Beranda blog Halaman 127

ManageEngine Perkuat Log360 dengan Deteksi Ancaman yang Dirancang Ulang

0

Telset.id – Bayangkan Anda adalah seorang analis keamanan siber yang harus menyaring ribuan peringatan setiap hari. Dari sekian banyak notifikasi yang berdering, 53 persen di antaranya ternyata hanyalah “kebisingan” belaka—false positive yang menguras energi dan waktu berharga. Inilah realitas pahit yang dihadapi lebih dari 60 persen tim SOC global menurut studi 2025 Threat Intelligence Benchmark yang ditugaskan Google. Namun, ManageEngine baru saja meluncurkan solusi yang bisa mengubah segalanya.

ManageEngine, divisi dari Zoho Corporation, secara resmi mengumumkan pembaruan besar pada platform SIEM mereka, Log360. Yang menarik, ini bukan sekadar tambalan kecil atau pembaruan rutin. Ini adalah perubahan fundamental dalam pendekatan deteksi ancaman—sebuah respons langsung terhadap epidemi “alert fatigue” yang melanda industri keamanan siber. Dengan lebih dari 1.500 aturan deteksi siap pakai yang telah dipetakan ke kerangka kerja MITRE ATT&CK dan SIGMA, Log360 yang telah diperbarui ini menjanjikan revolusi dalam cara tim SOC bekerja.

Manikandan Thangaraj, Wakil Presiden di ManageEngine, menjelaskan dengan gamblang: “Tantangan terbesar tim keamanan saat ini bukan mengumpulkan data—tetapi memisahkan sinyal asli dari kebisingan yang berlebihan.” Pernyataan ini menyentuh inti masalah yang selama ini menjadi momok di industri keamanan siber. Bagaimana tidak, ketika serangan siber global semakin mengkhawatirkan, kemampuan untuk fokus pada ancaman nyata menjadi kebutuhan kritis.

Yang membedakan pembaruan ini dari sekadar peningkatan teknis biasa adalah pendekatan human-centered design-nya. Alih-alih menambahkan kompleksitas dengan aturan yang semakin rumit, ManageEngine justru menyederhanakan pengalaman analis. Konsol deteksi terpusat yang baru mengkonsolidasikan semua konten deteksi—aturan selaras MITRE ATT&CK, logika korelasi, UEBA, dan threat intel feeds—ke dalam satu tampungan yang intuitif. Hasilnya? Analis tidak perlu lagi berjuang dengan kueri kompleks atau bolak-balik antara berbagai antarmuka.

Bukti Nyata dari Lapangan: Pengurangan 90% False Positive

Cerita paling meyakinkan datang dari Emergency Communications of Southern Oregon (ECSO) 911, salah satu peserta uji coba beta yang berbasis di Amerika Serikat. Corey Nelson, IT Manager ECSO 911, membagikan pengalaman transformatif mereka: “Dengan aturan deteksi Log360 yang dioptimalkan dan teknik pemfilteran, kami berhasil mengurangi peringatan salah atau prioritas rendah hingga 90%.” Angka ini bukan sekadar statistik—ini tentang menyelamatkan nyawa dalam konteks pusat panggilan darurat 911.

Nelson menekankan, “Bagi pusat komunikasi darurat 911, keamanan adalah fondasi dari kepercayaan publik—dan setiap kegagalan memiliki konsekuensi nyata secara langsung.” Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap peringatan keamanan yang terlewat, bisa jadi ada nyawa yang dipertaruhkan. Inilah mengapa ancaman terhadap sistem teknologi kritis harus ditangani dengan serius.

Pencapaian ECSO 911 ini menjadi bukti nyata bahwa pendekatan ManageEngine bukan sekadar janji marketing. Pengurangan 90% false positive berarti analis bisa menghabiskan waktu mereka untuk ancaman yang benar-benar berbahaya, bukan terjebak dalam “wild goose chase” mengejar bayangan yang tidak nyata. Dalam industri di setiap detik berarti, percepatan siklus deteksi-respon seperti ini bisa menjadi pembeda antara bencana dan keselamatan.

Arsitektur untuk Skala Enterprise yang Semakin Kompleks

Di era di mana ancaman siber semakin canggih, skalabilitas menjadi tantangan berikutnya. ManageEngine menjawab ini dengan arsitektur multi-tier kelas enterprise yang memungkinkan skalabilitas horizontal. Dengan cluster log processor dan pemrosesan berbasis peran (korelasi, pengayaan, pemberitahuan), serta pengumpulan terpusat dari lokasi terdistribusi, Log360 memastikan performa tetap optimal bahkan di organisasi dengan cakupan geografis luas.

Yang menarik, pembaruan ini juga mencakup filter berbasis objek di seluruh pengguna, grup, dan OU Active Directory. Fitur ini memastikan identitas bernilai tinggi—seperti akun administrator atau akses ke data sensitif—selalu dipantau dengan ketat, sementara kebisingan dari aktivitas rutin bisa ditekan. Ini seperti memiliki sistem keamanan yang tahu persis mana jendela yang rawan dan mana yang aman, alih-alih memperlakukan semua jendela sama.

Dengan lebih dari 1.500 aturan siap pakai yang mencakup beragam kasus penggunaan—dari eskalasi hak akses dan pergerakan lateral hingga manipulasi endpoint dan serangan SaaS—Log360 memberikan coverage yang komprehensif. Aturan-aturan ini tidak dikembangkan asal-asalan; mereka diteliti, dikurasi, dan diuji oleh tim riset ancaman internal ManageEngine untuk memastikan akurasi tinggi dan false positive rendah.

ManageEngine mengundang para profesional keamanan siber untuk bergabung dalam sesi peluncuran pada 30 September 2025 melalui https://mnge.it/8gM. Bagi yang ingin mempelajari lebih dalam tentang kapabilitas deteksi ancaman Log360, informasi lengkap tersedia di https://mnge.it/Vi9. Di tengah landscape ancaman siber yang semakin kompleks, solusi yang mampu memisahkan sinyal nyata dari kebisingan mungkin menjadi investasi terpenting yang bisa dilakukan organisasi mana pun.

OpenAI Luncurkan Fitur Belanja Langsung di ChatGPT

0

Telset.id – Bayangkan memesan sepatu lari terbaik atau kado rumah baru tanpa pernah meninggalkan obrolan dengan asisten AI Anda. Itulah kenyataan yang mulai hari ini bagi pengguna ChatGPT di Amerika Serikat, berkat peluncuran fitur Instant Checkout oleh OpenAI. Langkah strategis ini bukan sekadar tambahan fitur belanja biasa, melainkan sebuah terobosan signifikan yang mengantarkan kita lebih dekat ke era agen AI yang sepenuhnya fungsional.

Dengan Instant Checkout, proses belanja online menjadi semudah bertanya rekomendasi. Ketika Anda menanyakan “ide kado untuk rumah baru” atau “sepatu lari terbaik di bawah $100”, produk dari penjual Etsy yang mendukung fitur ini akan menampilkan opsi “Beli”. Cukup ketuk, konfirmasi pesanan, alamat pengiriman, dan detail pembayaran—semuanya terjadi dalam antarmuka chat yang familiar. Bagi pelanggan berlangganan ChatGPT, pembayaran bisa menggunakan kartu yang sudah terdaftar atau memilih metode lain. Penjual kemudian menangani pesanan seperti biasa, dengan ChatGPT bertindak sebagai perantara yang memberikan informasi pembeli. Layanan ini gratis untuk pengguna, meski penjual dikenakan biaya kecil untuk setiap transaksi yang berhasil.

OpenAI dengan tegas menyatakan bahwa produk dengan Instant Checkout tidak akan mendapatkan perlakuan khusus dalam hasil pencarian atau memengaruhi rekomendasi secara keseluruhan. Namun, dalam peringkat penjual produk yang sama, faktor “apakah Instant Checkout diaktifkan” akan dipertimbangkan untuk “mengoptimalkan pengalaman pengguna”—sebuah nuance penting dalam algoritma rekomendasi yang patut dicermati.

Ekspansi Besar-besaran dan Sumber Terbuka

Yang membuat gebrakan ini semakin menarik adalah skalanya. OpenAI mengungkapkan bahwa lebih dari satu juta merchant Shopify—termasuk merek-merek ternama seperti Glossier, SKIMS, dan Spanx—akan segera bergabung dalam platform ini. Untuk saat ini, Instant Checkout hanya mendukung pembelian item tunggal, namun perusahaan sudah berencana menambahkan keranjang belanja multi-item dan memperluas jangkauan ke lebih banyak merchant serta region di seluruh dunia.

Mungkin yang paling visioner dari seluruh pengumuman ini adalah keputusan OpenAI untuk membuka sumber teknologi yang mendukung Instant Checkout. Protokol yang dikembangkan bersama processor pembayaran Stripe ini, disebut Agentic Commerce Protocol, dimaksudkan menjadi standar untuk belanja berbasis AI dan memudahkan developer mengintegrasikan toko mereka dengan ChatGPT. Langkah open source ini mengingatkan pada upaya OpenAI mengembangkan chip sendiri demi meningkatkan kemampuan ChatGPT—sebuah komitmen jangka panjang untuk membangun ekosistem yang independen dan powerful.

Perlombaan Menuju Agen AI yang Autonom

Instant Checkout bukanlah langkah isolated OpenAI. Ini adalah bagian dari puzzle besar yang sedang disusun perusahaan untuk menciptakan agen AI yang benar-benar mandiri. Industri secara keseluruhan sedang berlomba meluncurkan apa yang disebut agen AI—asisten virtual yang secara teori bisa menangani tugas seperti menulis laporan, memesan perjalanan, berbelanja online, dan menjadwalkan appointment.

Baru minggu lalu, OpenAI meluncurkan ChatGPT Pulse, yang melakukan riset relevan untuk pengguna dan terhubung ke email, kalender, dan aplikasi lain untuk memberikan briefing pagi harian. Fitur lain yang diperkenalkan tahun ini, ChatGPT Agent, juga terhubung ke aplikasi pengguna namun masih membutuhkan prompt eksplisit untuk menjalankan tugas. Dan pada Januari, perusahaan memperkenalkan OpenAI Operator, tool yang bisa mengisi form online dan menempatkan pesanan sendiri—meski pembeli masih harus memasukkan informasi pembayaran secara manual.

