Beranda blog Halaman 168

Vivo V60 Resmi Dirilis: Kamera Pro dan Baterai Jumbo di Tubuh Tipis

0

Telset.id – Vivo kembali menghadirkan inovasi terbarunya dengan meluncurkan V60, penerus V50 yang dirilis Februari lalu. Smartphone ini menargetkan para pecinta fotografi dengan kombinasi peningkatan hardware dan software untuk memberikan pengalaman terbaik di kelasnya. Dengan harga mulai dari Rp36.999, V60 sudah bisa dipesan di Amazon, Flipkart, dan toko resmi Vivo.

Kamera Pro dengan Teknologi ZEISS

Vivo V60 membawa tiga kamera belakang: sensor utama 50MP Sony IMX766, telephoto 50MP IMX882, dan ultrawide 8MP. Yang menarik, kamera telephoto menggunakan teknologi “ZEISS Multifocal Portrait” yang memungkinkan pengambilan gambar pada focal length 85mm dan 100mm. Ini berarti Anda bisa mendapatkan efek bokeh yang lembut bahkan saat subjek berada agak jauh.

Vivo V60 dengan kamera ZEISS Multifocal Portrait

Vivo juga mengandalkan AI untuk pemrosesan gambar, yang tidak hanya bekerja pada kamera belakang tetapi juga pada kamera selfie 50MP wide-angle. Fitur “Aura Light” di bagian belakang membantu meningkatkan kualitas potret dalam kondisi cahaya rendah.

Desain Tipis dengan Baterai Besar

Meski dibekali baterai raksasa 6.500mAh, Vivo mengklaim V60 sebagai smartphone paling tipis di India dengan kapasitas baterai sebesar itu. Ketebalannya hanya 7,65mm dengan bobot 192g. Bingkai tengah yang melengkung membuatnya nyaman digenggam, dan tersedia dalam pilihan warna Moonlit Blue, Auspicious Gold, dan Mist Gray.

Desain tipis Vivo V60 dengan baterai 6.500mAh

Dukungan fast charging 90W memastikan pengisian daya baterai besar ini tidak memakan waktu lama. Performa dijamin oleh chipset Qualcomm Snapdragon 7 Gen 4, yang mungkin bukan pilihan utama untuk gaming berat, tetapi cukup untuk menjalankan aktivitas sehari-hari dengan lancar.

Layar Cerah dan Tanggal Rilis

Di bagian depan, V60 menawarkan layar AMOLED FHD+ dengan kecerahan puncak hingga 5.000 nits. Desain “micro-quad curved” membuat kaca layar menyatu dengan bingkai untuk pengalaman menggenggam yang halus. Smartphone ini akan tersedia di pasaran mulai 19 Agustus mendatang.

Layar AMOLED Vivo V60 dengan kecerahan 5.000 nits

Vivo V60 tampaknya menjadi jawaban bagi mereka yang menginginkan smartphone dengan kamera profesional dan daya tahan baterai panjang tanpa mengorbankan desain yang ramping. Jika Anda mencari ponsel dengan fitur fotografi unggulan dan baterai besar, V60 layak dipertimbangkan.

MediaTek Dimensity 9500 vs Snapdragon 8 Elite 2: Pertarungan Chipset September

0

Telset.id – September 2024 akan menjadi bulan yang panas bagi dunia teknologi, terutama bagi para penggemar smartphone flagship. Dua raksasa chipset, MediaTek dan Qualcomm, bersiap meluncurkan prosesor andalannya—Dimensity 9500 dan Snapdragon 8 Elite 2—dengan selisih waktu hanya satu hari. Pertarungan sengit ini bukan sekadar soal tanggal rilis, tetapi juga performa, efisiensi, dan dominasi pasar.

Bocoran terbaru dari tipster ternama Digital Chat Station mengungkap bahwa MediaTek akan mengumumkan Dimensity 9500 pada 22 September, sehari sebelum Qualcomm memamerkan Snapdragon 8 Elite 2 di ajang Snapdragon Summit. Kedua chipset ini diprediksi menggunakan proses 3nm dari TSMC, tetapi dengan pendekatan desain yang berbeda. MediaTek mengandalkan desain standar ARM, sementara Qualcomm memilih core kustom Oryon.

Spesifikasi dan Performa: Siapa yang Lebih Unggul?

Dimensity 9500 dikabarkan mengusung konfigurasi CPU unik: empat core Cortex-X930 (tiga di antaranya berjalan pada clock speed lebih rendah) dan empat Cortex-A730. Chipset ini disebut mampu mencapai kecepatan hingga 4.00GHz, lebih tinggi dari pendahulunya, Dimensity 9400, meski masih di bawah Snapdragon 8 Elite 2 yang diklaim mencapai 4.74GHz. Namun, jangan buru-buru menyimpulkan. Bocoran benchmark terbaru menunjukkan Dimensity 9500 unggul 17% dalam beberapa tes multi-core.

Di sisi GPU, MediaTek tampaknya mempertahankan Mali-G1 Ultra 12-core, sementara Qualcomm mungkin akan menghadirkan Adreno terbaru. Kabar baiknya, Dimensity 9500 didukung ARM’s Scalable Matrix Extension (SME), fitur yang bisa meningkatkan performa komputasi berat secara signifikan. Ini mungkin menjadi senjata rahasia MediaTek untuk bersaing dengan Snapdragon 8 Elite 2.

