Mobil crossover EV merah merek GM dipamerkan di stasiun pengisian daya sebagai simbol kendaraan listrik modern

Krisis Minyak Global Dorong Penjualan Mobil Listrik Pecahkan Rekor

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Penjualan EV global pecahkan rekor di Q2 2026 dengan 50 negara catat rekor triwulanan
  • Krisis minyak akibat konflik AS-Iran jadi pendorong utama peralihan ke kendaraan listrik
  • Penjualan EV dan PHEV naik 4% year-over-year dan 35% dibanding kuartal sebelumnya
  • Kendaraan listrik diprediksi capai 29% penjualan mobil global pada 2026
  • China dominasi rantai pasok baterai dengan biaya produksi 35% lebih rendah
  • India, Brasil, Australia, Korea, dan Inggris catat rekor penjualan EV di 2026

Telset.id – Penjualan kendaraan listrik (EV) global mencapai rekor tertinggi baru di kuartal kedua 2026, didorong oleh krisis minyak dunia akibat konflik AS dan Iran. Sebanyak 50 negara mencatat rekor penjualan triwulanan, menurut laporan terbaru International Energy Agency (IEA).

Fenomena ini terjadi di tengah penurunan pasar otomotif global. Penjualan mobil global turun lima persen pada paruh pertama 2026, terutama karena penurunan pengiriman di dua pasar mobil terbesar dunia, China dan AS. Namun, penjualan kendaraan listrik justru melonjak signifikan.

Laporan IEA menunjukkan penjualan EV dan PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle) naik empat persen year-over-year dan 35 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Kendaraan listrik kini diprediksi mencapai 29 persen dari total penjualan mobil global pada 2026.

“Kendaraan jalan raya menyumbang hampir setengah dari konsumsi minyak global, membuat sektor ini sangat rentan terhadap lonjakan harga bahan bakar dan gangguan pasokan,” tulis IEA dalam laporannya.

Kenaikan harga bahan bakar akibat konflik AS dan Iran menjadi pendorong utama peralihan konsumen ke kendaraan listrik. Konsumen di berbagai negara mulai beralih ke EV sebagai alternatif yang lebih hemat biaya di tengah ketidakpastian pasokan minyak.

Baca Juga:

## Lonjakan Penjualan di Berbagai Negara

Meskipun penjualan EV di AS mengalami penurunan setelah pemerintahan Trump menghapus kredit pajak federal untuk EV dan memperlemah aturan ekonomi bahan bakar untuk kendaraan ICE, negara-negara lain justru menunjukkan antusiasme tinggi.

India, Brasil, Australia, dan Korea mencatat rekor penjualan EV tertinggi pada paruh pertama 2026. Eropa juga mengalami peningkatan signifikan. Inggris, misalnya, mencatat kenaikan 35 persen dalam registrasi BEV (Battery Electric Vehicle) dibandingkan tahun lalu, menurut Society of Motor Manufacturers and Traders (SMMT).

BEV dan PHEV kini mencakup 36 persen dari total registrasi mobil di Inggris pada 2026. Angka ini menunjukkan pergeseran preferensi konsumen yang semakin kuat menuju kendaraan listrik.

Mobil crossover EV merah GM dipamerkan di stasiun pengisian daya GM

## China Dominasi Rantai Pasok Baterai

China menjadi penerima manfaat terbesar dari ledakan EV. Perusahaan seperti BYD mulai merambah pasar baru di Eropa dan negara lainnya. Pangsa mobil listrik dalam ekspor mobil China naik dari sekitar 35 persen pada 2025 menjadi lebih dari 45 persen pada paruh pertama 2026.

Namun, China saat ini memproduksi lebih banyak EV daripada yang terjual. Diperkirakan satu juta kendaraan listrik masih belum terjual. Hal ini menunjukkan tantangan kelebihan pasokan di pasar domestik China.

Yang lebih mengkhawatirkan bagi produsen EV di negara lain, China memegang posisi terdepan di seluruh rantai nilai baterai. Negara ini memiliki “rantai pasokan terintegrasi, kemampuan baterai yang kuat, dan biaya produksi yang sekitar 35 persen lebih rendah dibandingkan negara maju,” demikian menurut laporan IEA.

IEA menambahkan bahwa negara lain memerlukan “upaya terkoordinasi” antara pemerintah dan industri untuk menutup kesenjangan tersebut. Dominasi China dalam rantai pasok baterai menjadi tantangan besar bagi produsen EV global yang ingin bersaing.

## Dampak Krisis Minyak pada Industri Otomotif

Krisis minyak global yang dipicu konflik AS dan Iran telah mengubah lanskap industri otomotif secara fundamental. Kenaikan harga bahan bakar yang tajam membuat biaya operasional kendaraan konvensional membengkak, mendorong konsumen untuk mencari alternatif yang lebih efisien.

Kendaraan listrik menawarkan solusi yang menarik dengan biaya operasional yang lebih rendah dan ketergantungan yang lebih kecil pada pasokan minyak global. Hal ini menjadi daya tarik utama di tengah ketidakpastian geopolitik yang mempengaruhi harga energi.

Penurunan penjualan mobil global sebesar lima persen pada paruh pertama 2026 menunjukkan tekanan yang dihadapi industri otomotif tradisional. Namun, segmen kendaraan listrik justru tumbuh pesat, menandakan pergeseran struktural dalam preferensi konsumen.

## Prospek Kendaraan Listrik ke Depan

Dengan prediksi bahwa kendaraan listrik akan mencapai 29 persen dari penjualan mobil global pada 2026, industri otomotif sedang mengalami transformasi besar. Krisis minyak telah mempercepat adopsi EV di berbagai negara, terutama di pasar berkembang.

Meskipun China mendominasi rantai pasok baterai, negara-negara lain mulai mengambil langkah untuk mengembangkan industri baterai domestik. Upaya koordinasi antara pemerintah dan industri menjadi kunci untuk mengejar ketertinggalan dari China.

Bagi konsumen, krisis minyak telah menjadi katalis untuk beralih ke kendaraan listrik. Biaya bahan bakar yang lebih tinggi membuat EV menjadi pilihan yang semakin menarik secara ekonomi, terutama di negara-negara dengan insentif pemerintah yang mendukung.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.