Perkembangan ini terjadi dalam landscape kompetitif yang semakin panas. Persetujuan Grok xAI oleh pemerintah AS dan investasi besar-besaran seperti komitmen Apple senilai Rp 16 triliun untuk server AI Nvidia menunjukkan betapa seriusnya perlombaan teknologi ini.

Pertukaran yang Tak Terelakkan: Kemudahan vs Privasi

Namun ada satu hal yang semakin jelas seiring mendekatnya era agen AI: mereka membutuhkan akses ke banyak data pribadi kita untuk bekerja dengan baik, jika memang mereka bisa bekerja. Instant Checkout membutuhkan informasi kartu kredit, alamat, preferensi belanja—data yang sangat sensitif yang sekarang dipercayakan kepada sistem AI.

Ini mengingatkan pada temuan mengejutkan tentang chatbot AI yang paling banyak mengumpulkan data pribadi. Ketika AI menjadi semakin terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari, pertanyaan tentang privasi dan keamanan data menjadi semakin kritis. Bagaimana OpenAI akan melindungi data pengguna? Siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kebocoran? Dan yang paling penting—seberapa jauh kita bersedia mengorbankan privasi untuk kemudahan?

Lanskap kompetisi juga patut diperhatikan. Dengan ChatGPT menjadi platform belanja, bagaimana dampaknya terhadap pemain e-commerce mapan? Apakah kita akan melihat respons regulator seperti yang terjadi pada iklan Google yang dianggap merugikan persaingan oleh pengawas Inggris?

OpenAI dengan Instant Checkout-nya tidak hanya mengubah cara kita berbelanja, tetapi juga mendefinisikan ulang hubungan kita dengan teknologi AI. Ini bukan sekadar fitur baru—ini adalah jendela menuju masa depan di mana asisten digital kita tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi benar-benar mengambil tindakan untuk kita. Pertanyaannya sekarang: seberapa siapkah kita menyambut masa depan itu, dengan segala konsekuensi dan komprominya?

Bocoran Aplikasi Sora 2 OpenAI: TikTok AI dengan Fitur Wajah yang Kontroversial

0

Telset.id – Bayangkan sebuah platform media sosial di mana setiap video yang Anda scroll sepenuhnya dibuat oleh kecerdasan buatan. Tidak ada konten manusia asli, tidak ada momen spontan—hanya simulasi digital yang dipersonalisasi untuk Anda. Inilah yang sedang dipersiapkan OpenAI, menurut laporan eksklusif dari Wired. Aplikasi Sora 2 yang sedang dikembangkan dikabarkan akan menjadi TikTok versi AI murni, lengkap dengan fitur pengenalan wajah yang menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

Laporan ini muncul di tengah gelombang skeptisisme terhadap konten AI. Meta baru-baru ini meluncurkan feed khusus AI di aplikasi Meta AI-nya, yang langsung menuai kritik pedas dari pengguna. Sekarang, OpenAI dikabarkan akan melangkah lebih jauh dengan aplikasi mandiri untuk model pembuatan video Sora 2. Yang membedakan? Platform ini akan menggunakan algoritma rekomendasi personalisasi untuk menyajikan konten yang sesuai minat pengguna, mirip dengan cara kerja TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts. Bedanya, semua konten di sini 100% buatan mesin.

Mekanisme Platform yang Mengusik Privasi

Yang paling kontroversial dari bocoran aplikasi Sora 2 ini adalah sistem verifikasi identitas melalui pengenalan wajah. Pengguna akan diminta untuk mengonfirmasi kemiripan wajah mereka, dan setelah itu—inilah bagian yang mengkhawatirkan—wajah mereka dapat digunakan dalam video AI. Bahkan lebih mengganggu lagi: pengguna lain dapat menandai Anda dan menggunakan kemiripan wajah Anda dalam video buatan mereka sendiri. Setiap kali wajah Anda digunakan, Anda akan mendapat notifikasi—bahkan jika video tersebut hanya disimpan sebagai draf dan tidak pernah diposting.

Di era ketika pemerintah federal AS baru mulai membahas regulasi terbatas untuk melindungi korban deepfake non-konsensual, fitur semacam ini terasa seperti langkah mundur. Apakah ini berarti Sora 2 pada dasarnya memfasilitasi manipulasi wajah oleh orang lain? Pertanyaan ini semakin menguat mengingat rekam jejak OpenAI dalam hal keamanan konten. Meskipun perusahaan mengklaim telah menambahkan perlindungan ke model Sora asli untuk mencegah generasi konten telanjang dan eksplisit, pengujian independen menunjukkan sistem tetap dapat menghasilkan konten terlarang—meski dalam tingkat yang rendah.

Batasan Teknis dan Implikasi Sosial

Dari segi teknis, video yang dihasilkan Sora 2 akan dibatasi hingga 10 detik—jauh lebih pendek dari kemampuan Sora versi pertama yang bisa menghasilkan video 60 detik. Pembatasan ini kemungkinan besar terkait dengan keterbatasan teknologi: setelah 10 detik, kualitas video AI mulai menurun dan “berhalusinasi” elemen aneh. Meskipun OpenAI melatih modelnya untuk menolak pelanggaran hak cipta dan menerapkan filter untuk membatasi jenis video tertentu, pertanyaan tentang efektivitas perlindungan ini tetap menggantung.

Yang menarik, tidak ada cara untuk mengunggah foto atau video langsung tanpa edit di platform ini. Semua konten harus melewati proses “AI-fikasi” terlebih dahulu. Pendekatan ini sekilas terlihat seperti upaya untuk mengkarantina konten AI dalam ekosistem terpisah—sebuah konsep yang mungkin justru bijaksana di tengah banjirnya konten AI di platform konvensional. Namun, implementasi fitur sosialnya, khususnya yang melibatkan penggunaan wajah pengguna, justru menciptakan risiko privasi baru.

Bagi Anda yang tertarik dengan alternatif pembuatan konten video, tersedia berbagai aplikasi untuk membuat video bokeh terbaik Android 2024 yang menawarkan kreativitas tanpa kompromi privasi. Sementara platform seperti X yang mirip Zoom dengan fitur video call mendemonstrasikan bagaimana fitur sosial dapat diimplementasikan dengan lebih transparan.

Masa Depan yang Masih Spekulatif

Hingga saat ini, OpenAI belum mengonfirmasi rencana pengembangan aplikasi Sora 2. Gizmodo telah menghubungi perusahaan tersebut tetapi belum menerima tanggapan pada saat publikasi. Spekulasi tentang peluncuran Sora 2 telah beredar selama berbulan-bulan, dengan beberapa pihak memperkirakan pengumuman akan dilakukan bersamaan dengan peluncuran GPT-5. Untuk saat ini, aplikasi dan modelnya masih bersifat teoretis.

Namun, jika laporan Wired akurat, kita mungkin sedang menyaksikan kelahiran bentuk baru media sosial—atau mungkin “anti-sosial media”—di mana interaksi manusia digantikan oleh simulasi AI. Konsep feed AI eksklusif sebenarnya mengandung potensi positif: memisahkan konten AI dari platform konvensional, mirip bagaimana cara download video YouTube pakai aplikasi Telegram memisahkan fungsi unduhan dari platform streaming. Namun, implementasi fitur sosial yang melibatkan data biometrik pengguna justru menimbulkan paradoks keamanan yang serius.

Pertanyaan terbesar yang masih belum terjawab: akankah ada opsi opt-out atau kemampuan untuk membatasi siapa yang dapat menggunakan kemiripan wajah kita? Jika tidak, kita mungkin sedang menuju ke era baru pelanggaran privasi digital—di mana wajah kita bisa menjadi konten viral tanpa persetujuan kita, di platform yang sepenuhnya dikendalikan oleh algoritma.

Oppo Find X9 Pro Tantang Kamera Hasselblad Rp 170 Juta

0

Telset.id – Bayangkan sebuah smartphone yang berani menantang kamera profesional senilai Rp 170 juta. Bukan sekadar klaim marketing biasa, melainkan perbandingan langsung yang dipamerkan secara resmi. Inilah yang dilakukan Oppo dengan Find X9 Pro menjelang peluncurannya pada 16 Oktober mendatang.

Dalam postingan Weibo yang menggemparkan, Zhou Yibao, manajer seri Find Oppo, membagikan foto side-by-side antara Find X9 Pro dan Hasselblad X2D II 100C. Hasilnya? Mengejutkan. Sample dari Find X9 Pro menunjukkan ketajaman dan reproduksi warna yang hampir menyamai kamera profesional tersebut, berkat prosesing gambar canggih yang diterapkan Oppo.

Namun, tentu ada batasan yang tak bisa ditutupi. Hasselblad tetap unggul dalam dynamic range dan kedalaman natural, berkat pixel raksasa 3.76µm yang mampu menangkap lebih banyak cahaya dibanding pixel 0.5µm pada smartphone. Tapi bagi traveler atau content creator yang menginginkan kualitas foto tinggi tanpa repot membawa kamera besar, Find X9 Pro mulai terlihat seperti pilihan yang sangat menarik.

Telephoto 200MP: Senjata Rahasia Oppo

Jantung dari sistem kamera Find X9 Pro adalah sensor ISOCELL HP5 beresolusi 200MP yang digunakan untuk lensa telephoto 70mm. Berbeda dengan sensor high-megapixel generasi sebelumnya yang biasanya binning ke 12MP, sensor ini dikabarkan mampu menangkap gambar pada resolusi penuh 200MP (atau 50MP) dalam kondisi cahaya cukup.

Konfigurasi lengkapnya, berdasarkan bocoran yang beredar, meliputi kamera utama Sony LYT-828 50MP dengan OIS, kamera ultrawide 50MP, dan periskop 200MP yang menawarkan zoom optikal 3.5x (hingga 120x hybrid). Yang menarik, Oppo juga menyertakan sentuhan khas Hasselblad seperti mode XPAN dan trik triple-exposure baru.

Bahkan lebih ambisius lagi, tersedia kit imaging opsional dengan teleconverter yang memperpanjang jangkauan dari 70mm menjadi 220mm. Ini merupakan langkah berani yang menunjukkan komitmen Oppo dalam menghadirkan pengalaman fotografi profesional di perangkat mobile. Seperti yang pernah kami bahas dalam artikel sebelumnya, kamera 200MP ini memang menjadi fokus utama Find X9 Pro.

