Beranda blog Halaman 136

Nvidia Langgar Aturan Antimonopoli China dalam Akuisisi Melanox

0

Telset.id – Badan Regulasi Pasar China pada Senin (15/9) menyatakan bahwa Nvidia, perusahaan semikonduktor asal Amerika Serikat, telah melanggar aturan antimonopoli di negara tersebut. Pelanggaran ini terkait dengan akuisisi Melanox Technologies, penyedia jaringan komputer, yang dilakukan Nvidia pada tahun 2020 senilai 7 miliar dolar AS atau setara Rp114,5 triliun.

Menurut laporan Bloomberg yang dikutip TechCrunch, putusan ini disampaikan setelah penyelidikan mendalam oleh otoritas China. Meski demikian, China belum mengumumkan konsekuensi spesifik yang akan dihadapi Nvidia, dan investigasi masih berlanjut.

Juru bicara Nvidia menanggapi putusan tersebut dengan menyatakan bahwa perusahaan akan mematuhi semua ketentuan yang berlaku. “Kami mematuhi hukum dalam segala hal. Kami akan terus bekerja sama dengan semua lembaga pemerintah terkait dalam mengevaluasi dampak pengendalian ekspor terhadap persaingan di pasar komersial,” ujarnya.

Keputusan ini berpotensi memengaruhi negosiasi tarif antara Amerika Serikat dan China yang sedang berlangsung di Madrid, Spanyol. Meskipun perundingan tidak secara khusus membahas industri semikonduktor, akses China ke chip Nvidia menjadi salah satu poin krusial dalam diskusi kedua negara.

Latar Belakang Regulasi dan Dampaknya

Pada Januari 2025, menjelang akhir masa jabatan Presiden Joe Biden, pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan aturan Difusi AI yang membatasi pemasaran chip AI buatan AS ke berbagai negara, dengan pembatasan lebih ketat diterapkan pada China dan negara kompetitor lainnya. Meski Departemen Perdagangan AS mencabut peraturan tersebut pada Mei 2025, masa depan ekspor chip AI ke China masih belum jelas.

Pemerintahan Presiden Donald Trump kemudian memberlakukan perjanjian lisensi untuk chip yang dikirim ke China pada April 2025. Pada Juli 2025, perusahaan-perusahaan mendapat izin untuk kembali melakukan penjualan chip ke China. Beberapa minggu setelahnya, pemerintah AS mencapai kesepakatan yang mewajibkan perusahaan penjual chip ke China memberikan 15 persen dari hasil penjualannya kepada pemerintah AS.

Namun, China telah melarang perusahaan-perusahaan di wilayahnya untuk membeli chip dari Nvidia. Laporan keuangan terbaru Nvidia menunjukkan bahwa tidak satu pun chip produksi perusahaan tersebut lolos dalam proses ekspor baru.

Implikasi bagi Pasar Teknologi Global

Pelanggaran aturan antimonopoli oleh Nvidia terjadi dalam konteks persaingan teknologi yang semakin ketat antara AS dan China. China merupakan pasar penting bagi banyak perusahaan teknologi global, termasuk Nvidia, yang selama ini mengandalkan penjualan chip AI dan komputasi kinerja tinggi ke negara tersebut.

Ketegangan perdagangan antara kedua negara telah memengaruhi berbagai sektor teknologi, tidak hanya semikonduktor. Seperti yang terjadi pada peluncuran iPhone Air di China yang ditunda karena masalah eSIM, regulasi dan kebijakan seringkali menjadi penghambat bagi perusahaan teknologi asing.

Selain itu, kebijakan AS dalam membangun pasar data pribadi untuk intelijen juga menambah kompleksitas hubungan teknologi antara kedua negara. Isu keamanan data dan privasi semakin menjadi pertimbangan dalam setiap transaksi teknologi lintas batas.

Di sisi lain, persaingan di pasar smartphone juga terus memanas dengan hadirnya perangkat-perangkat berkemampuan tinggi seperti POCO F7 yang mencapai skor AnTuTu lebih dari 2 juta, menunjukkan bahwa innovation race tidak hanya terjadi di level chipset tetapi juga di perangkat konsumen.

Keputusan China terhadap Nvidia ini dapat menjadi preseden bagi perusahaan teknologi lainnya yang beroperasi di pasar China. Kepatuhan terhadap regulasi lokal menjadi semakin krusial dalam menjaga operasi bisnis yang berkelanjutan di negara dengan pasar teknologi terbesar di dunia ini.

Dengan investigasi yang masih berlangsung, dunia teknologi internasional akan terus memantau perkembangan kasus ini dan dampaknya terhadap hubungan perdagangan teknologi antara AS dan China, serta implikasinya terhadap supply chain semikonduktor global.

Robot Humanoid Bertinju dan Berjabat Tangan di KTT Internet Yuelu 2025

0

Telset.id – Pengunjung KTT Internet Yuelu 2025 di Xiangjiang New Area, Changsha, Hunan, Cina, Minggu (15/9/2025), menyaksikan dan berinteraksi langsung dengan robot humanoid yang bertinju, berjabat tangan, serta dioperasikan secara langsung. Acara ini berfokus pada pameran teknologi mutakhir, terutama kecerdasan buatan, yang menjadi sorotan utama dalam gelaran tahunan tersebut.

Robot-robot humanoid yang ditampilkan tidak hanya mampu melakukan gerakan kompleks seperti bertinju, tetapi juga berinteraksi sosial dengan pengunjung, termasuk berjabat tangan. Hal ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam pengembangan robotika yang semakin mendekati kemampuan manusia. KTT Internet Yuelu sendiri dikenal sebagai ajang penting bagi inovator dan perusahaan teknologi untuk memamerkan pencapaian terbaru mereka.

Selain pertunjukan tinju robot, pengunjung juga diberikan kesempatan untuk mengoperasikan langsung berbagai unit robot humanoid. Interaksi ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan gambaran nyata tentang bagaimana teknologi robotika dan AI dapat diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang terjadi dalam pertandingan robot boxing di China, teknologi ini terus berkembang pesat dan semakin canggih.

Teknologi AI dan Robotika Jadi Sorotan Utama

KTT Internet Yuelu 2025 menegaskan kembali posisi Cina sebagai salah satu pemimpin global dalam pengembangan kecerdasan buatan dan robotika. Acara ini tidak hanya menjadi ajang pamer teknologi, tetapi juga wadah bagi para ahli dan pengembang untuk berbagi insight terbaru tentang masa depan AI. Teknologi serupa juga dapat ditemui dalam perangkat seperti laptop premium berbasis AI yang semakin populer di pasaran.

Interaksi antara manusia dan robot yang ditampilkan dalam acara ini mencerminkan tren yang sedang berkembang di berbagai belahan dunia. Dari sektor hiburan hingga aplikasi praktis, robot humanoid mulai mengambil peran lebih besar. Inovasi dalam bidang ini juga didukung oleh kemajuan dalam teknologi visual, seperti yang dihadirkan oleh perangkat dengan kecerdasan AI untuk pengalaman visual.

Keberhasilan penyelenggaraan KTT Internet Yuelu 2025 sekaligus mengukuhkan Changsha sebagai salah satu hub teknologi terkemuka di Cina. Acara ini diharapkan dapat terus memacu inovasi dan kolaborasi di antara pelaku industri teknologi, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional.

Lelang Frekuensi 1,4 GHz Tetap Berjalan, Pengumuman Oktober 2025

0

Telset.id – Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdig) memastikan proses lelang pita frekuensi radio 1,4 GHz tetap berjalan sesuai jadwal. Pengumuman pemenang seleksi akan dilakukan pada Oktober 2025, seperti diungkapkan Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kemkomdig Wayan Toni Supriyanto.

Wayan menegaskan bahwa tahapan lelang saat ini sedang menunggu pemasukan dokumen dari peserta. “Masih berjalan, tetap berjalan. Sesuai jadwal Oktober (pengumuman pemenang),” kata Wayan saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (15/9/2025).

