Beranda blog Halaman 165

HyperOS 3 Xiaomi Segera Rilis: Bocoran Fitur dan Daftar Perangkat yang Didukung

0

Telset.id – Jika Anda pengguna setia Xiaomi, bersiaplah untuk menyambut pembaruan besar: HyperOS 3. Upgrade software terbaru ini dikabarkan akan membawa segudang peningkatan, mulai dari antarmuka yang lebih intuitif hingga performa sistem yang lebih gesit. Kabar baiknya, HyperOS 3 akan berbasis Android 16 yang dirilis Google lebih awal dari jadwal biasanya. Apa saja yang bisa Anda harapkan?

Xiaomi belum mengumumkan tanggal rilis resmi HyperOS 3. Namun, bocoran terbaru dari tipster terpercaya asal Tiongkok, Digital Chat Station, mengindikasikan bahwa beta testing akan dimulai pada Agustus mendatang. Jika mengikuti pola sebelumnya, uji beta biasanya berlangsung beberapa minggu sebelum versi stabil dirilis. Artinya, Anda mungkin bisa menikmati HyperOS 3 berbasis Android 16 pada akhir September atau awal Oktober.

Daftar Perangkat yang Didukung HyperOS 3

Meski belum ada pengumuman resmi, daftar perangkat yang kemungkinan besar akan menerima HyperOS 3 sudah mulai terkuak. Berikut adalah perkiraan berdasarkan kebijakan update Xiaomi dan pola rilis sebelumnya:

  • Xiaomi Series: Xiaomi 15, Xiaomi 15 Pro, Xiaomi 15 Ultra, Xiaomi 14, Xiaomi 14 Pro, Xiaomi 14 Ultra, Xiaomi 13, Xiaomi 13 Pro, Xiaomi 13 Ultra, dan seri lainnya.
  • Redmi Series: Redmi Note 14, Redmi Note 14 Pro, Redmi Note 13, Redmi Note 13 Pro, Redmi K80, Redmi K70, dan varian lainnya.
  • POCO Series: Poco F7, Poco F6, Poco X7, Poco M7, dan beberapa model lainnya.

Perlu diingat, daftar ini masih bersifat spekulatif. Xiaomi mungkin akan mengumumkan daftar resmi mendekati rilis. Seperti dilaporkan sebelumnya, perusahaan tampaknya sedang mengalihkan fokus ke HyperOS 3 dengan menghentikan dukungan untuk beberapa perangkat lama.

Apa yang Baru di HyperOS 3?

HyperOS 3 dikabarkan akan membawa sejumlah peningkatan signifikan. Berikut beberapa fitur yang paling dinantikan:

  • Antarmuka yang Lebih Intuitif: Laporan menyebutkan adanya penyempurnaan UI dengan transisi yang lebih halus dan responsivitas sistem yang ditingkatkan.
  • Manajemen Sumber Daya yang Lebih Baik: HyperOS 3 diharapkan dapat mengoptimalkan penggunaan RAM dan CPU untuk performa yang lebih stabil.
  • Fitur Keamanan Unggulan: Integrasi Advanced Protection Mode dari Android 16 akan memberikan lapisan keamanan tambahan bagi perangkat Xiaomi.

Tak hanya itu, HyperOS 3 juga akan membawa fitur-fitur baru dari Android 16 seperti Live Updates yang lebih canggih dan pengelompokan notifikasi yang lebih terorganisir. Dengan semua peningkatan ini, apakah Xiaomi akan semakin mendekatkan diri ke jajaran raksasa software seperti Apple dan Samsung?

Menariknya, pembaruan ini datang di saat Xiaomi sedang berfokus pada pengembangan teknologi in-house. Mungkinkah HyperOS 3 menjadi bukti kemandirian Xiaomi dalam hal software?

Sementara menunggu pengumuman resmi, pastikan perangkat Anda termasuk dalam daftar yang didukung. Dan jangan lupa untuk terus mengikuti perkembangan terbaru seputar HyperOS 3 di Telset.id.

Perplexity AI Tawarkan $34,5 Miliar untuk Akuisisi Chrome dari Google

0

Telset.id – Dalam langkah berani yang bisa mengubah peta persaingan browser dunia, startup berbasis AI asal San Francisco, Perplexity AI, dikabarkan menawarkan $34,5 miliar tunai untuk mengakuisisi Chrome dari Google. Tawaran spektakuler ini muncul di tengah tekanan antitrust yang semakin menguat terhadap raksasa teknologi asal Mountain View tersebut.

Perplexity—yang baru saja meluncurkan browser berbasis AI bernama Comet—ternyata menyimpan ambisi lebih besar. Dengan valuasi $18 miliar dan dukungan modal ventura, perusahaan ini berani membuat penawaran yang bahkan membuat industri terbelalak. Uniknya, mereka berjanji akan mempertahankan Chromium sebagai open-source dan tetap menggunakan Google sebagai mesin pencari default—strategi yang jelas ditujukan untuk meredam kekhawatiran regulator.

