Hari Ini Pesawat DART NASA Tabrak Asteroid, Apa yang Bakal Terjadi?

Telset.id, Jakarta –  Pesawat Double Asteroid Redirection Test (DART) NASA yang dirancang untuk misi menabrak asteroid akan berlangsung pada Senin (26/9/2022). Apakah misi ini akan berhasil atau justru gagal total dan berakibat buruk bagi Bumi?

Pesawat ruang angkasa DART diluncurkan dari Bumi pada November 2021, dengan misi untuk menabrak asteroid dengan kecepatan 24.000 kilometer per jam pada 26 September.

DART yang seukuran bus ini sengaja diciptakan oleh Badan Antariksa Amerika NASA untuk menguji dan membuktikan kemampuan kita mempertahankan Bumi dari asteroid berbahaya.

Mendaratkan tembakan langsung pada target dari jarak 11 juta kilometer bukanlah hal yang mudah. Namun meski terdengar jauh, asteroid itu sebenarnya dipilih oleh NASA karena jaraknya yang relatif dekat dengan Bumi.

Test ini akan memberi para insinyur kesempatan untuk menguji kemampuan pesawat ruang angkasa untuk beroperasi sendiri pada tahap akhir, sebelum terjadi tumbukan dengan Bumi.

BACA JUGA:

Asteroid yang menjadi target DART disebut Dimorphos, sebuah benda luar angkasa berdiameter 163 meter yang mengorbit asteroid selebar 780 meter yang disebut Didymos.

“Sistem asteroid biner” ini dipilih karena Dimorphos berada di orbit di sekitar Didymos, yang memudahkan untuk mengukur hasil tumbukan akibat perubahan orbit yang dihasilkan. Namun, sistem Dimorphos saat ini tidak menimbulkan risiko apa pun bagi Bumi.

Menurut NASA, “penghancuran diri” senilai USD 69 juta itu bertujuan untuk menguji kemampuan pertahan planet untuk membelokkan atau mengubah jalur asteroid dengan menabrakkan pesawat ruang angkasa ke dalamnya dengan kecepatan tinggi.

Teknik yang digunakan disebut “dampak kinetik”, yang mengubah orbit asteroid dengan menabraknya. Teknik ini pada dasarnya dikenal sebagai tembakan keselamatan di snooker, tetapi dimainkan di tingkat planet antara pesawat ruang angkasa (sebagai bola isyarat) dan asteroid.

Sebuah defleksi kecil bisa cukup untuk membuktikan bahwa teknik ini benar-benar dapat mengubah jalur asteroid di jalur tabrakan dengan Bumi. Tetapi pesawat ruang angkasa DART akan hancur total oleh akibat tabrakan tersebut.

NASA mengungkapkan saat terjadi tabrakan antara DART dan asteroid akan menimbulkan ledakan yang setara dengan sekitar tiga ton TNT. Sebagai perbandingan, bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima sama dengan 15.000 ton TNT.

Lalu, dengan efek ledakan dan tingkat kehancuran yang begitu dasyat itu, bagaimana kita bisa melihat peristiwa tabrakan itu? Untungnya, pesawat ruang angkasa DART tidak bepergian sendirian dalam misinya, karena dia membawa LICIACube.

LICIACube adalah pesawat ruang angkasa mini seukuran kotak sepatu, yang dikenal sebagai cubesat, yang dikembangkan oleh Badan Antariksa Italia dan perusahaan teknik kedirgantaraan Argotec.

BACA JUGA:

Pesawat pendamping kecil ini telah diterbangkan secara terpisah dari pesawat ruang angkasa DART, dan sekarang sudah melakukan perjalanan sendiri untuk menyaksikan dampak tabrakan tersebut pada jarak aman 55 km.

Belum pernah ada cubesat yang beroperasi di sekitar asteroid, jadi ini memberikan cara baru yang potensial untuk menjelajahi ruang angkasa di masa depan. Dampaknya juga akan diamati dari Bumi menggunakan teleskop. Gabungan metode ini akan memungkinkan para ilmuwan untuk mengkonfirmasi apakah operasi telah berhasil atau tidak.