Proses lelang frekuensi 1,4 GHz dimulai akhir Juli lalu sebagai upaya memperluas jangkauan layanan akses internet dengan biaya lebih terjangkau. Seleksi ini diselenggarakan berdasarkan Keputusan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 337 Tahun 2025.

Pita frekuensi yang dilelang memiliki lebar 80 MHz (1432–1512 MHz) dan dibagi dalam tiga regional. Seleksi terbuka bagi seluruh penyelenggara telekomunikasi yang telah memenuhi persyaratan izin. Proses akan dilaksanakan melalui sistem lelang elektronik atau e-Auction.

Frekuensi 1,4 GHz ditujukan untuk membuka jaringan akses nirkabel pita lebar (Broadband Wireless Access) dengan teknologi Time Division Duplex (TDD). Penggunaan pita ini diharapkan memberikan fleksibilitas bagi operator dalam menyediakan layanan internet berkualitas.

Tahapan seleksi akan dilaksanakan secara objektif dan transparan melalui mekanisme evaluasi administrasi serta evaluasi komitmen pengembangan jaringan dan layanan. Pemerintah memastikan seluruh proses berjalan sesuai prinsip tata kelola yang baik.

Kemkomdig mengajak seluruh pelaku industri telekomunikasi untuk berpartisipasi dalam proses seleksi ini. Partisipasi diharapkan dapat berkontribusi terhadap pembangunan infrastruktur dan ekosistem digital yang lebih merata dan inklusif.

Seleksi frekuensi ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mempercepat pemerataan akses internet nasional. Sebelumnya, Kemkomdig juga telah mengalokasikan anggaran untuk pengembangan infrastruktur dan ekosistem digital.

Operator telekomunikasi seperti Telkomsel telah menyiapkan strategi dalam memperebutkan frekuensi baru. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan internet di berbagai daerah.

Upaya peningkatan kualitas jaringan juga dilakukan melalui upgrade layanan 3G ke 4G di berbagai kota. Transformasi teknologi ini menjadi bagian penting dalam menyongsong era digital yang lebih maju.

Target pemerintah menyediakan internet 100 Mbps dengan harga terjangkau semakin mendekati kenyataan. Kemkominfo sebelumnya menargetkan internet 100 Mbps seharga Rp100 ribu sebagai bagian dari komitmen pemerataan digital.

Proses lelang frekuensi 1,4 GHz menjadi langkah strategis dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Dengan tambahan spektrum frekuensi, operator dapat mengoptimalkan layanan broadband untuk masyarakat.

Industri telekomunikasi Indonesia terus bergerak dinamis menyambut berbagai peluang baru. Keberadaan frekuensi tambahan diharapkan dapat mendorong inovasi dan kompetisi sehat antar penyelenggara layanan.

Jadwal Resmi One UI 8 Rilis, Galaxy S25 Dapat Lebih Dulu!

0

Telset.id – Bagi Anda pengguna setia Samsung, kabar gembira telah tiba. Samsung secara resmi mulai merilis pembaruan One UI 8 versi stabil, dimulai dari seri Galaxy S25. Apakah perangkat Anda termasuk dalam daftar prioritas?

Rilis perdana ini masih terbatas di beberapa wilayah, namun ekspansi ke daerah lain dipastikan akan berlangsung cepat. Samsung bahkan telah mengonfirmasi melalui postingan resmi di Samsung Newsroom, sekaligus mengungkap rencana rilis untuk berbagai perangkat Galaxy lainnya. Menariknya, meski daftar perangkat yang layak telah diumumkan, detail waktu rilisnya justru datang dari moderator komunitas Samsung di Korea Selatan.

Menurut timeline yang dibagikan, Galaxy S25 series—termasuk S25 FE—telah mulai menerima update sejak September. Namun, jangan berharap terlalu banyak untuk perangkat lain di bulan ini. Rencana Samsung ternyata lebih berfokus pada Oktober dan November untuk mayoritas upgrade.

Timeline Rilis One UI 8: Prioritas untuk Flagship Terbaru

Galaxy S25, S25+, S25 Ultra, dan S25 FE menjadi yang pertama menikmati One UI 8 di September. Ini sejalan dengan strategi Samsung yang selalu mengutamakan seri terbaru. Namun, bagi pemilik Galaxy S24 atau perangkat lain, Anda perlu bersabar hingga Oktober atau bahkan November.

Oktober akan menjadi bulan sibuk bagi Samsung. Puluhan model, mulai dari Galaxy S24 series, Z Fold6, Z Flip6, hingga tablet seperti Tab S10+ dan Tab S10 Ultra, dijadwalkan mendapatkan pembaruan. Bahkan beberapa varian FE dan perangkat mid-range seperti Galaxy A36 turut masuk dalam daftar.

November menjadi babak terakhir dengan perangkat seperti Galaxy Z Fold5, Z Flip5, serta beberapa model tablet dan smartphone entry-level. Perlu diingat, timeline ini khusus untuk pengguna di Korea Selatan dan dapat berbeda di wilayah lain.

Mengapa Rilis Bertahap Selalu Jadi Pilihan?

Samsung bukan satu-satunya yang menerapkan strategi rilis bertahap. Xiaomi dengan HyperOS 3 juga melakukan pendekatan serupa, memastikan stabilitas sebelum ekspansi luas. Bahkan Apple dengan iPhone 17 pun punya pola rilis yang terencana.

Lantas, mengapa pola seperti ini terus dipakai? Jawabannya sederhana: manajemen risiko. Dengan merilis secara bertahap, Samsung bisa memantau bugs atau masalah kompatibilitas sebelum update menyebar luas. Bayangkan jika semua perangkat langsung di-update dan ternyata ada bug kritis—bisa jadi bencana!

Selain itu, faktor regional juga berperan. Setiap wilayah punya preferensi dan regulasi berbeda. Samsung perlu memastikan bahwa fitur tertentu, seperti layanan AI atau integrasi pembayaran, sesuai dengan kebijakan lokal.

Apa yang Bisa Ditunggu dari One UI 8?

Meski detail fitur belum sepenuhnya terungkap, bocoran sebelumnya menyebutkan peningkatan signifikan dalam AI dan optimasi baterai. Samsung disebut akan mengadopsi teknologi machine learning yang lebih cerdas, mirip dengan yang diusung Xiaomi 17 Series dengan Snapdragon 8 Elite.

Yang pasti, One UI 8 hadir bukan sekadar perubahan tampilan. Ini adalah upgrade yang dirancang untuk membuat pengalaman pengguna lebih intuitif dan efisien. Jadi, meski harus menunggu, hasilnya dijamin worth it!

Bagi Anda yang penasaran dengan perkembangan terbaru, pantau terus update di section One UI 8 kami. Atau, bergabunglah dengan channel Telegram Telset untuk info tech terkini tanpa delay. Sampai jumpa di pembaruan berikutnya!

Qualcomm Resmi Umumkan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Begini Spesifikasinya!

0

Telset.id – Apa jadinya jika sebuah chipset tidak hanya mengandalkan kecepatan, tetapi juga logika penamaan yang justru bikin penasaran? Qualcomm baru saja mengonfirmasi bahwa rumor selama ini ternyata benar: penerus Snapdragon 8 Elite akan disebut Snapdragon 8 Elite Gen 5, bukan Snapdragon 8 Elite 2 seperti yang banyak diduga.

Lalu, mengapa lompat dari “Elite” ke “Elite Gen 5”? Menurut Qualcomm, ini adalah langkah yang lebih logis dalam strategi branding mereka. Perusahaan menjelaskan, “Sejak kami mengadopsi sistem penamaan satu digit dan identitas visual baru, Snapdragon 8 Elite Gen 5 mewakili generasi kelima dari platform flagship seri Snapdragon 8. Dengan menggunakan sebutan ‘generasi kelima’, kami tidak hanya memperkuat kepemimpinan platform tetapi juga menyederhanakan pemahaman konsumen tentang roadmap produk kami.”

