📑 Daftar Isi

Ilustrasi sistem penyimpanan energi baterai skala jaringan listrik di Amerika Serikat

AS Batasi Baterai China, Proyek Penyimpanan Energi Terancam Batal

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Perintah eksekutif AS pada akhir Agustus melarang baterai China di sistem penyimpanan energi skala jaringan
  • Aturan menyasar sistem penyimpanan baterai, inverter, dan transformer yang dinilai berisiko keamanan nasional
  • BloombergNEF menilai proyek penyimpanan energi berpotensi melambat, sebagian berisiko dibatalkan
  • Regulasi baru mewajibkan 55% biaya material proyek baru berasal dari luar China mulai 2026
  • Tarif impor baterai naik jadi 25% pada Januari, dari sebelumnya 7,5%
  • AS diperkirakan punya kapasitas baterai cukup sekitar 2030, pasokan penuh baru akhir 2030-an

Telset.id – Amerika Serikat resmi memperketat penggunaan baterai China dalam sistem penyimpanan energi skala jaringan melalui perintah eksekutif yang diteken pemerintahan Trump pada akhir Agustus. Langkah ini berpotensi memperlambat pembangunan proyek penyimpanan energi yang terhubung ke jaringan listrik, bahkan sebagian proyek berisiko dibatalkan. Keputusan tersebut menandai babak baru upaya Negeri Paman Sam mengurangi ketergantungan pada rantai pasok baterai China, meski pasar penyimpanan energi AS sendiri sedang mencetak rekor pertumbuhan pesat.

Perintah eksekutif itu mendeklarasikan keadaan darurat nasional yang pada praktiknya melarang baterai China digunakan dalam sistem penyimpanan energi skala jaringan. Aturan ini melarang instalasi “any foreign-produced bulk-power system electric equipment” yang dinilai menimbulkan risiko keamanan nasional. Perintah tersebut secara spesifik menyebut sistem penyimpanan energi baterai, inverter, dan transformer sebagai peralatan yang terdampak.

Langkah ini menjadi pukulan bagi pasar yang selama ini ditopang baterai China yang murah. Baterai memainkan peran penting dalam memperkuat keandalan jaringan listrik sekaligus menekan emisi, karena mampu menyimpan energi dari sumber terbarukan yang bersifat intermiten seperti angin dan matahari. Teknologi penyimpanan semacam ini juga menjadi perhatian di sektor lain, sebagaimana terlihat pada pengembangan Home Battery terbaru yang mulai diresmikan di sejumlah pasar.

Dampak Larangan terhadap Proyek Penyimpanan Energi

Analisis dari BloombergNEF, sebuah konsultan energi, menyebut langkah ini kemungkinan besar akan memperlambat penyebaran proyek penyimpanan energi yang terhubung ke jaringan dalam jangka pendek. Proyek-proyek bisa menghadapi penundaan karena pengembang menunggu kejelasan aturan. Bergantung pada panduan rinci dari Department of Energy yang diperkirakan terbit akhir tahun ini, sejumlah proyek mungkin perlu mencari sumber sel alternatif, baik yang diproduksi domestik maupun diimpor dari negara lain.

Alternatif tersebut diperkirakan lebih mahal dibanding impor dari China. Isshu Kikuma, analis penyimpanan energi di BloombergNEF, menyatakan bahwa dalam skenario terburuk proyek-proyek itu bisa dibatalkan. Secara teknis, perintah ini bahkan berlaku untuk pembangkit penyimpanan energi yang sudah ada, meski kecil kemungkinannya dinonaktifkan hanya karena asal baterainya. Karena sebagian besar pembangkit saat ini memakai baterai China, menegakkan perintah secara harfiah berarti menyingkirkan sebagian besar penyimpanan energi baterai yang terpasang dari jaringan listrik AS, menurut Kikuma.

Reaksi pelaku industri pun beragam. Shan Tomouk, energy storage and energy lead untuk Benchmark Mineral Intelligence, menilai larangan total ini cukup mengejutkan dan menimbulkan kekhawatiran bagi pemain domestik di AS. Kekhawatiran serupa juga muncul di sektor kendaraan listrik yang bergantung pada rantai pasok baterai global, seperti terlihat pada manuver stasiun Battery Swap yang kini dijual ke badan usaha milik negara China.

