Beranda blog Halaman 88

New York Gugat Raksasa Teknologi Atas Krisis Mental Remaja

0

Telset.id – Bayangkan sebuah kota metropolitan terbesar di Amerika Serikat dengan populasi 8,48 juta jiwa, di mana hampir dua juta di antaranya adalah remaja di bawah 18 tahun, kini mengerahkan seluruh kekuatan hukumnya untuk melawan raksasa teknologi dari Pantai Barat. Ini bukan sekadar gugatan biasa, melainkan pertarungan epik antara pemerintah kota dan perusahaan teknologi terkuat di dunia yang dituding telah menciptakan krisis kesehatan mental bagi generasi muda. Bagaimana mungkin platform media sosial yang awalnya dirancang untuk menghubungkan orang justru berbalik menjadi “mesin kecanduan” yang merusak?

New York City, bersama distrik sekolah dan departemen kesehatan setempat, baru-baru ini mengajukan gugatan setebal 327 halaman ke Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Selatan New York. Gugatan ini menuduh Meta (pemilik Facebook dan Instagram), Alphabet (pemilik Google dan YouTube), Snap (pemilik Snapchat), dan ByteDance (pemilik TikTok) melakukan “kelalaian besar” dengan mendesain platform mereka secara sengaja untuk membuat anak-anak ketagihan. Menurut dokumen gugatan, perusahaan-perusahaan ini dengan sadar membangun “algoritma yang menggunakan data pengguna sebagai senjata melawan anak-anak dan memicu mesin kecanduan.”

Yang membuat kasus ini berbeda dari gugatan serupa sebelumnya adalah kedalaman analisis dan data spesifik yang disajikan. Kota New York tidak hanya mengandalkan argumen umum tentang dampak media sosial terhadap kesehatan mental, tetapi menyertakan bukti-bukti konkret yang mengaitkan langsung tren media sosial dengan tragedi nyata di masyarakat. Data dari Departemen Kepolisian New York City menunjukkan setidaknya 16 remaja telah meninggal saat melakukan “subway surfing” – aktivitas berbahaya menaiki bagian luar kereta yang sedang berjalan – yang menurut gugatan dipicu oleh tren media sosial.

Dua gadis berusia 12 dan 13 tahun menjadi korban terbaru awal bulan ini. Mereka tewas saat mencoba subway surfing, meninggalkan keluarga yang berduka dan pertanyaan besar tentang peran platform digital dalam mendorong perilaku berisiko di kalangan remaja. Tragedi ini bukan lagi sekadar angka statistik, melainkan nyawa manusia yang hilang akibat pengaruh konten viral yang disebarkan melalui algoritma media sosial.

Data yang Mengkhawatirkan: Generasi yang Terjebak di Layar

Survei yang dilakukan terhadap siswa sekolah menengah atas New York mengungkap fakta mencengangkan: 77,3% remaja kota menghabiskan tiga jam atau lebih per hari di depan layar. Angka ini bukan sekadar statistik biasa, melainkan gambaran nyata bagaimana media sosial telah menguasai kehidupan sehari-hari generasi muda. Dampaknya? Tidur yang hilang dan meningkatnya ketidakhadiran di sekolah.

Distrik sekolah kota memberikan data pendukung yang menunjukkan 36,2% dari seluruh siswa sekolah negeri dianggap absen kronis, yang berarti mereka melewatkan setidaknya 10% tahun ajaran. Bayangkan, hampir empat dari sepuluh siswa secara teratur tidak hadir ke sekolah – angka yang seharusnya membuat kita semua merinding. Apakah ini menjadi pertanda bahwa kita sedang menghadapi krisis pendidikan yang dipicu oleh kecanduan digital?

Gugatan New York City ini sebenarnya bagian dari gelombang lebih besar yang melanda industri teknologi. Menurut Reuters, terdapat lebih dari 2.050 gugatan serupa yang sedang dalam proses litigasi di berbagai yurisdiksi. Kota New York sendiri menarik gugatan sebelumnya yang diumumkan oleh Walikota Eric Adams pada 2024 untuk bergabung dengan upaya yang lebih luas di pengadilan federal. Dengan populasi yang masif, New York City langsung menjadi salah satu penggugat terbesar dalam kasus kolektif ini.

Strategi Bisnis atau Eksploitasi Sistematis?

Dokumen gugatan mengungkapkan tuduhan serius: perusahaan-perusahaan teknologi ini mengetahui bahwa anak-anak dan remaja berada dalam tahap perkembangan yang membuat mereka sangat rentan terhadap efek kecanduan dari fitur-fitur platform, namun tetap menarget mereka demi keuntungan tambahan. Ini bukan lagi soal kesalahan desain yang tidak disengaja, melainkan strategi bisnis yang disengaja untuk “memaksimalkan jumlah anak” yang menggunakan platform mereka.

José Castañeda, juru bicara Google, membantah tuduhan tersebut dengan tegas. “Gugatan-gugatan ini secara fundamental salah memahami cara kerja YouTube, dan tuduhannya sama sekali tidak benar. YouTube adalah layanan streaming di mana orang datang untuk menonton segala sesuatu dari olahraga langsung, podcast hingga kreator favorit mereka, terutama di layar TV, bukan jejaring sosial di mana orang pergi untuk menyusul teman,” katanya kepada Gizmodo.

Castañeda menambahkan, “Kami juga telah mengembangkan alat khusus seperti Supervised Experiences untuk kaum muda, dipandu oleh pakar keselamatan anak, yang memberikan kontrol kepada keluarga.” Namun pertanyaannya, seberapa efektifkah alat-alat ini dalam melindungi anak-anak dari desain algoritma yang memang dirancang untuk membuat pengguna tetap terlibat?

Kasus ini mengingatkan kita pada gugatan FTC terhadap aplikasi Sendit yang dituduh menipu pengguna dan mengumpulkan data anak-anak. Pola serupa terlihat di mana perusahaan teknologi dituduh memanfaatkan kerentanan pengguna muda untuk keuntungan bisnis.

Dampak Riil di Lapangan: Sistem Kesehatan dan Pendidikan yang Tertekan

Gugatan New York City tidak hanya berfokus pada dampak individual terhadap remaja, tetapi juga menekankan beban yang ditanggung oleh sistem publik. Kota ini mengklaim bahwa “gangguan publik” yang diciptakan oleh platform media sosial telah membebani sumber daya kota, termasuk sistem kesehatan mental dan layanan pendidikan.

Departemen Kesehatan Kota New York harus mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk menangani masalah kesehatan mental remaja yang terkait dengan penggunaan media sosial. Sementara itu, distrik sekolah menghadapi tantangan ganda: tidak hanya menangani tingkat absensi yang tinggi, tetapi juga menangani dampak pembelajaran yang terganggu akibat kurang tidur dan masalah konsentrasi yang dialami siswa.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di New York. Puluhan ribu orang telah mendukung petisi menolak gugatan serupa di yurisdiksi lain, menunjukkan bahwa kesadaran publik tentang dampak media sosial terhadap anak-anak sedang meningkat. Masyarakat mulai mempertanyakan tanggung jawab perusahaan teknologi dalam melindungi pengguna mudanya.

Industri teknologi sendiri sedang berada di persimpangan jalan. Sementara beberapa perusahaan seperti OpenAI membatalkan rencana menjadi perusahaan profit, yang lain justru semakin agresif dalam mempertahankan model bisnis mereka. Gugatan New York City terhadap raksasa teknologi ini mungkin akan menjadi preseden penting yang menentukan masa depan regulasi platform digital.

Pertanyaannya sekarang: akankah gugatan besar-besaran ini memaksa perusahaan teknologi untuk mengubah fundamental desain platform mereka? Ataukah ini hanya akan menjadi pertempuran hukum panjang yang akhirnya tidak mengubah apa-apa? Yang pasti, suara New York City sebagai salah satu kota terbesar di dunia tidak bisa diabaikan begitu saja. Dengan jutaan remaja yang terpengaruh, hasil dari gugatan ini akan menentukan tidak hanya masa hubungan antara teknologi dan masyarakat, tetapi juga masa depan kesehatan mental generasi mendatang.

Sebagai orang tua, pendidik, atau sekadar anggota masyarakat yang peduli, kita patut memperhatikan perkembangan kasus ini. Karena pada akhirnya, ini bukan hanya tentang New York versus Silicon Valley, melainkan tentang masa depan anak-anak kita di era digital yang semakin tak terbendung.

Anthropic Ungkap Kerentanan Baru: Poisoning AI Lebih Mudah dari Dugaan

0

Telset.id – Bayangkan jika kecerdasan buatan yang Anda andakan setiap hari ternyata telah “diracuni” sejak dalam buaian. Bukan dengan sianida atau arsenik, tapi dengan dokumen berbahaya yang disusupkan ke dalam data pelatihannya. Inilah yang baru saja diungkap oleh Anthropic dalam laporan terbaru mereka—sebuah temuan yang bakal mengubah cara kita memandang keamanan AI.