Spesifikasi yang Tak Kalah Mengagumkan

Di balik kemampuan kameranya yang luar biasa, Find X9 Pro juga dibekali dengan spesifikasi yang tak kalah mentereng. Ponsel ini dikabarkan akan ditenagai oleh chipset MediaTek Dimensity 9500 terbaru, didukung baterai berkapasitas besar 7.500mAh dengan pengisian daya wired 80W dan wireless 50W.

Layar 6.78-inch LTPO OLED menawarkan resolusi 1.5K dengan refresh rate 120Hz, sementara desainnya tetap relatif ramping dengan ketebalan 8.25mm dan berat 224g. Kombinasi spesifikasi ini menjadikan Find X9 Pro tidak hanya unggul di bidang fotografi, tetapi juga sebagai perangkat premium yang komprehensif. Seperti yang terungkap dalam bocoran sebelumnya, chipset Dimensity 9500 memang menjadi andalan untuk seri Find X9.

Dengan harga sekitar $1.000 atau setara Rp 16 juta, jelas Find X9 Pro tidak dimaksudkan untuk menggantikan peralatan Hasselblad bagi fotografer profesional. Namun, bagi mereka yang menginginkan kualitas gambar mendekati profesional dengan kemudahan dan portabilitas smartphone, Oppo mungkin telah menciptakan salah satu camera phone paling berani yang pernah ada.

Pertanyaannya sekarang: apakah Anda termasuk yang lebih memilih kemudahan smartphone dengan kualitas hampir profesional, atau tetap setia dengan kamera dedicated meski harus repot membawa peralatan tambahan? Jawabannya mungkin akan lebih jelas setelah peluncuran resmi 16 Oktober mendatang.

Harga Spare Part Xiaomi 17 Pro Bocor, Bikin Ngeri Sebelum Beli!

0

Bayangkan Anda baru saja menghabiskan hampir 5 juta rupiah untuk smartphone flagship terbaru. Rasanya pasti seperti memiliki mahakarya teknologi di genggaman. Tapi pernahkah terpikir, berapa biaya yang harus Anda keluarkan jika layarnya retak atau kamera belakangnya bermasalah? Kengerian itu kini menjadi nyata bagi calon pembeli Xiaomi 17 series.

Xiaomi baru saja meluncurkan duo flagship mereka, Xiaomi 17 Pro dan 17 Pro Max, pada 25 September dengan harga mulai 4.999 yuan. Hanya berselang beberapa hari, perusahaan secara diam-diam mempublikasikan harga resmi suku cadang perbaikan di situs web mereka. Langkah transparan ini patut diacungi jempol, namun angka-angka yang terpampang justru membuat banyak orang berpikir dua kali.

Dalam industri smartphone di mana biaya perbaikan sering menjadi “kejutan tidak menyenangkan” pasca-pembelian, keputusan Xiaomi untuk mengungkap harga spare part sejak dini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, konsumen bisa merencanakan anggaran perawatan. Di sisi lain, beberapa angka benar-benar membuat mata berkedip.

Xiaomi 17 Pro: Murah di Bagian Kecil, Mahal di Komponen Vital

Untuk varian standar 17 Pro, beberapa komponen dasar ternyata cukup terjangkau. Battery baru hanya berharga 199 yuan, charger pengganti 55 yuan, dan kabel data bahkan cuma 19 yuan. Speaker atas dan bawah masing-masing dibanderol 15 yuan dan 25 yuan – harga yang bisa dibilang sangat masuk akal.

Namun ketika masuk ke komponen kamera, ceritanya mulai berubah. Kamera wide-angle belakang dihargai 450 yuan, sementara kamera periskop zoom mencapai 245 yuan. Kamera depan seharga 65 yuan dan ultra-wide belakang 80 yuan masih dalam batas wajar. Biaya terbesar justru datang dari motherboard dan display.

Motherboard Xiaomi 17 Pro bervariasi tergantung konfigurasi penyimpanan, mulai dari 2.730 yuan untuk versi 12GB+256GB hingga 3.190 yuan untuk 16GB+1TB. Display OLED dipatok 990 yuan, dan panel kaca belakang seharga 425 yuan. Angka-angka ini menunjukkan betapa komponen inti masih menjadi penyumbang biaya terbesar dalam perbaikan smartphone flagship.

Xiaomi 17 Pro Max

Xiaomi 17 Pro Max: Semua Lebih Mahal, Tapi Layar Lebih Tajam

Varian Max memang selalu identik dengan segala sesuatu yang lebih besar – termasuk harga spare partnya. Penggantian layar melonjak menjadi 1.050 yuan, sementara battery cover naik menjadi 495 yuan. Kamera wide-angle belakang sedikit lebih murah di 435 yuan, tetapi modul telephoto justru lebih mahal di 350 yuan. Kamera ultra-wide tetap di 80 yuan.

Motherboard pada 17 Pro Max semakin mengukuhkan status premiumnya dengan harga mulai 2.990 yuan dan mencapai puncaknya di 3.450 yuan untuk konfigurasi tertinggi. Perbedaan harga antara kedua varian ini mencerminkan kompleksitas teknologi yang lebih tinggi pada model Max, meskipun secara desain mungkin terlihat mirip dengan saudara mudanya.

Bagi Anda yang sedang mempertimbangkan untuk membeli smartphone flagship, informasi harga spare part ini bisa menjadi pertimbangan penting. Seperti yang terlihat dalam daftar HP Xiaomi terbaru, seri 17 memang menawarkan spesifikasi top, namun konsekuensi perawatannya juga perlu dipikirkan matang-matang.

Analisis Biaya Perbaikan vs Harga Beli: Worth It atau Tidak?

Mari kita hitung kasar: Jika Anda membeli Xiaomi 17 Pro 12GB+256GB seharga 4.999 yuan dan kemudian harus mengganti motherboard (2.730 yuan) plus display (990 yuan), total biaya perbaikan mencapai 3.720 yuan. Itu hampir 75% dari harga ponsel baru! Fakta ini membuat asuransi perangkat menjadi semakin relevan bagi pemilik smartphone flagship.

Perbandingan dengan produk sejenis dari brand lain juga menarik untuk diamati. Seperti yang terjadi pada Huawei P60 series yang juga menawarkan teknologi tinggi, pola harga spare part yang mahal untuk komponen inti tampaknya menjadi tren industri.

Pelajaran penting yang bisa diambil: rawat baik-baik smartphone flagship Anda, atau siapkan budget ekstra untuk perbaikan. Komponen seperti motherboard dan display memang dirancang dengan teknologi mutakhir, tapi itu pula yang membuat harganya melambung tinggi ketika harus diganti.

Strategi Xiaomi: Transparansi atau Peringatan?

Keputusan Xiaomi mengungkap harga spare part hanya beberapa hari setelah peluncuran produk patut diapresiasi. Di era di mana konsumen semakin kritis terhadap hak mereka, transparansi semacam ini membangun kepercayaan. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa angka-angka tersebut juga berfungsi sebagai “warning” bagi calon pembeli tentang konsekuensi kepemilikan perangkat high-end.

Bagi penggemar brand Xiaomi yang ingin alternatif lebih terjangkau, perbandingan Xiaomi 15T vs 14T bisa menjadi pertimbangan menarik. Meski tidak se-powerful seri 17, biaya perawatan dan perbaikannya mungkin lebih bersahabat dengan kantong.

Fenomena ini juga mengingatkan kita bahwa dalam memilih smartphone, tidak hanya spesifikasi dan harga beli yang perlu dipertimbangkan, tetapi juga biaya kepemilikan jangka panjang. Smartphone mahal tidak hanya mahal saat dibeli, tetapi juga mahal ketika diperbaiki.

Jadi, sebelum Anda tergoda oleh kecanggihan Xiaomi 17 Pro atau 17 Pro Max, pertimbangkan matang-matang apakah Anda siap dengan konsekuensi finansial jika terjadi kerusakan. Atau mungkin, lebih baik memilih smartphone dengan biaya perawatan yang lebih terjangkau? Keputusan ada di tangan Anda, tapi sekarang setidaknya Anda sudah memiliki informasi lengkap untuk membuat pilihan yang tepat.

Benchmark Honor Magic 8 Ungguli Xiaomi 17 Pro, Rivalitas Memanas!

0

Pertarungan puncak di dunia smartphone flagship baru saja memasuki babak baru yang lebih sengit. Snapdragon 8 Elite Gen 5, jantung teknologi terbaru Qualcomm yang masih hangat, sudah langsung menjadi ajang pembuktian dua raksasa China: Xiaomi dan Honor. Jika Xiaomi berhasil mencatatkan nama sebagai yang pertama meluncurkan ponsel dengan chipset 3nm ini melalui seri 17, Honor tak mau tinggal diam dan segera melayangkan jawaban yang tak kalah menggemparkan.

Lanskap persaingan smartphone high-end memang selalu dinamis. Kehadiran chipset baru biasanya diikuti oleh klaim-klaim superioritas dari berbagai merek. Namun, kali ini, Honor datang dengan data yang konkret dan sulit diabaikan. Bocoran benchmark terbaru yang dibagikan langsung oleh jajaran internal Honor menunjukkan performa yang benar-benar mengesankan, bahkan berpotensi menggeser posisi Xiaomi 17 Pro yang lebih dulu rilis.

Lantas, seberapa signifikan keunggulan yang ditunjukkan Honor Magic 8 ini? Apakah angka benchmark yang tinggi sudah cukup untuk menjamin pengalaman pengguna yang lebih baik? Mari kita selami lebih dalam data-data yang telah beredar dan apa artinya bagi Anda, para pencinta teknologi.

Angka Benchmark yang Bicara: Honor Magic 8 Mendominasi

Perang spesifikasi dimulai dari angka, dan dalam hal ini, Honor Magic 8 datang dengan senjata yang berat. Li Kun, Product Manager Honor, dengan percaya diri membagikan tangkapan layar skor AnTuTu V11 untuk Magic 8 di platform Weibo. Angkanya? Sangat fantastis: 4.166.339 poin. Bandingkan dengan skor Xiaomi 17 Pro yang tercatat di 3.749.435 poin. Selisih hampir 417.000 poin ini bukanlah hal sepele—ini menunjukkan keunggulan sekitar 11% untuk Honor Magic 8.