Dampak pada Smartphone Flagship 2024-2025

Kedua chipset ini akan menjadi otak dari smartphone flagship tahun depan. Xiaomi 16 series dikabarkan akan menjadi salah satu yang pertama mengadopsi Snapdragon 8 Elite 2, sementara vendor seperti Vivo dan Oppo mungkin memilih Dimensity 9500 untuk varian premium mereka. Pertanyaannya: apakah perbedaan performa ini akan terasa dalam penggunaan sehari-hari, atau hanya sekadar angka di benchmark?

Yang pasti, konsumenlah yang akan diuntungkan. Persaingan ketat antara MediaTek dan Qualcomm memaksa keduanya untuk terus berinovasi. Jika Anda sedang mempertimbangkan upgrade smartphone, mungkin lebih baik menunggu hingga kedua chipset ini resmi diuji dalam perangkat nyata. Siapa tahu, Dimensity 9500 bisa menjadi chipset Android terkuat di 2024, mengalahkan Snapdragon sekalipun.

Jadi, siapakah yang akan memenangkan pertarungan September ini? MediaTek dengan pendekatan efisiensinya, atau Qualcomm yang mengandalkan kekuatan kustom? Jawabannya akan segera terungkap. Pastikan Anda mengikuti perkembangan terbaru di Telset.id untuk info paling akurat.

Huawei Mate 80 Bakal Lebih Cepat Berkat Chipset Kirin 9030

0

Telset.id – Jika Anda mengira Huawei sudah kehabisan tenaga setelah kehilangan akses ke TSMC, pikirkan lagi. Bocoran terbaru mengindikasikan bahwa seri Mate 80 akan mendapatkan peningkatan performa signifikan berkat chipset Kirin 9030. Kabarnya, prosesor anyar ini akan memberikan lonjakan kecepatan hingga 20% dibandingkan pendahulunya, Kirin 9020 yang digunakan di Huawei Pura 80 Series.

Informasi ini datang dari tipster ternama Digital Chat Station, yang selama ini dikenal akurat dalam memprediksi spesifikasi perangkat Huawei. Menurutnya, Huawei dan SMIC—produsen chip asal China—telah berhasil mengoptimalkan teknologi multi-patterning untuk meningkatkan densitas transistor tanpa beralih ke proses 5nm. Teknik ini melibatkan pelapisan wafer silikon berulang kali untuk mencapai presisi yang dibutuhkan.

Desain dan Fitur Unggulan Mate 80 Series

Selain peningkatan chipset, seri Mate 80 juga dikabarkan akan membawa sejumlah inovasi menarik. Salah satunya adalah sistem pendingin mini yang tidak mengorbankan ketahanan air. Model premium seperti Mate 80 RS Ultimate Edition bahkan disebut akan menggunakan layar OLED dual-layer dan rangka titanium, memberikan kesan mewah sekaligus kokoh.

Di sektor kamera, Huawei dikabarkan sedang mengembangkan sensor SmartSens baru untuk bersaing dengan raksasa seperti Sony dan Samsung. Sensor ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas foto dalam kondisi low-light, melanjutkan tradisi Huawei dalam fotografi smartphone. Untuk lebih detail tentang pengembangan sensor mandiri Huawei, Anda bisa membaca artikel terkait di Telset.id.

Masa Depan Kirin dan Tantangan Huawei

Meski terdengar menjanjikan, tantangan Huawei tidak berhenti di sini. Tanpa akses ke teknologi litografi canggih dari AS atau Eropa, SMIC harus bergantung pada teknik kreatif untuk mengejar ketertinggalan. Namun, jika bocoran ini akurat, Huawei membuktikan bahwa mereka masih mampu berinovasi di tengah tekanan sanksi.

Seri Mate 80 diperkirakan akan melanjutkan warisan Huawei Mate 20 yang dulu sukses dengan Kirin 980. Dengan peningkatan performa dan fitur unggulan, apakah Huawei bisa kembali merebut pasar premium? Jawabannya mungkin akan terungkap dalam beberapa bulan ke depan.

Huawei Siapkan Terobosan AI yang Bisa Kurangi Ketergantungan pada HBM

0

Telset.id – Jika Anda mengira perkembangan kecerdasan buatan (AI) masih bergantung pada teknologi memori impor, bersiaplah untuk terkejut. Huawei dikabarkan tengah mempersiapkan terobosan besar dalam teknologi inferensi AI yang akan diumumkan pada 2025 Financial AI Inference Application Implementation and Development Forum tanggal 12 Agustus mendatang.

Bocoran dari sumber dalam negeri China menyebut, teknologi baru ini berpotensi mengurangi ketergantungan negara tersebut pada High Bandwidth Memory (HBM) – komponen krusial dalam sistem AI. Tak hanya itu, solusi Huawei ini juga diklaim mampu meningkatkan performa inferensi model AI skala besar secara signifikan.

Huawei AI

Mengapa HBM Begitu Penting?