Perusahaan yang didirikan mantan peneliti OpenAI ini menemukan bahwa “serangan poisoning” terhadap model bahasa besar (large language model/LLM) ternyata jauh lebih praktis dan mudah dilakukan daripada perkiraan sebelumnya. Yang mengejutkan, penyerang tidak perlu menguasai persentase besar data pelatihan untuk menanamkan perilaku berbahaya ke dalam AI. Cukup dengan sejumlah kecil dokumen beracun yang strategis, seluruh sistem bisa terkontaminasi.

Lalu, seberapa kecil jumlah yang dimaksud? Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya dengan 250 dokumen berbahaya yang disisipkan dalam data pretraining, LLM dengan parameter 600 juta hingga 13 miliar berhasil dibackdoor. Angka yang terkesan sepele ini ternyata cukup untuk memengaruhi perilaku model AI skala besar. Bayangkan seperti meneteskan racun ke dalam samudra—tapi tetap mematikan.

Anthropic, yang berkolaborasi dengan UK AI Security Institute dan Alan Turing Institute dalam penelitian ini, secara terbuka mengakui bahwa temuan ini cukup mengkhawatirkan. “Kami membagikan temuan ini untuk menunjukkan bahwa serangan data-poisoning mungkin lebih praktis daripada yang dipercaya sebelumnya,” jelas pernyataan perusahaan. Transparansi semacam ini langka di industri AI yang biasanya tertutup, dan patut diapresiasi.

Mekanisme Poisoning yang Mengejutkan

Yang membuat temuan ini berbeda dari penelitian sebelumnya adalah konsistensi jumlah dokumen berbahaya yang diperlukan. Terlepas dari seberapa besar model AI atau seberapa banyak data pelatihannya, jumlah dokumen beracun yang dibutuhkan relatif konstan dan kecil. Ini seperti menemukan bahwa kunci universal bisa membuka semua pintu—tanpa peduli seberapa canggih sistem keamanannya.

Dalam dunia keamanan siber, biasanya kita berasumsi bahwa sistem akan aman selama mayoritas komponennya bersih. Tapi penelitian Anthropic membalik logika ini. Bahkan dengan rasio kontaminasi yang sangat kecil—hanya 0.0001% dari dataset pelatihan untuk model terbesar—efek poisoning tetap signifikan. Ini mengingatkan kita pada pepatah lama: satu nila, seterus susu.

Serangan poisoning sendiri bukan hal baru, tapi skalanya yang membuat para peneliti terkejut. Sebelumnya, banyak ahli berasumsi bahwa menyerang model AI melalui data pelatihan membutuhkan sumber daya besar dan akses yang luas. Ternyata, dengan strategi yang tepat, penyerang dengan sumber daya terbatas pun bisa melakukan kerusakan berarti.

Implikasi untuk Masa Depan AI

Temuan Anthropic ini datang di saat yang tepat—atau mungkin tidak tepat—mengingat riset sebelumnya tentang celah keamanan AI yang juga mengkhawatirkan. Industri AI sedang berlari kencang mengembangkan kemampuan model, tapi tampaknya lari terlalu cepat sampai lupa memeriksa apakah sepatunya masih terikat dengan baik.

Bayangkan skenario terburuknya: model AI yang digunakan untuk layanan kesehatan ternyata telah diracuni untuk memberikan saran pengobatan yang salah. Atau asisten virtual yang sengaja dibuat bias terhadap kelompok tertentu. Atau yang lebih menyeramkan—sistem keuangan yang direkomendasikan investasi bodong oleh AI yang telah dikompromikan.

Yang membuat masalah ini semakin kompleks adalah sifat poisoning yang sulit dideteksi. Tidak seperti serangan siber konvensional yang meninggalkan jejak jelas, poisoning bekerja secara halus dan tersembunyi. Model AI mungkin tampak normal dalam sebagian besar interaksi, tapi tiba-tiba menunjukkan perilaku berbahaya dalam kondisi tertentu—seperti bom waktu yang menunggu untuk meledak.

Anthropic sendiri mengakui bahwa penelitian ini masih awal. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab: Bagaimana cara terbaik mendeteksi poisoning? Apakah ada metode untuk “membersihkan” model yang telah terkontaminasi? Dan yang paling penting—bagaimana mencegah hal ini terjadi sejak awal?

Yang jelas, temuan ini harus menjadi wake-up call bagi seluruh industri. Keamanan AI tidak bisa lagi menjadi afterthought—sesuatu yang dipikirkan belakangan setelah model dikembangkan. Ini harus menjadi bagian integral dari proses pengembangan sejak hari pertama.

Bagi Anda yang bergantung pada AI dalam pekerjaan sehari-hari, mungkin saatnya untuk lebih kritis. Jangan langsung percaya pada output AI tanpa mempertanyakan dari mana datanya berasal dan bagaimana model itu dilatih. Seperti kata pepatah, trust but verify—percaya tapi verifikasi.

Anthropic berharap dengan mempublikasikan temuan ini, lebih banyak peneliti akan tertarik mempelajari data poisoning dan mengembangkan pertahanan yang efektif. Ini adalah langkah yang tepat di dunia yang sering kali lebih memilih menyembunyikan kerentanan daripada mengungkapkannya.

Masa depan AI masih cerah, tapi seperti halnya teknologi lainnya, cahaya itu datang dengan bayangan. Dan saat ini, bayangan poisoning AI tampaknya lebih panjang dari yang kita duga. Tapi dengan kesadaran yang meningkat dan penelitian yang berkelanjutan, kita masih punya kesempatan untuk memastikan bahwa AI berkembang menjadi kekuatan untuk kebaikan—bukan ancaman yang tersembunyi.

5 Smartphone dengan Desain Paling Unik yang Bikin Kepo

0

Telset.id – Di tengah samudra ponsel yang tampak serupa, ada beberapa perangkat yang berani tampil beda. Mereka bukan sekadar gadget, melainkan pernyataan gaya yang memaksa orang untuk menengok. Apakah Anda lelah dengan desain smartphone yang itu-itu saja? Bersiaplah untuk terpukau oleh inovasi desain yang tidak hanya mengejar fungsi, tetapi juga identitas.

Dari bodi super tipis yang menantang gravitasi, warna yang mencolok mata, hingga kolaborasi dengan franchise legendaris, ponsel-ponsel ini dirancang untuk menjadi pusat perhatian. Mereka membuktikan bahwa dalam dunia teknologi, estetika bisa berbicara sama lantangnya dengan spesifikasi. Mari kita selami lebih dalam lima smartphone dengan desain paling unik yang siap memicu rasa penasaran.

Nothing telah membangun reputasinya sebagai brand yang tak takut bereksperimen. Meski beberapa elemen desainnya terlihat konsisten, bahasa desain keseluruhan selalu membawa lebih dari sekadar penyempurnaan biasa. Nothing Phone (3) adalah buktinya. Fitur ikonik lampu LED Glyph yang menghiasi model flagship sebelumnya, pada iterasi ketiga ini justru dihilangkan total. Penggantinya? Sebuah Glyph Matrix, layar dot matrix di bagian belakang yang berfungsi sebagai secondary screen.

Bayangkan, Anda memegang smartphone dengan bodi transparan yang memperlihatkan “jeroannya”, ditambah sebuah layar kecil di belakang yang tidak hanya menampilkan notifikasi penting, tetapi juga berbagai gimmick menyenangkan. Meski bukan penemu roda baru, kehadiran ponsel ini pasti akan menyedot perhatian di mana pun Anda berada. Gaya tiga kolom pada modul kamera semakin menegaskan penampilannya yang benar-benar berbeda dari kerumunan.

Terkadang, desain adalah tentang bercerita. Realme 15 Pro Game of Thrones Edition mengubah penampilan dasarnya yang biasa menjadi sebuah persona berani yang diadopsi dari franchise pemenang penghargaan. Setiap sentuhan finishing, ukiran, dan motif warnanya terikat erat dengan alam semesta brand yang ikonik tersebut. Realme tidak main-main; mereka menciptakan edisi terbatas yang benar-benar membenamkan penggemar ke dalam dunia Westeros.

Bagian belakang ponsel diukir dengan cakar naga dan sigil House Targaryen. Yang lebih menarik, bagian belakangnya bersifat heat-reactive—akan berubah menjadi merah ketika suhu melebihi 44°C. Aksen emas dan tema UI khusus semakin melengkapi pengalaman yang immersive. Bahkan kotak kemasannya sendiri adalah barang kolektor, dilengkapi dengan replika Iron Throne dan aksesori bertema. Ini bukan sekadar ponsel; ini adalah tiket ke Westeros yang Anda bawa ke mana-mana.

Samsung adalah raksasa yang tidak perlu mengambil risiko besar untuk sukses. Namun, Galaxy S25 Edge mendorong batasan dari apa yang disebut sebagai flagship yang benar-benar tipis dan ringan. Sekilas, daya tariknya mungkin tidak langsung terlihat. Namun, begitu Anda memegangnya atau melihatnya dari sudut tertentu, barulah terasa betapa “cutting edge”-nya perangkat ini.

