Telset.id – Foto makanan yang dihasilkan AI kini bisa tampil sangat realistis, dan menurut Director of Marketing & Partnerships Tastewise, Michael Bortinger, justru citra yang terlihat masuk akal inilah yang paling berisiko bagi restoran. Berbeda dengan gambar AI yang aneh dan viral karena kejanggalan visualnya, gambar yang meyakinkan bisa membangun ekspektasi tidak realistis di benak pelanggan, terutama pengguna aplikasi pengiriman makanan yang tidak bisa melihat proses penyajian secara langsung.
Bortinger menjelaskan bahwa pengguna aplikasi pengiriman mengandalkan foto untuk memahami apa yang akan mereka terima. Ketika pesanan datang dan burger yang diterima berukuran setengah dari yang terlihat di gambar, dengan sebagian besar topping hilang, pelanggan cenderung menyalahkan restoran, bukan aplikasi atau AI. Dampaknya adalah ulasan buruk dan permintaan pengembalian dana.
Pembahasan ini menjadi relevan bagi pelaku usaha kuliner di Indonesia yang semakin banyak mengandalkan platform digital untuk menjual makanan. Menurut Bortinger, risiko terbesar bukan pada gambar yang jelas-jelas palsu, melainkan pada gambar yang tampak wajar namun tidak sesuai dengan hidangan yang benar-benar disajikan.
Bias Foto “Fotogenik” di Balik Gambar AI
Menurut Bortinger, AI kini mampu menghasilkan gambar makanan yang tampak realistis. Namun, output tersebut dibangun dari volume besar foto makanan yang dipakai untuk melatih model, yang sering kali memiliki bias terhadap citra yang lebih fotogenik. Hasilnya, kata dia, adalah semacam rata-rata dari setiap burger cantik yang pernah diumpankan ke model tersebut.
Kecuali model dilatih secara khusus menggunakan resep, bahan, ukuran porsi, dan presentasi restoran tertentu, hasilnya tidak akan mencerminkan hidangan restoran tersebut secara realistis. Bortinger menegaskan bahwa tanpa data menu yang akurat, gambar AI hanya menghasilkan representasi umum, bukan gambaran menu yang sebenarnya.

Dalam praktiknya, ketidaksesuaian ini bisa berdampak langsung pada pengalaman pelanggan yang memesan berdasarkan foto di aplikasi. Pelanggan yang merasa tertipu oleh tampilan visual berpotensi meninggalkan ulasan negatif yang memengaruhi reputasi restoran. Bagi usaha kuliner di Indonesia, hal ini menjadi peringatan bahwa kualitas representasi visual di platform digital sama pentingnya dengan kualitas hidangan itu sendiri.
Bortinger juga menyoroti bahwa AI sering kali salah dalam menangkap detail seperti ukuran porsi dan proporsi. Selain itu, inkonsistensi kultural menjadi masalah, misalnya AI tidak tepat dalam menentukan jenis roti atau potongan yang harus ditampilkan kecuali diberi perintah spesifik. AI juga punya kebiasaan menambahkan bahan yang sebenarnya bukan bagian dari hidangan, atau membuat elemen tampak tidak alami, seperti keju yang meleleh terlalu merata atau daging dengan tekstur mengilap dan kenyal.
Baca Juga:
Risiko Alergi dan Tanggung Jawab Restoran
Menurut Bortinger, ketidakakuratan porsi menjadi masalah karena pelanggan membayar untuk satu hal namun menerima hal lain. Namun, ia menilai bahan yang salah jauh lebih berbahaya karena dapat menyesatkan pelanggan dengan alergi dan intoleransi mengenai apakah suatu hidangan aman untuk dikonsumsi.
Ketika ditanya siapa yang bertanggung jawab jika restoran memakai agen AI untuk menghasilkan atau merekomendasikan gambar makanan, Bortinger menyatakan bahwa tanggung jawab ada di kedua pihak, tetapi restoran tidak bisa melepaskan diri. Menurutnya, perusahaan AI bertanggung jawab menghasilkan gambar yang tidak menyesatkan, termasuk memilih apakah menggunakan data menu yang autentik dan memberi operator kendali atas apa yang ditampilkan.

