📑 Daftar Isi

Ilustrasi mobil listrik BYD melakukan pengisian daya cepat di stasiun pengisian umum.

Perang Baterai China: Isi Daya 10-70% Cuma 4 Menit 22 Detik

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Industri EV China memasuki era baru di mana kecepatan pengisian daya diukur dalam detik, bukan menit.
  • Geely (Lynk & Co) mengklaim baterai Golden Brick dapat mengisi 10-70% dalam 4 menit 22 detik, mengungguli BYD Blade 2.0 yang membutuhkan 5 menit.
  • CATL mengumumkan baterai konsumen yang mampu mengisi 10-80% dalam 3 menit 44 detik, sementara FAW Group mengklaim 10-70% dalam 3 menit 41 detik.
  • Teknologi ini sudah tersedia di kendaraan produksi massal China dengan harga di bawah USD 30.000.
  • Sebaliknya, AS dan Eropa masih tertinggal dalam hal kecepatan pengisian dan infrastruktur pendukung, sebagian karena hambatan regulasi dan politik.

Telset.id – Industri kendaraan listrik China memasuki era baru persaingan kecepatan pengisian daya, di mana satuan detik kini menjadi tolok ukur utama, bukan lagi menit. Produsen baterai dan mobil listrik Negeri Tirai Bambu berlomba memangkas waktu pengisian hingga ke level yang sebelumnya dianggap mustahil.

Geely, melalui anak perusahaannya Lynk & Co, baru saja meluncurkan seri EV 10 terbaru yang dibekali baterai “Golden Brick”. Baterai ini mampu mengisi daya dari 10% hingga 70% hanya dalam waktu 4 menit 22 detik. Angka tersebut secara langsung mengungguli pencapaian BYD yang sebelumnya mengklaim baterai “Blade 2.0” miliknya dapat melakukan pengisian dalam 5 menit untuk rentang yang sama.

Persaingan ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma yang signifikan. Jika sebelumnya waktu pengisian daya diukur dalam menit, kini para pemain utama China mulai memperhitungkan setiap detik sebagai pembeda kompetitif. Ini menandakan bahwa teknologi pengisian daya ultra-cepat telah mencapai titik kulminasi baru.

CATL dan FAW Ikut Meramaikan Persaingan

Tidak hanya BYD dan Geely, raksasa baterai CATL juga turut ambil bagian. CATL baru saja memamerkan baterai komersial dengan kemampuan pengisian 8C yang dapat mengisi daya dari 20% hingga 80% dalam 6 menit 48 detik. Namun, yang lebih mencengangkan adalah pengumuman baterai konsumen ringan mereka yang mampu mengisi dari 10% hingga 80% hanya dalam 3 menit 44 detik. Meskipun baterai CATL ini belum tersedia di kendaraan produksi massal, pengumuman tersebut menunjukkan potensi teknologi yang luar biasa.

Sementara itu, FAW Group tidak mau ketinggalan. Mereka mengumumkan baterai yang mampu mengisi daya dari 10% hingga 70% dalam waktu 3 menit 41 detik. Angka ini hanya terpaut beberapa detik dari klaim CATL, mempertegas bahwa persaingan kini benar-benar berada di level satuan detik.

Fenomena ini menunjukkan bahwa China kini bekerja dengan angka signifikan yang berbeda. Detik, bukan menit, telah menjadi standar baru dalam industri pengisian daya kendaraan listrik di negara tersebut.

Apakah Waktu Isi Daya Super Cepat Ini Diperlukan?

Pertanyaan mendasar yang muncul adalah apakah kecepatan ekstrem ini benar-benar dibutuhkan. Persepsi publik, terutama di kalangan non-pemilik EV, selama ini menganggap waktu pengisian daya yang lama sebagai hambatan utama. Mereka terbiasa dengan kecepatan mengisi bahan bakar kendaraan konvensional yang hanya memakan waktu beberapa menit.