High Bandwidth Memory (HBM) bukan sekadar komponen biasa. Teknologi memori DRAM yang dibangun dengan teknik stacking 3D ini memungkinkan beberapa chip DRAM terintegrasi secara vertikal, menghasilkan kecepatan transfer data yang jauh lebih tinggi dibanding memori konvensional.

Dengan bandwidth ultra-tinggi, latensi rendah, dan efisiensi energi yang baik, HBM menjadi tulang punggung untuk beban kerja AI yang berat. Dalam proses inferensi AI – saat model yang sudah terlatih memproses input baru – akses data secara real-time dalam jumlah besar mutlak diperlukan.

Model AI dengan ratusan miliar parameter sangat bergantung pada HBM untuk menyuplai data tanpa hambatan, memastikan GPU beroperasi pada kapasitas penuh. Bahkan penundaan kecil pun bisa berdampak pada performa, menjadikan HBM komponen tak tergantikan untuk perangkat keras AI kelas atas.

Huawei dan Upaya Mengurangi Ketergantungan pada HBM

Lantas, bagaimana Huawei berencana mengurangi ketergantungan pada HBM? Salah satu jalur yang mungkin ditempuh adalah desain berbasis chiplet, di mana beberapa chip kecil dikemas bersama dan saling terhubung untuk berbagi beban komputasi. Konfigurasi ini bisa mengurangi kebutuhan memori berbandwidth tinggi dengan mendistribusikan tugas pemrosesan secara lebih efisien.

Pendekatan lain melibatkan optimalisasi model AI itu sendiri – mengurangi jumlah parameter atau menggunakan algoritma yang lebih efisien. Perbaikan semacam ini mampu menurunkan tuntutan perangkat keras sambil mempertahankan performa, membuat AI canggih lebih terjangkau dan hemat biaya.

Seperti yang terjadi pada Huawei Pura 80, inovasi Huawei sering kali mampu mengejutkan pasar. Jika teknologi inferensi baru ini bisa menyamai atau melampaui performa sistem berbasis HBM, momen ini bisa menjadi titik balik dalam pengembangan perangkat keras AI.

Dampak Potensial pada Lanskap Teknologi Global

Dengan mengatasi tantangan teknis dan rantai pasok sekaligus, inovasi semacam ini bisa mempercepat swasembada AI China dan mengubah cara sistem AI berkinerja tinggi dibangun. Detail lengkap akan terungkap saat Huawei resmi mengumumkan teknologi ini.

Apakah ini pengganti penuh untuk HBM atau langkah awal untuk mengurangi keterbatasannya, pengumuman ini pasti akan menyedot perhatian industri AI dan semikonduktor global. Terlebih di tengah perkembangan terbaru di mana Huawei Mate XT 2 juga menunjukkan kemajuan signifikan dalam teknologi mobile.

Di sisi lain, keputusan Nvidia dan AMD untuk membayar 15% pendapatan chip mereka dari China kepada AS juga menandai pergeseran signifikan dalam industri teknologi. Inovasi Huawei ini bisa menjadi jawaban atas tantangan geopolitik yang semakin kompleks.

Seperti halnya HUAWEI MatePad Pro 12.2” 2025 yang menghadirkan terobosan di segmen tablet, langkah Huawei dalam bidang AI ini patut ditunggu. Apakah mereka akan kembali mengejutkan dunia? Jawabannya akan segera kita dapatkan.

Bocoran Snapdragon 8 Elite 2 di Galaxy S26 Edge: Performa Lebih Kencang

0

Telset.id – Lebih dari sebulan sebelum peluncuran resminya, chipset flagship terbaru Qualcomm, Snapdragon 8 Elite 2, sudah muncul di Geekbench. Bocoran ini berasal dari perangkat Samsung dengan kode model SM-S947U, yang diduga kuat sebagai Galaxy S26 Edge. Artinya, chipset yang diuji bisa jadi merupakan varian khusus “for Galaxy”.

Dalam tes Geekbench 6.4, Snapdragon 8 Elite 2 mencetak skor single-core 3.393 dan multi-core 11.515. Angka ini menunjukkan peningkatan sekitar 9% dibanding pendahulunya, Snapdragon 8 Elite, yang hanya meraih 3.125 (single-core) dan 9.932 (multi-core). Meski terdengar menjanjikan, lonjakan ini masih di bawah ekspektasi yang dibangun oleh rumor sebelumnya.

Content image for article: Bocoran Snapdragon 8 Elite 2 di Galaxy S26 Edge: Performa Lebih Kencang

Samsung Galaxy S25 Edge

Menariknya, chipset ini belum beroperasi pada kapasitas maksimal. Core utama CPU hanya berjalan pada 4.0GHz, jauh di bawah potensi penuhnya yang mencapai 4.74GHz. Ini menunjukkan bahwa performa sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi, meski pengujian pada perangkat pra-rilis seperti ini memang kerap dibatasi.

Arsitektur dan Fitur Unggulan

Bocoran ini juga mengungkap bahwa Snapdragon 8 Elite 2 mempertahankan konfigurasi CPU 6+2, dengan enam core efisiensi berkecepatan 3.63GHz. Chipset ini juga mendukung SME (Scalable Matrix Extensions), sebuah instruksi baru yang dioptimalkan untuk beban kerja AI dan machine learning.

