Drone Campus Guardian Angel penyemprot cabai buatan Mithril Defense untuk keamanan sekolah

Sekolah di AS Siap Gunakan Drone Penyemprot Cabai Lawan Penembak Aktif

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Sekolah di Florida, Georgia, dan Colorado uji coba drone penyemprot cabai untuk tangkal penembakan massal
  • Drone Campus Guardian Angel buatan Mithril Defense diklaim mampu mencapai pelaku dalam 15 detik
  • Kecepatan drone mencapai 60 mil per jam dan bisa menembus jendela kaca
  • Drone tidak otonom, dioperasikan dari jarak jauh oleh operator di Austin, Texas
  • Florida alokasikan USD 557.000, Georgia USD 500.000 untuk program percontohan
  • Kritikus pertanyakan efektivitas dan potensi kesalahan fatal dari teknologi ini

Telset.id – Sekolah-sekolah di Amerika Serikat mulai mengadopsi solusi kontroversial untuk menghadapi ancaman penembakan massal: drone cepat yang dilengkapi penyemprot cabai. Drone “Campus Guardian Angel” ini diklaim mampu mencapai lokasi penembak dalam waktu 15 detik.

Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran akan keselamatan siswa di lingkungan sekolah. Beberapa negara bagian seperti Florida, Georgia, dan Colorado telah mengalokasikan dana untuk menguji coba sistem pertahanan drone buatan Mithril Defense ini.

Drone tersebut dapat melaju dengan kecepatan hingga 60 mil per jam dan mampu menembus jendela kaca. Selain menyemprotkan cabai ke arah pelaku, drone juga dilengkapi sirine keras dan lampu strobo untuk mengalihkan perhatian, bahkan bisa menabrak pelaku dengan kecepatan tinggi.

“Begitu drone sudah mengincar Anda, Anda tidak bisa kabur,” ujar Bill King, salah satu pendiri Mithril dan mantan Navy SEAL, kepada The Washington Post.

Meski masih tergolong solusi pinggiran, minat terhadap teknologi ini terus meningkat. Florida tahun lalu mengalokasikan lebih dari USD 557.000 untuk program percontohan di tiga sekolah menengah atas. Georgia baru saja menyetujui program senilai USD 500.000 untuk menguji sistem Mithril di lima sekolah negeri. Sementara di Colorado, sebuah sekolah piagam K-12 memutuskan untuk membiayai sendiri penggunaan drone tersebut.

Penting untuk dicatat, drone ini tidak bersifat otonom. Seluruh pengoperasian dilakukan oleh operator manusia yang bekerja dari kantor pusat Mithril di Austin, Texas. Antara 30 hingga 90 drone akan ditempatkan di kotak penyimpanan yang tersebar di seluruh area sekolah, memungkinkan respons yang cepat saat dibutuhkan.

Namun, efektivitas sistem pertahanan drone ini masih menjadi tanda tanya besar. Para kritikus mempertanyakan apakah solusi teknologi semacam ini justru mengalihkan perhatian dari akar permasalahan utama, seperti lemahnya kontrol senjata dan layanan dukungan kesehatan mental yang buruk.

Mithril berjanji teknologinya dapat membantu aparat penegak hukum yang merespons penembakan dengan melacak pelaku dan menyampaikan informasi penting. Namun, hal ini membutuhkan tingkat koordinasi yang tinggi di lingkungan yang kacau dan berbahaya.

Pertanyaan kritis pun muncul: bagaimana jika operator drone salah mengincar orang? Atau bagaimana jika polisi salah mengira orang tak bersalah sebagai pelaku karena drone berada di dekat mereka? Apakah operator drone siap mengambil keputusan dalam hitungan detik yang bisa menentukan hidup atau mati seseorang?

“Ini hampir seperti persimpangan antara dunia game dan keselamatan sekolah,” ujar Curtis Lavarello, CEO School Safety Advisory Council, kepada The Washington Post. “Saya memiliki beberapa keraguan yang sangat serius tentang pengerahan drone di sekolah.”

Pendekatan ini bukan satu-satunya solusi berbasis teknologi yang diadopsi untuk memerangi penembakan massal. Berbagai perusahaan rintisan juga menawarkan sistem deteksi senjata bertenaga AI, meski kinerjanya masih dipertanyakan. Salah satunya, Omnilert, pernah melaporkan seorang remaja berusia 16 tahun yang tidak bersalah setelah salah mengartikan sekantong keripik Dorito sebagai senjata. Perusahaan yang sama juga digugat oleh korban selamat penembakan di sekolah menengah Tennessee setelah gagal mendeteksi pistol yang digunakan pelaku.