Permainan Strategis di Tengah Badai Antitrust

Langkah Perplexity ini bukan tanpa alasan. Keputusan Departemen Kehakiman AS tahun 2024 yang memerintahkan Google untuk melepas Chrome menjadi momentum sempurna. “Ini seperti mengambil mahkota di saat sang raja sedang lemah,” ujar seorang analis yang enggan disebutkan namanya. Apalagi, sejumlah pemain lain seperti OpenAI dan Yahoo juga dikabarkan tertarik.

Dengan 3 miliar pengguna aktif, Chrome adalah aset strategis yang bisa mengubah peta persaingan AI. Sebelumnya, Perplexity sudah menunjukkan ketertarikannya pada platform besar dengan mencoba mengakuisisi operasi TikTok di AS—meski akhirnya gagal. Kini, dengan dana $1 miliar yang sudah dihimpun dan janji investasi tambahan $3 miliar untuk pengembangan Chrome, mereka tampak serius.

Google Bertahan, Masa Depan Browser Dipertaruhkan

Google sendiri belum berniat melepas Chrome. Mereka sedang mengajukan banding atas keputusan antitrust sambil berargumen bahwa pemisahan paksa bisa merugikan bisnis intinya. Bagaimanapun, dengan pangsa pasar lebih dari 50% di AS, Chrome tetap menjadi raja tanpa mahkota alternatif yang jelas.

Jika tawaran ini diterima—meski peluangnya kecil—Perplexity akan langsung menjadi pemain utama di kancah browser dan AI. Sebaliknya, penolakan Google bisa memicu perang baru di industri teknologi, di mana perusahaan-perusahaan AI semakin agresif menantang dominasi pemain mapan.

Apapun hasilnya, satu hal yang pasti: pertarungan untuk menguasai gerbang internet kita baru saja memasuki babak baru yang lebih panas dari sebelumnya.

Red Magic Astra Resmi Meluncur: Tablet Gaming dengan Performa Elite

0

Telset.id – Setelah menunggu lama, Red Magic Astra akhirnya resmi meluncur di pasar global. Tablet gaming premium ini sebelumnya hanya tersedia dalam periode pre-order yang cukup panjang. Kini, para gamer di Amerika Serikat, Eropa, dan wilayah lainnya bisa langsung membelinya. Lalu, apa saja yang ditawarkan tablet seharga 499 Euro ini?

Red Magic Astra pertama kali diperkenalkan ke pasar global awal bulan lalu. Perangkat ini membawa spesifikasi yang benar-benar ditujukan untuk pengalaman gaming kelas atas. Layarnya berukuran 9,06 inci dengan panel OLED yang menawarkan resolusi 2400 x 1504 piksel. Yang lebih mengesankan, refresh rate-nya mencapai 165Hz dengan dukungan PWM dimming 5280Hz dan sertifikasi TÜV Rheinland untuk mengurangi blue light dan flicker.

Dapur Pacu Elite untuk Gaming Tanpa Kompromi

Di balik bodinya, Red Magic Astra ditenagai oleh chipset Snapdragon 8 Elite yang dipadukan dengan RAM hingga 25GB dan penyimpanan UFS 4.1 Pro berkapasitas 1TB. Kombinasi ini menjanjikan performa gaming yang mulus bahkan untuk game-game berat sekalipun. Seperti yang pernah kami bahas dalam artikel sebelumnya, chipset ini memang dirancang khusus untuk perangkat gaming high-end.

Tablet ini menjalankan sistem operasi Android 15 dengan antarmuka kustom RedMagic OS 10.5 yang dilengkapi Cube Game Engine. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk menyesuaikan berbagai aspek performa sesuai kebutuhan gaming mereka. Untuk daya tahan, Red Magic Astra mengandalkan baterai berkapasitas besar 8.200mAh dengan dukungan pengisian cepat 80W. Yang menarik, tablet ini juga memiliki fitur bypass charging yang menjaga suhu tetap stabil selama sesi gaming marathon.

Spesifikasi Audio dan Konektivitas Premium

Untuk pengalaman audio, Red Magic Astra dilengkapi dengan konfigurasi stereo speaker ganda yang mendukung spatial audio. Ini akan memberikan pengalaman gaming yang lebih imersif, terutama untuk game-game dengan desain audio 3D. Dari sisi konektivitas, tablet ini sudah mendukung Wi-Fi 7, Bluetooth 5.4, dan port USB Type-C 3.2 Gen 2. Keamanan dijamin melalui sensor sidik jari samping yang cepat dan akurat.

Red Magic Astra tersedia dalam tiga varian konfigurasi dengan harga yang bervariasi:

  • 12GB RAM + 256GB penyimpanan: $549/€499/£439
  • 16GB RAM + 512GB penyimpanan: $699/€649/£559
  • 24GB RAM + 1TB penyimpanan: $899/€849/£739

Tablet gaming ini hadir dalam dua pilihan warna: Eclipse Black dan Starfrost Silver. Dengan spesifikasi seperti ini, Red Magic Astra jelas ingin bersaing ketat dengan produk-produk gaming premium lainnya di pasaran.