Yang lebih menarik lagi, keunggulan ini konsisten di semua aspek pengujian. Pada tes CPU, Magic 8 mencetak 1.213.845, mengalahkan 1.053.385 dari rivalnya. Di bagian GPU, yang sangat krusial untuk gaming dan grafis berat, Honor unggul dengan 1.468.351 berbanding 1.332.311. Bahkan di sektor memori dan UX (User Experience), Magic 8 tetap memimpin dengan masing-masing 570.553 (vs 529.807) dan 913.590 (vs 833.932). Dominasi yang hampir sempurna ini tentu menjadi pesan yang jelas: Honor serius menantang takhta Xiaomi. Seri Magic8 sendiri diprediksi akan menjadi flagship AI paling canggih di kuartal terakhir 2025, dan performa benchmark ini seolah menjadi pembuktian awal dari klaim tersebut.

Di Balik Angka: Konsumsi Daya dan Thermal yang Perlu Dipertimbangkan

Namun, benarkah kemenangan Honor sudah mutlak? Seorang jurnalis senior tentu tak akan serta merta menyimpulkan hanya dari satu sisi cerita. Benchmark hanyalah satu bagian dari puzzle. Data lain yang terungkap justru memberikan nuansa berbeda. Selama proses pengujian benchmark, Honor Magic 8 tercatat kehilangan daya baterai sebesar 7%. Sementara itu, Xiaomi 17 Pro hanya kehilangan 2%. Pada pandangan pertama, ini terlihat seperti kelemahan signifikan untuk Honor.

Tapi, mari kita lihat lebih jeli. Perbedaan konsumsi daya ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh kondisi pengujian. Xiaomi 17 Pro diuji saat tingkat baterainya masih di atas 90%, dan seperti yang umum diketahui, penurunan persentase baterai pada level yang tinggi seringkali lebih lambat—bisa jadi ini adalah karakteristik dari cara sistem melaporkan sisa daya, bukan indikasi efisiensi yang buruk dari Magic 8. Di sisi lain, varian foldable Honor, Magic V5, dikabarkan akan membawa baterai terbesar di kelasnya, menunjukkan bahwa Honor sebenarnya punya perhatian khusus pada ketahanan daya.

Aspek thermal atau suhu operasi juga menarik untuk diamati. Honor Magic 8 mengalami kenaikan suhu sebesar 13°C selama tes, sementara Xiaomi 17 Pro naik lebih tinggi, yaitu 20°C. Kenaikan suhu yang lebih rendah pada Magic 8 bisa mengindikasikan sistem pendinginan yang lebih efisien, sebuah faktor penting untuk menjaga performa konsisten dalam penggunaan jangka panjang, terutama untuk gaming atau tugas berat lainnya.

Lebih Dari Sekadar Performa: Senjata Rahasia Masing-Masing

Pertarungan antara Honor Magic 8 dan Xiaomi 17 Pro jelas tidak akan berhenti di angka benchmark. Kedua flagship ini datang membawa senjata andalan yang berbeda untuk memikat konsumen. Xiaomi 17 Pro, misalnya, mengusung kolaborasi kamera Leica yang sudah terkenal dan dilengkapi dengan fitur unik berupa display kecil di bagian belakang tubuhnya berukuran 2,7 inci, sebuah fitur yang juga pernah dieksplorasi varian Ultimate Edition di generasi sebelumnya.

Di sisi lain, Honor tidak mau kalah. Untuk varian Magic 8 Pro, mereka memamerkan sensor telephoto beresolusi monstrous 200MP. Beberapa sample foto dari kamera ini bahkan sudah beredar di internet, menunjukkan potensi yang sangat besar dalam bidang fotografi, terutama untuk zoom jarak jauh tanpa kehilangan detail. Bocoran mengenai Honor Magic 8 Pro ini semakin mengukuhkan niat Honor untuk bersaing ketat di segmen kamera flagship. Dengan senjata yang berbeda ini, pilihan konsumen nantinya akan sangat tergantung pada prioritas mereka: apakah kamera Leica dan desain unik Xiaomi, atau kamera telephoto tinggi dan performa raw yang diusung Honor.

Narasi Persaingan: Siapa yang Akan Memimpin di Q4 2025?

Dengan jadwal peluncuran Honor Magic 8 series yang diprediksi pada Oktober mendatang, bocoran benchmark ini ibarat bensin yang ditumpahkan ke bara api persaingan. Xiaomi memang berhasil mencuri perhatian sebagai pioneer Snapdragon 8 Elite Gen 5. Namun, Honor dengan lihai menunjukkan bahwa menjadi yang pertama bukanlah segalanya. Kemampuan untuk “menyetel” atau men-tuning hardware dengan lebih optimal sehingga menghasilkan performa lebih tinggi adalah nilai jual yang sangat kuat.

Pelajaran dari generasi sebelumnya, seperti pembaruan MagicOS pada seri Magic7 yang membawa fitur AI baru, menunjukkan komitmen Honor dalam menghadirkan pengalaman perangkat lunak yang mumpuni. Kombinasi antara hardware yang dioptimalkan dan software yang cerdas inilah yang akan menentukan pemenang sesungguhnya. Keunggulan awal di benchmark memberikan momentum yang bagus untuk Honor, namun pertarungan sesungguhnya akan terjadi di tangan konsumen, yang akan menilai mana ponsel yang benar-benar memberikan pengalaman terbaik dalam keseharian.

Jadi, bersiaplah menyambut kuartal terakhir 2025 yang penuh drama teknologi. Persaingan Xiaomi vs Honor dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5 sebagai medan tempurnya menjanjikan pertunjukan yang tak kalah seru dari rivalitas legendaris lainnya di industri ini. Keputusan akhir ada di tangan Anda, mana yang akan menjadi pendamping digital Anda selanjutnya?

CMF Headphone Pro Resmi: Modular, ANC, dan Baterai 100 Jam

0

Telset.id – Bayangkan headphone yang bisa Anda sesuaikan seperti baju favorit—warna earcup bisa ditukar-tukar, kontrol audio disesuaikan dengan jari, dan baterainya sanggup menemani perjalanan panjang tanpa takut mati mendadak. Itulah yang ditawarkan CMF Headphone Pro, produk terbaru sub-brand Nothing yang baru saja diumumkan secara resmi.

Dengan harga terjangkau 99 dolar AS atau 99 euro, headphone over-ear ini bukan sekadar aksesori audio biasa. Ia membawa filosofi desain minimalis khas Nothing yang memadukan fashion dan kualitas suara dalam satu paket menarik. Yang membuatnya istimewa? Pendekatan modular yang memungkinkan personalisasi tingkat tinggi, fitur noise cancellation canggih, dan daya tahan baterai yang sulit ditandingi produk sekelasnya.

Dalam dunia audio personal yang semakin ramai, kehadiran CMF Headphone Pro seperti angin segar. Brand yang fokus pada desain ini berhasil menciptakan produk yang tidak hanya enak didengar, tapi juga enak dipandang dan sesuai dengan gaya hidup modern. Apalagi dengan integrasi AI yang semakin cerdas, headphone ini siap menjadi teman setia Anda dalam berbagai aktivitas.

Desain Modular: Personalisasi Tanpa Batas

Salah satu fitur paling mencolok dari CMF Headphone Pro adalah earcup yang dapat ditukar. Pengguna bisa mix and match warna sesuai mood atau gaya berpakaian. Pilihan warna yang tersedia—Light Green, Light Gray, dan Dark Gray—memberikan fleksibilitas untuk mengekspresikan kepribadian melalui perangkat audio.

Tak hanya itu, CMF Headphone Pro hadir dengan kontrol yang dirancang secara khusus. Ada tombol taktil dan slider yang disebut Energy Slider untuk menyesuaikan level bass dan treble secara real-time. Bahkan terdapat roller khusus untuk mengatur volume, kontrol musik, dan mengaktifkan mode ANC. Setiap elemen dirancang untuk memberikan pengalaman penggunaan yang intuitif dan memuaskan.

Fitur kustomisasi tidak berhenti di situ. Nothing menyertakan tombol yang dapat diprogram sesuai kebutuhan pengguna. Yang menarik, tombol ini bisa diatur sebagai shortcut AI dengan integrasi ChatGPT. Ini membuka kemungkinan baru dalam berinteraksi dengan perangkat audio—Anda bisa bertanya, meminta bantuan, atau sekadar mengobrol dengan asisten virtual tanpa harus mengeluarkan ponsel.

Teknologi Audio yang Impresif

Di balik desainnya yang stylish, CMF Headphone Pro menyembunyikan teknologi audio yang serius. Headphone ini menggunakan dynamic driver 40mm dengan Nothing Tuning yang memberikan signature sound khas brand tersebut. Hasilnya adalah reproduksi suara yang detail dan seimbang, cocok untuk berbagai genre musik.

Fitur ANC (Active Noise Cancellation) mampu meredam kebisingan hingga 40 desibel—angka yang cukup impressive untuk headphone budget. Mode transparansi juga tersedia, memungkinkan Anda tetap aware dengan lingkungan sekitar ketika diperlukan. Untuk panggilan, tiga mikrofon dengan ENC (Environmental Noise Cancellation) dan Wind Noise Conduction Mesh memastikan suara Anda terdengar jernih bahkan di kondisi berangin.

Konektivitas didukung Bluetooth 5.4 dengan dukungan codec AAC, SBC, dan LDAC—yang terakhir dikenal sebagai codec high-resolution yang menjaga kualitas audio wireless. Bagi gamer, mode low latency tersedia untuk mengurangi delay audio saat gaming. Fitur ini membuat headphone ini cocok tidak hanya untuk mendengar musik, tapi juga untuk meeting online dan sesi gaming marathon.

Daya Tahan Baterai yang Luar Biasa

Ini mungkin spesifikasi yang paling membuat banyak orang terkesan: CMF Headphone Pro mampu bertahan hingga 100 jam dengan ANC dimatikan. Bahkan dengan ANC aktif, baterai masih sanggup bertahan 50 jam ketika menggunakan codec AAC. Angka ini jauh di atas rata-rata headphone wireless di kelasnya.

Fitur pengisian cepat juga tidak kalah mengesankan. Hanya dengan 5 menit charging, Anda sudah bisa menikmati playback selama 5 jam. Ini solusi sempurna untuk situasi darurat ketika lupa mengisi daya sebelumnya. Daya tahan baterai yang exceptional ini membuat CMF Headphone Pro layak menjadi pilihan untuk traveling, work from coffee shop, atau sekadar menikmati musik sepanjang hari tanpa khawatir kehabisan daya.

