πŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi android laki-laki dan perempuan merepresentasikan bias gender pada agen AI

Studi Ungkap AI Perempuan Dibayar 10,25 Persen Lebih Rendah

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Studi University of Limerick temukan bias gender pada agen AI di kantor virtual
  • AI perempuan "Johanna" dibayar 10,25 persen lebih rendah dari AI laki-laki "Johan"
  • 189 partisipan membagi uang sungguhan kepada asisten AI dalam eksperimen VR
  • AI menyerupai manusia lebih dipercaya dibanding chatbot dan robot desktop
  • Partisipan menolak mengakui perilakunya dipengaruhi bias gender
  • Peneliti ingatkan desain representasi AI bukan sekadar keputusan estetika

Telset.id – Penelitian terbaru dari University of Limerick di Irlandia menemukan bahwa bias gender di tempat kerja tetap bertahan bahkan ketika rekan kerja tersebut adalah model AI. Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the ACM on Human-Computer Interaction, AI yang tampil sebagai perempuan menerima pembayaran 10,25 persen lebih rendah dibanding AI laki-laki untuk pekerjaan yang sama.

Temuan ini menjadi sorotan karena teknologi di balik kedua agen AI tersebut identik. Perbedaan perlakuan muncul murni dari cara manusia mempersepsikan representasi gender yang ditampilkan, bukan dari kemampuan atau performa sistem AI itu sendiri.

Penelitian melibatkan 189 partisipan yang bekerja di sebuah kantor virtual reality. Mereka diminta menyelesaikan tugas-tugas terkait pekerjaan bersama sejumlah asisten AI. Untuk membuat situasinya lebih nyata, partisipan diberikan uang sungguhan yang harus mereka bagi antara diri sendiri dan asisten AI tersebut.

Hasilnya, Johan, AI laki-laki, dibayar jauh lebih baik dibanding Johanna, AI perempuan. Selain menerima 10,25 persen lebih sedikit untuk pekerjaan yang sama, Johanna juga dipersepsikan kurang menyerupai manusia dibandingkan rekannya yang laki-laki.

Bias yang Tidak Disadari Partisipan

Yang menarik, para partisipan menolak mengakui bahwa perilaku mereka dipengaruhi oleh AI yang berbentuk antropomorfik. Dalam wawancara, banyak partisipan bersikeras bahwa mereka lebih menyukai asisten yang tidak menyerupai manusia dan menegaskan bahwa gender asisten AI tidak relevan bagi mereka.

Mary Hausfeld, asisten profesor di Kemmy Business School UL sekaligus salah satu penulis studi, menyatakan bahwa temuan ini menunjukkan sisi yang mengejutkan. Menurutnya, teknologi di balik agen AI tersebut persis sama, tetapi orang tidak memperlakukannya dengan cara yang sama.

Ia menambahkan bahwa masyarakat sering menganggap AI sebagai sesuatu yang netral. Namun, cara sistem ini dirancang dan ditampilkan dapat mengaktifkan asumsi serta bias yang sama seperti yang muncul dalam interaksi antar manusia. Hausfeld menegaskan pihaknya tidak ingin secara tidak sengaja mereproduksi ketidaksetaraan yang sudah ada di lingkungan teknologi baru.

Studi ini bertujuan menyelidiki bagaimana cara sebuah AI ditampilkan atau diwujudkan memengaruhi cara manusia mempersepsikan dan berinteraksi dengannya. Para peneliti juga mencatat bahwa alat-alat semacam ini semakin sering dibingkai sebagai rekan kerja digital.

Tiga Representasi AI yang Diuji

Dalam eksperimen tersebut, peneliti menguji tiga representasi AI yang berbeda di dalam lingkungan kantor virtual. Pertama, sebagai chatbot tradisional. Kedua, sebagai robot desktop yang tidak memiliki wajah maupun gerakan. Ketiga, sebagai avatar laki-laki atau perempuan yang duduk di samping partisipan di lingkungan virtual tersebut.

Secara keseluruhan, asisten yang menyerupai manusia lebih dipercaya dibandingkan chatbot tradisional dan representasi robot. Partisipan memberikan lebih banyak uang dan lebih banyak pengakuan atas kontribusi mereka terhadap pekerjaan yang dilakukan.

A male and female android.

Perbedaan pembayaran antara AI laki-laki dan perempuan muncul di tengah meningkatnya penggunaan asisten AI sebagai bagian dari alur kerja profesional. Sejumlah pengguna bahkan mengeluarkan biaya pribadi untuk memanfaatkan alat AI dalam pekerjaan mereka, sebagaimana dibahas dalam pembahasan tentang penggunaan perangkat untuk kebutuhan komputasi intensif.

Hausfeld berpendapat bahwa ke depan, masyarakat perlu jauh lebih berhati-hati dalam menentukan bagaimana agen AI ditampilkan. Penampilan atau cara AI diwujudkan tidak boleh diperlakukan semata-mata sebagai keputusan estetika.

Menurutnya, pilihan semacam itu dapat memengaruhi seberapa besar orang mempercayai AI, bagaimana mereka menilai kontribusinya, dan bahkan bagaimana mereka memberikan imbalan finansial kepadanya. Implikasi ini menjadi relevan seiring makin banyaknya sistem AI yang diposisikan sebagai bagian dari tenaga kerja digital.

Studi ini menyoroti bahwa desain representasi AI memiliki konsekuensi nyata terhadap persepsi dan perilaku manusia. Ketika teknologi yang identik diperlakukan secara berbeda hanya karena tampilannya, hal itu menunjukkan bahwa bias sosial dapat berpindah ke ranah teknologi tanpa disadari oleh penggunanya.

Fenomena serupa juga muncul di berbagai sektor teknologi lain, misalnya dalam diskusi seputar perangkat untuk penambangan yang menunjukkan bagaimana perilaku manusia terhadap teknologi dapat dipengaruhi faktor non-teknis. Bahkan dalam kasus yang lebih ekstrem, penyalahgunaan teknologi untuk kepentingan tertentu pernah terjadi dalam insiden penambangan Ethereum yang mengganggu jaringan publik.

Penelitian University of Limerick ini menegaskan bahwa pertanyaan seputar netralitas AI tidak bisa dilepaskan dari cara manusia merancang dan berinteraksi dengan sistem tersebut. Selama representasi AI mengikuti pola yang sama dengan interaksi sosial manusia, bias yang sudah ada berpotensi ikut terbawa ke dalam teknologi baru.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.