Ini bukan upaya pertama Amerika Serikat menjauh dari pengaruh China dalam rantai pasok baterai. Salah satu instrumen kebijakan utama yang dipakai dalam beberapa tahun terakhir adalah membatasi kredit pajak yang dirancang untuk mendorong penggunaan teknologi baru. Membatasi jenis proyek yang memenuhi syarat dapat membantu menekan biaya teknologi lokal agar lebih kompetitif dibanding opsi impor yang lebih murah.

Pada 2022, pemerintah AS merancang kredit pajak yang menjadi bagian dari Inflation Reduction Act untuk membatasi lokasi penambangan, pemrosesan, atau daur ulang mineral baterai, serta lokasi perakitan baterai dan komponennya. Kredit pajak itu mengalami perubahan pada 2025, tetapi pemerintahan Trump mengambil pendekatan serupa. Regulasi baru mewajibkan bahwa mulai 2026, 55% dari biaya material yang digunakan untuk proyek penyimpanan energi baru harus berasal dari luar China dan negara-negara yang dibatasi, atau proyek tersebut tidak akan memenuhi syarat untuk kredit pajak.

Tarif juga menjadi bagian dari tekanan ini. Pajak impor untuk baterai naik menjadi 25% pada Januari, dari sebelumnya 7,5%. Namun perintah eksekutif baru merupakan langkah yang lebih drastis karena bersifat larangan, bukan sekadar pembatasan insentif. Kebijakan semacam ini juga menyentuh rantai pasok teknologi konsumen, sejalan dengan persoalan Battery Health iPhone yang sering menjadi perhatian pengguna saat menilai kondisi perangkat bekas.

Jalan Panjang Menuju Kemandirian Baterai Domestik

Dalam jangka panjang, AS pada akhirnya akan mampu memenuhi permintaan baterainya sendiri. Negara itu bisa memiliki kapasitas yang cukup sekitar 2030, meski sejumlah pabrik mungkin tidak beroperasi atau berjalan pada kapasitas penuh, sehingga pasokan domestik baru benar-benar memenuhi permintaan pada akhir 2030-an. Pabrik-pabrik baru dari LG Energy Solutions, Samsung SDI, Ford, dan SK On dijadwalkan mulai beroperasi atau meningkatkan produksi pada tahun depan.

Dalam twist yang ironis, pasar kendaraan listrik yang melambat justru membantu. Sejumlah pabrik yang semula dirancang untuk baterai kendaraan kini beralih memproduksi sel untuk penyimpanan jaringan. Namun hal ini tetap datang dengan biaya. Saat ini, baterai yang diproduksi di AS masih jauh lebih mahal dibanding baterai buatan China. Bahkan beralih ke impor dari negara lain seperti Korea Selatan kemungkinan juga lebih mahal.

Isu ini melampaui AS dan bahkan melampaui baterai. China jauh lebih unggul dibanding sebagian besar negara lain dalam teknologi seperti panel surya dan baterai. Melalui dukungan pemerintah selama bertahun-tahun serta pengalaman riset dan manufaktur, negara itu menjadi kekuatan energi. Ada keseimbangan politik yang halus untuk dijaga saat dunia mencari cara menavigasi situasi ini.

Di satu sisi, tersedia teknologi murah yang dapat membantu menekan emisi dan biaya energi secara drastis. Di sisi lain, ada risiko yang menyertai ketergantungan terlalu besar pada satu pemain untuk teknologi krusial. Perintah eksekutif AS mencerminkan pilihan untuk memangkas sumber pasokan utama demi mendorong pengembangan pabrik dalam negeri, meski dengan konsekuensi biaya yang lebih tinggi dan potensi penundaan proyek penyimpanan energi dalam waktu dekat.

Bagi pasar, kejelasan aturan menjadi faktor penentu. Panduan rinci dari Department of Energy yang dinantikan akhir tahun akan menentukan seberapa besar proyek harus mengubah sumber selnya, seberapa mahal biaya yang harus ditanggung pengembang, dan seberapa banyak proyek yang akhirnya tetap berjalan sesuai jadwal. Sampai saat itu, ketidakpastian menjadi tantangan tersendiri bagi industri penyimpanan energi di AS.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.