Seperti yang kita lihat dalam tren perangkat elektronik lainnya, daya tahan baterai menjadi faktor penentu kepuasan pengguna. Beberapa produk lain seperti Redmi Pad 2 Pro juga mengedepankan aspek ini untuk memenangi persaingan pasar.

Fitur Tambahan yang Menarik

CMF Headphone Pro dilengkapi dengan sertifikasi tahan cipratan IPX2, meski tidak sekuat perangkat outdoor, cukup untuk melindungi dari keringat atau hujan ringan. Fitur koneksi dual device memungkinkan headphone terhubung ke dua perangkat sekaligus—misalnya ponsel dan laptop—dan beralih dengan mulus antara keduanya.

Dukungan Google Fast Pair dan Microsoft Swift Pair memudahkan proses pairing dengan perangkat Android dan Windows. Tidak perlu repot masuk ke menu Bluetooth—begitu headphone dinyalakan, notifikasi pairing langsung muncul di perangkat Anda. Kemudahan ini menunjukkan perhatian Nothing terhadap pengalaman pengguna dari awal hingga akhir.

Dalam lanskap teknologi yang semakin terhubung, kemampuan untuk berintegrasi dengan ekosistem yang berbeda menjadi nilai tambah penting. Seperti yang kita lihat dalam perkembangan smartphone anyar Lenovo yang juga menawarkan integrasi ekosistem yang mulus.

CMF Headphone Pro akan tersedia mulai 7 Oktober 2025 di Amerika Serikat dan Eropa. Dengan harga 99 dolar AS atau 99 euro, headphone ini menawarkan value proposition yang kuat di segmen budget. Kombinasi antara desain modular, fitur ANC, dan daya tahan baterai exceptional membuatnya menjadi contender serius di pasar headphone wireless.

Bagi Nothing, kehadiran CMF Headphone Pro memperkuat posisi mereka di segmen audio budget tanpa mengorbankan filosofi desain dan inovasi yang menjadi DNA brand. Ini membuktikan bahwa produk berkualitas tidak harus mahal, asalkan dirancang dengan pemikiran yang matang dan perhatian terhadap detail. Sebuah pelajaran berharga bagi industri teknologi yang sering terjebak dalam perlombaan spesifikasi semata.

Dengan semua keunggulan yang ditawarkan, pertanyaannya sekarang: apakah CMF Headphone Pro akan mengubah lanskap headphone budget? Jawabannya mungkin terletak pada bagaimana konsumen merespons pendekatan modular yang belum umum di segmen ini. Tapi satu hal yang pasti—Nothing sekali lagi berhasil membuat orang berbicara tentang desain dan inovasi, bukan hanya spesifikasi teknis belaka.

Pre Order ROG Xbox Ally di Indonesia Resmi Dibuka, Dapatkan Hadiah Menarik!

0

Telset.id – Inilah momen yang ditunggu-tunggu para gamer Indonesia. Setelah berbagai spekulasi dan antisipasi, Pre Order ROG Xbox Ally akhirnya resmi dibuka mulai hari ini, 26 September 2025. Bukan sekadar peluncuran biasa, ini adalah kesempatan pertama di dunia untuk memiliki handheld gaming PC hasil kolaborasi legendaris antara ASUS ROG dan Xbox. Apakah Anda termasuk yang sudah siap memesannya?

Periode pre order berlangsung terbatas, hanya dari 26 September hingga 15 Oktober 2025. Yang menarik, ASUS Indonesia memberikan apresiasi khusus bagi 100 peserta pertama yang melakukan klaim. Mereka berhak mendapatkan game Like A Dragon: Pirate Yakuza in Hawaii senilai Rp 650.000. Tidak hanya itu, semua peserta pre order berkesempatan memenangkan berbagai ROG Gaming Gears senilai puluhan juta rupiah melalui lucky draw. Seperti yang pernah kami bahas dalam ROG Xbox Ally Segera Hadir di Indonesia, perangkat ini memang pantas dinanti.

Bagaimana cara mendapatkan handheld gaming PC terbaik ini? Para gamer bisa memesan melalui ASUS Online Store secara eksklusif pada 26-30 September 2025. Setelah itu, pre order dilanjutkan melalui berbagai partner resmi ASUS Indonesia mulai 1-15 Oktober 2025. Unit pertama akan diprioritaskan untuk mereka yang melakukan pre order dan dikirimkan mulai 16 Oktober 2025. Pada tanggal yang sama, ROG Xbox Ally juga akan mulai dijual untuk umum di toko-toko partner, namun dengan jumlah terbatas. Prioritas jelas diberikan kepada mereka yang sudah memesan lebih dulu.

Spesifikasi yang Membuat Konsol Lain Cemburu

ROG Xbox Ally hadir dalam dua varian yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan berbeda. Varian standar, ROG Xbox Ally, ditenagai prosesor AMD Ryzen™ Z2 A ultra-efisien dengan empat inti Zen 2 dan delapan thread. Dilengkapi delapan inti GPU RDNA 2, RAM 16GB LPDDR5X-6400, dan SSD M.2 512GB, perangkat ini menawarkan performa yang lebih dari cukup untuk game-game terbaru. Dengan baterai 60Wh, Anda bisa bermain lebih lama tanpa khawatir kehabisan daya di tengah sesi gaming.

Bagi yang menginginkan performa maksimal, ROG Xbox Ally X hadir dengan spesifikasi yang benar-benar gahar. Seperti diungkap dalam ROG Xbox Ally dan Ally X Resmi: Handheld Gaming Anyar dengan Sentuhan Xbox, varian ini menggunakan AMD Ryzen™ AI Z2 Extreme dengan APU 8-core/16-thread Zen 5 terbaru. GPU RDNA 3.5 dengan 16 inti dan NPU terintegrasi menghadirkan fitur berbasis AI seperti Automatic Super Resolution yang akan tersedia awal 2026. Ditambah RAM 24GB LPDDR5X-8000, SSD M.2 1TB, dan baterai 80Wh, ini benar-benar monster gaming di genggaman.

Pengalaman Gaming Console yang Tak Tertandingi

Ditenagai Windows 11 yang dioptimalkan khusus, ROG Xbox Ally meminimalkan proses background sehingga daya fokus maksimal dialokasikan untuk game yang sedang dimainkan. Fitur seperti library game terintegrasi, tombol Xbox khusus, dan Game Bar yang ditingkatkan menghadirkan pengalaman Xbox sesungguhnya dalam format handheld. Navigasi menjadi lebih mudah dan Anda bisa langsung bermain tanpa hambatan.

Untuk pengaturan lebih lanjut, tersedia Armoury Crate Special Edition yang memungkinkan Anda mengatur profil daya, sensitivitas joystick, dan berbagai setting lainnya sesuai preferensi. Yang tak kalah penting, ROG Xbox Ally mendapat manfaat dari program Handheld Compatibility terbaru dari Xbox. Tim Xbox secara aktif menguji dan mengoptimalkan ribuan judul game untuk pengalaman handheld yang sempurna.

Fitur advanced shader delivery yang sedang dikembangkan Xbox akan memungkinkan aplikasi Xbox memuat shader game saat proses download berlangsung. Dengan fitur ini, game dapat diluncurkan lebih cepat dan berjalan lebih mulus. Fleksibilitasnya pun luar biasa – Anda bisa mengunduh dan menginstal game untuk dimainkan secara lokal, streaming dari cloud, atau menggunakan Remote Play dari konsol Xbox lain yang dimiliki.

Hadiah dan Mekanisme Klaim yang Menggiurkan

Program pre order kali ini tidak main-main dalam hal benefit. Selain mendapatkan unit ROG Xbox Ally yang dinanti, peserta berkesempatan meraih berbagai hadiah menarik. Game Like A Dragon: Pirate Yakuza in Hawaii senilai Rp 650.000 khusus untuk 100 klaim pertama setelah produk diterima. Kode game ini dapat di-redeem di Steam.

Lucky draw menawarkan hadiah yang lebih spektakuler lagi: 1 unit ROG Strix Monitor 27″ (senilai Rp 3.700.000), 3 unit ROG Bulwark Dock DG300 (masing-masing senilai Rp 2.199.000), 5 unit ROG Slash Sling Bag 4.0 (masing-masing senilai Rp 1.399.000), dan 30 unit ROG Xbox Ally (2-in-1) Premium Case (masing-masing senilai Rp 799.000). Total hadiah senilai puluhan juta rupiah!

Periode klaim berlangsung dari 16 hingga 31 Oktober 2025. Pengumuman pemenang lucky draw akan dilaksanakan pada 13 November 2025 dengan detail yang diinformasikan melalui akun Instagram @asusrog.id. Dengan semua benefit ini, tidak heran jika Bocoran PlayStation 6 Handheld mulai bermunculan sebagai respons terhadap kehadiran ROG Xbox Ally.

Jadi, apakah Anda sudah siap menjadi bagian dari sejarah gaming Indonesia? Jangan lewatkan kesempatan pre order ROG Xbox Ally ini. Kunjungi https://id.store.asus.com/po-rog-xbox-ally untuk pre order eksklusif di ASUS Online Store, atau https://www.asus.com/id/events/infoM/activity_POROGXboxAlly untuk informasi lengkap tentang partner resmi yang berpartisipasi. Siapa tahu, Anda bisa pulang membawa bukan hanya handheld gaming PC terbaik, tetapi juga hadiah-hadiah menggiurkan lainnya.

Content image for article: Pre Order ROG Xbox Ally Resmi Dibuka, Dapatkan Hadiah Menarik!

Meta Fokus Kembangkan Sistem Operasi Robot, Bukan Robot Humanoid

0

Telset.id – Jika Anda berpikir Meta hanya akan berhenti pada kacamata augmented reality, pikir lagi. Bocoran terbaru mengindikasikan raksasa teknologi asal Amerika Serikat ini sedang mempersiapkan langkah berikutnya yang lebih ambisius: merambah dunia robotika. Namun, jangan bayangkan mereka akan bersaing langsung dengan Tesla Optimus atau robot humanoid lainnya. Strategi mereka justru lebih cerdik dan berpotensi mengubah lanskap industri.

