Robotaxi Waymo yang mogok dan menyebabkan kemacetan parah di jalan San Francisco

Walikota SF Minta Regulasi Robotaxi Diperketat Usai Waymo Macet

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Wali Kota San Francisco Daniel Lurie minta regulator California perketat aturan kendaraan otonom.
  • Penyebabnya adalah insiden kemacetan parah akibat puluhan Waymo mogok saat perayaan 4 Juli.
  • Ribuan orang terjebak macet selama berjam-jam akibat robotaxi yang kehabisan daya.
  • Lurie mengusulkan empat kemampuan operasional inti untuk produsen robotaxi.
  • Perusahaan wajib memindahkan robotaxi dari jalur lalu lintas dan berbagi data real-time.
  • Waymo adalah pemain terbesar dengan 1.000 robotaxi beroperasi di Bay Area.
  • Regulasi California saat ini dinilai tidak cukup untuk kondisi luar biasa.

Telset.id – Wali Kota San Francisco Daniel Lurie secara resmi meminta regulator negara bagian untuk memperketat aturan kendaraan otonom. Langkah ini diambil setelah insiden kemacetan parah yang melibatkan puluhan robotaxi Waymo saat perayaan Hari Kemerdekaan AS pada 4 Juli lalu.

Insiden tersebut menyebabkan ribuan orang terjebak macet selama berjam-jam. Waymo yang kehabisan daya dan berhenti di jalan-jalan utama menjadi biang keladi kemacetan yang melumpuhkan transportasi kota.

Dalam surat yang dikirim ke Departemen Perhubungan California dan dilihat oleh TechCrunch, Lurie menyoroti dua peristiwa kritis. Pertama, pemadaman listrik besar-besaran pada Desember lalu. Kedua, pertunjukan kembang api di Jembatan Golden Gate pada 4 Juli yang menarik 100.000 penonton. Kedua peristiwa ini menyebabkan puluhan kendaraan Waymo mogok dan melumpuhkan lalu lintas.

“Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan bahwa kerangka regulasi California saat ini tidak cukup mengatasi bagaimana kendaraan otonom beroperasi selama insiden besar, baik yang direncanakan maupun tidak,” tulis Lurie dalam suratnya seperti dilaporkan San Francisco Chronicle.

Lurie menegaskan bahwa tantangan California bukan lagi sekadar apakah kendaraan otonom dapat beroperasi dengan aman dalam kondisi normal. Tantangan utamanya adalah apakah kendaraan tersebut dapat beroperasi secara andal selama kondisi luar biasa.

Untuk mengatasi masalah ini, Lurie mengusulkan empat “kemampuan operasional inti” yang harus dimiliki oleh produsen kendaraan otonom. Ia meminta Departemen Perhubungan California untuk menetapkan standar di seluruh negara bagian guna mencegah terulangnya insiden serupa.

Keempat persyaratan tersebut mencakup kewajiban perusahaan untuk segera memindahkan atau mengevakuasi robotaxi dari jalur lalu lintas aktif. Perusahaan juga harus mampu beradaptasi secara real-time dengan menyesuaikan rute, area layanan, serta lokasi penjemputan dan pengantaran.

Selain itu, perusahaan wajib berbagi data operasional real-time dengan lembaga setempat. Data tersebut mencakup gangguan layanan, lokasi robotaxi yang mogok, dan upaya pemulihan. Perusahaan juga harus menunjukkan melalui pengujian bahwa mereka mampu menangani lonjakan jumlah penumpang dan lalu lintas.

“Persyaratan yang diusulkan ini tidak akan melemahkan kendaraan otonom, tetapi justru akan memperkuat mereka,” ujar Lurie.

Saat ini, perusahaan yang ingin mengoperasikan layanan robotaxi di California harus melalui dua proses perizinan. Pertama, izin pengujian dan penempatan dari Departemen Kendaraan Bermotor (DMV). Kedua, izin dari Komisi Utilitas Publik (CPUC).

Kerangka regulasi California memang lebih ketat dibandingkan negara bagian lain seperti Texas dan Arizona. Namun, hal ini tidak menyurutkan minat perusahaan untuk beroperasi di sana. San Francisco dan wilayah sekitarnya telah lama menjadi tempat uji coba teknologi kendaraan otonom.

Sebanyak enam perusahaan, termasuk Nuro, Waymo, dan Zoox, telah memegang izin pengujian tanpa pengemudi. Izin ini memungkinkan kendaraan beroperasi tanpa operator keselamatan manusia di belakang kemudi.

Wilayah ini juga menjadi titik peluncuran layanan komersial yang memerlukan izin tambahan dari DMV dan CPUC. Waymo adalah pemain terbesar dengan perkiraan 1.000 robotaxi yang beroperasi di Bay Area saat ini.

Namun, ada banyak perusahaan lain yang tengah menguji atau bersiap meluncurkan operasi komersial. Termasuk Zoox milik Amazon serta layanan robotaxi premium yang akan dioperasikan oleh Uber.

Tesla memiliki layanan robotaxi bermerek, tetapi tidak menggunakan kendaraan tanpa pengemudi. Tesla juga tidak memiliki izin untuk itu. Sebagai gantinya, Tesla memiliki izin transportasi charter yang memungkinkan pengemudi sendiri menjemput dan mengantar penumpang di San Francisco. Kendaraan Tesla dilengkapi dengan sistem bantuan pengemudi tingkat lanjut, bukan perangkat lunak otonom penuh.

Skala Waymo telah menjadikannya titik fokus bagi regulator di San Francisco dan sekitarnya. Perusahaan ini kini beroperasi di 11 kota dan mengklaim menyelesaikan lebih dari 500.000 perjalanan berbayar setiap minggu.

Di San Francisco, Lurie mencatat bahwa Waymo telah setuju untuk membatasi layanannya pada 4 Juli di dekat kawasan tepi air. Waymo bahkan menugaskan perwakilan di pusat darurat kota. Namun, langkah ini tidak cukup untuk mencegah Waymo memasuki lalu lintas padat di luar distrik tersebut.

Lurie menegaskan bahwa tindakan sukarela semacam ini tidak lagi memadai. Hal ini mencerminkan seberapa besar armada Waymo saat ini. Ia menekankan bahwa empat persyaratan yang diusulkan justru akan memperkuat industri kendaraan otonom, bukan melemahkannya.

Insiden kemacetan yang melibatkan Waymo ini menjadi pengingat bahwa regulasi kendaraan otonom perlu terus dievaluasi. Sebelumnya, San Francisco juga menjadi saksi berbagai uji coba teknologi masa depan, termasuk robot humanoid.

Permintaan Lurie kepada regulator California menunjukkan bahwa pemerintah kota mulai mengambil sikap lebih tegas. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan kesukarelaan perusahaan dalam menjaga ketertiban lalu lintas.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.