Telset.id â Bayangkan sebuah dunia di mana penyakit neurodegeneratif seperti Parkinson bisa dihentikan, atau di mana indra baru dapat ditambahkan ke tubuh manusia. Itu bukan lagi sekadar plot film fiksi ilmiah, melainkan visi yang sedang diupayakan oleh Science Corporation, startup yang didirikan oleh mantan presiden Neuralink, Max Hodak. Bocoran terbaru mengindikasikan bahwa perusahaan ini, dengan valuasi fantastis mencapai Rp 23,4 triliun, telah mengambil langkah monumental: mempersiapkan uji coba pertama sensor biohybrid mereka di otak manusia. Sebuah terobosan yang berpotensi mengubah wajah teknologi antarmuka otak-komputer selamanya.
Langkah konkret ini diwujudkan dengan bergabungnya Dr. Murat GĂźnel, Ketua Departemen Bedah Saraf di Yale Medical School, sebagai penasihat ilmiah. Kolaborasi yang telah dirintis selama dua tahun ini bukan sekadar formalitas. Tujuannya jelas dan ambisius: melakukan operasi untuk menempatkan sensor pertama yang akan menjadi fondasi antarmuka masa depanâsebuah sistem yang dirancang untuk menggabungkan neuron hasil rekayasa laboratorium dengan elektronikâlangsung ke dalam otak pasien. Ini adalah momen kebenaran bagi pendekatan revolusioner Science Corp, yang percaya bahwa kunci masa depan brain-computer interface (BCI) terletak pada biologi, bukan hanya logam dan listrik.
Mengapa pendekatan ini begitu penting? Selama ini, perusahaan seperti Neuralink Berhasil Implan dan lainnya telah menunjukkan kemajuan luar biasa. Mereka menggunakan sensor elektronik untuk mendeteksi aktivitas otak, membantu pasien dengan kondisi seperti ALS atau cedera tulang belakang untuk berkomunikasi. Namun, menurut GĂźnel, ada masalah mendasar: probe logam konvensional tersebut menyebabkan kerusakan pada jaringan otak yang dapat mengganggu kinerja perangkat dalam jangka panjang. Batasan inilah yang mendorong tim Science Corp, termasuk kepala ilmuwan Alan Mardinly dan 30 penelitinya, menuju solusi yang lebih organik. âGagasan menggunakan koneksi alami melalui neuron dan menciptakan antarmuka biologis antara elektronik dan otak manusia adalah jenius,â ujar GĂźnel, menggambarkan esensi dari teknologi biohybrid mereka.
Dari Restorasi Penglihatan Menuju Augmentasi Manusia
Jalan Science Corp menuju uji coba manusia ini dibangun di atas fondasi yang kokoh. Perusahaan yang didirikan pada 2021 ini baru saja menyelesaikan putaran pendanaan Seri C senilai $230 juta atau setara Rp 3,6 triliun, yang mendongkrak valuasinya menjadi $1.5 miliar. Produk paling maju mereka saat ini adalah PRIMA, sebuah perangkat yang dirancang untuk memulihkan penglihatan pada orang yang mengalami kebutaan akibat degenerasi makula. Teknologi ini diakuisisi pada 2024 dan telah melalui uji klinis, dengan rencana ketersediaan lebih luas di Eropa dalam waktu dekat. Namun, bagi Hodak, PRIMA hanyalah batu loncatan. Visi besarnya jauh lebih luas: menciptakan jalur komunikasi yang andal antara komputer dan otak manusia. Bukan hanya untuk mengobati penyakit, tetapi juga membuka jalan bagi peningkatan kemampuan manusiaâseperti menambahkan indra yang sama sekali baru. Ambisi ini berakar dari karier panjangnya, mulai dari terlibat di lab neurosains saat masih kuliah, mendirikan startup biotek pertamanya, hingga membangun Neuralink bersama Elon Musk.
Sensor biohybrid yang sedang dikembangkan adalah jantung dari visi tersebut. Perangkat akhir nantinya akan disisipi dengan neuron yang ditumbuhkan di laboratorium. Neuron-neuron ini dapat dirangsang dengan pulsa cahaya dan dirancang untuk berintegrasi secara alami dengan neuron di otak pasien, membentuk jembatan antara biologi dan elektronik. Pada 2024, perusahaan merilis makalah kerja yang menunjukkan bahwa perangkat ini dapat ditanamkan dengan aman pada tikus dan digunakan untuk merangsang aktivitas otak. Saat ini, fokus internal perusahaan adalah mengembangkan prototipe dan menyempurnakan cara menumbuhkan sel neuron untuk berbagai aplikasi terapeutik yang memenuhi standar penggunaan medis.
Baca Juga:
Uji Coba Manusia: Strategi, Tantangan, dan Potensi
Di bawah bimbingan GĂźnel, tim Science Corp kini mempersiapkan uji klinis pada manusia dan telah berdiskusi dengan dewan etik medis. Tahap pertama akan menguji sensor canggih merekaâtanpa neuron tertanamâdi dalam otak manusia hidup. Ada perbedaan mendasar dengan pendekatan pesaing. Berbeda dengan perangkat Neuralink yang ditusukkan langsung ke jaringan otak, sensor Science Corp akan ditanam di dalam tengkorak namun bertumpu di atas permukaan otak. Perbedaan desain ini yang membuat perusahaan menyatakan tidak berencana meminta persetujuan FDA untuk uji coba awal, dengan argumen bahwa perangkat mungilâyang berisi 520 elektroda perekam dalam area seukuran kacang polongâtidak menimbulkan risiko signifikan bagi pasien.
Strategi mereka cerdik: mencari kandidat pasien yang sudah membutuhkan operasi otak besar, seperti korban stroke yang perlu bagian tengkoraknya dibuka untuk mengurangi pembengkakan otak. Dalam skenario seperti itu, GĂźnel berencana menempatkan sensor di atas korteks pasien dan mengevaluasi keamanan serta efektivitasnya dalam mengukur aktivitas otak. Jika berhasil, potensi aplikasinya sangat luas. GĂźnel meyakini perangkat ini dapat membantu menangani berbagai kondisi neurologis. Aplikasi awal mungkin berupa pemberian stimulasi listrik lembut untuk mendorong penyembuhan sel otak atau sumsum tulang belakang yang rusak. Aplikasi yang lebih kompleks bisa melibatkan pemantauan aktivitas neurologis pada pasien tumor otak, memberikan peringatan dini kepada pengasuh tentang kemungkinan kejang.
Namun, impian terbesarnya adalah mengatasi penyakit seperti Parkinson, gangguan progresif yang secara bertahap merampas kendali pasien atas tubuh mereka sendiri. Perawatan saat ini termasuk transplantasi sel otak eksperimental dan stimulasi otak dalam dengan listrik, tetapi keduanya belum terbukti dapat menghentikan perkembangan penyakit secara andal. âSaya membayangkan sistem biohybrid ini menggabungkan keduanyaâAnda memiliki elektronik, dan Anda memiliki sistem biologis,â jelas GĂźnel. âDengan Parkinson, kami tidak bisa menghentikan perkembangan penyakit; dalam bedah saraf, yang kami lakukan hanyalah menempatkan elektroda untuk menghentikan tremor. Sedangkan jika Anda benar-benar dapat mengembalikan sel




