Rusia, China, dan Iran Berusaha Kacaukan Pilpres AS 2020

Pilpres AS Iklan Facebook Kampanye Donald Trump

Telset.id, Jakarta – Dilaporkan, sekelompok hacker yang terkait dengan militer Rusia yang ketahuan telah ikut campur dalam pemilihan presiden atau pilpres Amerika Serikat (AS) 2016 telah mengubah taktiknya menjelang pemilu November 2020.

Fakta itu diungkapkan oleh Microsoft. Raksasa teknologi ini juga mengatakan bahwa hacker dari China dan Iran juga meningkatkan upaya untuk mendapatkan informasi kata sandi milik orang-orang yang terlibat dalam kampanye Presiden Donald Trump dan mantan Wakil Presiden Joe Biden.

Grup hacker Rusia Strontium, termasuk Fancy Bear, dan APT28, meluncurkan serangan pengambilan kredensial terhadap puluhan ribu akun di lebih dari 200 organisasi antara September 2019 dan Juni 2020 lalu.

{Baca juga: AS Panik, Rusia Ketahuan Uji Coba Senjata Anti Satelit?}

Menurut entri blog Microsoft Threat Intelligence Center, dikutip Telset.id dari New York Post, Sabtu (12/9/2020), baru-baru ini mereka menargetkan 6.912 akun milik 28 organisasi pada 19 Agustus 2020 dan 3 September 2020.

Organisasi-organisasi yang berlokasi di AS dan Inggris tersebut secara langsung terlibat dalam pemilihan politik, termasuk pilpres. Para hacker tampaknya meletakkan dasar untuk operasi pengawasan atau penyusupan di masa mendatang.

Beruntung, tak satu pun akun berhasil disusupi. Sebelumnya, Fancy Bear terlibat dalam campur tangan Rusia pada pilpres AS 2016 dengan 12 perwira intelijen militer didakwa meretas email Komite Nasional Demokrat dan Hillary Clinton.

{Baca juga: Microsoft Sebut Kelompok Hacker Rusia Incar Organisasi Olahraga}

Fancy Bear sendiri berkali-kali ketahuan aksinya oleh tim keamanan Microsoft. Tahun lalu, Kelompok hacker Rusia tersebut menargetkan otoritas anti-doping dan organisasi olahraga global.

Kelompok hacker Rusia yang juga dikenal sebagai APT28 itu telah dikaitkan dengan pemerintah Rusia. Setidaknya, 16 organisasi olahraga dan anti-doping nasional maupun internasional di tiga benua menjadi sasaran.

Menurut Microsoft, serangan para peretas dimulai pada 16 September 2019 lalu. Sebagian serangan dilaporkan berhasil, sebagian lagi gagal.

Microsoft telah memberi tahu semua pelanggan yang ditargetkan dalam serangan tersebut. Perusahaan berharap, mereka melakukan antisipasi supaya tidak menjadi korban serangan Strontium. (SN/MF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here