📑 Daftar Isi

Škoda Peaq 90 melaju di jalan sekunder saat uji hypermiling 936 km

Škoda Peaq Taklukkan Jarak 936 Km, Lampaui WLTP 45%

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Škoda Peaq 90 versi produksi menempuh 582 mil (936 km) sekali charge, melampaui rating WLTP 402 mil (647 km) hingga 45 persen
  • Dua karyawan Škoda melakukan perjalanan dari Mladá Boleslav ke Zandvoort, Belanda menggunakan rute yang direncanakan AI
  • Konsumsi energi tercatat 9,2 kWh/100 km dengan baterai 91 kWh (kapasitas usable 86 kWh), tanpa modifikasi kendaraan
  • Strategi utama: hindari tol, gunakan jalan sekunder, jaga kecepatan konstan, hindari akselerasi dan pengereman keras
  • Perjalanan berlangsung Selasa siang hingga Rabu sore dengan beberapa pengemudi dan istirahat malam
  • BMW iX3 dan Chevrolet Silverado EV juga pernah melakukan uji jangkauan ekstrem serupa
  • Pelajaran utama: berkendara lebih pelan dapat meningkatkan jangkauan kendaraan listrik secara signifikan

Telset.id – Škoda Peaq 90 versi produksi berhasil menempuh perjalanan sejauh 582 mil (936 km) dalam sekali pengisian daya, memecahkan rekor efisiensi yang melampaui klaim pabrikan. Pencapaian ini 179 mil (289 km) atau 45 persen lebih jauh dari rating resmi WLTP yang hanya 402 mil (647 km), sebuah hasil yang luar biasa untuk SUV listrik tanpa modifikasi apapun.

Dua karyawan pabrikan asal Republik Ceko tersebut melakukan perjalanan hypermiling yang diperhitungkan dengan cermat. Mereka mengendarai Škoda Peaq standar dengan paket baterai 91-kilowatt-jam dan kapasitas yang dapat digunakan sebesar 86 kWh. Tidak ada perubahan teknis yang dilakukan pada kendaraan, menjadikan hasil ini murni berasal dari strategi berkendara yang efisien.

Strategi AI dan Rute Alternatif

Kunci keberhasilan rekor ini terletak pada perencanaan rute yang cerdas. Škoda memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk merancang rute dari Mladá Boleslav, tempat kendaraan tersebut diproduksi, menuju Belanda. AI secara khusus menghindari jalan tol berkecepatan tinggi dan memilih jalan sekunder dengan lalu lintas ringan sebagai jalur utama.

Para pengemudi berusaha menjaga kecepatan sekonstan mungkin sesuai kondisi lalu lintas. Mereka secara disiplin menghindari akselerasi keras, pengereman berat, dan penghentian total yang dapat membuang energi. Kondisi cuaca kering juga menjadi faktor pendukung, di mana Škoda mengakui bahwa jalan basah akan membuat pencapaian ini mustahil untuk direalisasikan.

Perjalanan dimulai pada siang hari Selasa dan berakhir Rabu sore, dengan beberapa kali pergantian pengemudi serta istirahat semalam. Menariknya, menyelesaikan perjalanan dengan cepat bukanlah prioritas utama tim. Target awal mereka adalah Amsterdam yang berjarak sekitar 530 mil (850 km), namun setelah tiba di Belanda dengan sisa daya yang lebih besar dari perkiraan, kru memutuskan untuk memperpanjang rute sejauh 28 mil (50 km) lagi hingga mencapai resor pantai Zandvoort.

Efisiensi Ekstrem dan Pelajaran Penting

Škoda tidak mengungkapkan kecepatan rata-rata kendaraan selama perjalanan. Namun, mereka mengonfirmasi bahwa Peaq hanya mengonsumsi energi sebesar 9,2 kWh/100 km, atau setara dengan sekitar 6,8 mil/kWh. Angka ini jauh di bawah konsumsi rata-rata mobil listrik pada umumnya yang berkisar 15-20 kWh/100 km.

Pada beberapa mil terakhir perjalanan, tampilan mobil menunjukkan tidak ada sisa jangkauan dan indikator baterai berada di 0 persen. Kendaraan tetap dikendarai hingga benar-benar tidak bisa melaju lagi, menunjukkan batas maksimal dari kapasitas baterainya. Ini membuktikan bahwa rating resmi jangkauan kendaraan listrik hanyalah sebuah acuan, bukan jaminan pasti di dunia nyata.

Upaya serupa sebelumnya pernah dilakukan BMW dengan iX3 50 xDrive. Para insinyurnya berhasil menempuh 1.007,7 km atau 626 mil dari Debrecen, Hungaria menuju Munich, tiba dengan sisa daya 2 persen. BMW menyatakan tim mereka juga mayoritas menggunakan jalan kabupaten, mematikan kontrol iklim, pemanas kursi, dan sistem infotainment, serta berhenti semalam. General Motors pun pernah melakukan uji jangkauan serupa tahun lalu dengan mengendarai Chevrolet Silverado EV lebih dari 1.000 mil tanpa melebihi kecepatan 25 mph.

Hasil pengujian semacam ini mungkin tidak mencerminkan jangkauan yang akan Anda dapatkan dalam penggunaan sehari-hari. Namun, ada pelajaran berharga yang bisa dipetik: jika Anda benar-benar ingin meningkatkan jangkauan kendaraan listrik, cobalah berkendara lebih pelan. Teknik hypermiling yang disiplin terbukti mampu menghasilkan efisiensi yang jauh melampaui ekspektasi pabrikan.

Fenomena ini juga menjadi pengingat bahwa teknologi baterai modern sebenarnya memiliki potensi lebih besar dari yang diklaim. Keamanan kendaraan dan efisiensi energi menjadi dua aspek yang terus berkembang seiring waktu.

Pencapaian Škoda Peaq ini menegaskan bahwa jarak tempuh kendaraan listrik sangat bergantung pada gaya berkendara. Dengan perencanaan rute yang tepat dan teknik mengemudi yang efisien, mobil listrik produksi massal memiliki potensi jangkauan yang jauh melampaui angka resmi. Bagi konsumen yang peduli efisiensi, data ini bisa menjadi pertimbangan penting sebelum memutuskan membeli kendaraan listrik.

Rekor ini juga menunjukkan bahwa pabrikan mulai serius mengeksplorasi batas kemampuan produk mereka melalui skenario dunia nyata. Meskipun hasilnya tidak representatif untuk penggunaan harian, pengujian semacam ini memberikan wawasan berharga tentang efisiensi sebenarnya dari teknologi baterai modern.

Škoda sendiri belum mengumumkan apakah akan menjadikan teknik hypermiling ini sebagai fitur resmi pada kendaraan mereka. Namun, keberhasilan uji coba ini membuka peluang bagi pengembangan sistem bantuan pengemudi yang lebih cerdas dalam mengoptimalkan konsumsi energi.

Bagi para pengguna kendaraan listrik di Indonesia, pelajaran dari rekor ini tetap relevan. Mengatur kecepatan secara konsisten, menghindari akselerasi mendadak, dan memilih rute dengan lalu lintas lancar adalah kebiasaan sederhana yang dapat memperpanjang jangkauan baterai secara signifikan.

Dengan semakin matangnya pasar kendaraan listrik, uji jangkauan semacam ini akan semakin sering dilakukan oleh berbagai pabrikan. Ini adalah kabar baik bagi konsumen yang menginginkan transparansi lebih besar mengenai performa sebenarnya dari kendaraan listrik di dunia nyata.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.