Bagi Anda yang mencari tablet gaming dengan performa elite dan fitur lengkap, Red Magic Astra patut dipertimbangkan. Apalagi dengan dukungan chipset Snapdragon 8 Elite yang juga digunakan di smartphone gaming flagship Red Magic, pengalaman gaming di perangkat ini dijamin akan sangat memuaskan.

Cara Setting Projector di Ruang Kerja Kecil untuk WFH dan Hiburan

0

Telset.id – Projector kini bukan lagi sekadar alat presentasi di ruang rapat atau bioskop. Dengan tren work from home (WFH) yang terus berkembang, proyektor menjadi solusi cerdas untuk ruang kerja terbatas sekaligus hiburan setelah jam kantor. Bayangkan, dinding kosong di sudut ruangan bisa berubah menjadi layar raksasa untuk rapat Zoom atau maraton film favorit.

Namun, memilih dan memasang proyektor di ruang kecil tidak semudah kelihatannya. Faktor seperti jarak proyeksi, pencahayaan, hingga manajemen kabel bisa membuat pengalaman WFH atau menonton jadi tidak nyaman. Berikut panduan lengkap dari Telset.id untuk memaksimalkan proyektor di ruang kerja minimalis.

1. Memilih Proyektor yang Tepat untuk Ruang Sempit

Sebelum membeli, pertimbangkan tiga faktor kunci:

  • Jarak Proyeksi & Kecerahan: Proyektor short-throw atau ultra-short-throw bisa memproyeksikan gambar besar dari jarak dekat (1-2 meter). Pilih yang memiliki minimal 2.000 lumens agar gambar tetap jelas meski ruangan terang.
  • Resolusi & Konektivitas: 1080p adalah standar minimal untuk kerja dan hiburan. Pastikan ada port HDMI atau dukungan wireless seperti Miracast/AirPlay agar mudah terhubung dengan laptop atau smartphone.
  • Kebisingan & Pendinginan: Kipas yang berisik akan mengganggu konsentrasi. Cek desain ventilasi untuk menghindari overheating di ruang sempit.

Proyektor short-throw di meja kerja kecil

2. Trik Penempatan untuk Kualitas Gambar Optimal

Lokasi proyektor menentukan kenyamanan penggunaan sehari-hari:

  • Atur Pencahayaan: Gunakan tirai blackout jika ruangan terlalu terang. Hindari meletakkan proyektor berlawanan dengan jendela untuk mengurangi silau.
  • Ketinggian Layar: Posisikan layar setinggi mata atau sedikit di atasnya. Layar terlalu tinggi/rendah menyebabkan leher cepat pegal.
  • Ventilasi: Jangan sembunyikan proyektor di rak tertutup. Beri jarak minimal 15 cm di sekitar ventilasi udara.

3. Layar vs Dinding: Mana Lebih Baik?

Keduanya punya kelebihan berbeda:

  • Layar Proyektor: Memberikan warna lebih akurat dan kontras tinggi. Cocok untuk presentasi profesional atau menonton film serius. Beberapa model portabel bisa dilipat setelah digunakan.
  • Dinding Polos: Solusi praktis tanpa biaya tambahan. Pastikan permukaan rata, berwarna putih atau abu-abu muda, dan bebas tekstur. Hindari dinding bertekstur atau warna krem yang bisa mengubah gradasi warna.

Perbandingan proyeksi di layar vs dinding

4. Koneksi Tanpa Ribet: Kabel vs Nirkabel

Proyektor modern menawarkan berbagai opsi:

  • Kabel (HDMI/USB-C): Lebih stabil untuk rapat penting atau gaming. Gunakan pengatur kabel agar tidak berantakan di lantai.
  • Nirkabel (Chromecast/AirPlay): Solusi terbaik untuk ruang rapi. Pastikan sinyal Wi-Fi kuat dan proyektor serta perangkat terhubung ke jaringan yang sama.

Jika screen mirroring gagal, coba restart proyektor dan perangkat, atau perbarui firmware proyektor. Masalah koneksi sering teratasi dengan update sederhana.

Koneksi nirkabel proyektor ke laptop dan smartphone

5. Tips Tambahan untuk Pengalaman Terbaik

  • Audio: Speaker bawaan proyektor biasanya kurang powerful. Tambahkan soundbar mini atau speaker Bluetooth seperti yang digunakan di Garmin Approach R50 untuk kualitas suara lebih baik.
  • Pemeliharaan: Bersihkan lensa dengan kain microfiber dan debu di ventilasi secara berkala. Overheating memperpendek umur proyektor.
  • Dual Fungsi: Atur pencahayaan berbeda untuk mode kerja (cahaya cukup) dan hiburan (redupkan lampu). Beberapa proyektor memiliki preset gambar yang bisa disesuaikan.

