7 Teknologi Anti Banjir yang Ada di Berbagai Negara

Teknologi anti banjir
Foto: Down to Earth

Telset.id, Jakarta Banjir sedang melanda kawasan Jadetabek di awal tahun 2020. Sebenarnya, banjir Jadetabek bisa dicegah dan ditanggulangi menggunakan teknologi, karena banyak negara yang juga menggunakan teknologi anti banjir untuk mencegah bencana tersebut.

Teknologi ini telah diaplikasikan di berbagai negara, seperti Belanda, Austria, sampai Jepang. Sebab, negara-negara tadi, juga berpotensi terkena bencana banjir.

Teknologi anti banjir tersebut dikembangkan untuk menanggulangi musibah banjir, mencegah air masuk ke pemukiman warga, dan manfaat lainnya.

{Baca juga: Kocak! Cara “Santuy” Warga Jakarta Hadapi Bencana Banjir}

Seperti diketahui, akibat diguyur hujan “setahun” sejak 31 Desember 2019 hingga 1 Januari 2020, musibah banjir akhirnya melanda wilayah Jadetabek. Tagar #Banjir pun menggema di jagat Twitter pada Rabu (01/01/2020) lalu.

Nah, agar bisa jadi pelajaran dan bencana banjir Jadetabek tidak terulang kembali, tim Telset.id akan merangkum 7 teknologi anti banjir yang ada di berbagai negara. Yuk simak!

G-Cans

Teknologi Anti Banjir

G-Cans merupakan teknologi anti banjir yang diciptakan oleh Jepang. Bernama asli shutoken gaikaku hosuiro, G-Cans adalah drainase bawah tanah yang terletak di Kasukabe Saitama.

Teknologi anti banjir ini merupakan fasilitas pengendali banjir yang dibangun untuk mencegah meluapnya sungai atau kanal ketika Jepang dilanda musim hujan dan badai.

G-Cans dibangun sejak tahun 1992, dan baru selesai pada awal 2006. Drainase ini memiliki 5 tangki berbahan beton dengan tinggi 65 m dan jari-jari 32 m. Kelima tangki tersebut dihubungkan oleh terowongan sepanjang 6,4 km dan berada 50 m dibawah permukaan tanah.

{Baca juga: Diguyur Hujan “Setahun”, Jakarta dan Sekitarnya Banjir}

Lantas, bagaimana cara kerjanya? Ketika terjadi hujan atau badai, maka air yang tertampung ke dalam 5 tangki tersebut akan diarahkan ke ruang penampungan akhir.

Ruang penampungan itu memiliki tinggi 25,4 m, panjang 177 m dan lebar 78 m, serta ditopang oleh 59 tiang raksasa. Di ruang tersebut, air akan dipompa oleh 78 mesin pompa berkekuatan 10 MW yang mampu menyedot 200 ton air per detik. Lalu, air pun akan dialirkan ke Sungai Edo untuk kembali ke laut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here