Dengan ketebalan hanya 5.8mm dan bobot sekitar 163 gram, ini adalah salah satu ponsel paling ramping di pasaran. Sensasi memegangnya baru benar-benar terasa saat berada di genggaman Anda—nyaman digunakan meski dengan layar yang tinggi. Tentu, ada kompromi, seperti baterai yang lebih kecil dibanding smartphone rata-rata. Tapi, berapa banyak ponsel yang memiliki siluet semirip ini? Tren desain ultra-tipis ini juga terlihat pada bocoran Samsung Galaxy S26 Pro yang dikabarkan akan tampil lebih ramping.

Apple iPhone Air adalah sebuah prestasi rekayasa lainnya, sebanding dengan Galaxy S25 Edge. Apple dikenal bermain aman dengan perubahan bertahap pada iPhone-iPhonenya. Perusahaan ini memang melakukan beberapa perubahan berani setiap beberapa tahun, dan iPhone Air ini menandai overhaul desain besar-besaran untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama.

Ini adalah iPhone tertipis yang pernah dibuat, dibangun dengan rangka titanium yang tangguh. Dengan ketebalan hanya 5.64mm dan berat sekitar 165 gram, smartphone ini mengemas spesifikasi flagship dalam tubuh yang sangat portabel. Sebagai perbandingan, iPhone 17 Pro Max flagship Apple berbobot sekitar 233 gram. Sekali lagi, ukuran baterai menjadi batasan besar. Namun, perangkat ini pasti akan memulai banyak obrolan. Kabar tentang desain super tipis ini juga sejalan dengan ramalan bahwa iPhone 17 Air akan menggantikan seri iPhone Plus.

Xiaomi memimpin generasi berikutnya dari smartphone Android flagship dengan seri Xiaomi 17. Seluruh jajaran lini ini dibekali chip Snapdragon generasi terbaru, kamera yang powerful, dan banyak fitur lainnya. Namun, Xiaomi 17 Pro Max-lah yang dengan mudah mencuri perhatian. Dengan kehadiran layar sekunder kecil di bagian belakang, raksasa teknologi asal Tiongkok ini menghidupkan kembali desain dual display pada ponsel flagship-nya.

Konsep ini sebenarnya bukan hal baru, tetapi Xiaomi 17 Pro Max adalah satu-satunya yang melakukannya saat ini, terlebih karena ini bukan ponsel lipat. Seperti sebelumnya, layar belakang memiliki semua fungsi biasa, seperti jendela bidik kamera dan notifikasi. Namun, kali ini ia menawarkan lebih banyak keserbagunaan. Anda bisa memiliki hewan peliharaan interaktif, menampilkan video animasi yang didukung AI, dan bahkan memainkan game di atasnya dengan memasang casing konsol handheld retro. Dengan fitur-fitur unik semacam ini, performa baterai tentu menjadi perhatian. Memahami cara mengisi daya smartphone dengan benar menjadi kunci untuk menjaga perangkat semacam ini tetap optimal.

Lima smartphone ini membuktikan bahwa inovasi di industri ponsel tidak melulu tentang kecepatan processor atau jumlah megapixel kamera. Ada ruang untuk ekspresi, karakter, dan kejutan. Mereka adalah pengingat bahwa perangkat yang kita bawa setiap hari bisa menjadi lebih dari sekadar alat—mereka bisa menjadi perpanjangan dari kepribadian dan gaya kita. Jadi, mana yang paling membuat Anda kepo?

Bocoran Resmi Samsung Galaxy XR: Headset VR dengan Chip Snapdragon XR2+ Gen 2

0

Telset.id – Dunia mixed reality (MR) dan virtual reality (VR) bersiap menyambut pemain baru yang tak kalah ambisius. Setelah Apple Vision Pro memukau dunia, kini giliran Samsung yang siap meluncurkan jawabannya. Berdasarkan bocoran resmi yang diperoleh AndroidHeadlines, headset XR besutan raksasa teknologi Korea Selatan ini akan dipasarkan dengan nama Samsung Galaxy XR.

Proyek yang secara internal disebut “Project Moohan” ini sempat disinggung sekilas dalam acara Unpacked Samsung bulan Januari lalu. Namun, kini gambaran yang lebih utuh mulai terkuak. Desainnya terlihat mengambil inspirasi jelas dari Vision Pro, lengkap dengan fitur-fitur canggih yang dirancang untuk bersaing di pasar premium. Apakah ini akan menjadi penantang serius bagi dominasi Apple di ranah headset premium?

Mari kita selami lebih dalam apa yang ditawarkan oleh Samsung Galaxy XR ini. Dari desain yang ergonomis hingga teknologi pelacakan mata mutakhir, headset ini menjanjikan pengalaman imersif yang belum pernah ada sebelumnya. Bagaimana performanya dalam penggunaan sehari-hari? Simak analisis lengkapnya.

Desain depan Samsung Galaxy XR headset dengan sensor dan kamera

Desain yang Mengutamakan Kenyamanan dan Fungsionalitas

Pada pandangan pertama, Samsung Galaxy XR memang terlihat sangat familiar bagi mereka yang telah melihat Apple Vision Pro. Headset ini dilengkapi dengan dua lensa internal dan “Light Shield” yang membungkus dengan pas untuk kenyamanan maksimal. Sama seperti pesaing utamanya, Samsung juga menggunakan baterai eksternal untuk menjaga keseimbangan dan mengurangi beban di kepala pengguna.

Bagian depan dan belakang headset dipenuhi dengan kamera dan sensor yang jumlahnya cukup mengesankan. Empat sensor khusus diletakkan di bawah kaca depan untuk fungsi pelacakan tangan, sementara dua sensor berbentuk lingkaran dekat potongan hidung bertugas melacak bidang pandang bawah. Tak ketinggalan, sensor proximity di dekat dahi akan mendeteksi lingkungan fisik seperti dinding, lantai, dan langit-langit.

Di dalam headset, terdapat sepasang kamera di dekat setiap lensa yang khusus dirancang untuk pelacakan mata. Yang menarik, sistem ini menggunakan kombinasi LED inframerah dan kecerdasan artifisial (AI) untuk memantau pergerakan mata dan posisi pupil secara real-time. Teknologi ini memungkinkan interaksi yang lebih natural dan responsif dalam pengalaman mixed reality.

Tampilan samping headset Samsung Galaxy XR menunjukkan speaker dan tombol

Spesifikasi Teknis yang Menggiurkan

Dari segi tampilan visual, Samsung Galaxy XR dikabarkan menggunakan panel micro-LED 4K untuk kedua matanya dengan kepadatan mencapai 4.032 piksel per inci. Angka ini menghasilkan total sekitar 29 juta piksel yang menjanjikan ketajaman visual yang luar biasa. Bagi Anda yang mengutamakan kualitas grafis, spesifikasi display ini tentu sangat menggoda.

Otak dari headset canggih ini adalah chip Qualcomm Snapdragon XR2+ Gen 2 yang telah dioptimalkan secara khusus melalui kolaborasi antara Samsung, Qualcomm, dan Google. Fokus utamanya adalah performa mixed reality yang mulus dan responsif. Kolaborasi tiga raksasa teknologi ini menunjukkan betapa seriusnya Samsung dalam bersaing di pasar headset premium.

Dalam hal audio dan input, Samsung telah membangun multiple mikrofon yang mampu mengisolasi suara pengguna dari kebisingan latar belakang sekaligus meningkatkan kejelasan suara orang lain untuk percakapan yang lebih natural. Speaker ditempatkan pada kedua sisi head strap, sementara sisi kanan juga dilengkapi dengan touchpad untuk navigasi. Tap panjang pada touchpad akan memusatkan ulang konten, sementara double tap memungkinkan peralihan cepat antara mode VR dan passthrough.

Tampilan dekat lensa dan sensor pelacakan mata Samsung Galaxy XR

Kontrol dan Antarmuka yang Familiar

Samsung memahami bahwa kemudahan penggunaan adalah kunci adopsi teknologi baru. Itulah sebabnya antarmuka pada Galaxy XR dirancang agar familiar bagi pengguna produk Galaxy. Ikon aplikasi yang digunakan mirip dengan yang ada di smartphone Galaxy, dan yang lebih penting, headset ini menawarkan dukungan penuh untuk Google Play Store.

Di bagian atas headset, terdapat dua tombol fisik: tombol “Top” di sisi kanan yang berfungsi meluncurkan antarmuka utama, dan volume rocker di sisi kiri. Untuk menjaga suhu optimal selama penggunaan, ventilasi udara ditempatkan di sepanjang bagian bawah perangkat.

Salah satu fitur menarik yang patut disorot adalah dukungan controller khusus untuk Galaxy XR. Controller ini menawarkan 6 DoF (Degree of Freedom), analog stick, dan haptic feedback yang akan memberikan pengalaman kontrol yang lebih imersif dalam lingkungan 3D. Bagi penggemar game VR atau aplikasi produktivitas yang membutuhkan presisi, fitur ini tentu sangat dinantikan.