Dengan setup yang tepat, proyektor bisa menjadi investasi cerdas untuk ruang kerja kecil. Tidak hanya menghemat tempat, tetapi juga meningkatkan produktivitas WFH dan kualitas hiburan setelah jam kerja. Tertarik mencoba?

Telkomsel, Nuon, dan Bango Bawa Microsoft PC Game Pass ke Indonesia

0

Telset.id – Telkomsel, Nuon Digital Indonesia, dan Bango resmi berkolaborasi menghadirkan Microsoft PC Game Pass bagi gamer Indonesia melalui layanan IndiHome Add-On. Kemitraan ini memungkinkan pelanggan mengakses ratusan game PC premium dengan harga terjangkau dan proses aktivasi yang mudah.

Dengan biaya langganan Rp63.063 per bulan (belum termasuk PPN), pengguna bisa menikmati game-game terbaru dari Xbox Game Studios, Bethesda Softworks, Activision Blizzard, serta keanggotaan EA Play. Layanan ini juga menyertakan bonus eksklusif dari Riot Games seperti skin dan mata uang dalam game.

Kemudahan Akses dan Promo Menarik

Pelanggan dapat mengaktifkan PC Game Pass melalui laman IndiHome Add-On, dengan biaya otomatis terintegrasi ke tagihan bulanan. Setelah transaksi, kode aktivasi akan dikirim untuk digunakan di aplikasi Xbox di Windows.

Bagi 500 pelanggan pertama, tersedia promo “First-Month-Free” yang berlaku mulai 14 Agustus 2025. “Kami ingin memastikan gamer Indonesia bisa merasakan pengalaman premium tanpa hambatan,” ujar Lesley Simpson, VP Digital Lifestyle Telkomsel.

Dukungan Teknologi Bango

Kolaborasi ini memanfaatkan teknologi Digital Vending Machine® (DVM™) dari Bango untuk memproses pembayaran dan distribusi kode secara otomatis. “Solusi kami memungkinkan operator memberikan nilai tambah sekaligus meningkatkan retensi pelanggan,” jelas Paul Larbey, CEO Bango.

Nuon juga menyediakan alternatif pembelian melalui platform UPOINT.ID dengan berbagai metode pembayaran digital. “Ini bagian dari komitmen kami memperluas akses gaming berkualitas,” tambah Aris Sudewo, CEO Nuon Digital Indonesia.

Layanan ini menghadirkan deretan game populer seperti Call of Duty, Valorant, dan Football Manager 2024, memperkuat tren gaming berlangganan di Indonesia. Untuk perangkat pendukung, gamer bisa mempertimbangkan Xbox Ally yang baru diluncurkan Microsoft dan ASUS.

Gemini AI di Galaxy Z Flip7: Sahabat Konten Olahraga yang Kreatif

0

Telset.id – Jika Anda berpikir smartphone lipat hanya untuk gaya, Galaxy Z Flip7 dengan Gemini AI siap mengubah persepsi itu. Perangkat ini bukan sekadar gadget, melainkan partner kreatif yang memudahkan pembuatan konten olahraga, khususnya padel, dengan sentuhan teknologi canggih.

Dalam peluncurannya di Jakarta, 14 Agustus 2025, Samsung memperkenalkan Galaxy Z Flip7 sebagai solusi bagi para pecinta olahraga yang ingin mengekspresikan gaya hidup aktif mereka melalui konten digital. Dengan kombinasi desain foldable yang ramping, layar FlexWindow yang lebih luas, dan kecerdasan buatan Gemini AI, perangkat ini dirancang untuk memudahkan setiap tahap pembuatan konten—dari persiapan hingga editing.

Gemini AI: Asisten Cerdas di Layar Depan

FlexWindow berukuran 4,1 inci pada Galaxy Z Flip7 tidak hanya menampilkan notifikasi, tetapi juga menjadi pintu gerbang ke Gemini AI. Pengguna bisa langsung bertanya tentang ide konten, rekomendasi outfit, atau bahkan teknik pemanasan yang tepat sebelum berolahraga. Cukup berikan prompt seperti, “Gemini, bagaimana melakukan stretching yang benar?”, dan AI akan memberikan saran real-time.

Seperti yang diungkapkan Cindy Gulla, content creator yang kerap membagikan momen olahraganya, “Dengan Gemini Live Camera, aku tinggal arahkan kamera ke outfit atau raket Padel, lalu bertanya mana yang paling cocok. Ini bikin persiapan jadi lebih efisien!”

Rekam Momen dengan Fleksibilitas Tanpa Batas

Fitur FlexCam memungkinkan pengguna merekam video dari berbagai sudut tanpa perlu memegang perangkat. Gemini AI bahkan bisa memberikan rekomendasi angle estetik untuk konten olahraga. Misalnya, dengan prompt “Saran framing untuk merekam smash padel dari sudut rendah”, pengguna bisa mendapatkan ide kreatif dalam hitungan detik.