Penerapan teknologi drone penyemprot cabai di sekolah-sekolah AS mencerminkan keputusasaan dan urgensi dalam mencari solusi atas krisis penembakan massal yang terus berulang. Meskipun inovasi seperti ini menawarkan harapan akan respons yang lebih cepat, kekhawatiran tentang potensi kesalahan fatal dan dampak psikologis pada siswa tetap menjadi perdebatan yang belum terselesaikan.

Penggunaan drone di lingkungan pendidikan juga memunculkan pertanyaan tentang privasi dan normalisasi pengawasan bersenjata di sekolah. Apakah langkah ini akan benar-benar membuat siswa lebih aman, atau justru menciptakan lingkungan yang lebih menakutkan? Waktu yang akan menjawab, namun keputusan untuk menguji sistem ini di beberapa sekolah sudah diambil.

Sementara itu, sekolah-sekolah di berbagai belahan dunia juga menghadapi tantangan keamanan yang berbeda. Di China, misalnya, ada sekolah yang menerapkan seragam pintar untuk mencegah siswa membolos. Sementara itu, kekhawatiran tentang dampak media sosial terhadap kesehatan mental remaja juga mendorong sekolah di AS untuk menggugat platform seperti YouTube dan TikTok.

Pendekatan Mithril Defense dengan drone “Campus Guardian Angel” ini jelas merupakan langkah yang berani dan tidak konvensional. Namun, di tengah kegagalan sistemik dalam mengatasi akar masalah penembakan massal, solusi teknologi semacam ini mungkin menjadi opsi yang semakin diminati oleh sekolah-sekolah yang putus asa.

Yang jelas, perdebatan tentang keseimbangan antara keamanan dan potensi risiko dari teknologi drone ini masih akan terus berlanjut, terutama jika program percontohan di Florida, Georgia, dan Colorado mulai berjalan dan menghasilkan data nyata tentang efektivitasnya.

Keputusan sekolah-sekolah ini untuk mengadopsi teknologi drone penyemprot cabai menandai babak baru dalam upaya melindungi siswa dari ancaman penembakan massal. Apakah ini solusi yang tepat atau hanya langkah putus asa, hanya waktu yang bisa menjawab.

Yang pasti, inovasi ini telah membuka diskusi penting tentang peran teknologi dalam keselamatan sekolah dan batasan-batasan yang perlu diterapkan. Masyarakat, orang tua, dan pembuat kebijakan kini harus mempertimbangkan secara serius implikasi dari penggunaan drone bersenjata di lingkungan pendidikan.

Dengan investasi jutaan dolar yang sudah digelontorkan, masa depan teknologi ini di sekolah-sekolah AS akan menjadi studi kasus yang menarik tentang bagaimana masyarakat menyeimbangkan rasa aman dengan potensi risiko dari inovasi teknologi yang kontroversial.

Keputusan akhirnya akan bergantung pada hasil uji coba di lapangan dan respons dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk siswa, orang tua, guru, dan masyarakat luas. Satu hal yang pasti, perdebatan tentang keamanan sekolah dan penggunaan teknologi drone baru saja dimulai.

Perusahaan Mithril Defense sendiri optimistis dengan teknologinya. Namun, skeptisisme dari para ahli keselamatan sekolah dan potensi konsekuensi yang tidak diinginkan tetap menjadi bayang-bayang yang tidak bisa diabaikan. Pertanyaan tentang kesiapan operator, potensi kesalahan identifikasi, dan dampak psikologis pada siswa masih membutuhkan jawaban yang lebih konkret.

Dengan segala kontroversi yang menyertainya, satu hal yang jelas: sekolah-sekolah di AS sedang memasuki era baru dalam hal keamanan, di mana drone bukan lagi sekadar alat pengintai, tetapi bisa menjadi garda depan pertahanan terhadap ancaman paling mematikan di lingkungan pendidikan.

Apakah langkah ini akan menjadi solusi efektif atau justru menimbulkan masalah baru, kita semua akan menyaksikannya dalam waktu dekat. Yang terpenting, keselamatan dan kesejahteraan siswa harus tetap menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan yang diambil.

Semoga inovasi ini benar-benar dapat memberikan perlindungan yang dibutuhkan tanpa menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan bagi generasi penerus bangsa.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.