telset

Stephen Hawking, Si Jenius yang Tidak Percaya Surga

Telset.id, Jakarta – Hari ini dunia berduka setelah mendengar kabar meninggalnya fisikawan dan ahli kosmologi Inggris Stephen Hawking, di usia 76 tahun. Dia terkenal karena berusaha menjelaskan alam semesta kepada jutaan orang, melalui bukunya yang berjudul A Brief History of Time yang terjual lebih dari 10 juta eksemplar.

“Kami sangat sedih bahwa ayah tercinta kami meninggal hari ini. Dia adalah ilmuwan hebat dan pria luar biasa yang pekerjaan dan warisannya akan ada selama bertahun-tahun,” kata anak-anaknya, seperti dilansir Cnet, Rabu (14/3/2017).

Hawking mungkin adalah ilmuwan paling terkenal di masanya. Karyanya terfokus pada sejumlah lubang hitam yang berasal dari bintang yang hampir mati dan hancur sendiri, membentuk inti kerapatan dan daya tarik gravitasi yang kuat sehingga tidak ada  yang dapat terlepas darinya, bahkan cahaya sekalipun.

Dia juga membuat teori yang memprediksi bahwa lubang hitam memancarkan radiasi yang pada akhirnya akan menghilang, sering disebut sebagai radiasi Hawking.

[Baca juga: Fisikawan Stephen Hawking Meninggal Dunia]

Semula dia mengira penemuannya pada tahun 1970 sebenarnya merupakan hasil kesalahan dalam perhitungannya. Tapi akhirnya dia yakin formulanya akurat.

“Saya ingin formula sederhana ini ada di batu nisan saya,” katanya pada perayaan ulang tahun ke-60 di tahun 2002.

Hawking juga seorang penulis yang produktif yang menulis dengan cara untuk menjelaskan asal mula dan perluasan alam semesta kepada pembaca yang tidak terbiasa dengan teori ilmiah.

Selain A Brief History of Time, Hawking, juga merilis buku The Universe in a Nutshell” dan “A Briefer History of Time.”

Komunitas ilmiah dan yang lainnya memuji kontribusi Hawking untuk pemahaman yang lebih baik tentang alam semesta.

“Kepergiannya telah meninggalkan kekosongan intelektual. Tapi itu tidak kosong, pikirkan itu sebagai semacam energi vakum yang menyerap kain ruang waktu yang tidak sesuai ukuran. Stephen Hawking, RIP 1942-2018,” ujar Astrofisikawan Neil deGrasse Tyson dalam Tweet-nya.

Peramal teknologi Silicon Valley Paul Saffo men-tweet bahwa “Stephen Hawking telah bergabung dengan Einstein”. “Mari berharap keduanya memberikan saran lama untuk memperbaiki jagat raya yang kacau ini.” Katanya.

Hawking mengembangkan penelitiannya meski menderita sklerosis lateral amyotrophic yang dikenal dengan penyakit Lou Gehrig, yang secara bertahap melumpuhkannya sejak didiagnosis pada usia 21 tahun.

Dia mengejutkan banyak orang karena mampu bertahan hidup lebih dari 50 tahun, jauh melampaui prediksi dokter yang hanya dua tahun.

Pria yang berbicara melalui sistem komputer di pipinya, juga memiliki kemampuan yang kuat untuk menciptakan frasa yang mudah diingat untuk meringkas pandangannya tentang dunia.

“Musuh pengetahuan terbesar bukanlah ketidaktahuan, itu ilusi pengetahuan,” katanya sekali.

Sayangnya, Dia mengaku tidak percaya Tuhan. Hawking menyatakan bahwa ia “tidak setaat orang-orang pada umumnya” dan ia percaya bahwa “alam semesta diatur oleh hukum ilmu pengetahuan”.

Menurutnya, ada perbedaan mendasar antara agama yang didasarkan pada perintah, sedangkan sains yang didasarkan pada pengamatan dan nalar. Sains akan menang karena selalu terbukti.

“Saya percaya penjelasan paling sederhana adalah, tidak ada Tuhan,” katanya.

“Tidak ada yang menciptakan alam semesta dan tidak ada yang mengarahkan takdir. Ini membawa saya pada kesadaran yang mendalam bahwa mungkin tidak ada surga dan tidak ada kehidupan akhirat. Kita memiliki kehidupan yang satu ini untuk menghargai rancangan besar alam semesta dan untuk itu, saya sangat bersyukur,” ungkap dia.

Kehidupan awalnya dimuat dalam film “The Theory of Everything” pada 2014, yang memenangkan Oscar untuk Eddie Redmayne, aktor yang memerankan Hawking. Dia juga membuat penampilan cameo di acara TV “The Big Bang Theory,” “The Simpsons” dan “Star Trek.”

Selain popularitas, ia menolak anggapan bahwa ia merupakan kedatangan kedua Albert Einstein sebagai “media hype”.

“Saya sesuai dengan bagian jenius yang cacat. Paling tidak, saya cacat. Walaupun saya bukan seorang jenius seperti Einstein … Masyarakat menginginkan pahlawan. menjadikan Einstein sebagai pahlawan, dan sekarang mereka menjadikan saya pahlawan, meski dengan pembenaran yang jauh lebih sedikit,” katanya pada tahun 1990. [WS/HBS]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

RELATED ARTICLES

- Advertisement -

Latest Articles

- Advertisement -

Your compare list

Compare
REMOVE ALL
COMPARE
0