Jika ditelusuri, logika ini sebenarnya masuk akal. Empat flagship sebelumnya adalah Snapdragon 8 Gen 1, 8 Gen 2, 8 Gen 3, dan Snapdragon 8 Elite—yang sekarang dihitung sebagai entri keempat. Jadi, Snapdragon 8 Elite Gen 5 memang pantas disebut sebagai generasi kelima.

Nah, yang lebih menarik tentu saja adalah sisi teknisnya. Snapdragon 8 Elite Gen 5 diprediksi membawa core CPU Oryon kustom generasi kedua dari Qualcomm. Konfigurasinya terdiri dari dua core prime dengan kecepatan 4.61GHz dan enam core performance pada 3.63GHz. Untuk urusan grafis, chip ini dipasangkan dengan GPU Adreno 840 yang berjalan pada 1.2GHz. Kabarnya, skor AnTuTu v11 chip ini berkisar antara 4.20 hingga 4.40 juta poin—angka yang cukup untuk membuat banyak perangkat saingan ketar-ketir.

Qualcomm akan secara resmi meluncurkan Snapdragon 8 Elite Gen 5 pada Snapdragon Summit tanggal 22 September mendatang. Namun, yang patut dicatat adalah respons cepat dari Xiaomi. Hanya beberapa saat setelah pengumuman Qualcomm, Xiaomi langsung mengonfirmasi bahwa mereka akan meluncurkan ponsel flagship baru dengan chip ini pada akhir bulan ini. Tidak hanya itu, perangkat ini juga akan menandai rebranding lini produk Xiaomi, dari seri Xiaomi 16 ke Xiaomi 17.

Pertanyaannya, apakah Snapdragon 8 Elite Gen 5 akan menjadi raja baru dunia mobile? Atau justru saingan seperti Tensor G5 masih punya peluang? Yang pasti, persaingan chipset tahun 2025 semakin panas dan konsumenlah yang diuntungkan.

Bagi Anda yang tertarik dengan tren ponsel lipat, mungkin 5 HP Lipat Terbaik 2025 bisa menjadi referensi. Atau, jika penasaran dengan langkah Xiaomi, simak kabar terbaru tentang Xiaomi 17 Series yang siap hadapi iPhone 17.

Jadi, siap-siap menyambut era baru performa ponsel. Snapdragon 8 Elite Gen 5 bukan sekadar evolusi—ini adalah revolusi.

AI di Ruang Redaksi, Jadi Tantangan dan Inovasi dalam Jurnalisme di Amerika Latin

0

Telset.id – Bayangkan jika ruang redaksi Anda bisa memproses 100.000 dokumen pemilu dalam hitungan jam, atau memperbarui ribuan profil politik secara otomatis. Itulah yang sedang terjadi di Amerika Latin, di mana kecerdasan buatan (AI) tak lagi sekadar wacana futuristik, melainkan alat sehari-hari yang mengubah wajah jurnalisme. Tapi di balik efisiensi yang ditawarkan, ada pertanyaan besar: apakah AI akan menjadi mitra atau pengganti jurnalis?

Di banyak negara Amerika Latin, ruang redaksi sering kali beroperasi dengan anggaran terbatas. Di sinilah AI dianggap sebagai peluang emas untuk meningkatkan efisiensi kerja. Mulai dari pelaporan otomatis hingga penyebaran berita berbasis algoritme, media seperti La Silla Vacía di Kolombia, Chequeado di Argentina, Núcleo di Brasil, dan Verificado di Meksiko telah memelopori penggunaan teknologi ini. Namun, adopsi AI tidak datang tanpa dilema. Bagaimana memastikan bahwa alat ini tidak justru memperkuat bias yang sudah ada? Bagaimana agar AI membantu tanpa mengambil alih peran jurnalis? Dan keterampilan baru apa yang harus dikuasai para profesional media?

Pergeseran ini bukan hanya soal teknologi, melainkan juga transformasi budaya di ruang redaksi. Banyak tim jurnalistik di Amerika Latin kini mempelajari cara kerja algoritme, dampaknya pada proses editorial, dan strategi memanfaatkan AI tanpa mengorbankan integritas profesional. Regulasi dan transparansi menjadi kunci dalam penggunaan AI di media, sementara inovasi lokal terus bermunculan untuk menjawab tantangan global seperti otomatisasi konten dan pengecekan fakta.

Data: Bahan Bakar dan Kendala Utama

AI hanya sebaik data yang dimilikinya. Di Amerika Latin, akses ke data yang andal masih menjadi tantangan serius. Banyak data pemerintah belum terdigitalisasi atau tidak lengkap, sehingga menyulitkan pemanfaatan AI secara optimal. La Nación Data di Argentina, dipimpin oleh Momi Peralta Ramos dan Florencia Coehlo, telah bertahun-tahun mengolah data publik agar dapat digunakan jurnalis. Pada pemilu Argentina 2023, mereka menggunakan AI dan teknologi pengenalan gambar untuk memeriksa dokumen penghitungan suara secara akurat. Dengan bantuan relawan, lebih dari 100.000 dokumen berhasil diproses dengan cepat, mendeteksi potensi kesalahan dan memperkuat pengawasan pemilu.

Masalah lain adalah konsentrasi data pengguna di tangan perusahaan teknologi besar, yang menciptakan risiko akses tidak merata. Untuk mengatasi hal ini, inisiatif jurnalisme investigasi mulai bermunculan. Di Peru, Nelly Luna Amancio dari Ojo Público memimpin pengembangan Funes, alat AI yang dirancang untuk mendeteksi korupsi dalam kontrak pemerintah. Alat ini membantu memperkuat transparansi di wilayah dengan akses informasi terbatas.

Inovasi dan Peran Pakar Lokal

Rigoberto Carvajal, insinyur sistem asal Kosta Rika, memainkan peran penting dalam mengembangkan teknologi untuk jurnalisme investigasi. Karyanya di International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) membantu jurnalis mengolah data besar untuk mengungkap jaringan korupsi dan penghindaran pajak. Carvajal terlibat dalam investigasi Panama Papers, di mana teknik pembelajaran mesin digunakan untuk mengklasifikasi dokumen dan menemukan pola tersembunyi. Kini, ia memimpin pengembangan Nina di Centro Latinoamericano de Investigación Periodística (CLIP), aplikasi berbasis web yang memanfaatkan AI untuk memproses data besar dan tak terstruktur.

Nina membantu jurnalis menelusuri dokumen dengan mudah menggunakan antarmuka percakapan yang disesuaikan dengan kebutuhan investigasi. Dengan keahliannya, Carvajal memperkuat transparansi dan akuntabilitas melalui teknologi, menunjukkan potensi besar AI dalam jurnalisme investigasi di Amerika Latin.

Pergeseran Struktural di Ruang Redaksi

Penerapan AI dalam organisasi media tidak hanya menciptakan kebutuhan akan profil profesional baru, tetapi juga mengubah cara ruang redaksi beroperasi. AI membentuk kembali tim, mendorong inovasi naratif, pengembangan produk digital, dan strategi baru untuk produksi serta distribusi konten. Integrasinya telah mengubah cara jurnalis berinteraksi dengan informasi, yang pada gilirannya mengubah struktur ruang redaksi.

Pelatihan jurnalis dalam penggunaan perangkat AI dan analisis data menjadi salah satu tantangan utama. Banyak ruang redaksi mulai mengintegrasikan pendidikan teknologi generatif dan pembelajaran mesin ke dalam program pengembangan internal. Hal ini memungkinkan jurnalis tidak hanya memahami cara kerja algoritme, tetapi juga memanfaatkannya untuk meningkatkan pelaporan.