Tak hanya itu, durabilitas Galaxy Z Flip7 didukung Armor FlexHinge dan Corning Gorilla Glass Victus 2, membuatnya tahan banting di lapangan padel yang kasar. Dengan ketahanan hingga 500.000 kali lipatan, perangkat ini siap menemani aktivitas intens selama bertahun-tahun.

Editing Cepat dengan Galaxy AI

Setelah merekam, proses editing menjadi lebih mudah berkat fitur seperti Audio Eraser untuk menghilangkan noise, Generative Edit untuk memperbaiki foto, dan Auto Trim yang secara otomatis memilih bagian video terbaik. Bahkan, Gemini AI bisa membantu membuat caption yang engaging untuk media sosial.

Dengan baterai 4.300mAh yang tahan lama, Galaxy Z Flip7 memastikan Anda tidak kehabisan daya di tengah sesi pembuatan konten. Seperti yang diakui Cindy, “Baterainya tahan seharian, jadi aku bisa bikin konten maksimal meski main padel malam hari.”

Galaxy Z Flip7 tersedia dalam pilihan warna Blue Shadow, Jetblack, Coral-red, dan Mint (eksklusif online), dengan harga mulai Rp17.999.000. Periode promo 15 Agustus-15 September 2025 juga menawarkan trade-in senilai Rp2 juta dan cashback bank Rp1 juta.

Dengan segala keunggulannya, Galaxy Z Flip7 bukan sekadar smartphone—ia adalah teman kreatif yang siap mengubah setiap momen olahraga Anda menjadi konten inspiratif.

Smartphone AI untuk Traveler: Apa yang Bikin HONOR 400 Berbeda?

0

Telset.id – Perjalanan panjang sering kali mengajarkan satu hal: kita butuh lebih dari sekadar perangkat pintar—kita butuh perangkat yang mengerti kita. Dan itulah kesan pertama saya setelah membawa HONOR 400 menjelajahi dua kota lintas negara, Singapura dan Johor Bahru. Bukan hanya karena kameranya, bukan pula semata-mata karena daya tahan baterainya, tapi karena kemampuannya membaca kebutuhan pengguna dengan kecerdasan yang terasa personal.

Di era di mana AI sudah menjadi buzzword di hampir setiap peluncuran smartphone, HONOR 400 berhasil membuktikan bahwa integrasi AI bukan sekadar pelengkap, tapi bisa menjadi inti pengalaman.

AI yang Bekerja Senyap, Namun Cerdas

Pagi hari di Singapura, saya memotret keramaian stasiun MRT saat golden hour. Lalu lintas manusia padat, pencahayaan tidak stabil, dan saya hanya punya waktu sekilas untuk mengabadikannya. Saya angkat HONOR 400, bidik, dan… klik. Hasilnya mengejutkan.

AI Eraser 2.0 otomatis mendeteksi orang yang melintas di latar belakang dan menawarkan opsi untuk menghapusnya. Tidak perlu saya retouch di Photoshop. Semua dilakukan langsung, cepat, dan rapi.

AI Eraser 2.0 di Honor 400
AI Eraser 2.0 di Honor 400

Beberapa langkah kemudian, saya coba mengambil foto dari kaca gedung bertingkat. Refleksi yang biasanya merusak komposisi, dengan tenang diatasi oleh AI Remove Reflection. AI tidak hanya menjadi fitur tambahan, tapi benar-benar mendampingi proses kreatif saya secara aktif, seperti asisten pribadi yang tahu kapan harus membantu.

Bahkan ketika saya ingin memotret gedung-gedung ikonik namun terhalang oleh sudut pandang yang sempit, AI Outpainting hadir bak kanvas tak berbatas. Ia secara otomatis “memperluas” sisi-sisi foto, menambahkan detail yang konsisten dengan latar, sehingga frame tampak utuh tanpa harus mengorbankan bagian penting. Hasilnya? Foto bisa dipakai langsung sebagai wallpaper tanpa repot cropping atau editing manual.

Begitu juga saat memotret suasana jalanan di Johor Bahru. Saya aktifkan HD Moving Photo—fitur yang merekam tiga detik momen sebelum dan sesudah foto diambil. Hembusan angin, gerak lampu neon, atau sekilas senyum orang yang melintas, semuanya terekam menjadi potongan momen hidup yang memberi kedalaman pada kenangan. Foto tak lagi statis, tapi punya cerita yang terus bergerak.

MagicOS 9.0: Sistem Operasi yang Mengerti Ritme Traveler

Saat berpindah ke Johor Bahru, saya mulai menyadari bahwa bukan hanya kameranya yang cerdas, tapi sistem operasinya pun terasa ‘hidup’.

