📑 Daftar Isi

Headset Flow Neuroscience dikenakan di dahi untuk stimulasi listrik otak

Flow Neuroscience Bawa Headset Antidepresi ke AS, Harga Rp35 Juta

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱3 menit membaca
Bagikan:
  • Flow Neuroscience bawa headset stimulasi listrik ke AS sebagai alternatif antidepresan
  • Dikenakan 30 menit sehari, stimulasi lobus frontal kiri otak lewat aplikasi
  • Disetujui FDA Desember lalu, bersaing dengan TMS yang bisa capai US$15.000
  • Uji 174 pasien: 45% remisi gejala vs 22% kelompok sham
  • Harga US$2.200 untuk 10 minggu, lalu US$325 per bulan, belum ditanggung asuransi

Telset.id – Perusahaan asal Swedia, Flow Neuroscience, membawa perangkat headset stimulasi listrik sebagai alternatif obat antidepresan ke pasar Amerika Serikat. Langkah ini menjadi sorotan karena sekitar satu dari enam orang dewasa di AS mengonsumsi obat antidepresan, sementara headset Flow hadir dengan pendekatan non-kimia yang diklaim mampu meredakan gejala depresi.

Perangkat ini dikenakan di dahi selama 30 menit setiap hari dan dioperasikan melalui aplikasi. Headset tersebut memberikan stimulasi listrik berintensitas rendah ke lobus frontal kiri otak, area yang berperan dalam mengatur suasana hati dan emosi. Orang dengan depresi cenderung memiliki aktivitas lebih rendah dan koneksi saraf yang lebih lemah di bagian otak tersebut.

Flow Neuroscience mendapat persetujuan dari Food and Drug Administration (FDA) pada Desember lalu. Perangkat ini termasuk dalam generasi baru perangkat wearable yang memantau, merekam, atau menstimulasi otak. Sejumlah perusahaan lain juga mengembangkan teknologi serupa, seperti Cognixion yang memodifikasi Apple Vision Pro untuk membangun sistem komunikasi bagi penyandang kelumpuhan tanpa bergantung pada ucapan atau kontrol motorik. Ada pula headband dari Muse yang diklaim dapat meningkatkan meditasi, serta perangkat dari Elemind yang ditujukan membantu orang tertidur lebih cepat.

Flow Neuroscience dan Perbandingan dengan TMS

Perangkat Flow Neuroscience menargetkan bagian otak yang sama dengan transcranial magnetic stimulation (TMS), sebuah perawatan depresi yang disetujui dan menggunakan medan magnet untuk mengaktifkan neuron. Perbedaan mendasar terletak pada akses dan kenyamanan. Dengan TMS, pasien harus datang ke klinik, dan rangkaian dosis penuh biasanya memerlukan sesi perawatan yang diberikan lima hari seminggu selama beberapa minggu. Seluruh rangkaian perawatan tersebut dapat menelan biaya hingga US$15.000 atau sekitar Rp240 jutaan tanpa asuransi.

CEO Flow Neuroscience, Daniel MĂ„nsson, yang merupakan psikolog klinis sebelum ikut mendirikan perusahaan, menyatakan bahwa ia ingin menciptakan opsi yang lebih praktis bagi pasien. “Untuk memberikan dampak nyata pada masalah ini, Anda perlu menciptakan sesuatu yang memiliki efek pada otak yang dibutuhkan, tetapi dapat digunakan di lingkungan rumah dengan cara yang aman dan efektif,” ujarnya.

Dalam uji coba terhadap 174 orang dengan gangguan depresi mayor, 45 persen peserta yang menerima perangkat Flow Neuroscience mengalami remisi gejala pada 10 minggu, dibandingkan 22 persen peserta di kelompok kontrol yang menerima versi sham. Uji coba tersebut melibatkan orang yang mengonsumsi antidepresan dan yang tidak, sehingga menjadi bukti bahwa perangkat ini dapat, di bawah pengawasan medis, digunakan sebagai tambahan obat-obatan, kata MÄnsson.

Efek samping yang dilaporkan tergolong ringan. Beberapa orang mengalami iritasi kulit, sakit kepala, dan kesulitan berkonsentrasi. Sebagai perbandingan, antidepresan dapat menyebabkan mual, kenaikan berat badan, kantuk, mulut kering, dan masalah seksual, meski efek ini bisa hilang beberapa minggu setelah memulai pengobatan.

Harga dan Ketersediaan Flow Neuroscience

Di Eropa, perangkat Flow Neuroscience telah disetujui sejak 2019 dan lebih dari 65.000 orang telah menggunakannya, menurut MÄnsson. National Health Service (NHS) di Inggris juga tengah menguji coba headset ini. Di AS, pasien akan dapat memperoleh resep untuk perangkat Flow Neuroscience dari klinisi secara langsung atau melalui telehealth.

Namun setidaknya untuk saat ini, pasien harus membayar sendiri untuk menggunakannya. Biayanya mencapai US$2.200 atau sekitar Rp35 jutaan untuk 10 minggu, lalu US$325 atau sekitar Rp5,2 jutaan per bulan setelahnya. Angka tersebut jauh lebih mahal dibandingkan antidepresan standar yang biasanya ditanggung asuransi. MÄnsson menyatakan perusahaan sedang berupaya mendapatkan penggantian biaya dari perusahaan asuransi.

Vinod Khosla, seorang miliarder venture capitalist dan investor awal di Flow Neuroscience, menilai pendekatan non-kimia untuk mengobati depresi adalah masa depan. “Taruhan saya, jika Anda bertanya kepada siapa pun yang mengonsumsi obat depresi, mereka lebih memilih untuk tidak mengonsumsinya,” katanya. “Mereka menginginkan perawatan non-obat, non-kimia untuk itu.”

Kehadiran perangkat ini menambah daftar inovasi wearable yang menyasar fungsi otak dan kesehatan mental. Sebelumnya, muncul pula perangkat seperti headset Bluetooth yang menyasar segmen berbeda, serta langkah Meta yang resmi meluncurkan aplikasi Threads untuk headset Meta Quest. Di sisi lain, Razer juga menghadirkan headset gaming dengan edisi khusus yang menyasar pasar hiburan.

Dengan harga yang masih empat digit dolar AS dan belum adanya penggantian dari asuransi, adopsi Flow Neuroscience di AS diprediksi membutuhkan waktu. Namun persetujuan FDA dan hasil uji klinis menjadi pijakan awal bagi perusahaan untuk mendorong pendekatan non-kimia dalam penanganan depresi.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.