Bortinger menambahkan bahwa menjaga manusia tetap dalam proses menjadi sangat penting, terutama jika gambar hasil AI digunakan untuk merekomendasikan hidangan dalam percakapan teks privat, di luar menu, tempat pelanggan biasanya bisa memeriksa ulang pesanan mereka. Pada akhirnya, menurut dia, pesanan, pelanggan, dan reputasi adalah milik restoran. Perusahaan AI perlu menyediakan alat yang tepat, tetapi restoran bertanggung jawab menyetujui segala hal yang merepresentasikan makanan mereka.
Soal batas hukum antara ilustrasi yang tidak berbahaya dan klaim iklan yang menyesatkan, Bortinger menyatakan dirinya bukan seorang pengacara sehingga tidak bisa memastikan di mana garis hukumnya berada. Namun, ia menjelaskan bahwa iklan palsu umumnya berlaku ketika pelanggan berpotensi tertipu. Jika pelanggan melihat gambar tersebut dan secara realistis mengira akan menerima hidangan seperti itu, mereka mungkin memiliki dasar klaim, terutama jika gambar ditampilkan di aplikasi pengiriman bersama harga dan tombol pesan.
Ia juga mengingatkan bahwa banyak restoran telah menghadapi gugatan atas gambar promosi yang melebih-lebihkan hidangan mereka. Bortinger memperkirakan standar yang diterapkan pada foto bergaya akan berlaku sama untuk gambar yang dihasilkan AI.

Untuk mengurangi risiko tersebut, Bortinger menyarankan restoran menghasilkan gambar AI menggunakan resep asli, ukuran porsi asli, dan foto referensi asli dari hidangan di piring persis seperti saat disajikan. Setelah itu, pastikan output sesuai dengan apa yang keluar dari dapur dan perbarui setiap kali hidangan berubah. Ia juga menekankan pentingnya mempertimbangkan kapan dan di mana penggunaan gambar AI tepat.
Menurut Bortinger, AI dapat membantu pekerjaan operasional yang sensitif terhadap waktu, misalnya usaha kecil independen yang perlu memperbarui menu di tiga platform pengiriman. Dengan AI, proses itu bisa selesai dalam hitungan jam, bukan minggu, dan waktu yang dihemat sangat berarti untuk bersaing dengan jaringan besar. Namun, ia menegaskan bahwa hero photography, yaitu gambar utama yang dipakai restoran untuk merepresentasikan merek mereka, tetap layak difoto secara nyata.
Terkait masa depan, Bortinger menilai dalam banyak hal gambar makanan AI sudah menggantikan foto asli. Restoran menggunakan ratusan gambar di berbagai kanal penjualan dan pemasaran mereka, dan sebagian besar sudah dihasilkan secara otomatis. Menurut dia, ada kemungkinan besar pelanggan sudah berkali-kali memesan makanan berdasarkan gambar hasil AI tanpa menyadarinya.
Meski demikian, Bortinger menegaskan konsumen tidak seharusnya harus mempertanyakan apakah setiap gambar makanan yang mereka lihat asli atau tidak. Menurutnya, tanggung jawab industri adalah memastikan gambar-gambar tersebut tidak menyesatkan pelanggan, dan satu-satunya cara adalah menghasilkannya dari data menu yang nyata dan akurat serta memberi restoran kesempatan jelas untuk menyetujuinya. Jika hal itu menjadi norma, gambar hasil AI akan sama dapat dipercaya dengan foto tradisional.
Bagi pelaku usaha kuliner maupun konsumen di Indonesia, paparan Bortinger ini menegaskan bahwa transparansi visual bukan sekadar soal estetika. Ketika gambar AI dipakai untuk mewakili makanan yang dijual, akurasi resep, porsi, dan bahan menjadi penentu apakah pelanggan mendapat pengalaman sesuai harapan atau justru kecewa. Bagi konsumen, memahami bahwa foto makanan tidak selalu identik dengan hidangan asli menjadi bekal penting sebelum menekan tombol pesan.





Komentar
Belum ada komentar.