Meskipun pemilik EV tahu bahwa mengisi daya di rumah jauh lebih praktis, persepsi ini tetap menjadi tantangan. Namun, ada manfaat nyata dari pengisian daya ultra-cepat ini. Daya kirim yang lebih tinggi berarti throughput stasiun pengisian meningkat. Lebih banyak kendaraan dapat dilayani di satu titik pengisian per hari, yang pada akhirnya mengurangi kebutuhan lahan. Hal ini sangat penting di lingkungan perkotaan yang padat, terutama bagi mereka yang tidak memiliki akses pengisian daya di rumah.

Terlepas dari perdebatan soal kebutuhan, faktanya teknologi ini sudah ada dan berjalan di China. EV dengan kemampuan pengisian daya super cepat sudah bisa didapatkan dengan harga di bawah USD 30.000, sebuah angka yang kontras dengan pasar lain.

Perbandingan dengan Pasar AS dan Eropa

Sementara China melesat, perkembangan di Amerika Serikat (AS) masih tertinggal. Kendaraan tercepat di AS saat ini adalah mobil berbasis platform Hyundai/Kia E-GMP yang membutuhkan waktu sekitar 18 menit untuk pengisian 10-80%. Angka ini sebenarnya sudah cukup baik untuk perjalanan jauh, namun terasa sangat lama jika dibandingkan dengan pencapaian China yang hanya 3-4 menit.

Satu-satunya kendaraan yang akan segera hadir di AS dengan kemampuan lebih baik adalah Mercedes AMG GT EV, yang mampu mengisi 10-80% dalam 11 menit pada charger 600kW. Namun, mobil ini diproduksi terbatas dan harganya jauh di atas enam digit, sangat kontras dengan EV China yang cepat dan terjangkau.

Perbedaan mencolok ini tidak hanya disebabkan oleh teknologi baterai, tetapi juga infrastruktur. BYD telah mengumumkan charger 1.500kW dan berencana menginstal 20.000 unit hingga akhir tahun, dengan beberapa ribu sudah terpasang. Geely dan Dongfeng juga mengikuti jejak serupa. Kecepatan penskalaan infrastruktur seperti ini tidak terjadi di luar China.

Di Eropa, situasinya sedikit lebih baik dengan adanya unit pengisian ~400kW dari Alpitronic, dan stasiun 600kW akan mulai beroperasi tahun ini. BYD juga telah mulai memasang flash charger di Eropa dan berencana memperluas jaringannya. Namun, untuk pasar AS, belum ada rencana serupa dari BYD.

Hambatan Regulasi di AS

Ketertinggalan infrastruktur pengisian daya di AS tidak lepas dari faktor regulasi dan politik. Program-program seperti Inflation Reduction Act dan Infrastructure Investment and Jobs Act dari era Presiden Biden sebenarnya dirancang untuk mempercepat pembangunan infrastruktur ini. Namun, implementasinya berjalan lambat karena berbagai kendala di tingkat negara bagian dan federal.

Salah satu hambatan terbesar adalah keputusan politik yang melarang pendanaan untuk charger yang mengandung komponen buatan China. Regulasi ini, yang awalnya mensyaratkan 55% komponen AS, kemudian diubah menjadi 100%. Ironisnya, AS tidak memproduksi semua komponen yang diperlukan untuk membuat EV charger, sehingga aturan ini justru membatasi akses Amerika terhadap teknologi terbaik yang tersedia di dunia.

Situasi ini diperparah dengan kebijakan yang kontraproduktif, di mana alih-alih bersaing menjadi yang terbaik, AS justru menolak produk-produk unggulan dari luar. Akibatnya, negara adidaya tersebut harus rela tertinggal dalam industri yang sebenarnya bisa mereka kuasai, sementara China terus memproduksi dan mendistribusikan teknologi pengisian daya tercepat ke seluruh dunia.

Persaingan baterai China yang kini menggunakan satuan detik sebagai patokan menunjukkan lompatan teknologi yang luar biasa. Sementara negara lain masih bergulat dengan regulasi dan infrastruktur, China telah membuktikan bahwa pengisian daya EV secepat mengisi bensin bukan lagi mimpi, melainkan kenyataan yang sudah bisa dinikmati hari ini.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.