šŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi teknologi navigasi kuantum yang menggantikan sistem GPS untuk pesawat dan kapal

Navigasi Kuantum Tanpa GPS Diuji Tiga Organisasi di Tiga Benua

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • MagNav dari Defense Innovation Unit AS berhasil uji terbang selama 4 jam 23 menit tanpa GPS, tingkatkan akurasi lokasi 89%
  • Q-CTRL Australia uji gravimeter kuantum di Laut Koral, kesalahan lokasi di bawah satu mil laut
  • Saab UK uji sinkronisasi radar Giraffe 1X dengan sumber waktu kuantum independen bersama Royal Navy
  • Sekitar 978.000 peristiwa jamming tercatat di kuartal pertama 2026, mayoritas di Timur Tengah
  • Teknologi navigasi kuantum dinilai mendekati penerapan praktis, namun perlu pengujian lebih lanjut

Telset.id – Ketergantungan global pada sistem GPS kini menghadapi tantangan nyata. Tiga organisasi di tiga benua masing-masing berhasil menguji alternatif navigasi yang bekerja tanpa sinyal satelit dalam rentang waktu beberapa minggu terakhir. Perkembangan ini menandai langkah signifikan bagi teknologi navigasi kuantum yang selama ini masih berada di tahap riset.

Uji coba ini dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran akan gangguan sinyal satelit yang disengaja. Data mencatat sekitar 978.000 peristiwa jamming terjadi di seluruh dunia selama kuartal pertama 2026 saja, dengan konsentrasi terbanyak di Timur Tengah. Situasi ini mendorong berbagai pihak untuk mencari solusi navigasi yang lebih tangguh dan tidak mudah diganggu.

Kombinasi kemajuan dari ketiga tim tersebut mengindikasikan bahwa teknologi ini mulai keluar dari laboratorium dan memasuki kondisi lapangan aktif. Uji coba yang berhasil dilakukan oleh Amerika Serikat, Australia, dan Inggris ini menunjukkan bahwa navigasi kuantum bukan lagi sekadar konsep teoretis, melainkan solusi yang mendekati penerapan praktis.

Uji Coba MagNav oleh Defense Innovation Unit AS

Defense Innovation Unit (DIU), organisasi Pentagon yang bertugas menerapkan teknologi komersial baru untuk keperluan militer, mengonfirmasi keberhasilan uji terbang program navigasi magnetik yang dikenal sebagai MagNav. Uji coba ini melibatkan pesawat Embraer 170 yang terbang di atas Samudra Pasifik, dari Puget Sound Seattle menuju Alaska selatan dan kembali lagi.

Selama empat jam 23 menit tanpa panduan satelit, sistem tersebut berhasil meningkatkan akurasi lokasi sebesar 89 persen dibandingkan metode navigasi cadangan yang lebih lama. Keberhasilan ini menjadi bukti konkret bahwa teknologi MagNav mampu bekerja dalam kondisi nyata, bukan hanya simulasi di laboratorium.

Kyle Norman, wakil direktur portofolio Kill Web DIU, menyatakan bahwa ini adalah kemenangan signifikan bagi prioritas penginderaan kuantum departemen tersebut. Norman menegaskan bahwa kemampuan MagNav tidak lagi menjadi tujuan riset yang jauh, melainkan teknologi yang sudah terbukti dapat diandalkan.

Ilustrasi teknologi komputasi kuantum untuk navigasi

Keberhasilan DIU ini sejalan dengan perkembangan positif lain di industri komputasi kuantum. Meskipun ada tantangan seperti keputusan NEC yang menghentikan pengembangan komputer kuantum, berbagai pihak lain terus menunjukkan kemajuan signifikan dalam bidang ini.

