisiensi biaya. NVIDIA memang masih menjadi raja di pasar chip AI, tetapi harga GPU-nya yang tinggi dan pasokan yang terbatas membuat banyak perusahaan, termasuk OpenAI, mencari opsi lain.

Google sendiri meluncurkan TPU generasi ketujuh pada April lalu, yang diklaim sebagai chip AI pertama mereka yang dioptimalkan untuk inferensi. Chip ini sebelumnya juga digunakan Apple untuk melatih platform Apple Intelligence. Meski Google belum menyewakan TPU terbarunya ke OpenAI, langkah ini tetap menjadi sinyal menarik dalam persaingan industri AI.

Dampak terhadap NVIDIA dan Pasar AI

Jika Google berhasil menarik lebih banyak perusahaan untuk menggunakan TPU-nya, dominasi NVIDIA di pasar chip AI bisa tergoyahkan. NVIDIA memang masih unggul dalam hal performa, tetapi harga dan ketersediaannya menjadi kendala besar. Google, dengan infrastruktur cloud-nya, bisa menjadi pesaing serius.

Selain itu, langkah OpenAI ini juga menunjukkan betapa dinamisnya industri AI. Tidak hanya soal model dan algoritma, tetapi juga infrastruktur pendukungnya. Seperti yang terjadi dengan Huawei Ascend 910D, persaingan di level hardware semakin sengit.

Ilustrasi persaingan chip AI antara Google, NVIDIA, dan Huawei

Lalu, apa artinya bagi pengguna akhir? Jika biaya operasional AI bisa ditekan, bukan tidak mungkin layanan seperti ChatGPT akan menjadi lebih murah atau setidaknya tidak mengalami kenaikan harga. Namun, ini masih spekulasi. Yang pasti, persaingan antara raksasa teknologi dalam hal AI semakin panas.

Bagaimana pendapat Anda? Apakah langkah OpenAI ini akan mengubah peta persaingan AI secara signifikan? Atau NVIDIA tetap akan menjadi pemain utama? Simak terus perkembangan terbaru di Telset.id.

Poco F7 vs iQOO Neo 10: Mana yang Lebih Layak di Bawah $500?

Telset.id – Di tengah maraknya smartphone flagship dengan harga selangit, Poco F7 dan iQOO Neo 10 muncul sebagai jawaban bagi mereka yang ingin performa tinggi tanpa merogoh kocek terlalu dalam. Keduanya dibekali Snapdragon 8s Gen 4, fitur premium, dan harga sekitar $400. Tapi, mana yang lebih layak jadi pilihan?

1. Desain dan Layar: Ketangguhan vs Kecerahan

Poco F7 unggul dalam hal ketangguhan dengan bodi kaca Gorilla Glass 7i dan rangka aluminium, dilengkapi sertifikasi IP68 yang tahan air dan debu. Sementara itu, iQOO Neo 10 mengandalkan bodi plastik dengan perlindungan IP65 dan sertifikasi MIL-STD-810H. Meski Neo 10 mengklaim lebih tahan guncangan, Poco F7 tetap lebih premium untuk penggunaan sehari-hari.

Di sisi layar, iQOO Neo 10 menawarkan refresh rate 144Hz dan kecerahan puncak 4400 nit, mengalahkan Poco F7 yang hanya 120Hz dan 3200 nit. Namun, Poco F7 punya keunggulan dengan dukungan Dolby Vision dan layar lebih besar (6,83 inci), cocok untuk penggemar konten. Standar baru Google untuk perangkat Android mungkin membuat keduanya semakin kompetitif.

2. Performa dan Baterai: Sama Kencang, Tapi Charging Beda

Keduanya menggunakan chipset Snapdragon 8s Gen 4 dan GPU Adreno 825, sehingga performa gaming dan multitasking nyaris identik. Namun, iQOO Neo 10 menawarkan varian RAM hingga 16GB, cocok untuk power users. Poco F7 hadir dengan baterai 6500 mAh (7550 mAh di India) dan fast charging 90W, sedangkan Neo 10 punya baterai 7000 mAh dengan charging 120W yang bisa mengisi 50% dalam 15 menit.