Fitur Magic Portal di MagicOS 9.0, misalnya, memungkinkan saya untuk langsung menyeret teks dari artikel dan mengirimkannya ke WhatsApp atau Google Maps hanya dengan lingkaran jari. Tidak perlu copy-paste. Tidak perlu buka banyak tab. Interaksi menjadi natural, intuitif, dan efisien.

AI subtitle, translate, dan notes di Honor 400
AI subtitle, translate, dan notes di Honor 400

Fitur lain yang saya rasakan manfaatnya secara nyata adalah AI Subtitles dan AI Live Translate. Saat sedang ngobrol dengan sopir taksi online asal Malaysia yang berbahasa campur-campur, saya aktifkan AI Translation dan secara real-time, suara mereka diterjemahkan menjadi teks dalam bahasa Indonesia. Bukan hanya membantu komunikasi, tapi memberi rasa percaya diri ketika berinteraksi lintas budaya.

Bagi saya yang sering mencatat wawancara di jalan, AI Notes di HONOR 400 adalah hadiah. Saya bisa merekam suara, lalu AI merangkum, merapikan, bahkan memberi highlight poin-poin penting secara otomatis. Sesuatu yang biasanya saya lakukan berjam-jam, kini selesai dalam hitungan menit.

Smartphone AI yang Tidak Ribet Dipakai

Satu hal yang kerap terlupakan dalam pembahasan teknologi adalah: kenyamanan pakai harian. Fitur boleh canggih, tapi jika sulit digunakan atau boros daya, tetap tidak layak dibawa jauh.

HONOR 400 berhasil menyeimbangkan semuanya. Dengan baterai 6.000mAh, saya bisa menjelajah seharian penuh tanpa panik kehabisan daya. Pengisian cepat 66W juga membantu saat waktu charging hanya tersedia selama sarapan.

Layar AMOLED-nya yang terang (hingga 5.000 nits) memungkinkan saya tetap membaca navigasi meski di tengah terik siang. UI MagicOS 9.0 juga terasa ringan dan tidak mengganggu fokus saat harus multitasking antara Maps, Kamera, dan WhatsApp secara bersamaan.

Ini bukan smartphone yang memaksa pengguna beradaptasi. Ini smartphone yang beradaptasi dengan pengguna.

Jadi, Apa yang Membuat HONOR 400 Berbeda?

Jawabannya bukan hanya soal spesifikasi. Tapi soal pendekatan.

HONOR 400 tidak mencoba menjadi “yang paling pintar”, tapi “yang paling memahami”. Dengan kecerdasan buatan yang kontekstual, desain fitur yang human-centric, dan sistem operasi yang menjembatani produktivitas dan ekspresi visual, HONOR 400 adalah smartphone AI yang diciptakan untuk mereka yang bergerak, mengeksplorasi, dan ingin bebas mencipta di mana saja.

Bagi traveler, digital nomad, atau siapa pun yang hidup dari mobilitas dan ide, HONOR 400 bukan hanya perangkat. Ia adalah mitra.

Sam Altman dan OpenAI Siap Hadapi Neuralink dengan Startup BCI Baru

0

Telset.id – CEO OpenAI Sam Altman dikabarkan sedang mempersiapkan perusahaan baru di bidang antarmuka otak-komputer (brain-computer interface/BCI) untuk bersaing langsung dengan Neuralink milik Elon Musk. Menurut laporan Financial Times, OpenAI berencana berinvestasi besar di Merge Labs, startup BCI yang menargetkan valuasi US$850 juta.

Merge Labs didirikan bersama oleh Altman dan Alex Bania, CEO sekaligus salah satu pendiri World, perusahaan kontroversial yang mengembangkan teknologi pemindaian mata berbasis kripto. Meski akan tercatat sebagai salah satu pendiri, Altman tidak akan menginvestasikan dana pribadinya ke Merge Labs.

Langkah OpenAI ini terbilang mengejutkan, namun masuk akal mengingat Merge Labs berencana memanfaatkan kemajuan AI untuk mengembangkan BCI yang lebih baik—tujuan yang juga diusung Neuralink. Meski detail proyek ini masih minim, Altman diketahui telah lama tertarik dengan teknologi BCI. Pada 2017, ia bahkan menulis di blog pribadinya bahwa manusia mungkin akan “berintegrasi” dengan mesin pada 2025.

Persaingan Panjang Altman vs. Musk

Perseteruan antara Altman dan Musk telah berlangsung sejak lama. Musk, yang sempat menjadi bagian dari dewan OpenAI, keluar pada 2018 setelah berselisih dengan Altman mengenai arah perusahaan. Musk kemudian mendirikan xAI pada 2023 dan menggugat OpenAI, menuduh perusahaan tersebut meninggalkan misi nirlaba awalnya.

Neuralink, yang didirikan Musk pada 2016, saat ini memimpin pasar BCI dengan valuasi mencapai US$9 miliar. Namun, dengan dukungan OpenAI, Merge Labs berpotensi menjadi pesaing serius. Seperti Starfish Neuroscience dan perusahaan BCI lainnya, Merge Labs akan berfokus pada pengembangan teknologi yang memadukan AI dan neurosains.