Controller Samsung Galaxy XR dengan analog stick dan desain ergonomis

Namun, seperti halnya perangkat wearable canggih lainnya, tantangan terbesar tetap pada daya tahan baterai. Samsung Galaxy XR dilaporkan mampu bertahan hingga 2,5 jam untuk pemutaran video dan sekitar 2 jam untuk penggunaan umum. Angka ini mungkin terdengar singkat, tapi cukup sebanding dengan headset premium sejenis di pasaran saat ini.

Keputusan Samsung untuk fokus pada pengembangan headset XR ini juga terlihat dari langkah mereka menunda peluncuran Galaxy Tri-Fold. Langkah strategis ini menunjukkan komitmen perusahaan dalam menyiapkan produk yang matang sebelum diluncurkan ke pasar.

Tampilan belakang headset Samsung Galaxy XR dengan strap kepala

Bagi yang penasaran dengan lini produk lipat Samsung lainnya, kabarnya Samsung Galaxy Tri-Fold memiliki desain unik dengan layar cover di tengah. Sementara Galaxy Z TriFold dikabarkan memiliki fitur multitasking ekstrem yang mungkin akan terintegrasi dengan ekosistem headset XR di masa depan.

Dengan spesifikasi yang mengesankan dan dukungan ekosistem yang kuat, Samsung Galaxy XR berpotensi menjadi penantang serius di pasar headset premium. Meski masih dalam tahap bocoran, semua indikasi menunjukkan bahwa Samsung tidak main-main dalam memasuki arena mixed reality. Pertanyaannya sekarang: apakah harga yang ditawarkan akan kompetitif? Dan yang lebih penting, apakah pengalaman penggunaannya akan sebaik yang dijanjikan? Kita tunggu saja pengumuman resminya dalam waktu dekat.

New York Gugat Meta, Snap, TikTok, dan YouTube Atas Krisis Mental Remaja

0

Telset.id – Kota New York bersama distrik sekolah dan sistem kesehatan publiknya menggugat raksasa media sosial Meta, Snap, TikTok, dan YouTube (Google) atas tuduhan berkontribusi terhadap krisis kesehatan mental remaja melalui platform yang sengaja dirancang adiktif. Gugatan hukum ini diajukan pada 10 Juli 2025, menandai babak baru dalam serangkaian tuntutan hukum terhadap platform media sosial terkait keamanan dan dampaknya terhadap generasi muda.

Pihak penggugat dalam kasus ini terdiri dari Pemerintah Kota New York, distrik sekolah kota, dan NYC Health + Hospitals, sistem rumah sakit publik terbesar di kota tersebut. Mereka menuduh perusahaan-perusahaan teknologi tersebut secara sengaja merancang platform mereka agar membuat ketagihan anak-anak dan gagal menerapkan pengamanan yang efektif untuk melindungi pengguna muda.

Dalam dokumen gugatan disebutkan bahwa perusahaan-perusahaan ini “telah menciptakan, menyebabkan, dan berkontribusi terhadap krisis kesehatan mental remaja di New York City, menyebabkan kerusakan pada kesehatan dan keselamatan publik, mengganggu penggunaan tempat umum termasuk sekolah, serta membahayakan atau melukai kesehatan, keselamatan, kenyamanan atau kesejahteraan sejumlah besar orang, termasuk remaja.”

Dampak Finansial dan Sumber Daya

Gugatan tersebut mengklaim bahwa kota, distrik sekolah, dan rumah sakit terpaksa “mengalokasikan sumber daya signifikan—dalam hal pendanaan, karyawan, dan waktu” untuk menangani “krisis kesehatan mental remaja” yang disebabkan oleh perusahaan media sosial. Alokasi sumber daya ini mencakup program kesehatan mental di sekolah, layanan konseling, dan perawatan medis terkait dampak penggunaan media sosial berlebihan.

Kasus ini bukan yang pertama bagi Meta dalam menghadapi tuntutan hukum. Sebelumnya, Meta Minta Hakim Tolak Gugatan FTC: Pertarungan Hukum yang Bisa Guncang Industri menunjukkan bagaimana perusahaan terus berhadapan dengan regulator mengenai praktik bisnisnya.

Fenomena Subway Surfing yang Mematikan

Gugatan secara khusus menyoroti maraknya postingan viral tentang “subway surfing” di New York, mencatat bahwa beberapa remaja tewas saat mencoba aksi berbahaya ini dan lebih dari 100 orang telah ditangkap. Subway surfing merujuk pada aksi nekat menaiki atap kereta subway yang sedang berjalan.

“Secara signifikan, investigasi NYPD menentukan bahwa motivasi utama para pelaku subway surfing adalah meniru video subway surfing yang mereka lihat di media sosial, dan untuk mengumpulkan ‘suka’ di media sosial,” bunyi gugatan tersebut. Tren berbahaya ini menunjukkan bagaimana konten viral dapat mendorong perilaku berisiko di kalangan remaja.

Gugatan ini mengingatkan pada Puluhan Ribu Orang Dukung Petisi Tolak Gugatan RCTI ke MK yang juga melibatkan konten media, meskipun dengan konteks dan yurisdiksi yang berbeda.

Dampak media sosial terhadap tenaga pendidik juga menjadi perhatian dalam gugatan. Dokumen tersebut mengklaim bahwa guru dan staf sekolah lainnya “mengalami trauma sekunder dan kelelahan emosional yang terkait dengan menanggapi siswa dalam krisis” akibat pengaruh media sosial.

Tanggapan Perusahaan Teknologi

Meta, Snap, dan TikTok tidak segera menanggapi permintaan komentar mengenai gugatan tersebut. Namun, Google melalui juru bicaranya José Castañeda memberikan pernyataan resmi yang menolak tuduhan tersebut.

“Tuduhan-tuduhan ini sama sekali tidak benar dan secara fundamental salah memahami YouTube,” kata Castañeda. “YouTube adalah layanan streaming tempat orang datang untuk menonton segala sesuatu dari olahraga langsung, podcast hingga kreator favorit mereka, terutama di layar TV, bukan jejaring sosial tempat orang pergi untuk bersosialisasi dengan teman.”

Dia menambahkan bahwa perusahaan “telah mengembangkan alat khusus seperti Supervised Experiences untuk kaum muda, dipandu oleh pakar keselamatan anak, yang memberikan kontrol kepada keluarga.” Pernyataan ini mencerminkan upaya perusahaan teknologi dalam menghadapi tekanan regulator, mirip dengan OpenAI Batalkan Rencana Jadi Perusahaan Profit, Elon Musk Berpengaruh? yang menunjukkan dinamika internal perusahaan teknologi.

Gugatan New York terhadap raksasa media sosial ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran global tentang dampak platform digital terhadap kesehatan mental remaja. Kasus ini dapat menjadi preseden penting bagi yurisdiksi lain yang mempertimbangkan tindakan hukum serupa terhadap perusahaan teknologi.

Perkembangan gugatan ini akan dipantau ketat oleh pengamat industri, regulator, dan organisasi perlindungan konsumen di seluruh dunia. Hasil dari proses hukum ini dapat mempengaruhi kebijakan konten dan desain platform media sosial secara global, serta menetapkan standar baru untuk tanggung jawab perusahaan teknologi terhadap pengguna mudanya.

Realme dan Ricoh Jalin Kemitraan Strategis untuk Realme GT 8 Pro

0

Telset.id – Realme dan Ricoh Imaging secara resmi mengumumkan kemitraan strategis jangka panjang yang akan menghadirkan pengalaman fotografi terbaik pada smartphone Realme GT 8 Pro. Kolaborasi yang telah dipersiapkan selama empat tahun ini akan memuncak dengan peluncuran perangkat flagship yang menawarkan kustomisasi kamera ekstensif dan fitur-fitur hasil pengembangan bersama Ricoh.

Kemitraan ini akan menghasilkan inovasi di bidang optik, algoritma warna, tone imaging, dan antarmuka kamera khusus yang meniru tampilan dan nuansa kamera seri Ricoh GR. Realme GT 8 Pro juga akan membawa filter film fotografi kustom dan lima tone imaging dengan fokus pada fotografi jalanan, mengikuti jejak kamera Ricoh GR.

Ricoh to power Realme GT 8 Pro's imaging

Menurut Chase Xu, Wakil Presiden dan Chief Marketing Officer Realme, kolaborasi ini lahir dari pengamatan terhadap dua masalah utama yang dihadapi generasi muda dalam fotografi mobile: hardware yang semakin mirip dan algoritma yang terlalu diproses sehingga menghilangkan keaslian foto. “Orang-orang mulai lelah dengan foto bergaya ‘sempurna’ yang sama. Semakin banyak yang ingin menunjukkan gaya mereka sendiri, alih-alih meniru tampilan yang sama,” ujarnya.

