📑 Daftar Isi

Ilustrasi siswa sekolah mengikuti kunjungan edukasi ke fasilitas data center

Industri Data Center Gaet Anak Sekolah demi Redam Penolakan Publik

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️6 menit membaca
Bagikan:
  • Industri data center menyasar anak sekolah untuk membangun citra di tengah penolakan publik
  • 7x24 Exchange merilis buku cerita anak "What is a Data Center?" dan hari "International Data Center Day"
  • AFCOM bagikan flag-making kits dan kartu statistik ke 3.100 siswa kelas satu di Loudoun County
  • Sejak 2025, setidaknya 11 perusahaan dan kelompok industri menggelar kunjungan siswa ke data center
  • Survei Pew Research: separuh dari 10.000 responden nilai data center cenderung buruk

Telset.id – Industri data center mulai menyasar anak sekolah untuk membangun citra di tengah meningkatnya penolakan publik. Langkah ini diambil setelah sekitar separuh dari 10.000 responden survei Pew Research menilai data center “mostly bad” atau cenderung buruk bagi lingkungan dan kualitas hidup.

Alih-alih hanya melobi dan mengejar insentif pajak, sejumlah perusahaan dan kelompok industri kini memakai pendekatan yang lebih kreatif: memenangkan generasi muda. Caranya lewat buku cerita anak, kunjungan sekolah ke fasilitas data center, hingga materi edukasi bertema data center.

Salah satu yang paling menonjol adalah nonprofit 7×24 Exchange International. Kelompok ini mendorong pandangan bahwa data center adalah infrastruktur “mission critical” dan merekomendasikan sebuah buku cerita anak berjudul “What is a Data Center?”.

Buku Cerita hingga Hari Data Center

Buku tersebut mengikuti seekor honey badger bernama Honey yang mendapat tur berpemandu di sebuah data center dari seorang pekerja bernama Oliver. Dalam cerita itu, Oliver menjelaskan bahwa tugas pegawai data center adalah memastikan “functions supported by the data center” tersedia bagi siapa pun, “no matter what time it is.”

“Like when my mom shops online late at night because my dad is sleeping and won’t know about it?” tanya Honey dalam buku tersebut.

7×24 Exchange juga menjadi otak di balik “International Data Center Day”, sebuah hari peringatan yang “designed to create awareness of the data center industry and inspire the next generation of talent.” Nonprofit ini mendorong masyarakat untuk menawarkan hari peringatan itu ke pengelola sekolah.

Bagi sekolah menengah atas yang berpartisipasi, 7×24 Exchange menyediakan teka-teki silang perayaan dan informasi soal program pelatihan data center. Untuk sekolah dasar, tersedia halaman mewarnai bertema data center, panduan proyek sains bertema penguapan, serta aktivitas cetak seperti “Draw a picture of the cloud” dan “Draw a data superhero.”

Organisasi ini juga mempromosikan sejumlah buku bertema data center untuk pembaca muda. Ada buku tentang dua saudari yang mengunjungi data center dan bertemu robot bernama JB, buku tentang dua saudara yang menjelajahi “vibrant digital world” dan menyelamatkan internet, serta “Polly Packet’s Precious Payload” yang mengisahkan seorang ibu mengajari putrinya tentang data center.

Sepanjang tahun ini, 7×24 Exchange tercatat telah mengunjungi atau menyelenggarakan setidaknya setengah lusin acara K-12 di sekolah-sekolah di Amerika Serikat. Di Minnesota, organisasi ini membawa siswa Fridley High School ke fasilitas pembangkit listrik diesel Cummins untuk mempelajari “generators that power data centers worldwide.” 7×24 Exchange, Cummins, dan Fridley High School tidak merespons permintaan komentar dari WIRED.

Kunjungan Pabrik hingga Flag-Making Kits

7×24 Exchange bukan satu-satunya organisasi yang mensponsori aktivitas sekolah yang bersahabat dengan data center. Berdasarkan penelusuran blog publik dan unggahan media sosial yang dihimpun WIRED, sejak 2025 setidaknya ada sebelas perusahaan dan kelompok industri yang menyelenggarakan kunjungan siswa ke data center lokal.

Sabey, perusahaan yang mengoperasikan tujuh data center di Amerika Serikat, telah beberapa kali menjamu siswa sekolah menengah dari Washington. Pada Mei, Sabey menerima siswa Eastmont High School. Pada Januari, giliran siswa Manson School District, dan pada Oktober tahun lalu siswa Quincy High School.

Manson School District mempublikasikan kunjungan itu lewat unggahan blog yang menampilkan apa yang tampak seperti orang dewasa dan siswa di sebuah ruang konferensi. Namun, gambar tersebut diberi label “AI-generated content” dan sejumlah orang dalam foto itu tampak kehilangan anggota tubuh.