Kedua tokoh teknologi ini tampaknya tetap konsisten dengan visi mereka tentang masa depan manusia dan mesin. Sementara Neuralink telah mencapai kemajuan signifikan, termasuk uji coba pada manusia, Merge Labs masih dalam tahap awal. Namun, dengan sumber daya OpenAI, startup ini bisa menjadi ancaman serius bagi dominasi Neuralink.

GPT-5 Gagal Memenuhi Ekspektasi, AI Dinilai Tak Makin Canggih

0

Telset.id – Peluncuran GPT-5 dari OpenAI ternyata tidak memenuhi harapan banyak pihak. Meski industri swasta terus menggelontorkan miliaran dolar untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI), komunitas penelitian meragukan adanya kemajuan signifikan.

Gary Marcus, ilmuwan saraf dan kritikus OpenAI, mengungkapkan kepada The New Yorker bahwa AI tidak menunjukkan peningkatan berarti meski telah dikembangkan bertahun-tahun dengan biaya besar. “Saya tidak mendengar banyak perusahaan yang menggunakan AI mengatakan model 2025 jauh lebih berguna daripada model 2024, meski performanya lebih baik dalam benchmark,” kata Marcus.

Sejak 2020, Marcus telah mendorong pendekatan praktis dalam pengembangan AI, berbeda dengan strategi “konsumen umum” yang diusung perusahaan seperti OpenAI dan Anthropic. Di AS, fokusnya adalah pada “AI yang dapat diskalakan”, yang mengutamakan pertumbuhan finansial cepat ketimbang teknologi yang benar-benar bermanfaat.

Kritik Terhadap Pengembangan AI yang Tidak Berkelanjutan

Pendekatan ini melibatkan penambahan chip grafis secara masif, yang membutuhkan lebih banyak pusat data, energi, dan modal. CEO OpenAI, Sam Altman, pernah berteori pada 2021 bahwa investasi besar akan menghasilkan peningkatan kemampuan AI secara eksponensial—bahkan mencapai Kecerdasan Buatan Umum (AGI), di mana AI memiliki kecerdasan setara manusia.

Namun, kenyataannya teknologi ini tidak mengalami kemajuan berarti. Kritikus seperti Michael Rovatsos dari University of Edinburgh menyatakan bahwa rilis GPT-5 mungkin menandai akhir dari tren pembuatan model AI yang semakin rumit dan tidak bisa dipahami.

Dunia Keuangan Mulai Meragukan AI

Survei terhadap 475 peneliti AI pada Maret lalu menyimpulkan bahwa AGI sangat tidak mungkin tercapai dengan pendekatan saat ini. Bahkan Bill Gates, pendiri Microsoft, telah menyatakan pada 2023 bahwa AI yang dapat diskalakan telah mencapai “plateau”.

Kini, investor di sektor finansial pun mulai meragukan janji-janji besar AI. Meski CoreWeave, mitra pusat data OpenAI, mencatat kinerja kuartal kedua yang lebih baik dari perkiraan, sahamnya anjlok 16%. Ini bisa menjadi tanda bahwa gelembung AI mulai pecah.

Seperti yang terjadi di industri lain, seperti pertarungan para jawara games atau menaklukkan puncak Everest via VR, AI perlu menemukan kembali arah pengembangannya agar tidak terjebak dalam ekspektasi berlebihan.

OpenAI Kembali Hadirkan GPT-4o Setelah Protes Pengguna

0

Telset.id – OpenAI akhirnya mengembalikan GPT-4o untuk pengguna berbayar setelah model tersebut digantikan secara tiba-tiba oleh GPT-5 yang dinilai lebih dingin dan kurang responsif. Keputusan ini diumumkan CEO Sam Altman melalui akun X (Twitter) sebagai respons atas protes keras dari pengguna setia.

Dalam cuitannya, Altman mengonfirmasi bahwa GPT-4o kini tersedia kembali di menu pemilihan model untuk semua pengguna berbayar. “Kami akan memberikan pemberitahuan jauh-jauh hari jika benar-benar akan menghentikan GPT-4o,” tulisnya, mengakui besarnya ketergantungan pengguna pada model tersebut.

Peluncuran GPT-5 pekan lalu berlangsung kontroversial. OpenAI mengganti semua versi sebelumnya tanpa peringatan, termasuk menghilangkan GPT-4o yang populer karena sifatnya yang lebih ramah dan “sok baik”. Banyak pengguna mengeluhkan perubahan drastis dalam kepribadian chatbot ini, bahkan beberapa melaporkan pengalaman emosional yang negatif.

Altman juga mengungkapkan bahwa OpenAI sedang mengerjakan pembaruan untuk kepribadian GPT-5. “Versi baru akan terasa lebih hangat daripada sekarang, tapi tidak semenyebalkan (bagi kebanyakan pengguna) seperti GPT-4o,” janjinya.

