πŸ“‘ Daftar Isi

Pesawat tempur F-22 Raptor menembakkan flare saat uji terbang

Pilot F-22 Raptor Kendalikan Drone YFQ-44A Fury dalam Uji Tempur

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Pilot F-22 Raptor berhasil mengendalikan drone Anduril YFQ-44A Fury dalam simulasi pertempuran
  • Uji terbang bagian dari program Collaborative Combat Aircraft (CCA) USAF
  • Drone harus merespons perintah taktis pilot dan beroperasi otonom
  • Integrasi komando baru rintangan pertama menuju status operasional
  • USAF masih perlu uji autonomi taktis, kontrol penerbangan, dan otorisasi senjata
  • Drone otonom dinilai sebagai pengganda kekuatan pesawat berawak dengan biaya lebih rendah
  • Swedia dan China juga menguji konsep satu operator memimpin sejumlah drone

Telset.id – Angkatan Udara Amerika Serikat (U.S. Air Force) berhasil melakukan uji terbang di mana seorang pilot F-22 Raptor mengendalikan drone Anduril YFQ-44A Fury dalam simulasi pertempuran. Dalam pengujian tersebut, pilot jet tempur memberikan perintah taktis kepada autonomous wingman yang kemudian menerjemahkannya menjadi serangkaian tugas dan manuver penerbangan untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Keberhasilan uji terbang ini menjadi bagian dari program Collaborative Combat Aircraft (CCA) milik USAF, yang bertujuan mengintegrasikan drone ke dalam skuadron jet tempur. Pesawat tanpa awak ini dituntut mampu merespons perintah taktis pilot dan beroperasi secara otonom. Pasalnya, pilot jet tempur sudah memiliki beban kerja berat, mulai dari mengemudikan pesawat, mengelola data sensor, penilaian ancaman, hingga keputusan pelepasan senjata, sehingga meminta mereka menerbangkan drone secara manual hampir mustahil dilakukan.

Integrasi komando ini memungkinkan pilot F-22 Raptor menugaskan drone Fury untuk tugas taktis spesifik, seperti memantau dan menyerang pertahanan udara musuh, sementara pilot fokus pada misi utama, misalnya menghancurkan jet tempur lawan. Namun, keberhasilan integrasi komando ini bukan berarti USAF dapat langsung mengerahkan drone bersama jet tempur di skuadron garis depan.

Beragam Hambatan Menuju Status Operasional

Integrasi komando yang sukses hanyalah rintangan pertama dari sejumlah tantangan yang harus dilalui program ini sebelum mencapai status operasional. Program CCA perlu menentukan batas autonomi taktis drone, kontrol penerbangan yang aman, serta otorisasi senjata, yang seluruhnya merupakan fungsi terpisah dan harus diuji satu per satu.

Angkatan Udara Amerika Serikat juga perlu melihat bagaimana performa drone saat menghadapi gangguan elektronik, serta bagaimana drone dapat terus beroperasi jika tidak dapat menerima instruksi akibat komunikasi yang terputus. Selain memetakan kemampuan drone dan memasukkannya ke dalam doktrin tempur, drone ini juga harus diintegrasikan ke dalam logistik dan rantai pasok USAF.

Integrasi tersebut mencakup perawatan dan servis drone, penanganan senjata, prosedur pengerahan, serta operasi pangkalan udara depan dengan infrastruktur terbatas. Seluruh aspek ini menjadi bagian dari pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum drone otonom benar-benar bisa diterjunkan.

Meski uji terbaru tampak berhasil, program CCA masih membutuhkan perjalanan panjang sebelum dapat memulai pengerahan operasional. Kendati demikian, USAF bertekad mendorong proyek ini maju karena melihat drone otonom sebagai pengganda kekuatan bagi pesawat berawak, memungkinkan satu pilot memimpin beberapa jet untuk mencapai misi dengan biaya lebih rendah dibandingkan menggunakan seluruhnya pesawat berawak.

Konsep satu operator yang memimpin sejumlah drone juga tengah diuji oleh negara lain seperti Swedia dan China. Namun, perbedaan paling signifikan dari program CCA adalah fokusnya pada kekuatan udara, bukan operasi berbasis darat.

Pengembangan armada tempur otonom ini juga berjalan seiring dengan inovasi di sektor komputasi dan prosesor yang menjadi tulang punggung sistem kendali modern. Perkembangan seperti prosesor Intel Core Gen-13 menunjukkan bagaimana kebutuhan komputasi berperforma tinggi terus tumbuh, termasuk untuk mendukung sistem otonom berbasis kecerdasan buatan.

Di sisi lain, kemampuan prosesor generasi terbaru juga tercermin dari pencapaian seperti rekor dunia 8GHz yang pernah dipecahkan oleh Intel Gen-13 Raptor Lake. Pencapaian semacam ini menggambarkan arah industri yang menuntut daya komputasi makin besar untuk berbagai aplikasi, dari perangkat konsumen hingga sistem pertahanan.

Sementara itu, di industri otomotif, penggunaan nama Raptor juga muncul pada produk lain seperti Haval Raptor ICE yang diluncurkan Great Wall Motor dengan fitur off-road tangguh. Perbedaan konteks ini menegaskan bahwa istilah Raptor digunakan di berbagai sektor, meski dalam artikel ini merujuk pada jet tempur F-22 dan drone Fury milik USAF.

a drone flying near an armored vehicle

Keberhasilan uji terbang F-22 Raptor yang mengendalikan drone YFQ-44A Fury menandai langkah awal menuju integrasi drone otonom dalam skuadron tempur. Namun, sejumlah pengujian lanjutan terkait autonomi taktis, kontrol penerbangan, otorisasi senjata, ketahanan terhadap gangguan elektronik, hingga integrasi logistik masih harus dilalui sebelum program CCA dapat berstatus operasional.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.