Di La Silla Vacía, Kolombia, Karen De la Hoz memelopori penerapan AI di bagian “Quién es Quién”, direktori tokoh politik Kolombia. Alat ini memungkinkan pembaruan otomatis lebih dari 1.300 profil politik, mengatasi tantangan yang sebelumnya harus dikelola secara manual. Untuk mencapai hal ini, tim bermitra dengan Orza dan Universidad de los Andes, melatih model bahasa berdasarkan pelaporan mereka sendiri.

Di Infobae, Argentina, Daniel Hadad dan Opy Morales memimpin pengembangan Scribnews—perangkat internal yang memungkinkan pembuatan artikel berita otomatis secara real-time. Implementasinya menjadi kunci dalam meliput peristiwa penting seperti pemilu, pergerakan pasar keuangan, dan hasil pertandingan olahraga. AI telah menjadi asisten utama bagi jurnalis, dan integrasinya membutuhkan perekrutan profil baru dengan keahlian dalam teknologi generatif.

AI juga membuka peluang baru dalam mempersonalisasi pengalaman pengguna. Di Clarín, Argentina, Julián Gallo memimpin pengembangan UalterIA, asisten pembaca bertenaga AI yang memungkinkan pengguna mengakses berita dalam berbagai format, termasuk ringkasan, linimasa, dan pertanyaan umum. Alat ini dirancang untuk meningkatkan pengalaman membaca dengan memungkinkan pengguna mengonsumsi informasi sesuai kebutuhan dan minat spesifik mereka.

Algoritme dan Mediasi Informasi

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi organisasi media adalah peran algoritme dalam memediasi informasi. Platform digital seperti Facebook, Google, dan TikTok telah membentuk cara berita dikonsumsi melalui sistem rekomendasi yang memprioritaskan konten tertentu. Apa yang kita baca, tonton, dan dengar di platform ini bukanlah hasil pilihan bebas, melainkan serangkaian kalkulasi tak kasat mata yang menentukan konten berdasarkan interaksi sebelumnya.

Keberadaan algoritme yang ada di mana-mana membuat dampaknya sering kali tak terasa. Kita tidak melihatnya, tetapi mereka selalu hadir, memengaruhi topik yang trending, media yang menjangkau audiens, dan bagaimana narasi realitas sehari-hari dibangun. Di Meksiko, Daniela Mendoza Luna, direktur Verificado, menyaksikan langsung bagaimana algoritme dapat memperkuat misinformasi. Selama pandemi COVID-19, ia dan timnya menggunakan Google PinPoint untuk mentranskripsi dan menganalisis video dari YouTuber yang menyebarkan misinformasi vaksin. Melalui strategi ini, mereka dapat memetakan penyebaran kebohongan dan merancang respons digital yang lebih efektif.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan kritis: kita sering mencoba memahami apa arti algoritme bagi manusia, tetapi apa arti manusia bagi algoritme? Bagi sistem AI, kita pada dasarnya adalah serangkaian klik dan pola perilaku. Tujuan utama mereka adalah agar kita tetap berada di platform selama mungkin, yang sering kali tidak memprioritaskan kebenaran, melainkan perhatian kita. Proses ini memperkuat keyakinan yang sudah ada, memicu bias konfirmasi, dan dinamika polarisasi. Akibatnya, kita terjebak dalam gelembung informasi yang membatasi perspektif.

Di Argentina, tim Chequeado aktif berupaya memahami dan merespons tantangan ini. Di bawah kepemimpinan Pablo Fernández dan kini Franco Piccato, mereka mengembangkan laboratorium AI untuk bereksperimen dengan teknologi generatif dalam jurnalisme. Mereka juga meluncurkan program edukasi yang berfokus pada penguatan literasi digital dan pemahaman tentang bagaimana AI memengaruhi sirkulasi informasi.

Pengaruh algoritme juga terlihat dalam cara media merancang strategi distribusi. Mengejar lalu lintas web sering mengarah pada prioritas konten yang menarik atau viral, dengan mengorbankan kedalaman dan kualitas jurnalistik. Kurangnya transparansi seputar cara kerja algoritme menempatkan jurnalis dan editor pada posisi ketergantungan pada perusahaan teknologi besar.

Untuk mengurangi ketergantungan ini, Chequeado menerapkan alat seperti Chequeabot sejak 2016—sistem berbasis AI yang menyederhanakan proses pengecekan fakta dengan memungkinkan deteksi informasi palsu yang lebih efisien. Sementara itu, beberapa media mulai menjajaki model distribusi alternatif, seperti buletin tersegmentasi dan penggunaan WhatsApp serta Telegram untuk menjaga komunikasi langsung dengan audiens tanpa bergantung pada platform pihak ketiga.

Etika dan Transparansi dalam Penggunaan AI

Pengadopsian perangkat generatif dalam jurnalisme membawa kekhawatiran valid seputar transparansi, bias, dan tanggung jawab editorial. Mengintegrasikan AI ke dalam ruang redaksi tidak tanpa dilema etika dan menimbulkan pertanyaan baru: Siapa yang bertanggung jawab ketika algoritme membuat kesalahan? Bagaimana mencegah AI memperkuat prasangka? Sejauh mana AI dapat mengotomatiskan tugas tanpa mengorbankan esensi jurnalisme?

Di Kolombia, Claudia Báez, salah satu pendiri dan direktur umum Cuestión Pública, menjawab tantangan ini dengan Proyecto Odín, alat yang dirancang untuk mengontekstualisasikan informasi politik dan pemerintahan secara real-time. Timnya menggunakan teknik Retrieval Augmented Generation (RAG), yang memungkinkan AI mengambil informasi dari basis data jurnalistik dan menghasilkan konten yang sangat kontekstual. Dengan lebih dari 4.300 catatan dari investigasi sebelumnya, Odín mempercepat akses ke data kompleks tanpa mengorbankan akurasi atau verifikasi manusia.

Meskipun otomatisasi memfasilitasi analisis informasi dan pembuatan laporan, hal itu juga meningkatkan risiko terkait ketidakjelasan dan penyalahgunaan data. Di sinilah etika dan transparansi menjadi penting. Di Brasil, Sérgio Spagnuolo, pendiri Núcleo, mempromosikan pengembangan perangkat sumber terbuka untuk meningkatkan keterlibatan audiens tanpa mengorbankan transparansi. Núcleo adalah media pertama di Brasil yang menerbitkan pedoman khusus tentang penggunaan AI di ruang redaksi, menetapkan standar jelas tentang kapan dan bagaimana menerapkan teknologi ini dalam produksi konten berita.

Di antara pengembangan terbaru mereka adalah Nuclito, chatbot yang memungkinkan pengguna berinteraksi dengan konten Núcleo, dan Nuclito Resume, alat AI sumber terbuka yang merangkum laporan menjadi tiga poin kunci untuk mempercepat pembacaan. Dengan menyediakan kode alat ini untuk publik, Spagnuolo dan timnya memperkuat prinsip dasar: AI dalam jurnalisme harus dapat diaudit dan diakses, mencegahnya menjadi kotak hitam tanpa pengawasan editorial.

Potensi AI dalam jurnalisme melampaui sekadar pembuatan konten dan efisiensi operasional—ia juga memainkan peran kunci dalam menghubungkan media dengan audiensnya. Jika diimplementasikan tanpa perlindungan tepat, teknologi ini dapat memperkuat bias yang ada dan mendistorsi narasi informasi. Itulah sebabnya pengaturan penggunaan AI dalam jurnalisme masih dalam proses. Penyusunan pedoman etika dan standar penggunaan membutuhkan kolaborasi erat antara jurnalis dan ahli untuk menyeimbangkan inovasi dengan tanggung jawab.