Berdasarkan laporan eksklusif dari Sources ‘ Alex Heath yang berbincang dengan Andrew Bosworth, Chief Technology Officer Meta, perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg ini sedang gencar melakukan penelitian di bidang robotika. Yang menarik, pendekatan mereka berbeda dengan kompetitor seperti Apple, Google, atau Tesla. Meta tidak terlalu fokus menciptakan hardware robot yang langsung bersaing di pasaran. Sebaliknya, mereka sedang mengembangkan perangkat lunak yang nantinya dapat dilisensikan kepada perusahaan lain—mirip dengan cara Google mengelola Android.

“Software adalah hambatan utama,” tegas Bosworth dalam wawancara tersebut. Pernyataan ini mengungkap filosofi inti dari strategi robotika Meta. Alih-alih menghabiskan sumber daya untuk merancang tubuh robot yang sempurna, mereka berkonsentrasi pada otak yang menggerakkannya. Visi ini sejalan dengan fokus Meta mengembangkan sistem operasi robot, bukan robot humanoid yang sebelumnya telah diungkap.

Meta sebenarnya memiliki proyek robot internal yang dijuluki “Metabot.” Namun, proyek ini lebih berfungsi sebagai platform pengujian untuk perangkat lunak yang mereka kembangkan, bukan produk konsumen akhir yang akan dipasarkan secara massal. Pendekatan ini menunjukkan kedewasaan strategis yang jarang terlihat di industri teknologi, di mana banyak perusahaan terjebak dalam perlombaan menciptakan hardware paling mutakhir tanpa mempertimbangkan ekosistem yang lebih luas.

Tim robotika Meta dipimpin oleh sosok berpengalaman: Marc Whitten, mantan CEO Cruise. Dibawah kepemimpinannya, tim ini menggabungkan keahlian dengan Superintelligence Labs Meta yang telah banyak dipublikasikan. Kolaborasi antara pakar robotika praktis dan peneliti kecerdasan artificial ini diharapkan dapat menghasilkan solusi perangkat lunak yang revolusioner.

Pekerjaan mereka dimulai dengan pengembangan “model dunia” yang dapat membantu robot “melakukan simulasi perangkat lunak yang diperlukan untuk menganimasikan tangan yang terampil.” Ini adalah fondasi penting sebelum beralih ke gerakan dan tugas yang lebih kompleks. Bayangkan bagaimana robot masa depan dapat belajar melakukan tugas rumit seperti menyusun barang atau bahkan menangani objek rapuh tanpa harus melalui trial and error di dunia nyata yang berisiko tinggi.

Pada Februari 2025, Meta dilaporkan sedang meneliti pembuatan robot yang mampu menangani pekerjaan rumah tangga seperti membersihkan atau melipat pakaian. Meski terdengar menarik, Bosworth mengakui bahwa realisasi proyek ini masih sangat jauh. Pernyataan ini menunjukkan realisme yang sehat dari eksekutif Meta, yang memahami bahwa pengembangan teknologi robotika membutuhkan waktu dan kesabaran.

Lalu, bagaimana dengan Project Orion, kacamata augmented reality yang selama ini menjadi fokus Meta? Tampaknya perusahaan ini tidak ingin meletakkan semua telur dalam satu keranjang. Meski belum berhasil mencapai tujuan menggusur smartphone dengan kacamata AR, Meta terus berekspansi ke bidang-bidang baru. Robotika menjadi area berikutnya yang akan menyerap investasi signifikan dari perusahaan ini.

Meta bukan satu-satunya pemain di bidang ini. Apple dikabarkan sedang mengerjakan robot rumahnya sendiri, dimulai dengan lengan yang dipasang di meja dengan layar. Tesla secara teratur mendemonstrasikan versi robot Optimus kepada publik, meski seringkali dalam skenario yang sangat terkontrol. Persaingan ini mengingatkan kita pada perlombaan space race di era modern, di mana perusahaan teknologi saling berkejaran menciptakan masa depan.

Yang membedakan Meta adalah pendekatan platform-centric mereka. Daripada menciptakan robot khusus untuk tugas tertentu, mereka berfokus pada pengembangan sistem operasi yang dapat diadaptasi berbagai jenis robot. Pendekatan ini mirip dengan bagaimana China membuka kode Wall-OSS agar robot masa depan bisa berpikir layaknya manusia. Keduanya berfokus pada penciptaan fondasi kecerdasan yang dapat diskalakan.

Perkembangan menarik juga terjadi di bidang material robotika. Meski tidak langsung terkait dengan proyek Meta, penelitian tentang metamaterial baru yang bisa kendalikan robot bawah air dengan gelombang suara menunjukkan betapa dinamisnya bidang robotika saat ini. Inovasi di level material dapat membuka kemungkinan baru bagi sistem operasi robot yang dikembangkan Meta.

Pertanyaan besarnya: apakah strategi Meta ini akan berhasil? Industri robotika memang membutuhkan solusi perangkat lunak yang lebih canggih. Banyak perusahaan yang mampu menciptakan hardware robot yang impresif, namun masih kesulitan mengembangkan kecerdasan yang membuat robot tersebut benar-benar berguna dalam kehidupan sehari-hari. Jika Meta berhasil menciptakan sistem operasi robot yang powerful dan mudah diadaptasi, mereka dapat menjadi “Google-nya dunia robotika”—menguasai software sementara partner hardware yang menangani produksi fisik.

Namun, jalan menuju kesana tidak mudah. Pengembangan kecerdasan artificial untuk robot menghadapi tantangan unik dibandingkan AI untuk aplikasi lainnya. Robot harus berinteraksi dengan dunia fisik yang tidak sempurna, penuh ketidakpastian, dan membutuhkan pemahaman kontekstual yang mendalam. Model dunia yang sedang dikembangkan Meta harus mampu menangani kompleksitas ini.

Bagaimana dengan waktu? Bosworth tidak memberikan timeline spesifik, dan itu mungkin sengaja dilakukan. Pengembangan teknologi fundamental seperti ini sulit diprediksi. Bisa saja kita melihat prototipe dalam dua tahun mendatang, atau mungkin butuh satu dekade sebelum sistem operasi robot Meta benar-benar siap dipasarkan. Yang jelas, komitmen mereka terhadap bidang ini tampaknya serius, didukung oleh sumber daya finansial yang hampir tak terbatas dan bakat engineering terbaik di industri.

Jadi, sementara kita menunggu realisasi Project Orion, kini ada hal baru yang patut kita pantau dari Meta. Robotika mungkin menjadi bidang berikutnya dimana perusahaan ini akan “membakar uang” dalam jumlah besar—dengan harapan menciptakan platform masa depan yang akan mendefinisikan hubungan antara manusia dan mesin. Apakah ini akan menjadi Android-nya dunia robot? Hanya waktu yang akan menjawab. Tapi satu hal yang pasti: perlombaan untuk menciptakan otak robot telah dimulai, dan Meta tidak ingin ketinggalan.

Review HyperX Pulsefire Fuse Wireless Gaming Mouse: Si Minimalis yang Responsif

0

Telset.id – Di tengah pesatnya perkembangan perangkat gaming, mouse tetap menjadi salah satu akesoris yang paling krusial untuk menunjang performa para gamers, terutama di game kompetitif. Meski banyak laptop gaming hadir dengan touchpad yang semakin canggih, mayoritas gamer tetap lebih nyaman menggunakan mouse karena presisi dan kecepatan respons yang ditawarkannya. HyperX, sebagai salah satu pemain di industri ini, mencoba menjawab kebutuhan gamer modern dengan menghadirkan HyperX Pulsefire Fuse Wireless Gaming Mouse.

Mouse ini menawarkan kombinasi antara bobot ringan, sensor presisi, serta koneksi fleksibel melalui Bluetooth dan 2.4 GHz wireless. Dengan harga Rp1 jutaan, perangkat ini diposisikan sebagai mouse wireless gaming yang tidak hanya mumpuni untuk permainan kompetitif, tetapi juga nyaman digunakan untuk keperluan sehari-hari.

Dalam review kali ini, kita akan membahas lebih dalam mengenai desain, performa, daya tahan baterai, serta fitur-fitur yang ditawarkan HyperX Pulsefire Fuse. Tidak hanya kelebihannya, beberapa kompromi yang dimiliki perangkat ini juga akan dibahas agar pembaca mendapat gambaran menyeluruh.

BACA JUGA:

Desain HyperX Pulsefire Fuse

Review HyperX Pulsefire Fuse
Review HyperX Pulsefire Fuse

HyperX Pulsefire Fuse hadir dengan dimensi 124,4 x 64 x 39,7 mm dan bobot sekitar 64 gram (tanpa baterai) atau 75 gram dengan baterai AAA terpasang. Dari sisi ukuran, mouse ini berada di kategori menengah, tidak terlalu kecil namun juga tidak sebesar mouse profesional dengan bobot berat. Desain ini jelas ditujukan agar dapat digunakan oleh berbagai tipe pengguna, mulai dari yang lebih suka palm grip hingga fingertip grip.

Bentuk bodinya simetris, sehingga secara teori bisa digunakan oleh pengguna tangan kiri maupun kanan. Namun, kehadiran tombol samping yang hanya tersedia di sisi kiri membuatnya lebih cocok bagi pengguna tangan kanan. Material bodi terbuat dari plastik dengan tekstur samping “Microline” yang membantu meningkatkan grip. Meski tekstur ini terasa sedikit kasar, fungsinya tetap efektif mencegah selip ketika digunakan dalam sesi permainan panjang.

Dari sisi ergonomi, bentuknya yang minimalis memberi fleksibilitas, tetapi sekaligus menghadirkan kompromi. Bagi pengguna dengan tangan besar atau mereka yang terbiasa dengan palm grip, mouse ini terasa kurang menopang telapak tangan sepenuhnya. Sebaliknya, bagi pengguna dengan gaya fingertip grip, Pulsefire Fuse terasa sangat lincah berkat bobotnya yang ringan. Secara keseluruhan, desainnya berfokus pada fleksibilitas, meski tidak bisa dikatakan cocok untuk semua gaya penggunaan.

Performa HyperX Pulsefire Fuse

Review HyperX Pulsefire Fuse
Review HyperX Pulsefire Fuse

HyperX membekali Pulsefire Fuse dengan sensor Pixart PAW3311, salah satu sensor yang populer di kelas mouse gaming menengah. Sensor ini mendukung hingga 12.000 DPI dengan kecepatan pelacakan maksimum 300 IPS dan akselerasi 35G. Dukungan polling rate hingga 1.000 Hz pada koneksi 2.4 GHz memastikan respons yang instan, sebuah hal yang krusial dalam permainan kompetitif.

