Ilustrasi Teleskop Swift NASA yang mengalami penurunan orbit setelah misi penyelamatan LINK dibatalkan

Misi Penyelamatan Swift Gagal, Teleskop NASA Segera Jatuh ke Bumi

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Misi penyelamatan Teleskop Swift NASA dibatalkan karena robot LINK bermasalah pada sistem ketinggian
  • Swift terus menurun dan diperkirakan masuk atmosfer Bumi paling cepat akhir tahun ini
  • Aktivitas matahari yang intens mempercepat penurunan orbit satelit
  • Dua dari tiga teleskop Swift berhasil dinyalakan kembali, termasuk teleskop sinar-X
  • Burst Alert Telescope masih dimatikan, ditargetkan aktif dalam beberapa minggu
  • Swift telah beroperasi 21 tahun memantau supernova, ledakan sinar gamma, dan lubang hitam

Telset.id – Misi penyelamatan Teleskop Swift milik NASA resmi dibatalkan setelah wahana robotik LINK mengalami masalah pada sistem ketinggiannya, membuat observatorium tersebut kini terus menurun dan diperkirakan akan memasuki atmosfer Bumi paling cepat pada akhir tahun ini. Kegagalan ini menandai berakhirnya upaya mempertahankan salah satu aset astrofisika paling produktif milik NASA yang telah beroperasi selama 21 tahun.

Rencana awal misi tersebut adalah mengerahkan lengan robotik pada wahana yang dikenal sebagai LINK untuk mencengkeram satelit yang sudah menua itu, lalu dengan rangkaian pendorong yang kuat menyeret observatorium kembali ke posisinya. Robot penyelamat itu diluncurkan ke luar angkasa pada Juli lalu, tetapi tak lama setelahnya mengalami masalah dengan sistem ketinggiannya, yakni serangkaian kontrol kunci untuk bergerak di luar angkasa. Akibatnya, misi tersebut harus dibatalkan.

“Swift tidak dirancang untuk diservis,” ujar Ghonhee Lee, CEO Katalyst Space, perusahaan yang mengembangkan LINK, sesaat sebelum peluncuran wahana tersebut. Shawn Domagal-Goldman, direktur divisi astrofisika NASA, juga mencatat pada saat itu bahwa ini adalah “misi berisiko tinggi dengan imbalan tinggi.” Kini, Swift akan terus tenggelam.

Seperti semua satelit orbit rendah, observatorium ini mengalami hambatan udara dari atmosfer atas Bumi, yang menyebabkan penurunan bertahap. Awalnya, para ilmuwan memperkirakan teleskop tersebut mungkin tidak mencapai kedalaman kritis hingga 2030. Namun dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas matahari yang intens telah menyebabkan atmosfer Bumi mengembang dan meningkatkan hambatan. Swift diperkirakan akan masuk kembali ke atmosfer paling cepat pada akhir tahun ini, meskipun ia mungkin masih menangkap sejumlah informasi menarik tentang alam semesta sebelum terbakar saat turun.

Satelit ini telah menjadi mata NASA terhadap beberapa fenomena paling eksplosif dan berumur pendek di alam semesta. Dilengkapi tiga teleskop utama, Swift mampu mengamati berbagai panjang gelombang, termasuk cahaya tampak, ultraviolet, sinar-X, dan sinar gamma. Selama 21 tahun, kemampuan ini membuat observatorium tersebut sangat penting untuk merekam dan memberi peringatan kepada tim di darat tentang supernova, ledakan sinar gamma, dan lubang hitam yang mencabik bintang. Perkembangan teknologi observasi semacam ini juga sejalan dengan inovasi yang dibahas dalam artikel Uji Coba Satellite Mobile.

Tim operasi Swift telah mengumumkan rencana untuk melakukan sebanyak mungkin pengamatan selama sisa masa hidupnya. Sebelum misi penyelamatan, observatorium ini sempat mematikan teleskopnya untuk menghemat daya, menjaga orientasi panel surya, dan meminimalkan hambatan udara. Namun tak lama setelah misi penyelamatan ditinggalkan, dua dari tiga teleskop di atasnya berhasil dinyalakan kembali, dan teleskop sinar-X menangkap gambar sisa supernova Tycho, yang terletak sekitar 13.000 tahun cahaya dari Bumi.

Penyesuaian juga sedang dilakukan untuk Burst Alert Telescope, yang masih dimatikan, dengan target dapat melanjutkan pengamatan dalam beberapa minggu ke depan. Upaya menjaga operasional satelit di tengah keterbatasan orbit rendah ini menjadi tantangan tersendiri di industri antariksa, sebagaimana dibahas dalam artikel Hot Backup Satellite.

Begitu ketinggian Swift turun di bawah 185 mil dari permukaan Bumi, mengoperasikan teleskop menjadi semakin sulit, dan penurunannya akan semakin cepat. Meski demikian, para peneliti menantikan apa lagi yang mungkin bisa ditangkapnya sebelum akhirnya benar-benar berakhir. Kisah ini awalnya diterbitkan di WIRED Japan dan diterjemahkan dari bahasa Jepang.

Kegagalan misi LINK sekaligus menjadi pengingat bahwa upaya penyelamatan aset antariksa masih menghadapi risiko teknis yang tinggi. Teknologi komunikasi dan navigasi satelit terus berkembang, termasuk inisiatif yang dibahas dalam artikel Snapdragon Satellite, namun keandalan sistem ketinggian tetap menjadi faktor penentu keberhasilan sebuah misi.

[ META_DESCRIPTION]
Misi penyelamatan Teleskop Swift NASA gagal setelah robot LINK bermasalah. Observatorium 21 tahun ini diperkirakan jatuh ke atmosfer Bumi akhir tahun ini.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.