Jan Koum, Mantan OB yang Sukses jadi Milyuner

Ingkar Janji Iklan

 Pasca akuisisi tersebut, WhatsApp tidak banyak perubahan, mereka tetap hanya mematok banderol per tahun tak sampai US$1 atau dibawah Rp 14.000 per tahun dan tanpa iklan. Ya, sesuai permintaan Koum, WhatsApp tetep mempertahankan tradisinya bersih dari iklan.

Meski Koum telah menegaskan WhatsApp bersih dari iklan, namun tiga tahun pasca akuisisi, banyak pengguna WhatsApp yang mulai was-was layanan instant messaging terbesar di dunia itu akan dimonetize sebagai ladang mencari duit bagi Facebook lewat iklan.

Kekhawatiran pengguna WhatsApp ini cukup masuk akal, karena Facebook memang selama ini dikenal sebagai perusahaan yang mengandalkan iklan untuk menambah pundi-pundi uang mereka.

Dan kekhawatiran itu nampak mulai mendekati kenyataan, karena muncul sebuah bocoran yang mengungkap “lahan bisnis baru” dari WhatsApp. WhatsApp akan mencari sumber pendapatan lewat aplikasi standalone (aplikasi yang terpisah dengan aplikasi utama) bernama WhatsApp Business.

Layanan tersebut nantinya memungkinan perusahaan untuk bisa terhubung langsung dengan para konsumennya. Mirip seperti aplikasi WhatsApp standar, nantinya akan tersedia juga versi iOS dan Android yang bisa dimanfaatkan.

WhatsApp Business nantinya akan mendapatkan berbagai fitur khusus bisnis. Misalnya saja membuat profil dari perusahaan terkait, memungkinkan perusahaan untuk mendaftarkan nomor telepon fixed line bukan lagi nomor handphone seperti yang biasa di WhatsApp standar, hingga fitur untuk membalas pesan otomatis bagi konsumennya.

Sebenarnya rencana ini pernah diungkapkan oleh Koum. Saat itu, dia mengatakan bahwa sebagai ganti pemasukan yang hilang, WhatsApp akan menjajaki kemungkinanan menawarkan sejumlah layanan berbayar untuk pengguna korporat. Intinya, WhatsApp akan bisa digunakan oleh entitas bisnis untuk berkomunikasi dengan pelanggan.

Lengser dari WhatsApp

Sayang, masa-masa emas Koum di WhatsApp terlalu cepat berakhir. Kabarnya dia memutuskan lengser dari jabatan CEO lantaran berselisih paham dengan pimpinan Facebook, yang notabene merupakan perusahaan induk WhatsApp.

Menurut TechCrunch, mengutip sumber Washington Post, Koum memang sedang tak harmonis dengan pimpinan Facebook. Gara-garanya, Facebook berencana memakai data pribadi pengguna sekaligus melemahkan enkripsi WhatsApp.

“Sudah hampir satu dekade sejak Brian (Acton) dan Saya memulai WhatsApp. Ini adalah perjalanan luar biasa dengan orang-orang terbaik. Tapi sekarang saatnya bagi saya untuk move on,” tulis Koum di akun Facebook pribadinya.

Kabar mundurnya CEO dan pendiri WhatsApp ini langsung menjadi headline di banyak media. Desas-desus penyebab mundurnya Koum dari perusahaan yang dididirikannya itu menjadi cerita yang semakin menarik.

Panasnya hubungan Koum dan petinggi Facebook sudah santer diberitakan sejak setahun lalu. Saat itu disebutkan konflik dipicu oleh kebijakan privasi pengguna antara WhastApp dan Facebook.

Sejak awal Koum dan Brian Acton selaku pendiri WhatsApp tetap tegas menjaga privasi pengguna dan menolak kehadiran iklan. Koum bahkan secara tegas menjamin akan tetap mempertahankan prinsip WhatsApp yang menolak kehadiran iklan, meski telah diakuisisi Facebook. [WS/HBS]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here