Masa Depan Jurnalisme di Amerika Latin

Jurnalisme di Amerika Latin berada di titik balik. AI telah menemukan tempatnya di ruang redaksi—bukan hanya sebagai alat untuk mengotomatiskan tugas, tetapi juga sebagai katalisator perubahan mendalam dalam cara berita diselidiki, diceritakan, dan dibagikan kepada khalayak. Namun, dampaknya tidak seragam atau tak terelakkan. Di balik setiap kemajuan terdapat individu-individu perintis—jurnalis yang memilih untuk memimpin dan membentuk perubahan teknologi agar sesuai dengan kebutuhan dan tantangan spesifik kawasan ini.

Para profesional ini sedang memetakan arah. Dari perangkat yang memegang kendali hingga sistem yang mengoptimalkan distribusi berita, karya mereka menunjukkan bahwa AI bukanlah akhir dari jurnalisme, melainkan sarana untuk memperkuatnya. Namun, satu pertanyaan penting tetap ada: Siapa yang akan mengendalikan transformasi ini? Sementara platform global terus memengaruhi apa yang kita baca dan bagikan, media di seluruh Amerika Latin telah menunjukkan bahwa AI juga dapat dimanfaatkan untuk membangun kredibilitas, meningkatkan liputan berita, dan memperluas akses informasi.

Tantangan saat ini bukan hanya mengintegrasikan AI, tetapi melakukannya dengan visi jelas. Jika organisasi media ingin menghindari agenda mereka ditentukan oleh teknologi, mereka harus berinvestasi dalam pelatihan, mengembangkan standar transparansi, dan memastikan bahwa perangkat ini digunakan untuk meningkatkan jurnalisme—bukan melucuti nilai-nilai intinya. Di Amerika Latin, masa depan jurnalisme tidak ditulis oleh algoritme, tetapi oleh para pionir yang berani bereksperimen tanpa melupakan misi untuk menginformasikan dengan ketelitian dan tanggung jawab.

Seperti yang terjadi di banyak sektor, talenta digital menjadi kunci kesuksesan adopsi AI di ruang redaksi. Tanpa sumber daya manusia yang terampil, teknologi secanggih apa pun tidak akan memberikan dampak optimal. Di Amerika Latin, para jurnalis tidak hanya belajar menggunakan AI, tetapi juga membentuknya sesuai dengan konteks lokal—sebuah pelajaran berharga bagi dunia jurnalisme global.

Benchmark A19 Pro Bocor: iPhone 17 Lebih Cepat, Tapi Bukan Revolusi

0

Telset.id – Baru saja diluncurkan, chipset A19 Pro di iPhone 17 sudah dibocorkan skor benchmark-nya. Hasilnya? Cepat, tapi jangan berharap lompatan dramatis seperti tahun-tahun sebelumnya. Bocoran dari AnTuTu ini menunjukkan skor akhir sebesar 2.033.552, hanya selisih tipis dari pendahulunya, A18 Pro, yang berada di kisaran dua juta.

Uniknya, skor tersebut awalnya diklaim berasal dari iPhone 17 Pro. Namun, AnTuTu kemudian mengoreksi dan menyatakan bahwa hasil tes justru datang dari perangkat baru bernama iPhone Air (model iPhone 18,4)—yang ternyata menggunakan chip yang sama. Meski sumbernya berbeda, intinya tak berubah: performa A19 Pro tetap solid, meski tak se”wah” yang dibayangkan.

Yang menarik, peningkatan terbesar justru datang dari sektor memori. iPhone terbaru Apple ini sudah dibekali RAM 12GB, dan itu terlihat dari skor memori yang naik hampir 50 persen. Artinya, multitasking dan kemampuan menjalankan aplikasi di latar belakang jadi jauh lebih baik. Sayangnya, performa CPU justru turun sedikit—mungkin karena firmware awal atau pembatasan thermal saat pengujian.

Benchmark AnTuTu A19 Pro iPhone 17

Di sisi grafis dan performa sistem secara keseluruhan, A19 Pro tetap konsisten. Ini menunjukkan bahwa Apple lebih fokus pada efisiensi dan stabilitas ketimbang mengejar angka benchmark yang tinggi. Seperti yang pernah kami bahas dalam ulasan perbandingan chipset iPhone 17, pendekatan ini justru lebih masuk akal untuk pengalaman pengguna sehari-hari.

Geekbench juga mengonfirmasi tren serupa: peningkatan single-core dan multi-core ada, tapi tidak signifikan. Namun, jangan salah—Apple punya trik lain. Mereka menyematkan vapor chamber pada model Pro, yang dijamin membantu mengelola suhu saat gaming berat atau bekerja dengan aplikasi intensif. Fitur ini mungkin tidak terlihat di benchmark sintetis, tetapi pasti terasa saat digunakan.

Lantas, apakah A19 Pro masih layak disebut yang tercepat? Tentu saja. Chip ini tetap sanggup menangani tugas AI, aplikasi berat, dan videografi dengan mulus. Hanya saja, dalam hal angka mentah, upgrade tahun ini terasa lebih seperti evolusi—bukan revolusi. Seperti yang terjadi pada persaingan ketat dengan Snapdragon 8 Elite, Apple tetap unggul, tetapi jaraknya semakin dekat.

Bagi Anda yang sudah menggunakan iPhone 16 atau bahkan generasi sebelumnya, mungkin pertanyaannya adalah: perlukah upgrade? Jika Anda mencari peningkatan drastis dalam hal kecepatan mentah, mungkin tidak. Tapi jika menginginkan efisiensi, stabilitas, dan dukungan memori yang lebih baik—terutama untuk penggunaan jangka panjang—iPhone 17 tetap layak dipertimbangkan. Apalagi mengingat harga yang cukup tinggi, pertimbangan jadi semakin penting.

Jadi, meski benchmark A19 Pro tidak mencengangkan, jangan remehkan pendekatan Apple yang lebih halus dan terukur. Terkadang, yang terbaik tidak selalu yang tercepat—tapi yang paling bisa diandalkan.

Meizu 22 Resmi Meluncur: Flagship dengan AI dan Desain Simetris

0

Telset.id – Setelah beberapa kali tertunda, Meizu akhirnya secara resmi meluncurkan flagship terbarunya, Meizu 22. Tidak hanya menghadirkan ponsel andalan, perusahaan juga memperkenalkan ekosistem Flyme AIOS yang telah diperbarui. Apakah Meizu 22 mampu bersaing di pasar flagship yang semakin ketat? Simak analisis mendalam dari Telset.id.

Meizu 22 awalnya direncanakan meluncur pada Agustus, namun berbagai faktor membuat peluncurannya harus diundur. Dengan bobot 190 gram dan ketebalan 8,15mm, ponsel ini mengusung desain micro-arc 2.5D di bagian depan dan bezel empat sisi super tipis 1,2mm. Yang menarik, Meizu menyebut desain bodinya sebagai “50:50 balanced design” yang dirancang untuk memberikan sensasi simetris saat digenggam. Fitur unik lainnya adalah tombol AI independen yang diklaim dapat menjalankan lebih dari 20 aksi shortcut dengan sekali tekan.

Desain Meizu 22 dengan bezel tipis dan tombol AI khusus

Pada sektor layar, Meizu 22 dibekali panel 6,3 inci dengan resolusi 1.5K. Layar ini mendukung refresh rate adaptif 1-120Hz, brightness puncak hingga 6000 nits, dan cakupan warna penuh DCI-P3. Teknologi “RuRan Eye Protection” yang diintegrasikan menggabungkan low blue light level hardware dan DC dimming untuk mengurangi ketegangan mata. Kombinasi ini menunjukkan komitmen Meizu terhadap kenyamanan pengguna dalam penggunaan jangka panjang.

Di bagian kamera, Meizu 22 total memiliki empat kamera – tiga di belakang dan satu di depan. Konfigurasinya terdiri dari kamera wide-angle 50MP (OV50H, sensor 1/1.3-inch, f/1.68, OIS), kamera telephoto periskop 3x 50MP (Sony IMX882, OIS, tele-macro 15cm), kamera ultra-wide 50MP (OV50D, FoV 122°, f/2.0, macro 2.5cm), dan kamera selfie 50MP (OV50D dengan AI face rejuvenation dan HDR untuk selfie backlit).

