Telset.id β Masalah terbesar robot kurir ternyata bukan soal teknologinya, melainkan perilakunya di trotoar. Robot pengantar paket yang kini makin banyak beroperasi di berbagai negara dilaporkan kerap tidak memahami aturan jalan maupun trotoar, memicu keluhan mulai dari gangguan kecil hingga insiden cedera.
Keluhan ini muncul seiring meluasnya kehadiran robot kurir di lanskap pengiriman sejumlah negara. Reaksi orang saat melihat robot pengantar berjalan di trotoar pun terbelah: sebagian merasa gemas dengan wajah antromorfiknya, sebagian lain langsung kesal karena apa yang kini dikenal sebagai βclankerβ menghalangi jalur mereka.
Konsep robot kurir sendiri pertama kali dimulai di Estonia pada 2014, ketika salah satu pendiri Skype, Ahti Heinla dan Janus Friis, mendirikan Starship Technologies. Dari proyek kecil, perusahaan itu meledak saat pandemi dan kini beroperasi di lebih dari 80 kota di Amerika Utara, Eropa, dan Asia. Selain Starship, kini ada Serve Robotics, Coco Robotics, dan Delivers.AI, sementara DoorDash bahkan meluncurkan robot internalnya sendiri.
Beragam Masalah yang Ditimbulkan Robot Kurir
Sejumlah perusahaan robot kurir seperti Coco dulu mengandalkan pengemudi manusia jarak jauh di setiap langkah. Kini hampir semua perusahaan di sektor ini beralih ke robot otonom yang memanfaatkan kombinasi kamera, sensor, dan GPS untuk bernavigasi, dengan pengawas manusia hanya turun tangan bila benar-benar diperlukan.
Namun banyak variabel lingkungan, seperti trotoar rusak dan konstruksi yang muncul tiba-tiba, tidak diperhitungkan dan bisa mengacaukan navigasi robot. Hal ini sering menyebabkan robot berhenti mendadak atau bahkan merusak properti publik, seperti insiden sebuah robot kurir yang menghancurkan halte bus di Chicago.
Dampaknya bagi pejalan kaki lebih mendesak lagi. Sebagian masalah hanya berupa gangguan kecil, misalnya robot mengganggu restoran dengan tempat duduk luar ruang atau usaha padat lain yang meluber ke trotoar. Persoalan lain lebih merugikan. Meski secara teori seharusnya berhenti untuk pejalan kaki, ada sejumlah laporan kasus manusia yang justru harus menyingkir untuk robot.
Bagi penyandang mobilitas terbatas atau pengguna kursi roda, kondisi ini menjadi perhatian khusus. Robot yang menguasai trotoar berpotensi melanggar aksesibilitas di bawah aturan ADA. Bahkan ada kasus cedera fisik: seorang pria di New Jersey mengalami patah bahu dan cedera kepala setelah sebuah robot kurir menabrak sepedanya, dan itu bukan satu-satunya insiden cedera akibat robot.
Baca Juga:
Masa Depan Robot Kurir dan Regulasi yang Tertinggal
Terlepas dari berbagai masalahnya, robot kurir kemungkinan besar tidak akan hilang dalam waktu dekat. Sebaliknya, keberadaannya diprediksi bakal meluas. Studi terbaru dari Transforma Insights memperkirakan dunia akan memiliki 559.000 kendaraan pengiriman urban otomatis pada 2035, dibandingkan 28.000 unit pada 2025.
Melihat prediksi tersebut, revolusi robot ini bisa berdampak besar bagi pekerja gig. Bagi perusahaan seperti Uber Eats dan DoorDash, yang keduanya pernah menghadapi sorotan soal pembayaran pengemudi yang etis, robot menjadi cara mudah untuk menaikkan profit perusahaan secara keseluruhan. Namun keterbatasan jarak model robot saat ini, sekitar dua mil, cenderung membatasi penggunaannya ke kawasan yang lebih urban. Artinya, setidaknya untuk saat ini, manusia belum bisa sepenuhnya dikeluarkan dari persamaan.
Banyak masalah robot kurir bersumber dari regulasi yang belum memadai. Saat ini banyak wilayah tidak memiliki aturan apa pun untuk membatasi penggunaannya, dan di lebih dari 20 negara bagian, perangkat pengiriman pribadi justru dianggap sebagai pejalan kaki. Namun keadaan mulai berubah. Kota-kota besar seperti Chicago, San Francisco, dan Toronto telah memberlakukan pembatasan atau pelarangan total terhadap robot kurir, dan kota lain bisa menyusul tak lama lagi.

Karena menggunakan kamera, robot-robot ini juga menghadapi sorotan meningkat dari badan regulator terkait kekhawatiran privasi, yang berpotensi memunculkan lebih banyak legislasi di masa depan. Meski kehadiran robot kurir mungkin harus diterima, masalah yang menyertainya diharapkan berkurang seiring waktu.
Perkembangan regulasi dan teknologi di sektor robotika dan otomotif ini menjadi bagian dari tren yang lebih luas. Sejumlah produsen kendaraan listrik, misalnya, terus memperluas kapasitas logistik mereka, seperti langkah BYD Pesan Kapal untuk memperkuat armada pengiriman globalnya. Di sisi lain, persaingan harga kendaraan listrik juga memanas, terlihat dari langkah BYD Gelar Diskon di pasar Inggris.
Meski demikian, adopsi teknologi baru selalu menyisakan pekerjaan rumah tersendiri. Bahkan di perangkat konsumen, pengguna kerap dihadapkan pada pilihan soal perlindungan dan keamanan, seperti pertanyaan Apakah HP Android masih membutuhkan aplikasi antivirus. Pola serupa terlihat di sektor robot kurir, di mana kehadiran teknologi baru harus diimbangi dengan aturan dan pengawasan yang jelas.
Kabar soal pergerakan talenta di industri teknologi dan mobilitas juga terus berlangsung, seperti bergabungnya Mantan CFO Uber ke Atoms. Dinamika semacam ini menunjukkan sektor mobilitas dan pengiriman masih menjadi medan yang bergerak cepat, termasuk dalam hal adopsi robot kurir.

Dengan proyeksi pertumbuhan unit yang begitu besar hingga 2035, persoalan trotoar, keselamatan pejalan kaki, dan privasi akan tetap menjadi isu utama. Kota-kota yang lebih dulu menerapkan pembatasan bisa menjadi rujukan bagi wilayah lain yang belum memiliki aturan. Bagi pengguna jalan dan pejalan kaki, perkembangan regulasi ini akan menentukan seberapa nyaman trotoar mereka digunakan bersama robot kurir di masa depan.





Komentar
Belum ada komentar.