Prototipe Galaxy S26 Edge yang diuji dilengkapi dengan 12GB RAM dan menjalankan Android 16, kemungkinan dengan versi awal One UI 8.0. Meski belum ada data langsung untuk membandingkannya dengan rival terberatnya, Dimensity 9500, Snapdragon 8 Elite 2 sudah unggul jauh dibanding Exynos 2600—bahkan dalam kondisi tidak maksimal. Exynos 2600 sendiri hanya mencetak 2.155 (single-core) dan 7.788 (multi-core) dalam tes yang sama.

Kapan Peluncuran Resminya?

Qualcomm dijadwalkan mengumumkan Snapdragon 8 Elite 2 secara resmi dalam acara Snapdragon Summit pada 23 September mendatang. Jika bocoran ini akurat, chipset ini akan menjadi jantung dari banyak flagship 2025, termasuk Galaxy S26 Ultra, Oppo Find X9 Ultra, dan Xiaomi 16.

Dengan peningkatan performa dan efisiensi yang signifikan, Snapdragon 8 Elite 2 berpotensi menjadi salah satu chipset paling diminati tahun depan. Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah ia bisa mengalahkan Dimensity 9500? Jawabannya mungkin baru kita dapatkan setelah kedua chipset ini resmi diluncurkan.

Canva Luncurkan Kampanye “Gampang di Canva” untuk UMKM Indonesia

0

Telset.id – Jika Anda seorang pelaku UMKM yang kerap kebingungan membuat desain menarik untuk promosi, Canva punya solusi yang mungkin akan mengubah segalanya. Platform desain visual global ini baru saja meluncurkan kampanye merek besar pertamanya di Indonesia bertajuk Gampang di Canva, sebuah inisiatif yang ditujukan untuk memberdayakan 60 juta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Tanah Air.

Kampanye ini terinspirasi dari dinamika ekosistem UMKM Indonesia yang penuh semangat namun seringkali terkendala sumber daya terbatas. Canva ingin menunjukkan bahwa desain berkualitas kini bisa diakses siapa saja—tanpa perlu keahlian khusus atau anggaran besar. Dengan alat berbasis AI yang mudah digunakan, bisnis lokal bisa tampil percaya diri di kancah global tanpa kehilangan identitas khasnya.

Kisah Nenek dan Toko Batik yang Hidup Kembali

Kampanye ini diwujudkan melalui film pendek penuh humor yang berlatar toko batik keluarga sepi pengunjung. Adegan pembuka menampilkan pemilik toko yang frustasi saat seorang teman menyarankan promosi di media sosial dengan kalimat klise, “Gampang kok!” Tanggapannya? “Gampang? Nenekmu nge-trail!”

Keajaiban pun terjadi. Mendiang nenek si pemilik toko tiba-tiba muncul dengan gaya trail motor spektakuler, lalu memperkenalkan keajaiban Canva. Film ini berubah menjadi tutorial interaktif saat sang nenek dengan penuh semangat mendemonstrasikan fitur-fitur Canva seperti template media sosial yang dilokalkan, alat edit foto praktis, hingga Magic Studio berbasis AI. Hasilnya? Toko batik itu kembali ramai, membuktikan kekuatan desain dalam mengubah nasib bisnis kecil.

Desain untuk Semua: Visi Canva di Pasar Indonesia

Ruoshan Tao, Kepala Pemasaran Asia Tenggara dan Amerika Latin Canva, menegaskan pentingnya desain bagi UMKM. “Usaha kecil adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Kunci membuka potensi mereka adalah visibilitas melalui desain hebat,” ujarnya. Kampanye ini menyampaikan pesan sederhana: desain tidak harus rumit. Dengan alat yang tepat, perubahan besar bisa dimulai dari hal-hal kecil.

Indonesia sendiri merupakan pasar terbesar ketiga Canva secara global. Platform ini telah menjalin kemitraan dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, menyediakan alat desain mudah akses, pelatihan keterampilan, dan konten berbasis budaya lokal. Saat ini, ada 84.000 pendidik, 270 kreator lokal, dan 65 Duta Canva yang aktif memajukan ekosistem desain di 32 provinsi.

Kampanye Gampang di Canva akan menyebar melalui TV, platform digital (YouTube, Meta, TikTok), kolaborasi dengan kreator konten, hingga aktivasi luar ruangan di titik strategis Jakarta seperti MRT dan halte bus. Seperti yang ditunjukkan sang nenek dalam film, solusi untuk UMKM mungkin lebih dekat dari yang Anda kira—tepat di ujung jari.

Garmin Quatix 8 Resmi Hadir di Indonesia, Smartwatch Maritim dengan Baterai Tahan 29 Hari

0

Telset.id – Bagi Anda yang gemar berlayar, memancing, atau sekadar menyukai gaya hidup aktif di laut, Garmin Indonesia baru saja menghadirkan solusi canggih di pergelangan tangan. Quatix 8, generasi terbaru smartwatch maritim dari Garmin, kini resmi tersedia dengan berbagai peningkatan signifikan yang siap menemani petualangan Anda di air maupun darat.

Smartwatch ini hadir dengan desain tangguh yang tidak main-main. Dibekali bezel titanium dan lensa safir tahan gores, Quatix 8 siap menghadapi kondisi ekstrem sekalipun. Yang menarik, perangkat ini kini dilengkapi speaker dan mikrofon bawaan, memungkinkan Anda menerima panggilan langsung dari jam tangan – fitur yang sangat berguna saat tangan Anda basah atau sedang sibuk mengemudikan kapal.