Sistem kamera quadruple 50MP pada Meizu 22

Dapur pacu Meizu 22 ditenagai chipset Snapdragon 8s Gen 4 dari Qualcomm yang didinginkan oleh sistem VC liquid cooling seluas 4500mm². Baterai berkapasitas 5.500mAh mendukung pengisian daya wired 80W dan wireless 66W. Pengalaman software didukung Flyme AIOS 2 yang membawa fitur-fitur AI seperti AI drawing, AI filters, pedestrian removal, glare reduction, dan moiré removal.

Fitur tambahan termasuk linear vibration motor, fungsi infrared remote, dukungan UWB digital key, serta ketahanan air dan debu IP66/IP68. Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua varian memiliki spesifikasi konektivitas yang sama. Hanya varian top 16GB + 1TB yang mendukung UWB, USB 3.2, dan output DisplayPort 1.2. Varian lainnya terbatas pada kecepatan USB 2.0 (480Mbps), yang merupakan downgrade signifikan dibandingkan banyak pesaing di segmen harga yang sama.

Meizu juga meluncurkan edisi khusus “Homecoming: China Flagship Limited Edition” dengan UI kustom bertema aircraft carrier, cover belakang dengan pola bergaya armada, serta aksesori tambahan termasuk power adapter khusus, alat ejector SIM, dan plakat logam menampilkan aircraft carrier Fujian dan jet tempur J35.

Untuk harga, Meizu 22 ditawarkan dalam beberapa pilihan memori: 12GB + 256GB (2.999 yuan), 16GB + 256GB (3.299 yuan), 12GB + 512GB (3.399 yuan), 16GB + 512GB (3.699 yuan), dan 16GB + 1TB (4.199 yuan). Edisi Limited Edition 16GB + 512GB dibanderol 4.199 yuan. Ponsel ini sudah tersedia untuk pembelian mulai hari ini.

Kehadiran Meizu 22 menunjukkan bagaimana perusahaan terus berinovasi meskipun sempat mengalami perubahan strategi bisnis. Dengan fokus pada AI dan integrasi ekosistem, Meizu berusaha membedakan diri di pasar yang semakin padat. Namun, kebijakan pembatasan fitur pada varian tertentu mungkin menjadi pertimbangan penting bagi calon pembeli.

Bagi penggemar Meizu di Indonesia, kehadiran flagship ini mungkin menjadi pertanda baik mengingat rencana ekspansi perusahaan di tahun 2025. Meskipun Meizu pernah mengeksplorasi berbagai platform, fokus mereka sekarang jelas pada pengembangan AI dan integrasi perangkat.

Motorola Segera Luncurkan Moto Pad 60 Series, Tablet Pertama di Indonesia

0

Telset.id – Motorola resmi memperluas portofolio produknya di Indonesia dengan meluncurkan tablet perdana mereka, Moto Pad 60 Series. Hadir dalam dua varian, yaitu Moto Pad 60 Pro dan Moto Pad 60 Lite, tablet ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan pengguna modern yang dinamis, mulai dari produktivitas hingga hiburan. Peluncuran ini menandai langkah strategis Motorola dalam merespons meningkatnya permintaan tablet multifungsi di pasar Indonesia.

Menurut Bagus Prasetyo, Country Head Motorola Indonesia, konsumen saat ini menggunakan tablet dengan cara yang semakin personal dan beragam. “Perangkat tablet telah berevolusi menjadi ruang digital personal untuk bekerja, menikmati hiburan, hingga menuangkan ide kreatif. Kehadiran Moto Pad 60 Series mendorong pengguna untuk berani mengeksplorasi berbagai inspirasi dan ruang untuk berkembang,” ujarnya. Kampanye #IniRuangMu menjadi bagian dari upaya Motorola untuk memperkuat positioning produk barunya ini.

Moto Pad 60 Pro hadir sebagai perangkat all-in-one yang ditujukan bagi pengguna yang membutuhkan fitur premium dan kemampuan AI. Dilengkapi dengan layar 12,7 inci beresolusi 3K dan refresh rate 144Hz, tablet ini menjanjikan pengalaman visual yang memukau. Performanya didukung oleh chipset MediaTek Dimensity 8300, yang memastikan kelancaran saat multitasking atau membuat konten. Fitur AI Tools dengan Google juga disematkan untuk mendukung pembelajaran adaptif, seperti membaca interaktif dan membuat catatan digital dengan Moto Pen Pro.

Tak ketinggalan, Smart Connect memungkinkan pengguna menghubungkan tablet dengan perangkat lain, seperti PC Windows atau smartphone Android. Fitur ini memudahkan transfer file instan dan penggunaan tablet sebagai second screen, sehingga produktivitas menjadi lebih terintegrasi. Baterai berkapasitas 10.200 mAh dengan fast charging 45W memastikan Moto Pad 60 Pro dapat digunakan seharian tanpa khawatir kehabisan daya.

Sementara itu, Moto Pad 60 Lite menawarkan pengalaman hiburan yang terjangkau tanpa mengorbankan kualitas. Layar 10,1 inci dengan resolusi 1200p telah bersertifikasi TÜV Low Blue Light, sehingga nyaman digunakan untuk menonton dalam waktu lama. Dual speaker dengan tuning Dolby Atmos menghadirkan audio yang hidup, sementara baterai mampu bertahan hingga 9,5 jam untuk streaming. Yang menarik, tablet ini sudah dilengkapi dengan built-in stand case di dalam kemasannya, sehingga pengguna langsung siap untuk menonton atau video call.

Ketersediaan Moto Pad 60 Series dimulai pada 17 September 2025. Moto Pad 60 Pro dibanderol dengan harga Rp6.099.000, sedangkan Moto Pad 60 Lite hadir dengan harga yang lebih terjangkau, yaitu Rp1.839.000. Kedua produk ini dapat dibeli melalui official store Motorola Indonesia dan berbagai e-commerce terkemuka. Sebagai bagian dari layanan purna jual, Motorola menyediakan garansi 1 tahun untuk kedua varian tablet, dengan dukungan service center Lenovo Indonesia.

Peluncuran Moto Pad 60 Series ini tidak hanya memperkaya pilihan tablet di pasar Indonesia, tetapi juga menunjukkan komitmen Motorola dalam menghadirkan solusi teknologi yang relevan dengan kebutuhan pengguna. Dalam situasi di mana kebijakan perdagangan global dapat memengaruhi ketersediaan gadget, seperti yang terjadi dengan Kebijakan Trump Hantam Gadget: Harga Naik, Produk Langka di AS, kehadiran produk lokal yang kompetitif menjadi semakin penting.

Dengan spesifikasi yang ditawarkan, Moto Pad 60 Series berpotensi bersaing dengan produk-produk unggulan lainnya di pasar tablet. Sebagai perbandingan, performa chipset MediaTek Dimensity 8300 pada Moto Pad 60 Pro mungkin dapat menyaingi perangkat lain yang telah diuji dalam Red Magic 10S Pro+ Kuasai Peringkat AnTuTu Juli 2025, Vivo X200 Ultra di Posisi Kedua. Selain itu, daya tahan baterai yang menjadi salah satu keunggulan Moto Pad 60 Series juga sejalan dengan tren perangkat yang mengutamakan ketahanan energi, sebagaimana terlihat pada Pixel 10 Pro Ungguli iPhone 16 Pro dalam Tes Baterai Ekstrem.

Kehadiran Moto Pad 60 Series di Indonesia tidak hanya sekadar menambah variasi produk, tetapi juga mencerminkan strategi Motorola dalam menjawab kebutuhan pasar yang terus berkembang. Dengan kombinasi fitur canggih dan harga yang kompetitif, tablet ini siap menjadi pilihan menarik bagi konsumen yang mencari perangkat multifungsi untuk mendukung aktivitas sehari-hari.

