Jan Koum, Mantan OB yang Sukses jadi Milyuner

Di Terima di Yahoo

Jan Koum, Co-founder dan CEO WhatsApp (Getty Images)

Meskipun berstatus drop out yang pastinya tidak memiliki ijazah, dia tetap bertekad dan nekat melamar kerja di Yahoo, berbekal kemampuan programming-nya. Nasib baik ternyata menaungi Koum, karena Yahoo menerimanya dan juga Acton menjadi karyawan dengan posisi sebagai engineer pada 1997 di usianya 21 tahun.

Selama 10 tahun berkerja di Yahoo, kemampuan komputernya semakin terasah karena bidang perkerjaanya sesuai dengan kesukannya. Kendati kinerjanya bagus tetapi Koum dan Acton merasa tidak betah karena mereka tidak suka gagasan pemasangan iklan dan logo pada tampilan Yahoo.

Akhirnya Koum dan Acton memutuskan untuk keluar dari Yahoo pada 31 Oktober 2007. Mereka kemudian bertualang keliling Amerika Selatan, dan bermain frisbee selama satu tahun berbekal uang tabungannya yang cukup besar selama bekerja di Yahoo.

Pada saat itu, mereka sempat melamar kerja di Twiter dan Facebook. Meskipun dengan semangat untuk berkembang dan juga belajar, namun ternyata Twiter dan Facebook tidak menerima lamaran kerja yang diajukan oleh Koum dan Acton.

Facebook mungkin menyesal telah menolak lamaran kerja Koum dan juga Acton, yang kelak menjadi orang yang menciptakan aplikasi WhatsApp, yang dibeli oleh Facebook dengan harga yang fenomenal.

Yang menarik, justru saat mereka ditolak Facebook inilah, yang kemudian membuat dua sahabat ini terpacu untuk merancang dan membuat aplikasi pesan instant yang fenomenal bernama WhatsApp.

Lahirnya WhatsApp

Semua bermula pada awal tahun 2009, atau setahun lebih setelah “menganggur”, Koum membeli sebuah iPhone, dan dari situ timbul gagasan untuk menciptakan peluang besar di App Store. Dia lalu mengunjungi temannya dari Rusia bernama Alex Fishman.

Keduanya berdiskusi selama beberapa jam seputar ide aplikasi Koum di App Store yang kala itu baru berusia 7 bulan, karena dia merasa toko ini menyimpan potensi. Tak lupa dia mengajak sahabatnya Brian Acton untuk bergabung.

Fishman kemudian membantu Koum mencarikan pengembang aplikasi iPhone bernama Igor Solomennikov yang berasal dari Rusia juga. Perkenalan dengan Igor membuat ide Koum berhasil terwujudkan dan menciptakan aplikasi yang diberi nama WhatsApp.

Dia bertekad aplikasi yang akan diciptakannya tidak mencampurkan urusan pengguna dengan iklan. Gagasan itu ternyata terwujud, bahkan hingga kini tak ada iklan yang muncul di WhatsApp.

Tepat pada hari ulang tahun Koum pada 24 Februari 2009, WhatsApp didirikan bermodalkan tabungan sebesar US$ 400.000 atau setara Rp 5,5 miliar, yang diperoleh selama bekerja di Yahoo.

Pertama kali WhatsApp muncul, aplikasi ini hanya di download sekitar 250 orang saja, itupun sudah termasuk Koum dan kebanyakan dari teman-temannya. Hal ini membuat Koum sempat putus asa dan hampir menghentikan perkembangan WhatsApp.

Namun untungnya Acton gigih membujuk Koum untuk bersabar, dan agar tetap melanjutkan mengembangkan aplikasi WhatsApp, meskipun belakangan dia mengaku juga ada keraguan saat itu.

Pada tahun yang sama, Apple datang dengan bantuan push notifications. Ini lantas menjadi jalan bagi Koum untuk memodifikasi aplikasi buatannya supaya penggunanya otomatis mendapatkan pesan dari jaringan ketika mengubah status di aplikasinya.

Brian Acton pun membantu Koum untuk mencari investor agar dapat mendanai perkembangan aplikasi WhatsApp. Berkat bantuan lima mantan pegawai Yahoo dan juga merogoh koceknya sendiri sebesar US$ 250 ribu (setara Rp 3,4 miliar), Acton akhirnya resmi bergabung dengan Koum untuk mengembangkan aplikasi WhatsApp.

Aplikasi ini terus dikembangkan oleh Koum dan berhasil menambahkan fitur pengiriman foto pada pada Iphone. Selain itu Koum juga merilis WhatsApp untuk perangkat lain seperti Android dan Blackberry.

Pada 2010 mereka berhasil mendapatkan penghasilan US$ 5000 atau sekitar Rp 69 juta, yang berhasil menarik investor untuk menanamkan modalnya di WhatsApp, seperti Sequoia Capital yang menanamkan modal sebesar US$8 Juta atau mencapai Rp 111 miliar.

Perjuangan Koum dan Acton akhirnya berbuah manis. WhatsApp akhirnya berkembang pesat menjadi aplikasi messaging paling populer sejagat, dan paling banyak penggunanya.

Meski menjadi “anak baru”, namun WhatsApp akhirnya bisa menggeser nama-nama besar yang saat itu menguasai pasar, seperti BlackBerry Messenger, Yahoo Messenger, dll

Dan pintu masuk menjadi milyuner akhirnya terbuka bagi kedua sahabat ini, ketikan pada awal tahun 2012, pendiri Facebook Mark Zuckerberg mulai tertarik untuk bekerja sama dengan mereka.

Di sini Mark mulai melakukan pendekatan, dengan mulai membuka hubungan pertemanan dengan Koum dan menelfon dia secara personal. Mereka mulai saling bertemu, hiking bersama dan makan malam bersama.

Pada 9 Februari 2014, Mark mengundang Koum datang ke rumahnya untuk makan malam bersama. Mark menggunakan momentum ini untuk merayu Koum agar bisa membeli WhatsApp. Namun saat itu Koum tidak menginginkan penjualan aplikasinya, melainkan kerjasama.

Mark tetap bersikukuh membeli, lalu Koum meminta waktu beberapa hari kepada Mark untuk memikiran tawaran yang telah diberikan kepadanya. Beberapa hari kemudian, Koum mendatangi kediaman Mark untuk mendapatkan kesepakatan dari kedua pihak.

Akhirnya Jan Koum dan Brian Acton luluh juga dan setuju menjual WhatsApp kepada Facebook senilai US$19 miliar atau sekitar Rp 265 triliun. Tak hanya itu, Koum dan Acton juga didapuk menjadi Direksi di Facebook.

Kekayaan Jan Koum pun meroket. Berdasarkan catatan dari majalah Forbes pada 2015, kekayaan Koum mencapai US 7,9 miliar atau sebesar Rp 11 triliun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here