📑 Daftar Isi

Suasana jalan di Kota Bandung dengan polusi udara terlihat dari kabut tipis di pagi hari

Penelitian BRIN Ungkap Kualitas Udara Bandung Buruk

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Penelitian BRIN menunjukkan kualitas udara Bandung buruk dengan kadar PM2.5 mencapai 31,51 µg/m³ (SuperSASS) dan 39,04 µg/m³ (PurpleAir), melebihi batas aman 15 µg/m³
  • Polusi tertinggi terjadi pada jam sibuk pagi (06.00-08.00) dan malam (18.00-23.00) akibat emisi kendaraan
  • Musim kemarau meningkatkan polusi, sementara musim hujan menurunkan kadar PM2.5 karena partikel terbawa air hujan
  • Konsentrasi tertinggi terjadi pada Juli-Agustus 2022, terendah pada Januari-Februari 2023
  • BRIN merekomendasikan penggunaan transportasi umum, pengurangan pembakaran sampah, penghijauan kota, dan pemantauan udara di lebih banyak titik

Telset.id – Kualitas udara di Kota Bandung masih berada dalam kondisi buruk berdasarkan penelitian terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Hasil pemantauan selama satu tahun menunjukkan kadar partikel halus PM2.5 di kawasan Tamansari, Bandung, secara konsisten melampaui ambang batas tahunan yang ditetapkan pemerintah Indonesia.

Peneliti Ahli Muda dari Pusat Riset Teknologi Analisis Berkas Nuklir (PRTABN) BRIN, Feni Fernita Nurhaini, mengungkapkan data pengukuran menunjukkan rata-rata konsentrasi PM2.5 mencapai 31,51 µg/m³ menggunakan alat referensi Super Speciation Air Sampling System (SuperSASS). Sementara itu, pemantauan berbasis sensor PurpleAir (PA-II) mencatat angka lebih tinggi, yaitu 39,04 µg/m³. Kedua angka tersebut jauh melampaui batas rata-rata tahunan pemerintah Indonesia sebesar 15 µg/m³.

“PM2.5 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil yang berbahaya bagi kesehatan. Karena ukurannya halus, partikel ini dapat masuk ke paru-paru bahkan ke aliran darah. Paparan polusi PM2.5 dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit pernapasan, gangguan jantung, hingga kematian dini,” jelas Feni dalam keterangan tertulis BRIN yang dikutip Senin (25/5/2026).

Penelitian yang dilakukan kelompok riset Metode Analitik Nuklir (MAN) ini memantau polusi udara di kawasan Tamansari, Bandung, selama periode Juni 2022 hingga Mei 2023. Tim peneliti membandingkan data dari sensor PurpleAir dengan alat referensi standar SuperSASS untuk memastikan akurasi hasil pengukuran.

Polusi Tertinggi Saat Jam Sibuk

Penelitian BRIN juga menemukan pola temporal peningkatan konsentrasi PM2.5 di Bandung. Polusi udara tercatat paling tinggi pada pagi hari pukul 06.00 hingga 08.00, kemudian kembali meningkat pada malam hari pukul 18.00 hingga 23.00. Waktu-waktu tersebut bertepatan dengan jam sibuk saat masyarakat berangkat kerja, sekolah, dan pulang beraktivitas.

“Pada pagi dan malam hari, emisi kendaraan cukup tinggi. Selain itu, kondisi udara yang lebih stabil membuat polutan lebih mudah tertahan di sekitar permukaan,” kata Feni menjelaskan fenomena tersebut.

Selain faktor waktu, musim juga mempengaruhi kadar polusi udara di Bandung. Saat musim kemarau, konsentrasi PM2.5 cenderung meningkat signifikan. Sebaliknya, pada musim hujan kadar polusi menurun karena partikel di udara terbantu turun bersama air hujan.

Berdasarkan hasil penelitian, periode dengan konsentrasi PM2.5 tertinggi terjadi pada Juli dan Agustus 2022. Nilai terendah justru tercatat pada Januari dan Februari 2023 saat curah hujan lebih tinggi.

Rekomendasi Kebijakan Pengendalian Polusi

Tim peneliti BRIN berharap temuan ini dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pengendalian polusi udara. Beberapa rekomendasi yang diajukan antara lain mendorong penggunaan transportasi umum, pengurangan pembakaran sampah, penghijauan kota, serta pemantauan kualitas udara di lebih banyak titik.

“Jika tidak ditangani sejak dini, polusi udara berisiko terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah kendaraan, populasi penduduk dan aktivitas perkotaan,” pungkas Feni.

Data penelitian BRIN ini memberikan gambaran jelas bahwa kualitas foto bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan di perkotaan. Kualitas udara yang buruk juga berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, terutama bagi mereka yang beraktivitas di luar ruangan pada jam sibuk.

Dengan populasi yang terus bertambah dan jumlah kendaraan yang meningkat, panduan lengkap mengenai langkah mitigasi polusi menjadi semakin relevan. Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil tindakan konkret berdasarkan data ilmiah yang telah disediakan BRIN.

Komentar

Belum ada komentar.