Desain Tangguh untuk Aktivitas Ekstrem

Garmin tidak main-main dalam mendesain Quatix 8. Smartwatch ini dibangun dengan casing yang dilindungi bezel titanium ringan namun kuat, serta kaca safir yang terkenal tahan gores. Layar AMOLED 1,4 inci yang jernih dilengkapi sensor cahaya untuk memastikan visibilitas optimal bahkan di bawah terik matahari.

Content image for article: Garmin Quatix 8 Resmi Hadir di Indonesia, Smartwatch Maritim dengan Baterai Tahan 29 Hari

Yang lebih mengesankan, Quatix 8 telah memenuhi standar ketahanan militer MIL-STD-810. Artinya, smartwatch ini mampu bertahan dalam suhu ekstrem dan guncangan keras. Tombol logamnya dirancang tahan bocor, dilengkapi pelindung sensor baru yang menjaga performa optimal saat digunakan dalam kondisi basah atau saat menyelam.

Bicara soal menyelam, Quatix 8 mendukung aktivitas penyelaman hingga kedalaman 40 meter. Fitur ini menjadikannya pilihan ideal bagi penggemar scuba diving atau freediving. Daya tahan baterainya pun luar biasa – hingga 16 hari untuk model 47mm dan 29 hari untuk model 51mm.

Fitur Maritim Lengkap di Pergelangan Tangan

“Quatix 8 dilengkapi fitur maritim andal yang membantu para pelaut mengendalikan kapal dengan percaya diri,” ujar Sky Chen, Regional Director of Garmin Southeast Asia. Dan memang, smartwatch ini bukan sekadar aksesori biasa.

Dengan perintah suara berbasis Bluetooth, Anda bisa mengendalikan Garmin chartplotter langsung dari pergelangan tangan. Mulai dari menavigasi jalur, menandai lokasi pemancingan favorit, hingga mengatur sistem hiburan Fusion di kapal. Quatix 8 juga kompatibel dengan Garmin trolling motors dan memberikan informasi real-time seperti kecepatan, arah, kedalaman air, hingga kecepatan angin.

Fitur maritim lainnya termasuk tide alerts (peringatan pasang surut), anchor drag (monitor jangkar), tack assist (bantuan manuver), dan regatta timer (penghitung waktu balapan). Semua fitur ini menjadikan Quatix 8 sebagai asisten ideal bagi pelaut profesional maupun rekreasional.

Harga dan Ketersediaan

Garmin Quatix 8 tersedia dalam dua ukuran dengan harga berbeda:

  • Quatix 8, 47 mm, AMOLED Saph, SEA: Rp 19.799.000
  • Quatix 8, 51 mm, AMOLED Saph, SEA: Rp 21.599.000

Smartwatch ini bisa didapatkan secara offline melalui Garmin Brand Store (GBS) seluruh Indonesia dan Garmin Official Stores Online. Dengan segudang fitur canggih dan desain tangguh, Quatix 8 siap menjadi pendamping setia petualangan maritim Anda.

Bagi yang tertarik dengan smartwatch premium lainnya, Huawei Watch GT 5 Series juga menawarkan berbagai fitur menarik dengan harga yang lebih terjangkau. Sementara Garmin Approach S62 bisa menjadi pilihan bagi pecinta olahraga golf.

YouTuber Ini Bangun Floppy Disk dari Nol, Nostalgia Teknologi yang Tak Terlupakan

0

Telset.id – Pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana rasanya menggunakan floppy disk di era digital seperti sekarang? Seorang YouTuber bernama polymatt memutuskan untuk menjawab rasa penasaran itu dengan cara yang spektakuler: membangun floppy disk drive dari nol. Proyek ini bukan sekadar nostalgia, melainkan bukti kecintaan terhadap rekayasa teknologi klasik yang sempat menjadi tulang punggung penyimpanan data sebelum akhirnya dinyatakan “mati” pada 2010.

Bagi generasi yang lahir setelah tahun 2000-an, floppy disk mungkin hanya dikenal sebagai ikon “simpan” di aplikasi komputer. Namun, medium penyimpanan ini pernah menjadi primadona dengan kapasitas 1,44 MB—cukup untuk menyimpan dokumen teks atau gambar resolusi rendah. Polymatt, dengan semangat eksperimen, mengukur dan mendesain ulang seluruh komponen floppy disk menggunakan perangkat lunak Shapr3D dan MakeraCAM sebelum memotong bagian aluminium dengan mesin CNC Carvera Air.

Polymatt membuat floppy disk dari bahan dasar

Bagian paling menantang? Membuat piringan magnetiknya. Polymatt memotong lembaran PET film dengan laser, lalu melapisinya dengan serbuk besi oksida. Setelah melalui beberapa percobaan, ia berhasil menulis data ke floppy disk buatannya—meski dalam tingkat yang sangat dasar. “Ini tentang membuktikan bahwa kita bisa menciptakan sesuatu dari awal, bahkan jika teknologi itu sudah punah,” ujarnya.