Anker Luncurkan MagGo Power Bank 10K 35W dengan Fitur Apple Watch Resmi

0

Telset.id – Bayangkan sedang dalam perjalanan bisnis atau liburan, tiba-tiba notifikasi baterai lembut muncul di iPhone dan Apple Watch Anda. Situasi yang familiar, bukan? Di era di mana mobilitas menjadi gaya hidup, kehabisan daya bukan lagi sekadar gangguan—itu adalah krisis kecil yang bisa mengacaukan produktivitas dan konektivitas. Menjawab tantangan ini, Anker secara resmi meluncurkan MagGo Power Bank (10K, 35W, For Apple Watch) – A1657, sebuah solusi pengisian daya portabel yang dirancang khusus untuk pengguna setia ekosistem Apple.

Berdasarkan data Statista 2024, rata-rata orang global menghabiskan lebih dari 5 jam per hari menggunakan smartphone. Sementara itu, penetrasi wearable device seperti Apple Watch terus meroket, dengan lebih dari 250 juta unit terjual secara global pada 2023. Di Indonesia sendiri, laporan IDC 2024 mencatat peningkatan penjualan smartwatch sebesar 13% year-on-year di Asia Tenggara, dengan Apple Watch masih mendominasi segmen premium. Tren ini tidak hanya mencerminkan adopsi teknologi yang semakin masif, tetapi juga menyoroti kebutuhan akan power bank yang tidak hanya berkapasitas besar, tetapi juga benar-benar kompatibel dengan perangkat premium seperti Apple Watch.

MagGo Power Bank A1657 hadir dengan klaim sebagai salah satu power bank paling praktis bagi pengguna Apple yang aktif bergerak. Produk ini tidak sekadar menawarkan kapasitas 10.000 mAh atau output 35W, tetapi yang lebih penting, dilengkapi dengan pengisi daya Apple Watch bersertifikasi resmi dari Apple. Ini adalah fitur pembeda yang signifikan, mengingat tidak semua power bank di pasaran mampu mengisi Apple Watch dengan aman dan cepat. Bahkan, produk ini diklaim dapat mengisi Apple Watch Series 9 hingga 47% hanya dalam waktu 30 menit.

Lima Fitur Unggulan MagGo Power Bank Anker

Pertama, pengisi daya Apple Watch yang serbaguna. Dilengkapi dengan pengisi daya yang dapat disesuaikan posisinya, pengguna dapat mengisi daya perangkat dengan sudut yang paling nyaman, baik saat digunakan maupun saat istirahat. Kedua, sertifikasi resmi Apple. Ini menjamin keamanan dan kecepatan pengisian yang tidak ditawarkan oleh perangkat non-resmi. Ketiga, pengisian cepat dan simultan. Dengan output USB-C hingga 30W, power bank ini mampu mengisi iPhone, iPad, atau perangkat USB-C lainnya dalam waktu singkat, sementara pengisi daya nirkabel untuk Apple Watch menyediakan daya hingga 5W.

Keempat, isi ulang cepat. MagGo Power Bank 10K dapat diisi ulang penuh hanya dalam 1,5 jam dengan input 30W. Kapasitasnya setara dengan sekitar 2 kali pengisian penuh untuk iPhone 15 Pro dan hingga 11 kali pengisian penuh untuk Apple Watch Series 9. Kelima, desain ringkas dan aman dibawa bepergian. Ukurannya yang mirip dengan mouse standar membuatnya mudah dimasukkan ke dalam saku atau tas kecil, dan yang terpenting, sudah disetujui untuk dibawa ke dalam penerbangan.

Sterling Li, Country Director Anker Indonesia, menyatakan, “Kami melihat semakin banyak pengguna Apple di Indonesia yang aktif bergerak dan membutuhkan solusi pengisian daya yang praktis. MagGo Power Bank A1657 hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut—memberikan pengisian cepat, aman, dan kompatibel penuh dengan Apple Watch maupun perangkat lain dalam ekosistem Apple.”

Survei Counterpoint Research 2024 mengungkapkan bahwa lebih dari 70% pengguna smartphone di Asia Tenggara membawa power bank saat bepergian. Angka ini berbicara banyak tentang betapa pentingnya perangkat ini dalam kehidupan sehari-hari, terutama mengingat tingginya konsumsi daya pada perangkat generasi terbaru. iPhone 15 Pro dengan refresh rate tinggi dan Apple Watch Series 9 dengan fitur kesehatan canggih adalah contoh perangkat yang memang haus daya. Indonesia, dengan masyarakat yang rata-rata menghabiskan 4 jam 45 menit per hari di perangkat mobile menurut laporan We Are Social 2025, jelas membutuhkan solusi seperti ini.

MagGo Power Bank A1657 tidak hanya sekadar aksesori, tetapi bagian dari evolusi teknologi pengisian daya yang semakin personal dan terintegrasi. Dalam dunia di ekosistem pengisian daya nirkabel semakin berkembang—seperti yang terlihat pada 6 Ekosistem Canggih Realme MagDart atau standar Qi2 yang diadopsi oleh berbagai merek—kehadiran power bank dengan sertifikasi resmi untuk Apple Watch menjadi nilai tambah yang signifikan.

Anker, sebagai merek global terkemuka di bidang teknologi pengisian daya dan aksesoris elektronik, telah lama dikenal dengan inovasi seperti teknologi PowerIQ dan MultiProtect. MagGo Power Bank A1657 adalah bukti lain dari komitmen mereka untuk menghadirkan produk yang tidak hanya inovatif, tetapi juga benar-benar memenuhi kebutuhan pengguna modern.

Produk ini kini resmi tersedia di Indonesia dengan harga Rp1.297.000. Anda dapat memperolehnya melalui kanal resmi Anker di Shopee – Anker Indonesia, Tokopedia – Anker Indonesia, dan TikTok Shop – @Anker.Indonesia. Bagi Anda yang sering bepergian dan mengandalkan perangkat Apple, power bank ini mungkin menjadi investasi yang tepat untuk menjaga produktivitas dan konektivitas tetap prima di mana pun Anda berada.

Xiaomi 17 Series Resmi Dikonfirmasi, Hadapi iPhone 17 dengan Snapdragon 8 Elite

0

Telset.id – Jika Anda mengira Xiaomi akan meluncurkan seri Xiaomi 16 sebagai flagship pertama dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, siap-siap terkejut. Perusahaan asal Tiongkok ini justru mengonfirmasi perubahan rencana yang cukup mengejutkan: mereka akan melompat langsung ke Xiaomi 17 series. Langkah berani ini bukan tanpa alasan—Xiaomi secara terbuka mengakui bahwa mereka siap berhadapan langsung dengan Apple iPhone 17 series.

Pengumuman resmi dari Xiaomi China menyebutkan bahwa seri Xiaomi 17 akan terdiri dari tiga model: Xiaomi 17, Xiaomi 17 Pro, dan Xiaomi 17 Pro Max. Yang menarik, Xiaomi memastikan bahwa model standar tidak akan mengalami kenaikan harga, tetap dimulai dari CNY 4,499 untuk varian 12GB/256GB. Sementara itu, Xiaomi 17 Pro dikonfirmasi sebagai flagship kompak, sesuai dengan berbagai rumor yang telah beredar sebelumnya. Adapun Xiaomi 17 Pro Max digadang-gadang sebagai “flagship paling powerful dalam sejarah Xiaomi” dalam hal teknologi high-end dan imaging.

Dari segi spesifikasi, ketiga model diprediksi memiliki layar OLED beresolusi 2K. Xiaomi 17 dan 17 Pro akan menggunakan panel 6,3 inci dengan bezel ultra-tipis, sedangkan Pro Max mungkin membentang hingga 6,8 inci. Ketiganya ditenagai oleh Snapdragon 8 Elite, dengan baterai yang cukup mengesankan: 7.000mAh untuk model dasar, 6.300mAh untuk Pro (plus dukungan wireless charging), dan bahkan 7.500mAh untuk Pro Max.