Dalam pengujian gaming, mouse ini terasa responsif dan akurat, terutama saat digunakan untuk game FPS atau MOBA yang membutuhkan presisi tinggi. Gerakan kecil tetap terbaca dengan baik, sementara gerakan cepat tidak menimbulkan delay. Saat bermain judul-judul populer seperti Genshin Impact atau PUBG Mobile di PC, Pulsefire Fuse mampu mengikuti ritme permainan dengan baik tanpa kendala berarti.

Review HyperX Pulsefire Fuse

Namun, ada sedikit catatan terkait kenyamanan saat sesi gaming panjang. Karena desainnya yang ceper, beberapa pengguna palm grip bisa merasa cepat lelah. Selain itu, tombol samping yang kecil dan agak licin membuatnya tidak selalu mudah diakses dengan cepat, terutama dalam situasi intens di dalam game. Walau demikian, performa utamanya tetap solid dan sepadan dengan kelas harganya.

Baterai HyperX Pulsefire Fuse

Review HyperX Pulsefire Fuse
Review HyperX Pulsefire Fuse

Berbeda dengan sebagian mouse modern yang sudah menggunakan baterai tanam dengan pengisian daya via USB-C, HyperX Pulsefire Fuse masih mengandalkan baterai AAA tunggal. Pilihan ini memang terlihat sedikit ketinggalan zaman, tetapi memiliki keunggulan pada daya tahan. Dengan satu baterai AAA, HyperX mengklaim mouse ini dapat bertahan hingga 85 jam dalam mode 2.4 GHz.

Dalam penggunaan nyata, klaim tersebut cukup mendekati. Untuk pemakaian campuran antara gaming dan produktivitas, mouse ini dapat bertahan lebih dari seminggu tanpa perlu mengganti baterai. Kepraktisan ini menjadi nilai tambah, meski pengguna harus selalu menyiapkan baterai cadangan. Kekurangannya tentu adalah absennya opsi isi ulang yang kini mulai menjadi standar di mouse gaming kelas menengah.

Kehadiran slot penyimpanan untuk dongle USB di dalam ruang baterai juga patut diapresiasi. Fitur ini membantu pengguna agar tidak kehilangan dongle saat mouse tidak digunakan. Meskipun solusi baterai AAA ini tidak cocok untuk semua orang, bagi gamer yang mengutamakan daya tahan panjang, Pulsefire Fuse bisa jadi pilihan praktis.

Fitur HyperX Pulsefire Fuse

Review HyperX Pulsefire Fuse
Review HyperX Pulsefire Fuse

HyperX Pulsefire Fuse menawarkan koneksi ganda melalui Bluetooth dan 2.4 GHz wireless. Mode 2.4 GHz jelas lebih unggul untuk gaming karena mendukung polling rate hingga 1.000 Hz, sementara mode Bluetooth lebih cocok digunakan untuk produktivitas atau terhubung ke perangkat mobile. Fleksibilitas ini memungkinkan pengguna untuk menyesuaikan koneksi sesuai kebutuhan.

Selain konektivitas, mouse ini juga hadir dengan pencahayaan RGB di bagian scroll wheel dan strip belakang. Meski terlihat menarik, implementasi RGB di sini tergolong sederhana dan lebih bersifat gimmick. Pengaturan RGB dan fungsi tombol dapat dilakukan melalui software HyperX NGENUITY, namun fitur kustomisasi yang tersedia relatif terbatas. Bahkan, dalam mode Bluetooth, software tidak mendeteksi perangkat ini, sehingga opsi pengaturan hanya berlaku pada mode 2.4 GHz.

Tombol utama kiri dan kanan menggunakan switch Kailh yang diklaim tahan hingga 20 juta klik. Klik terasa responsif dan renyah, memberikan sensasi tactile yang memuaskan dalam penggunaan. Namun, kualitas scroll wheel dan tombol samping terasa biasa saja, sehingga tidak memberikan kesan premium. Secara keseluruhan, fitur-fitur yang ditawarkan cukup untuk kebutuhan dasar gaming, meski tidak ada hal yang benar-benar menonjol.

BACA JUGA:

Kesimpulan

Review HyperX Pulsefire Fuse
Review HyperX Pulsefire Fuse

Setelah diuji dalam berbagai skenario, HyperX Pulsefire Fuse Wireless Gaming Mouse bisa dikatakan sebagai mouse nirkabel yang ringan, responsif, dan fleksibel. Sensor Pixart PAW3311 memastikan akurasi tinggi, koneksi 2.4 GHz memberikan respons instan, dan daya tahan baterai AAA hingga 85 jam menjadikannya praktis digunakan.

Namun, mouse ini bukan tanpa kompromi. Desain cepernya tidak cocok bagi semua pengguna, tombol samping terasa kecil dan licin, serta absennya baterai tanam dengan pengisian USB-C membuatnya kalah modern dibandingkan beberapa kompetitor di kelas harga serupa.

Jika Anda adalah gamer yang lebih mengutamakan bobot ringan, fleksibilitas koneksi, dan daya tahan baterai panjang, Pulsefire Fuse bisa menjadi pilihan yang solid. Tetapi bagi mereka yang mencari pengalaman ergonomi premium dan fitur canggih, mungkin mouse ini bukan menjadi pilihan. 

Lengkap sudah ulasan kami mengenai HyperX Pulsefire Fuse, semoga review ini bisa menjadi refrensi untuk kalian yang mencari mouse gaming di rentang harga Rp1 jutaan.

Vivo V60 Lite Bakal Rilis 2 Oktober 2025 dengan Desain Premium dan Performa Andal

0

Telset.id – Bayangkan sebuah smartphone yang tidak hanya menjadi perpanjangan gaya hidup Anda, tetapi juga mampu mengimbangi ritme harian yang padat. Inilah yang diusung vivo V60 Lite, perangkat yang akan segera menghiasi pasar Indonesia dengan tagline “Gaya On, Game On”. Apakah ini akhir dari kompromi antara estetika dan performa?

Dalam industri yang semakin jenuh, vivo tampaknya menemukan formula tepat: menghadirkan perangkat yang memahami kebutuhan generasi muda akan ekspresi personal tanpa mengorbankan kemampuan teknis. Vivo V60 Lite bukan sekadar upgrade biasa—ini adalah pernyataan bahwa smartphone kelas menengah bisa memiliki DNA flagship.

Fendy Tanjaya, Product Manager vivo Indonesia, dengan tegas menyatakan bahwa V60 Lite hadir untuk memberikan cara baru bagi generasi muda melihat dunia sekitar. “Fitur seperti AI Four-Seasons Portrait dan setup 50MP Sony Camera dengan Sony IMX882 membuka perspektif baru,” ujarnya. Pernyataan ini bukan sekadar jargon marketing, melainkan komitmen terhadap evolusi fotografi mobile.

Revolusi Desain: Tipis Bukan Berarti Rapuh

Mari kita bicara tentang desain—aspek pertama yang menarik perhatian. Dengan ketebalan hanya 7,59mm, vivo V60 Lite menyandang gelar sebagai smartphone V Lite paling tipis yang pernah dibuat vivo. Namun, jangan terkecoh dengan dimensi rampingnya. Perangkat ini membawa sertifikasi 5-Star SGS Drop Resistance dan ketahanan terhadap air hujan hingga 12 jam. Sebuah prestasi engineering yang patut diacungi jempol.

Content image for article: Vivo V60 Lite Resmi: Desain Premium dan Performa Gaming Andal

Pilihan warna pastel—Vibing Blue, Vibing Pink, dan Vibing Black—tampaknya dipilih dengan pertimbangan matang. Warna-warna ini tidak hanya trendi, tetapi juga memancarkan energi positif yang segar, mencerminkan semangat anak muda yang percaya diri. Desain kamera yang diperbarui memberikan kesan simpel namun elegan, mengikuti tren smartphone premium tanpa terkesan menjiplak.

Yang lebih mengesankan adalah kehadiran bezel ultra-tipis di bagian depan, menghadirkan pengalaman Borderless Screen dengan screen to body ratio mencapai 94,2%. Angka ini biasanya hanya ditemukan pada perangkat flagship, namun vivo berhasil membawanya ke segmen menengah. Untuk memahami lebih dalam tentang desain tipis yang tidak mengorbankan baterai, Anda bisa membaca ulasan lengkap Vivo V60 Lite dengan baterai raksasa di tubuh super tipis.

Fotografi yang Memberikan Perspektif Baru

Di era dimana konten visual menjadi mata uang sosial, vivo V60 Lite datang dengan senjata yang cukup mengesankan. Fitur AI Four-Seasons Portrait menjadi pembeda utama—memungkinkan satu momen tertangkap dalam empat musim berbeda. Bayangkan: foto yang sama bisa memiliki nuansa spring, winter, summer, dan autumn tanpa perlu bepergian ke belahan dunia lain.

Fitur Film Camera Mode dengan sentuhan Y2K yang nostalgia namun tetap fresh, memberikan ruang kreativitas tambahan bagi pengguna. Dengan kamera utama 50MP Sony IMX882 dan kamera depan 32MP, kualitas hasil foto dijamin tajam bahkan dalam kondisi low light. Bagi para content creator, kehadiran 4K Front Camera Video dan 4K Rear Camera Video menjadi nilai tambah signifikan.

Teknologi AI juga tidak kalah canggih. AI Erase 3.0 dengan AI Reflection Remover khususnya berguna untuk menghilangkan pantulan yang mengganggu saat mirror selfie, sementara AI Photo Enhance 3.0 mampu menyempurnakan foto lama yang kurang ideal. Inovasi ini menunjukkan bahwa vivo serius dalam menghadirkan solusi praktis untuk masalah fotografi sehari-hari.

Kekuatan di Balik Layar: Performa yang Mengesankan

Bagian yang paling menarik mungkin justru ada di bawah permukaan. Dimensity 7360-Turbo 4nm menjadi jantung dari vivo V60 Lite, menawarkan peningkatan yang cukup dramatis dibanding generasi sebelumnya. Bagaimana dramatisnya? CPU meningkat 49%, GPU melonjak 105%, dan skor AnTuTu naik 60% mencapai 730 ribu poin. Angka-angka ini bukan sekadar statistik—mereka menerjemahkan langsung ke pengalaman pengguna yang lebih smooth dan responsif.