Floppy disk memang telah menjadi sejarah. Pemerintah Jepang baru saja menghentikan penggunaannya pada 2024, menyusul Angkatan Laut Jerman di tahun yang sama. Bahkan, AS masih menggunakan floppy disk 8 inci untuk sistem peluncuran nuklir hingga 2019. Namun, proyek polymatt mengingatkan kita bahwa teknologi lama tetap memiliki nilai edukasi dan sentimental.

Lantas, mengapa repot-repot membangun teknologi usang? Jawabannya sederhana: tantangan. Seperti halnya perdebatan tentang hilangnya jack headphone, floppy disk adalah simbol evolusi teknologi yang patut dikenang. Polymatt berharap proyeknya menginspirasi generasi muda untuk memahami dasar-dasar perangkat yang kini tergantikan oleh cloud storage dan USB flash drive.

Jika Anda penasaran dengan cara kerja floppy disk atau ingin melihat proses pembuatannya secara detail, channel YouTube polymatt layak dikunjungi. Siapa tahu, proyek selanjutnya adalah membuat CD dari scratch—seperti proses konversi lagu menjadi nada dering yang ternyata lebih rumit dari kelihatannya.

Bias Gender di AI Kesehatan: Studi Ungkap Ketimpangan Perawatan Medis

0

Telset.id – Jika Anda berpikir kecerdasan buatan (AI) selalu objektif dan adil, penelitian terbaru ini mungkin akan mengejutkan Anda. Sebuah studi dari London School of Economics and Political Science mengungkap bias gender yang mengkhawatirkan dalam model bahasa besar (LLM) yang digunakan di sektor kesehatan.

Penelitian ini menganalisis 617 catatan kasus nyata dari pekerja sosial di Inggris. Ketika catatan tersebut diproses oleh LLM seperti Meta’s Llama 3 dan Google’s Gemma, hasilnya menunjukkan perbedaan mencolok tergantung pada gender pasien. Kata-kata seperti “cacat”, “tidak mampu”, atau “kompleks” lebih sering dihilangkan ketika pasien berjenis kelamin perempuan.

Dua Wajah AI Kesehatan

Tim peneliti melakukan eksperimen sederhana namun powerful: mereka menukar gender pasien dalam catatan medis yang sama. Hasilnya? AI memberikan gambaran yang sangat berbeda. Misalnya, untuk pasien laki-laki berusia 84 tahun, Google’s Gemma menghasilkan ringkasan: “Tn. Smith adalah pria 84 tahun yang tinggal sendiri dan memiliki riwayat medis kompleks, tanpa paket perawatan dan mobilitas buruk.”

Sementara untuk catatan yang sama dengan gender perempuan, AI menyimpulkan: “Ny. Smith adalah wanita 84 tahun yang tinggal sendiri. Meskipun memiliki keterbatasan, dia mandiri dan mampu merawat dirinya sendiri.” Perbedaan ini berpotensi menyebabkan perempuan menerima perawatan yang tidak memadai.

Ilustrasi AI dalam dunia medis yang menunjukkan bias gender

Implikasi Serius bagi Pasien Perempuan

Dr. Sam Rickman, penulis utama studi ini, menyatakan kekhawatirannya: “Karena jumlah perawatan yang Anda dapatkan ditentukan berdasarkan kebutuhan yang dipersepsikan, ini bisa berakibat perempuan menerima lebih sedikit perawatan jika model bias digunakan dalam praktik.” Yang lebih mengkhawatirkan, otoritas Inggris telah menggunakan LLM dalam praktik perawatan tanpa transparansi tentang model apa yang digunakan.

Bias ini tidak hanya terbatas pada gender. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kelompok ras dan etnis minoritas serta komunitas LGBTQ juga sering menjadi korban bias AI dalam layanan kesehatan. Ini menjadi pengingat keras bahwa LLM hanya sebaik data yang melatihnya dan manusia yang mendesainnya.

Dalam dunia yang semakin mengandalkan AI untuk pengambilan keputusan medis, temuan ini memunculkan pertanyaan penting: Bagaimana kita bisa memastikan teknologi yang seharusnya membantu tidak justru memperkuat ketidakadilan yang sudah ada? Solusinya mungkin terletak pada transparansi yang lebih besar tentang model apa yang digunakan dan bagaimana mereka dilatih.

Seperti yang ditunjukkan oleh perkembangan teknologi wearable kesehatan dan perangkat medis pintar, integrasi teknologi dalam layanan kesehatan tidak bisa dihindari. Namun, studi ini mengingatkan kita bahwa tanpa pengawasan yang ketat, kemajuan teknologi bisa jadi pedang bermata dua.

Trump Tak Lagi Minta CEO Intel Mundur, Apa yang Terjadi?

0

Telset.id – Presiden AS Donald Trump tampaknya telah mengubah sikapnya terkait CEO Intel, Lip-Bu Tan. Setelah sebelumnya menyerukan pengunduran diri Tan karena dugaan konflik kepentingan dengan China, Trump kini justru memuji sang CEO dalam postingan terbarunya di Truth Social.

Dalam unggahan tersebut, Trump mengaku baru saja bertemu dengan Tan, Howard Lutnick (Menteri Perdagangan), dan Sekretaris Keuangan AS. Meski tidak merinci pembicaraan mereka, Trump menyebut pertemuan itu “sangat menarik” dan memuji kesuksesan Tan sebagai “kisah yang luar biasa.”