Di sektor kamera, Xiaomi 17 Pro dan Pro Max dikabarkan akan mengusung sensor utama SmartSens 590 50MP, ultra-wide 50MP, serta telephoto periskop 50MP dengan dukungan macro. Untuk selfie, ketiga model diprediksi menggunakan kamera 50MP dengan autofocus.

Lalu, mengapa Xiaomi memutuskan untuk melompat dari angka 15 langsung ke 17? Jawabannya jelas: persaingan dengan Apple. Dengan iPhone 17 series yang diprediksi akan menjadi salah flagship paling ditunggu tahun depan, Xiaomi ingin menunjukkan bahwa mereka tidak hanya sekadar mengikuti, tetapi siap bersaing langsung—bahkan dalam hal penamaan. Ini adalah langkah marketing yang cerdas sekaligus berani, mengingat Apple telah lama mendominasi segmen premium secara global.

Strategi harga yang tetap untuk model dasar juga patut diapresiasi. Di tengah tren kenaikan harga smartphone flagship, keputusan Xiaomi untuk mempertahankan harga awal yang kompetitif bisa menjadi penarik minat konsumen yang menginginkan performa terbaik tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam. Apalagi dengan baterai berkapasitas besar yang dijanjikan—fitur yang sering dikorbankan di banyak flagship demi desain yang lebih ramping.

Dari segi spesifikasi yang diusung seri sebelumnya, lompatan ke Xiaomi 17 terlihat cukup signifikan. Mulai dari chipset terbaru, kapasitas baterai yang lebih besar, hingga kamera yang ditingkatkan—semua menunjukkan bahwa Xiaomi serius ingin merebut perhatian di pasar high-end. Bahkan test benchmark yang bocor sebelumnya untuk model lain menunjukkan bahwa Xiaomi tidak main-main dalam hal performa.

Dengan semua keunggulan yang dijanjikan, pertanyaan besarnya adalah: apakah Xiaomi 17 series akan mampu benar-benar mengimbangi—atau bahkan mengalahkan—iPhone 17? Jawabannya masih harus ditunggu hingga kedua seri tersebut resmi diluncurkan. Namun, satu hal yang pasti: persaingan antara Xiaomi dan Apple akan semakin panas, dan konsumenlah yang akan diuntungkan dengan hadirnya lebih banyak pilihan flagship berkualitas.

Bagi Anda yang tertarik dengan varian lebih terjangkau namun tetap powerful, mungkin seri Redmi Note 15 bisa menjadi alternatif yang layak dipertimbangkan sambil menunggu kehadiran flagship terbaru ini.

iPhone 18: Dynamic Island Lebih Kecil, Tapi Tetap Ada Notch?

0

Pernahkah Anda merasa bahwa meskipun iPhone terus berevolusi, masih ada satu hal yang tak berubah—keberadaan notch atau Dynamic Island di bagian atas layar? Baru seminggu iPhone 17 dijual, tapi rumor tentang iPhone 18 sudah mulai bermunculan. Bocoran terbaru mengindikasikan bahwa Apple mungkin belum siap menghadirkan layar sepenuhnya tanpa gangguan pada seri iPhone 2026.

Selama bertahun-tahun, penggemar Apple menantikan momen ketika Face ID dan kamera depan bisa disembunyikan di bawah layar, menciptakan tampilan yang benar-benar bezel-less. Raksasa teknologi seperti Samsung dan Xiaomi sudah melakukannya, meski dengan trade-off tertentu. Tapi Apple, seperti biasa, mengambil pendekatan yang lebih hati-hati dan bertahap.

Menurut laporan dari sumber bocoran Setsuna Digital yang berbasis di China, iPhone 18 series akan datang dengan Dynamic Island yang lebih kecil, bukan penghapusan total. Ini menunjukkan bahwa teknologi under-display untuk sensor Face ID dan kamera depan mungkin harus menunggu hingga iPhone 19 atau bahkan edisi spesial ulang tahun Apple di 2027.

Dynamic Island yang Lebih Kompak: Solusi Sementara Apple

Bocoran dari Setsuna Digital mengklaim bahwa Apple sedang mengerjakan pengurangan ukuran cutout Dynamic Island, yang saat ini menjadi rumah bagi sensor Face ID dan kamera depan. Alih-alih menghilangkannya sepenuhnya, perusahaan tampaknya memilih untuk menyempurnakan apa yang sudah ada. Pendekatan ini konsisten dengan filosofi Apple yang terkenal: perbaikan bertahap daripada perubahan radikal.

Meskipun banyak yang berharap untuk under-display technology pada iPhone 18, kenyataannya teknologi ini mungkin masih membutuhkan waktu untuk matang. Apple dikenal sangat memperhatikan kualitas pengalaman pengguna, dan mereka mungkin tidak ingin mengorbankan keandalan Face ID atau kualitas kamera depan hanya untuk mencapai tampilan yang lebih bersih.

Kredibilitas Sumber dan Konteks Rumor

Setsuna Digital bukan nama asing dalam dunia bocoran Apple. Mereka sebelumnya berhasil memprediksi sistem pendingin vapor chamber pada iPhone 17 dengan akurat. Namun, seperti semua sumber bocoran, track record mereka tidak sempurna dan harus disikapi dengan skeptisisme yang sehat.

Rumor tentang Dynamic Island yang lebih kecil ini sejalan dengan pembicaraan tentang rencana Apple untuk 2026, yang mungkin mencakup perubahan lain dalam lineup iPhone, termasuk kemungkinan perangkat lipat pertama Apple. Tapi untuk teknologi under-display, tampaknya kita harus bersabar lebih lama.

Strategi Apple vs Kompetisi

Sementara Apple mengambil pendekatan bertahap, pesaing seperti Samsung terus mendorong batas dengan perangkat foldable dan teknologi layar inovatif. Pertanyaannya: apakah strategi konservatif Apple akan terbayar dalam jangka panjang, atau apakah mereka akan tertinggal dalam perlombaan inovasi?

Bagi Apple, mungkin yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap perubahan tidak mengorbankan kualitas dan keandalan yang menjadi trademark mereka. Dynamic Island yang lebih kecil bisa menjadi kompromi yang masuk akal—memberikan tampilan yang lebih bersih tanpa mengambil risiko pada teknologi yang belum sepenuhnya siap.

Perubahan pada iPhone 18 kemungkinan akan lebih bersifat penyempurnaan daripada desain ulang radikal. Apple tampaknya tidak terburu-buru dalam transisi menuju iPhone dengan layar sepenuhnya tanpa gangguan, memilih untuk fokus pada peningkatan bertahap yang terukur.

Apa Artinya Bagi Konsumen?

Bagi Anda yang menantikan iPhone dengan tampilan depan yang benar-benar bersih, berita ini mungkin sedikit mengecewakan. Tapi Dynamic Island yang lebih kecil masih merupakan langkah maju yang signifikan. Ini akan memberikan lebih banyak ruang layar yang dapat digunakan dan pengalaman visual yang lebih imersif.

Yang menarik, iPhone 18 Pro dikabarkan akan memiliki fitur variabel aperture yang mirip dengan Android, menunjukkan bahwa Apple tetap berinovasi di area lain. Jadi meskipun kita mungkin harus menunggu lebih lama untuk under-display technology, masih ada banyak hal yang bisa dinantikan dari seri iPhone mendatang.

Pada akhirnya, keputusan Apple untuk tidak terburu-buru mengadopsi teknologi under-display mungkin didasarkan pada pertimbangan kualitas dan keandalan. Seperti kata pepatah, “lebih baik terlambat tapi sempurna, daripada cepat tapi setengah-setengah.” Untuk sekarang, Dynamic Island yang lebih kecil tampaknya menjadi langkah berikutnya dalam perjalanan panjang Apple menuju tampilan depan yang lebih bersih.