📑 Daftar Isi

Anjing hantu Amazon atau anjing telinga pendek di habitat hutan Bolivia

Misteri Anjing Hantu Amazon Terkuak Setelah 25 Tahun

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Misteri anjing hantu Amazon terkuak setelah 25 tahun penelitian oleh ilmuwan
  • Spesies anjing telinga pendek (Atelocynus microtis) ditemukan di hutan Bolivia dan Peru
  • 34 survei jebakan kamera menghasilkan 594 foto individu selama 25 tahun
  • Kepadatan populasi diperkirakan 15 anjing per 100 kilometer persegi
  • Populasi tidak selangka yang dikhawatirkan, lebih banyak dari jaguar
  • Spesies ini aktif antara pukul 06.00 pagi hingga siang hari
  • Memiliki telapak kaki berselaput sebagian, unik di keluarga anjing Amazon
  • Preferensi habitat hutan lahan tinggi yang jauh dari sungai
  • Penelitian dipimpin Robert Wallace dari Wildlife Conservation Society
  • Hasil diterbitkan di jurnal Neotropical Biology and Conservation

Telset.id – Setelah hampir seperempat abad penelitian, misteri “anjing hantu” Amazon akhirnya terkuak. Ilmuwan berhasil mengumpulkan data baru mengenai spesies anjing telinga pendek (Atelocynus microtis) yang selama ini dianggap sebagai salah satu karnivora paling tidak dikenal di hutan hujan Amazon. Hasil penelitian yang diterbitkan di jurnal Neotropical Biology and Conservation ini mengungkap fakta mengejutkan tentang populasi hewan tersebut.

Anjing telinga pendek, yang dijuluki “anjing hantu” karena kemampuannya yang luar biasa dalam menghindari kontak dengan manusia, selama ini hanya dikenal melalui cerita dan sedikit bukti ilmiah. Tersembunyi jauh di hutan Bolivia dan Peru, spesies ini dianggap sebagai salah satu hewan keluarga anjing (canid) yang paling tidak dikenal di dunia. Namun, penelitian terbaru ini mengubah persepsi tersebut secara drastis.

Data Baru dari 25 Tahun Penelitian

Tim peneliti melakukan 34 survei jebakan kamera di dataran rendah Bolivia dan Peru selama lebih dari 25 tahun. Survei ekstensif ini menghasilkan 594 foto individu anjing telinga pendek. Foto-foto tersebut memperlihatkan ciri khas spesies ini: kepala besar, telinga bulat kecil, kaki pendek, ekor panjang lebat, serta bulu gelap yang warnanya bervariasi dari cokelat kemerahan hingga abu-abu kehitaman.

Anjing hantu di Brasil

Salah satu temuan paling menarik adalah telapak kaki berselaput sebagian yang dimiliki anjing kecil ini. Ciri ini tidak ditemukan pada keluarga anjing Amazon lainnya, menjadikannya spesies yang unik di ekosistemnya.

“Aspek paling mengejutkan dari hasil ini adalah bahwa meskipun spesies ini bagaikan hewan mitos, anjing telinga pendek ternyata jauh lebih banyak dari yang kami bayangkan,” ungkap tim peneliti. Meskipun demikian, mereka menegaskan bahwa hewan ini tetap belum bisa dikategorikan sebagai hewan yang umum atau sering dijumpai.

Berdasarkan data kamera, tim memperkirakan kepadatan populasi mereka adalah 15 anjing per 100 kilometer persegi. Angka ini menunjukkan populasinya tidak selangka yang dikhawatirkan sebelumnya. Spesies ini kemungkinan lebih banyak dibanding karnivora besar di sana seperti jaguar, tetapi masih lebih sedikit dibanding karnivora sedang seperti oselot.

“Penelitian ini adalah contoh luar biasa tentang bagaimana teknologi konservasi dan penginderaan jauh dapat memberi data substansial mengenai salah satu spesies paling tak dikenal di hutan hujan Amazon,” kata Robert Wallace, ilmuwan Wildlife Conservation Society yang menjadi penulis utama studi tersebut.

Perilaku dan Habitat yang Unik

Penelitian ini juga mengungkap pola aktivitas harian anjing telinga pendek. Spesies ini paling aktif antara pukul 06.00 pagi hingga siang hari. Meskipun memiliki jari-jari berselaput yang mungkin membuat banyak orang mengira ia adalah hewan air, kenyataannya justru sebaliknya.

Anjing telinga pendek adalah spesialis hutan sejati. Mereka menunjukkan kecenderungan kuat terhadap hutan lahan tinggi yang jauh dari sungai. Kesukaan mereka pada habitat lebat inilah yang menjadi alasan utama mengapa manusia sangat jarang melihatnya. Ditambah dengan sifat mereka yang tertutup serta indera pendengaran dan penciuman yang luar biasa tajam, hewan ini mampu terus menjauh dari manusia.

Temuan ini memberikan pemahaman baru tentang ekologi spesies yang sebelumnya nyaris tidak diketahui. Data tentang preferensi habitat dan pola aktivitas ini penting untuk strategi konservasi ke depannya.

Penelitian selama 25 tahun ini membuktikan bahwa kemajuan teknologi konservasi modern mampu mengungkap misteri alam yang telah lama tersembunyi. Meskipun populasi anjing telinga pendek ternyata lebih besar dari perkiraan, statusnya sebagai spesies yang sulit dijumpai tetap menjadikannya prioritas konservasi di Amazon.

Implikasinya jelas: masih banyak spesies di hutan hujan Amazon yang belum dipahami sepenuhnya, dan penelitian jangka panjang seperti ini adalah kunci untuk mengungkapnya.

Komentar

Belum ada komentar.