Namun, mungkin butuh waktu berminggu-minggu bagi LICIACube untuk mengirim semua gambar kembali ke Bumi. Periode ini akan sangat menegangkan, karena menunggu kabar baik dari pesawat luar angkasa selalu merupakan waktu yang emosional bagi para insinyur NASA.

Lantas, apa yang terjadi selanjutnya? Tim investigasi akan melihat akibat dari tabrakan  itu. Para ilmuwan akan mengukur perubahan gerak Dimorphos di sekitar Didymos dengan mengamati periode orbitnya. Ini adalah waktu di mana Dimorphos lewat di depan dan di belakang Didymos, yang akan terjadi setiap 12 jam.

Teleskop di darat akan bertujuan untuk menangkap gambar gerhana Dimorphos yang saat ini terjadi. Untuk menyebabkan defleksi yang cukup signifikan, DART harus membuat setidaknya 73 detik perubahan periode orbit setelah tumbukan. Hal itu akan terlihat sebagai perubahan frekuensi gerhana.

Pengukuran ini pada akhirnya akan menentukan seberapa efektif teknologi “dampak kinetik” dalam membelokkan asteroid yang berpotensi berbahaya bagi Bumi, yang sejauh ini para ilmuwan juga belum tahu dampaknya, karena kita sebenarnya hanya tahu sedikit tentang komposisi asteroid.

Ketidakpastian seberapa kuat Dimorphosis menjadi tantangan besar para ilmuwan dalam merancang “peluru” berwujud pesawat ruang angkasa DART. Apakah pesawat itu mampu membuat asteroid itu pecah dan mengubah arahnya? Semua masih jadi tanda tanya hingga nanti peristiwa tabrakan itu terjadi.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, sistem Didymos diduga merupakan tumpukan puing yang terdiri dari banyak batuan yang berbeda, tetapi struktur internalnya tidak diketahui.

Ada juga ketidakpastian tentang dampak yang dari tabrakan itu, dimana material yang dikeluarkan setelahnya akan berkontribusi pada efek tabrakan, yang bisa memberikan kekuatan tambahan.

Kita tidak tahu apakah sebuah kawah akan terbentuk akibat tumbukan atau apakah asteroid itu sendiri akan mengalami deformasi besar, yang berarti kita tidak dapat memastikan seberapa besar kekuatan yang akan dilepaskan oleh tumbukan itu.

Misi masa depan eksplorasi sistem asteroid tidak berakhir dengan DART. Badan Antariksa Eropa akan meluncurkan misi Hera pada 2024, yang akan tiba di Didymos pada awal 2027 untuk melihat lebih dekat dampak yang tersisa.

Dengan mengamati deformasi yang disebabkan oleh dampak DART pada Dimorphos, pesawat ruang angkasa Hera akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang komposisi dan formasinya.

Pengetahuan tentang sifat internal objek seperti Didymos dan Dimorphos juga akan membantu para ilmuwan lebih memahami bahaya yang mungkin ditimbulkannya terhadap Bumi jika terjadi benturan.

Pada akhirnya, pelajaran dari misi ini akan membantu memverifikasi mekanisme dampak kecepatan tinggi. Sementara eksperimen laboratorium dan model komputer sudah dapat membantu memvalidasi prediksi dampak para ilmuwan, eksperimen skala penuh di ruang angkasa seperti DART adalah yang paling dekat dengan gambaran keseluruhan.

BACA JUGA:

Mencari tahu sebanyak mungkin tentang asteroid akan membantu kita memahami kekuatan apa yang kita perlukan untuk menghantam mereka untuk membelokkan arahnya tidak ke Bumi.

Misi DART telah menghasilkan kerja sama di seluruh dunia di antara para ilmuwan yang berharap untuk mengatasi masalah global pertahanan planet. Para ilmuwan bersama-sama di tim investigasi DART bertujuan untuk menganalisis dan mempelajari gerakan materi yang dikeluarkan dari benturan.

Tabrakan pesawat ruang angkasa DART dijadwalkan pada 26 September pukul 19:14 Waktu AS. Anda dapat mengikuti aksi “penghancuran diri” DART via NASA TV pada link di bawah ini:

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

RELATED ARTICLES

Latest Articles

- Advertisement -

Your compare list

Compare
REMOVE ALL
COMPARE
0