Jika Anda sering bepergian dan butuh pengisian cepat, Neo 10 jelas lebih unggul. Namun, Poco F7 bisa jadi pilihan bagi yang mengutamakan kapasitas baterai besar, terutama di India. Xiaomi Xring O1 mungkin menjadi pesaing lain di segmen ini.

3. Kamera: Selfie vs Low-Light

Kamera utama keduanya sama-sama 50MP dengan OIS, tapi Poco F7 memiliki aperture lebih lebar (f/1.5) untuk hasil low-light lebih baik. Di sisi lain, iQOO Neo 10 unggul di kamera selfie dengan sensor 32MP yang bisa merekam 4K, sementara Poco F7 hanya 20MP dengan rekaman 1080p.

Bagi yang sering vlog atau video call, Neo 10 lebih direkomendasikan. Namun, Poco F7 tetap unggul untuk fotografi malam hari. itel A90 mungkin bisa jadi alternatif budget-friendly jika kamera bukan prioritas utama.

4. Kesimpulan: Pilih Sesuai Kebutuhan

Poco F7 cocok untuk yang menginginkan desain premium, ketahanan lebih baik, dan baterai besar. Sementara iQOO Neo 10 lebih unggul dalam hal kecepatan charging, refresh rate layar, dan kamera selfie. Keduanya menawarkan nilai terbaik di kelasnya, tapi jika Anda butuh performa ekstrem dan pengisian super cepat, Neo 10 adalah pilihan tepat.

Xiaomi 15 Ultra Hadir dengan Warna Baru dan Grip Kamera yang Lebih Ergonomis

Telset.id – Xiaomi kembali membuat gebrakan dengan menghadirkan varian warna baru untuk Xiaomi 15 Ultra, ponsel flagship yang bekerja sama dengan Leica. Tidak hanya sekadar perubahan warna, perangkat ini juga dilengkapi dengan grip kamera yang lebih ringan dan ergonomis, menjadikannya pilihan menarik bagi para penggemar fotografi smartphone.

Jika sebelumnya Xiaomi 15 Ultra hanya tersedia dalam warna hitam, putih, dan silver, kini ponsel ini hadir dengan tiga pilihan warna baru yang lebih berani: ungu, aquamarine, dan cokelat. Desain dua warna dengan bagian belakang berbahan vegan leather dan strip silver di bagian atas tetap dipertahankan, memberikan kesan vintage yang kuat seperti kamera klasik. Ini adalah sentuhan yang jelas dari kolaborasi Xiaomi dan Leica, yang semakin memperkuat posisi ponsel ini sebagai perangkat serius untuk fotografi.

Xiaomi 15 Ultra dalam warna ungu dengan grip kamera baru

Selain varian warna baru, Xiaomi juga memperkenalkan “Fashion Photography Kit” yang telah didesain ulang. Grip kamera ini kini lebih ringan, dengan berat hanya 42 gram, dan memiliki bentuk yang lebih ramping. Meskipun kemungkinan tidak dilengkapi dengan baterai internal, grip ini tetap mempertahankan fitur penting seperti tombol shutter yang mendukung half-press untuk autofocus dan pengunci eksposur, serta tombol khusus untuk merekam video. Mode Fastshot juga tetap ada, memungkinkan pengguna mengambil foto dengan cepat, mirip seperti menggunakan kamera profesional.

Dari sisi spesifikasi, Xiaomi 15 Ultra tidak mengalami perubahan. Ponsel ini masih dibekali layar 6,73 inci 2K LTPO AMOLED, chipset Snapdragon 8 Elite, dan baterai berkapasitas 5.410 mAh (6.000 mAh untuk versi Tiongkok) dengan dukungan pengisian cepat 90W kabel dan 80W nirkabel. Sistem kameranya tetap mengandalkan sensor utama 50MP LYT-900 berukuran 1 inci, ultrawide 50MP, telefoto 3x 50MP, dan periskop 200MP dengan zoom 4,3x untuk jangkauan yang lebih jauh.

Harga untuk varian warna baru ini belum diumumkan secara resmi, namun bocoran dari tipster @stufflistings mengindikasikan bahwa Photography Kit di India akan dijual sekitar ₹13.900 (sekitar Rp 2,7 juta). Dengan pembaruan ini, Xiaomi 15 Ultra semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu ponsel dengan kemampuan fotografi terbaik di pasaran.