Respons cepat OpenAI ini mengindikasikan kesadaran perusahaan akan tingkat ketergantungan pengguna pada AI yang bersifat terlalu akomodatif. Padahal, sifat ini telah dikaitkan dengan berbagai masalah psikologis, termasuk ketergantungan emosional dan gangguan persepsi realitas pada beberapa pengguna.

Altman menambahkan bahwa pelajaran terbesar dari peluncuran GPT-5 adalah kebutuhan akan kustomisasi kepribadian model yang lebih personal. “Kami perlu menciptakan dunia di mana setiap pengguna bisa menyesuaikan kepribadian model sesuai preferensi,” ujarnya.

Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan etis: sejauh mana perusahaan harus mengakomodasi preferensi pengguna yang mungkin berdampak negatif bagi kesehatan mental? Seperti diungkapkan dalam visi Altman sebelumnya, OpenAI terus berusaha menyeimbangkan inovasi dengan tanggung jawab sosial.

Sementara itu, keputusan untuk mempertahankan GPT-4o sambil memperbaiki GPT-5 menunjukkan fleksibilitas OpenAI dalam merespons umpan balik pengguna. Langkah ini juga menggarisbawahi kompleksitas mengembangkan AI yang seimbang antara kemampuan teknis dan interaksi manusiawi.

AI Deteksi Kanker Justru Turunkan Kemampuan Dokter

0

Telset.id – Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa penggunaan AI untuk deteksi kanker justru menurunkan kemampuan dokter dalam mengidentifikasi pertumbuhan pra-kanker. Penelitian yang dipublikasikan di The Lancet Gastroenterology and Hepatology ini menunjukkan penurunan 20% dalam tingkat deteksi adenoma setelah implementasi AI.

Tim peneliti dari Medical University of Silesia, Polandia, mengamati 19 dokter dari empat praktik endoskopi antara September 2021 dan Maret 2022. Hasilnya, para dokter menjadi kurang teliti setelah menggunakan bantuan AI. Fenomena ini disebut sebagai efek “deskilling” atau penurunan keterampilan.

“Temuan ini bertentangan dengan uji coba sebelumnya yang menyatakan AI lebih baik dalam diagnosa daripada manusia,” kata Yuichi Mori, peneliti kesehatan dari University of Oslo, dalam pernyataannya. Ia menduga paparan terus-menerus terhadap AI mungkin memengaruhi kinerja dokter.

Keterbatasan Studi dan Tanggapan Ahli

Studi ini memiliki beberapa keterbatasan, termasuk sampel yang kecil dan bersifat observasional. Selain itu, jenis AI yang digunakan tidak disebutkan secara spesifik. Namun, temuan ini mendapat perhatian dari komunitas medis.

Omer Ahmad, endokrinolog dari University College London, menyoroti perlunya kehati-hatian dalam adopsi teknologi AI. “Meskipun AI menjanjikan peningkatan hasil klinis, kita harus waspada terhadap erosi keterampilan dasar yang diperlukan untuk endoskopi berkualitas tinggi,” ujarnya.

Implikasi untuk Masa Depan AI Medis

Mori memperingatkan bahwa efek “deskilling” mungkin akan semakin parah seiring perkembangan teknologi AI. Temuan ini memunculkan pertanyaan tentang efektivitas AI dalam diagnosa kanker, yang sebelumnya dianggap revolusioner.

Beberapa teknologi AI seperti AI Microsoft untuk deteksi kanker serviks dan AI Google untuk kanker paru-paru memang menunjukkan potensi besar. Namun, studi terbaru ini mengingatkan bahwa integrasi AI perlu diimbangi dengan pelatihan berkelanjutan bagi tenaga medis.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami dampak jangka panjang AI terhadap praktik medis. Sementara itu, komunitas kesehatan perlu menyeimbangkan antara adopsi teknologi baru dan pemeliharaan keterampilan klinis dasar.

Robot Humanoid REK: Arena Pertarungan Masa Depan di San Francisco

0

Telset.id – Di sebuah gudang tersembunyi di San Francisco, empat robot humanoid tergantung dari rangka besi, menunggu pelatihan dari manusia untuk bertarung. Arena robotik ini bernama REK, dikelola oleh entrepreneur virtual reality dan penggemar robot pertarungan, Cix Liv.

Liv, yang sudah memiliki satu kemenangan di liga Ultimate Fighting Bots (UFB) San Francisco, menggabungkan elemen dari seni bela diri campuran, gulat profesional, anime, dan fiksi ilmiah untuk menciptakan pertunjukan yang unik. Dengan latar belakang 10 tahun di dunia VR, ia membayangkan REK sebagai tempat di mana para “pilot” manusia menggunakan headset dan kontroler tempak untuk mengendalikan robot dari jarak jauh.

“Ini akan menjadi