Blog tersebut menyebut siswa mempelajari “the role data centers play in storing, processing, and protecting information” serta “the wide range of careers” di industri data center. Koordinator komunikasi Quincy School District, Jessica Blancas, mengatakan kepada WIRED bahwa distriknya “has organized data center visits for many years” ke fasilitas perusahaan seperti Microsoft, Vantage, Yahoo, dan Sabey.

Blancas menyebut Sabey sebagai mitra “long-standing” distrik itu, dengan pekerjaan konsisten berupa “guest speakers,” “mock interviews,” dan “internship opportunities.” Ia menambahkan bahwa distriknya juga menggelar “all-girls visits to Sabey” serta tur bagi siswa yang hendak menekuni bidang tertentu seperti konstruksi atau teknik. Manson School District dan Sabey tidak merespons permintaan komentar.

Amazon juga menyelenggarakan kunjungan pada Februari lalu di “Skills Center” miliknya di Arlington, Virginia. Tempat itu disebut sebagai ruang komunitas gratis bagi siapa pun yang “curious about cloud computing and future job possibilities.” Kunjungan terbuka untuk sekolah menengah mana pun di kawasan DC, tetapi hanya Jackson-Reed High School yang hadir.

Di Loudoun County, Virginia, yang dikenal sebagai Data Center Alley, cabang Potomac dari Association for Computer Operations Management (AFCOM) mensponsori paket pembuatan bendera bertema Memorial Day. Paket itu dibagikan kepada 3.100 siswa kelas satu di 37 sekolah. Selain paket bendera, anak-anak menerima kartu informasi berisi statistik tentang “the positive impact” industri data center terhadap ekonomi lokal.

Pola semacam ini bukan hal baru. Alex Molnar, research professor di University of Colorado Boulder dan direktur National Education Policy Center, mengatakan kepada WIRED bahwa selama lebih dari satu abad industri dengan masalah citra—makanan cepat saji, tembakau, minyak dan gas—membawa pesan mereka ke sekolah.

“A very, very big reason why corporations get involved in the schools is, quite simply, corporate propaganda—for the purpose not necessarily of selling a product, but of telling their ‘story,'” ujar Molnar.

Ia menilai pendekatan itu tidak tepat sasaran. “Why would a third grader be interested in a data center?” katanya. “You’re going to see miles after miles of the most boring things imaginable. Lines after lines of these servers generating enormous volumes of heat. You’re also going to hear some fair amount of noise. And you’re not going to see many people because not many people work there when they’re built.”

Molnar menegaskan pengaruh korporasi semacam ini seharusnya tidak dibiarkan karena anak-anak berada “in an absolutely powerless position.” Menurutnya, anak-anak “need to be protected” oleh distrik sekolah dan komunitas. “As an adult, I have access to alternative information—I have a critical ability to assess what I’m hearing, and to render some kind of judgments,” ujarnya. “None of that is true of children.”

Tekanan terhadap industri memang kian nyata. Di Maine, debat pemilihan senat antara petahana dari Partai Republik Susan Collins dan penantang dari Partai Demokrat Troy Jackson sempat terganggu oleh seorang demonstran yang berteriak soal dampak lingkungan data center. Sementara di Westfield, Massachusetts, rencana proyek data center senilai US$3 miliar dibatalkan setelah planning board setempat mengkritik pengembang Servistar karena melewatkan tenggat dan lambat menggarap proyek.

Tekanan publik juga terlihat dari gelombang penolakan warga terhadap fasilitas milik perusahaan besar, seperti dalam kasus Warga Tolak Data Center Amazon. Di sisi lain, isu tata kelola data dan AI terus menjadi sorotan, termasuk langkah Meta Hapus Klausul terkait penggunaan data untuk melatih AI.

Industri data center pun mengikuti playbook yang sudah dipakai sektor lain untuk menumbuhkan goodwill di kalangan anak dan orang tua. Industri minyak dan gas telah mensponsori proyek riset universitas dan program STEM di sekolah K-12. Dunia teknologi juga membiayai program STEM serta mendorong program coding di sekolah sembari melobi agar ilmu komputer dihitung sebagai kredit sains. Perusahaan bahan bakar fosil bahkan menghabiskan jutaan dolar untuk menyusun pelajaran K-12 dengan poin-poin yang mendukung industri, terutama di negara bagian seperti Oklahoma dan Texas.

Bagi industri data center, menyediakan materi edukasi dan menawarkan kunjungan lapangan adalah cara menjaga social license to operate di tengah komunitas. Namun, dengan separuh responden survei Pew Research menilai data center cenderung buruk, strategi mendekati anak sekolah kini menjadi ujian tersendiri bagi industri yang tengah menghadapi gelombang penolakan.

[ META_DESCRIPTION ]
Industri data center menyasar anak sekolah lewat buku cerita, kunjungan, dan materi edukasi untuk membangun citra di tengah meningkatnya penolakan publik.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.