Q-CTRL Berhasil Uji Kuantum Gravimetri di Laut Koral

Q-CTRL, perusahaan komputasi kuantum asal Australia, mengumumkan uji coba maritim di Laut Koral. Gravimeter kuantum buatan perusahaan tersebut berhasil menjaga kesalahan lokasi dalam satu mil laut selama seluruh misi berlangsung. Angka ini dilaporkan mengungguli sistem cadangan satelit konvensional lebih dari sepuluh kali lipat dalam periode pengujian yang sama.

Steve Sklenka, pensiunan Letnan Jenderal Korps Marinir AS, menilai demonstrasi Q-CTRL menunjukkan jalur kredibel menuju navigasi akurat tanpa ketergantungan pada sinyal satelit eksternal. Sementara itu, pendiri Q-CTRL, Michael Biercuk, menambahkan bahwa teknologi ini siap digunakan sekarang dan menjadi bukti bahwa alat kuantum sudah dapat mendukung misi pertahanan aktif.

Keberhasilan Q-CTRL menegaskan posisi Australia sebagai pemain penting dalam pengembangan teknologi kuantum. Inovasi serupa juga terlihat di industri lain, seperti IBM yang terus mengembangkan komputer kuantum Starling dengan menggabungkan modul kriogenik untuk meningkatkan kapasitas komputasi.

Konsep teknologi kuantum untuk navigasi maritim

Jason Ralph, profesor teknik elektro di University of Liverpool, mencatat bahwa penginderaan gravitasi tetap menjadi satu-satunya teknologi alternatif pasif yang bekerja secara global dan sepenuhnya kebal terhadap upaya jamming atau spoofing. Pernyataan ini memperkuat argumen bahwa teknologi kuantum memiliki keunggulan fundamental dibanding sistem navigasi berbasis satelit.

Saab UK Uji Sinkronisasi Radar dengan Sumber Waktu Kuantum

Saab UK juga melaporkan pencapaian penting dengan bekerja sama bersama Aquark Technologies dan Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Uji coba ini berfokus pada pengujian waktu radar tanpa input satelit. Beberapa unit radar Giraffe 1X yang beroperasi dari lokasi terpisah berhasil mempertahankan gambaran udara tunggal yang koheren menggunakan sumber waktu kuantum independen.

Para insinyur sengaja memperkenalkan kesalahan waktu untuk meniru kondisi jamming, kemudian mengonfirmasi bahwa jaringan kembali pulih setelah sinkronisasi dipulihkan. Hasil ini menunjukkan bahwa teknologi waktu kuantum dapat menjaga koherensi sistem radar meskipun menghadapi gangguan eksternal.

Andy Fraser, Managing Director Grup di Saab UK, menyebut uji coba ini sebagai contoh bagus bagaimana kolaborasi dapat mempercepat inovasi. Kemitraan antara industri pertahanan, perusahaan teknologi kuantum, dan militer terbukti mampu menghasilkan terobosan yang signifikan dalam waktu relatif singkat.

Ketiga uji coba yang berhasil ini secara kolektif menunjukkan bahwa navigasi kuantum semakin dekat dengan penerapan praktis dibanding sekadar konsep teoretis. Namun, apakah teknologi ini dapat sepenuhnya menggantikan GPS atau hanya menjadi cadangan saat terjadi gangguan, masih bergantung pada pengujian lebih lanjut dan pertimbangan biaya.

Perkembangan ini juga menarik untuk dicermati mengingat ekosistem komputasi kuantum global terus bertumbuh. Berbagai perusahaan dan lembaga riset berlomba menghadirkan inovasi, termasuk dalam bentuk aplikasi komersial pertama yang menggunakan teknologi kuantum di industri hiburan.

Ke depannya, adopsi teknologi navigasi kuantum akan sangat bergantung pada kemampuan para pemangku kepentingan untuk menurunkan biaya produksi dan memastikan keandalan sistem dalam berbagai kondisi operasional. Jika tantangan tersebut dapat diatasi, bukan tidak mungkin navigasi kuantum akan menjadi standar baru dalam dunia penerbangan, pelayaran, dan operasi militer.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.