📑 Daftar Isi

Ilustrasi balon mata-mata raksasa US Army atau aerostat yang mengudara di atas area operasi militer

US Army Gelontorkan Rp 7 Triliun untuk Balon Mata-mata Raksasa

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • US Army memberikan kontrak senilai USD 447 juta (Rp 7 triliun) ke TCOM LP untuk armada balon mata-mata raksasa
  • Program PSS-T sudah berjalan sejak 2016 dan terbukti efektif di Irak dan Afghanistan
  • Setiap aerostat bisa terbang di ketinggian 16.000 kaki dan mengawasi area selama 30 hari
  • Serangan drone murah Hezbollah di Lebanon pada Oktober 2024 menewaskan 4 tentara Israel
  • Drone murah berhasil melumpuhkan sistem pertahanan mahal seperti Iron Dome
  • Kontrak akan berlangsung hingga 20 Juli 2031
  • Hanya 2 dari 10 perusahaan yang merespons tender, menunjukkan minat industri terbatas

Telset.id – Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army) kembali menunjukkan komitmennya terhadap teknologi pengawasan udara yang kontroversial. Mereka baru saja menggelontorkan dana sebesar USD 447 juta atau setara Rp 7 triliun untuk mengembangkan dan merawat armada balon pengintai raksasa (aerostat). Langkah ini diambil di tengah maraknya serangan drone murah yang sukses melumpuhkan sistem pertahanan mahal di medan perang modern.

Kontrak senilai hampir setengah miliar dolar ini diberikan kepada TCOM LP. Perusahaan tersebut akan bertanggung jawab untuk memproduksi, mengerahkan, dan mendukung armada Persistent Surveillance Systems-Tethered (PSS-T). Keputusan ini menandakan kepercayaan yang masih kuat pada platform pengawasan raksasa ini, meskipun banyak analis militer mulai mempertanyakan efektivitasnya.

Sejumlah analis mempertanyakan apakah sistem yang sangat terlihat ini bisa tetap efektif melawan musuh yang semakin canggih. Lawan potensial kini mampu mendeteksi dan menghancurkan aset udara statis dengan mudah. Kerentanan ini menjadi sorotan utama setelah serangkaian insiden di medan perang modern.

Taruhan Mahal Melawan Ancaman Murah

Program PSS-T sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2016. Saat itu, Angkatan Darat menggabungkan dua proyek aerostat sebelumnya menjadi satu inisiatif tunggal. Balon udara yang ditambatkan ini terbukti sangat berharga dalam mengidentifikasi bom pinggir jalan dan melacak pergerakan pemberontak di Irak dan Afghanistan selama lebih dari satu dekade.

TCOM telah menjadi mitra inti Angkatan Darat dalam program ini. Sebelumnya, perusahaan yang sama memenangkan kontrak senilai hampir USD 979 juta pada September 2019. Kontrak sebelumnya itu mencakup dukungan teknik, logistik, dan operasional di fasilitas-fasilitas yang tersebar di Maryland, North Carolina, Pennsylvania, dan Arizona.

Setiap aerostat dilaporkan bisa terbang di ketinggian hingga 16.000 kaki atau sekitar 4.880 meter. Dari ketinggian tersebut, balon ini dapat mengawasi suatu area secara terus-menerus selama lebih dari 30 hari. Namun, pelajaran dari medan perang terbaru menunjukkan bahwa ketinggian tersebut tidak memberikan perlindungan berarti.

Pelajaran pahit datang dari Lebanon pada Oktober 2024 lalu. Kelompok Hezbollah menggunakan segerombolan drone murah untuk menyerang pasukan Israel. Serangan itu berhasil menewaskan empat tentara Israel dan melukai 61 lainnya di dekat Binyamina.

Pejabat Israel kemudian mengakui bahwa Hezbollah meluncurkan lebih dari 10 drone setiap hari terhadap pasukan mereka. Serangan drone ini dilakukan bersamaan dengan roket dan tembakan anti-tank. Seorang komandan Israel menggambarkan kampanye tersebut sebagai “perang skala penuh” setelah drone berhasil menghantam baterai Iron Dome.

Laporan Al Jazeera menyebutkan bahwa sistem pertahanan Israel yang mahal menjadi tidak efektif. Mereka dilumpuhkan oleh drone yang harganya hanya sebagian kecil dari nilai aset yang mereka ancam. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan platform pengawasan udara besar dan mahal.

Spekulasi vs Kenyataan di Medan Perang

Para perencana pertahanan Amerika telah mendorong keras pengembangan platform drone dan satelit yang lebih murah. Platform yang lebih murah dan dapat diganti ini menjadi prioritas modernisasi dalam beberapa tahun terakhir. Sebaliknya, aerostat tambatan besar bukanlah platform yang murah atau mudah diganti.

Balon udara raksasa ini tetap berada di satu tempat dan sangat terlihat. Karakteristik ini membuatnya menjadi target yang jelas bagi musuh yang dipersenjatai dengan senjata serang modern. Kerentanan ini telah memicu perdebatan di kalangan pertahanan tentang berapa lama lagi aerostat bisa bertahan.

Meskipun demikian, Angkatan Darat tetap melanjutkan program ini. Mereka meminta penawaran dari sepuluh perusahaan untuk kontrak ini, namun hanya menerima tanggapan dari dua perusahaan saja. Hal ini menunjukkan minat industri yang terbatas untuk ceruk pasar yang sangat spesifik ini.

Kesepakatan dengan TCOM akan berlangsung hingga 20 Juli 2031. Ini menandakan bahwa dinas militer masih menghargai kemampuan unik aerostat untuk melayang terus-menerus di atas satu lokasi selama berminggu-minggu. Namun di sisi lain, Angkatan Darat juga secara bersamaan berinvestasi pada alternatif drone dan satelit yang lebih kecil.

Langkah US Army ini menunjukkan dilema klasik dalam strategi pertahanan modern. Di satu sisi, kemampuan pengawasan berkelanjutan yang ditawarkan aerostat masih sangat dibutuhkan. Namun di sisi lain, ancaman dari drone murah yang semakin canggih tidak bisa diabaikan begitu saja.

Keputusan untuk tetap menggelontorkan dana triliunan rupiah ini tentu bukan tanpa pertimbangan. Namun, sejarah terkini membuktikan bahwa teknologi mahal belum tentu menjadi solusi terbaik. Serangan Hezbollah di Lebanon menjadi bukti nyata bahwa drone murah bisa menjadi ancaman yang sangat efektif.

Para pengamat militer kini menunggu bagaimana performa armada aerostat ini ke depannya. Apakah investasi besar ini akan terbayar, atau justru akan menjadi sasaran empuk bagi musuh yang lebih pintar? Waktu yang akan menjawab efektivitas strategi kontroversial ini.

Yang jelas, perang di masa depan tidak lagi dimenangkan oleh siapa yang memiliki perlengkapan termahal. Justru sebaliknya, kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat dan menggunakan teknologi yang tepat akan menjadi kunci kemenangan. Kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi industri pertahanan global.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.