Chase Xu menambahkan bahwa Ricoh Imaging dan Realme memiliki basis pengguna muda dan kreatif yang sama. “Kolaborasi kami tidak hanya tentang inovasi produk, tetapi juga tentang budaya untuk menginspirasi generasi baru menikmati fotografi jalanan dan menemukan keindahan kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Spesifikasi Kamera Unggulan

Realme GT 8 Pro diprediksi akan membawa konfigurasi kamera yang mengesankan dengan sensor utama 50MP LYT-700 berukuran 1/1.5 inci, didampingi telephoto periskop 200MP ISOCELL HP5 tipe 1/1.56 inci. Kombinasi hardware canggih ini, ditambah dengan sentuhan teknologi imaging dari Ricoh, diharapkan dapat memberikan pengalaman fotografi yang berbeda dari smartphone lainnya di pasaran.

Kustomisasi kamera yang ditawarkan mencakup berbagai aspek, mulai dari pengaturan manual yang lebih komprehensif hingga preset tone yang terinspirasi dari karakteristik khas kamera Ricoh GR. Fitur-fitur ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan fotografer jalanan dan konten kreator yang menginginkan kontrol lebih besar atas hasil jepretan mereka.

Seperti yang telah dibocorkan sebelumnya, Realme GT 8 Pro juga akan menjadi salah satu smartphone pertama yang ditenagai Snapdragon 8 Elite Gen 5. Kombinasi chipset flagship dengan teknologi imaging Ricoh ini menjadikannya perangkat yang sangat dinantikan para penggemar fotografi mobile.

Jadwal Peluncuran dan Event Khusus

Kedua brand akan menggelar event khusus pada 14 Oktober 2025 untuk memberikan detail lebih lanjut tentang kemitraan strategis ini. Acara tersebut akan menghadirkan Kazunobu Saiki, General Manager Camera Business Division Ricoh Imaging, dan Chase Xu dari Realme.

Seri Realme GT 8 sendiri rencananya akan diluncurkan di China pada akhir bulan ini, sementara peluncuran internasional dikabarkan akan berlangsung pada November 2025. Informasi sebelumnya mengindikasikan bahwa Realme GT 8 dan GT 8 Pro akan dirilis bersamaan, memperkuat posisi Realme di segmen flagship.

Dukungan baterai besar juga menjadi salah satu keunggulan yang akan dibawa Realme GT 8 Pro. Bocoran terbaru mengungkapkan perangkat ini akan dibekali baterai berkapasitas 8000mAh, menjamin daya tahan yang optimal untuk sesi fotografi marathon.

Kemitraan Realme dan Ricoh ini menandai babak baru dalam evolusi fotografi smartphone, di mana kolaborasi dengan brand imaging legendaris menjadi strategi untuk menciptakan diferensiasi di pasar yang semakin kompetitif. Pendekatan ini tidak hanya fokus pada peningkatan spesifikasi hardware, tetapi juga pada pengembangan ekosistem fotografi yang lebih holistik.

iQOO 15 Rilis 20 Oktober dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5

0

Telset.id – iQOO secara resmi mengumumkan bahwa smartphone flagship terbarunya, iQOO 15, akan diluncurkan pada 20 Oktober 2025 di Shenzhen, China. Acara peluncuran tersebut dijadwalkan mulai pukul 19.00 waktu setempat. Pengumuman ini menegaskan berbagai bocoran spesifikasi gahar yang telah beredar sebelumnya.

Bersamaan dengan pengumuman tanggal peluncuran, iQOO juga memperkenalkan pilihan warna untuk iQOO 15. Smartphone ini akan tersedia dalam empat varian warna di pasar China, termasuk satu model dengan panel belakang yang dapat berubah warna. Fitur panel belakang dinamis ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai perangkat premium, melengkapi bocoran desain unik yang sebelumnya telah terungkap.

Spesifikasi Unggulan iQOO 15

Meskipun iQOO belum merilis lembar spesifikasi lengkap, brand tersebut sebelumnya telah mengonfirmasi beberapa fitur inti. iQOO 15 akan ditenagai oleh chipset flagship Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5. Perangkat ini akan menjalankan OriginOS 6 dan dilengkapi dengan layar 6,85 inci beresolusi 2K dengan refresh rate 144Hz.

Untuk pengalaman gaming yang optimal, iQOO 15 akan mengintegrasikan chip gaming Q3 khusus. Chip ini diklaim mampu menghadirkan pengalaman visual yang mulus, sebagaimana dijelaskan dalam analisis performa ray tracing mobile yang efisien. Dari segi ketahanan, smartphone ini memiliki rating IP68 dan IP69, menjadikannya tahan terhadap air dan debu.

Fitur lain yang tak kalah penting adalah dukungan wireless charging. Kombinasi fitur-fitur premium ini menunjukkan komitmen iQOO dalam menghadirkan perangkat yang kompetitif di segmen flagship. Layar 2K dengan baterai berkapasitas besar menjadi salah satu daya tarik utama perangkat ini.

Rencana Peluncuran Global dan Perangkat Pendamping

iQOO belum mengungkapkan kapan iQOO 15 akan diluncurkan di luar China. Namun, berdasarkan pola peluncuran sebelumnya, debut internasional smartphone ini diperkirakan terjadi pada awal Desember 2025. Yang menarik, model global iQOO 15 juga akan menggunakan OriginOS, bukan Funtouch OS seperti yang mungkin diharapkan beberapa pengguna.

Pada acara peluncuran 20 Oktober nanti, iQOO tidak hanya akan memperkenalkan iQOO 15. Brand tersebut juga akan meluncurkan tiga produk lainnya: tablet iQOO Pad5e yang ditenagai Snapdragon 8s Gen 3, smartwatch iQOO Watch GT 2, dan earphone nirkabel iQOO TWS 5. Peluncuran multi-produk ini menunjukkan strategi iQOO dalam membangun ekosistem perangkat yang terintegrasi.

Dengan spesifikasi yang diumumkan dan jadwal peluncuran yang sudah ditetapkan, iQOO 15 siap bersaing ketat di pasar smartphone flagship global. Kehadiran chipset Snapdragon terbaru dan berbagai fitur premium menjadikannya salah satu perangkat yang paling dinantikan pada akhir tahun 2025.

iPhone Fold Bakal Gunakan Titanium dan Aluminum di Frame

0

Telset.id – Apple dikabarkan akan meluncurkan iPhone Fold, ponsel lipat pertama mereka tahun depan. Menurut analis Jeff Pu, perangkat ini akan menggunakan kombinasi titanium dan aluminum pada framenya, berbeda dengan rumor sebelumnya yang menyebutkan frame titanium eksklusif.

Informasi terbaru ini muncul dalam catatan investor Jeff Pu, sumber yang dikenal sering membocorkan informasi terkait Apple. Dalam analisisnya, Pu menyebutkan bahwa iPhone Fold akan memadukan titanium dan aluminum dalam konstruksi framenya. Detail material ini menjadi menarik mengingat Apple baru saja beralih dari titanium kembali ke aluminum untuk iPhone 17 Pro dan Pro Max tahun ini.

Rumor sebelumnya dari analis Ming-Chi Kuo justru menyebutkan frame iPhone Fold akan sepenuhnya menggunakan titanium, sementara engselnya akan memanfaatkan kombinasi titanium dan aluminum. Perbedaan informasi ini mengindikasikan kemungkinan adanya miskomunikasi atau perubahan rencana dari Apple dalam proses pengembangan produk.

Spesifikasi dan Fitur Unggulan iPhone Fold

iPhone Fold diprediksi akan memiliki layar penutup berukuran 5,5 inci dan layar utama lipat berukuran 7,8 inci. Yang menarik, perangkat ini kemungkinan tidak akan dilengkapi dengan Face ID dan akan mengandalkan Touch ID sebagai sistem autentikasi utama. Keputusan ini mungkin terkait dengan desain form factor lipat yang membutuhkan ruang berbeda untuk komponen biometric.

iOS 27 yang akan dirilis tahun depan dikabarkan akan fokus pada pengembangan fitur-fitur khusus untuk mendukung form factor unik iPhone Fold. Sistem operasi ini diharapkan dapat memberikan pengalaman pengguna yang optimal pada perangkat lipat pertama Apple tersebut.

Evolusi Material Frame iPhone

Perjalanan material frame iPhone memang mengalami berbagai perubahan signifikan. iPhone Pro sebelumnya sempat beralih dari stainless steel ke titanium, kemudian kembali ke aluminum untuk seri iPhone 17 Pro dan Pro Max tahun ini. Kembalinya Apple ke aluminum sebagai material frame utama menunjukkan komitmen perusahaan terhadap keseimbangan antara kekuatan, bobot, dan biaya produksi.

Penggunaan kombinasi titanium dan aluminum pada iPhone Fold menunjukkan pendekatan yang lebih strategis dari Apple. Titanium dikenal dengan kekuatan dan ringannya, sementara aluminum menawarkan konduktivitas termal yang baik dan biaya yang lebih terjangkau. Kombinasi kedua material ini diharapkan dapat menghasilkan perangkat yang kuat namun tetap ergonomis.

Seperti yang pernah kami bahas dalam artikel sebelumnya, harga iPhone Fold diprediksi akan jauh lebih tinggi dibandingkan iPhone 17 Pro Max yang sudah dianggap mahal oleh banyak konsumen.

Persaingan di Pasar Ponsel Lipat

Kehadiran iPhone Fold diyakini akan mengubah lanskap persaingan di pasar ponsel lipat yang saat ini didominasi oleh merek-merek Android. Apple dikenal dengan kemampuan mereka dalam menciptakan ekosistem yang terintegrasi dengan baik, yang mungkin menjadi keunggulan kompetitif utama iPhone Fold.

Meskipun terlambat masuk ke pasar ponsel lipat dibandingkan pesaing Android, Apple memiliki peluang untuk belajar dari kekurangan dan kelebihan produk-produk yang sudah ada. Perbandingan antara iPhone 16 dan Galaxy Z Fold7 menunjukkan bagaimana Apple dan Samsung memiliki pendekatan yang berbeda dalam mengembangkan produk flagship mereka.

Rencana Apple memasuki pasar ponsel lipat juga mengkonfirmasi bahwa form factor ini dianggap sebagai masa depan perangkat mobile. Bocoran sebelumnya bahkan menyebutkan Apple mengembangkan teknologi layar tanpa lipatan yang terlihat, meskipun kemungkinan besar teknologi tersebut belum akan diterapkan pada generasi pertama iPhone Fold.

Pengembangan iPhone Fold juga menandai kembalinya Apple ke filosofi desain yang mengutamakan portabilitas, mirip dengan era iPhone 6 dan 6 Plus yang sukses di pasaran. Namun kali ini, Apple menggabungkan portabilitas dengan kemampuan layar besar yang dapat dilipat, menawarkan solusi terbaik dari kedua dunia.

Industri teknologi menanti dengan antusias bagaimana Apple akan mengeksekusi ponsel lipat pertama mereka. Kombinasi material titanium-aluminum, ukuran layar yang optimal, dan integrasi dengan iOS 27 diharapkan dapat menciptakan pengalaman pengguna yang unik dan berbeda dari pesaing Android yang sudah lebih dulu ada di pasar.

Dewan Pers Tegaskan Kontrol Manusia Kunci Hadapi Disrupsi AI di Jurnalisme

0

Telset.id – Dewan Pers menegaskan bahwa kontrol manusia terhadap produk jurnalistik tetap menjadi hal paling penting di tengah maraknya penggunaan artificial intelligence (AI) dalam berbagai tugas jurnalistik. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Ketua Komisi Kemitraan, Hubungan Antarlembaga dan Infrastruktur Dewan Pers Rosarita Niken Widiastuti dalam acara literasi media tentang AI di Jakarta, Kamis (27/2/2025).

Niken menekankan bahwa meskipun AI dapat membantu mempercepat waktu kerja, meningkatkan efisiensi produksi konten, dan membantu analisis data, teknologi ini tetaplah sekadar alat bantu kerja. “Bahwa produk jurnalistik, nomor satu adalah harus ada kontrol manusia,” tegas Niken dalam acara yang digelar untuk merespons perkembangan teknologi yang semakin pesat ini.

Menurutnya, jurnalis harus tetap mengawasi seluruh proses produksi berita dari awal hingga akhir. “Manusia (jurnalis) harus mengawasi dari awal sampai akhir produksi,” ujar Niken. Penegasan ini muncul seiring dengan semakin banyaknya media yang mulai mengadopsi teknologi AI dalam operasional sehari-hari, termasuk dalam kerja sama antara platform AI besar dengan media ternama.

Verifikasi Tetap Tanggung Jawab Jurnalis

Niken juga mengingatkan bahwa meskipun AI dapat mempersingkat waktu pencarian informasi, proses verifikasi data tetaplah menjadi tanggung jawab penuh jurnalis. Hal ini penting untuk memastikan keakuratan informasi yang disajikan kepada publik.

“Apakah betul narasumber bicara begitu. Jangan sampai pakai (konten) deepfake untuk produk jurnalistik,” tegas Niken. Pernyataan ini relevan dengan perkembangan teknologi yang memungkinkan pembuatan konten palsu yang semakin sulit dibedakan dengan aslinya.

AI sebagai mesin canggih yang dilatih manusia dengan data dalam jumlah besar tetap memiliki potensi kesalahan dan bias. Niken menjelaskan bahwa jika pelatih manusia memberikan informasi yang salah kepada mesin, maka AI pun akan memberikan jawaban yang salah. “Di sinilah peran kita jurnalis untuk selalu cek dan ricek,” tambahnya.

Regulasi Khusus AI dalam Jurnalistik

Sebagai bentuk antisipasi terhadap disrupsi AI, Dewan Pers telah mengeluarkan Peraturan Dewan Pers Nomor 1 Tahun 2025 tentang Pedoman Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Karya Jurnalistik. Peraturan ini diterbitkan untuk menjaga martabat pers dan menjadikan etika serta profesionalisme sebagai panduan di tengah perkembangan teknologi AI.

Selain menekankan kontrol jurnalis manusia terhadap produk jurnalistik dan verifikasi informasi, peraturan ini juga mengatur aspek transparansi. Jika sebuah karya jurnalistik melibatkan AI, misalnya penggunaan gambar atau suara yang dibuat oleh AI, maka perusahaan pers wajib memberikan keterangan yang jelas kepada pembaca.

Kebijakan ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam menjaga ekosistem media yang sehat di tengah transformasi digital. Regulasi ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi insan pers dalam memanfaatkan teknologi AI secara bertanggung jawab.

Perkembangan AI dalam jurnalistik memang telah menjadi perhatian global. Seperti yang pernah diprediksi beberapa tahun lalu, teknologi AI akan semakin terintegrasi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk di dunia media. Namun, implementasinya harus tetap memperhatikan prinsip-prinsip jurnalistik yang telah ada.

Dengan adanya pedoman yang jelas dari Dewan Pers, diharapkan media massa di Indonesia dapat memanfaatkan kemajuan teknologi AI tanpa mengorbankan kualitas dan integritas jurnalistik. Langkah ini juga sejalan dengan komitmen berbagai pihak dalam membangun ekosistem media yang adaptif terhadap perkembangan zaman namun tetap berpegang pada nilai-nilai dasar jurnalisme.

Garmin Venu 4 Resmi Hadir di Indonesia, Tawarkan Pengalaman Kebugaran Adaptif

0

Telset.id – Garmin secara resmi meluncurkan jam tangan pintar terbarunya, Garmin Venu 4, di pasar Indonesia. Perangkat ini dirancang untuk memberikan pengalaman kebugaran yang adaptif, membantu pengguna tidak hanya memantau kesehatan tetapi juga mencatat gaya hidup untuk mendukung pilihan hidup yang lebih optimal.

Chandrawidhi Desideriani, Marketing Communications Senior Manager Garmin Indonesia, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendorong gaya hidup sehat. “Dengan Venu 4, kami ingin membantu lebih banyak orang memahami metrik tubuh mereka, menjaga kesehatan secara menyeluruh, dan tetap termotivasi menjalani hidup aktif yang berkontribusi pada keseimbangan, kualitas hidup yang lebih baik, dan harapan hidup yang lebih panjang,” ujarnya dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu.

Kehadiran Venu 4 semakin memperkuat portofolio smartwatch wellness Garmin di Tanah Air. Perangkat ini mengusung desain logam premium yang dilengkapi dengan speaker dan mikrofon bawaan, serta lampu senter LED untuk meningkatkan visibilitas pengguna dalam kondisi cahaya minim.

Fitur Inovatif untuk Kesehatan Holistik

Garmin Venu 4 menghadirkan sejumlah fitur baru yang berfokus pada personalisasi dan pemahaman kesehatan yang lebih mendalam. Fitur Adaptive Training Coach memberikan rekomendasi latihan yang disesuaikan dengan metrik fisiologis spesifik setiap pengguna, menawarkan pendekatan pelatihan yang benar-benar personal.

Fitur Lifestyle Logging berfungsi sebagai catatan digital untuk melacak konsumsi kafein atau alkohol, yang dapat memengaruhi kualitas tidur, tingkat stres, dan Variabilitas Detak Jantung (HRV). Pemantauan ini sejalan dengan tren teknologi wearable untuk kesehatan holistik yang semakin berkembang.

Advanced Sleep Metrics pada Venu 4 membantu pengguna memahami pola tidur mereka dan sejauh mana selaras dengan ritme sirkadian alami tubuh. Sementara fitur Health Status memantau berbagai metrik kesehatan secara terintegrasi, termasuk detak jantung, HRV, pernapasan, ECG, suhu kulit, dan Pulse Ox selama tidur, memberikan gambaran komprehensif tentang kondisi kesehatan pengguna.

Daya Tahan Baterai dan Pilihan Model

Dari segi performa, Garmin Venu 4 mengklaim daya tahan baterai hingga 12 hari dalam mode smartwatch, memberikan fleksibilitas bagi pengguna yang tidak ingin terus-menerus mengisi daya perangkat setiap malam. Kemampuan pemantauan kesehatan 24/7 tetap berjalan optimal sepanjang masa pakai baterai tersebut.

Smartwatch terbaru ini hadir dalam dua pilihan ukuran, yaitu 41mm dan 45mm, dengan variasi warna Lunar Gold, Periwinkle, Citron, Black, dan Silver Gray. Keberagaman pilihan ini memungkinkan pengguna menyesuaikan dengan preferensi gaya pribadi mereka.

Peluncuran Venu 4 terjadi di tengah persaingan pasar wearable yang semakin ketat, dimana pesaing seperti Xiaomi juga baru meluncurkan Watch S4 dengan fitur-fitur inovatif. Garmin Venu 4 dipasarkan dengan harga Rp9.699.000 dan sudah dapat diperoleh di semua Garmin Brand Store (GBS) seluruh Indonesia, serta toko daring resmi di berbagai platform e-commerce termasuk Eraspace, Shopee, Tokopedia, Blibli, dan Lazada.

HUAWEI WATCH GT 6 Series Resmi di Indonesia, Baterai 21 Hari & Fitur Pro

0

Telset.id – Bayangkan sebuah smartwatch yang tak perlu Anda cas selama tiga minggu penuh, sekaligus mampu menghitung daya kayuh sepeda Anda tanpa alat tambahan apa pun. Itulah janji yang dibawa HUAWEI WATCH GT 6 Series, yang akhirnya mendarat secara resmi di Indonesia hari ini, 9 Oktober 2025.

Setelah sukses diluncurkan secara global di Paris, Huawei kini memboyong seri terbaru jam tangan pintar andalannya ke pasar domestik. Produk ini tidak sekadar memperpanjang daftar varian GT, melainkan menawarkan lompatan signifikan dalam hal teknologi olahraga, ketahanan baterai, dan tentu saja, desain yang dirancang untuk bertransisi dengan mulus dari gelanggang olahraga ke ruang rapat.

Lantas, apa yang membuat HUAWEI WATCH GT 6 Series layak disebut sebagai “ultimate versatile smartwatch”? Mari kita selami lebih dalam.

Content image for article: HUAWEI WATCH GT 6 Series Resmi di Indonesia, Baterai 21 Hari & Fitur Pro

Lebih dari Sekadar Aksesori: Sebuah Pernyataan Gaya dan Ketangguhan

Huawei jelas tidak main-main dengan konstruksi HUAWEI WATCH GT 6 Series. Mereka membekalinya dengan apa yang disebut “triple protection,” sebuah benteng yang terdiri dari titanium alloy, sapphire glass, dan nanocrystal ceramic. Lapisan ultra-hard metallic coating melengkapi paket ini, memastikan smartwatch ini tidak hanya tampak premium, tetapi juga sanggup menghadapi hantaman aktivitas sehari-hari.

Seri ini ditujukan untuk dua segmen pengguna yang berbeda. Bagi para profesional dan atlet yang mengejar performa absolut, ada HUAWEI WATCH GT 6 Pro. Sementara untuk pengguna modern yang menginginkan inovasi dalam bingkai premium, HUAWEI WATCH GT 6 hadir sebagai pilihan yang memikat. Sebuah strategi segmentasi yang cerdas, mirip dengan pendekatan yang kita lihat pada lini HUAWEI Pura 80 Series untuk segmen smartphone.

Varian Pro hadir dalam tiga karakter: Titanium dengan strap titanium yang kokoh, Brown Woven dengan strap komposit untuk petualang outdoor, dan Black Fluororubber yang serbaguna. Di sisi lain, HUAWEI WATCH GT 6 menawarkan desain yang lebih ringan, tersedia dalam ukuran 46mm dan 41mm. Khusus model 41mm, Huawei memperkenalkan pivoting loop lugs pertama di seri GT, sebuah engsel yang memungkinkan strap bergerak mengikuti kontur pergelangan tangan untuk kenyamanan optimal.

Revolusi di Tangan Pesepeda dan Pelari

Inilah mungkin fitur paling inovatif dari HUAWEI WATCH GT 6 Series: Cycling Virtual Power. Teknologi ini pada dasarnya adalah “power meter virtual.” Ia mampu menghitung daya (dalam watt) yang Anda hasilkan selama bersepeda, secara otomatis, tanpa perlu membeli external power meter yang harganya bisa selangit. Bagi pesepeda serius, data watt adalah metrik emas untuk mengukur performa sebenarnya, dan kini hadir secara built-in.

Belum cukup, fitur One Tap Route Import memungkinkan Anda mengimpor rute bersepeda dari aplikasi pihak ketiga langsung ke smartwatch dengan sekali sentuh. Persiapan jelang touring atau latihan menjadi lebih simpel dan terpusat.

Untuk para pelari, Huawei menyematkan All-new Sunflower Positioning System. Sistem pemosisian 3D ini diklaim memiliki akurasi 20% lebih tinggi daripada generasi sebelumnya, mendukung navigasi intuitif selama aktivitas lari dan bersepeda di luar ruangan. Smartwatch ini juga bisa terhubung dengan perangkat pro-level seperti cadence sensor, speedometer, dan heart rate strap, membangun ekosistem pelacakan performa yang komprehensif.

Dengan lebih dari 100 mode olahraga, pilihannya hampir tak terbatas. Mulai dari Golf Pro dengan peta vektor 17.000+ lapangan golf (160 di antaranya di Indonesia), Trail Running dengan data ketinggian dan estimasi waktu tempuh, hingga Freediving bersertifikasi EN13319 yang mampu menyelam hingga kedalaman 40 meter. Varian Pro mendapatkan dukungan freediving dan mode golf yang lebih lengkap, menegaskan posisinya untuk kalangan enthusiast sejati. Persaingan di segmen smartwatch olahraga semakin ketat, seperti yang juga ditunjukkan oleh kehadiran smartwatch baru dari Honor.

Baterai 21 Hari: Akhirnya, Bebas dari Kecemasan Daya

Dalam dunia smartwatch, daya tahan baterai sering menjadi kompromi yang menyebalkan. Huawei menjawabnya dengan teknologi baterai high-silicon pada HUAWEI WATCH GT 6 Series, yang meningkatkan kapasitas hingga 65% dibanding generasi GT 5. Hasilnya? Varian GT 6 Pro dan GT 6 ukuran 46mm mampu bertahan hingga 21 hari. Varian GT 6 ukuran 41mm tetap impresif dengan 14 hari.

Daya tahan selevel ini menempatkannya di papan atas, bersaing ketat dengan perangkat seperti Garmin Quatix 8 yang juga mengusung baterai tahan lama. Bayangkan, Anda bisa melakukan perjalanan bisnis singkat atau liburan akhir pekan tanpa membawa charger smartwatch. Sebuah kemewahan yang kini menjadi kenyataan.

Dokter Pribadi di Pergelangan Tangan

Fitur kesehatan HUAWEI WATCH GT 6 Series didasarkan pada sistem TruSense™ terbaru. Varian GT 6 Pro dilengkapi dengan fitur ECG (electrocardiogram) yang dapat mengukur dan menganalisis aktivitas listrik jantung secara real-time. Ini adalah alat yang berharga untuk memantau irama jantung dan mendeteksi potensi gangguan kardiovaskular sejak dini.

Content image for article: HUAWEI WATCH GT 6 Series Resmi di Indonesia, Baterai 21 Hari & Fitur Pro

Semua model dilengkapi dengan Pulse-Wave Arrhythmia Analysis untuk memantau tanda-tanda aritmia. Yang menarik, Huawei juga memasukkan aspek kesehatan mental melalui fitur Multi-dimensional Emotional Wellbeing, yang mengukur 12 kondisi emosional. Pendekatan holistik terhadap kesehatan ini sejalan dengan tren wearable yang diadopsi publik figur seperti Achmad Alkatiri dengan Galaxy Watch8-nya.

Content image for article: HUAWEI WATCH GT 6 Series Resmi di Indonesia, Baterai 21 Hari & Fitur Pro

Untuk melengkapi segalanya, ada TruSleep™ yang menganalisis kualitas tidur secara detail, memberikan rangkuman, dan bahkan mendeteksi gangguan seperti insomnia. Fitur Sleeping Music, Smart Stay-Fit Plan, dan Mindful Meditation hadir untuk membantu pengguna beristirahat lebih baik dan mengelola stres. Smartwatch ini bukan lagi sekadar pelacak, melainkan partner kesehatan yang proaktif.

Spesifikasi Teknis dan Penawaran Menarik

Layar AMOLED ultra-bright 3000 nits yang 5.5% lebih besar dari GT 5 memastikan visibilitas optimal di bawah terik matahari. Ketahanan air IP69 dan sertifikasi EN13319 untuk menyelam hingga 40 meter menjadikannya teman yang andal untuk berbagai aktivitas air. Huawei juga menyediakan lebih dari 30.000 watch face dan beragam pilihan strap, memungkinkan personalisasi tanpa batas.