Pertanyaannya sekarang, apakah pembaruan ini cukup untuk menarik pengguna kamera profesional beralih ke smartphone? Dengan kemampuan hardware yang sudah sangat mumpuni dan dukungan aksesori yang semakin lengkap, Xiaomi 15 Ultra memang layak dipertimbangkan. Namun, bagi mereka yang sudah terlanjur nyaman dengan kamera mirrorless atau DSLR, mungkin masih butuh waktu lebih lama untuk benar-benar beralih.

Jika Anda tertarik membandingkan performa Xiaomi 15 Ultra dengan pesaingnya, simak ulasan lengkapnya di Vivo X200 Ultra vs Xiaomi 15 Ultra: Mana yang Lebih Layak Dibeli? atau Xiaomi 15 Ultra vs Oppo Find X8 Pro: Mana yang Lebih Worth It?.

Samsung Galaxy M36 5G Resmi Dirilis di India dengan Exynos 1380 dan Android 15

Telset.id – Samsung kembali memperkuat jajaran smartphone mid-range-nya dengan meluncurkan Galaxy M36 5G di India. Peluncuran ini datang tepat sebelum acara Galaxy Unpacked pada 9 Juli mendatang, menunjukkan strategi Samsung untuk mendominasi segmen harga menengah dengan spesifikasi premium.

Samsung Galaxy M36 5G

Smartphone terbaru ini membawa sejumlah peningkatan signifikan dibandingkan pendahulunya, terutama di sektor layar, performa, dan fitur perangkat lunak. Layar 6,7 inci Super AMOLED dengan refresh rate 120Hz menjadi salah satu andalannya, dilengkapi proteksi Corning Gorilla Glass Victus+ yang tahan gores dan benturan ringan.

Di balik performanya, Galaxy M36 5G ditenagai chipset Exynos 1380 berbasis proses 5nm yang lebih efisien. Kombinasi dengan Android 15 dan One UI 7 dari Samsung menjanjikan pengalaman pengguna yang mulus. Smartphone ini tersedia dalam dua varian RAM: 6GB dan 8GB, dengan opsi penyimpanan 128GB atau 256GB yang masih bisa diperluas via microSD.

Kamera dan Fitur AI Canggih

Sektor fotografi tidak kalah menarik dengan konfigurasi triple kamera belakang. Sensor utama 50MP dengan Optical Image Stabilization (OIS) didukung lensa ultra-wide 8MP dan makro 2MP. Kemampuan rekaman 4K pada 30fps tersedia baik untuk kamera utama maupun selfie 13MP di depan.

Samsung membekali M36 5G dengan berbagai fitur AI terkini seperti Circle to Search dengan Google, Google Gemini Live untuk tanya jawab visual real-time, dan AI Select untuk kreasi konten cepat. Sayangnya, meski memiliki speaker stereo, smartphone ini tidak lagi menyertakan jack audio 3.5mm.

Konektivitas dan Daya Tahan Baterai

Dari sisi konektivitas, Galaxy M36 5G mendukung Wi-Fi 6 dan Bluetooth 5.3 dengan port USB Type-C 2.0 yang kompatibel OTG. Sistem navigasi satelitnya cukup lengkap mencakup GPS, GLONASS, GALILEO, BDS, dan QZSS, meski tidak memiliki NFC atau radio FM.

Untuk keamanan, tersedia sensor sidik jari samping dan sensor standar lainnya. Kapasitas baterai 5000mAh dengan dukungan fast charging 25W menjanjikan daya tahan seharian penuh.

Galaxy M36 5G akan tersedia dalam tiga pilihan warna: Orange Haze, Velvet Black, dan Serene Green. Penjualan terbuka dimulai 12 Juli 2025 melalui Amazon India, situs resmi Samsung, dan toko offline dengan harga mulai Rp16.499 termasuk penawaran bank.

Dengan spesifikasi ini, Samsung Galaxy M36 5G siap bersaing ketat di segmen mid-range. Tertarik mencoba smartphone terbaru dari jajaran Galaxy M series ini?