Dari Kritik ke Pujian

Perubahan sikap Trump ini mengejutkan banyak pihak. Sebelumnya, ia menuduh Tan “sangat bermasalah” karena investasinya di ratusan perusahaan China—beberapa di antaranya dikabarkan memiliki kaitan dengan militer China. Tuduhan ini muncul setelah surat dari Tom Cotton, ketua Komite Intelijen Senat AS dari Partai Republik, yang menyoroti kekhawatiran atas “keamanan dan integritas operasi Intel.”

Tan, yang baru menjabat sebagai CEO Intel pada Maret lalu, membantah semua tuduhan tersebut. Dalam suratnya kepada karyawan Intel, ia menegaskan bahwa dirinya selalu beroperasi dalam standar hukum dan etika tertinggi. “Intel sedang berkomunikasi dengan Gedung Putih untuk menyelesaikan masalah ini dan memastikan mereka memiliki fakta yang benar,” tulisnya, seperti dilaporkan Financial Times.

Lip-Bu Tan, CEO Intel, dalam konferensi pers terbaru

Tantangan Besar di Depan Mata

Tan mengambil alih Intel di tengah kondisi perusahaan yang sedang terpuruk. Bisnis foundry Intel kesulitan mendapatkan klien besar dan kalah bersaing dengan rival seperti Taiwan Semiconductor. Seperti dilaporkan sebelumnya di Telset, perusahaan ini bahkan berencana memangkas 22% karyawan hingga akhir tahun.

Belum lama ini, Tan juga mengisyaratkan kemungkinan Intel menghentikan pengembangan teknologi manufaktur generasi berikutnya jika tidak mendapatkan klien besar. Langkah ini menunjukkan betapa seriusnya tantangan yang dihadapi Intel di bawah kepemimpinannya.

Lalu, apa yang membuat Trump berubah pikiran? Spekulasi bermunculan. Beberapa analis menilai pertemuan tersebut mungkin membahas rencana Intel untuk memperkuat posisinya di AS, termasuk investasi dalam produksi chip domestik—sesuatu yang sejalan dengan agenda “America First” Trump.

Apapun alasannya, perubahan sikap Trump ini setidaknya memberikan sedikit kelegaan bagi Tan dan Intel. Namun, seperti dilaporkan di Telset sebelumnya, persaingan di industri chip semakin ketat. Tan masih punya pekerjaan rumah besar untuk membawa Intel kembali ke jalur kesuksesan.

Lenovo Legion Hadirkan Ekosistem Gaming Terbaru di Indonesia dengan Seabrek Produk Gaming

0

Telset.id – Jika Anda mengira ekosistem gaming hanya sekadar laptop atau PC, bersiaplah untuk terkesima. Lenovo Legion baru saja meluncurkan rangkaian produk terbarunya di Indonesia, mulai dari laptop, desktop, monitor, hingga aksesori canggih yang dirancang untuk mendorong para gamer mencapai performa maksimal dengan visi “Reach Your Impossible”.

Peluncuran ini bukan sekadar pembaruan spesifikasi biasa. Lenovo Legion membawa generasi terbaru prosesor Intel Core Ultra HX (Gen-2), sistem pendingin revolusioner, dan layar OLED yang memukau. Semua ini dikemas dalam ekosistem yang saling terhubung, menawarkan pengalaman gaming yang lebih holistik daripada sebelumnya.

Lenovo Legion Pro: Kekuatan untuk Gamer Kompetitif

Seri Legion Pro hadir dengan dua varian utama: Legion Pro 7i dan Legion Pro 5i, keduanya ditenagai prosesor Intel Core Ultra 9 275HX dan GPU NVIDIA GeForce RTX 5090. Dengan 24 core (8 performance + 16 efficiency), laptop ini mampu menangani game AAA, rendering video, hingga simulasi 3D tanpa lag.

Content image for article: Lenovo Legion Hadirkan Ekosistem Gaming Terbaru di Indonesia dengan Seabrek Produk Gaming

Yang membedakan adalah sistem pendingin Legion ColdFront Vapor Chamber dan Hyper Chamber terbaru. Teknologi ini memungkinkan overclocking ekstrem dengan TDP hingga 250W pada Legion Pro 7i. Layar PureSight WQXGA 16:10 OLED dengan refresh rate 240Hz dan waktu respons <0,5ms menjadikannya salah satu laptop gaming tercepat di pasaran.

Legion 7i & 5i: Performa Tanpa Kompromi untuk Semua

Bagi yang mencari keseimbangan antara gaming dan produktivitas, Lenovo menghadirkan Legion 7i dan Legion 5i. Keduanya menggunakan prosesor Intel Core Ultra HX generasi kedua dan GPU hingga NVIDIA RTX 5070. Desainnya 10% lebih tipis dan 7% lebih ringan, dengan bodi full metal yang premium.

Layar PureSight OLED pada Legion 7i (16 inci) dan Legion 5i (15 inci) menawarkan kecerahan 500 nits dan cakupan warna 100% DCI-P3. Keyboard Legion TrueStrike dengan travel key 1,5mm dan pencahayaan RGB per tombol membuat pengalaman mengetik maupun gaming semakin nyaman.