Selama periode launching 9 Oktober hingga 11 November 2025, Huawei menawarkan harga spesial. HUAWEI WATCH GT 6 dibanderol mulai dari Rp3.499.000 (varian Black Fluororubber 46mm), sementara GT 6 Pro mulai dari Rp4.599.000 (varian Black Fluororubber). Konsumen yang membeli dalam periode ini akan mendapatkan bundling eksklusif HUAWEI FreeBuds 6i (senilai Rp1,1 juta) dan langganan HUAWEI Health+ 3 bulan (senilai Rp200 ribu), sehingga total nilai promosi mencapai Rp1,3 juta.

Produk ini tersedia secara online melalui Huawei Store, Shopee, TikTok Shop, Tokopedia, Blibli, Lazada, Erafone.com, Eraspace, dan Datascripmall.id. Untuk pengalaman membeli langsung, Anda bisa mengunjungi Huawei Authorized Experience Store, Erafone, Urban Republic, Blibli, Digiplus, dan berbagai mitra ritel lainnya di seluruh Indonesia.

Dengan kombinasi desain timeless, fitur olahraga pro-level, pemantauan kesehatan komprehensif, dan daya tahan baterai yang sulit ditandingi, HUAWEI WATCH GT 6 Series bukan sekadar pembaruan iteratif. Ia adalah pernyataan ambisi Huawei di pasar wearable Indonesia. Ia menjawab sebuah pertanyaan mendasar: bisakah satu perangkat melayani semua kebutuhan gaya hidup aktif modern? Jawabannya, tampaknya, ada di pergelangan tangan Anda.

POCO M7 Resmi Rilis: Baterai 7.000 mAh untuk Gamers Tanpa Batas

0

Telset.id – Bayangkan bermain Mobile Legends selama 9 jam nonstop tanpa sekalipun khawatir kehabisan daya. Itulah janji yang dibawa POCO M7, smartphone terbaru yang resmi meluncur di Indonesia mulai 10 Oktober 2025. Dengan baterai raksasa 7.000 mAh dan ekspansi RAM hingga 16GB, POCO kembali menegaskan komitmennya menghadirkan performa ekstrem dengan harga terjangkau.

Peluncuran POCO M7 bukan sekadar penambahan varian baru dalam lini M Series. Ini adalah pernyataan tegas bahwa brand asal Xiaomi ini serius mendobrak standar smartphone gaming entry-level. Bagaimana tidak? Kapasitas baterai 7.000 mAh yang biasanya hanya ditemukan di power bank kini hadir dalam bodi smartphone yang ramping. Kombinasi ini menjawab keluhan paling umum di kalangan gamer dan konten kreator: ketakutan kehilangan momen penting karena baterai habis di tengah aksi.

Novita Krisutami, PR Manager POCO Indonesia, dalam konferensi pers yang dihadiri Telset.id, menegaskan filosofi di balik POCO M7. “Kami ingin memberikan pengalaman baru bagi anak muda dalam memaknai performa ekstrem. Tidak hanya soal kecepatan, tapi juga daya tahan yang membuat mereka bebas beraksi lebih lama,” ujarnya. Pernyataan ini sekaligus mempertegas bahwa POCO memahami kebutuhan sesungguhnya pengguna smartphone modern yang menginginkan perangkat serba bisa tanpa kompromi.

Baterai 7.000 mAh: Monster Daya Tahan untuk Segala Aktivitas

Spesifikasi paling mencolok dari POCO M7 jelas kapasitas baterainya yang mencapai 7.000 mAh. Angka ini bukan sekadar jargon marketing, melainkan solusi nyata untuk problem sehari-hari pengguna berat. Menurut data yang diungkapkan POCO, dengan kapasitas sebesar ini, pengguna bisa menikmati berbagai aktivitas ekstrem: main Mobile Legends sampai 9 jam, nonton video 28 jam, mendengarkan musik 108 jam, atau membaca konten favorit 29 jam nonstop.

Yang tak kalah penting, POCO M7 dilengkapi turbo charging 33W yang memastikan waktu pengisian daya tidak sebanding dengan kapasitas baterainya yang besar. Teknologi ini memungkinkan pengguna mengisi ulang daya dengan cepat sebelum kembali beraktivitas. Bagi gamer yang sering push rank semalaman atau konten kreator yang harus selalu siap merekam, fitur ini menjadi penentu yang crucial.

Layar 6,9 Inci FHD+ 144Hz: Visual Mulus untuk Gaming dan Hiburan

Selain baterai, POCO M7 juga menghadirkan layar berukuran 6,9 inci dengan resolusi FHD+ dan refresh rate hingga 144Hz. Kombinasi spesifikasi display ini menciptakan pengalaman visual yang imersif baik untuk gaming maupun konsumsi konten hiburan. Scroll media sosial terasa lebih halus, bermain game FPS lebih responsif, dan menonton video berkualitas tinggi lebih memukau.

Refresh rate 144Hz menjadi nilai tambah signifikan mengingat harga yang ditawarkan POCO M7 berada di segmen entry-level. Biasanya, fitur semacam ini hanya ditemukan di smartphone mid-range hingga flagship. Kehadirannya di POCO M7 membuktikan bahwa brand ini konsisten dengan strategi “Extreme Performance, Extreme Price” – menghadirkan fitur premium dengan harga terjangkau.

Ekspansi RAM 16GB dan Chipset Snapdragon 685: Performa Multitasking Mulus

POCO memahami bahwa daya tahan baterai harus diimbangi dengan performa yang stabil. Untuk itu, POCO M7 menghadirkan fitur ekspansi RAM hingga 16GB, memungkinkan pengguna membuka banyak aplikasi sekaligus tanpa mengalami lag atau hambatan. Chipset Snapdragon 685 yang menjadi otaknya dioptimalkan dengan software tuning khusus untuk memastikan performa tetap responsif dalam berbagai kondisi.

Kombinasi hardware dan software ini membuat POCO M7 tidak hanya cocok untuk gaming, tetapi juga mendukung produktivitas sehari-hari. Bagi mereka yang sering berganti antara aplikasi kerja, media sosial, dan game, smartphone ini menawarkan pengalaman multitasking yang smooth tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.

Varian yang tersedia adalah 8GB+256GB dengan dukungan ekspansi RAM hingga total 16GB. Konfigurasi storage yang generous ini memastikan pengguna tidak perlu khawatir kehabisan space untuk menyimpan game berat seperti Genshin Impact atau file multimedia berukuran besar.

Kamera 50MP AI dan Desain Futuristik ala Mecha

Melengkapi paket performa ekstremnya, POCO M7 dibekali kamera ganda AI 50MP yang mampu menghasilkan foto dan video berkualitas tinggi. Meski fokus utamanya adalah gaming, kemampuan kamera ini memastikan pengguna tidak perlu mengorbankan kualitas konten visual mereka. Baik untuk dokumentasi momen sehari-hari maupun konten kreatif untuk media sosial, POCO M7 siap mendukung.

Dari sisi desain, POCO M7 mengusung tema mecha yang terinspirasi dunia gamers. Tampilannya kokoh, futuristik, dan penuh karakter dengan pilihan warna Black, Silver, dan Blue. Warna silver khususnya menjadi simbol performa tinggi dan kekuatan, dipadukan dengan aksen biru dan merah yang merepresentasikan semangat muda khas POCO Fans.

Desain ini tidak hanya estetis, tetapi juga fungsional. POCO M7 hadir dengan identitas visual yang kuat dan berani, mencerminkan karakter gamer sejati yang tidak takut berbeda. Pilihan warna yang variatif memungkinkan pengguna mengekspresikan kepribadian mereka melalui perangkat yang digunakan sehari-hari.

Harga Ekstrem dan Ketersediaan

POCO M7 resmi tersedia mulai 10 Oktober 2025 dengan harga spesial early bird Rp 2.199.000, turun dari harga normal Rp 2.249.000. Smartphone ini bisa dibeli melalui Mi.com serta berbagai official store POCO di Shopee, Tokopedia, Lazada, Blibli, Akulaku, dan TikTok Shop.

Dengan kombinasi baterai raksasa, layar 144Hz, RAM expansible, dan kamera 50MP, POCO M7 menawarkan value proposition yang sulit ditandingi di kelasnya. Kehadirannya semakin mengukuhkan POCO sebagai brand yang paham betul kebutuhan pasar Indonesia, khususnya kalangan muda yang menginginkan performa maksimal dengan budget terbatas.

Tak hanya menghadirkan produk, POCO juga terus membangun ekosistem melalui POCO Extreme League Season 4 yang akan digelar di 5 kota besar Indonesia untuk lebih dari 10.000 player. Komitmen ini menunjukkan bahwa bagi POCO, performa ekstrem tidak hanya tentang hardware, tetapi juga tentang menciptakan ruang bagi komunitas untuk tumbuh dan berkompetisi. Seperti yang diungkapkan Novita Krisutami, ini adalah bentuk nyata komitmen POCO: menghadirkan teknologi yang relevan sekaligus menciptakan ruang aksi bagi anak muda Indonesia.

Bagi yang penasaran dengan varian lain seri M7, Poco M7 Pro 5G telah mengantongi tiga sertifikasi jelang rilis global, menandakan bahwa lini M Series akan terus berkembang dengan inovasi-inovasi terbaru.