Untuk para gamer, peningkatan performa ini berarti gameplay yang bebas lag dan visual yang lebih imersif. Namun, vivo tidak berhenti di situ. Kapasitas baterai 6500mAh menjadikan V60 Lite salah satu smartphone dengan baterai terbesar di kelasnya—peningkatan 30% dari pendahulunya. Yang lebih menarik lagi adalah kombinasi teknologi 90W FlashCharge dan fitur Bypass Charging pertama di seri V Lite.

Fitur Bypass Charging ini merupakan solusi cerdas untuk masalah klasik gaming mobile: overheating dan degradasi baterai. Dengan memungkinkan pengguna bermain game sambil terhubung ke charger tanpa mengisi baterai, risiko overheating berkurang signifikan sekaligus memperpanjang umur baterai. Inovasi semacam ini menunjukkan pemahaman mendalam vivo terhadap kebutuhan pengguna sebenarnya. Jika Anda penasaran dengan perbandingan performa gaming, bocoran spesifikasi smartphone gaming Lenovo Legion 2 Pro bisa menjadi referensi menarik.

Kolaborasi dengan Free Fire—salah satu game battle royale paling populer—menegaskan posisi vivo di sektor gaming mobile. Ini bukan sekadar partnership biasa, melainkan komitmen untuk memberikan pengalaman gaming yang lebih mulus dan optimal.

Melampaui Spesifikasi: Filosofi di Balik Produk

Yang membedakan vivo V60 Lite dari kompetitor mungkin bukan hanya spesifikasinya, tetapi filosofi di balik pengembangannya. Perangkat ini memahami bahwa bagi generasi muda, smartphone adalah ekstensi identitas—bukan sekadar tool. Dari pemilihan warna yang mencerminkan kepribadian, hingga fitur fotografi yang mendukung ekspresi kreatif, setiap aspek dirancang dengan pertimbangan mendalam.

Kehadiran tiga sosok Gen Lite—figur muda inspiratif yang akan diperkenalkan bersamaan dengan peluncuran—memperkuat narasi ini. Mereka merepresentasikan semangat generasi muda yang berani tampil beda, kreatif, dan selalu ingin berkembang. Pendekatan human-centric ini yang mungkin akan menjadi pembeda vivo di pasar yang semakin kompetitif.

Peluncuran resmi pada 2 Oktober 2025 nanti tidak hanya akan memperkenalkan perangkat baru, tetapi juga menandai babak baru dalam evolusi smartphone kelas menengah. Dengan harga yang belum diumumkan, spekulasi tentang positioning vivo V60 Lite masih terbuka lebar. Namun, satu hal yang pasti: perangkat ini berpotensi menggeser ekspektasi konsumen terhadap smartphone di segmennya.

Bagi yang tertarik dengan varian lebih premium dari seri yang sama, Vivo V60 dengan kamera pro dan baterai jumbo juga patut dipertimbangkan sebagai alternatif.

Vivo V60 Lite bukan sekadar produk—ini adalah pernyataan. Pernyataan bahwa gaya dan performa bukanlah dua hal yang harus dikompromikan. Dalam dunia dimana konsumen semakin cerdas dan demanding, pendekatan holistik seperti inilah yang mungkin akan menentukan pemenang di pasar smartphone Indonesia yang semakin panas.

YouTube Premium Ekspansi Fitur ke Lebih Banyak Perangkat

0

Telset.id – Bayangkan Anda sedang menonton tutorial YouTube yang panjang, tapi waktu Anda terbatas. Atau mungkin Anda ingin mendengarkan musik dengan kualitas audio terbaik sambil mengerjakan tugas. Jika selama ini Anda merasa fitur-fitur canggih YouTube Premium terbatas pada perangkat tertentu, kabar baik datang dari Google. Perusahaan teknologi raksasa itu secara resmi memperluas akses fitur-fitur premium YouTube ke lebih banyak jenis perangkat, membuat pengalaman berlangganan menjadi lebih bernilai.

Ekspansi ini bukan sekadar tambalan kecil, melainkan langkah strategis Google dalam menyelaraskan ekosistem digitalnya. Bagi Anda yang sudah menjadi pelanggan YouTube Premium, ini seperti mendapatkan hadiah tak terduga. Bagi yang masih ragu, mungkin ini saatnya mempertimbangkan untuk bergabung. Layanan berlangganan seharga $13.99 per bulan ini tidak hanya tentang menghilangkan iklan, tetapi juga tentang memberikan kontrol lebih besar atas bagaimana Anda menikmati konten.

Google memahami bahwa pengguna modern berpindah-pindah antar perangkat sepanjang hari. Dari smartphone Android di pagi hari, iPad saat istirahat kerja, hingga smart TV di malam hari. Ketidakkonsistenan pengalaman antar platform seringkali membuat frustasi. Dengan ekspansi fitur ini, Google berusaha menghilangkan hambatan tersebut, menciptakan ekosistem yang lebih terpadu dan mulus.

Revolusi Kecepatan Putar yang Lebih Merata

Salah satu fitur paling populer di kalangan “power user” YouTube Premium adalah kemampuan mengatur kecepatan putar video dengan granularitas tinggi. Kini, fitur yang memungkinkan penyesuaian kecepatan dalam increment 0.5x dari 1x hingga 4x speed tidak lagi terbatas pada aplikasi mobile YouTube. Google telah merilisnya untuk platform Android, iOS, dan web secara keseluruhan.

Bagi content creator, pelajar, atau profesional yang sering mengkonsumsi konten edukasi, fitur ini ibarat pisau Swiss Army yang serbaguna. Anda bisa memperlambat video tutorial yang rumit, atau mempercepat video yang pembahasannya terlalu bertele-tele. Ekspansi ini menghilangkan rasa jengah ketika beralih dari mobile ke desktop dan tiba-tiba kehilangan kontrol atas kecepatan pemutaran.

Seperti yang pernah kami bahas dalam artikel sebelumnya tentang YouTube Premium: 6 Alasan Kenapa Layak Dicoba, fleksibilitas dalam mengontrol pengalaman menonton merupakan salah satu nilai jual utama layanan berbayar ini. Kini, fleksibilitas tersebut menjadi lebih merata across devices.

Fitur Shorts yang Makin Cerdas

Era konten pendek telah tiba, dan Google tidak mau ketinggalan. Fitur download otomatis untuk YouTube Shorts kini tersedia baik di iOS maupun Android, setelah sebelumnya hanya eksklusif untuk pengguna Android. Begitu pula dengan kemampuan menonton Shorts dalam mode picture-in-picture, memungkinkan Anda tetap menikmati konten pendek sambil melakukan aktivitas lain di perangkat yang sama.

Fitur ini khususnya berguna bagi mereka yang sering bepergian atau memiliki koneksi internet tidak stabil. Dengan download otomatis, Anda bisa menikmati Shorts favorit tanpa hambatan buffering. Sementara picture-in-picture memungkinkan multitasking yang lebih efisien – membalas chat sambil menonton konten hiburan singkat, misalnya.

Perkembangan fitur Shorts ini menunjukkan komitmen Google dalam mengakomodir perubahan perilaku konsumen konten digital. Seperti yang terungkap dalam YouTube Premium Uji Fitur Rekomendasi Video Lebih Cerdas, platform ini terus berinovasi dalam personalisasi dan kemudahan akses.

Antarmuka YouTube Premium menunjukkan fitur kecepatan putar dan download untuk offline

Lompatan Besar di Platform Besar

Fitur “Jump Ahead” yang memungkinkan pelanggan melompat ke “momen kunci” dalam video kini telah merambah ke smart TV dan konsol game. Fitur cerdas ini menggunakan machine learning untuk menganalisis pola penontonan jutaan pengguna lainnya, kemudian menawarkan lompatan ke bagian video yang paling sering ditonton atau di-skip.

Bayangkan Anda menonton review produk di TV layar lebar. Daripada harus memencet fast-forward berkali-kali, cukup satu ketuk dan Anda langsung dibawa ke bagian spesifikasi atau kesimpulan yang Anda cari. Pengalaman menonton menjadi lebih efisien tanpa mengorbankan kenyamanan.

Ekspansi ke platform besar seperti smart TV dan konsol game ini merupakan pengakuan Google terhadap perubahan cara kita mengkonsumsi konten. Layar besar semakin menjadi pusat hiburan rumah tangga, dan fitur-fitur premium harus mengikuti arus ini.

Revolusi Audio untuk Pecinta Musik

Di sisi musik, perubahan paling signifikan datang dari peningkatan kualitas audio. Ketika menonton music video, pengguna kini dapat memilih opsi “High” dari pengaturan audio untuk mendengarkan pada bitrate 256kbps. Yang menarik, peningkatan ini tidak hanya berlaku untuk music video resmi, tetapi juga “Art Tracks” – video lagu di platform YouTube yang tidak memiliki music video official.

Opsi kualitas “High” yang sebelumnya hanya tersedia di aplikasi YouTube Music, kini dapat diakses di seluruh versi Android dan iOS baik untuk YouTube Music maupun YouTube utama. Bagi audiophile yang sensitif terhadap kualitas suara, ini adalah kabar gembira. Perbedaan antara audio standar dan high bitrate mungkin tidak terlalu terasa di speaker smartphone biasa, tetapi menjadi sangat jelas ketika menggunakan headphone berkualitas atau sound system yang bagus.

Inovasi dalam kualitas audio ini sejalan dengan tren industri streaming musik secara keseluruhan. Konsumen semakin sadar akan kualitas, dan platform harus beradaptasi. Seperti yang kami laporkan dalam Asyik! Pengguna YouTube Premium Bisa Main Game Arcade, Google terus menambah nilai tambah untuk layanan premiumnya.

Ekspansi fitur YouTube Premium ini mungkin tidak mengubah value proposition utama layanan – yaitu menghilangkan iklan – tetapi menunjukkan komitmen Google dalam meningkatkan pengalaman pengguna secara holistik. Dalam ekosistem digital yang semakin terfragmentasi, konsistensi pengalaman across devices menjadi nilai jual yang tak ternilai.

Pertanyaannya sekarang: apakah ekspansi fitur ini cukup untuk membuat lebih banyak pengguna beralih ke model berlangganan? Ataukah Google perlu mempertimbangkan opsi harga yang lebih fleksibel seperti YouTube Premium Lite untuk pasar yang lebih sensitif harga? Yang jelas, langkah ini menunjukkan bahwa persaingan di dunia streaming video semakin panas, dan konsumenlah yang akhirnya diuntungkan.