Monitor & Desktop: Lengkapi Pengalaman Gaming

Tak hanya laptop, Lenovo juga memperkenalkan dua monitor gaming: Legion Pro 34WD-10 (layar melengkung OLED 34 inci, 240Hz) dan Legion R34W-30 (180Hz, UWQHD 21:9). Fitur seperti Lenovo TrueSplit memungkinkan pembagian layar menjadi empat bagian, ideal untuk streamer.

Untuk penggemar desktop, Legion Tower 7i dan 5i hadir dengan prosesor Intel Core Ultra 9 285K dan GPU NVIDIA RTX 50-Series. Sistem pendingin cair Legion Coldfront Liquid pada Tower 7i memastikan performa maksimal dengan TDP 250W.

Tak ketinggalan, Legion Glasses 2 menghadirkan pengalaman virtual layar 126 inci dengan refresh rate 120Hz dan kecerahan 800 nits. Ringan (65 gram) dan nyaman dipakai lama, kacamata ini cocok untuk gaming maupun menonton konten.

Dukungan layanan purna jual termasuk 3 tahun Legion Ultimate Support dan Accidental Damage Protection membuat investasi gaming Anda lebih aman. Produk-produk ini sudah tersedia di Indonesia dengan harga mulai dari Rp 24,999,000 untuk Legion 5i hingga Rp 59,999,000 untuk Legion Pro 7i.

Realme Perpanjang Dukungan Update untuk Seri 14 dan 15, Ini Detailnya

0

Telset.id – Realme baru saja mengumumkan kebijakan pembaruan perangkat lunak yang lebih panjang untuk beberapa smartphone andalannya. Jika Anda pengguna Realme 15, Realme 15 Pro, Realme 14T, Realme 14 Pro, atau Realme 14 Pro+, kabar baik datang dari produsen asal Tiongkok ini. Perangkat-perangkat tersebut kini akan mendapatkan tiga pembaruan sistem operasi Android dan empat tahun pembaruan keamanan—satu tahun lebih lama dari yang dijanjikan sebelumnya.

Kebijakan baru ini menempatkan seri 14 dan 15 sejajar dengan lini Realme GT dalam hal dukungan pembaruan. Padahal, saat peluncuran, Realme hanya menjanjikan dua pembaruan Android dan tiga tahun pembaruan keamanan untuk perangkat-perangkat tersebut. Dengan perubahan ini, pengguna bisa bernapas lega karena perangkat mereka akan tetap relevan hingga tahun 2028.

Daftar Perangkat yang Mendapatkan Pembaruan Tambahan

Berikut adalah daftar lengkap perangkat yang kini mendapatkan dukungan pembaruan lebih lama:

  • Realme 15
  • Realme 15 Pro
  • Realme 14T
  • Realme 14 Pro
  • Realme 14 Pro+

Sayangnya, Realme 14x tidak termasuk dalam kebijakan baru ini. Namun, Francis Wong dari Realme mengonfirmasi bahwa kebijakan serupa akan berlaku untuk semua perangkat seri Number Pro, Number, dan Number T di masa depan. Kabar baik lainnya, pengguna seri P juga tak perlu khawatir karena detail pembaruan untuk lini tersebut akan diumumkan dalam waktu dekat.

Mengapa Pembaruan Jangka Panjang Penting?

Dukungan pembaruan yang lebih lama bukan sekadar janji kosong. Ini berarti perangkat Anda akan terus mendapatkan fitur-fitur terbaru dari Android, perbaikan performa, dan yang paling penting—perlindungan keamanan yang mutakhir. Dengan ancaman siber yang semakin canggih, memiliki smartphone dengan pembaruan keamanan terbaru adalah sebuah keharusan.

Selain itu, kebijakan ini juga menunjukkan komitmen Realme dalam memberikan nilai lebih kepada pelanggan. Jika Anda sedang mempertimbangkan untuk membeli smartphone baru, faktor dukungan pembaruan sebaiknya menjadi salah satu pertimbangan utama. Sebagai perbandingan, beberapa pesaing seperti Vivo X200 Ultra dan Xiaomi 15 Ultra juga menawarkan dukungan pembaruan jangka panjang.

Realme P4 Pro Muncul di Geekbench

Sementara itu, bocoran terbaru mengungkapkan bahwa Realme P4 Pro (dengan kode RMX5116) telah muncul di Geekbench. Smartphone ini dipastikan akan menggunakan chipset Snapdragon 7 Gen 4 dari Qualcomm. Hasil benchmark menunjukkan skor 1.216 untuk single-core dan 3.533 untuk multi-core. Perangkat ini juga akan dibekali dengan RAM 12GB dan sistem operasi berbasis Android 15.

Dengan kebijakan pembaruan yang diperpanjang, Realme semakin memperkuat posisinya di pasar smartphone mid-range. Jika Anda ingin mengetahui lebih banyak tentang smartphone Realme dengan baterai besar, simak ulasan kami tentang Realme C75 5G yang tahan banting dengan kapasitas baterai mengesankan.

Jadi, apakah smartphone Realme Anda termasuk dalam daftar yang mendapatkan pembaruan tambahan? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar!