šŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi konsep kloning manusia tanpa otak dan transplantasi otak di masa depan.

Startup R3 Bio dan Wacana Kloning Manusia Tanpa Otak

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:1 April 2026
ā±ļø3 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Sebuah startup bioteknologi bernama R3 Bio dikabarkan sedang mengembangkan teknologi untuk menciptakan ā€œkloning manusia tanpa otakā€ sebagai wadah donor organ dan potensial untuk transplantasi otak di masa depan. Investigasi oleh MIT Technology Review mengungkap ambisi rahasia ini, meski perusahaan telah membantahnya.

R3 Bio, yang didukung pendanaan dari miliarder, baru-baru ini mengumumkan penggalangan dana untuk mengembangkan ā€œkantong organā€ monyet non-sadar. Struktur ini dirancang tanpa otak dan berisi organ-organ lain, bertujuan sebagai sumber donor jaringan alternatif untuk pengujian obat. Namun, laporan MIT Technology Review menyebut bahwa pendiri R3 Bio, John Schloendorn, secara diam-diam memiliki tujuan yang jauh lebih besar: menciptakan kloning utuh tubuh manusia tanpa otak.

Kloning tubuh tersebut dikonsepkan agar suatu hari nanti dapat menjadi ā€œwadahā€ bagi individu yang menua atau sakit untuk melakukan transplantasi otak mereka. Konsep ini, yang oleh seorang sumber dalam disebut mirip pertemuan dengan ā€œDr. Strangeloveā€, berusaha menghindari dilema etika tentang kesadaran dengan tidak mengembangkan otak pada tubuh kloning.

Dalam pernyataan resmi kepada MIT Technology Review, R3 Bio membantah keras. Perusahaan menyatakan bahwa pendirinya ā€œtidak pernah membuat pernyataan apa pun mengenai ā€˜kloning manusia non-sadar’ hipotetis yang akan dibawa oleh surrogateā€ dan menegaskan bahwa ā€œsegala tuduhan tentang niat atau konspirasi untuk menciptakan kloning manusia atau manusia dengan kerusakan otak adalah salah secara kategoris.ā€

Namun, salah satu pendiri lain, Alice Gilman, menyatakan bahwa ā€œtim berhak untuk mengadakan diskusi hipotetis futuristikā€ tentang kloning tanpa otak pada manusia. Pernyataan ini meninggalkan ruang untuk spekulasi tentang arah penelitian jangka panjang perusahaan.

Kendala Teknis dan Etika yang Besar

Di balik wacana futuristik tersebut, para ahli meragukan kelayakan biologis dari penggantian seluruh tubuh. Jose Cibelli, peneliti dari Michigan State University yang termasuk yang pertama mencoba mengkloning embrio manusia pada awal 2000-an, menyoroti banyaknya hambatan. ā€œAda begitu banyak penghalang,ā€ ujarnya kepada MIT Technology Review, mulai dari masalah keamanan, ilegalitas, hingga fakta bahwa rahim buatan masih merupakan fiksi ilmiah.

Cibelli juga menggarisbawahi tantangan praktis dan etika yang masif. ā€œAnda harus meyakinkan seorang wanita untuk mengandung janin yang akan abnormal,ā€ katanya. Dia menyebut ada faktor ā€œyuck factorā€ (faktor jijik) yang cukup besar yang terlibat dalam ide semacam ini.

Meski demikian, Schloendorn dilaporkan telah menyelidiki ide penggantian tubuh manusia selama bertahun-tahun. Tech Review melaporkan bahwa ia rutin memberikan seminar di balik layar tentang ide tersebut dan meyakinkan investor. Dalam pesan LinkedIn 2024 kepada Tech Review, Schloendorn menulis, ā€œKami akan mencoba melakukannya dengan cara yang menghasilkan manfaat sosial yang terdefinisi sejak dini, dan kami harus siap untuk menerima jawaban ā€˜tidak’, jika ternyata ini tidak dapat dilakukan dengan aman.ā€

Schloendorn menolak wawancara dengan majalah tersebut, dengan alasan ingin menunjukkan bahwa manfaatnya ā€œcukup berdasar dalam realitasā€ sebelum membawa R3 keluar dari mode siluman (stealth mode).

Konsep kloning sendiri bukanlah hal baru. Dolly si domba menjadi mamalia pertama yang dikloning dari sel dewasa pada 1996. Namun, transisi dari kloning embrio hewan ke manusia terbukti jauh lebih kontroversial. Sejauh ini, ilmuwan hanya berhasil menghasilkan model embrio manusia dari sel punca dan mengkloning primata dari sel janin, bukan sel dewasa seperti pada Dolly.

Wacana yang diusung R3 Bio muncul di tengah perkembangan lain di bidang serupa, seperti upaya menciptakan otak mini manusia di laboratorium, yang juga memicu kekhawatiran etika. Selain itu, kemajuan dalam kecerdasan primata dan bahkan penawaran robot kloningan komersial menunjukkan betapa cepatnya batas antara biologi dan teknologi semakin kabur.

Investigasi MIT Technology Review juga mengungkapkan latar belakang pendanaan dan jaringan Schloendorn, termasuk keterkaitan dengan figur kontroversial di dunia sains dan teknologi yang memiliki ketertarikan pada modifikasi genetika manusia. Hal ini menambah lapisan kompleksitas pada narasi seputar R3 Bio.

Untuk saat ini, R3 Bio tetap fokus pada pengembangan ā€œkantong organā€ monyet non-sadar sebagai langkah pertama yang lebih dapat diterima secara regulasi dan etika. Proyek ini sendiri sudah dianggap sebagai terobosan yang dapat merevolusi pengujian obat dan mengurangi ketergantungan pada hewan percobaan konvensional. Apakah ini akan menjadi batu loncatan menuju ambisi yang lebih besar, atau hanya akan berhenti sebagai wacana futuristik, masih harus dibuktikan.